USULAN PENELITIAN
DOSEN MADYA
HUBUNGAN ANTARA POLA CURAH HUJAN DENGAN ANGKA INSIDEN DEMAM BERDARAH DENGUE
DI KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2006 – 2015
(Kajian pada Curah Hujan, Hari Hujan, Surplus Defissit Curah Hujan)
Pengusul :
Ai Sri Kosnayani, S.Pd., M.Si / 004097001 Asep Kurnia Hidayat, MT / 0026085901
UNIVERSITAS SILIWANGI
2017
3
RINGKASAN
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit akut, bersifat endemik dan secara periodik dapat mendatangkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sejak pertama kali ditemukan tahun 1968 di Indonesia, penyebaran penyakit ini dengan cepat terjadi ke berbagai daerah. Peningkatan jumlah kasus di Indonesia selama ini terjadi pada saat musim hujan dikarenakan temperatur bumi yang semakin meningkat. Pemanasan global dapat menyebabkan perubahan iklim, faktor perubahan iklim dapat menjadi salah satu faktor penyebab semakin meluasnya penyebaran vektor penular DBD. Beberapa faktor iklim yang berpengaruh terhadap parasit dan vektor antara lain suhu, curah hujan, kelembaban, permukaan air, dan kecepatan angin. Adanya hujan dapat menciptakan banyaknya genangan-genangan (surplus defisit curah hujan) tempat perkembangbiakan nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola curah hujan (curah hujan, hari hujan, surplus defisit curah hujan) dengan angka insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2006 - 2015. Penelitian ini bersifat retrospektif dan merupakan studi deskriptif. Untuk mengetahui curah hujan, hari hujan dan surplus defisit curah hujan diambil data curah hujan dan temperatur harian di BMKG sedangkan data angka insiden DBD bulanan untuk tiap Puskesmas di Kota Tasikmalaya tahun 2006 – 2015 diambil di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Tahapan analisis yang dilakukan adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat untuk memberi gambaran curah hujan dan surplus defisit curah hujan serta gambaran distribusi angka insiden DBD. Analisis bivariat dengan menggunakan uji korelasi-regresi. Untuk mempermudah pembacaan hasil analisis dibuat dalam bentuk grafik.
Kata kunci : curah hujan, hari hujan, angka insiden, DBD, Surplus defisit curah hujan
4
Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Illahi Robbi atas semua berkat dan rahmatNya hingga penyusun dapat menyelasaikan penyusunan Proposal Penelitian Dosen Madya, yang berjudul “Hubungan antara Pola Curah Hujan dengan Angka Insiden Demam Berdarah Dengue di Kota Tasikmalaya Tahun 2006 – 2015 (Kajian pada Curah Hujan, Hari Hujan, Surplus Defisit Curah Hujan)” .
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Penelitian, yang bertujuan untuk menganalisis hubungan pola curah hujan (curah hujan, hari hujan, surplus defisit curah hujan) dengan angka insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2006 - 2015.
Kegiatan Penelitian Dosen Madya ini akan terlaksana dengan bantuan anggaran Pengabdian LP2MP-PMP Universitas Siliwangi tahun 2017. Harapan pengusul semoga kegiatan Penelitian Dosen Madya ini dapat terlaksana sesuai dengan rencana, Aamiin ya Robbal Alaamiin.
Tasikmalaya, Januari 2016
Pengusul
DAFTAR ISI
5
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RINGKASAN ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.2.1 Rumusan Masalah Umum ... 4
1.2.2 Rumusan Masalah Khusus ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Terget dan Luaran ... 5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Demam Berdarah Dengue ... 6
2.1.1 Pengertian Demam Berdarah Dengue ... 6
2.1.2 Vektor Demam Berdarah Dengue ... 6
2.1.3 Pengendalian Vektor DBD ... 7
2.2 Pola Curah Hujan ... 10
BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian ... 15
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 15
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 15
3.4 Model Penelitian ... 15
3.5 Rancangan Penelitian ... 16
3.6 Pengumpulan Data ... 16
3.7 Analisis Data ... 16
6
BAB 4. ANGGARAN DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Anggaran ... 19 4.2 Jadwal Kegiatan ... 19 DAFTAR PUSTAKA ... 20 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 21 DAFTAR TABEL Halaman
7
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 15
Tabel 3.2 Kisaran dan Arti Nilai Korelasi... 17
Tabel 4.1 Rekapitulasi Anggaran ... 19
Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan ... 19
DAFTAR GAMBAR
8
Gambar 3.1 Rancangan Penelitian ... 16 Gambar 3.2 Alur Penelitian ... 18
DAFTAR LAMPIRAN
9
Lampiran 1 Justifikasi Anggaran ... 21 Lampiran 2 Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas .. 22 Lampiran 3 Biodata Pengusul ... 23 Lampiran 4 Pernyataaan Ketua Peneliti ... 29
BAB 1. PENDAHULUAN
10
Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi permasalah kesehatan di Indonesia karena perkembangan penyakit sangat cepat dan menyebabkan kematian dalam waktu yang singkat sehingga sering menimbulkan kejadian luar biasa. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus Dengue. Virus Dengue penyebab Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Dengue Shock
Syndrome (DSS) termasuk dalam kelompok B Arthropod Virus (Arbovirosis)
yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviride, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, Den-4 (Kemenkes RI, 2010).
Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Asia Pasifik menanggung 75 persen dari beban dengue di dunia antara tahun 2004 dan 2010, sementara Indonesia dilaporkan sebagai negara ke-2 dengan kasus DBD terbesar diantara 30 negara wilayah endemis. (CNN Indonesia, 2016). Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di Indonesia pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita DBD dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25%.Terjadinya KLB DBD di Indonesia berhubungan dengan berbagai faktor risiko, yaitu: 1) Lingkungan yang masih kondusif untuk terjadinya tempat perindukan nyamuk Aedes; 2) Pemahaman masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus; 3) Perluasan daerah endemik akibat perubahan dan manipulasi lingkungan yang etrjadi karena urbanisasi dan pembangunan tempat pemukiman baru; serta 4) Meningkatnya mobilitas penduduk. (Kemenkes RI, 2016).
Lingkungan fisik mencakup keadaan iklim (suhu, kelembaban dan curah hujan), keadaan geografis, struktur geologi, dan sebagainya Lingkungan fisik bersifat abiotik atau benda mati seperti air, udara, cuaca, rumah, panas,
11
sinar matahari, angin, dan lain-lain. Lingkungan fisik erat kaitannya dengan kehidupan vektor, sehingga berpengaruh terhadap munculnya sumber-sumber penularan filariasis. Lingkungan fisik dapat menciptakan tempat-tempat perindukan dan beristirahatnya nyamuk.
Pemanasan global dapat menyebabkan perubahan iklim, faktor perubahan iklim dapat menjadi salah satu faktor penyebab semakin meluasnya penyebaran vektor penular DBD (Supartha, 2008). Beberapa faktor iklim yang berpengaruh terhadap parasit dan vektor antara lain suhu, curah hujan, kelembaban, permukaan air, dan kecepatan angin. Adanya hujan dapat menciptakan banyaknya genangan-genangan tempat perkembangbiakan nyamuk, sedangkan kelembaban berpengaruh terhadap umur nyamuk dimana pada kelembaban yang rendah akan memperpendek umur nyamuk. Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan hidup nyamuk (Foley dalam Ariati, J dan DA Musadad, 2012).
Hopp, et.al dalam Perwitasari, D., dkk (2015) menegaskan bahwa penularan penyakit ini sangat dipengaruhi oleh faktor iklim. Parasit dan vektor penyakit sangat peka terhadap faktor iklim, khususnya suhu, curah hujan, kelembaban, permukaan air, dan angin. Begitu juga dalam hal distribusi dan perkembangan dari organisme vektor dan host intermediate. Salah satu penyakit yang tersebar melalui vektor (vector borne disease) adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang perlu diwaspadai karena penularan penyakit seperti ini semakin meningkat sejalan dengan perubahan iklim. Kasus DBD semacam ini di banyak negara tropis dan merupakan penyebab kematian utama (Ramesh, et al, 2010).
Indonesia merupakan Negara tropis dengan kadar curah hujan yang tinggi, sehingga banyak terjadi penumpukan air di udara dan pembentukan awan hujan. Hujan menyebabkan naiknya kelembaban nisbi udara dan curah hujan yang tinggi mengakibatkan banyak genangan air yang muncul secara tiba-tiba, genangan air ini yang digunakan nyamuk sebagai tempat perkembangbiakan dan menambah jumlah tempat perkembangbiakan (breeding places) sehingga menyebabkan peningkatan insiden malaria. Besar
12
kecilnya pengaruh tergantung pada derasnya hujan, jenis vektor dan jenis tempat perkembangbiakan. Hujan yang diselingi panas akan memperbesar kemungkinan berkembang biaknya nyamuk Anopheles (Hidayati dalam Merdiana dan Dian Prawitasari, 2014). Peningkatan suhu akan mempengaruhi perubahan bionomik atau perilaku menggigit dari populasi nyamuk, angka gigitan rata-rata meningkat (biting rate), kegiatan reproduksi nyamuk berubah ditandai dengan perkembangbiakan nyamuk yang semakin cepat dan masa kematangan parasit dalam tubuh nyamuk akan semakin pendek. (Umar F.A, 2007).
Kota Tasikmalaya pada tahun 2013 merupakan salah kota dengan masalah kesehatan di Jawa Barat (Dinkes Jabar, 2013). Angka insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2010 – 2015 cukup tinggi. Berdasarkan perubahan pola curah hujan dan peningkatan kasus DBD di Kota Tasikmalaya, diperlukan analisis korelasi antara banyaknya hari hujan, curah hujan, dan surplus-defisit curah hujan dengan kejadian DBD sehingga terlihat unsur pola curah hujan yang paling berpengaruh terhadap peningkatan kasus DBD. Peluang kejadian DBD juga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai keeratan hubungan antara angka kejadian penyakit DBD dengan pola curah hujan. Pemetaan tingkat kerentanan perkecamatan terhadap serangan demam berdarah merupakan salah satu bentuk yang dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan strategis dalam antisipasi peningkatan kasus DBD di daerah endemi. Peta memperlihatkan kerentanan tingkat kecamatan terhadap kejadian penyakit demam berdarah disusun berdasarkan kasus DBD tahun.
1.2 Rumusan Masalah
13
Bagaimanakah hubungan antara pola curah hujan (hari hujan, curah hujan dan surplus defisit curah hujan) di Kota Tasikmalaya tahun 2006 – 2015.
1.2.2 Rumusan Masalah Khusus
1. Bagaimanakah banyaknya hari hujan, curah hujan dan surplus defisit curah hujan di Kota Tasikmalaya pada tahun 2006 – 2015?
2. Bagaimanakah peta sebaran tingkat kerentanan DBD per kecamatan di wilayah Kota Tasikmalaya dan trend Angka Insiden tahun 2006 – 2015?
3. Bagaimanakah hubungan antara banyaknya curah hujan Angka Insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2006 – 2015?
4. Bagaimanakah hubungan antara banyaknya hari hujan dengan Angka Insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2006 – 2015?
5. Bagaimanakah hubungan antara banyaknya surplus defisit curah hujan dengan Angka Insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2006 – 2015?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Mendapatkan gambaran banyaknya hari hujan, curah hujan dan surplus defisit curah hujan di Kota Tasikmalaya pada tahun 2005 - 2016. 1.3.2 Mendapatkan peta sebaran tingkat kerentanan DBD per kecamatan di
wilayah Kota Tasikmalaya dan trend Angka Insiden tahun 2005-2016. 1.3.3 Menganalisis hubungan antara banyaknya curah hujan dengan Angka
Insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2005 – 2016.
1.3.4 Menganalisis hubungan antara banyaknya hari hujan dengan Angka Insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2005 – 2016.
1.3.5 Menganalisis hubungan antara banyaknya surplus defisit curah hujan dengan Angka Insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2005 – 2016.
1.4 Target Luaran
14
1.4.1 Gambaran kerentanan DBD di tiap kecamatan Kota Tasikmalaya selama 10 tahun dapat dijadikan dasar dalam upaya pencegahan insiden DBD di tahun mendatang.
1.4.2 Pola curah hujan dan kejadian DBD dapat dijadikan antisipasi pencegahan DBD dalam menghadapi pergantian iklim.
1.4.3 Dihasilkan artikel ilmiah untuk dimuat di Jurnal Nasional terakreditasi.
15 2.1 Demam Berdarah Dengue
2.1.1 Pengertian Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang banyak ditemukan di sebagian besar wilayah tropis dan subtropis, terutama asia tenggara, Amerika tengah, Amerika dan Karibia. Host alami DBD adalah manusia, agentnya adalah virus dengue yang termasuk ke dalam famili Flaviridae dan genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, Den-2, Den3 dan Den -4(Kurane, I., 2007), ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, khususnya nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus 2 yang terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia. (Lestari, K., 2007)
Masa inkubasi virus dengue dalam manusia (inkubasi intrinsik) berkisar antara 3 sampai 14 hari sebelum gejala muncul, gejala klinis rata-rata muncul pada hari keempat sampai hari ketujuh, sedangkan masa inkubasi ekstrinsik (di dalam tubuh nyamuk) berlangsung sekitar 8-10 hari.1 Manifestasi klinis mulai dari infeksi tanpa gejala demam, demam
dengue (DD) dan DBD, ditandai dengan demam tinggi terus menerus
selama 2-7 hari; pendarahan diatesis seperti uji tourniquet positif, trombositopenia dengan jumlah trombosit ≤ 100 x 109/L dan kebocoran plasma akibat peningkatan permeabilitas pembuluh.(WHO, 2003)
2.1.2 Vektor DBD
Penyebab DD/DBD adalah oleh virus dengue anggota genus Flavivirus, diketahui empat serotipe virus dengue yaitu 1, 2, 3 dan DEN-4. Nyamuk penular disebut vektor, yaitu nyamuk Aedes (Ae) dari subgenus
Stegomya. Vektor adalah hewan arthropoda yang dapat berperan sebagai
penular penyakit. Vektor DD dan DBD di Indonesia adalah nyamuk Aedes
aegypti sebagai vektor utama dan Aedes albopictus sebagai vektor sekunder.
Spesies tersebut merupakan nyamuk pemukiman, stadium pradewasanya mempunyai habitat perkembangbiakan di tempat penampungan air/wadah yang berada di permukiman dengan air yang relatif jernih. Nyamuk Ae. aegypti
16
lebih banyak ditemukan berkembang biak di tempat-tempat penampungan air buatan antara lain : bak mandi, ember, vas bunga, tempat minum burung, kaleng bekas, ban bekas dan sejenisnya di dalam rumah meskipun juga ditemukan di luar rumah di wilayah perkotaan; sedangkan Ae. albopictus lebih banyak ditemukan di penampungan air alami di luar rumah, seperti axilla daun, lubang pohon, potongan bambu dan sejenisnya terutama di wilayah pinggiran kota dan pedesaan, namun juga ditemukan di tempat penampungan buatan di dalam dan di luar rumah. Spesies nyamuk tersebut mempunyai sifat anthropofilik, artinya lebih memilih menghisap darah manusia, disamping itu juga bersifat multiple feeding artinya untuk memenuhi kebutuhan darah sampai kenyang dalam satu periode siklus gonotropik biasanya menghisap darah beberapa kali.
2.1.3 Pengendalian Vektor
Beberapa metode pengendalian vektor telah banyak diketahui dan digunakan oleh program pengendalian DBD di tingkat pusat dan di daerah menurut Sukmawati, Supratman (2010) yaitu:
1. Manajemen lingkungan
Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan untuk mengurangi bahkan menghilangkan habitat perkembangbiakan nyamuk vektor sehingga akan mengurangi kepadatan populasi. Manajemen lingkungan hanya akan berhasil dengan baik kalau dilakukan oleh masyarakat, lintas sektor, para pemegang kebijakan dan lembaga swadaya masyarakat melalui program kemitraan.
2. Pengendalian Biologis.
Pengendalian secara Biologis merupakan upaya pemanfaatan agent biologi untuk pengendalian vektor DBD. Beberapa agen biologis yang sudah digunakan dan terbukti mampu mengendalikan populasi larva vektor DB/DBD adalah dari kelompok bakteri, predator seperti ikan pemakan jentik dan cyclop (Copepoda).
a. Predator
Predator larva di alam cukup banyak, namun yang bisa digunakan untuk pengendalian larva vektor DBD tidak banyak jenisnya, dan yang paling mudah didapat dan dikembangkan masyarakat serta murah adalah ikan pemakan jentik. Di Indonesia ada beberapa ikan yang berkembang biak secara alami dan bisa digunakan adalah ikan kepala timah dan ikan cetul. Namun ikan pemakan jentik yang terbukti efektif dan telah digunakan di kota Palembang untuk pengendalian larva DBD adalah ikan cupang. Meskipun terbukti efektif untuk pengendalian larva Ae.aegypti, namun
17
sampai sekarang belum digunakan oleh masyarakat secara luas dan berkesinambungan. Dari pengamatan penulis, pemanfaatan ikan pemakan jentik harus difasilitasi oleh Pemerintah daerah dan pembinaan dari sektor terkait, karena masyarakat Indonesia belum mampu mandiri sehingga masih harus mendapatkan dukungan penyuluhan agar mampu melindungi dirinya dan keluarga dari penularan DBD. Jenis predator lainnya yang dalam penelitian terbukti mampu mengendalikan larva DBD adalah dari kelompok Copepoda atau cyclops, jenis ini sebenarnya jenis Crustacea dengan ukuran mikro. Namun jenis ini mampu makan larva vektor DBD. Beberapa spesies sudah diuji coba dan efektif, antara lain Mesocyclops aspericornis diuji coba di Vietnam, Tahiti dan juga di Balai Besar Penelitian Vektor dan Reservoir, Salatiga. Peran Copepoda dalam pengendalian larva DD/DBD masih harus diuji coba lebih rinci di tingkat operasional.
b. Bakteri
Agen biologis yang sudah dibuat secara komersial dan digunakan untuk larvasidasi dan efektif untuk pengendalian larva vektor adalah kelompok bakteri. Dua spesies bakteri yang sporanya mengandung endotoksin dan mampu membunuh larva adalah Bacillus thuringiensis serotype H-14 (Bt. H-14) dan B. spaericus (BS). Endotoksin merupakan racun perut bagi larva, sehingga spora harus masuk ke dalam saluran pencernaan larva. Keunggulan agent biologis ini tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran. Kelemahan cara ini harus dilakukan secara berulang dan sampai sekarang masih harus disediakan oleh pemerintah melalui sektor kesehatan. Karena endotoksin berada di dalam spora bakteri, bilamana spora telah berkecambah maka agent tersebut tidak efektif lagi.
3. Pengendalian Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi masih paling populer baik bagi program pengendalian DBD dan masyarakat. Penggunaan insektisida dalam pengendalian vektor DBD bagaikan pisau bermata dua, artinya bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Insektisida kalau digunakan secara tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu dan cakupan akan mampu mengendalikan vektor dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan organisme yang bukan sasaran. Penggunaan insektisida dalam jangka tertentu secara akan menimbulkan resistensi vektor. Data penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 di Jakarta dan Denpasar pada tahun 2009 yang dilakukan oleh Shinta dkk menunjukkan resistensi vektor terhadap insektisida yang digunakan oleh program. Insektisida untuk pengendalian DD/DBD harus digunakan dengan bijak dan merupakan senjata pamungkas.
4. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat merupakan proses panjang dan memerlukan ketekunan, kesabaran dan upaya dalam memberikan pemahaman dan motivasi kepada individu, kelompok, masyarakat, bahkan pejabat secara
18
berkesinambungan. Program yang melibatkan masyarakat adalah mengajak masyarakat mau dan mampu melakukan 3 M plus atau PSN dilingkungan mereka. Istilah tersebut sangat populer dan mungkin sudah menjadi trade
mark bagi program pengendalian DBD, namun karena masyarakat kita
sangat heterogen dalam tingkat pendidikan, pemahaman dan latar belakangnya sehingga belum mampu mandiri dalam pelaksanaannya. Mengingat kenyataan tersebut, maka penyuluhan tentang vektor dan metode pengendaliannya masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat secara berkesinambungan. Karena vektor DBD berbasis lingkungan, maka penggerakan masyarakat tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa peran dari Pemerintah daerah dan lintas sektor terkait seperti pendidikan, agama, LSM, dll. Program tersebut akan dapat mempunyai daya ungkit dalam memutus rantai penularan bilamana dilakukan oleh masyarakat dalam program pemberdayaan peran serta masyarakat. Untuk meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan pengendalian, maka perlu peningkatan dan pembenahan sistem surveilans penyakit dan vektor dari tingkat Puskesmas, Kabupaten Kota, Provinsi dan pusat. Disamping kerjasama dan kemitraan dengan lintas sektor terkait perlu dicari metode yang mempunyai daya ungkit.
5. Perlindungan Individu
Untuk melindungi pribadi dari risiko penularan virus DBD dapat dilakukan secara individu dengan menggunakan repellent, menggunakan pakaian yang mengurangi gigitan nyamuk. Baju lengan panjang dan celana panjang bisa mengurangi kontak dengan nyamuk meskipun sementara. Untuk mengurangi kontak dengan nyamuk di dalam keluarga bisa memasang kelambu pada waktu tidur dan kasa anti nyamuk. Insektisida rumah tangga seperti semprotan aerosol dan repellent: obat nyamuk bakar, vaporize mats (VP), dan repellent oles anti nyamuk bisa digunakan oleh individu. Pada 10 tahun terakhir dikembangkan kelambu berinsektisida atau dikenal sebagai
insecticide treated nets (ITNs) dan tirai berinsektisida yang mampu
melindungi gigitan nyamuk.
6. Peraturan Perundangan
Peraturan perundangan diperlukan untuk memberikan payung hukum dan melindungi masyarakat dari risiko penulan DB/DBD. Seperi telah penulis paparkan diatas bahwa DBD termasuk salah satu penyakit yang berbasis lingkungan, sehingga pengendaliannya tidak mungkin hanya dilakukan oleh sektor kesehatan. Seluruh negara mempunyai undang-undang tentang pengawasan penyakit yang berpotensi wabah seperti DBD dengan memberikan kewenangan kepada petugas kesehatan untuk mengambil tindakan atau kebijakan untuk mengendalikannya. Dengan adanya peraturan perundangan baik undang-undang, peraturan pemerintah dan peraturan daerah, maka pemerintah, dunia usaha dan masyarakat wajib memelihara dan patuh. Salah satu Negara yang mempunyai undang-undang dan peraturan tentang vektor DBD adalah Singapura, yang mengharuskan masyarakat untuk menjaga lingkungannya untuk bebas dari investasi larva
19
penerapannya masi belum dapat dijalankan. Agar DKI dapat terbebas dari risiko penularan DBD, maka perlu dilakukan sosialisasi peraturan daerah dan penyuluhan tentang memelihara lingkungan yang bebas dari larva nyamuk secara bertahap. Hal ini mengingat pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu seperti diamanatkan dalam UUD 1945 dan dipertegas di dalam pasal 28 bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia dan dinyatakan juga bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
7. TULISAN TERKAIT TOPIK 2.2 Pola Curah Hujan
Hujan adalah presipitasi yang jatuh ke bumi dalam bentuk air. Hujan dibedakan dari ukuran butir (0,08 – 8 mm), dan kejadiannya. Menurut ukuran diameternya : hujan gerimis (<2 mm), rintik-rintik (2-4 mm) dan deras (>4 mm). (Muin N.S.2008). Hujan harian adalah curah hujan yang diukur berdasarkan jangka waktu satu hari (24 jam). Hujan kumulatif merupakan jumlah kumpulan hujan dalam suatu periode tertentu seperti mingguan, 10 harian, dan bulanan, serta tahunan. Hari hujan merupakan kejadian hujan dengan curah huajn lebih besar atau sama dengan 0,5 mm. Hujan jangka pendek-intensitas hujan adalah Hujan yang diukur kontinyu selama waktu pendek seperti setiap satu jam, setengah jam, dua jam, dan sebagainya. Dalam istilah umum lebih tepat juga dengan intensitas hujan. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan kelebatan hujan selama kejadian hujan. Curah hujan dibatasi sebagai tinggi air (dalam mm) yang diterima di permukaan sebelum mengalami aliran permukaan, evaporasi dan peresapan/perembesan ke dalm tanah. Curah hujan dapat diukur dengan alat pengukur curah hujan otomatis atau yang manual. Alat-alat pengukur tersebut harus diletakkan pada daerah yang masih alamiah, sehingga curah hujan yang terukur dapat mewakili wilayah yang luas. Salah satu tipe pengukur hujan manual yang paling banyak dipakai adalah tipe observatorium (obs) atau sering disebut ombrometer. Curah hujan dari pengukuran alat ini dihitung dari volume air hujan dibagi dengan luas mulut penakar. Alat tipe observatorium ini merupakan alat baku dengan mulut penakar seluas 100 cm2 dan dipasang
20
dengan ketinggian mulut penakar 1,2 meter dari permukaan tanah. ( Jumin, 2002).
Jenis-jenis hujan berdasarkan curah hujan (definisi BMKG) 1. hujan sedang, 20 - 50 mm per hari;
2. hujan lebat, 50-100 mm per hari; dan 3. hujan sangat lebat, di atas 100 mm per hari.
Hujan harian adalah curah hujan yang diukur berdasarkan jangka waktu satu hari (24 jam). Hujan kumulatif merupakan jumlah kumpulan hujan dalam suatu periode tertentu seperti mingguan, 10 harian, dan bulanan, serta tahunan. Hujan jangka pendek atau intensitas hujan adalah hujan yang diukur kontinyu selama waktu pendek seperti setiap satu jam, setengah jam, dua jam, dan sebagainya. Pengukuran ini dilakukan intuk mengetahui kekuatan atau kelebatan hujan selama kejadian hujan.
Disini hujan dapat didefenisikan sebagai bentuk endapan yang sering dijumpai,dan endapan merupakan curah hujan.Endapan disini dapat berbentuk seperti hujan, gerimis, salju, dan batu es hujan (hail). Didaerah tropis hujannya lebih lebat dari pada didaerah lintang tinggi. Garis yang menghubungkan titik-titik dengan curah hujan sama selama periode tertentu disebut isohyet. (Bayong Tjasjono, 2007)
Curah hujan mempunyai kontribusi dalam tersedianya habitat vektor
Aedes aegypli. Curah hujan akan menambab genangan air sebagai tempat
perindukan nyamuk. Suhu dan kelembaban udara selama n~usim hujan pun sangat kondusif bagi kelangsungan hidup nyamuk dewasa dan tidak menutup kemungkinan hidupnya nyamuk dewasa yang telah terinfeksi. Menurut Sukowati, Supratman (2010), habitat vektor demam berdarah dengue dipengaruhi oleh oleh musim penghujan dan dan tersedianya air di pemukiman. Pengaruh curah hujan terhadap vektor bervariasi, tergantung pada jumlah curah hujan, peluang hari hujan, keadaan geografi dan sifat fisik lahan atau jenis habitat sebagai penampung air yang merupakan tempat bertelurnya nyamuk.
Jumlah hari hujan umumnya di batasi dengan jumlah dengan curah hujan 0,5 mm atau lebih. Jumlah hari hujan dapat dinyatakan
per-21
minggu,dekade,bulan,tahun atau periode tanam (tahap pertumbuhan tanaman). ( Handoko,1986 ). Di Asia Tenggara ditemukan hubungan yang kuat antara curah hujan dan insiden dengue. Biasanya puncak transmisi diketahui pada bulan-bulan dengan curah hujan dan suhu tinggi, karena larva aedes aegepty memerlukan habitat water storm container.
Surplus defisit curah hujan merupakan nilai selisih antara curah hujan
dan evapotranspirasi. Evapotranspirasi adalah total laju kehilangan air dari tanah dan permukaan tanaman. Evapotranspirasi harian dihitung menggunakan persamaanThornthwaite, yang telah mengembangkan suatu metode untuk memperkirakan besarnya evapotranspirasi potensial dari data klimatologi. Evapotranspirasi potensial (PET) tersebut berdasarkan suhu udara rerata bulanan dengan standar 1 bulan 30 hari, dan lama penyinaran matahari 12 jam sehari. Metode ini memanfaatkan suhu udara sebagai indeks ketersediaan energi panas untuk berlangsungnya proses ET dengan asumsi suhu udara tersebut berkorelasi dengan efek radiasi matahari dan unsur lain yang mengendalikan proses ET.
dengan:
PET = evapotranspirasi potensial bulanan (cm/bulan) T = temperatur udara bulan ke-n (OC)
I = indeks panas tahunan
a = koefisien yang tergantung dari tempat
Harga a dapat ditetapkan dengan menggunakan rumus:
a = 675 10-9 ( I3 ) – 771 10-7 ( I2 ) + 1792 10-5 ( I ) + 0,49239
Jika rumus tersebut diganti dengan harga yang diukur, maka: PET = evapotranspirasi potensial bulanan standar
(belum disesuaikan dalam cm).
Karena banyaknya hari dalam sebulan tidak sama, sedangkan jam penyinaran matahari yang diterima adalah berbeda menurut musim dan jaraknya dari katulistiwa, maka PET harus disesuaikan menjadi:
22
dengan:
s = jumlah hari dalam bulan
Tz = jumlah jam penyinaran rerata per hari
Surplus defisit curah hujan harian = curah hujan harian – Etp harian
Surplus defisit curah hujan mingguan = Surplus defisit curah hujan harian
dalam satu minggu
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilakukan di Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat, karena tingginya angka insiden DBD di wilayah Kota Tasikmalaya.
23 3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah data curah hujan harian dan angka insiden DBD bulanan tiap Puskesmas di Kota Tasikmalaya.
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian
Satuan Alat Ukur Jenis Data Variabel Bebas
Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur di atas permukaan horizontal.
mm/bulan Ombrometer Rasio
Surplus defisit curah hujan adalah
selisih antara curah hujan harian dengan evapotranspirasi harian (Etp)
mm/bulan S-D = Curah-hujan - Etp
Rasio
Variabel Terikat
Angka Insiden DBD adalah angka kejadian DBD tiap bulan pada tahun 2006-2015
- Kasus/100.000
penduduk
Rasio
3.4 Model Penelitian
Penelitian ini bersifat retrospektif dan merupakan studi deskriptif, untuk mengetahui hubungan antara curah hujan, hari hujan dan surplus defisit curah hujan dengan angka insiden Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya tahun 2006 - 2015.
3.5 Rancangan Penelitian
Curah Hujan
Surplus Defisit Curah Hujan
Evapotranspirasi Angka Insiden
24
Gambar 3.1 Rancangan Penelitian
3.6 Pengumpulan Data
Pengumpulan angka insiden DBD bulanan dilakukan dengan mengambil data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya pada tahun 2006 – 2015 dan data curah hujan harian diperoleh dari tiga stasiun hujan di Kota Tasikmalaya dan suhu harian diambil dari BMKG.
3.7 Analisis Data
Data curah hujan harian dihitung menjadi rata-rata curah hujan bulanan dan dihitung pula surplus defisit curah hujan. Untuk mengetahui derajat/keeratan hubungan dan arah hubungan dua variabel numerik digunakan analisis korelasi. Hubungan dua variabel numerik tersebut dapat berpola positif maupun negatif. Hubungan positif terjadi bila kenaikan satu variabel diikuti kenaikan variabel lain. Sedangkan hubungan negatif terjadi bila kenaikan satu variabel diikuti penurunan variabel yang lain (Hastono, 2007)
Tahapan analisis yang dilakukan adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat untuk memberi gambaran curah hujan dan surplus defisit curah hujan serta gambaran distribusi angka insiden DBD. Analisis bivariat dengan menggunakan uji korelasi-regresi, dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen yaitu curah hujan dan surplus defisit curah hujan dengan variabel dependen yaitu angka insiden DBD di Kota Tasikmalaya tahun 2006-2015. Analisis bivariat dilakukan melalui dua langkah yaitu pertama melalui penafsiran nilai korelasi (r). Dalam penafsiran arti nilai korelasi (r) berikut ini adalah kisaran nilai korelasi dan arti dari nilai korelasi : menurut :
Tabel 3.2 Kisaran dan Arti Nilai Korelasi
Jumlah Hari Hujan
25
r Arti
0,00 – 0,25 tidak ada hubungan/hubungan lemah
0,26 – 0,50 hubungan sedang
0,51 – 0,75 hubungan kuat
0,76 – 1,00 hubungan sangat kuat/sempurna
Sumber : Colton dalam Hastono (2007)
3.8 Alur Penelitian
Tahapan penelitian yang akan dilakukan sesuai dengan diagram alur berikut :
Persiapan
26
Gambar 3.2 Alur Penelitian
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1 Biaya Penelitian
Tabel 4.1 Rekapitulasi Anggara
BMKG
Hari hujan Curah Hujan
Dinkes Kota Tasikmalaya
Perhitungan Etp
S-D Curah Hujan
Analisis Univariat :
Gambaran curah hujan,hari hujan dan surplus defisit curah hujan tahun 2005-2016 Gambaran kerentanan DBD/Kecamatan dan trend AI tahun 2005-2016
Analisis Biavariat :
Hubungan curah hujan dengan AI DBD tahun 2005-2016 Hubungan hari hujan dengan AI DBD 2005-2016 Hubungan Surplus deficit Curah Hujan dengan AI DBD tahun
2005-2016
Suhu
27
No. Rekapitulasi Biaya Jumlah (Rp)
1 Honor/Upah : Honor Tenaga Teknis Mahasiswa (4 OB) 1.600.000
2
Biaya Habis Pakai
a. Kertas A4
b. Tinta Printer 4 warna
c. Perbanyakan data Angka Insiden DBD bulanan 10 tahun d. Perbanyakan data curah hujan harian 10 tahun
240.000 320.000 4.000.000 3.600.000 3 Biaya Perjalanan mulai survey s/d evaluasi (12 OK) 2.040.000
4 Lain-lain (Publikasi dan Laporan) 700.000
Jumlah 12.500.000
Terbilang : Dua belas juta lima ratus ribu rupiah
4.2 Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan penelitian sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Penelitian
Jadwal Kegiatan Bulan ke….
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Survai permasalahan yang dihadapi mitra
dan kesepakatan dengan mitra Penyusunan Proposal
Upload Proposal
Pengurusan izin penelitian ke Kesbang Kota Tasikmalaya
Penyampaian surat permohonan data ke Dinkes dan BMKG Kota Tasikmalaya Pengambilan Data
Pengolahan Data (Analisis Data) Pembuatan Laporan
Pembutan Artikel dan Publikasi Ilmiah
DAFTAR PUSTAKA
Asriati, J dan D. A. Musadad. Incidence of Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) and Climate factors in Batam City of Kepulauan Riau Province. Jurnal
28
Bayong Tjasjono, 2007. Klimatologi Dasar Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer
dan Unsu-unsur Iklim Jurusan Geofisika dan Meteorologi. FMIPA-IPB:
Bogor.
CNN Indonesia. 2016. Indonesia Peringkat Dua Negara Endemis Demam Berdarah. Terdapat di http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160616170332-255-138672/indonesia-peringkat-dua-negara-endemis-demam-berdarah/
diunduh pada tanggal 20 Januari 2017.
Handoko,Ir.1986. Klimatologi Dasar. Bogor: FMIPA-IPB.
Hastono SP.2007. Analisis Data Kesehatan. Depok: FKM UI
Jumin, Hasan Basri. 2002. Agroekologi Suatu Pendekatan Fisiologi. PTRaja Grafindo Persada, Jakarta
Kemenkes RI. 2016. Wilayah KLB Ada di 11 Provinsi. Terdapat pada
http://www.depkes.go.id/article/print/16030700001/wilayah-klb-dbd-ada-di-11-provinsi.html. Diunduh pada tanggal 20 Januari 2017
Kurane I. Dengue Hemorrhagic Fever with Spesial Emphasis on immuno pathogenesis. Comparative Immunology, Microbiology & Infectious
Disease. 2007; Vol 30:329-40.
Lestari K. Epidemiologi Dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Farmaka. 2007; 5 (3): 12-29.
Merdiana dan Dian Prawitasari. Insiden Malaria dan Pola Iklim di Kabupaten Kapuas Propinsi Kalteng dan Sumba Barat Propinsi NTT, Indonesia Tahun 2005 – 2009. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2014:13(1) : 59 – 70
Muin N.S.2008, Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Bengkulu: UNIB
Prawitasri, D., dkk. Kondisi Iklim dan Pola Kejadian DBD di Kota Yogyakarta Tahun 200402011. Media Litbangkes, 2105:25 (4) : 243 – 248
Ramesh CD, Sharmila P, Dhillon GPS, Aditya PD. Climate Change and Threat of Vector-borne Diseases in India: Are We Prepared? Parasitology Research. 2010; 106(4): 763-773.
Sukowati, Supratman. Vektor DBD dan Pengendaliannya di Indonesia. Buletin
Jendela Epidemiologi. 2010(2):26 – 30.
Supartha, I.W (2008). Pengendalian Terpadu Vektor Virus DBD, Aedes Aegypti Umar Fahmi Ahmadi, (2007). Dampak Perubahan Iklim dalam Perspektif
Kesehatan Lingkungan. KIPNAS IX, 22 November 2007. Jakarta.
WHO. 2013. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengue dan
Demam Berdarah Dengue. Jakarta: WHO & Departemen Kesehatan RI. Wisnubroto,S,S.S.L Aminah, dan Nitisapto, M. 2006. Asas-asas Meteorologi
Pertanian, Departemen Ilmu-ilmu Tanah, Fakultas Pertanian. UGM
Yogyakarta dan Ghalia Indonasia: Jakarta.
Lampiran 1. JUSTIFIKASI ANGGARAN
a. Upah/Honor
29
Honor Teknisi (Mahasiswa) Pengolahan data 4 Rp 400.000 Rp 1.600.000
Sub Total Rp 1.600.000
b. Bahan Habis Pakai
Material Justifikasi Pemakaian Kuantitas Harga Satuan Jumlah
Kertas A4 80 gram ATK 6 Rp 40.000 Rp 240.000
Tinta Printer Epson L335 Cetak 4 Rp 80.000 Rp 320.000
Perbanyakan data AI DBD Bulanan/PKM 80 paket Rp 50.000 Rp 4.000.000
Perbanyakan data Curah hujan harian 10 thn 120 paket Rp 30.000 Rp 3.600.000
Sub Total Rp 9.200.000
c. Perjalanan
Uang Saku Perizinan ke Dinkes Kota 2 Rp 170.000 Rp 340.000
Uang Saku Perizianan ke BMKG 2 Rp 170.000 Rp 340.000
Uang Saku Pengambilan data Curah Hujan 4 Rp 170.000 Rp 680.000
Uang Saku Pengambilan data AI DBD 4 Rp 170.000 Rp 640.000
Sub Total Rp 2.040.000
d. Lain-lain
Publikasi Cetak Banner 2 Rp 250.000 Rp 500.000
Cetak Laporan 4 eks Rp 50.000 Rp 200.000
Sub Total Rp 700.000
Total Anggaran yang Diperlukan Rp 12.500.000
Terbilang : Dua Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah
Lampiran 2. SUSUNAN ORGANISASI TIM PENGUSUL DAN PEMBAGIAN TUGAS
30 Nama
NIDN
Program Studi
Bidang Ilmu Alokasi Waktu
Uraian Tugas
Ai Sri Kosnayani, M.Si Kesehatan Masyarakat Kesehatan/Gizi 3 jam/ minggu Penelusuran masalah, kajian pustaka, menyusun proposal, mengurus surat izin penelitian,
pengambilan data, memamtau
pengolahan data, menganalisis hasil pengolahan data dan pembahsan, membuat laporan, membuat artikel ilmiah.
Asep Kurnia H, M.T. Teknik Sipil Sumber Daya Air
2 jam/ minggu
Bekerja sama denga Ketua melakukan penelusuran masalah, kajian pustaka, menyusun proposal, mengurus surat izin penelitian,
pengambilan data, memamtau
pengolahan data, menganalisis hasil pengolahan data dan pembahsan, membuat laporan, membuat artikel ilmiah.
Lampiran 3. BIODATA KETUA DAN ANGGOTA TIM PENGUSUL
31
1 Nama Lengkap Ai Sri Kosnayani, M.Si.
2 Jenis Kelamin Wanita
3 Jabatan Fungsional Lektor
4 NIP 197009041994032001
5 NIDN 0004097001
6 Tempat dan Tanggal Lahir Tasikmalaya, 04 September 1970
7 E-mail [email protected]
8 Hp 082216563925
9 Alamat Kantor Jl. Siliwangi No 24 Tasikmalaya 10 No Telepon/Faks (0265)324445
11 Lulusan yang Telah Dihasilkan S1 = 50 12 Mata Kuliah yang Diampu Biomedik 2
Gizi Sektor Informal Surveilance Kesehatan Penulisan Ilmiah
Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitif
B. Riwayat Pendidikan Ketua Pengusul
S1 S2
Nama Perguruan Tinggi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (UPI) Bandung
PPs-Undip Semarang
Bidang Ilmu Pendidikan Kimia Gizi Masyarakat
Tahun Masuk-Lulus 1989-1993 2002-2007
Judul Skripsi/Tesis Analisis Miskonsepsi pada Konsep Radioaktif Siswa SMA Negeri 2 Tasikamalaya
Faktor Risiko Osteoporosis pada Wanita Post Menopouse Nama Pembimbing/Promotor Nuraini S., M.Pd. Prof. Dr. dr. Hertanto WS.,
Sp.GK
C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul
1 2013 Potensi Plavonoid dan Polifenol dalam Meniran Putih sebagai Hypoglycemic Agent pada Tikus Putih Hiperglikemia yang Diinduksi Streptozotocin 2. 2014 Pengaruh Ekstrak Phyllanthus niruri Linn., Metformin dan Kombinasi
keduanya terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Tikus Obesitas
3 2015 Pengaruh Pemberian Ekstrak Air Meniran Terhadap Penurunan Kadar Glukosa dan Trigliserida pada Tikus Sprague dawley Jantan Obes
4 2016 Analisis Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Obesitas Remaja (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi Tahun 2016) 5 2016 Identifikasi Bakteri Pembusuk dan Kandungan Gizi pada Ikan Pindang
32
D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat Nilai 1 2013 Pelatihan Kader Pos Yandu di Kelurahan Cigeureung Kota
Tasikmalaya Rp. 10.000.000
2 2016
Pelatihan Kader Pos Yandu, Pembuatan Alternatif Obat Nyamuk dengan Fermentasi Gula di Kelurahan Karikil Kota Tasikmalaya
Rp. 5.000.000
3 2016
Tim Analisis Penyusunan : Kerangka Acuan
Pembangunan Kawasan Pergudangan, Perdagangan, dan Jasa PT Bukit Mangin Lestari
Analisis (Penilai)
4 2016 IbP. Grafik IMT sebagai Alat Ukur Status Gizi Mandiri di
Pesantren Rp.10.000.000
5 2016
ITGbM. Metode Penentuan Kebutuhan Air Tanaman dan Jenis Tanaman untuk Ketahanan Pangan dan Kebutuhan Gizi Masyarakat
Rp. 10.000.000
6 2016
Tim Analisis Penyusunan : 1. Andal
2. RKL – RPL
Pembangunan Kawasan Pergudangan, Perdagangan, dan Jasa PT Bukit Mangin Lestari
Analisis (Penilai)
E. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Volume/Nomor/Tahun
1 2014 Potensi Plavonoid dan Polifenol dalam Meniran Putih sebagai
Hypoglycemic Agent pada Tikus Putih Hiperglikemia yang Diinduksi Streptozotocin
Proseding Seminar Nasional “Menuju Masyarakat Madani Seri 4” ISBN : 978-979-98438-9-0
2 2015
Effects of Phyllanthus niruri Linn., Metformin and Combination of Both to Body Weight, Fasting Blood Glucose, Triglyserides and HDL in Obese Rats
Proceeding of The 1st University of Muhammadiyah Purwokerto-Pharmacy International Conference 5-6 June 2015, Horison Hotel Purwokerto
ISBN 978-602-73538-0-0 3 2016 Pengaruh Pemberian Ekstrak Air
Meniran Terhadap Penurunan Kadar Glukosa dan Trigliserida pada Tikus Sprague dawley Jantan Obes
Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia Vol 11 No. 1 Maret 2016
4 2016 Pengaruh Ekstrak Air Meniran terhadap Perubahan Berat Badan dan Kadar Glukosa Darah Puasa pada Tikus Sprague dawley Jantan Obesitas
Proseding Seminar Nasional “Menuju Masyarakat Madani Seri 6” ISBN : 078-002-60361-3-1
33
5 2017 Analisis Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Obesitas Remaja (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi Tahun 2016)
Jurnal Penelitian LP2M-PMP Universitas Siliwangi Tasikmalaya
6 2017 Metode Penentuan Kebutuhan Air Tanaman dan Jenis Tanaman untuk Ketahanan Pangan dan Kebutuhan Gizi Masyarakat
Jurnal PPM LP2M-PMP Universitas Siliwangi Tasikmalaya
7 2017 Grafik IMT sebagai Alat Ukur Status Gizi Mandiri di Pesantren
Jurnal PPM LP2M-PMP Universitas Siliwangi Tasikmalaya
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari dijumpai ketidak sesuaian dengan kenyataan saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan hibah.
Tasikmalaya, 30 Januari 2017
Ai Sri Kosnayani, S.Pd., M.Si NIDN. 0004097001
34
A. Identitas Diri (Anggota Pengusul Penelitian Madya)
1 Nama Lengkap Asep Kurnia Hidayat. Ir., MT.
2 Jenis Kelamin Laki-laki
3 Jabatan Fungsional Lektor kepala
4 NIP 195908261990021001
5 NIDN 002608591
6 Tempat dan Tanggal Lahir Ciamis, 26 Agustus 1959
7 E-mail [email protected]
8 Hp 081312054388
9 Alamat Kantor Jl. Siliwangi No 24 Tasikmalaya 10 No Telepon/Faks (0265)323537
11 Lulusan yang Telah Dihasilkan S1 = 70
12 Mata Kuliah yang Diampu 1. Irigasi dan Bangunan Air 2. Rekayasa Hidrologi
3. Metodologi Penelitian dan Teknik Presentasi
B. Riwayat Pendidikan
S1 S2
Nama PT Universitas Sebelas Maret Surakarta PPs-UGM Yogyakarta
Bidang Ilmu Teknik Sipil Teknik Sumber Daya Air
Tahun Masuk-Lulus 1979-1986 1998-2002
Judul Skripsi/Tesis Perencanaan Waduk Cemoro Model Optimasi Pengelolaan Air Intake Lakbok Selatan Bendung Gerak Manganti Nama Pembimbing/
Promotor
Ir. JB Sunardi Ir.H.Darmanto,Dip.HE.,MSc. Dr. Ir. Rachmad Jayadi, M.Eng.
35
C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir
D. Pengabdian pada Masyarakat 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat Bentuk 1 2013 Penyusunan Masterplan Kampus Universitas
Siliwangi Tasikmalaya. Perencanaan
2 2014 Penyuluhan Rumah Sehat Tahan Gempa di Desa
Bayasari Jati Nagara Kabupaten Ciamis. PPM 3 2015 Lanjutan Penyuluhan Rumah Sehat Tahan Gempa dan Hemat Listrik di Desa Bayasari Jati Nagara
Kabupaten Ciamis.
PPM
4 2016 Tim Analisis Penyusunan : Kerangka Acuan Pembangunan Kawasan Pergudangan,
Perdagangan, dan Jasa PT Bukit Mangin Lestari
Analisis (Penilai) 5 2016 Metode Penentuan Kebutuhan Air Tanaman dan Jenis Tanaman untuk Ketahanan Pangan dan
Kebutuhan Gizi Masyarakat
ITGbM
6 2016
Tim Analisis Penyusunan : 3. Andal
4. RKL – RPL
Pembangunan Kawasan Pergudangan,
Perdagangan, dan Jasa PT Bukit Mangin Lestari
Analisis (Penilai)
E. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul
1 2012 Sistem Drainase Kombinasi Sumur Resapan Dan Saluran Sukanagara Ciamis
2. 2013 Bandingan Evapotranspirasi Blaney Criddle dan Penman Pada Sta. Nariewatie
3 2015 Analisis Check Dam sebagai Bangunan Pengendali Sedimen pada Sungai Ciliung dengan dua Alternatif Debit Banjir
4 2016 Analisis Curah Hujan Efektif dan Curah Hujan dengan Berbagai Periode Ulang untuk Wilayah Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Garut
5 2016 Evapotranspirasi Referensi Dua Daerah di Jawa Barat untuk Analisis Perencanaan Kebutuhan Air Irigasi
36
No. Tahun Judul Volume/Nomor/Tahun
1 2012 Sistem Drainase Kombinasi Sumur
Resapan Dan Saluran Sukanagara Ciamis Jurnal Sitrotika, Volume 8, Nomor 1, Januari 2012. ISSN 1693-9670
2 2015 Analisis Check Dam sebagai Bangunan Pengendali Sedimen pada Sungai Ciliung dengan dua Alternatif Debit Banjir
Jurnal Sitrotika, Volume 8, Nomor 1, Januari 2015. ISSN 1693-9670
3 2017 Metode Penentuan Kebutuhan Air Tanaman dan Jenis Tanaman untuk Ketahanan Pangan dan Kebutuhan Gizi Masyarakat
Jurnal PPM LP2M-PMP Universitas Siliwangi Tasikmalaya
4 2017 Analisis Curah Hujan Efektif dan Curah Hujan dengan Berbagai Periode Ulang untuk Wilayah Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Garut
Jurnal Penelitian LP2M-PMP Universitas Siliwangi Tasikmalaya
5 2017 Evapotranspirasi Referensi Dua Daerah di Jawa Barat untuk Analisis Perencanaan Kebutuhan Air Irigasi
Jurnal Penelitian LP2M-PMP Universitas Siliwangi Tasikmalaya
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari dijumpai ketidak sesuaian dengan kenyataan saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan hibah.
Tasikmalaya, 30 Januari 2017
Asep Kurnia Hidayat, MT NIDN. 0026085901
38
LAMPIRAN 6. BUKTI SUBMIT