• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perbatasan merupakan aspek penting dalam sebuah konsep negara yang dihasilkan oleh perjanjian Westphalia tahun 1618, karena perbatasan menentukan wilayah dimana suatu otoritas di implementasikan sekaligus menjadi pembatas dimana otoritas tersebut berakhir, selain itu perbatasan juga merupakan aspek penting dimana kedaulatan negara bersinggungan dengan kedaulatan negara lain. Pengarus utamaan pembangunan di daerah terluar menjadi sebuah isu sentral dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Perihal ini bukanlah yang pertama di Indonesia, sebagai suatu negara yang berdaulat Indonesia menunjukan kompleksitas dalam menata dan membangun wilayah NKRI secara bertahap guna memberikan kesejahteraan dan kelayakan bagi kehidupan setiap warga negara Indonesia.

Berbicara mengenai pembangunan maka akan sangat kompleks. Masalah pembangunan diabad ke-21 ini bukan hanya masalah milik Indonesia saja tetapi seluruh negara di dunia mengalami hal yang sama ketika berbicara lebih dalam mengenai suatu bentuk pembangunan. Indonesia sebagai suatu negara yang masih dalam tahap berkembang sudah mampu melangkah pada tahap pembangunan kearah yang lebih baik. Sejak pemerintahan Presiden Joko widodo, beliau mulai menyamaratakan pembangunan agar tidak muncul rasa saling cemburu antara setiap masyarakat di Indonesia. Dengan profesionalitas kerja, Presiden Joko Widodo mulai memfokuskan pembangunan diwilayah Indonesia yang dianggap terlambat dalam pembangunan, salah satu diantaranya yang menjadi sorotan utama adalah Provinsi Kalimantan Utara yang secara langsung berbatasan dengan Malaysia.

Perlu diketahui juga bahwa secara administratif wilayah Indonesia berbatasan langsung dengan 10 negara lain, baik darat maupun laut. Hal ini menjadikan Indonesia perlu mengatur pembangunan dan tingkat keamanan yang kokoh sebaik mungkin agar tidak adanya wilayah di perbatasan yang mengalami masalah dengan negara tetangga.Kabupaten Nunukan merupakan salah satu pulau terluar milik Indonesia. Wilayah ini secara administratif berbatasan langsung dengan Malaysia tepat di bagian utara wilayah Nunukan, sementara bagian selatan merupakan wilayah kedaulatan Indonesia. Untuk itu Indonesia berkepentingan dalam menjaga dan

(2)

membangun perbatasan. Pembangunan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara masih membutuhkan pembangunan, yang diketahui dari sebagian pembangunan infrastruktur yang kurang baik sehingga menghambat proses pembangunan di wilayah Nunukan, akan tetapi ini tidak mengurangi niat pemerintah Indonesia untuk tetap berusaha agar tetap membangun secara merata di seluruh pelosok wilayah Nunukan terkhususnya.

Pemerintah kemudian membentuk sebuah instansi yang diatur dalam Perpres No. 12 Tahun 2010yang secara langsung bertugas menangani dan mengelola setiap kekurangan maupun kejadian yang terjadi di daerah perbatasan yakni Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Instansi yang dikenal dengan singkatan BNPP memiliki peran besar dalam mengelola wilayah perbatsan mulai dari wilayah hingga masyarakat. Ini sangat diharapkan menjadi uluran tangan pertama sebelum pemerintah pusat ikut serta dalam mengatasi setiap permaslahan di perbatasan.

Program kerja BNPP yang dibantu oleh beberapa kementerian diharapkan mampu memperbaiki kondisi diwilayah Kabupaten nunukan. Dipandang secara sepintas masalah pembangunan yang dibutuhkan adalah infrastruktur. kondisi infrastruktur yang kurang baik, berpotensi buruk pada aktifitas masyarakat di Kabupaten Nunukan untuk memperoleh dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dampak yang ditimbulkan menjadikan warga KabupatenNunukan lebih sering mendapatkan bantuan dari negara tetangga yang dinilah lebih mudah untuk dijangkau. Tidak lain, tidak bukan Malaysia merupakan negara yang menjadi penopang bagi masyarakat Kabupaten Nunukan yang ingin memperoleh kebutuhan sehari-hari seperti, layanan kesehatan, lapangan pekerjaan, layanan pendidikan hingga akses listrik, dimana semua itu dapat diperoleh dari pemerintah Malaysia yang dengan sukarela memberikan bantuan kepada masyarakat didaerah perbatasan.

Penggunaan mata uang ringgit sebagai alat transaksi jual beli di wilayah KabupatenNunukan, Indonesia (Kemendagri 2015), menjadi kebisaaan masyarakat KabupatenNunukan dikarenakan lebih mudah mendapatkan mata uang ringgit dibanding mata uang rupiah, yang merupakan alat resmi transaksi jual beli di negara Indonesia. Fenomena yang lain daripada itu yakni, terdapat beberapa media yang kemudian mengabarkan bahwa, sejumlah besar WNI memiliki identitas ganda bahkan sampai pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Malaysia atas alasan yang kurang meyakinkan dimana diberikan bantuan berupa uang

cashkepada WNI oleh pemerintah Malaysia (Kompas 2016). Hal ini tentu karena perilaku

kebisaaan yang dianggap lebih mudah menjadikan masyarakat KabupatenNunukan berupaya untuk bisa mendapatkan identitas kebangsaan Malaysia tanpa menghilangkan kebangsaan

(3)

Indonesia agar lebih mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam hal ini kesehatan, pendidikan dan pekerjaan di wilayah Malaysia tanpa harus membuat visa setiap hari.

Adanya penurunan jumlah WNI yang memilih menjadi Warga Negara Malaysia (WNM) tentu menjadi fonomena yang krusial. Kehilangan 20 KK (Kepala Keluarga) dari total 85 KK (Liputan6, 2015) menjadi masalah besar yang bukan hanya dialami oleh pemerintah daerah namun juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Pindahnya WNI menjadi WNM menjadi sangat mudah bagi warga KabupatenNunukan, hal ini dikarenakan tawaran bantuan dari negara tetangga seperti bantuan dana (uang cash) sebesar 1000 ringgit bagi warga perbatasan pemegang IC (Malaysia Identity Card), lapangan pekerjaan, sekolah yang lebih layak, akses transportasi yang lebih baik dengan biaya yang lebih mudah dijangkau, pasokan tenaga listrik yang cukup, layanan kesehatan dan, air mineral berkualitas yang cukup. Ini tentu tawaran bantuan yang nyata yang bisa diperoleh bagi WNI yang ingin menjadi WNM (Merdeka 2015). Pembangunan yang masih jauh dari kemajuan di wilayah perbatasan terkhususnya KabupatenNunukan yang menjadi alasan utama mengapa WNI lebih memilih menerima bantuan Malaysia dibanding subsidi yang diberikan Indonesia. Melakukan pembangunan tentu butuh bantuan dan dukungan dari berbagai unsur yang memungkinkan pembangunan tersebut berjalan dengan lancar. Hal yang terjadi di KabupatenNunukan berbeda dengan keinginan dari pembangunan yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat KabupatenNunukan. Jelas terjadi karena faktor yang seharusnya mendukung ternyata menghadapi masalah sehingga menghambat laju pembangunan.

Kemajuan yang belum kunjung terjadi di daerah perbatasan dalam hal ini Kabupaten Nunukan membuat masyarakat setempat tidak bisa benar-benar merasakan kehadiran pemerintah sebagai pihak yang berkewajiban untuk mengayomi kehidupan warga negaranya termasuk juga didalamnya warga di bagian wilayah terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kurangnya sentuhan pemerintah baik itu pemerintah nasional maupun daerah dalam melaksanakan pembangunan membuat warga di Kabupaten Nunukan lebih merasakan uluran tangan pihak asing dalam hal ini pemerintah Malaysia yang mengalokasikan beberapa bantuan terhadap masyarakat setempat. Masyarakat di Kabupaten Nunukanmasih belum terpenuhi kesejahteraan hidupnya yang ditandai dengan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. Selain itu masyarakat KabupatenNunukan juga memperlukan prasarana perhubungan yang baik yang mampu menunjang kelancaran lalu lintas dan pendorong produktivitas masyarakat berupa jalan raya dan listrik. Begitu pula dengan kesehatan dan sumber daya manusia yang berfungsi menunjang pembangunan di daerah tertinggal.

(4)

Perkembangan yang terjadi di sebuah daerah menuntut adanya dukungan infrastruktur yang memadai seperti jalan, sekolah, akses terhadap listrik dan lain-lain dalam rangka melancarkan program-program pembangunan yang telah dicanangkan.Infrastruktur yang disediakan pada gilirannya akan memberi kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan demi memenuhi kebutuhan hidup dengan ketersediaan infrastruktur tersebut. Akses terhadap pendidikan dan kesehatan melalui pembangunan sekolah dan jalan sebagai contoh, tentu akan membantu pengembangan sumber daya manusia didalam kelompok masyarakat. Sedangkan sebaliknya, pembangunan infrastrukur yang minim akan menyebabkan kurangnya perkembangan masyarakat untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia yang ada. Infrastruktur yang buruk tentu sangat menghambat proses berjalannya pembangunan dan itu yang terjadi di wilayah perbatasan KabupatenNunukan, Kalimantan Utara. Peran pemerintah melalui kerjasama kementerian terkait pembangunan infrastruktur untuk mempercepat arus pembangunan ke tahap yang lebih baik.

Tabel 1.1 Tabel Produksi dan Penggunaan Tenaga Listrik Kalimantan Utara

Sumber : PT PLN (Persero) Wil. Kalimantan Timur dan PT PLN Kota Tarakan dalam Kalimantan Utara dalam angka, 2015

Data konsumsi listrik perkapita di Kalimantan Utara masih tergabung dengan Provinsi Kalimantan Timur yaitu berada di bawah rata-rata penggunaan listrik nasional yakni sebesar 745,60 kWh (Analisis Provinsi Kalimantan Utara 2015: 21). Menurut tabel diatas sumber energi listrik yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun kalangan usaha atau industri di Kalimantan Utara sampai saat ini masih mengalami defisit listrik PLN.(Analisis Provinsi Kalimantan Utara 2015: 22)

Nunukan khususnya namun hal-hal yang terjadi di lapangan menjadi kendala tersendiri dimana pembangunan akses jalan raya sepanjang 585 km harus terhenti karena alasan yang kurang akurat oleh pihak kementerian PUPR (Prokal, 2015). Kemudian surat kabar kompas mengeluarkan berita pada Juli 2016 lalu yang cukup mengagetkan dimana warga Nunukan

(5)

untuk bisa mendapatkan KTP atau identitas kewarganegaraan Indonesia masyarakat KabupatenNunukan perlu mengeluarkan uang sebesar 8-10 Juta hanya untuk biaya transportasi (Kompas, 2016). Ini dikarenakan infrastruktur yang kurang memadai sehingga perlu menggunakan alternatif laindengan biaya yang cukup mahal dikarenakan medan yang sulit dilalui sehingga diharuskan menggunakan speedboat. Kondisi jalan yang buruk akan meningkatkan waktu tempuh perjalanan dan pembengkakan biaya distribusi barang antar daerah, yang pada gilirannya menghambat perekonomian daerah.

Selain itu di Kabupaten Nunukan juga memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah karena pengukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya dilihat dari tingginya pertumbuhan ekonomi tetapi juga mencakup kualitas manusianya. Secara keseluruhan Kalumantan Utara memiliki persentase IPM (Indeks Pembangunan Manusia) dibawah standar nasional yang persentasenya 68.64 sedangkan IPM nasional 68.9 (Analisis Provinsi Kalimantan Utara 2015: 22). Nilai Ipm di Kalimantan Utara ini termasuk kategori IPM sedang (60 – 70) (Analisis Provinsi Kalimantan Utara 2015: 22). Besar harapan peneliti kepada pemerintah Kabupaten Nunukan untuk terus meningkatkan kualitas SDM agar mencapai bahkan melebihi standar nasional yang masih dikategorikan sedang.

Tabel 1.2. Grafik Nilai IPM Provinsi di Indonesia

Sumber : Badan Pusat Statistik Kalimantan Utara, 2015

Untuk menunjang kualitas SDM yang baik, maka anak Indonesia diwajibkan untuk sekolah selama 12 tahun (SD, SMP, SMA) dan sangat diharapkan untuk bisa berlanjut ke

(6)

jenjang yang lebih tinggi. Namun Kabupaten Nunukan masih memiliki standar IPM dibawah rata-rata IPM nasional 68,9.

Menurunnya jumlah WNI,menjadi WNM jelas menjadi ancaman kedaulatan. Kedaulatan itu bukan cuma wilayah tapi juga penduduk. Melihat pembangunan itu adalah masalah utama, maka penulis mencoba menggambarkan pembangunan sangat diperlukan sebagai bentuk mempertahankan kedaulatan NKRI, dalam penyelesaian permasalahan di perbatasan negara memiliki BNPP yang bertugas membantu proses pengolahan perbatasan namun dalam kasus ini perlu dilihat, sudah sejauh manacampur tangan BNPP dalam mengatasi isu perbatasan di Kabupaten Nunukan.

Sebagaibadan khusus dalam mengelola perbatasan, BNPP melalui Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah (BPPD) di Kabupaten Nunukan akan menjalankan tugas dan wewenang sebagaimana yang diatur dalam UU No. 43 Tahun 2008 dan PERPRES Nomor 12 Tahun 2010 pasal 3 mengenai tugas dan kewenangan BNPP yang kemudian dicantumkan dalam PERDA No. 23 Tahun 2011 sebagai acuan kerja BPPD sesuai kebutuhan diperlukan.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah ini akan membantu penulis dalam menggali lebih dalam implementasi dari program pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam membangun wilayah perbatasan yang masuk kategori desa, daerah tertinggal terkhususnya KabupatenNunukan, Kalimantan Utara yang mengalami beberapa masalah yang berhubungan dengan ketahanan kedaulatan NKRI. Bagaimana peran Badan NasionalPengelola Perbatasan (BNPP) dalam mengatasi permasalahan pembangunan infrastruktur jalan raya di wilayah perbatasansebagai bentuk mempertahankan keutuhan NKRI ?

1.3. Tujuan Penilitian

Peneliti memiliki tujuan awal dalam menulis karya ilmiah ini, yaitu mendeskripsikan peran Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dalam mengatasi permasalahan pembangunan infrastruktur jalan raya di wilayah perbatasan sebagai bentuk mempertahankan keutuhan NKRI.

1.4. Manfaat Penilitian a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam bidang Hubungan Internasional khususnya mengenai peran pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Pengelola Perbatasan dalam upaya menjaga keutuhan NKRI melalui pemerataan pembangunan di wilayah perbatasan Indonesia khususnya Kalimantan Utara agar dapat meningkatkan kualitas dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

(7)

b. Manfaat Praktis

Hasil Penelitian ini dapat memberikan masukan dan saran kepada pemerintah Indonesia dalam proses pembuatan kebijakan dan prospek pembangunan di wilayah perbatasan Indonesi.

1.5. Batasan Penilitian

Penilitian ini lebih difokuskan pada program dan hasil kerja Badan Nasional Pengelola Perbatasan di bidang infrastruktur fisik khususnya jalan raya di wilayah perbataasan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Gambar

Tabel 1.1 Tabel Produksi dan Penggunaan Tenaga Listrik Kalimantan Utara
Tabel 1.2. Grafik Nilai IPM Provinsi di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

dengan adanya asarr hasil melabolisme nrikroba rcmgga mulul Salah salu usha pencegahan karics adalah dcngan Ineningkatkan proses remineralisilsi untLrk nrcngimbangi

Alasan lain peneliti mengambil judul tentang metode galley walk berbasis PAIKEM yaitu agar siswa mampu mengingat apa yang telah dipelajari, hal ini sesuai dengan

Zainun guru kelas (pengajar) pelajaran akidah akhlak kelas V A Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kebun Bunga Banjarmasin, serta staf tata usaha yang sudah berkenan memberikan

Mobile banking merupakan bagian dari teknologi e-banking yang merupakan suatu terobosan layanan informasi perbankan via wireless terbaru mesikipun sudah didahului dengan adanya

Bila salah satu berkeberatan membayar biaya administrasi, maka pihak lawan harus melunasi keseluruhan biaya agar persidangan dapat dimulai.Dalam Permohonan arbitrase

Sub tema pelaksana dapat teridentifikasi dari tiga kategori, yaitu kader (P1,P2,P4) yang dipersiapkan dengan memberdayakan mahasiswa PSIK FK UNDIP sebagai

Dilihat dari nilai F statistik yaitu sebesar 15,300 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99%, berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) variabel Inflasi (INF), jumlah Quasy

memilih parpol atau kandidat yang berkuasa di pemerintahan dalam pemilu apabila merasa keadaan ekonomi rumah tangga pemilih tersebut atau ekonomi nasional pada saat itu lebih baik