“DRAMATURGI KEPEMIMPINAN BUPATI SAMPANG”
SKRIPSI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Dalam Ilmu Ushuluddin dan Filsafat
Oleh:
DELYA AFRIDA SARI
NIM: E04211001
PROGRAM STUDI FILSAFAT POLITIK ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
“DRAMATURGI KEPEMIMPINAN BUPATI SAMPANG”
SKRIPSI
Diajukan kepada
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
dalam Mnyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S1) Filsafat Politik Islam
Oleh:
DELYA AFRIDA SARI
NIM: E04211001
PROGRAM STUDI FILSAFAT POLITIK ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
DRAMATURGI KEPEMIMPINAN BUPATI SAMPANG Oleh:
Delya Afrida Sari ABSTRAK
Skripsi ini mengkaji Dramaturgi Kepemimpinan Bupati Sampang. Dalam penelitian ini difokuskan untuk menjawab dua masalah utama, yakni: Bagaimana
Performance kepemimpinan sebagai Bupati Sampang ? Bagaimana performance
natural Bupati Sampang ? Dimaksudkan agar dapat mengungkapkan realita aksi
kepemimpinan Bupati Sampang dalam mewujudkan visi dan misi dengan menggunakan analisis teori dramaturgi dan teori kepemimpinan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Tipe penelitian kualitatif deskriptif mencoba menggambarkan fenomena yang terjadi. Penentuan informan menggunakan teknik Purposive sampling. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah dua puluh satu orang. Adapun teknik pengumpulan data yaitu wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Sedangkan analisis yang digunakan adalah deskripstif-analitik.
Dalam hal ini peneliti menyampaikan hasil yang terdiri dari dua point.
Pertama, Performance Bupati adalah bentuk dari panggung depan (front stage).
Pada panggung depan ini orang-orang terdekat Bupati memproduk performance Bupati agar selayaknya bisa menjadi seorang pemimpin yang diharapkan dimasyarakat. Performance yang dipertunjukkan adalah sebagai pemimpin yang tegas, pemimpin yang demokratis, dekat dengan masyarakat, dan pemimpin yang menonjolkan karakteristik yang agamis. Dimana beliau berusaha agar kelompok memulai kegiatan atau gerakan, seperti dengan mengajukan suatu permasalahan yang kemudian mengajak staf untuk mulai memikirkan dan mencari jalan pemecahan sebelum kemudian terjun ke masyarakat. Kedua, Natural Performance Bupati adalah bentuk dari panggung belakang (back region). Pada panggung belakang ini, dimana Bupati berperan apa adanya. Kepemimpinan Bupati di bawah tekanan dan pengaruh istri dan orang-orang terdekatnya. Pengaruh istrinya dalam urusan menjalankan tugas pemerintahan, KH. Fannan Hasib terkesan tidak tegas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Segala ketentuan dan kebijakan yang tidak lepas dari pengaruh istri untuk konsep panggung depan Bupati Sampang.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN ABSTRAK ... ii
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... v
HALAMAN MOTTO ... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Rumusan Masalah ... 5
1.3.Tujuan Penelitian ... 6
1.4.Manfaat Penelitian ... 6
1.5.Defenisi Oprasional ... 7
1.6.Sistematika Pembahasan ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1.Kerangka Teori ... 10
2.1.1. Biografi dan Karya Erving Goffman (1922-1982) ... 10
2.1.3. Makna di Balik Pesona Panggung Sandiwara ... 16
2.1.4. Teori Kepemimpinan ... 28
2.1.5. Kepemimpinan Transformasional dan Kepemimpinan Transaksional ... 33
2.1.6. Gaya Kepemimpinan ... 36
2.2.Penelitihan Terdahulu... 39
BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Metode Penelitian ... 42
3.1.1. Pendekatan Penelitian ... 42
3.1.2. Jenis penelitian ... 42
3.2.Lokasi Penelitian ... 43
3.3.Sumber Data ... 38
3.3.1. Data Primer ... 43
3.3.2. Data Sekunder ... 45
3.3.3. Penentuan Informan ... 46
3.4.Teknik Pengumpulan Data ... 47
3.5.Teknik Analisis Data ... 50
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN 4.1.Deskripsi Lokasi Penelitian ... 54
4.1.1. Gambaran Umum Sampang ... 54
4.2.1. Performance kepemimpinan Bupati
Sampang ... 59 4.2.2. Natural Performance Bupati Sampang ... 77
BAB V PENUTUP
5.1Kesimpulan... ... 117 5.2Saran ... 119
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Negara Indonesia adalah suatu Negara yang menganut sistem
demokrasi.Sistem demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia adalah sistem
demokrasi pancasila.Sistem demokrasi pancasila berdasarkan pada nilai-nilai
luhur budaya yang ada pada bangsa Indonesia serta tercermin di dalam sistem
pemerintahan tradisional dan berbagai daerah yang ada di Indonesia.Di dalam
sistem pemerintahan tersebut sangat beraneka ragam tergantung corak budaya dan
kebiasaan atau adat istiadat daerah tersebut. Suatu Negara memiliki wilayah
administrative yang dibagi menjadi beberapa tingkat,1 meliputi tingkat Provinsi
(Provinsi Daerah Khusus, Daerah Istimewa), tingkat Kabupaten/Kota (Kabupaten,
Kota Kabupaten Administrasi, Kota Administrasi), tingkat Kecamatan
(Kecamatan, Distrik), dan tingkat Kelurahan/Desa (Kelurahan, Desa), tingkat
Dusun/Dukuh (Dukuh/Desa, Rukun/Jawa, Dusun/Kelurahan).
Kabupaten adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia setelah
provinsi, yang dipimpin oleh seorang bupati. Selain kabupaten, pembagian
wilayah administratif setelah provinsi adalah kota. Secara umum, baik kabupaten
dan kota memiliki wewenang yang sama. Kabupaten bukanlah bawahan dari
provinsi, karena itu bupati atau wali kota tidak bertanggung jawab kepada
2
gubernur. Kabupaten maupun kota merupakan daerah otonom yang diberi
wewenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri.
Dahulu istilah kabupaten dikenal dengan Daerah Tingkat II Kabupaten.
Sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah, istilah Daerah Tingkat II dihapus, sehingga Daerah Tingkat
II Kabupaten disebut Kabupaten saja.2
Pemilihan Bupati atau seringkali disebut dengan Pilkada adalah salah satu
pemilihan Bupati atau Kepala Daerah untuk mencari pemimpin terbaik yang
nantinya mempunyai kekuasaan dan wewenang untuk mengendalikan
pembangunan di suatu wilayah yakni kabupaten. Pilkada ini dilakukan dengan
cara memilih atau mencoblos calon yang ada pada kertas suara. Pilkada ini adalah
salah satu bentuk kegiatan politik yang menarik bagi masyarakat.Bupati adalah
seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi dan mengarahkan
orang lain yang tidak lain adalah masyarakat untuk ikut diajak kerjasama atau
mengajak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam progam desa
tersebut.
Kabupaten Sampang adalah sebuah kabupaten yang ada di sebelah utara
bagian timur dari pulau Jawa tepatnya di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur,
Indonesia.Ibukotanya adalah Sampang.Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
Sampang yang berlangsung pada 12 Desember 2012,3 yang bertepatan dengan
2https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten, Diakses pada tanggal 2 Desember 2015 Pukul 20.03.
3
kelahiran K.H. Fannan Hasib selaku salah satu calon bupati no urut satu. Pilkada
ini diikuti oleh enam pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, yaitu:
Pertama, pasangan K.H. Fannan Hasib dan Fadhilah Budiono yang di usung
oleh patai PKS, partai PBR, dan partai PPNUI. Dalam rekapitulasi yang
berlangsung selama empat jam, pukul 10.00 sampai 14.00, dari 14 kecamatan di
Sampang, pasangan Fannan-Fadhilah menguasai suara di delapan kecamatan,
yakni Kecamatan Kota, Sokobanah, Jrengik, Torjun, Pangarengan, Banyuates,
Tambelangan dan Kecamatan Karang Penang dengan jumlah perolehan sebesar
163.483 atau sebesar 31,44 persen.
Kedua, pasangan K.H Achmad Yahya dan HM Faidol Mubarrak adalah
pasangan Independen. Pasangan ini memperoleh suara urutan ke lima, yaitu
15.936 suara atau sebesar 3,06 persen.
Ketiga, pasangan Noer Tjahja dan Heri Purnomo merupakan pasangan
incumbent yang di usung oleh partai PKB, partai Golkar dan partai PDI. Pasangan
ini tetap di urutan ketiga dengan mendapatkan 88.044 suara atau 16,93 persen,
yang hanya menguasai satu kecamatan Sreseh.
Keempat, pasangan Haryono Abdul Bari dan Hamiduddin Iskhak yang di
usung oleh partai Gerindra, partai PKNU dan partai non parlemen.Pasangan ini
memperoleh suara urutan keempat, yaitu mendapatkan 87.438 suara, yang juga
hanya unggul di Kecamatan Camplong.
Kelima, pasangan K.H. Faisol Muqoddas dan Tryandi Husnul adalah
pasangan Independen. Pasangan ini memperoleh suara urutan terakhir, yaitu
4
Keenam, Hermanto Subaidi dan K.H. Jakfar Sodiq di usung oleh partai PPP,
partai PDP, dan partai Pakar Pangan. Pasangan ini menduduki urutan kedua
memperoleh 160.899 suara atau 30,094 persen yang menguasai empat kecamatan,
yakni Kecamatan Kedungdung, Robatal, Omben dan Kecamatan Ketapang.4
Pasangan bakal calon bupati (bacabup) dan bakal calon wakil bupati
(bacabup) Sampang, pada Pilkada Sampang, periode 2013–2018 mendatang
dimenangkan oleh K.H. Fannan Hasib dan Fadhilah Budiono. Penetapan Al-Falah
(singkatan dari K.H. Fannan-Fadhilah) ini dilakukan KPU Sampang setelah
merekapitulasi hasil perhitungan suara di KPU Kabupaten Sampang, di kantor
Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI), Jl Rajawali, Sampang,
Senin 17 Desember 2012.
Sebelum menjadi bupati Sampang periode 2013 sampai 2018 K.A. Fannan
Hasib, pernah dilantik menjadi Wabup bergandengan dengan Bupati Noer Tjahja,
pada Februari 2008. Pada saat itu K.H. Fannan Hasib yang hampir lima tahun
tidak difungsikan dirinya sebagai wabup oleh Noer Tjahja.5
Ayah tiga anak, alumni Universitas Islam Malang (Unisma) dan Suami dari
Anik Amanillah ini sebenarnya beliau tidak ada niat untuk maju pilkada sebagai
bupati. Namun karena keadaan dan animo masyarakat yang menghendaki dirinya
maju, dengan hati tegar dan yakin, beliau maju menggandeng Fadhilah Budiono
ingin menjadi hodamul ummah atau pelayan rakyat dan pemimpin agamis, yang
mengerti watak masyarakat Madura, khususnya rakyat Sampang.Selain itu,
4 http://surabaya.tribunnews.com/2012/12/17/fannan-fadhilah-ditetapkan-menangi-pilkada-sampang, Diakses pada tanggal 2 Desember 2015 Pukul 21.10.
5
K.H.Fannan ingin memperbaiki tatanan pemerintahan yang dinilai sudah
melenceng dari aturan, karena hanya diukur dengan uang. Sehingga perlu
dibenahi dengan serius agar menjadi lebih baik dan bermafaat bagi Sampang ke
depan dan masyarakatnya. Apabila dalam pemerintahannya dahulu antara K.H.
Fannan Hasib dengan Noer Tjahja kondisinya harmonis, K.H. Fannan Hasib dan
Noer Tjahja tetap berangkat bersama dengan posisi dirinya sebagai wabup.
Pada periode 2013 sampai 2018, K.H. Fannan Hasib berdampingan dengan
Fadhilah Budiono untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sampang.Dalam
Kepemimpinan K.H. Fannan selama 2 tahun ini, terlihat Ibu-Ibu PKK yang lebih
menonjol dan aktif.Terutama peran Anik Aminillah selaku istri Bupati. Dalam
penelitian ini akan dibahas bagaimana kepemimpinan Bupati Sampang pada
periode 2013 sampai 2015, panggung depan kepemimpinan K.H. Fannan maupun
panggung belakang kepemimpinan K.H. Fannan. Penelitian ini berjudul
Dramaturgi Kepemimpinan Bupati Sampang.
1.2. Rumusan Masalah
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Performance kepemimpinan sebagai Bupati Sampang?
6
1.3. Tujuan Penelitian
Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dan memperoleh informasi yang akurat sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan, adapun
tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan performance kepemimpinan sebagai Bupati Sampang.
2. Untuk mendeskripsikan Natural performance dalam menerapkan
kepemimpinan sebagai Bupati Sampang.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Dalam manfaat teoritis, penelitian ini merupakan kegiatan dalam rangka
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam wacana kepemimpinan
politik Bupati Sampang.
2. Secara akademis, penelitian ini diharapakan mampu memperbanyak bacaan
mengenai dan wawasan mengenai kepemimpinan politik Bupati Sampang.
3. Manfaat praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan
informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan di masa datang seperti: partai
politik, mahasiswa, dan pemerintah. Manfaat lain riset ini bagi masyarakat
adalah memberikan landasan berpikir dalam hal pentingnya pemahaman
7
1.5. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya kesalahpahaman dalam memahami judul dalam
karya ilmiah ini dan untuk memperjelas interpretasi/pemberian kesan, pendapat,
atau pandangan teoritis terhadap pokok bahasan proposal yang berjudul
“Pemimpin Boneka (Studi Kasus Kepemimpinan Bupati Sampang)”. Maka akan
dijelaskan istilah-istilah yang terangkai pada judul dan konteks kebahasaannya.
Dramaturgi : Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama teater atau
pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor
memainkan karakter manusiamanusia yang lain sehingga
penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh
tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang
disajikan.Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas
manusia adalah tidak stabil dan setiap identitas tersebut
merupakan bagian kejiwaan psikolog yang mandiri.Identitas
manusia bisa saja berubah-ubah tergantung interaksi dengan
orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita
menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi
social dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia
adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik
personal dan tujuan kepada orang lain melalui pertunjukan
dramanya sendiri.6
8
Kepemimpinan : Kesadaran, bahwa seorang pemimpin harus dapat menguasai
fakta-fakta yaitu pengetahuan yang dibutuhkan agar mampu
menjalankan jabatannya. Kepemimpinan yang dimaksud dan
dibahas dalam penelitian ini adalah kepemimpinan dalam aspek
kemampuan seseorang untuk mengendalikan tingkah laku orang
lain, baik secara langsung dengan jalan memberi perintah,
maupun secara tidak langsung dengan mempergunakan segala
alat dan cara untuk kepentingan bersama.7
Bupati : Dalam konteks otonomi daerah di Indonesia adalah sebutan
untuk kepala daerah tingkat kabupaten. Seorang bupati sejajar
dengan walikota, yakni kepala daerah untuk daerah
kotamadya.Pada dasarnya, bupati memiliki tugas dan wewenang
memimpin penyelenggaraan daerah berdasarkan kebijakan yang
ditetapkan bersma DPRD kabupaten.
Sampang : Kabupaten Sampang adalah sebuah kabupaten yang ada di
sebelah utara bagian timur dari pulau jawa tepatnya di pulau
Madura, provinsi jawa timur, Indonesia.
9
1.6. Sistematika Penulisan
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat sistematika pembahasan yang akan
dibahas dalam penelitian skripsi ini, diantaranya sebagai berikut :
Bab satu merupakan pendahuluan yang berisi dari: Latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian definisi operasional,
telaah pustaka. Secara umum, setiap sub-bab berisi uraian yang bersifat global,
dan juga sebagai pengantar untuk memahami bab-bab berikutnya.
Bab dua merupakan landasan teori dengan judul dramaturgi kepemimpinan
Bupati sampang. Kerangka teori ini terdiri dari: teori Dramaturgi dan teori
Kepemimpinan.
Bab tiga berisi metodologi penelitian sebagai acuan kegiatan
penelitian.Bagian ini disajikan tentang pendekatan dan jenis penelitian, lokasi
penelitian, dan teknik pengumpulan data.Teknik analisa data, dan teknik keabsaan
data.
Bab selanjutnya yaitu bab empat merupakan penyajian dan analisis data
dalam hasil penelitian dan pembahasan tentang dramaturgi kepemimpinan Bupati
Sampang.
Kemudian yang terakhir pada bab lima berisi kesimpulan dan saran sebagai
jawaban atas pertanyaan pada bab pertama yang dianalisis pada bab kedua dan
ketiga ataupun judul yang tertera dalam skripsi penulis yaitu dramaturgi
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kerangka Teori
2.1.1. Biografi dan Karya Erving Goffman (1922-1982)
Goffman lahir di Alberta, Canada, 11 Jumi 1922. Ia menerima gelar
doktornya di Universitas Chicago, ia sering kali di anggap sebagai anggota
aliran Chicago dan sebagai teoritisi interaksiorisme simbolik. Namun,
ketika ia ditanya belum begitu lama sebelum meninggal, apakah ia seorang
interaksionisme simbolik? Goffman menjawab bahwa nama itu terlalu
samar untuk memungkinkannya menempatkan diri dalam kategori itu.
Kenyataannya, sulit memasukkan karyanya kedalam kategori tunggal
manapun. Dalam menciptakan prespektif teoretisnya, Goffman
menggunakan berbagai sumber dan menciptkan orientasi khusus.
Ketika belajar S1 di Universitas Toronto, Goffman telah belajar
dengan seorang antropolog dan ketika di Chicago, kontak utamanya bukan
dengan ahli interaksionalisme simbolik, melainkan dengan W. L. Wamer,
seorang antropolog. Atas pertemuannya dengan antropolog, membawa
perkembangan intelektualnya bernuansa antropologi sosial. Pada saat itu,
Goffman sangat jarang mengutip interaksionisme simbolik dan kalaupun
dia menyinggungnya, hanya untuk mengkritik pemikiran tersebut. Dalam
perjalanan intelektual selanjutnya, Goffman dipengaruhi oleh studi
11
dengan hasil studi antrpologi sosial untuk menciptakan prospektifnya
sendiri.
Meski ia memiliki prespektif khusus atas kolaborasi psikologi sosial
dengan interaksionisme simbolik, Goffman tetap berpengaruh besar
terhadap interaksionisme simbolik. Menjelang tahun 1980-an, ia tampil
sebagai seorang ahli yang sangat penting. Bahkan Goffman dapat
dikatakan sebagai tokoh yang berperan dalam membentuk etnometodologi,
kajian khusus dalam sosiologi tentang kehidupan sehari-hari. Collins
melihat Goffman sebagai tokoh kunci dalam pembentukan etnometodologi
dan metode analisis percakapan. Hingga saat ini teori Goffman tentang
panggung drama sangat relefan digunakan dalam dimensi kehidupan sosial
politik kontemporer.1
Goffman wafat pada 1982 tatkala ia berada dipuncak
kepopulerannya. Ia dikenal sebagai tokoh dlam teori interaksionisme
simbolik modern. Status ini telah dicapai walaupun ia lama menjadi
profesor dijurusan sosiologi bergengsi di Universitas California, berkeley
dan kemudian menjadi ketua di Liga Ify, Universitas Pennsylvania di
tahun kematiannya, Goffman sempat terpilih sebagai Presiden The
American Sociological Association, tetapi dikala itu ia tidak
memungkinkan untuk tampil menyampaikan pidato pengangkatannya
karena sedang sakit, Randall Collins dalam pidatonya membenarkan
keadaan Goffman tersebut.
12
2.1.2. Teori Dramaturgi Erving Goffman
Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama teater atau
pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan
karakter manusiamanusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh
gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita
dari drama yang disajikan.
Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian
social psikologis dan sosiologi melalui bukunya, The Presentation of Self
In Everyday Life. Buku tersebut menerangkan bahwa segala macam
perilaku interaksi yang dilakukan manusia dalam sebuah pertunjukan
kehidupan sehari-hari seolah-olah adalah menampilkan diri mereka
sendiri, hal tersebut sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter
orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti
mengacu kepada kesamaan dalam segala hal baik itu sifat, perilaku,
penampilan, dll, yang berarti dalam hal ini membuktikan bahwa ada
pertunjukan yang ditampilkan. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat
untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari
presentasi Erving Goffman ini adalah penerimaan penonton akan
manipulasi. Dramaturgi mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam
mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya
13
Erving Goffman dalam bukunya yang berjudul The Presentational of
Self in Everyday Life memperkenalkan konsep dramaturgi yang bersifat
penampilan teateris. Sebenarnya sebelum menguraikan teori dramaturgi,
perlu kita uraikan terlebih dahulu sekilas tentang inti dari teori interaksi
simbolik, karena teori interaksi simbolik banyak mengilhami teori
dramaturgi Erving Goffman. Peletak dasar teori interaksi simbolik adalah
George Herbert Mead pada tahun 1920-1930 yang kemudian
dikembangkan lebih lanjut oleh Herbert Blumer tahun 1937.2 Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas
manusia, yaitu komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna,
karena pada dasarnya interaksi manusia itu menggunakan simbol-simbol,
caramereka menggunakan simbol tersebut merepresentasikan apa yang
mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya.3
Salah satu kontribusi interaksionisme simbolik adalah penjabaran
berbagai macam pengaruh yang ditimbulkan penafsiran orang lain
terhadap identitas atau citra diri individu yang merupakan objek
interpretasi. Jadi seperti halnya pemikiran kaum interaksionis pada
umumnya. Inti pemikiran Goffman adalah “diri” (self), yang dijelaskan
bahwa sebenarnya diri kita dihadapkan pada tuntutan untuk tidak
ragu-ragu dalam melakukan apa yang diharapkan diri kita untuk memelihara
2Basrowi Sudikin, Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro, (Surabaya: Insan Cendekia, 2002), hal 103.
14
citra diri yang stabil, orang selalu melakukan pertunjukan (performance)
dihadapan khalayak.4 Sebagai hasil dari minatnya pada “pertujukan” itu, Goffman memusatkan perhatian pada dramaturgi sebagai serangkaian
pertunjukan drama yang mirip dengan pertunjukan drama di panggung.
Fokus pendekatan dramaturgi adalah bukan pada apa yang orang lakukan,
bukan pada apa yang ingin mereka lakukan atau pada menggapa mereka
melakukan, akan tetapi pada bagaimana mereka melakukannya. Burke
melihat bahwa tindakan merupakan sebuah konsep dasar dalam
dramaturgi.
Dalam hal ini Burke memberikan pengertian yang berbeda antara
aksi dan gerakan. Aksi terdiri dari tingkah laku yang disengaja dan
mempunyai maksud, sedangkan gerakan adalah perilaku yang
mengandung makna dan tidak bertujuan.5 Dramaturgi juga menekankan dimensi ekspresif atau impresif aktivitas manusia, yaitu bahwa makna
kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam
interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku
manusia bersifat ekspresif inilah maka perilaku manusia bersifat dramatik.
Pendekatan dramaturgi berintikan bahwa ketika manusia berinteraksi
dengan sesamanya, ia ingin mengelola pesan yang ia harapkan tumbuh dan
dimengerti orang lain.
4Deddy Mulyana, Metode Penelitian Kualitatif Paradigm Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Social Lainnya, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hal 106.
15
Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak
stabil dan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi
yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung
interaksi dengan orang lain. Aktor membawakan naskah dalam bahasa/
simbol-simbol dan perilaku Untuk menghasilkan arti-arti dan tindakan
tindakan sosial dalam konteks sosio-kultural Pemirsa yang
menginterpretasikan naskah tersebut dengan pengetahuan mereka tentang
aturan aturan budaya atau symbol-simbol signifikan.
Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi
tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan
pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk
menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain
melalui pertunjukan dramanya sendiri.
Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan
oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang
kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat
tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Dramaturgis
dianggap masuk ke dalam perspektif obyektif karena teori ini cenderung
melihat manusia sebagai makhluk pasif (berserah). Meskipun, pada awal
ingin memasuki peran tertentu manusia memiliki kemampuan untuk
menjadi subyektif (kemampuan untuk memilih) namun pada saat
menjalankan peran tersebut manusia berlaku objektif, berlaku natural,
16
yang dikendalikan karena ia takut kalau ia keluar dari dunia tersebut
konsekuensinya akan lebih parah, atau ia tetap menggantungkan diri di
dunia tersebut dan mengkhawatirkan kehidupan dirinya bila ia keluar.
Maka setelah itu ia akan menjalani perannya sebagai korban. Secara
naluriah ia akan menutup jati dirinya, atau ia berusaha menutupi
telinganya untuk melindungi mental dan psikologisnya terhadap cemohan
orang disekeliling yang mengetahui hal tersebut. Itulah mengapa
dramaturgi disebut memiliki muatan objektif. Karena pelakunya,
menjalankan perannya secara natural, alamiah mengetahui
langkah-langkah yang harus dijalani.Seperti telah dijabarkan diatas.
Dramaturgis merupakan teori yang mempelajari proses dari perilaku
dan bukan hasil dari perilaku. Obyektifitas yang digunakan disini adalah
karena institusi tempat dramaturgi berperan adalah memang institusi yang
terukur dan membutuhkan peran-peran yang sesuai dengan semangat
institusi tersebut.
2.1.3. Makna di Balik Pesona Panggung Sandiwara
Goffman adalah penafsir briliyan teori interaksi simbolik Meat.
Sebagaimana halnya Meat, Goffman sengat menekankan makna sosial dari
konsep diri karena individu mengambil peran orang lain dan bergantung
pada orang lain untuk melengkapkan citra diri tersebut. Namun, kontras
dengan konsep diri Meat yang stabil dan berkesinambungan selama proses
17
Goffman bersifat situasional dalam episode-episode pendek berdasarkan
tuntutan peran sosial. Selain Meat, Goffman juga memiliki kesamaan
dengan Hommans, yakni pada tingkat analisis sosiologi mikro. Keduanya
menjadikan individu sebagai sentral analisis, bukan sebagai struktur yang
lebih makro.
Jika Hommans menggunakan model ekonomi dan psikologi prilaku,
maka lain halnya dengan Goffman. Ia menjelaskan tindakan manusia
dengan menggunakan model atau analogi drama dan teater. Karena itu,
teori Goffman juga dikenal dengan teori Dramaturgi. Karyanya yang
sangat populer mengenai hal ini tertuang dalam bukunya yang berjudul
The Presentation Of Sekf in Everyday Life (1959). Buku ini menguraikan bagaimana individu tampil dalam dunia sosial. Tentu saja dalam
kehidupan sosial senantiasa melibatkan serangkaian tindakan-tindakan
individu. Seluruh tindakan individu (Participant) dalam situasi sosial itu disebut sebagai suatu penampilan (Performance). Secara ringkas Dramaturgi merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai
serangkaian pertunjukan drama dalam sebuah pentas. Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunnjukan fiksi di atas
panggung, dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia
yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari
tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan.
Penampilan individu dalam situasi tindakan yang demikian itu,
18
sosial sebagai representasi yang tunduk pada aturan yang telah baku. Para
aktor adalah yang melakukan tindakan-tindakan rutin (routine). Untuk memahami makna secara utuh dari tindakan para aktor, maka nteori
Dramaturgi relevan sebagai kisah analisisnya. Menurut Goffman
sebagaimana yang telah dikutip oleh Poloma,6 terdapat penampilan yang perlu dibedakan, yakni panggung depan (front region) dan panggung belakang (Back Stage). Di sini panggung depan dimaknai sebagai bagian penampilan individu yang secara teratur berfungsi di dalam mode umum
sebagaimana tuntutan peran dan mendefinisikan situasi bagi mereka yang
menyaksikan penampilan itu.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam panggung depan, yakni
settung dan personal fornt yang berupa penampilan dan gaya. Sementara identifikasi makna dari panggung belakang tergantung penonton atau
audience yang bersangkutan. Wilayah depan adalah tempat atau peristiwa sosial yang memungkinkan individu atau suatu tim menampilkan peran
formal atau bergaya, layaknya memainkan satu peran diatas panggung
sandiwara. Sebaliknya, wilayah belakang adalah tempat atau peristiwa
yang memungkinkan mereka mempersiapkan peran di wilayah depan.
Wilayah depan ibarat panggung depan (Front Stage) yang ditonton khalayak, sedangkan wilayah belakang ibarat panggung belakang (Back
19
Stage) atau kamar rias pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkannya di panggung depan.7
Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat
aktor berada di atas panggung (Front Stage). Dan dibelakang panggung (Back Stage) drama kehidupan.kondisi akting di Front Stage adalah adanya penonton yang melihat kita dan kitapun juga berada dalam bagian
pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita
sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari prilaku kita. Prilaku kita
dibatasi noleh konsep-konsep drama sebagai impression management yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil. Sedangkan Back Stage adalah keadaan kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa
tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berprilaku bebas tanpa
memperdulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan.
Pada masing-masing panggung, prilaku orang boleh jadi
berbeda-beda, bahkan terkadang berlawanan. Mungkin saja seseorang yang
kesehariannya di rumah sangat kejam, arogan, dan berprilaku kasar
terhadap keluarganya atau bahkan pada tetangganya, tetapi di luar ia
menampilkan sosok figur yang sangat baik. Ketika berada di panggung
depan ( Front Stage) dalam dramaturgi Goffman, seseorang berusaha menunjukkan performance sebaik mungkin untuk memenuhi kepuasan audiance karena dianggap sebagai suatau tuntutan peran sosial. Mulai dari cara berpakaian, tutur kata, gerak gerik mimik, tubuh, dan lain sebagainya
20
semuany untuk memenuhi selera audiance, bukan untuk dirinya. Karena itu, lanjut Goffman prilaku ini bukan asli, tetapi prilaku yang di buat-buat
dengan sejuta polesan. Lain halnya ketika berada di panggung belakang,
tindakan seseorang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
Prilaku seseorang disini mencerminkan keasliannya, karena tidak di
buat-buat.
Prespektif dramaturgi goffman yang menantang adalah tesisnya
tentang panggung depan, yaitu wilayah ekspresi sosial yang selalu melekat
pada diri aktor dimanapun ia berada, misalnya jenis kelamin, umur, status
sosial, gaya bicara, dan gerak tubuh.8 Dalam penampilan itu aktr cenderung membimbing dirinya dengan wilayah resmi yang ada pada
masyarakat dan melangkahkah dengan menghadirkan versi yang telah di
idealisasikan terhadap dirinya sendiri. Dalam menyajikan gambaran ideal
tentang dirinya, aktor harus menyembunyikan berbagai hal di panggung
depan yang mungkin dimilikinya, berupa kesenangan rahasia yang
menjadi kebiaaaan, kekeliruan pada masalalu, serta kemungkinan kerja
kotor yang dilakukan dalam proses menampilkan pentas.
Dalam konteks ini, Goffman mendalami dramaturgi dari segi
sosiologi. Ia menggali segala macam prilaku interaksi yang kita lakukan
dalam pertunjukkan kehidupan kita sehari-hari, yang menampilkan diri
kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan
karakter orang lain layaknya sebuah pertunjukkan drama. Cara yang sama
21
ini berarti mengacu kepada kesamaaan yang beraarti ada pertunjukkan
yang ditampilkan. Goffman mengacu pada pertunjukkan sosiologi.
Pertunjukkan yang terjadi pada masyarakat untuk memberi kesan yang
baik untuk mencapai tujuan dari presentasi diri (self presentation). Self bagi Goffman adalah penerimaan penonton akan manipulsi. Bila seorang
aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang
memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersbut. Aktor akan semakin mudah
untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukkan
tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari bentuk komunikasi.
Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk nmencapai tujuan.
Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang
bagaimana memaksimaalkan indra verbal dan non-verbal untuk mencapai
tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka
dalam dramaturgi yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh
bagaiman kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedbeack sesuai yang kita inginkan. Perlu diingat, dramaturgi mempelajari konteks
dari prilaku manusia dalam mencapi tujuannya dan bukan untuk
mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa
dalam interaksi antar manusia ada kesepakatan prilaku yang disetujui yang
dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial
tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu
22
Dalam teori dramaturgi juga dijelaskan bahwa identitas manusia
adalah tidak stabil, dan setiap identitas tersebut merupakan bagian
kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah
tergantung dari interaksi dengan orang lain di sinilah dramaturgi masuk,
bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam prespektif dramaturgi,
interaksi sosial dimaknai sama halnya dengan pertunjukkan teater.
Manusia adalah aktor yang berusaha menggabungkan karakteristik
personal dan tujuan kepada orang lain melalui pertunjukkan dramanya
sendiri. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgi,
manusia akan mengembangkan berbagai prilakunya yang mendukung
perannya itu, tidak lain sebuah pertunjukkan drama, seorang aktor drama
kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukkan untuk
melancarkan jalannya pertunjukkan. Bagi Goffman, tindakan yang
demikian itu disebut dengan inpresition management.
Perhatian Goffman selanjutnya adalah interaksi face to face (yaitu interaksi yang langsung berhadap-hadapan), dan merangkum banyak dari
idenya dalam sebuah pembahasan tentang apa yang disebut tatanan
interaksi. Ini adalah lingkup hubungan face to face yang mendasari kehidupan sosial sehari-hari. Pada bagian dunia kehidupan inilah
bahwasanya diri dibangun dan ditampilkan pada orang lain. Karakter face to face nya menunjukkan bahwa performance yang terwujud mungkin membuat orang-orang rentan dalam beragram cara. Kegagalan daan
23
dimata orang lain dan Goffman menyoroti pentingnya emosi-emosi dari
rasa malu dalam interaksi sosial. Melanggar kebiasaan yang meliputi
interaksi berarti menempuh resiko akan disalahkan dan dinilai buruk.
Antisipasi terhadap penolakan sosial ini memunculkan respon psikologis
yang spesifik, baik internal maupum eksternal, yang memperlihatkan
kecemasan terhadap orang lain yang reaksinya dikhawatirkan buruk.9 Pandangan tentang pembentukan emosi secara sosial melalui
interaksi ini sangat berpengaruh diantara mereka yang mempelajari
sosiologi tubuh (body). Ini telah diperluas dalam konteks interaksional yang spesifik,10 11 yang telah mendokumentasikan kerja emosi yang terlibat dalam memberikan performen peran yang menyakinkan.
a. “Diri” menurut Goffman: Pesentasi diri
Dalam bukunya The presentation of self in everyday life Goffman
menerangkan bahwa fokus dramaturgi bukan konsep diri yang dibawa
oleh aktor dari situasi ke situasi lainnya atau keseluruhan jumlah
pengalaman individu, melainkan diri yang tersituasikan secara sosial
yang berkembang dan mengatur interaksi-interaksi spesifik. Menurut
9 Thomas j Scheff, Microsociology: Discourse, Emotion an Social Structure (Universuty of Chicago Press: Chicago, 1990), Hal 91.
10 Arlie Russell Hochschild, Emotion Work, Feeling Rules and Social Structure, (American Journal of Sociology, 1979), Hal 84.
24
Goffman, diri adalah suatu hasil kerjasama yang harus diproduksi
sehingga menjadi baru dalam setiap peristiwa interaksi sosial.12
Presentasi diri seperti yang ditunjukkan Goffman ini bertujuan
untuk memproduksi definisi situasi dan identitas sosial bagi para aktor,
dan definisi situasi tersebut mempengaruhi ragam interaksi yang layak
dan tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang ada. Goffman
mengasumsikan bahwa ketika orangorang berinteraksi, mereka ingin
menyajikan suatu gambaran diri yang akanditerima orang lain. Ia
menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan” yaitu teknik-teknik
yang digunakan para aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam
situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Panggung depan dan Panggung Belakang
Dalam perspektif dramaturgi, kehidupan ini ibarat teater, interaksi
social yang mirip dengan pertunjukan diatas panggung, yang
menampilkan peran-peran yang dimainkan para aktor. Untuk
memainkan peran tersebut biasa para aktor menggunakan bahasa verbal
dan menggunakan perilaku non verbal tertentu serta menggunakan
atribut-atribut tertentu, misalnya kendaraan, pakaian, dan aksesoris
lainnya yang sesuai dengan perannya dalam situasi tertentu. Seorang
aktor harus memusatkan pikiran agar tidak keseleo-lidah, menjaga
kendali diri, melakukangerak gerik, menjaga nada suara dan
mengekspresikan wajah yang sesuai dengan situasi.
25
Menurut Goffman kehidupan social itu dapat dibagi menjadi
wilayah depan (Front region) dan wilayah belakang (back region).
Wilayah depan merujuk pada peristiwa sosial yang menunjukkan
bahwa individu bergaya atau menampilkan peran formalnya. Mereka
sedang memainkan perannya diatas panggung sandiwara di hadapan
khalayak umum. Sebaliknya wilayah belakang merujuk kepada tempat
atau peristiwa yang memungkinkan mempersiapkan perannya di
wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung sandiwara bagian depan
yang ditonton khalayak penonton, sedangkan wilayah belakang ibarat
panggung sandiwara bagian belakang tempat rias, tempat santai,
mempersiapkan diri dan berlatih memainkan perannya di panggung
depan.
Goffman membagi panggung depan menjadi 2 bagian yaitu
Front pribadi (personal Front) dan setting. Front pribadi terdiri dari
alat-alat yang dianggap khalayak sebagai perlengkapan yang dibawa
aktor ke dalam setting misalnya seorang kepala desa diharapkan
memakai pakaian selayaknya pemimpin berdasi, berkopyah, memakai
jas, dll. Personal Front mencakup bahasa verbal dan bahasa tubuh
sang aktor. Misalnya berpakaian sopan, mengucapkan istilah-istilah
asing, intonasi, postur tubuh, ekspresi wajah, pakaian, penampakan
usia, dll. Sementara itu setting adalah situasi fisik yang harus ada
26
memerlukan ruang operasi, seorang sopir memerlukan kendaraan,
seorang kepala desa memerlukan kantor desa, dll.
Goffman berpendapat bahwa pada umumnya orang-orang
berusaha menyajikan diri mereka yang diidealisasikan dalam sebuah
pertunjukan mereka dipanggung depan, karena mereka selalu merasa
harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam pertunjukannya. Hal
tersebut disebabkan oleh:13 Pertama, aktor mungkin ingin menyembunyikan kesenangan-kesenangan tersembunyi. Kedua, aktor
mungkin ingin menyembunyikan kesalahan yang dibuat saat persiapan
pertunjukan, dan melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki
kesalahan tersebut. Ketiga, aktor mungkin merasa hanya perlu
menunjukkan produk akhir dan menyembunyikan proses produksinya.
Keempat, aktor mungkin perlu menyembunyikan “kerja kotor” yang
dilakukan untuk membuat produk akhir dari khalayak. Kelima, dalam
menampilkan pertunjukan tertentu aktor mungkin harus mengabaikan
standart lain (misalnya menyembunyikan hinaan, pelecehan, atau
perundingan yang dibuat sehingga pertunjukan dapat berlangsung).14 Aspek lain dari dramaturgi di panggung depan adalah bahwa
aktor sering berusaha menyampaikan kesan bahwa mereka punya
hubungan khusus atau jaraksosial lebih dekat dengan khalayak
daripada jarak sosial yang sebenarnya. Goffman mengakui bahwa
13 Ibid, Hal 116.
27
orang tidak selamanya ingin menunukkan peran formalnya dalam
panggung depan karena kadangkala orang juga memainkan perasaan,
meskipun ia merasa enggan akan peran tersebut, atau menunjukkan
keengganan untuk memainkan peran tersebut. Akan tetapi menurut
Goffman ketika orang melakukan hal tersebut mereka tidak
bermaksud membebaskan diri dari peran social atau identitas formal
tersebut, akan tetapi karena ada perasaan sosial dan identitas lain yang
menguntungkan mereka.
c. Penggunaan tim dalam Dramaturgi
Fokus perhatian Goffman sebenarnya bukan hanya individu,
tetapi jugakelompok atau apa yang disebut tim. Selain membawakan
peran dan karaktersecara individu, aktor-aktor sosial juga berusaha
mengelola kesan orang lainterhadap kelompoknya, baik itu keluarga,
tempat kerja, patai politik, atauorganisasi lain yang mewakili. Semua
anggota itu oleh Goffman disebut “timpertunjukan” (performance team)
yang mendramatiasikan suatu aktivitas. Kerjasama tim sering dilakukan
para anggota untuk menciptakan dan menjagapenampilan dalam
wilayah depan. Mereka harus mempersiapkan perlengkapanpertunjukan
dengan matang dan jalannya pertunjukan, memilih pemain inti
yanglayak, melakukan pertunjukan secermat dan seefesien mungkin,
dan kalau perlu juga memilih khalayak yang sesuai. Setiap anggota
28
nonverbal, seperti isyarat dengan tangan atauisyarat mata agar
pertujukan berjalan mulus.
Goffman menekankan bahwa pertunjukan yang dibawakan suatu
timsangat bergantung pada kesetiaan setiap anggotanya. Setiap anggota
tim memegang rahasia tersembunyi bagi khalayak yang memungkinkan
kewibawaan tim tetap terjaga. Dalam kerangka yang lebih luas,
sebenarnya khalayak juga dapat dianggap sebagai bagian dari tim
pertunjukan. Artinya agar pertunjukan sukses, khalayak juga harus
berpartisispasi untuk menjaga agar pertunjukan berjalan dengan lancar.
2.1.4. Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan atau Leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu -
ilmu sosial, sebab prinsip prinsip dan rumusan-rumusannya bermamfaat
dalam meningkatkan kesejahtraan manusia. Sebagai langkah awal untuk
mempelajari dan memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan aspek
aspek kepemimpinan dan permasalahannya, perlu di pahami terlebih
dahulu makna atau pengertian dari kepemimpinan melalui berbagai macam
perspektif.
Ayub Ranoh15 menerangkan bahwa “Kepemimpinan adalah kemampuan mempengarui orang lain, sehingga orang lain itu bersikap dan
berlaku sesuai tujuan pemimpin.“
29
Maria Assumpta16 menyatakan kepemimpinan adalah suatu konsep manajemen dalam kehidupan organisasi, mempunyai kedudukan strategis
dan merupakan gejala social yang selalu diperlukan dalam kehidupan
social atau kelompok.
Hessel nogi17 menyatakan kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan defenisi-defenisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang
lain untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.
Pemimpin18 adalah individu manusianya, sementara kepemimpinan adalah sifat yang melekat kepadanya sebagai pemimpin. Kepemimpinan
menurut J.M Burn terdiri dari kekuasaan dan tujuan. Kekuasaan menurut
J.M Burn adalahhubungan antara manusia. Sama halnya menurut Max
Weber (dengan menggunakan pendekatan matematika):
“Adalah probabilitas bahwa salah satu aktor dalam hubungan sosial
akan berada dalam posisi untuk melaksanakan kehendak sendiri meski
daya tahan, terlepas dari dimana sisa probalititas .”
Dasar tentang kekuaasaan ini tak terlepas dari cara untuk memahami
kepemimpinan itu sendiri. Ini juga merupakan kunci untuk memahami
tujuan. Hal itu dikarenakan konsep dasar tentang kekuasaan merupakan
16 Rumanti Maria Assumpta, Dasar-Dasar Public Relation, (Grasindo, Jakarta:2002),Hal 245.
30
pijakan dari tujuan. Sedangkan dasar dari kekuasaa adalah motiv dan
sumber. Konsep psikologis darikekuasaan juga membantu untuk memilah
beberapa kerumitan dan memberikan sebuah dasar untuk dapat memahami
hubungan kekuasaan dengan kepemimpinan. Pendekatan ini membawa
asumsi bahwa kekuasaan adalah awal dari semua hubungan kepemimpinan
dan bukan hanya suatu entintas yang disahkan oleh sekitar seperti tongkat
atau granat tangan, yang melibatkan niat atau tujuan antara kedua belah
pihak yaitu pemegang kekuasaan dan penerima kekuasaan. Itu merupakan
tindakan kolektiv dan bukan hanya tindakan satu orang saja.
Dalam asumsi tergambarkan bagaimana proses kekuasaan yang ada
dalam satu pemegang kekuasaan yang memiliki motif dan tujuan tertentu,
juga memiliki kapasitas untuk mengamankan perubahan perubahan
perilaku pengikut mulai dari manusia, binatang dan lingkungan sekitar
dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada termasuk faktor
keterampilan, diharapkan tepat sasaran dan pemegang kekuasaan dapat
menjamin segala kebutuhan untuk menjaga perubahan tersebut. Pandangan
ini berhubungan dengan tiga elemen dalam proses yaitu motif dan
sumberdaya pemegang kekuasaan; motif dan sumber daya penerima
kekuasaan; dan hubungan dari keduanya.
Menurut Gary Yulk (1998) pemahaman tentang kepemimpinan
dapatdiklasifikasi melalui :
1. Pendekatan berdasarkan ciri. Pendekatan lahir pada tahun
31
Dimana bahwasannya beberapa orang pemimpin memiliki
beberapaciri yang yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Kepemimpinan kharismatik dan kepemimpinan transformasional
masuk kedalam kategori pendekatan ini.
2. Pendekatan berdasakan perilaku. Pendekatan ini merupakan
reaksiatas kegagalan pendekatan pertama. Pendekatan ini menekan
pada perilaku-perilaku manusia, karena itu pendekatan ini lebih
diwarnai oleh psikologi manusia.
3. Pendekatan kekuasaan-pengaruh. Pendekatan ini didasarkan pada
proses pengaruh dan kekuasaan antara pemimpin dan yang
dipimpinnya. Teori tentang kepemimpinan otoriter, kepemimpinan
demokrasi dan kepemimpinan libeal masuk kedalam kategori
pendekatan ini.
4. Pendekatan situasional. Pedekatan ini menekankan pada pentingnya
faktor-faktor konseptual seperti sifat pekerjaan yang dilaksanakan
oleh pemimpin, sifat lingkungan eksternal dan karakteristik
pengikut. Teori kontijensi dan teori univesal dimasukan kedalam
pendekatan ini.
Perkembangan kepemipinan pun menjajaki era pertama yaitu pada
tahun1930an dengan lahirnya teori sifat (Trait Theory). Teori sifat muncul
dengan asumsi dasar bahwa seorang bisa menjadi pemimpin dikarenakan
oleh sifat-sifat alamiah yang melekat pada diri orang tersebut.Lahirnya
32
Yunani kuno. Dengan berpijak pada teori The Great Man, dimana seorang
pemimpin yang besar mempunyai empat sifatutama menurut Koontz
(1980) yaitu kecerdasan, kedewasaan dan keleluasaan hubugan sosial,
motovasi diri dan dorongan berprestasi, serta terakhir adalah sikap-sikap
hubungan manusiawi.19 Contoh dalam sejarah adalah Napoleon Bonaparte. Meskipun ia memiliki tinggi badan yang tidak seperti kebanyakan orang
Perancis, namun mempunyai wilayah jajahan yang sangat luas.
Kemudian memasuki era kedua perkembangan teori kepemimpinan
pada pertengahan tahun 1950an, yang ditandai dengan kemunculan teori
perilaku (Behavior Theory). Teori perilaku muncul akibat dari kelemahan
teori sifat yang dianggap tidak relevan dengan kenyataan bahwa pemimpin
bukan hanya ada karenakan dilahirkan, tetapi juga juga karena
pembentukan dan pengarahan. Banyaknya perilaku pemimpin yang
ditunjukan, membuat teori ini memiliki banyak varian yaitu :
1. Teori X dan Y dari Douglas McGregor
2. Studi Michiganoleh Ahli Psikologi Sosial Rensis Likert
3. Teori Contium dari Tannenbaum dan Schmidt
4. Studi Ohio State
5. Teori Kisi-kisi Manajerial dari Blake & Mounton
Perkembangan tentang teori kepemimpinan memunculkan teori
situasional (Contigensy Theory) dengan model yang terkenal adalah
Fiedler Contigensy Model. Fiedler berpendapat bahwa kepemimpinan
33
yang berhasil tergantung dari penerapan gaya kepemimpinan dengan
terhadap tuntutan situasi. Oleh karena itu Fiedler menggunakan tiga
variable yaitu :
1. Task Structure: Keadan tugas yang akan dihadapi apakah tugas
tersebuttersusun sistematis atau random.
2. Leader-Member Relationship: Hubungan antara pimpinan dan
bawahanapakah kuat (saling percaya, saling menghargai) atau lemah.
3. Position Power: Ukuran kekuasan seorang pemimpin yang dapat
dilihatdari kekuasaan:
a. Legitimate Power
b. Reward Power
c. Coercive Power
d. Expert Power
e. Referent Power
f. Information Power
2.1.5. Kepemimpinan Transformasional dan Kepemimpinan Transaksional 1. Kepemimpinan Transformasional
Saat ini perkembangan kepemimpinan telah sampai pada
kepemimpinan kontemporer. Kepemimpinan kontemporer terdiri dari
dua tipe kepemimpinan yaitu kepimpinan tranformasional dan
kepemimpinan transaksional. Namun menurut Pablo Cardonna, seorang
34
University of Navarra, Spain, menambahkannya menjadi tiga yaitu
kepemimpinan transcendental.20 Istilah kepemimpinan transformasional sendiri diperkenalkan oleh J.M Burn tahun 1978. Kepemimpinan
transformasional dan transaksional muncul karena teori sifat, perilaku
dan situasi dianggap sudah tidak relevan lagi.
Kepemimpinan transformasional ini kemudian dikembangkan
oleh Burn dalam lingkup politik sebelum akhirnya masuk ke dalam
lingkup organisasi. Kepemimpinan transformasional menurut Burn
adalah sebagai sebuah proses dimanapara pemimpin dan pengikut
saling meningkatkan motivasi dan moralitas yang lebih tinggi.
Sementara menurut B.M Bass, kepemimpinan tranformasional adalah
kepemimpinan yang dimana pendekatan untuk mempengaruhinya tidak
hanya melalui pendekatan rasional tetapi juga menggunakan
pendekatan emosional. Kepemimpinan ini diharapkan dapat membawa
hasil kinerja melebihi dari apa yang diharapkan.
2. Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transformasional ini pun bertentangan dengan
kepemimpinan transaksional. Kepemimpinan transaksional adalah suatu
proses dimana pemimpindan bawahan mendapatkan timbal balik atau
reward sebagai upah atas jasa atautindakan-tindakan mereka. Menurut
Cardona, kepemimpinan transaksional :
35
“Adalah kepemimpinan yang didefinisikan ekonomi yang didasari
hubunganpertukaran. Dalam hubungan itu pemimpin mempromosikan
keseragaman dan menyediakan pilihan (positive dan negative) ke
kolaborator”21
Kepemimpinan transaksional yang mempertukarkan contingent
reward antara atasan dan bawahan menimbulkan intervensi yang
dilakukan pemimpin dalam proses organisasional dengan
mengendalikan dan memperbaiki kesalahan yang melibatkan interaksi
antara pemimpin dan bawahan yang bersifat proaktif atau yang disebut
kepemimpinan transaksional aktif. Sedangkan prose kepemimpinan
transaksional yang pasif adalah dimana pemimpin baru akan melakukan
tindakan perbaikan bilaproses organisasional yang tidak mencapai
standar yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Kepemimpinan transaksional pun mempunyai dampak positif dan
negative. Dampak positif dari kepemimpinan transaksional terletak
pada efisiensi dalam pelaksanaan kerja, karena kejelasan tugas
masing-masing.Selain itu juga tercapainya tujuan jangka pendek. Dan yang
terakhir adalah kemudahan dalam pengawasan dan pengelolaan
bawahan. Sementara dampak negatifnya adalah kepemimpinan
transaksional selalu berorientasi dengan kekuasaan yang hierarkis, tidak
adanya pemberdayaan pegawai dan pembagian kewenangan dalam
36
pengambilan keputusan. Kepemimpinan transaksional ini biasanya
berpola komunikasi top-down.
2.1.6. Gaya Kepemimpinan
Menurut Tjiptono22 gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahannya. Sementara
itu, pendapat lain menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola
tingkah laku (kata-kata dan tindakan-tindakan) dari seorang pemimpin
yang dirasakan oleh orang lain.23
Gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan
dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan
perilaku para anggota organisasi bawahannya.24 Adapun jenis-jenis dapun gaya kepemimpinan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Gaya kepemimpinan otoriter
Gaya kepemimpinan ini menghimpun sejumlah perilaku atau
gaya kepemimpinan yang bersifat terpusat pada pemimpin sebagai
satu-satunya penentu, penguasa dan pengendali anggota
organisasidan kegiatannya dalam usaha mencapai tujuan organisasi.
22 Darmadji, Tjiptono dan Hendi M. Fakhrudin, Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab, (Salemba Empat: Jakarta, 2006), Hal 161.
37
2. Gaya kepemimpinan paternalistik
Gaya kepemimpinan yang paternalistik banyak terdapat di
lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya di
masyarakat agraris. Popularitas pemimpin yang paternalistik di
lingkungan masyarakat yang demikian mungkin sekali disebabkan
beberapa foktor seperti ini:
a. Kuatnya ikatan primordial
b. Ekstended family system
c. Kehidupan masyarakat yang komunalistik
d. Perananan adat istiadat yang sangat kuat dalam kehidupan
bermasyarakat
e. Masi dimungkinkannya hubungan pribadi yang intim anatar
seseorang anggota masyarakat engan anggota masyarakat lainnya.
Salah satu ciri utama dari masyarakat tradisional demikian
ialah rassa hormat yang tinggi yang ditujukkann oleh para anggota
masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Orang
tua atau orang-orang yang dituakan dihormati terutama karena
orang-orang demikian biasanya memproyeksikan sifat-sifat dan gaya
hidup yang pantas dijadikan teladan atau panutan oleh para anggota
masyarakat lainnya, seperti anak-anak dalam satu rumah tangga dan
para anggota masyarakat dalam satu lingkungan tertentu. Biasanya
orang-orang yang dituakan terdiri dari tokoh-tokoh adat, para ulama’
38
3. Gaya kepemimpinan karismatik
Gaya kepemimpinan karismatik ini mempumyai ciri khas yaitu
daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh
pengikut yang jumlahnya yang kadang-kadang cukup besar.
Tegaasmya pemimpin yang karismatik adalah seseorang yang
dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut
tidaak selalu dapat menjelaskan secara kongkrit mengapa orang
tertentu itu dikagumi.
Penampilan fisik itu bukan ukuran yang berlaku umum karena
ada pemimpin yang dipandang sebaagai pemimpin yang karismatik
yang kalau dilihat dari penampilan fisiknya saja sebenarnya tidak
atau kurang mempunyai daya tarik. Usiapun tidak selalu dapat
dijadikan ukuran. Sejarah telah membuktikan bahwa seorang yang
berusia relatif mudapun mendapat julukan pemimpin yang
karismatik. Jumlah harta yang dimilikipun nampaknya tidak bisa
digunakan sebagai ukuran. Ada orang yang tergolong sebagai
pemimpin yang karismatik tetapi dari sudut kebendaan ia tergolong
miskin.
Mungkin karena kurangnya pengetahuan untuk menjelaskan
keretaria ilmiah mengani kepemimpinan yang karismatik, orang lalu
cenderung mengatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang
39
ilmiah yang menjadikan orang-orang tertentu itu dipandang sebagai
pemimpin yang karismatik.
4. Gaya kepemimpinan demokratis
Gaya kepemimpinan yang menempatkan manusia sebagai
faktor pendukung terpenting dalam kepemimpinan yang dilakukan
berdasarkan dan mengutamakan orientasi pada hubungan dengan
anggota organisasi.
5. Gaya kepemimpinan bebas
Gaya kepemimpinan ini pada dasarnya berpandangan bahwa
anggota organisasi mampu mandiri dalam membuat keputusan atau
mampumengurus dirinya masing-masing, dengan sedikit mungkin
pengarahan atau pemberian petunjuk dalam merealisasikan tugas
pokok masing-masing sebagai bagian dari tugas pokok organisasi.
2.2. Penelitihan terdahulu
Penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini diantaranya
adalah :
1. Afahlul Nur Faizin, yang berjudul Desa sebagai panggung teater (studi kasus Kepemimpinan Kepala Desa Putat Lor Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang). Penelitian ini membahas performance Siti Fatimah sebagai kepala desa Putat lor adalah bentuk panggung depan. orang-orang terdekat siti sebagai
pihak luar berperan sebagai tim pertunjukan memproduk performance siti agar
40
Performance Siti yang dipertunjukkan adalah sebagai pemimpin yang tegas,
demokratis, dekat dengan masyarakat, serta pemimpin yang menonjol
karakteristik agamis. Adapun panggung belakang performance team tersebut
dimonitoring bapak Kasim sebagai aktor utama yang berpengaruh sejak awal
proses pencalonan Siti sebagai seorang pemimpin. Panggung belakang ini
adalah menampilkan figure apa adanya Siti sebagai seorang remaja,
diantaranya mengenai aspek penampilan, bertutur kata, gaya hidup semua
masih menunjukkan karakteristik jiwa muda. Sedangkan pada aspek
pengambilan keputusan dan aspek tata kelola pemerintahan Siti juga masih
sering menunjukkan sikap ketidakmandiriannya dan masih kurang tanggap
terhadap permasalahan di desa.
2. Musta’in, yang berjudul Teori Diri sebuah tafsir maksa simbolik (pendekatan teori dramaturgi Erving Goffman). Dimual dalam Jurnal komunika, vol.4, no. 2. Jili-Desember 2010, jurnal ini membahas mengenai teori dramaturgi yang
sering digunakan untuk menganalisa berbagai bentuk praktek komunikasi,
terutama komunikasi interpersonal.
3. M.Alfian yang berjudul tentang “Menjadi Pemimpin Politik” yang menjelaskan secara mendalam dan serius tentang kepemimpinan dan
kekuasaan. Dalam buku ini juga kita akan menemukan teori politik dan
kepemimpinan yang bukan lagi gagasan tapi aksi politik itu sendiri.
41
genealogi dari teori dramaturgis dan kemudian dikaitkan dengan ilmu social
42
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
3.1.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian yang saya teliti ini mengenai “Dramaturgi Kepemimpinan Bupati Sampang“ menggunakan pendekatan “Kualitatif” yang dapat digunakan untuk memahami interaksi sosial, misalnya dengan wawancara mendalam sehingga akan ditemukan pola-pola yang jelas. Sedangkan, jenis penelitiannya menggunakan deskriptif analitis, yaitu memberikan gambaran dan menganalisis secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu1.
3.1.2 Jenis Penelitian
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif. Yaitu jenis penelitian yang dimaksudkan untuk menjelaskan suatu fenomena atau kenyataan sosial. Model penelitian kualitatif ini dipilih peneliti karena peneliti bermaksut untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek peneliti misalnya: perilaku, motivasi, tindakan, secara holistic,2 serta memperoleh pemahaman tentang bagaimana Bupati Sampang
menerapkan kepemimpinannya. Maka metode yang akan digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif.
1Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1990), Hal 35.
43
Di dalam penelitian ini akan mencoba menggambarkan kepemimpinan Bupati Sampang dalam menerapkan kepemimpinannya dan masalah ini harus dikaji lebih dalam sebagaimana yang banyak dikemukakan diatas. Serta akan mencoba menjelaskan latar belakang permasalahan tersebut.
3.2. Lokasi Penelitian
Peneliti mengambil lokasi penelitian di Kabupaten Sampang. Alasan memilih lokasi penelitian tersebut dikarenakan terpilihnya Bupati dimana beliau adalah wakil Bupati sebelumnya. Saat menjadi wakil beliau tidak diberi perannya sebagai wakil Bupati. Disitu banyak sorotan media yang membahas masalah tersebut. Bupati yang terpilih adalah terlahir dari keturuan Kyai yang sangat disegani di Sampang. Beliau menggandeng seorang wakil yang dulunya adalah Bupati dua periode sebelumnya. Pada periode 2013 sampai 2018, K.H. Fannan Hasib berdampingan dengan Fadhilah Budiono untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sampang. Dalam Kepemimpinan K.H. Fannan selama dua tahun ini, terlihat Ibu-Ibu PKK yang lebih menonjol dan aktif. Terutama peran Anik Aminillah selaku istri Bupati.
3.3. Sumber Data
3.3.1 Data Primer
44
yang diteliti atau data yang diperoleh dari responden secara langsung.3 Di dalam
penelitian ini informan yang diambil penulis yaitu K.H. Fannan Hassib selaku Bupati Sampang.
Sedangkan dalam menentukan informan, menggunakan teknik Purposive Sampling, yaitu penentuan informan tidak didasarkan atas strata, kedudukan, pedoman, atau wilayah tetapi didasarkan pada adanya tujuan dan pertimbangan tertentu yang tetap berhubungan dengan permasalahan penelitian.4 Informan yang dipilih dalam wawancara penelitian ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1. Bupati Sampang, yang dalam hal ini adalah K.H. Fannan Hasib sebagai informan utama untuk mengatahui proses pencalonan dirinya sebagai Bupati Sampang dan untuk mengetahui proses perjalanan kepemimpinannya selama menjadi Bupati Sampang.
2. Wakil Bupati Sampang yaitu Fadillah Budiono.
3. Orang-orang terdekat K.H.Fannan Hasib dan team sukses saat pencalonan diwakili oleh:
a) Anik Aminillah (Istri Bupati dan orang yang sangat berpengaruh dalam kepemimpinan Bupati Sampang).
b) Sepupu Bupati Farmadi
c) Kader terdekat Bupati Moh. Rohil Abdillah d) Tokoh Agama Ahmad
3Ibid ,Hal.22.
45
e) Tokoh Agama Wahid Zuhdi f) Staff Bupati Syamsul Arif g) Ketua SKPD Masykur h) Anggota DPRD Muhammad
4. Beberapa masyarakat dan aktivis yang memiliki pengetahuan mengenai Kepemimpinan Bupati, yaitu :
a) Kalangan Pesantren Munif b) Ibu PKK Maisarah
c) Sofwan aktivis d) Karim aktivis e) Munif Mahasiswa f) Rifa’i Masyarakat g) Ridwan Masyarakat h) Adi Masyarakat i) Achsin Masyarakat j) Badrus Masyarakat
3.3.2 Data Sekunder