• Tidak ada hasil yang ditemukan

8983a208 7052 4725 8ca4 1ee7f44b9ec6

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "8983a208 7052 4725 8ca4 1ee7f44b9ec6"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

Seri Pembelajaran dari USAID - KINERJA

PENGUATAN PERAN

DAN FUNGSI DPRD

DALAM UPAYA PERBAIKAN

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Peningkatan pelayanan publik oleh unit pelayanan yang dikelola oleh pemerintah daerah merupakan mandat yang diamanatkan dalam berbagai peraturan perundangan seperti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

Dengan dukungan USAID, Program KINERJA telah berupaya memperkenalkan program bantuan teknis Peningkatan pelayanan publik di 20 kabupaten/kota mitra di empat provinsi di Indonesia (Aceh, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan) yang bertujuan untuk peningkatan mutu pelayanan publik. Program ini difokuskan pada penguatan pihak penyedia layanan (supply side) dan pihak pengguna layanan (demand side) di sektor pendidikan dasar, kesehatan dasar, dan perbaikan iklim usaha. Pada tahun ketiga, Program KINERJA menambah 4 kabupaten/kota lagi di Provinsi Papua yang bekerja khusus di sektor kesehatan. Peningkatan pelayanan tersebut dimaksudkan agar unit pelayanan dapat menyelenggarakan kegiatannya untuk pencapaian standar pelayanan publik (SPP), standar pelayanan minimal (SPM), dan standar nasional serta mencapai tujuan-tujuan MDG (Millennium Development Goals).

Sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa DPRD dan Kepala Daerah mempunyai kedudukan yang setara dan bersifat kemitraan. Dalam kedudukan kerja yang setara tersebut tidak hanya terkandung makna kesetaraan dalam hal otoritas tetapi juga semestinya setara dalam hal tanggungjawab dan kapasitas dalam memastikan proses pemerintahan dan pembangunan berjalan dengan baik.

Posisi DPRD dalam pemerintahan daerah memegang tiga peranan penting yaitu, legislasi, anggaran dan pengawasan, fungsi legislasi, merancang kebijakan-kebijakan serta regulasi yang mendukung terciptanya pelayanan publik yang baik dan standar. Fungsi budgeting, memastikan bahwa anggaran dialokasikan

dengan tepat sasaran, eisien jumlah maupun waktunya, fungsi pengawasan, memonitor dan mengevaluasi

pelaksanaan peraturan daerah dan penggunaan anggaran.

Memahami peranan DPRD yang sangat strategis, menimbulkan harapan yang besar dari masyarakat agar para wakil rakyat yang terpilih untuk periode saat ini (2014 – 2019) dapat menyuarakan aspirasi dan harapan masyarakat, melaksanakan tanggungjawab dan kapasitasnya untuk memastikan bahwa proses pemerintahan dan pembangunan berjalan dengan baik, dimana salah satu indikatornya adalah perbaikan pelayanan publik dasar berbasis standar.

Diharapkan modul ini dapat membantu DPRD, Pemerintah daerah dan pihak-pihak lain yang ingin menerapkan tata kelola yang baik, khususnya dalam meningkatkan kapasitas DPRD dalam mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas dan berstandar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat.

(4)

DAFTAR ISI 2 KISI – KISI MODUL PENGUATAN PERAN DAN FUNGSI DPRD DALAM UPAYA

PERBAIKAN PELAYANAN PUBLIK

4

MODUL 1 PENDAHULUAN 8

Sesi 1 11

- Orientasi Forum 11

- Pengantar 11

- Bahan Bacaan 1A : Pembelajaran Orang Dewasa 15 - Bahan Bacaan 1B : Pendidikan Partisipatif 17

- Bahan Presentasi 19

MODUL 2 PELAYANAN PUBLIK BERBASIS STANDAR 28

Sesi 1 28

- Teori dan Konsep Dasar Pentingnya Standar Pelayanan 28 - Standar Pelayanan Minimal (SPM) 31 a. Manajemen Publik Berbasis Kinerja 31 b. SPM: Dasar Teori, Pengertian, Manfaat dan Dasar Hukum 33 c. Strategi dalam SE Mendagri Tentang Percepatan Realisasi SPM 36

d. Kesimpulan 37

Sesi 3 38

Integrasi SPM dalam Perencanaan dan penganggaran 38

- Pengantar 38

MODUL 3 PERAN DAN FUNGSI DPRD DALAM PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK

BERBASIS STANDAR

42

Sesi 1 42

Fungsi Legislasi, Budgeting, Controlling DPRD dalam Mendorong Pelayanan Publik yang Adil dan Berkualitas

42

- Pengantar 42

Sesi 2 58

Peran pengawasan DPRD terhadap setiap tahapan perencanaan dan penganggaran daerah berbasis SPM

58

(5)

Analisis Kebijakan Perencanaan dan Penganggaran Pencapaian SPM Bidang Kesehatan Kabupaten Jayapura

62

- Pengantar 62

(6)

mengenal satu sama

lain dan memahami

latar belakang,

tujuan dan metode

pembelanjaran.

PENDAHULUAN

Sesi 1: Bina perkenalan

Sesi 2: Orientasi forum

orang dewasa

- BB1-1B: pendidikan

partisipatif

- LPF1-1: Orientasi forum

- TOR Pelatihan dan

jadwal kegiatan

- Tata Tertib Pelatihan

2. Curah

pendapat

3. Diskusi

kelompok

2 Peserta memahami

teori, dan konsep

dasar Standar

Pelayanan Publik

serta integrasinya

ke dalam sistem

perencanaan dan

penganggaran

daerah.

Modul II. PELAYANAN PUBLIK BERBASIS STANDAR

Sesi 1: Teori dan konsep

dasar

Sesi 2: Standar layanan

untuk pelayanan publik

dalam berbagai bidang

sektor

- BB 2-2: SPM diberbagai

Bidang dan sektor

- LPF2-2: Standar layanan

dalam berbagai bidang/

sektor

120 Menit

Sesi 3: Integrasi SPM

dalam perencanaan dan

penganggaran daerah

- Foto lapangan kondisi

layanan Pendidikan,

kesehatan Masyarakatdll

- LPF2-3: Integrasi SPM

dalam Perencanaan dan

Penganggaran daerah

- BB 2-3: Integrasi SPM

dalam Perencanaan dan

penganggaran daerah

(7)

No Tujuan

Instruksional Pokok Bahasan Bahan Belajar Metode Waktu

3 Peserta meningkat

ketrampilannya

Modul III. PERAN DAN FUNGSI DPRD DALAM PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK BERBASIS STANDAR

Sesi 1 : Fungsi legislasi,

budgeting, controlling

DPRD dalam mendorong

pelayanan publik yang adil

dan berkualitas.

- BB 3-1: Optimalisasi

Fungsi DPRD dalam

rangka peningkatan

kualitas pelayanan publik

di Bidang kesehatan

- LPF 3-1A: Optimalisasi

Fungsi DPRD dalam

rangka peningkatan

kualitas pelayanan publik

di Bidang kesehatan

- LKK 3-1: Data capaian

jenis pelayanan SPM

Kesehatan

- LPF 3-1B : Pentingnya

pelibatan para pihak

dalam pengawasan

daerah, pengelolaan dan

pelaporan perangkat

daerah berbasis SPM

- LPF 3-2 : Siklus

Perencanaan dan

Penganggaran daerah

berbasis SPM dan titik

kritisnya.

- LKK 3-2 A : Analisis

RPJMD dan RKPD

berbasisi SPM

- LKK 3-2 B : Analisis

Program dan kegiatan

dalam APBD berbasis

SPM

- LKK 3-2 C : Analisis

LKPJ Bupati/Walikota

berbaisis SPM

(8)

kesehatan Kabupaten

Jayapura

- Dokumen RPJMD,

RKPD, APBD dan LKPJ

Bupati/Walikota

Sesi 3 : Peran Sekretariat DPRD dalam mendukung kinerja DPRD dalam pengawasan pelayanan publik berbasis standar

- LPF 3-3 : Setwan urat nadi DPRD.

- BB 3-3 A: Sekretariat DPRD sebagai urat nadi demokrasi

- BB 3-3 B: Peran Strategis Sekretariat DPRD dalam mendorong percepatan pencapaian MDGs

(9)

1

1

(10)

PENDAHULUAN

Posisi DPRD

dalam pemerintahan

daerah memegang tiga

peranan penting yaitu,

legislasi, anggaran dan

pengawasan.

Sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa DPRD dan Kepala Daerah mempunyai kedudukan yang setara dan bersifat kemitraan. Dalam kedudukan kerja yang setara tersebut tidak hanya terkandung makna kesetaraan dalam hal otoritas tetapi juga semestinya setara dalam hal tanggung jawab dan kapasitas dalam memastikan proses pemerintahan dan pembangunan berjalan dengan baik.

Posisi DPRD dalam pemerintahan daerah memegang tiga peranan penting yaitu, legislasi, anggaran dan pengawasan. Fungsi legislasi adalah merancang kebijakan-kebijakan serta regulasi yang mendukung terciptanya pelayanan publik yang baik dan berstandar. Fungsi budgeting, memastikan bahwa anggaran dialokasikan dengan tepat

sasaran, eisien jumlah maupun waktunya. Fungsi

Pengawasan adalah memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan peraturan daerah dan penggunaan anggaran.

Namun demikian, selama ini DPRD dalam menjalankan fungsinya, dirasa belum mampu memberikan solusi yang efektif untuk menyelesaikan masalah-masalah mendasar yang dihadapi

masyarakat. Berbagai harapan konstituen

(11)

sehingga tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga perwakilan semakin menurun (Survey Pol-Tracking tahun 2013 menunjukkan hanya 12,5 persen responden saja yang puas dengan kinerja parlemen). Ketidakpuasan tersebut lebih disebabkan oleh karena DPRD yang belum efektif dalam

bekerja, belum representatif dalam kebijakan dan kinerja yang belum dapat dikatakan akuntabel.

Memahami peranan DPRD yang sangat strategis, menimbulkan harapan yang besar dari masyarakat agar para wakil rakyat yang terpilih untuk periode saat ini (2014 – 2019) dapat menyuarakan aspirasi dan harapan masyarakat, melaksanakan tanggung jawab dan kapasitasnya untuk memastikan bahwa proses pemerintahan dan pembangunan berjalan dengan baik, dimana salah satu indikatornya adalah perbaikan pelayanan publik dasar berbasis standar.

Hal ini sejalan dengan fungsi pemerintah dalam tata pemerintahan good governance bahwa, pelayanan yang standar dalam pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah adalah merupakan hak rakyat sebagai pembayar pajak dan retribusi daerah. artinya rakyat berhak menerima pelayanan dan pemerintah berkewajiban menyediakannya, oleh karena itu Hubungan antara hak dan

kewajiban tersebut haruslah jelas, transparan dan terukur.

Salah satu upaya pemerintah dalam mendorong penyediaan pelayanan publik yang kualitasnya jelas, transparan dan terukur (berbasis strandar) adalah di terbitkannya Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM (Standar Pelayanan Minimal)

regulasi ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan bahwa masyarakat akan menerima suatu pelayanan publik dari Pemerintah Daerah dengan mutu tertentu, berdasarkan target dan indikator yang telah ditetapkan. Dengan demikian hak minimal masyarakat dapat benar-benar terpenuhi, sehingga, pada akhirnya diharapkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintahnya akan meningkat.

Program Kinerja - USAID mendorongkan gagasan

memperbaiki efektiitas kinerja Dewan Perwakilan

Rakyat Daerah untuk perbaikan pelayanan publik khususnya urusan kesehatan dan pendidikan dasar, agar pelayanannya sesuai strandar dan lebih berkualitas, melalui lokarya Penguatan Peran dan Fungsi DPRD dalam Upaya Pemenuhan Pelayanan Publik Berbasis Strandar.

Tujuan dan hasil

Secara umum Tujuan pengembangan modul Penguatan Peran dan Fungsi DPRD dalam Upaya Pemenuhan Pelayanan Publik Berbasis Strandar adalah memberikan panduan kepada penyelenggara dan fasilitator penguatan kepada DPRD dalam menjalankan fungsinya untuk perbaikan pelayanan publik berbasis standar.

Sedangkan secara khusus penguatan kapasitas DPRD dalam menjalankan fungsinya untuk perbaikan pelayanan publik berbasis standar ini bertujuan untuk:

(12)

peningkatan pelayanan publik berbasis Standar khususnya urusan kesehatan.

3. Meningkatkan peran Sekretariat DPRD dalam mendukung kinerja DPRD dalam pengawasan pelayanan publik berbasis standar

Hasil yang diharapkan dari kegiatan penguatan kapasitas DPRD ini antara lain,

1. Peserta memahami teori, dan konsep dasar Pelayanan berbasis standar serta integrasinya ke dalam sistem perencanaan dan penganggaran daerah

2. Peserta meningkat ketrampilannya dalam menjalankan fungsi pengawasan untuk

peningkatan pelayanan publik berbasis Standar 3. Pelayanan publik khususnya urusan kesehatan

memenuhi standar pelayanan minimal yang telah ditetapkan.

Sasaran kegiatan penguatan

kapasitas DPRD

Yang menjadi kelompok sasaran dari lokakarya ini.

1. Pimpinan dan anggota DPRD yang terkait dengan urusan pendidikan dan kesehatan. 2. Perwakilan Skretariat dan staf DPRD yang

terkait dengan tugas pengangaran.

1. PEMBUKAAN DAN ORIENTASI FORUM, yang berisi tentang panduan proses fasilitasi sesi a) Pembukaan, b) Perkenalan dan c) orientasi kegiatan.

2. PELAYANAN PUBLIK BERBASIS STANDAR, yang berisi panduan proses pembelajaran tentang a) Teori dan konsep dasar tentang pelayanan publik, b) Standar layanan untuk pelayanan publik dalam bidang Pendidikan dan Kesehatan, dan c) Integrasi SPM dalam perencanaan dan penganggaran daerah. 3. PERAN DAN FUNGSI DPRD DALAM

(13)

Orientasi Forum

Pengantar

Sebelum berproses lebih lanjut dalam lokakarya, orientasi forum adalah merupakan tahap awal yang sangat penting, menurut konsep pendidikan partisipatif, lokakarya adalah sebagai ruang untuk belajar bersama antara Peserta, Fasilitator, Nara Sumber, dan juga Panitia pelaksana. Dengan orientasi forum yang cukup akan membantu setiap peserta dalam mengenali tujuan lokakarya, materi yang akan pelajari dan orang-orang yang terlibat didalamnya, dengan demikian dapat mendorong peserta pada pemahaman alur proses pembelajaran dan upaya-upaya untuk menciptakan suasana proses yang bebas, saling memahami dan membuat setiap orang didalamnya merasa nyaman.

Orientasi lokakarya pada sesi awal ini selain untuk saling mengenal baik sesama peserta dengan fasilitator maupun panitia pelaksana juga untuk memberikan pengertian dan arahan kepada peserta bahwa Lokakarya yang diselenggarakan ini menggunakan metode atau pendekatan

Pendidikan Partisipatif (Pendidikan Orang Dewasa), dengan orintasi forum pihak yang terlibat dalam forum ini juga dapat mengetahui gambaran umum tentang pelaksanaan lokakarya, latar belakang tujuan, capaian materi, metode dan aturan selama lokakarya berlangsung.

Setelah saling mengenal, mengetahui metodologi dan gambaran umum lokakarya diharapkan orientasi hati dan pikiran peserta dalam mengikuti lokakarya ini menjadi sama dan fokus, dengan demikian komunikasi akan mudah dan lancar serta suasana pembelajaran akan kondusif dan menyenangkan.

TUJUAN

Secara umum dalam sesi ini bertujuan agar semua pihak yang terlibat dalam forum ini dapat saling mengenal satu sama lain, memahami latar belakang, tujuan dan metode pembelanjaran sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Setelah sesi ini selesai, secara khusus peserta diharapkan mampu:

• Mengenali para peserta, fasilitator, panitia dan

para pihak yang terlibat dalam lokakarya

• Memperjelas harapan dan tujuan umum peserta

terhadap lokakarya

• Membantu peserta untuk memahami proses dan

metode lokakarya selama berlangsung dengan model Pendidikan Orang Dewasa (POD).

• Memahami latar belakang, tujuan dan hasil yang

diharapkan dari pelaksanaan lokakarya

• Peserta menyepakati kontrak belajar bersama

menyangkut materi dan alokasi waktu tata tertib dan dan hal-hal lain yang menunjang

(14)

pembelajaran.

• Proses dan metode lokakarya

• Tahapan dan pendekatan pendidikan bagi orang

dewasa

• Latar belakang, tujuan dan hasil yang

diharapkan dari lokakarya

• Kontrak belajar bersama menyangkut materi

dan alokasi waktu tata tertib dan dan hal-hal lain

yang menunjang produktiitas lokalatih.

METODE

- Presentasi

- Brainstorming/ sumbang saran - Pertanyaan fokus

- Diskusi terfokus

BAHAN DAN

PERALATAN

Bahan yang diperlukan untuk sesi ini: - BB 1-1 A: pembelajaran orang dewasa - BB 1-1 B : pendidikan partisipatif - LPF 1-1: Orientasi forum

- TOR Lokakarya dan jadwal kegiatan

WAKTU

90 Menit

PROSES

FASILITASI

Pengenalan diri peserta, fasilitator dan panitia (30 menit)

1. Ucapkan selamat datang pada para peserta lokakarya. Berilah prakata singkat bahwa suasana yang diidealkan selama lokakarya ini adalah informal dan santai. Maka dari itu mintalah mereka bersikap senyaman mungkin dan bersikap aktif.

2. Jelaskan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dari sesi perkenalan ini.

3. Fasilitator memperkenalkan diri dengan menyebutkan namanya, asal organisasi, dan peran dalam lokakarya

(15)

5. Peserta diminta untuk bertukar kertas identitas yang sudah diisi tersebut dengan peserta disebelahnya

6. Secara bergiliran masing – masing peserta diminta untuk membacakan kertas identitas tersebut, bagi peserta yang diperkenalkan diminta untuk berdiri.

7. Fasilitator menutup acara perkenalan dan dilanjutkan dengan materi harapan peserta Lokakarya dan kesepakan pembelajaran

Harapan peserta lokakarya dan kesepakatan pembelajaran (15 Menit)

1. Fasilitator meminta peserta memikirkan harapan mereka terhadap lokakarya ini kemudian menuliskannya kedalam kertas metaplan dengan huruf besar.

2. Jika perlu berikan contoh cara menuliskannya dalam kertas metaplan dan batasi 3 harapan untuk setiap peserta.

3. Kumpulkan setiap kertas metaplan baca yang keras dan tempel di dinding ruang lokakarya (Kertas plan).

4. Fasilitator memandu diskusi peserta untuk mengelompokkan harapan-harapan peserta yang telah ditempel, berdasarkan kategori: Proses, Metode, Materi dan waktu lokakarya. 5. Tayangkan jadwal dan materi lokakarya dan

bandingkan dengan harapan peserta terhadap lokakarya, jika ada perbedaan baik waktu, materi maupun lainnya diskusikan dengan peserta untuk di persamakan, Selanjutnya untuk disepakati menjadi bahan kontrak belanjar kita pada sesi berikutnya.

Proses dan metode lokakarya dan Tahapan dan pendekatan pendidikan bagi orang dewasa (15 menit)

1. Fasilitator menayangkan LPF 1 Daur Pendidikan bagi Orang Dewasa dan prinsip-prinsipnya yang akan dipakai sebagai pendekatan metodologi dalam lokakarya ini

2. Mintalah kepada peserta untuk menanggapinya dengan mengajak peserta melakukan sumbang saran (brainstorming) tentang proses dan metode lokakarya yang kita pergunakan sesuai dengan materi yang akan disampaikan, arahkan peserta untuk memberi tambahan, tanggapan dan pertanyaan.

3. Berikan ilustrasi verbal maupun gambar yang memudahkan peserta membedakan pendekatan belajar gaya sekolah dan pendekatan POD.

Latar belakang, tujuan dan hasil yang diharapkan dari pelaksanaan lokakarya (15 menit)

- Sampaikan poin-poin penting latar belakang, tujuan dan hasil yang diharapkan dari

lokakarya Peningkatan Kapasitas DPRD dalam Mendorong Pelayanan Publik Berbasis Standar Pelayanan (sesuai TOR yang dikirim kepada peserta) dalam bentuk slide Power point di LCD proyektor

Kontrak belajar bersama menyangkut materi dan alokasi waktu tata tertib dan dan hal-hal

lain yang menunjang produktiitas lokalatih (15

(16)

1. Fasilitator mempersilahkan peserta untuk membuka/melihat TOR kegiatan dan Rencana Jadwal tentative panitia untuk disepakati bersama tentang Waktu belajar, Materi, dll. 2. Fasilitator mengajak peserta untuk membuat

Tata tertib dan sanksi lokakarya agar proses lokakarya nyaman untuk semua orang.

3. Tanyakan kepada peserta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam lokakarya ini, catat semua usulan peserta dan sepakati menjadi tata tertib lokakarya dan sangsinya.

(17)

Pembelajaran orang dewasa mempunyai pendekatan, ruang lingkup, tujuan, dan strategi yang berbeda dengan pembelajaran untuk anak-anak. Pembelajaran orang dewasa dititikberatkan pada belajar secara berkelanjutan sepanjang hayat untuk mempelajari keterampilan yang dapat digunakan untuk mengarahkan diri sendiri. Namun demikian, sama halnya dengan anak-anak, di dalam menjalankan proses pembelajarannya, orang dewasa menyukai belajar dalam kondisi bebas, belajar melalui interaksi dengan sesama, tidak menyenangi hafalan, lebih mengutamakan hal-hal praktis dan pemecahan masalah.

Pengalaman dan bukan wadah

kosong

Pembelajaran bukanlah suatu proses dimana sang ahli menuangkan pengetahuannya ke dalam kepala ‘kosong’ para peserta pelatihan. Oleh sebab itu fasilitator perlu mengetahui pengalaman peserta sebelum pelatihan. Pengalaman menghasilkan peta kognitif, suatu alat yang membantu kita menyerap informasi baru, yaitu hal-hal yang didengar dan dilihat selama pelatihan. Oleh karena pengalaman yang dialami berbeda-beda, maka setiap orang

memiliki peta yang berbeda pula. Oleh sebab itu di dalam pelatihan sebaiknya:

• Peserta diperlakukan sebagai individu-individu

yang berbeda satu sama lainnya,

• Peserta banyak diberi pertanyaan dan

tugas-tugas individu,

• Peserta diberi latihan individual karena semua

orang akan mampu belajar kalau menggunakan caranya sendiri,

• Memberdayakan peserta sebagai sumberdaya

pelatihan,

• Memberi kesempatan kepada peserta untuk

mengkaitkan informasi/pengalaman yang baru diterima dengan pengalaman sebelumnya.

Pembelajaran dewasa bukanlah suatu proses dimana sang ahli menuangkan pengetahuannya ke dalam kepala ‘kosong’ para peserta pelatihan. Oleh sebab itu fasilitator perlu melakukan analisis pengalaman peserta sebelum pelatihan, misalnya melalui perkenalan dan curah pendapat. Dengan demikian pelatihan dikelola menggunakan metode partisipatoris.

Beberapa prinsip pembelajaran yang penting diperhatikan/diterapkan dalam pelatihan adalah sebagai berikut:

PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

BAHAN BACAAN

(18)

• Berbagi dan menganalisis pengalaman melalui

dialog sesama peserta,

• Keterlibatan yang aktif dalam memilih topik

pelatihan, pemrograman dan evaluasi hasil pelatihan; dengan cara ini mereka akan menganggap isi pelatihan ini sebagai milik mereka,

• Menemukan penyebab-penyebab permasalahan

serta menemukan sendiri pemecahannya,

• Berbuat dan melakukan eksperimen dalam

menemukan jawaban,

• Relevansi materi yang dilatihkan,

• Penekanan pada nilai-nilai yang praktis yang

dapat diaplikasi,

• Relektif.

Orang dewasa sulit melupakan

sesuatu yang pernah dipelajari

Biasanya pelatihan dianggap mempelajari pengetahuan dan ketrampilan baru yang bisa

dimasukkan pada salah satu tempat di ‘peta kognitif’. Tujuan ini dapat berhasil jika apa yang dilatihkan merupakan hal baru atau yang dibutuhkan oleh orang dewasa.

Selama kehidupan, orang dewasa sudah

mengembangkan perilaku dan pola berikir yang

(19)

Pendidikan partisipatif mensyaratkan adanya proses learner centered (peserta didik sebagai pusat). Siapapun yang terlibat proses pembelajaran dipandang sebagai orang yang memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memiliki bahan dan materi yang dianggap bermanfaat, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyimpulkan serta mampu mengambil manfaat pendidikan. Dalam metode ini fungsi guru hanyalah sebagai fasilitator. Dengan proses demikian, beberapa karakteristik pendidikan partisipatif antara lain:

Belajar Dari Pengalaman

Yang dipelajari bukan “ajaran” (teori, pendapat, kesimpulan, dll) dari seseorang, tetapi keadaan nyata masyarakat atau pengakuan seseorang yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut. Hal ini mengakibatkan tidak ada otoritas seseorang yang lebih tinggi dari yang lain.

Tidak Menggurui

Dalam metode ini tidak ada guru dan tidak ada murid yang digurui. Semua yang terlibat dalam

proses pendidikan ini adalah guru sekaligus murid pada suatu yang bersamaan.

Dialogis

Karena tidak ada guru ataupun murid, maka proses yang berlangsung tidak merupakan proses belajar mengajar yang bersifat satu arah, tetapi proses komunikasi dalam bentuk kegiatan interaktif (diskusi kelompok, bermain peran dsb) dan media (alat peraga, audio visual dsb) yang lebih memungkinkan terjadinya dialog kritis antara semua orang yang terlibat dalam proses pelatihan tersebut.

Pedoman proses belajar dalam pendidikan partisipatif adalah daur belajar dari pengalaman yang distrukturkan (structural experiences learning cyrcle), seperti yang tergambar di bawah ini.

Pendidikan Partisipatif terwujud bila terdapat keterlibatan individu secara sadar kedalam proses interaksi sosial kependidikan. Dengan pengertian itu, peserta didik bisa berpartisipasi bila dia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggung jawab bersama.

PENDIDIKAN PARTISIPATIF

BAHAN BACAAN

(20)

Melakukan/Mengalami

Mengungkapkan

Mengolah/Menganalisa Menyimpulkan

Menerapkan

Berdasar pada pemahaman itu, agar mampu berpartisipasi seseorang perlu berproses, dan proses itu ada dalam dirinya dan dengan orang lain. Kemampuan seseorang jelas berbeda, sehingga kemampuan partisipasi seseorang jelas juga akan berbeda, dalam jumlah dan mutunya. Dengan upaya yang sungguh-sungguh dan terencana, partisipasi

(21)

Penguatan Peran dan Fungsi DPRD

dalam Upaya Pemenuhan Pelayanan

Publik Berbasis Strandar

LOKAKARYA

Tujuan Lokakarya

Memperkenalkan

• Konsep dasar pelayanan publik berbasis strandar.

• Standar pelayanan publik dalam berbagai bidang dan sektor. • Integrasi SPM dalam perencanaan dan penganggaran daerah.

Meningkatkan

Ketrampilan DPRD dalam menjalankan fungsi pengawasan untuk peningkatan pelayanan publik berbasis Standar.

Peran Sekretariat DPRD dalam mendukung kinerja DPRD dalam pengawasan pelayanan publik berbasis standar.

(22)

Perkenalan

Hasil Lokakarya

• Nama,

• Alamat,

• Jabatan dan cita-cita,

• Hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai

• Peserta memahami teori, dan konsep dasar

Pelayanan berbasis standar serta integrasinya

ke dalam sistem perencanaan dan penganggaran

daerah.

• Peserta meningkat ketrampilannya dalam

menjalankan fungsi pengawasan untuk

(23)

1. ...

2. ...

3. ...

Harapan Peserta pelatihan dan kesepakatan

pembelajaran

Materi Pelatihan 1

Pelayanan Publik berbasis Standar

• Sesi 1: Teori dan konsep dasar.

• Sesi 2: Standar layanan untuk pelayanan publik

dalam berbagai bidang sektor.

• Sesi 3: Integrasi SPM dalam perencanaan dan

(24)

Materi Pelatihan 2

Peran dan Fungsi DPRD Dalam peningkatan Pelayanan Publik Berbasis Standar

• Sesi 1: Fungsi legislasi, budgeting, controlling DPRD dalam mendorong pelayanan publik yang adil dan berkualitas. • Sesi 2: Peran pengawasan DPRD terhadap perencanaan

dan penganggaran daerah, pengelolaan dan pelaporan perangkat daerah berbasis SPM.

• Sesi 3: Peran Sekretariat DPRD dalam mendukung kinerja DPRD dalam pengawasan pelayanan publik berbasis standar.

Pembukaan dan perkenalan

Orientasi dan Pre Test

Materi : Pelayanan Publik Berbasis Standar

Penutup

Rencana Tindak Lanjut dan

Post test

Materi:

Teknik dan strategi advokasi

Materi :

Peran dan fungsi DPRD dalam peningkatan pelayanan publik

(25)

Prinsip Belajar Orang Dewasa

Daur Belajar Orang Dewasa

Melakukan/Mengalami

Mengungkapkan

Mengolah/Menganalisa Menyimpulkan

Menerapkan

• BELAJAR DARI PENGALAMAN.

• PARTISIPATIF. Keterlibatan peserta menjadi kunci

keberhasilan

• SPONTANITAS. Proses belajar apa adanya, jujur

dan tidak dibuat-buat.

• PERSAMAAN. Semua peserta adalah sama,

(26)

Agenda dan Waktu Kegiatan

1. ...

2. ...

3. ...

Norma – Norma yang disepakati dalam

Lokakarya

Sesi Materi Waktu

Hari Pertama Pembukaan dan Orientasi forum

Pembukaan, Perkenalan dan orientasi forum

08.00 – 09.45

Istirahat 09.45 – 10.00

PELAYANAN PUBLIK BERBASIS SANDAR

Teori dan konsep dasar 10.00 – 12.00

Istirahat 12.00 – 13.00

Standar layanan untuk pelayanan publik dalam berbagai bidang sektor

13.00 – 15.00

Istirahat 15.00 – 15.15

Integrasi SPM dalam perencanaan dan penganggaran daerah

(27)

PERAN DAN FUNGSI DPRD DALAM PENINGKATAN

PELAYANAN PUBLIK BERBASIS STANDAR

• Sesi 1 : Fungsi legislasi, budgeting, controlling DPRD dalam mendorong pelayanan publik yang adil dan berkualitas pengawasannya terhadap pelayanan publik.

• Sesi 2 : Peran pengawasan DPRD terhadap perencanaan dan penganggaran daerah, pengelolaan dan pelaporan perangkat daerah berbasis SPM.

• Sesi 3 : Identifikasi potensi dukungan DPRD dalam menjalankan peran pengawasan pelayanan publik berbsis SPM.

Agenda dan waktu kegiatan . . . . lanjutan

Sesi Materi Waktu

Hari kedua

Peran dan fungsi DPRD dalam peningkatan pelayanan publik berbasis standar

Fungsi legislasi, budgeting, controlling DPRD dalam mendorong pelayanan publik yang adil dan berkualitas.

08.00 – 10.00 Istirahat 10.00 – 1015 Peran pengawasan DPRD terhadap peren canaan dan

penganggaran daerah, pengelolaan dan pelaporan perangkat daerah berbasis SPM.

10.15 – 12.15 Istirahat 12.15 – 13.15 Peran Sekretariat DPRD dalam mendu kung kinerja DPRD

dalam pengawasan pelayanan publik berbasis standar

(28)
(29)

2

2

Teori dan Konsep Dasar

(30)

Pelayanan

Publik

Berbasis

Standar

...

SPM hadir di

tengah-tengah regulasi

pemerintahan daerah di

Indonesia untuk mencapai

penilaian kinerja dan

manajemen berbasis

tujuan.

Pentingnya Standar

Pelayanan

Pengantar

Standar Pelayanan Minimal (SPM) menurut

Peraturan Pemerintah nomor 65 tahun 2005 adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal.

Berdasarkan amanat Pasal 11 ayat (4) dan Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang, SPM diterapkan dan dilaksanakan pada Urusan Wajib Daerah terutama yang berhubungan dengan pelayanan dasar, baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

(31)

menjadi hak masyarakat. Dengan demikian hak minimal masyarakat bisa benar-benar dilayani oleh pemerintah daerah berdasarkan target dan indikator yang telah ditetapkan.

Bagi pemerintah daerah, keberadaan SPM bisa digunakan sebagai landasan untuk menentukan pagu anggaran yang diperlukan untuk memberikan pelayanan dasar yang harus dipenuhi. Selain itu juga untuk menentukan perimbangan keuangan yang merata dan transparan serta untuk memberikan ketentuan sistem manajemen penganggaran yang berbasiskan pada kinerja pemerintah daerah.

Penguasaan materi yang mendalam tentang konsep dasar SPM meliputi Teori, Dasar hukum, Prinsip-prinsip dasar, manfaat, Ruang Lingkup dan mekanisme penerapan Standar Pelayanan Minimal dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah akan membantu DPRD dalam membangun basis argumentasi untuk advokasi meningkatkan pelayanan publik berbasis standar.

TUJUAN

Secara umum dalam sesi ini bertujuan agar semua pihak yang terlibat dalam forum ini dapat memahami teori dan konsep dasar pentingnya Standar

Pelayanan Minimal (SPM). Setelah sesi ini selesai, secara khusus peserta diharapkan mampu:

• Memahami Teori, Dasar hukum, Prinsip-prinsip

dasar, manfaat, Ruang Lingkup dan mekanisme

penerapan Standar Pelayanan Minimal dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

POKOK BAHASAN

Mengacu pada tujuan pembelajaran di atas, maka dalam topik ini akan membahas pokok bahasan tentang Teori, Dasar hukum Prinsip-prinsip, Manfaat, Ruang Lingkup dan mekanisme penerapan Standar Pelayanan Minimal, dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

METODE

- Pemutaran ilm animasi pendek.

- Presentasi

- Brainstorming/ sumbang saran - Pertanyaan fokus

- Diskusi terfokus

BAHAN DAN

PERALATAN

Bahan yang diperlukan untuk sesi ini: - File Film pelayanan publik

- BB 2-1: Standar pelayanan minimal (sebuah pengantar)

(32)

Alat yang digunakan untuk memperlancar sesi ini: - LCD proyektor

- Kertas dan Spidol berwarna - Metaplan

- Whiteboard

WAKTU

60 Menit

PROSES

FASILITASI

• Ucapkan salam kepada para peserta pelatihan.

Jelaskan pokok bahasan, tujuan dan hasil yang ingin dicapai dari sesi ini. Usahakan suasana pembukaan lebih santai. Harapannya peserta akan lebih nyaman dengan forum dan tetap merasa membutuhkan.

Pemutaran ilm animasi pendek tentang

pelayanan publik (durasi 5 menit)

Setelah selesai pemutaran ilm animasi tentang

pelayanan publik, buka sesi tanggapan peserta

pelatihan dengan pertanyaan kunci bagaimana kondisi pelayanan publik dasar di daerah anda? Misalnya Pelayanan administrasi kependudukan, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan. Catat semua tanggapan peserta dan mulailah dengan presentasi tentang Strandar pelayanan Minimal (SPM).

• Presentasikan LPF 2-1 tentang Standar

Pelayanan Minimal (SPM) pengantar, yang berisi tentang Teori, Dasar hukum, Prinsip-prinsip dasar, manfaat, Ruang Lingkup dan mekanisme penerapan Standar Pelayanan Minimal , dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

• Buka sesi tanya jawab untuk klariikasi maupun

tanggapan dari peserta.

• Catat poin-poin penting dari proses diskusi kelas

dan buatlah kesimpulan berdasarkan panduan output dan hasil yang diharapkan dari sesi ini dan bahan bacaan yang tersedia.

• Sampaikan kesimpulan kepada peserta

(33)

STANDART PELAYANAN MINIMAL (SPM)

Sebuah Pengantar

A. Manajemen Publik Berbasis

Kinerja

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah melahirlah local government

(pemerintah daerah) diberi kewenangan untuk lebih mengharmoniskan dan menyelaraskan pembangunan baik pembangunan nasional, pembangunan daerah maupun pembangunan antar daerah. Dalam rangka Otonomi Daerah, undang-undang tersebut memberikan konsekuansi penerapan konsep Good Governance dan Sound Governance yang harus dipegang oleh pemerintah daerah.

Merujuk pada UU 32/2004, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, Pemerintah Daerah diharuskan untuk melaksanakan evaluasi dari pelaksanaan rencana pembangunan daerah. Rencana pembangunan daerah tersebut meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Berdasarkan PP tersebut, evaluasi dilakukan melalui indikator kerja. Pelaksanaan PP tersebut lebih lanjut diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010.

Sejalan dengan hal tersebut, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, mengharuskan pemerintah daerah melakukan kegiatan yang dilakukan peningkatan pelayanan publik sesuai dengan standar pelayanan sebagai tolok ukur yang dipergunakan dalam pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.

Dikeluarkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan untuk lebih memfokuskan pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan, dan untuk berkesinambungan serta penajaman prioritas pembangunan nasional. Merujuk pada Inpres tersebut dilakukan rapat koordinasi dan sosialisasi rencana aksi daerah oleh Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan Pelaksanaan Evaluasi Prioritas Pembangunan Jawa Timur (UKG-P3D) serta Percepatan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Merujuk pada hal tersebut, dalam rangka sinergi pemerintah pusat dan daerah, adanya pemantauan program oleh pemerintah daerah.

(34)

memiliki akuntabilitas. Akuntabilitas adalah

kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/ badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berwenang untuk meminta pertanggungjawaban. Prinsip akuntabilitas harus dimiliki oleh seluruh organisasi pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Akuntabilitas bermakna pertanggungjawaban dengan menciptakan pengawasan melalui distribusi kekuasaan pada berbagai lembaga pemerintah sehingga mengurangi penumpukkan kekuasaan sekaligus menciptakan kondisi saling mengawasi (checks and balances system).

Akuntabilitas publik adalah prinsip yang menjamin bahwa setiap kegiatan penyelenggaraan

pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh pelaku kepada pihak-pihak yang terkena dampak penerapan kebijakan. akuntabilitas berhubungan dengan kewajiban dari institusi pemerintahan maupun para aparat yang bekerja di dalamnya untuk membuat kebijakan maupun melakukan aksi yang sesuai dengan nilai yang berlaku maupun kebutuhan masyarakat. Akuntabilitas publik menuntut adanya pembatasan

tugas yang jelas dan eisien dari para aparat

birokrasi. Prinsip akuntabilitas publik adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilai-nilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para stakeholders yang berkepentingan dengan pelayanan tersebut.

Prinsip akuntabilitas mengharuskan lembaga-lembaga dan aparaturnya harus dapat mempertanggungjawabkan pelaksanaan

kewenangan yang diberikan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Demikian juga dengan program dan layanan yang menjadi tugas dan fungsi dari lembaga-lembaga serta aparatur tersebut. Melalui penerapan prinsip ini, suatu proses pengambilan keputusan atau kinerja dapat dimonitor, dinilai dan dikritisi. Pelaksanaan prinsip akuntabilias dapat menjadi sebuah alat pengendali sekaligus bahan evaluasi.

Manajemen berbasis kinerja adalah sebuah proses dan siklus perencanaan, pengukuran, penilaian dan evaluasi kinerja pegawai yang berkesinambungan untuk mewujudkan tujuan organisasi serta mengoptimalkan potensi diri aparat. Manajemen berbasis kinerja merupakan manajemen yang mengandalkan pengendalian organisasi pada pengukuran (angka) kinerja. Setiap unit, fungsi, bahkan individu dalam organisasi diberikan target-target kinerja terukur sebagai pedoman kemana organisasi itu harus diarahkan. Tentu saja ukuran-ukuran atau target-target kinerja itu harus ditata sedemikian rupa dalam suatu sistematika atau metode tertentu sesuai dengan proses, masalah, dan tujuan organisasi itu, sehingga ketika target unit/ individu/fungsi tercapai, maka tercapailah tujuan organisasi. Manajemen berbasis kinerja terbukti

mampu meningkatkan mutu, produktivitas, eisiensi

(35)

Penilaian Kinerja merupakan mekanisme pengukuran kinerja yang dirancang untuk mengukur tingkat tujuan yang telah dicapai, kepuasan komunitas atau pemangku kepentingan (stakeholder), kinerja pelayanan, perbandingan antar instansi, dan penentuan insentif dan evaluasi organisasi secara keseluruhan. Penilaian kinerja adalah proses untuk mengukur prestasi kerja berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan, dengan cara membandingkan sasaran (hasil kerjanya) dengan persyaratan deskripsi pekerjaan yaitu standar pekerjaan yang telah ditetapkan selama periode tertentu. Penilaian merupakan suatu prestasi yang dicapai dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya, sesuai dengan standar kriteria yang ditetapkan. Penetapan sasaran yang jelas dan terukur, pengukuran kinerja, dan skema insentif merupakan elemen penting manajemen kinerja yang diharapkan dapat mendorong instansi pemerintah daerah untuk berkinerja lebih baik (Verbeeten, 2008; Heinrich, 2002; Kloot, 1999). Dengan penilaian kinerja maka dapat dilakukan evaluasi kinerja untuk meningkatkan prestasi kerja.

B. SPM: Dasar Teori, Pengertian,

Manfaat dan Dasar Hukum

Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan alat yang paling mungkin digunakan untuk mengukur kinerja terkait dengan pelayanan dasar minimal yang harus disediakan pemerintah daerah kepada

masyarakat dalam menjalankan urusan wajib. Dalam melaksanakan pencapaian SPM ini pemerintah daerah seharusnya menentukan jenis pelayanan dasar yang menjadi urusan wajibnya, menentukan indikator dan nilai capaian, batas waktu pencapaian, dan pengorganisasian terhadap penyelenggaraan pelayanan dasar dimaksud. Selain itu juga harus menentukan capaian prestasi SPM secara kuantitatif dan kualitatif yang bisa menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi, berupa input,

process, output, outcome, dan beneit serta impact

dari pelayanan.

Pada sisi teoritik, ditetapkanya SPM tidak

terlepas dari konsep dasar manajemen publik dan perencanaan stratejik. Manajemen publik selain mencakup administrasi, juga melibatkan organisasi

untuk mencapai tujuan dengan eisiensi maksimum,

(36)

Gambar Siklus Perencanaan Manajemen Dalam Mencapai Tujuan Kebijakan

Sumber : Dunn (1999:21)

Banyak model implementasi lain memberikan semacam saran dan pendekatan “how-to” yang biasa ditemukan dalam buku-buku manajemen dan kebijakan publik. Pendekatan manajerial untuk implementasi telah menjadi suatu paradigma operasional dominan dalam kebijakan publik. Hal ini dinyatakan sebagai pendekatan manajerial sebagai penciptaan sistem yang mengatur diri sendiri ( self-regulating governance). (Parsons, 2006:475). Ada dua teknik yang dipakai untuk meningkatkan aspek manusia dalam implementasi kebijakan yakni: (1) penilaian kinerja, adalah metode untuk menilai individu dari segi kinerjanya dengan berdasar pada tujuan organisasi dan konteks perkembangan

tujuan, adalah teknik dimana tujuan disepakati oleh pihak manajer dan pihak yang dimanajeri sehingga

tercapai tujuan yang jelas dan dideinisikan dengan

baik. Tujuan manajemen berdasarkan tujuan ini adalah memfasilitasi tujuan individu dengan tujuan organisasi (Drucker dalam Parsons, 2006, h.1964).

(37)

indikator yang telah ditetapkan. Bagi pemerintah daerah, keberadaan SPM bisa digunakan sebagai landasan untuk menentukan pagu anggaran yang diperlukan untuk memberikan pelayanan dasar yang harus dipenuhi. Selain itu juga untuk menentukan perimbangan keuangan yang merata dan transparan serta untuk memberikan ketentuan sistem

manajemen penganggaran yang berbasiskan pada kinerja pemerintah daerah.

Keberadaan SPM merupakan ketentuan terkait dengan jenis dan mutu pelayanan dasar yang menjadi urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Hal ini berdasarkan amanat Pasal 11 ayat (4) dan Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang, SPM diterapkan dan dilaksanakan pada Urusan Wajib Daerah terutama yang berhubungan dengan pelayanan dasar, baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Adapun peraturan-peraturan lain terkait dengan pelaksanaan SPM adalah sebagai berikut:

1. UU NO. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah 2. PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Urusan Pemerintahan

3. PP No. 65 tahun 2005 Tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM

4. PP No 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah

5. PP No 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

6. Surat Edaran Mendagri Nomor 100/1023/SJ tertanggal 26 Maret 2012, Perihal Percepatan Penerapan SPM

Dalam mencapai target yang telah ditetapkan, maka pemerintah daerah seyogyanya memiliki strategi-strategi yang paling rasional untuk melakukan pengukuran. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh pemerintah daerah:

• Menjadikan SPM yang telah ditetapkan

sebagai acuan dalam dokumen perencanaan dan penganggaran di daerah, dengan tujuan menjamin optimalisasi penerapan dan pencapaian indikator SPM dimaksud.

• Menyusun rencana pencapaian SPM yang

memuat target tahunan pencapaian SPM dengan mengacu pada batas waktu pencapaian SPM sesuai dengan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga Non Kementerian dimaksud.

• Rencana pencapaian SPM tersebut, perlu

disinkronkan dan diintregrasikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategi Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD.

• Target tahunan pencapaian SPM dituangkan

(38)

C. Strategi dalam SE Mendagri

tentang percepatan realisasi SPM

Sementara dalam SE Mendagri 100/1023/SJ diatur tentang keharusan bagi gubernur dan bupati/walikota untuk melaporkan perkembangan pencapaian SPM kepada pemerintah pusat melalui menteri dalam negeri. Perkembangan yang dilaporkan adalah pelaksanaan penerapan dan pencapaian SPM pada tahapan sosialisasi, perhitungan pembiayaan, dan penerapan SPM dalam perencanaan dan anggaran daerah, serta kinerja pencapaian dari masing-masing bidang SPM. Dalam laporan tersebut juga perlu mencantumkan tentang kendala dan permasalahan serta tindak lanjut yang diperlukan dalam penerapan SPM di daerah.

Laporan dilakukan sebanyak dua kali dalam satu tahun, yang terdiri dari laporan semester I dan semester II. Laporan semester I merupakan hasil monitoring dan evaluasi, yang disampaikan paling lambat pada bulan Juni. Isinya adalah memuat tentang kondisi aktual perkembangan penerapan SPM terutama dalam hal pelaksanaan sosialisasi, perhitungan anggaran, dan penerapan SPM dalam perencanaan dan anggaran daerah (sinergisitas penerapan SPM dalam dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan dokumen Kebijakan Umum Anggaran (KUA), serta upaya dan langkah-langkah dukungan yang telah dilakukan oleh daerah. Sementara laporan Tahunan (semester II) disampaikan paling lambat akhir Desember, yang menyampaikan laporan tahunan kinerja penerapan dan pencapaian SPM. Laporan dimaksud

merupakan bahan penyusunan LPPD bagi daerah dan dalam rangka penyusunan kebijakan nasional lebih lanjut oleh pemerintah.

Dalam rangka percepatan penerapan dan

pencapaian SPM ini, gubernur dan bupati/walikota diharapkan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

- Melakukan sosialisasi kepada seluruh jajaran DPRD dan SKPD, serta pemangku kepentingan terkait

- Membentuk Tim Percepatan Penerapan dan Pencapaian SPM di daerah. Keanggotaan tim ini terdiri dari unsur-unsur sekretariat daerah, SKPD bidang perencanaan, SKPD bidang keuangan dan SKPD yang terkait dengan bidang yang diatur SPM-nya

- Tim ini bertugas untuk mengkoordinasikan seluruh SKPD yang bidang urusannya terkait dengan SPM, dengan melakukan upaya-upaya:

Mendalami jenis layanan, indikator, target dan batas waktu pencapaian yang telah ditetapkan secara nasional;

Menyiapkan database proil layanan dasar

berdasarkan jenis pelayanan dan indikator yang telah ditetapkan

Menyusun kebutuhan pembiayaan berdasarkan target yang telah ditetapkan secara nasional; dan

(39)

- Sedangkan tahapan-tahapan yang perlu dilakukan oleh daerah adalah sebagai berikut: Menyesuaikan dan mensinergikan program

kegiatan SKPD ke dalam langkah-langkah kegiatan pencapaian indikator dan target SPM;

Melakukan proyeksi kemampuan

pembiayaan program kegiatan yang akan dialokasikan untuk mendukung pencapaian indikator dan target SPM; dan

Merumuskan kesenjangan kemampuan keuangan daerah dalam pencapaian indikator dan target SPM dibanding dengan target nasional sesuai batas waktu perencanaan yang telah ditetapkan.

Agar rencana yang telah disusun oleh tim ini bisa dipakai sebagai acuan bagi seluruh SKPD dan dalam rangka pengendalian internal daerah, maka hasil perhitungan dan perumusan target pencapaian SPM yang telah disesuaikan dengan kemampuan daerah dan batas waktu pencapaian secara nasional ini perlu ditetapkan dalam Peraturan Kepala Daerah. Selanjutnya hasil perhitungan tersebut digunakan sebagai dasar dalam penyusunan perencanaan dan anggaran di daerah.

D. Kesimpulan

Dari uraian yang telah kami paparkan di atas, ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dalam tulisan ini. Pertama, SPM merupakan standar minimum pelayanan publik yang harus disediakan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat. Dengan adanya SPM maka akan terjamin kualitas minimum dari suatu pelayanan publik yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Kedua, SPM sangat mendesak untuk disusun, khususnya bagi kabupaten/kota yang memang secara langsung merupakan penyedia pelayanan publik. Ketiga, posisi Legislatif dalam pelaksanaan SPM adalah sebagai lembaga pengawas dan monitoring atas capaian kinerja berdasarkan pada SPM yang telah dibuat oleh Pemerintah Daerah. Sebagai perwakilan dari masyarakat, DPRD berhak untuk mengevaluasi, memonitoring dan memberikan masukan dan arahan guna tercapainya target yang telah ditetapkan dalam SPM.

(40)

Sesi 2

Integrasi SPM dalam

Perencanaan dan

penganggaran

Pengantar

Keberadaan SPM dalam perencanaan dan penganggaran amatlah strategis. Karena dengan adanya Strandart pelayanan minimal utamanya pada urusan wajib akan sangat membantu para perencana pembangunan daerah dalam menetukan indikator kinerja dan target capaiannya dalam kurun waktu tertentu.

Dalam sitem perencanaan daerah, SPM berfungsi sebagai input dalam menyusunnya dan Acuan penyusunan perencanaan program tahun berikutnya, SPM juga digunakan untuk mengukur target tahunan pemerintah daerah. Sementara Keberadaan SPM dalam Penganggaran adalah untuk menyusun target KUA, target penyerapan SPM, dan penyusunan anggaran dan kegiatan yang berhubungan dengan capaian SPM.

Dari empat belas bidang urusan yang telah diatur SPM-nya, Urusan Kesehatan merupakan salah satu dari tiga urusan yang ditentukan cukup mendetail,

sehingga memerlukan perhatian yang lebih dari pemerintah daerah, terkait dengan ketersediaan sumberdaya pendukung maupun anggarannya. Disamping itu juga oleh karena Urusan kesehatan, merupakan salah satu komponen penyusun utama dari indeks pembangunan manusia, sehingga

pencapaiannya akan berpengaruh cukup signiikan

terhadap peningkatan kualitas pembangunan di daerah.

Pemahaman yang mendalam tentang bagaimana integrasi SPM kedalam perencanaan dan penganggaran daerah sangat penting bagi DPRD agar kapasitas fungsi anggaran DPRD meningkat untuk mendorong Pelayanan Publik berbasis Standar Pelayanan Minimal.

TUJUAN

Secara umum dalam sesi ini bertujuan agar semua pihak yang terlibat dalam forum ini dapat memahami pentingnya integrasi SPM dalam Perencanaan dan Penganggaran Daerah.

Setelah sesi ini selesai, secara khusus peserta diharapkan mampu:

• Memahami siklus perencanaan dan

penganggaran daerah

• Memahami integrasi SPM dalam sistem

(41)

POKOK BAHASAN

Mengacu pada tujuan pembelajaran diatas, maka dalam topik ini akan membahas pokok bahasan tentang:

• Siklus Perencanaan dan Penganggaran Daerah • Integrasi SPM dalam perencanaan dan

penganggaran daerah

METODE

- Presentasi

- Brainstorming/ sumbang saran - Pertanyaan fokus

- Diskusi terfokus

BAHAN DAN

PERALATAN

Bahan yang diperlukan untuk sesi ini:

- Foto lapangan kondisi layanan Pendidikan, kesehatan Masyarakat

- LPF 2-3 : Integrasi SPM dalam Perencanaan dan Penganggaran daerah

- BB 2-3: Integrasi SPM dalam Perencanaan dan penganggaran daerah

Alat yang digunakan untuk memperlancar sesi ini: - LCD proyektor

- Kertas dan Spidol berwarna - Metaplan

1. Ucapkan salam kepada para peserta lokakarya. Jelaskan pokok bahasan, tujuan dan hasil yang ingin dicapai dari sesi ini.Usahakan suasana pembukaan lebih santai. Harapannya peserta akan lebih nyaman dengan forum dan tetap merasa membutuhkan.

2. Presentaskan LPF 2-3 tentang Integrasi SPM dalam Perencanaan dan penganggaran daerah 3. Berilah penjelasan seperlunya pada setiap Slide

4. Buka sesi tanya jawab untuk klariikasi maupun

tanggapan dari peserta.

5. Catat poin-poin penting dari proses diskusi kelas dan buatlah kesimpulan berdasarkan panduan output dan hasil yang diharapkan dari sesi ini dan bahan bacaan yang tersedia.

(42)
(43)

Peran dan Fungsi DPRD

dalam Peningkatan Pelayanan

Publik Berbasis Standar

(44)

DPRD dalam

Peningkatan

Pelayanan Publik

Berbasis Standar

...

DPRD dan Kepala

Daerah mempunyai

kedudukan yang

setara dan bersifat

kemitraan

...

Budgeting,

Controlling

DPRD dalam Mendorong

Pelayanan Publik yang

Adil dan Berkualitas

Pengantar

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengatur bahwa DPRD dan Kepala Daerah mempunyai kedudukan yang setara dan bersifat kemitraan. Dalam kedudukan kerja yang setara antara Eksekutif dan Legislatif tersebut tidak hanya terkandung makna kesetaraan dalam hal otoritas tetapi juga semestinya setara dalam hal tanggung jawab dan kapasitas dalam memastikan proses pemerintahan dan pembangunan berjalan dengan baik. Untuk itu, DPRD memegang tiga peranan penting yaitu, fungsi budgeting, memastikan bahwa anggaran dialokasikan dengan tepat baik dalam hal sasaran, jumlah maupun waktunya, fungsi monitoring dan evaluasi mengawasi penggunaan anggaran serta fungsi legislasi, merancang

kebijakan-kebijakan serta regulasi yang mendukung terciptanya pelayanan publik yang baik, terjangkau dan bermutu.

(45)

di dalam mendorong meningkatnya mutu pelayanan publik. Namun demikian, sampai dengan tahun ke 14 diberlakukannya otonomi daerah, peran DPRD dirasa belum maksimal memberikan solusi yang efektif untuk peningkatan mutu pelayanan publik utamanya pelayanan bidang kesehatan. Hal ini disebabkan oleh berbagai masalah dan kendala baik internal (kapasitas individu dan kelembagaan) maupun external (regulasi dan jaringan).

Untuk itu, melalui proses fasilitasi pada Sesi ini, peserta akan mendapatkan serangkaian pokok bahasan yang berkenaan langsung dengan Optimalisasi Fungsi DPRD dalam mendorong peningkatan Mutu pelayanan publik bidang kesehatan. Diharapkan di akhir sesi ini, terjadi peningkatan kapasitas anggota DPRD terutama pada aspek kesadaran atas tanggungjawab mereka untuk menjalankan ke tiga fungsi kedewanan tersebut dengan sungguh-sungguh. Sehingga hasil-hasil pembangunan daerah utamanya Bidang kesehatan dimana DPRD bekerja dapat dirasakan manfaatnya oleh publik.

TUJUAN

Secara umum dalam sesi ini bertujuan agar semua pihak yang terlibat dalam forum ini dapat memahami bagaimana cara yang efektif optimalisasi fungsi-fungsi DPRD dalam mendorong peningkatan mutu pelayanan publik.

Setelah sesi ini selesai, secara khusus peserta diharapkan mampu:

• Memahami fungsi anggaran dalam kaitannya

untuk mendorong kualitas layanan publik Bidang kesehatan

• Memahami fungsi legislasi untuk memastikan

implementasi pelayanan publik kesehatan berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku, termasuk adanya jaminan bagi warga untuk pelayanan kesehatan dasar dari Negara melalui pemerintah

• Memahami fungsi pengawasan dalam rangka

memastikan implementasi pelayanan public kesehatan on the track.

• Memahami data pencapaian SPM Bidang

Kesehatan dan menjadikannya sebagai bahan pembahasan pengalokasian anggaran kegiatan untuk percepatan pencapaian SPM.

• Membangun koalisi dengan para pihak-pihak

terkait seperti perguruan tinggi, OMS dan media dalam rangka efektivitas pengawasan pelayanan publik

POKOK BAHASAN

Mengacu pada tujuan pembelajaran diatas, maka dalam ubli ini akan membahas pokok bahasan tentang

• Pengantar Fungsi DPRD terkait dengan

anggaran, legislasi dan pengawasan dalam rangka peningkatan kualitas layanan public di Bidang kesehatan

• Data pencapaian SPM bidang kesehatan

(46)

METODE

- Presentasi

- Brainstorming / sumbang saran - Pertanyaan ubli

- Diskusi terfokus

BAHAN DAN

PERALATAN

Bahan yang diperlukan untuk sesi ini:

- BB 3-1: Optimalisasi Fungsi DPRD dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik di Bidang kesehatan

- LPF 3-1A : Optimalisasi Fungsi DPRD dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik di Bidang kesehatan

- LKK 3-1: Data capaian jenis pelayanan SPM Kesehatan

- LPF 3-1B : Pentingnya pelibatan para pihak dalam pengawasan pelayanan publik.

Alat yang digunakan untuk memperlancar sesi ini:

- LCD proyektor

- Kertas dan Spidol berwarna - Metaplan

Sub Pokok bahasan 1

Optimalisasi Fungsi DPRD dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik pada Bidang kesehatan, alokasi waktu 30 menit.

1. Ucapkan salam pembuka kepada para peserta lokakarya. Jelaskan pokok bahasan, tujuan dan hasil yang ingin dicapai dari sesi ini.

2. Sampaikan materi dengan topik bahasan Optimalisasi Fungsi DPRD dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik pada Bidang kesehatan dengan metode presentasi (LPF 3-1A).

3. Berilah penjelasan seperlunya setiap Slide. 4. Setelah selesai presentasi beri kesempatan

kepada peserta untuk tanya jawab dan sharing pengalaman terhadap praktik-praktik baik dalam optimalisasi pelaksanaan 3 fungsi DPRD yang selama ini sudah dilakukan, seperti misalnya ketika DPRD melaksanakan:

• Fungsi Anggaran

(47)

seperti RPJMD, Rentsra SKPD, RKPD dan Renja SKPD serta KUA-PPAS sudah mengakomodasi SPM sebagai prioritas.

b) Apakah DPRD sudah dapat memastikan bahwa struktur dan alokasi belanja kegiatan/program SKPD sehat,

memastikan tidak ada alokasi anggaran yang berpotensi untuk Boros/tidak

eisien/bocor atau untuk pemenuhan

fasilitas aparatur yang melampaui batas kewajaran, sehingga mempengaruhi

supporting program pencapaian SPM. c) Apakah DPRD sudah dapat memastikan

ketersediaan dan kecukupan alokasi anggaran yang maksimal untuk program yang mendukung pencapaian SPM dan MDGs.

d) Dalam membahas rancangan APBD yang diajukan eksekutif DPRD dapat memastikan bahwa APBD berpihak kepada program untuk pemenuhan SPM Kesehatan, jika belum DPRD dapat melakukan realokasi anggaran program/ kegiatan yang tidak efektif dan tidak

eisien ke program dan kegiatan yang

manfaatnya untuk pemenuhan SPM kesehatan.

• Fungsi Legislasi

Bagaimana DPRD memastikan adanya regulasi yang menjamin warga berhak mendapatkan pelayanan publik di Bidang kesehatan secara optimal. Selain itu juga

memastikan aturan yang ada selama ini tidak merugikan masyarakat.

• Fungsi Pengawasan

Bagaimana DPRD mampu melakukan Budget Tracking (penelusuran anggaran). Tracking anggaran untuk memastikan apakah anggaran digunakan secara

eisien, efektif, transparan dan akuntabel

dan apakah output, outcome dan dampak anggaran mengena pada kelompok sasaran (masyarakat penerima manfaat). Termasuk juga melakukan pengawasan pelaksanaan kebijakan daerah apakah sesuai dengan rencananya.

5. Catat dalam kertas plano poin-poin penting dari diskusi kelas seluruh sharing pengalaman peserta, jika sudah banyak contoh /praktik-praktik yang baik optimalisasi fungsi DPRD selama ini ajukan pertanyaan bagaimana cara mempertahankan prakti-praktik baik tersebut?, namun jika belum banyak contoh baik

(48)

Sub Pokok Bahasan 2

Data capaian SPM bidang kesehatan dalam

pembahasan APBD. Alokasi waktu 60 menit.

1. Ingatkan kepada peserta lokakarya bahwa sesi ini merupakan lanjutan dari sesi Optimalisasi Fungsi DPRD dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik, namun lebih teknis yaitu pentingnya DPRD mengetahui sejauhmana data capaian SPM pada Bidang kesehatan di Kabupaten/kotanya sampai dengan tahun terakhir. data tersebut sangat penting karena merupakan informasi dasar untuk pembahasan program/kegiatan SKPD Bidang kesehatantahun berjalan dan yang akan datang.

2. tayangkan jenis pelayanan kesehatan dan target capaiannya yang tertuang dalam perbup (Kabupaten/Kota yang sudah ada perbup tentang SPM kesehatan) atau Permenkes 741 tahun 2008 (bagi Kabupaten/kota yang belum ada perbupnya) yang harus dipenuhi oleh daerah. 3. Bagi peserta menjadi 4 kelompok, kelompok

satu bertugas mengidentiikasi capaian

sampai dengan tahun terakhir SPM jenis pelayanan kesehatan dasar, kelompok

dua bertugas mengidentiikasi capaian jenis pelayanan kesehatan rujukan, kelompok

tiga bertugas mengidentiikasi capaian jenis

pelayanan Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa /KLB

dan kelompok empat bertugas mengidentiikasi

capaian jenis pelayanan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

4. Bagikan LKK 3-1 (Lembar kerja kelompok) Data capaian jenis pelayanan SPM Kesehatan. 5. Berilah penjelasan singkat cara mengisi setiap

kolom matrik, alokasi waktu diskusi, dan presentasi setiap kelompok.

6. Intrusikan kepada masing-masing kelompok untuk mengisi data target setiap item jenis pelayanan (sumber data perbub SPM atau Permenkes SPM kesehatan), kemudian juga capaian setiap jenis pelayanan sampai dengan tahun terakhir (sumber data LKPJ Bupati/ Walikota tahun terakhir bab-1 dan bab -4 atau RKPD tahun terakhir).

7. setelah isian selesai, ajukan beberapa pertanyaan kunci untuk disiskusikan dalam setiap kelompok:

• Apakah setiap target jenis pelayanan

bidang kesehatan sampai tahun terakhir sudah tercapai atau kah masih ada yang

belum? Identiikasi jenis pelayanan yang

sudah tercapai, melampaui dan yang belum tercapai?

• Jika ada jenis pelayanan yang belum

mencapai target, Mengapa belum tercapai? Apakah dalam dokumen LKPJ ada

penjelasannya?

• Dari setiap jenis pelayanan kesehatan yang

belum memenuhi target? Bagaimana cara yang efektif untuk memenuhi target kinerja untuk tahun yang akan datang

• Tulis hasil diskusi kelompok dalam kertas

plano untuk dipresentasikan.

(49)

9. Setiap satu presentasi selesai, doronglah peserta untuk memberi tambahan, tanggapan dan pertanyaan. Berilah waktu secukupnya kepada mereka.

10. Simpulkan sesi ini dengan menggaris bawahi

hal-hal yang penting hasil diskusi kelompok dan tanggapan peserta. Dan Pastikan hal-hal penting benar-benar diperhatikan peserta.

(Note: Bila dipandang waktu dan terutama kondisi peserta tidak memungkinkan adanya diskusi kelompok, Fasilitator bisa menggunakan metode metaplan untuk mengisi matrik data capaian SPM bidang kesehatan).

Sub Pokok Bahasan 3

Membangun koalisi dengan para pihak. Alokasi waktu 30 menit

Sesi ini masih merupakan lanjutan dari sesi terdahulu penekanan pada subpokok bahasan Pentingnya pelibatan para pihak dalam pengawasan pelayanan publik, para pihak yang cukup efektif untuk diajak bersama-sama adalah Pers/media dan NGO.

1. Sub pokok bahasan ini lebih baik jika dimulai dengan Brainstorming / sumbang saran, Fasilitator pengundang peserta berbagi pengalaman pentingnya berkoalisasi para pihak dalam rangka memperkuat pengawasan pelayanan publik.

2. Pertanyaan awal sebagai pembuka diskusi dapat di kemukakan misalnya Siapa (pers/ media Apa dan NGO mana) yang cukup efektif dilibatkan?, Bagaimana pengalaman para peserta lokakarya dalam mengajak para pihak untuk terlibat?. dsb

3. Catat semua pendapat peserta pada kertas plano yang sudah tersedia.

4. Tayangkan bahan Presentasi (LPF 3-1B) ‘’Pentingnya pelibatan para pihak dalam pengawasan pelayanan publik’’

5. Setelah selesai presentasi beri kesempatan kepada peserta untuk tanya jawab catat semua poin penting pada sesi ini.

(50)

Optimalisasi Fungsi DPRD Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Layanan Publik di Bidang Kesehatan

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, khususnya pasal 343 ditegaskan bahwa anggota DPRD Kabupaten/ Kota mempunyai fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Ketiga fungsi tersebut dilaksanakan sebagai wujud representasi rakyat di Kabupaten/Kota.

Fungsi legislasi DPRD diwujudkan dalam bentuk pengesahan sebuah peraturan daerah baik yang diusulkan oleh eksekutif maupun hasil inisiatif DPRD sendiri. DPRD memiliki kewenangan untuk memastikan hal-hal yang diatur dalam dalam perda tersebut melindungi masyarakat. Bukan sebaliknya justru merugikan atau membebani masyarakat. Dalam konteks ini, sebagai representasi rakyat yang diwakilinya, anggota DPRD adalah pembuat nilai, norma, hukum yang merepresentasikan kebutuhan rakyat dan perda inisiatif adalah salah satu bentuk

memastikan pelayanan dasar pada rakyat dilaksanakan.

DPRD bisa memberikan kontribusi yang besar bagi peningkatan pelayanan dasar rakyat, seperti pelayanan pendidikan dan kesehatan yang menjadi ukuran capaian pembangunan daerah dan nasional. Capaian ukuran pembangunan suatu negara diukur dari tujuan-tujuan yang tertuang dalam Tujuan Pembangunan Milenium/Millennium Development Goals (MDGs) dan diukur secara rinci dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM), di mana sangat erat kaitan dengan pelayanan dasar kepada rakyat.

memberikan perhatian pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat termiskin

dengan menggali masalah di kantong-kantong kemiskinan baik di desa maupun di kota, tinggal dengan masyarakat miskin dan mendengarkan ‘Suara orang miskin’. Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan, menjadikan persoalan mereka diakomodir ke dalam pasal-pasal di perda.

Fungsi anggaran (budgeting) merupakan fungsi DPRD untuk memberikan persetujuan ataupun penolakan atas rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) yang diusulkan oleh pemerintah daerah (eksekutif). Fungsi ini amat penting mengingat seluruh aktivitas pemerintah daerah dituangkan dalam dokumen RAPBD.

RAPBD yang telah disahkan DPRD menjadi APBD ini akan menjadi dokumen otoritatif yang memberikan kewenangan pada Pemerintah daerah untuk mengambil tindakan (eksekusi) dalam rangka pelaksanaan APBD. Dalam konteks inilah maka Perda APBD berfungsi sebagai “otorisasi parlementer”. Melalui perda APBD tersebut pemerintah daerah diberikan kewenangan melakukan pemungutan penerimaan daerah dan membuat pengeluaran dalam plafon anggaran yang telah ditetapkan.

Dalam konteks penganggaran untuk pelayanan publik, fungsi ini diwujudkan melalui pembahasan dan penetapan APBD oleh Badan Anggaran DPRD maupun komisi-komisi terkait.

Gambar

Gambar Siklus Perencanaan Manajemen Dalam Mencapai Tujuan Kebijakan
Tabel 3

Referensi

Dokumen terkait

FUNGSI PENGAWASAN DPRD (Studi Tentang Pengelolaan Konflik Kepentingan Antara Kepentingan Partai Politik dan Kepentingan Publik pada DPRD Provinsi Riau) ” Mar Syahid,

FUNGSI PENGAWASAN DPRD (Studi Tentang Pengelolaan Konflik Kepentingan Antara Kepentingan Partai Politik dan Kepentingan Publik pada DPRD Provinsi Riau) ” Mar Syahid,

Dalam upaya pelaksanaan fungsi legislasi sekaligus sebagai wujud perwakilan rakyat, adanya fungsi legislasi yang melekat pada DPRD diharapkan dapat dimanfaatkan

Pelayanan dan fasilitasi terhadap DPRD belum optimal Lemahnya standar mutu pelayanan Sekretariat DPRD merupakan unsur supporting bagi pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD

TUGAS DAN WEWENANG ANGGOTA DPR RI FUNGSI LEGISLASI FUNGSI ANGGARAN FUNGSI PENGAWASAN FUNGSI LAINNYA -Menyusun Prolegnas Menyusun dan membahas RUU - Membahas RUU yang diusulkan

Melalui 3 tiga kerangka kerja konvensional legislasi, anggaran, dan pengawasan serta peran konstituante dan diplomasi, parlemen diharapkan dapat menyusun agenda ESG, mendorong

Selanjutnya mengenai fungsi legislasi yang dijalankan oleh DPRD kabupaten Halmahera Selatan sesuai dengan hasil wawancara bersama ketua badan legislasi, menyatakan bahwa : DPRD tidak

Dokumen ini berisi panduan pelayanan kefarmasian di Puskesmas Tanjunganom, mencakup pengelolaan sediaan farmasi, pelayanan farmasi klinik, pelaporan, pembinaan, dan