• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prak Farmakokinetik Hayati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prak Farmakokinetik Hayati"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

TUJUAN TUJUAN

Agar mahasiswa dapat memahami langkah

Agar mahasiswa dapat memahami langkah

 – 

 – 

 langkah analisis obat dalam cairan hayati.

 langkah analisis obat dalam cairan hayati.

II.

II. DASAR TEORIDASAR TEORI

Parameter farmakokinetika suatu obat dihitung dari konsentrasi obat dalam cuplikan hayati

Parameter farmakokinetika suatu obat dihitung dari konsentrasi obat dalam cuplikan hayati

yang sesuai, dapat berupa : darah, urin, air ludah, dahak, cairan lainnya yang relevan atau

yang sesuai, dapat berupa : darah, urin, air ludah, dahak, cairan lainnya yang relevan atau

mengandung obat, tetapi yang paling sering adalah darah atau urin. Cuplikan urin dapat

mengandung obat, tetapi yang paling sering adalah darah atau urin. Cuplikan urin dapat

digunakan dengan baik jika obat/metabolit diekskresikan cukup banyak dalam urin dan

digunakan dengan baik jika obat/metabolit diekskresikan cukup banyak dalam urin dan

ditampung secara sem

ditampung secara sem

 purna sampai waktu tak terhingga (t∞).

 purna sampai waktu tak terhingga (t∞).

Cuplikan darah sangat relevan, karena semua proses obat dalam tubuh melibatkan darah

Cuplikan darah sangat relevan, karena semua proses obat dalam tubuh melibatkan darah

sebagai media, suatu alat ukur dari organ satu ke organ lain seperti absorpsi, distribusi,

sebagai media, suatu alat ukur dari organ satu ke organ lain seperti absorpsi, distribusi,

metabolisme, ekskresi. Oleh karena itu, agar nilai

metabolisme, ekskresi. Oleh karena itu, agar nilai

 – 

 – 

 nilai parameter obat dapat dipercaya, metode

 nilai parameter obat dapat dipercaya, metode

 penetapan

 penetapan kadar

kadar harus

harus memenuhi

memenuhi kriteria,

kriteria, yaitu

yaitu meliputi

meliputi perolehan

perolehan kembali

kembali (recovery),

(recovery), presisi

presisi

dan akurasi. Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting hal mana nilainya

dan akurasi. Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting hal mana nilainya

tergantung dari alat ukur yang dipakai.

tergantung dari alat ukur yang dipakai.

Perolehan Kembali

Perolehan Kembali

Perolehan kembali (recovery) adalah suatu tolak ukur efisiensi analisis dan dapat bernilai

Perolehan kembali (recovery) adalah suatu tolak ukur efisiensi analisis dan dapat bernilai

 positive dan negative. Dirumuskan sebagai berikut :

 positive dan negative. Dirumuskan sebagai berikut :

Perolehan

Perolehan kembali

kembali =

=

kadar

kadar terukur

terukur x

x 100%

100%

Kadar diketahui

Kadar diketahui

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat

memberikan nilai perolehan kembali yang ting

memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75

gi (75

 – 

 – 

 90%) atau lebih.

 90%) atau lebih.

Akurat

Akurat

Akurat atau tepat adalah bahwa hasil yang diperoleh adalah mendekati nilai yang sebenarnya.

Akurat atau tepat adalah bahwa hasil yang diperoleh adalah mendekati nilai yang sebenarnya.

Misal dalam pengukuran sampel diperoleh nilai 100 ppm (kadar terukur), dan memang diketahui

Misal dalam pengukuran sampel diperoleh nilai 100 ppm (kadar terukur), dan memang diketahui

kadar sampel tersebut adalah 100 ppm (kadar sebenarnya).

kadar sampel tersebut adalah 100 ppm (kadar sebenarnya).

Akurat jika kadar terukur = kadar sebenarnya.

Akurat jika kadar terukur = kadar sebenarnya.

Kesalahan sistematik merupakan tolak ukur inakurasi penetapan kadar. Kesalahan ini dapat

Kesalahan sistematik merupakan tolak ukur inakurasi penetapan kadar. Kesalahan ini dapat

 berupa kesalahan konstan atau proposional. Rumus dari kesalahan sistematik adalah:

 berupa kesalahan konstan atau proposional. Rumus dari kesalahan sistematik adalah:

Kesalahan sistematik = 100

(2)

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak

kurang dari 10%.

kurang dari 10%.

Presisi

Presisi

Presisi/teliti adalah dalam tiap kali replikasi pengukuran diperoleh hasil yang sama atau

Presisi/teliti adalah dalam tiap kali replikasi pengukuran diperoleh hasil yang sama atau

mendekati. Misalnya dilakukan replikasi penetapan kadar sampel x, diperoleh seperti pada tabel

mendekati. Misalnya dilakukan replikasi penetapan kadar sampel x, diperoleh seperti pada tabel

 berikut :

 berikut :

Percobaan

Hasil

Percobaan

Hasil

1

1

80

80 ppm

ppm

2

2

82

82 ppm

ppm

3

3

83

83 ppm

ppm

Hasil pengukuran sampel dengan tiga replikasi didapatkan hasil yang mendekati, maka metode

Hasil pengukuran sampel dengan tiga replikasi didapatkan hasil yang mendekati, maka metode

tersebut adalah teliti.

tersebut adalah teliti.

Kesalahan acak (random analytical error) merupakan tolak ukur imprecision suatu analisis, dan

Kesalahan acak (random analytical error) merupakan tolak ukur imprecision suatu analisis, dan

dapat bersifat positive /negative. Kesalah acak identik dengan variabilitas pengukuran dan

dapat bersifat positive /negative. Kesalah acak identik dengan variabilitas pengukuran dan

dicerminkan oleh tetapan variasi. Rumus dari kesalahan acak adalah :

dicerminkan oleh tetapan variasi. Rumus dari kesalahan acak adalah :

Kesalahan acak =

Kesalahan acak = simpangan baku

simpangan baku x 100 %

x 100 %

Harga rata

Harga rata – 

 – 

 rata

 rata

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak

kurang dari 10%.

kurang dari 10%.

Sensitive

Sensitive

Sensitive/peka adalah bahwa metode tersebut dapat/ mampu mengukur analit dalam kadar yang

Sensitive/peka adalah bahwa metode tersebut dapat/ mampu mengukur analit dalam kadar yang

sangat kecil sekalipun.

sangat kecil sekalipun.

Selektif

Selektif

Bahwa metode tersebut selektif terhadap senyawa tertentu saja artinya metode terebut selektif

Bahwa metode tersebut selektif terhadap senyawa tertentu saja artinya metode terebut selektif

menguukur kadar senyawa yang diinginkan dengan baik tanpa terganggu oleh senyawa pengotor

menguukur kadar senyawa yang diinginkan dengan baik tanpa terganggu oleh senyawa pengotor

yang lain.

yang lain.

PEMBAHASAN PEMBAHASAN

Pada praktikum ini pertama

Pada praktikum ini pertama – 

 – 

 tama dibuat kurva baku dari asam salisilat untuk mencari nilai

 tama dibuat kurva baku dari asam salisilat untuk mencari nilai

a dan b dalam persamaan kurva baku y = a + bx. Kemudian dilakukan penetapan kadar asam

a dan b dalam persamaan kurva baku y = a + bx. Kemudian dilakukan penetapan kadar asam

salisilat.

salisilat.

Sampel yang berupa darah ditambahkan Na

Sampel yang berupa darah ditambahkan Na

22

EDTA dengan tujuan untuk 

EDTA dengan tujuan untuk koagulasi darah

koagulasi darah

agar tidak mengental. Kemudian sampel tersebut ditambahkan TCA 10% sebanyak 2 ml yang

agar tidak mengental. Kemudian sampel tersebut ditambahkan TCA 10% sebanyak 2 ml yang

(3)

dihomogenkan. TCA 10% digunakan untuk deproteinisasi pada sampel darah. Apabila protein

dihomogenkan. TCA 10% digunakan untuk deproteinisasi pada sampel darah. Apabila protein

 pada sampel tidak dihilangkan maka

 pada sampel tidak dihilangkan maka akan mengganggu absorbsi. Setelah

akan mengganggu absorbsi. Setelah itu, sampel disentrifuge

itu, sampel disentrifuge

3000rpm selama 15 menit. Dalam praktikum ini, sentrifuge dilakukan sabanyak dua kali karena

3000rpm selama 15 menit. Dalam praktikum ini, sentrifuge dilakukan sabanyak dua kali karena

filtrat belum bening pada sentrifuge pertama. Sampel dipindahkan ketabung lain (filtrat atas atas

filtrat belum bening pada sentrifuge pertama. Sampel dipindahkan ketabung lain (filtrat atas atas

saja) lalu ditambahkan TCA 10% 1 ml dan sentrifuge kembali.

saja) lalu ditambahkan TCA 10% 1 ml dan sentrifuge kembali.

Setelah di

Setelah didapat filtrat bening, samel dibaca absorbansinya dengan ƛ = 256 nm menggunakan

dapat filtrat bening, samel dibaca absorbansinya dengan ƛ = 256 nm menggunakan

spektrofotometer uv-vis. Setelah itu, didapat kadar dan dapat dihitung recovery, kesalahan acak,

spektrofotometer uv-vis. Setelah itu, didapat kadar dan dapat dihitung recovery, kesalahan acak,

dan kesalahan sistemik.

dan kesalahan sistemik.

Dari hasil analisis yang didapat, racovery pada sampel melebihi persyaratannya 90%

Dari hasil analisis yang didapat, racovery pada sampel melebihi persyaratannya 90%

-110%. Ini menunjukkan bahwa data tidak valid sehingga tidak dapat digunakan sebagai kinetika

110%. Ini menunjukkan bahwa data tidak valid sehingga tidak dapat digunakan sebagai kinetika

obat. Data recovery tersebut disimpulkan tidak efisien.

obat. Data recovery tersebut disimpulkan tidak efisien.

Selanjutnya pada perhitungan kesalahan acak pada sampel 1,3, dan 6 hasilya melampaui dari

Selanjutnya pada perhitungan kesalahan acak pada sampel 1,3, dan 6 hasilya melampaui dari

10% sedangkan pada sampel 2,4, dan 5 hasilnya kurang dari 10%. Sehingga dapat disimpulkan

10% sedangkan pada sampel 2,4, dan 5 hasilnya kurang dari 10%. Sehingga dapat disimpulkan

 bahwa data sampel 1,3, dan 6 tidak efisien sedangkan sampel 2,4, dan 5 teliti dan efisien.

 bahwa data sampel 1,3, dan 6 tidak efisien sedangkan sampel 2,4, dan 5 teliti dan efisien.

Perhitungan yang terakhir adalah kesalahan sistemik. Hasil yang didapat dari penelitian ini

Perhitungan yang terakhir adalah kesalahan sistemik. Hasil yang didapat dari penelitian ini

yaitu mee\lebihi persyaratan kesalahan sistemik 10%. Data ini dinyatakan tidak akurat dan tidak

yaitu mee\lebihi persyaratan kesalahan sistemik 10%. Data ini dinyatakan tidak akurat dan tidak

efisien. Dari ketiga perhitungan ini, data

efisien. Dari ketiga perhitungan ini, data – 

 – 

 data yang diperoleh sebagian besar tidak valid. Hal ini

 data yang diperoleh sebagian besar tidak valid. Hal ini

disebsbkan beberapa faktor, antara lain : kesalahan pada waktu pembuatan larutan, kesalahan

disebsbkan beberapa faktor, antara lain : kesalahan pada waktu pembuatan larutan, kesalahan

 pada alat/instrumen

 pada alat/instrumen yang digunakan,

yang digunakan, dan kesalahan

dan kesalahan pada praktikan

pada praktikan sendiri. Dimana

sendiri. Dimana kurang teliti

kurang teliti

dalam menganalisis data yang diperoleh. Oleh sebab itu, diperlukan ketelitian dalam

dalam menganalisis data yang diperoleh. Oleh sebab itu, diperlukan ketelitian dalam

menggunakan alat dan mengamati data yang diperoleh selama percobaan berlangsung.

menggunakan alat dan mengamati data yang diperoleh selama percobaan berlangsung.

VIII. KESIMPULAN VIII. KESIMPULAN No No KadarKadar sebenarnya sebenarnya Kadar terukur

Kadar terukur recoveryrecovery KesalahanKesalahan sistemik  sistemik  Kesalahan acak  Kesalahan acak 

1

1

150

150

195,36

195,36

130,24%

130,24%

30,24%

30,24%

10,57%

10,57%

2

2

150

150

193,19

193,19

128,793%

128,793%

28,793%

28,793%

7,71%

7,71%

3

3

150

150

193,21

193,21

128,81%

128,81%

28,81%

28,81%

10,96%

10,96%

4

4

150

150

206,44

206,44

137,627%

137,627%

37,627%

37,627%

0,55%

0,55%

5

5

150

150

211,6

211,6

141,067%

141,067%

41,067%

41,067%

2,47

2,47

(4)

6

6

150

150

175,47

175,47

116,98%

116,98%

16,98%

16,98%

15,15%

15,15%

Jadi dapat disimpulkan bahwa metode analisa ini tidak dapat digunakan untuk menentukan kadar

Jadi dapat disimpulkan bahwa metode analisa ini tidak dapat digunakan untuk menentukan kadar

asam salisilat dalam plasma darah karena hasilnya tidak efisien, tidak tepat, dan tidak teliti.

asam salisilat dalam plasma darah karena hasilnya tidak efisien, tidak tepat, dan tidak teliti.

Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva, atau cairan tubuh lainnya). utuh dan atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva, atau cairan tubuh lainnya). Dalam praktikum

Dalam praktikumkalikali ini dilakukan penentuan jangka waktu larutan obat yang member respon tetapini dilakukan penentuan jangka waktu larutan obat yang member respon tetap (khususnya untuk reaksi warna), pembuatan kurva baku, perhitungan nilai perolehan kembali, (khususnya untuk reaksi warna), pembuatan kurva baku, perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak, dan kesalahan sistemik.

kesalahan acak, dan kesalahan sistemik.

Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai criteria yaitu meliputi perolehan kembali, presisi, dan akurasisi. harus memenuhi berbagai criteria yaitu meliputi perolehan kembali, presisi, dan akurasisi. Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memperoleh Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memperoleh nilai perolehan kembali yang tinggi (75% - 90% atau lebih), kesalahan acak dan kesalahan sistemik nilai perolehan kembali yang tinggi (75% - 90% atau lebih), kesalahan acak dan kesalahan sistemik kurang dari 10%.

kurang dari 10%.

Kepekaan dan selektivitas merupakan criteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula Kepekaan dan selektivitas merupakan criteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula dari alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu dari alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu dikerjakan untuk optimalisasi analisis meliputi :

dikerjakan untuk optimalisasi analisis meliputi :

a.

a.

Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan respon tetap

Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan respon tetap

(khususnya untuk reaksi warna)

(khususnya untuk reaksi warna)

b.

b.

Penetapan panjang gelombang larutan obat yang member respon maksimum

Penetapan panjang gelombang larutan obat yang member respon maksimum

c.

c.

Pembuatan kurva baku

Pembuatan kurva baku

d.

d.

Perhitungan nilai perolehan kembali, dengan rumus :

Perhitungan nilai perolehan kembali, dengan rumus :

Perolehan kembali = kadar obat terukur x 100%

Perolehan kembali = kadar obat terukur x 100%

kadar diketahui

kadar diketahui

Faktor-faktor penentu dalam proses farmakokinetika adalah :

Faktor-faktor penentu dalam proses farmakokinetika adalah :

a.

a.

Sistem kompartemen dalam cairan tubuh, seperti cairan intrasel, ekstrasel (plasma

Sistem kompartemen dalam cairan tubuh, seperti cairan intrasel, ekstrasel (plasma

darah, cairan interstitial, cairan cerebrospinal), dan berbagai fasa lipofil dalam tubuh.

darah, cairan interstitial, cairan cerebrospinal), dan berbagai fasa lipofil dalam tubuh.

b.

b.

Protein plasma, protein jaringan dan berbagai senyawa biologis yang mungkin dapat

Protein plasma, protein jaringan dan berbagai senyawa biologis yang mungkin dapat

mengikat obat.

(5)

c.

c.

Distribusi obat dalam berbagai system kompartemen biologis, terutama hubungan

Distribusi obat dalam berbagai system kompartemen biologis, terutama hubungan

waktu dan kadar obat dalam berbagai system tersebut, yang sangat menentukan

waktu dan kadar obat dalam berbagai system tersebut, yang sangat menentukan

kinetika obat.

kinetika obat.

d.

d.

Dosis sediaan obat, transport antar kompartemen seperti proses absorpsi,

Dosis sediaan obat, transport antar kompartemen seperti proses absorpsi,

bioaktivasi, biodegradasi dan ekskresi yang menentukan lama obat dalam tubuh.

bioaktivasi, biodegradasi dan ekskresi yang menentukan lama obat dalam tubuh.

Karena konsentrasi obat adalah elemen penting untuk menentukan farmakokinetika suatu Karena konsentrasi obat adalah elemen penting untuk menentukan farmakokinetika suatu individu maupun populasi konsentrasi obat diukur dalam sampel biologis seperti air susu, saliva, individu maupun populasi konsentrasi obat diukur dalam sampel biologis seperti air susu, saliva, plasma, dan urine. Sensitivitas, akurasi, presisi dari metode analisis harus ada untuk pengukuran plasma, dan urine. Sensitivitas, akurasi, presisi dari metode analisis harus ada untuk pengukuran secara langsung obat dalam matriks biologis. Untuk itu metode penetapan kadar secara umum perlu secara langsung obat dalam matriks biologis. Untuk itu metode penetapan kadar secara umum perlu divalidasi sehingga informasi yang akurat didapatkan untuk

divalidasi sehingga informasi yang akurat didapatkan untuk monitoringmonitoring farmakofarmakokinetik dan kinetik dan klinik.klinik. Dalam sebuah analisis obat dalam cairan hayati, ada hal-hal penting dalam farmakokinetika Dalam sebuah analisis obat dalam cairan hayati, ada hal-hal penting dalam farmakokinetika yang digunakan sebagai parameter-parameter antara lain yaitu :

yang digunakan sebagai parameter-parameter antara lain yaitu :

a.

a.

Tetapan (laju) invasi (tetapan absorpsi).

Tetapan (laju) invasi (tetapan absorpsi).

b.

b.

Volume distribusi menghubungkan jumlah obat di dalam tubuh dengan konsentrasi

Volume distribusi menghubungkan jumlah obat di dalam tubuh dengan konsentrasi

obat (c) di dalam darah atau plasma.

obat (c) di dalam darah atau plasma.

c.

c.

Ikatan protein

Ikatan protein

d.

d.

Laju eliminasi dan waktu paruh (t½)

Laju eliminasi dan waktu paruh (t½)

e.

e.

Bersihan (clearance) renal, ekstra renal, dan total

Bersihan (clearance) renal, ekstra renal, dan total

f.

f.

Luas daerah di bawah kurva (AUC)

Luas daerah di bawah kurva (AUC)

g.

g.

Ketersediaan hayati

Ketersediaan hayati

TUJUAN PERCOBAAN TUJUAN PERCOBAAN

-- Mempelajari langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayatiMempelajari langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati

-- Memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayatiMemahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati

-- Memvalidasi prosedur analisis obat dalam cairan hayatiMemvalidasi prosedur analisis obat dalam cairan hayati II.

II. DASAR TEORIDASAR TEORI

Efek terapi suatu obat biasanya baru terlihat sesudah zat aktifnya melalui sistem Efek terapi suatu obat biasanya baru terlihat sesudah zat aktifnya melalui sistem pembuluh aorta

pembuluh aorta  lalu masuk ke hati dan kembali masuk ke peredaran darah dan  lalu masuk ke hati dan kembali masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh jaringan badan.

didistribusikan ke seluruh jaringan badan.

Ketersediaan hayati suatu obat dapat diukur pada keadaan pasien yang Ketersediaan hayati suatu obat dapat diukur pada keadaan pasien yang bersangkutan (secara in vivo) dengan menentukan kadar dalam plasma darah setelah bersangkutan (secara in vivo) dengan menentukan kadar dalam plasma darah setelah mencapai keseimbangan antara serum cairan tubuh (kedaan tunak). Ada korelasi yang mencapai keseimbangan antara serum cairan tubuh (kedaan tunak). Ada korelasi yang baik antara kadar obat dalam plasma dengan efek terapi.

(6)

Ketersediaan hayati digunakan untuk member gambaran mengenai keadaan dan Ketersediaan hayati digunakan untuk member gambaran mengenai keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari bentuk sediaan dan digambarkan dengan kurva kecepatan obat diabsorbsi dari bentuk sediaan dan digambarkan dengan kurva kadar-waktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan biologic atau larutan sperti darah waktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan biologic atau larutan sperti darah dan urine.

dan urine.

Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan: Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan: 1.

1. Jumlah atau bagian obat yang diabsorbsi dari bentuk sediaan.Jumlah atau bagian obat yang diabsorbsi dari bentuk sediaan. 2.

2. Kecepatan obat diabsorbsi.Kecepatan obat diabsorbsi. 3.

3. Masa kerja obat berada di dalam cairan biologik atau jaringan, bila dihubungkan denganMasa kerja obat berada di dalam cairan biologik atau jaringan, bila dihubungkan dengan respon pasien.

respon pasien. 4.

4. Hubungan antara kadar obat dalam darah dengan efektivitas terapi/efek toksik.Hubungan antara kadar obat dalam darah dengan efektivitas terapi/efek toksik.

Penentuan ketersediaan hayati kebanyakan hanya untuk bentuk sediaan obat Penentuan ketersediaan hayati kebanyakan hanya untuk bentuk sediaan obat seperti tablet dan kapsul yang digunakan peroral untuk memperoleh efek sistematik. Hal seperti tablet dan kapsul yang digunakan peroral untuk memperoleh efek sistematik. Hal ini bukan berarti ketersediaan hayati tidak ada dalam bentuk sediaan obat yang lain selain ini bukan berarti ketersediaan hayati tidak ada dalam bentuk sediaan obat yang lain selain bentuk padat/penggunaan bentuk obat melalui rute lain selain melalui mulut (Anief, 1995). bentuk padat/penggunaan bentuk obat melalui rute lain selain melalui mulut (Anief, 1995). Pengetahuan tentang konsentrasi obat dalam serum dapat menjelaskan mengapa Pengetahuan tentang konsentrasi obat dalam serum dapat menjelaskan mengapa seorang penderita tidak memberikan reaksi terhadap terapi obat, atau mengapa penderita seorang penderita tidak memberikan reaksi terhadap terapi obat, atau mengapa penderita mengalami suatu efek yang idak diinginkan. Sebagai tambahan, praktisi mungkin ingin mengalami suatu efek yang idak diinginkan. Sebagai tambahan, praktisi mungkin ingin menjelaskan ketelitian dari aturan dosis.

menjelaskan ketelitian dari aturan dosis.

Pada pengukuran konsentrasi obat dalam serum, suatu konsentrasi tunggal dari Pada pengukuran konsentrasi obat dalam serum, suatu konsentrasi tunggal dari obat dalam serum dapat tidak menghasilkan informasi yang berguna kecuali jika obat dalam serum dapat tidak menghasilkan informasi yang berguna kecuali jika faktor-faktor lain dipertimbangkan, sebagai contoh, aturan dosis obat yang meliputi besaran dan faktor lain dipertimbangkan, sebagai contoh, aturan dosis obat yang meliputi besaran dan  jarak pemberian dosis,

 jarak pemberian dosis, rute pemberian obat, rute pemberian obat, serta waktu serta waktu pengampengambilan cuplikan bilan cuplikan (punca(puncak,k, palung, atau keadaan tunak) hendaknya diketahui.

palung, atau keadaan tunak) hendaknya diketahui.

Mengkin ada ketervatasan dalam hal jumlah cuplikan darah yang dapat diambil, Mengkin ada ketervatasan dalam hal jumlah cuplikan darah yang dapat diambil, keseluruhan volume darah yang diperlukan untuk penetapan kadar, dan waktu untuk keseluruhan volume darah yang diperlukan untuk penetapan kadar, dan waktu untuk melakukan analisis obat, pengukuran konsentrasi serum hendaknya juga melakukan analisis obat, pengukuran konsentrasi serum hendaknya juga mempertimbangkan biaya penetapan kadar, resiko, dan ketidaksenangan penderita, dan mempertimbangkan biaya penetapan kadar, resiko, dan ketidaksenangan penderita, dan kegunaan informasi yang diperoleh.

kegunaan informasi yang diperoleh.

Metode analisis yang digunakan untuk penetapan kadar obat dalam serum Metode analisis yang digunakan untuk penetapan kadar obat dalam serum hendaknya telah sahih, berkenaan dengan hal-hal berikut seperti spesifitas, linieritas, hendaknya telah sahih, berkenaan dengan hal-hal berikut seperti spesifitas, linieritas, kepekaan, ketepatan, ketelitian, dan stabilitas (Sahrgel, 1985).

kepekaan, ketepatan, ketelitian, dan stabilitas (Sahrgel, 1985).

Untuk menganalisis darah total, komponen sel darah harus dilisis demikian Untuk menganalisis darah total, komponen sel darah harus dilisis demikian sehingga kandungannya bercampur merata dengan sonikator atau ditentukan dalam sehingga kandungannya bercampur merata dengan sonikator atau ditentukan dalam  jangka

 jangka waktu waktu tertentertentu tu lalu lalu disonikasdisonikasi. i. PlasmPlasma a berbeda berbeda dengan dengan serum, serum, serum serum adalahadalah plasma yang fibrinogennya telah dihilangkan dengan proses penjendalan, sedangkan plasma yang fibrinogennya telah dihilangkan dengan proses penjendalan, sedangkan plasma diperoleh dengan menambahkan suatu pencegah penjendalan ke dalam darah. Bila plasma diperoleh dengan menambahkan suatu pencegah penjendalan ke dalam darah. Bila

(7)

darah tidak diberi antikoagulan terjadilah penjendalan dan bila contoh seperti darah tidak diberi antikoagulan terjadilah penjendalan dan bila contoh seperti dipusingkan maka beningannya adalah serum (James, 1991).

dipusingkan maka beningannya adalah serum (James, 1991).

Penilaian ketersediaan hayati dapat dilakukan dengan metode menggunakan data Penilaian ketersediaan hayati dapat dilakukan dengan metode menggunakan data darah, data urin, dan data farmakologis atau klinis, namun lazimnya dipergunakan data darah, data urin, dan data farmakologis atau klinis, namun lazimnya dipergunakan data darah atau data urin untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis darah atau data urin untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiatnya telah diketahui cara dan validitasinya. Jika cara dan validitas belum zat berkhasiatnya telah diketahui cara dan validitasinya. Jika cara dan validitas belum diketahui, dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul diketahui, dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul dapat diukur secara kuantitatif.

dapat diukur secara kuantitatif.

Parameter-parameter yang berguna dalam penentuan ketersediaan hayati suatu Parameter-parameter yang berguna dalam penentuan ketersediaan hayati suatu obat meliputi data plasma, data urin, efek farmakologi akut, respon klinik. Ketersediaan obat meliputi data plasma, data urin, efek farmakologi akut, respon klinik. Ketersediaan hayati dilakukan baik terhadap bahan aktif yang telah disetujui maupun obat dengan efek hayati dilakukan baik terhadap bahan aktif yang telah disetujui maupun obat dengan efek terapeutik yang belum disetujui oleh FDA untuk dipasarkan. Setelah ketersediaan hayati terapeutik yang belum disetujui oleh FDA untuk dipasarkan. Setelah ketersediaan hayati dan parameter-parameter farmakokinetika dari bahan aktif diketahui aturan dosis dapat dan parameter-parameter farmakokinetika dari bahan aktif diketahui aturan dosis dapat diajukan untuk mendukung pemberian label obat (Syukri, 2002).

diajukan untuk mendukung pemberian label obat (Syukri, 2002).

PEMBAHASAN PEMBAHASAN

Pada percobaan ini bertujuan untuk mempelajari dan memahami langkah-langkah Pada percobaan ini bertujuan untuk mempelajari dan memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati serta memvalidasi prosedur analisis obat dalam cairan analisis obat dalam cairan hayati serta memvalidasi prosedur analisis obat dalam cairan hayati. Metode validasi ini menggunakan metode Bratton-Marshall yang berdasarkan hayati. Metode validasi ini menggunakan metode Bratton-Marshall yang berdasarkan pembacaan serapan, melalui warna tampak pada spektrofotometri visible. Hal ini pembacaan serapan, melalui warna tampak pada spektrofotometri visible. Hal ini dikarenakan terjadinya reaksi antara asam salisilat dengan FeNO

dikarenakan terjadinya reaksi antara asam salisilat dengan FeNO33 yang yang membentukmembentuk kompleks warna.

kompleks warna.

Metode yang digunakan adalah dengan spektrofotometer visible, karena gugus Metode yang digunakan adalah dengan spektrofotometer visible, karena gugus kromofor dan pembentuk kompleks warna yang dapat menyerap sinar tampak. Pada kromofor dan pembentuk kompleks warna yang dapat menyerap sinar tampak. Pada pembuatan larutan stok Na Salisilat, konsentrasinya adalah 100 µg/%, maka pembuatan larutan stok Na Salisilat, konsentrasinya adalah 100 µg/%, maka pembuatannya dapat dilakukan dengan melarutkan 100 mg Na Salisilat dalam aquadest pembuatannya dapat dilakukan dengan melarutkan 100 mg Na Salisilat dalam aquadest ad 100 mL.

ad 100 mL.

Pada proses sentrifuge, tujuannya adalah agar partikel lain mengendap sehingga Pada proses sentrifuge, tujuannya adalah agar partikel lain mengendap sehingga tidak menganggu pembacaan absorbansi. Penentuan

tidak menganggu pembacaan absorbansi. Penentuan operating time operating time digunakan digunakan untukuntuk mengetahui kapan waktu pembacaan yang dapat menghasilkan absorbansi maksimum mengetahui kapan waktu pembacaan yang dapat menghasilkan absorbansi maksimum yang

yang menunjukkan menunjukkan reaksi reaksi sempurna. sempurna. Penetapan Penetapan maksimum maksimum untuk untuk memperoleh memperoleh yangyang memberikan serapan maksimal dalam rentan 500 - 580 nm. Sedangkan pembuatan kurva memberikan serapan maksimal dalam rentan 500 - 580 nm. Sedangkan pembuatan kurva baku serapan vs kadar untuk perhitungan kadar dengan persamaan y = bx + a. Kurva baku serapan vs kadar untuk perhitungan kadar dengan persamaan y = bx + a. Kurva baku yang baik jika nilai r-nya mendekati 1. Parameter-parameter validasinya adalah baku yang baik jika nilai r-nya mendekati 1. Parameter-parameter validasinya adalah akurasi yang dapat diperoleh dari perolehan kembali dan presisi yang ditentukan dari akurasi yang dapat diperoleh dari perolehan kembali dan presisi yang ditentukan dari nilai CV.

nilai CV.

Metode spektrofotometri visible divalidasi agar hasil analisis yang diperoleh sesuai Metode spektrofotometri visible divalidasi agar hasil analisis yang diperoleh sesuai dengan ketentuan yang ada. Parameter yang dilakukan pada metode ini adalah presisi dan dengan ketentuan yang ada. Parameter yang dilakukan pada metode ini adalah presisi dan

(8)

akurasi. Dimana akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau kedekatan antara nilai akurasi. Dimana akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau kedekatan antara nilai terukur dengan nilai yang diterima baik nilai konvensi, nilai sebenarnya, atau nilai terukur dengan nilai yang diterima baik nilai konvensi, nilai sebenarnya, atau nilai rujukan. Sedangkan presisi merupakan ukuran keterulangan metode analisis dan biasanya rujukan. Sedangkan presisi merupakan ukuran keterulangan metode analisis dan biasanya diekspresikan sebagai simpangan baku relative dari sejumlah sampel yang berbeda diekspresikan sebagai simpangan baku relative dari sejumlah sampel yang berbeda signifikan secara statistic. Presisi sering diekspresikan dengan SD atau standar deviasi signifikan secara statistic. Presisi sering diekspresikan dengan SD atau standar deviasi relatif dari serangkaian data. Nilai RSD umumnya akan memenuhi criteria jika nilainya 1 relatif dari serangkaian data. Nilai RSD umumnya akan memenuhi criteria jika nilainya 1

 – 

 – 

  2 %, digunakan untuk senyawa-senyawa aktif dalam jumlah yang banyak, sedangkan  2 %, digunakan untuk senyawa-senyawa aktif dalam jumlah yang banyak, sedangkan untuk senyawa-senyawa dengan kadar sekelumit, RSD berkisar 5

untuk senyawa-senyawa dengan kadar sekelumit, RSD berkisar 5

 – 

 – 

  15 %. Syarat  15 %. Syarat keberterimaan akurasi dilihat dari perolehan kembali (recovery) adalah 80

keberterimaan akurasi dilihat dari perolehan kembali (recovery) adalah 80

 – 

 – 

  120 %.  120 %. Berdasarkan percobaan diperoleh nilai bahwa nilai perolehan kembalinya adalah 95,6 %, Berdasarkan percobaan diperoleh nilai bahwa nilai perolehan kembalinya adalah 95,6 %, 111,2 %, 23,04 %. Hasil perolehan kembali ada di kisaran range sehingga hasil validasi 111,2 %, 23,04 %. Hasil perolehan kembali ada di kisaran range sehingga hasil validasi metode penetapan kadar Na Salisilat valid. Dan didapat nilai CV 116,67 %.

metode penetapan kadar Na Salisilat valid. Dan didapat nilai CV 116,67 %. IX.

IX. KESIMPULANKESIMPULAN 1.

1. Menggunakan metode spektrofotometer visible, karena gugus kromofor dan pembentukMenggunakan metode spektrofotometer visible, karena gugus kromofor dan pembentuk kompleks warna yang dapat menyerap sinar tampak.

kompleks warna yang dapat menyerap sinar tampak. 2.

2. Berdasarkan percobaan diperoleh nilai bahwa nilai perolehan kembalinya adalah 95,6 %,Berdasarkan percobaan diperoleh nilai bahwa nilai perolehan kembalinya adalah 95,6 %, 111,2 %, 23,04 %. Hasil perolehan kembali ada di kisaran range sehingga hasil validasi 111,2 %, 23,04 %. Hasil perolehan kembali ada di kisaran range sehingga hasil validasi metode penetapan kadar Na Salisilat valid. Dan didapat nilai CV 116,67 %.

metode penetapan kadar Na Salisilat valid. Dan didapat nilai CV 116,67 %. X.

X. DAFTAR PUSTAKADAFTAR PUSTAKA Anief, Moh. 1995.

Anief, Moh. 1995. PePerjrjalanan alanan dan Nasib Obadan Nasib Obat dalam Badan t dalam Badan . UGM. Yogyakarta. UGM. Yogyakarta Munson James, W. 1991.

Munson James, W. 1991. AnAnalisis alisis FFarmasarmasi.i. Airlangga University Press. Surabaya Airlangga University Press. Surabaya Shargel. 1985.

Shargel. 1985. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan . Airlangga University Press.. Airlangga University Press. Surabaya

Surabaya Syujri, Y. 2002.

Syujri, Y. 2002. Biofarmasetika Biofarmasetika . UII Press. Yogyakarta. UII Press. Yogyakarta

Tujuan Tujuan

1.

1.

Dapat memahami langkah-langkah analisa parasetamol dalam cairan hayati.

Dapat memahami langkah-langkah analisa parasetamol dalam cairan hayati.

2.

2.

Dapat melakukan analisa parasetamol dalam cairan hayati.

Dapat melakukan analisa parasetamol dalam cairan hayati.

B.

B.Dasar TeoriDasar Teori

Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat

Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat

utuh dan / atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva atau cairan tubuh

utuh dan / atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva atau cairan tubuh

lainnya).

lainnya).

Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat dipercaya, metode penetapan

Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat dipercaya, metode penetapan

kadar harus memenuhi berbagai kriteria yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi

kadar harus memenuhi berbagai kriteria yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi

dan akurasi.

(9)

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat

memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan

memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan

sistematik kurang dari 10% (Pasha dkk, 1986).

sistematik kurang dari 10% (Pasha dkk, 1986).

Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting dan nilainya tergantung

Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting dan nilainya tergantung

 pula

 pula

dari

dari alat

alat pengukur

pengukur

yang

yang dipakai.

dipakai.

Dalam percobaan

Dalam

percobaan

ini

ini akan

akan

dilakukan

dilakukan

langkah-langkah

langkah-langkah

yang perlu dikerjakan untuk op

yang perlu dikerjakan untuk op

timalisasi analisis meliputi:

timalisasi analisis meliputi:

1.

1.

Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap (khusus untuk

Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap (khusus untuk

reaksi warna).

reaksi warna).

2.

2.

Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan resapan maksimum

Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan resapan maksimum

(parasetamol).

(parasetamol).

3.

3.

Pembuatan kurva baku (parasetamol).

Pembuatan kurva baku (parasetamol).

4.

4.

Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistematik.

Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistematik.

Parasetamol

Parasetamol

Parasetamol atau asetaminofen adalah

Parasetamol atau asetaminofen adalah

obatobat analgesik analgesik da

dan

nantipiretik 

antipiretik 

yang populer dan

yang populer dan

digunakan untuk melegakan

digunakan untuk melegakan

sakit kepalasakit kepala,

,  sengal-sengal dan sakit ringan, dan

  sengal-sengal dan sakit ringan, dan

demamdemam.

.

Digunakan dalam sebagian besar resep obat

Digunakan dalam sebagian besar resep obat

analgesik analgesik salesmasalesma

dan

dan

fluflu.

.  Ia aman dalam dosis

  Ia aman dalam dosis

standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering

standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering

terjadi.

terjadi.

Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti

Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti

aspirinaspirin

da

dan

nibuprofen

ibuprofen

,

,  parasetamol tak

  parasetamol tak

memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis

memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis

NSAIDNSAID.

.  Dalam

  Dalam

dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu

dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu

gumpalan

gumpalan

darah,darah

,

ginjalginjal

atau

atau

duktus arteriosusduktus arteriosus pada

 pada janin

 janin.

.

 N-acetyl-para-aminofenol (parasetamol):

 N-acetyl-para-aminofenol (parasetamol):

Farmakokinetika  Farmakokinetika 

Parasetamol diabsorpsi

Parasetamol diabsorpsi  cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam

  cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam

 plasma dicapai

 plasma dicapai

dalam wak

dalam waktu ½

tu ½

jam d

jam dan masa

an masa

paruh plasma

paruh plasma

antara 1

antara 1-3 jam.

-3 jam.

Obat ini

Obat ini

tersebar ke

tersebar ke

seluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat protein plasma, dan dimetabolisme

seluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat protein plasma, dan dimetabolisme

oleh enzim mikrosom hati. Sebagian asetaminofen 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan

oleh enzim mikrosom hati. Sebagian asetaminofen 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan

sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. Selain itu dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit

sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. Selain itu dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit

hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Obat ini

hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Obat ini

(10)

diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam

diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam

 bentuk terkonjugasi.

 bentuk terkonjugasi.

Pembahasan Pembahasan

Pada praktikum kali ini, kami melakukan uji analisis parasetamol dalam cairan hayati.

Pada praktikum kali ini, kami melakukan uji analisis parasetamol dalam cairan hayati.

Menggunakan larutan parasetamol dengan konsentrasi larutan induk 0,5 mg/ml dan 1 mg/ml.

Menggunakan larutan parasetamol dengan konsentrasi larutan induk 0,5 mg/ml dan 1 mg/ml.

Dan dibuat pula satu seri konsentrasi larutan parasetamol dalam darah 50, 100, 150, 200 ppm

Dan dibuat pula satu seri konsentrasi larutan parasetamol dalam darah 50, 100, 150, 200 ppm

dari konsentrasi larutan induk 0,5 mg/ml dan 300, 400 ppm dari konsentrasi larutan induk 1

dari konsentrasi larutan induk 0,5 mg/ml dan 300, 400 ppm dari konsentrasi larutan induk 1

mg/ml.

mg/ml.

Konsentrasi yang telah dibuat dicampur dengan 1 ml darah dan divortex agar dapat

Konsentrasi yang telah dibuat dicampur dengan 1 ml darah dan divortex agar dapat

 bercampur

 bercampur

secara

secara

merata

merata

dan

dan

terbentuk

terbentuk

ikatan

ikatan

antara

antara

obat

obat

dengan

dengan

protein

protein

plasma.

plasma.

Kemudian

Kemudian

diambil 0,1 ml dari tiap-tiap kadar dan diencerkan dengan 0,9 ml air. Pengenceran ini

diambil 0,1 ml dari tiap-tiap kadar dan diencerkan dengan 0,9 ml air. Pengenceran ini

diasumsikan sebagai pengenceran yang terjadi karena proses masuknya makanan dan minuman

diasumsikan sebagai pengenceran yang terjadi karena proses masuknya makanan dan minuman

ke dalam tubuh. Setelah pengenceran, perlu ditambahkan dengan antikoagulan, yaitu TCA.

ke dalam tubuh. Setelah pengenceran, perlu ditambahkan dengan antikoagulan, yaitu TCA.

Kemudian dilakukan proses sentrifugasi. TCA berfungsi untuk mengendapkan protein dalam

Kemudian dilakukan proses sentrifugasi. TCA berfungsi untuk mengendapkan protein dalam

 plasma darah, sehingga

 plasma darah, sehingga

yang tersisa dibagian atas

yang tersisa dibagian atas

atau yang dikenal

atau yang dikenal

dengan supernatan

dengan supernatan hanyalah

hanyalah

ikat obat dengan plasma.

ikat obat dengan plasma.

Supernatan yang diperoleh dari hasil proses sentrifus dipindahkan ke dalam tabung reaksi

Supernatan yang diperoleh dari hasil proses sentrifus dipindahkan ke dalam tabung reaksi

dan ditambahkan dengan HCl 6N sebanyak 0,5 ml dan NaNO

dan ditambahkan dengan HCl 6N sebanyak 0,5 ml dan NaNO

22 10% sebanyak 1 ml. Kemudian

 10% sebanyak 1 ml. Kemudian

didiamkan selama 5 menit dan setelah itu ditambahkan NaOH 10% sebanyak 2,5 ml, lalu

didiamkan selama 5 menit dan setelah itu ditambahkan NaOH 10% sebanyak 2,5 ml, lalu

didiamkan selama 3 menit. Penambahan NaOH bertujuan untuk penetralan. Reaksi yang terjadi

didiamkan selama 3 menit. Penambahan NaOH bertujuan untuk penetralan. Reaksi yang terjadi

adalah:

adalah:

HCl (aq) + NaNO

HCl (aq) + NaNO2

2

(aq)

(aq)

 HNO

 HNO2

2

(aq) + NaCl (aq)

(aq) + NaCl (aq)

2 HNO

2 HNO2

2 (aq)

 (aq)

 2 H

 2 H

++

 (aq) + 2 NO

 (aq) + 2 NO2

2

(g)

(g)

Reaksi penetralan:

Reaksi penetralan:

2 H

2 H

++

(aq) + NaOH (aq)

(aq) + NaOH (aq)

 Na

 Na

++

 (aq)

 (aq)

+ H

+ H2

2O (

O (

l  l  

)

)

Setelah perlakuan di atas, sampel diambil untuk diukur serapannya pada spektrofotometer

Setelah perlakuan di atas, sampel diambil untuk diukur serapannya pada spektrofotometer

dengan panjang gelombang maksimum 435 nm. Pada grafik yang diperoleh, dapat dilihat bahwa

dengan panjang gelombang maksimum 435 nm. Pada grafik yang diperoleh, dapat dilihat bahwa

kurva terus menaik hingga konsentrasi 200 ppm, tetapi pada konsentrasi 300 dan 400 ppm

kurva terus menaik hingga konsentrasi 200 ppm, tetapi pada konsentrasi 300 dan 400 ppm

kurvanya menurun kembali, sehingga data ini dihilangkan.

kurvanya menurun kembali, sehingga data ini dihilangkan.

Hasil yang kami dapatkan adalah terjadi penurunan absorbansi pada konsentrasi 300 dan

Hasil yang kami dapatkan adalah terjadi penurunan absorbansi pada konsentrasi 300 dan

400 ppm, yang seharusnya linear (semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula

400 ppm, yang seharusnya linear (semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula

absorbansinya/sebanding).Hal ini kemungkinan dikarenakan konsentrasi larutan induk yang

absorbansinya/sebanding).Hal ini kemungkinan dikarenakan konsentrasi larutan induk yang

 berbeda

 berbeda

(0,5

(0,5

dan

dan

1

1

mg/ml).

mg/ml).

Sedangkan

Sedangkan

regresi

regresi

yang

yang

kami

kami

dapatkan

dapatkan

adalah:

adalah:

r

r

=

=

0,827751;

0,827751;

a

a

=

=

3,568 x 10

(11)

dicari regresinya kembali, maka nilai regresinya menjadi a= -6,76 x 10

dicari regresinya kembali, maka nilai regresinya menjadi a= -6,76 x 10

-3-3

; b= 9,31 x 10

; b= 9,31 x 10

-4-4

; dan r=

; dan r=

0,99344. Dilihat dari kelinearannya dan nilai kepercayaan yang besar, maka kami menggunakan

0,99344. Dilihat dari kelinearannya dan nilai kepercayaan yang besar, maka kami menggunakan

nilai regresi ini dalam perhitungan selanjutnya.

nilai regresi ini dalam perhitungan selanjutnya.

Dari hasil perhitungan yang diperoleh, didapatkan bahwa konsentrasi yang terukur

Dari hasil perhitungan yang diperoleh, didapatkan bahwa konsentrasi yang terukur

mendekati konsentrasi yang diketahui, sehingga didapatkan % perolehan kembali/recovery yang

mendekati konsentrasi yang diketahui, sehingga didapatkan % perolehan kembali/recovery yang

 besar (mendekati 100%).

 besar (mendekati 100%).

G.

G.KesimpulanKesimpulan

Dari berbagai hasil yang kami dapatkan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai

Dari berbagai hasil yang kami dapatkan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai

 berikut:

 berikut:

Langkah-langkah analisis parasetamol dalam cairan hayati:

Langkah-langkah analisis parasetamol dalam cairan hayati:

1.

1.

Dibuat satu seri larutan parasetamol dalam darah yang di vortex, setelah itu dilakukan

Dibuat satu seri larutan parasetamol dalam darah yang di vortex, setelah itu dilakukan

 pengenceran sekaligus ditambahkan TCA. Kemudian di sentrifus.

 pengenceran sekaligus ditambahkan TCA. Kemudian di sentrifus.

2.

2.

Supernatan diambil dan ditambahkan HCl dan NaNO

Supernatan diambil dan ditambahkan HCl dan NaNO

22

, didiamkan 5 menit. Baru

, didiamkan 5 menit. Baru

kemudian ditambahkan NaOH.

kemudian ditambahkan NaOH.

3.

3.

Diukur serapannya pada spektrofotometer.

Diukur serapannya pada spektrofotometer.

4.

4.

Dihitung konsentrasi terukur sesuai dengan absorbansi dan dihitung pula nilai

Dihitung konsentrasi terukur sesuai dengan absorbansi dan dihitung pula nilai

 perolehan kembali, kesalahan sistematika, dan kesalahan acaknya.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen FKUI. 1995.

Tim Dosen FKUI. 1995.

 Farmakologi dan Terapi edisi IV 

 Farmakologi dan Terapi edisi IV 

. Jakarta: Gaya Baru.

. Jakarta: Gaya Baru.

Walpole, R.E.

Walpole, R.E.

 Pengantar Statistika

 Pengantar Statistika

.

.

Azrifitria, dkk. 2007.

Azrifitria, dkk. 2007.

 Modul

 Modul

Praktikum

Praktikum

Biofarmasetika

Biofarmasetika

dan

dan

Farmakokinetika.

Farmakokinetika.

 Jakarta:

 Jakarta:

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

A.

A. ParasetamolParasetamol

Parasetamol atau asetaminofen adalah

Parasetamol atau asetaminofen adalah obatobat analgesikanalgesik dandanantipiretikantipiretik yang populer dan digunakanyang populer dan digunakan

untuk melegakan

untuk melegakan sakit kepalasakit kepala,, sengal-sengal dan sakit ringan, dan sengal-sengal dan sakit ringan, dan demamdemam.. Digunakan dalam Digunakan dalam

sebagian besar resep obat

sebagian besar resep obat analgesikanalgesiksalesmasalesmadandanfluflu.. Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena

mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi.

mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi.

Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti

Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirinaspirindandanibuprofenibuprofen,, parasetamol tak memiliki parasetamol tak memiliki

sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis

sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis NSAIDNSAID.. Dalam dosis normal, Dalam dosis normal,

parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu

parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu

gumpalan

gumpalan darahdarah,,ginjalginjalatauatauduktus arteriosusduktus arteriosuspadapada janin janin..

Farmakokinetik Farmakokinetik

Parasetamol yang diberikan secara oral diserap secara cepat dan mencapai kadar serum puncak

Parasetamol yang diberikan secara oral diserap secara cepat dan mencapai kadar serum puncak

dalam waktu 30

dalam waktu 30 – – 120 menit. Adanya makanan dalam lambung akan sedikit memperlambat 120 menit. Adanya makanan dalam lambung akan sedikit memperlambat

penyerapan sediaan parasetamol lepas lambat. Parasetamol terdistribusi dengan cepat pada hampir

penyerapan sediaan parasetamol lepas lambat. Parasetamol terdistribusi dengan cepat pada hampir

seluruh jaringan tubuh. Lebih kurang 25% parasetamol dalam darah terikat pada protein plasma.

seluruh jaringan tubuh. Lebih kurang 25% parasetamol dalam darah terikat pada protein plasma.

Waktu paruh

Waktu paruh parasetamol adalah parasetamol adalah antara 1antara 1 – – 3 jam. Parasetamol diekskresikan melalui urine 3 jam. Parasetamol diekskresikan melalui urine

sebagai metabolitnya,

sebagai metabolitnya, yaitu asetaminofen glukoronid, asetaminofen sulfat, yaitu asetaminofen glukoronid, asetaminofen sulfat, merkaptat dan merkaptat dan bentukbentuk

yang tidak berubah.

yang tidak berubah.

Sebagian asetaminofen 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya

Sebagian asetaminofen 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya

dengan asam sulfat. Selain itu dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat

dengan asam sulfat. Selain itu dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat

menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Obat ini diekskresi melalui ginjal,

menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Obat ini diekskresi melalui ginjal,

sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi.

sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi.

B.

B. Analisis Analisis ParasetamolParasetamol

Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan

Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan

/ atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva atau cairan tubuh lainnya).

/ atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva atau cairan tubuh lainnya).

Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar

Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar

harus memenuhi berbagai kriteria yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi dan akurasi.

harus memenuhi berbagai kriteria yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi dan akurasi.

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan

nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan sistematik kurang dari

nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan sistematik kurang dari

10%.

10%.

Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula dari

Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula dari

alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu

alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu

dikerjakan untuk optimalisasi analisis meliputi:

(13)

1. Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap (khusus untuk 1. Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap (khusus untuk reaksi warna).

reaksi warna).

2. Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan resapan maksimum 2. Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan resapan maksimum (parasetamol).

(parasetamol). 3.

3. Pembuatan Pembuatan kurva baku kurva baku (parasetamol).(parasetamol).

4. Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistematik. 4. Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistematik. Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik dan Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetic dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran secara keseluruhan menunjukkan kinetic dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang diberikan. Ketersediaan hayati obat yang diformulasi menjadi darah terhadap jumlah obat yang diberikan. Ketersediaan hayati obat yang diformulasi menjadi sediaan farmasi merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang sediaan farmasi merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut. Pegkajian terhadap ketersediaan hayati ini tergantung terpenting untuk keefektifan obat tersebut. Pegkajian terhadap ketersediaan hayati ini tergantung pada absorpsi obat ke dalam sirkulasi umum serta pengukuran dari obat yang terabsorpsi tersebut. pada absorpsi obat ke dalam sirkulasi umum serta pengukuran dari obat yang terabsorpsi tersebut. Dalam menaksir ketersediaan hayati ada tiga parameter yang biasanya diukur yang an profil

Dalam menaksir ketersediaan hayati ada tiga parameter yang biasanya diukur yang an profil konsentrasi dalam darah dan waktu dari obat yang diberikan.

konsentrasi dalam darah dan waktu dari obat yang diberikan.

Konsentrasi puncak (Cmax), menggambarkan konsentrasi obat tertinggi dalam sirkulasi sistemik. Konsentrasi puncak (Cmax), menggambarkan konsentrasi obat tertinggi dalam sirkulasi sistemik. Konsentrasi ini tergantung pada konstanta absorbsi, dosis, volume distribusi dan waktu pencapaian Konsentrasi ini tergantung pada konstanta absorbsi, dosis, volume distribusi dan waktu pencapaian konsentrasi obat maksimum dalam darah. Konsentrasi puncak sering kali dikaitkan dengan

konsentrasi obat maksimum dalam darah. Konsentrasi puncak sering kali dikaitkan dengan intensitas respon biologis dan harus di atas MEC dan tidak melebihi MTC.

intensitas respon biologis dan harus di atas MEC dan tidak melebihi MTC.

Waktu untuk konsentrasi puncak (tmax) menggambarkan lamanya waktu tersedia untuk mencapai Waktu untuk konsentrasi puncak (tmax) menggambarkan lamanya waktu tersedia untuk mencapai konsentrasi puncak dari obat sirkulasi sistemik. Parameter ini tergantung pada konstanta absorbs konsentrasi puncak dari obat sirkulasi sistemik. Parameter ini tergantung pada konstanta absorbs yang menggambarkan permulaan dari level puncak dari respon biologis dan bias digunakan sebagai yang menggambarkan permulaan dari level puncak dari respon biologis dan bias digunakan sebagai perkiraan kasar untuk laju absorbsi.

perkiraan kasar untuk laju absorbsi.

Luas daerah di bawah kurva (AUC), merupakan total area di bawah kurva konsentrasi vs waktu Luas daerah di bawah kurva (AUC), merupakan total area di bawah kurva konsentrasi vs waktu yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berada dalam sirkulasi sistemik. Bila

yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berada dalam sirkulasi sistemik. Bila

membandingkan suatu formulasi untuk acuan, parameter ini menggambarkan jumlah ketersediaan membandingkan suatu formulasi untuk acuan, parameter ini menggambarkan jumlah ketersediaan hayati dan biasa digunakan sebagai perkiraan kasar jumlah obat diabsorbsi. Ketersediaan hayati hayati dan biasa digunakan sebagai perkiraan kasar jumlah obat diabsorbsi. Ketersediaan hayati merupakan suatu penerapan baru yang kegunaannya tidak perlu diragukan lagi. Penerapan merupakan suatu penerapan baru yang kegunaannya tidak perlu diragukan lagi. Penerapan ketersediaan hayati berkembang dalam dua arah, yaitu:

ketersediaan hayati berkembang dalam dua arah, yaitu: 1.

1. Farmasi Farmasi klinik klinik yang yang berkaitan berkaitan dengan dengan rasionalisrasionalisasi asi keadaan keadaan individu individu penderita, penderita, artinyaartinya penyesuaian pasologi yang tepat pada setiap penderita, dengan mempertimbangkan perubahan penyesuaian pasologi yang tepat pada setiap penderita, dengan mempertimbangkan perubahan farmakokinetika in vivo, baik karena interaksi obat maupun karena fungsi fisiolagi.

farmakokinetika in vivo, baik karena interaksi obat maupun karena fungsi fisiolagi. 2.

2. Farmasetika Farmasetika yang yang berkaitan berkaitan dengan dengan rasionalisasrasionalisasi i pengembangan pengembangan suatu suatu obat, obat, yaituyaitu penyesuaian optimal jalur pemberian obat dan bentuk sediaan terhadap karakteristik penyesuaian optimal jalur pemberian obat dan bentuk sediaan terhadap karakteristik farmakokinetika zat aktif.

farmakokinetika zat aktif.

Kedua arah pengembangan tersebut tercakup dalam lingkup penelitian biofarmasetika dan berkaitan Kedua arah pengembangan tersebut tercakup dalam lingkup penelitian biofarmasetika dan berkaitan dengan penyesuaian pada kurva profil kadar zat aktif dalam darah penderita dan efek yang diteliti. dengan penyesuaian pada kurva profil kadar zat aktif dalam darah penderita dan efek yang diteliti.

Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan: Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan:

1.

1. Banyaknya Banyaknya obat obat yang yang diabsorbsi diabsorbsi dari dari formulasi formulasi sediaan.sediaan. 2.

(14)

3.

3. Lama Lama obat obat berada berada dalam dalam cairan cairan biologi biologi atau atau jaringan jaringan dan dan dikorelasikdikorelasikan an dengan dengan responrespon

pasien.

pasien.

4.

4. Hubungan Hubungan antara antara kadar kadar obat obat dalam dalam darah darah dan dan efikasi efikasi klinis klinis serta serta toksisitastoksisitas..

Metode penilaian ketersediaan hayati.

Metode penilaian ketersediaan hayati.

Penelitian ketersediaan hayati pada sukarelawan dapat dilakukan dengan beberapa metode:

Penelitian ketersediaan hayati pada sukarelawan dapat dilakukan dengan beberapa metode:

a.

a. Metode Metode dengan dengan menggunakan menggunakan data data darahdarah

b.

b. Data Data urinurin

c.

c. Data Data efek efek farmakologisfarmakologis

d.

d. Data Data respon respon klinisklinis

Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis untuk penetapan kadar obat dan

Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis untuk penetapan kadar obat dan

sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim digunakan untuk menilai ketersediaan hayati

sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim digunakan untuk menilai ketersediaan hayati

sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiat telah diketahui cara dann validitasnya. Jika cara

sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiat telah diketahui cara dann validitasnya. Jika cara

dan validitasnya belum diketahui dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi

dan validitasnya belum diketahui dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi

yang timbul dapat diukur secara kuantitatif, seperti efek pada kecepata denyut jantung atau tekanan

yang timbul dapat diukur secara kuantitatif, seperti efek pada kecepata denyut jantung atau tekanan

darah yang dapat digunakan sebagai indeks ketersediaan hayati obat. Untuk evaluasi ketersediaan

darah yang dapat digunakan sebagai indeks ketersediaan hayati obat. Untuk evaluasi ketersediaan

hayati menggunakan data respon klinis dapat mengalami perbedaan antar individu akibat

hayati menggunakan data respon klinis dapat mengalami perbedaan antar individu akibat

farkokinetika dan farmakodinamik obat yang berbeda. Factor farmakodinamik yang berpengaruh

farkokinetika dan farmakodinamik obat yang berbeda. Factor farmakodinamik yang berpengaruh

meliputi: umur, toleransi obat, interaksi obat dan factor-faktor patofisiologik yang tidak diketahui.

meliputi: umur, toleransi obat, interaksi obat dan factor-faktor patofisiologik yang tidak diketahui.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati oabat yang digunakan secara oral:

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati oabat yang digunakan secara oral:

1)

1) Sifat Sifat fisikokimia fisikokimia zat zat aktif.aktif.

a.

a. Bentuk Bentuk isomer; isomer; alkaloidalkaloid-alkaloid -alkaloid dan dan steroid-ssteroid-steroid teroid terdapat terdapat dalam dalam bentuk bentuk isomer, isomer, sepertiseperti

misalnya isomer d atau l. seringkali yang aktif atau diaktif

misalnya isomer d atau l. seringkali yang aktif atau diaktif hanya salah satu saja, misalnya d-hanya salah satu saja, misalnya

d-etambutol, d-propoksipen, d-amfetamin, l-kloramfenikol.

etambutol, d-propoksipen, d-amfetamin, l-kloramfenikol.

b.

b. PolimorfismPolimorfisme; e; bentuk bentuk kristal yang kristal yang kurang kurang stabil stabil lebih lebih mudah mudah larut larut dan dan kemudian kemudian cepatcepat

terabsorbsi daripada bentuk kristalnya yang stabil, misak kloramfenikol mempunyai 2 bentuk

terabsorbsi daripada bentuk kristalnya yang stabil, misak kloramfenikol mempunyai 2 bentuk

polimorf A dan B; kristal bentuk A bersifat tidak aktif.

polimorf A dan B; kristal bentuk A bersifat tidak aktif.

c.

c. Ukuran Ukuran partikel; partikel; bila bila ukuran ukuran partikel partikel lebih lebih kecil kecil maka maka luas luas permukaan permukaan akan akan besar besar sehinggasehingga

obat

obat – – obat akan cepat melarut dan diabsorbsi. obat akan cepat melarut dan diabsorbsi.

d.

d. Hidrat Hidrat dan dan solvate; solvate; kadangkadang – – kadang beberapa bahan obat cenderung untuk mengikat kadang beberapa bahan obat cenderung untuk mengikat

beberapa molekul pelarut. Ikatan ini disebut solvate, dan kalau pelarutnya adalah air maka ikatan ini

beberapa molekul pelarut. Ikatan ini disebut solvate, dan kalau pelarutnya adalah air maka ikatan ini

disebut hidrat. Ampisilin anhidrat lebih mudah larut dibandingkan ampisilin trihidrat, sehingga

disebut hidrat. Ampisilin anhidrat lebih mudah larut dibandingkan ampisilin trihidrat, sehingga

pemakaian peroral akan memberiakan blood level yang tinggi.

pemakaian peroral akan memberiakan blood level yang tinggi.

e.

e. Bentuk Bentuk garam, garam, ester ester dan dan lainnya; lainnya; gugusan gugusan estolat estolat dari dari eritromisieritromisin n estolat estolat dapat dapat menyebabkanmenyebabkan

hepatotoksisitas, sedangkan stearatnya tidak. Tapi sifat fisik eritromisin mempersulit pengisian

hepatotoksisitas, sedangkan stearatnya tidak. Tapi sifat fisik eritromisin mempersulit pengisian

dalam jumlah yang cukup ke dalam kapsul yang berukuran wajar. Pemadatan yang tidak tepat atas

dalam jumlah yang cukup ke dalam kapsul yang berukuran wajar. Pemadatan yang tidak tepat atas

bahan baku ini sebaliknya dapat menimbulkan persoalan disolusi dan ketersediaan hayati.

bahan baku ini sebaliknya dapat menimbulkan persoalan disolusi dan ketersediaan hayati.

f.

f. Kemurnian; Kemurnian; bahan bahan baku baku penisilipenisilin n yang yang tidak tidak murni murni bias bias mengandung mengandung mikrokontaminan mikrokontaminan berupaberupa

hasil degradasi penisilin sendiri bahkan inferior ini yang dapat menyebabkan alergi. Namun

hasil degradasi penisilin sendiri bahkan inferior ini yang dapat menyebabkan alergi. Namun

meskipun telah menggunakan bahan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian rumah kaca telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian air dan pengaruh konsorsium pupuk hayati bakteri pelarut fosfat pada tanah entisols terhadap

Delapan orang pasien yang diambil secara acak diukur kapasitas pernapasannya. sebelum dan sesudah diberikan

Penggunaan peningkat penetrasi kimia dapat diterapkan dalam sistem penghantaran obat transdermal untuk memperbaiki ketersediaan hayati obat dalam sirkulasi darah

Kinerja pupuk hayati dapat memicu ketersediaan hara di dalam tanah dan meningkatkan ketersediaan nutrisi untuk diserap oleh tanaman jagung sehingga menghasilkan

Parameter persentase obat yang diresepkan secara aktual, persentase pengetahuan pasien tentang dosis yang benar, dan ketersediaan salinan daftar obat esensial tidak

Kinerja pupuk hayati dapat memicu ketersediaan hara di dalam tanah dan meningkatkan ketersediaan nutrisi untuk diserap oleh tanaman jagung sehingga menghasilkan bobot tongkol jagung

Jamur Metarhizium sebagai Agen Pengendali Uret Secara