Mahasiswa Dulu, Kini Dan Esok

52 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mahasiswa: Dulu , Kini dan Esok

Hanya Satu Kata ... LAWAN

(Widji Thukul)

Pendapat dominan selama ini memandang bahwa mahasiswa merupakan kelompok strategis yang berperan penting dalam perubahan sosial-politik . Bahkan sudah menjadi truisme bahwa gerakan protes mahasiswa , terutama di Dunia Ketiga , memainkan peranan sangat aktif dan berposisi sentral dalam percaturan politik . Tak ada satu pun penguasa di negeri-negeri – yang dianggap berkembang ini – yang bisa mengabaikan posisi sosial dan pentingnya representasi politik serta dampak aspirasi dari golongan muda berpendidikan tinggi ini . Para ilmuwan sosial pun sibuk mengkaji dan meneliti fungsi mereka dalam sistem sosial-politik , terutama setelah menaiknya gelombang aksi protes mahasiswa di akhir dekade 1960-an hingga awal 1970-an , baik di negeri-negeri maju maupun terbelakang , termasuk di Indonesia .( Anwar , 1981

Kajian tentang gerakan mahasiswa bukanlah suatu disiplin akademis , dan bahkan belum menjadi keahlian khusus yang diakui , tetapi kepustakaan tentang bidang ini banyak sekali dan cukup bervariasi untuk dipandang sebagai bidang studi . Kepustakaan tentang gerakansebagian besar merupakan artefak gerakan mahasiswa yang meluas di seluruh dunia dalam tahun-tahun 1960-an . Suatu bibliografi yang diterbitkan pada tahun 1970 dan yang belum termasuk kepustakaan di Amerika Serikat , mencatat 1.800 buku dan artikel dengan topik gerakan mahasiswa . Kepustakaan ini terus berkembang cepat pada awal 1970-an pada saat para cendikiawan memusatkan perhatian aktivitas gerakan pada periode tersebut . Publikasi tentang gerakan mahasiswa secara mendadak berhenti pada pertengahan tahun 1970-an ketika aktivitas mahasiswa gerakan mahasiswa itu sendiri berhenti . Sementara itu , hanya beberapa kepustakaan yang meliput berbagai negara dan wilayah , dan sejumlah besar mengkaji Amerika Serikat serta lebih sedikit daripadanya mengkaji Eropa Barat . Sebuah daftar kepustakaan yang diterbitkan pada tahun 1973 memuat 9000 item hanya khusus tentang Amerika Serikat saja , dan kira-kira setengah diantaranya merupakan kajian langsung terhadap gerakan mahasiswa . Bagian-bagian dunia yang lain , terutama Dunia Ketiga , hanya memperoleh sedikit perhatian saja meskipun gerakan-gerakan mahasiswa di negara-negara ini efektif sekali , dalam pengertian pengaruhnya terhadap perubahan sosial atau politik .

Tampak jelas bahwa penelitian dan analisis tentang gerakan mahasiswa lebih dirangsang oleh krisis tahun 1960-an dibanding minat akademis yang instrinsik terhadap topik itu sendiri . Karena, ketika krisis itu telah lewat , segera saja tumpukan karya tentang hal tersebut berhenti . Untuk suatu batas waktu tertentu , sejumlah besar dana dari

(2)

universitas, lembaga-lembaga pemerintah , dan yayasan-yayasan disediakan bagi penelitian tentang mahasiswa dan terutama pada aspek-aspek politik dari kehidupan mahasiswa , dana-dana ini merangsang banyak sekali penelitian dan penulisan Sejumlah survey berskala besar di berbagai negara dijalankan sebagai bagian dari upaya penelitian ini .

Selain tersedianya dana-dana penelitian , perhatian dari media massa , penerbit , dan jurnal-jurnal ilmiah cukup tinggi selama akhir 1960-an . Minat ini merangsang para cendikiawan dan orang-orang lain untuk menulis gerakan mahasiswa dan mengembangkan pembaca tulisan-tulisan mereka di segala lapisan . Sejumlah besar buku mengenai gerakan mahasiswa diterbitkan dalam periode ini , dan banyak diantaranya saling tumpang tindih satu sama lain . Kejadian-kejadian dramatis seperti Revolusi Mahasiswa Berkeley tahun 1964 . “ peristiwa “ Perancis tahun 1968 , kisah SDS Amerika, dan pembunuhan di Kent State University, semuanya memperoleh perhatian di dalam sejumlah buku , dan bahkan satu dua film. Tidak mengherankan bahwa perhatian media terhadap topik tersebut tidak berumur panjang , dan sekarang ini sangat sulit sekali menyelenggarakan diskusi tentang gerakan mahasiswa . Dana-dana penelitian juga sudah tidak ada lagi .

Para penulis yang menaruh minat terhadap gerakan mahasiswa dan menyumbang bagi penerbitan kepustakaan pada 1960-an , terdiri dari berbagai ragam . Sejumlah wartawan dan “cendikiawan “ menulis mengenai gerakan mahasiswa dengan derajat persepsi yang berbeda-beda . Buku James Michener (1971 )_ mengenai peristiwa Kent State merupakan best-seller dan menaikkan minat umum terhadap topik tersebut . para intelektual Perancis seperti Raymond Aron (1969) juga menulis tentang gerakan mahasiswa . Para aktivitas mahasiswa itu sendiri menyumbang beberapa terbitan yang sangat berguna di dalam kepustakaan mengenai masalah ini dan hal ini menumbuhkan suasana hangat bagi diskusi . Mungkin buku seperti itu yang paling terkenal ialah tulisan Cohn-Bendit (1968 , Obsolete Communism , yang tidak hanya berpengaruh di Eropa , tetapi juga di Amerika Serikat dan Dunia Ketiga . Judul-judul seperti The Strawberry Statement (1968) dan The Whole World is Watching ( 1970) mencirikan jenis kepustakaan ini. Barangkali kelompok terbesar yang menulis tentang gerakan mahasiswa adalah ilmuwan sosial dari berbagai disiplin ilmu yang menaruh perhatian serta metodelogi bidang mereka masing-masing untuk meneliti dan menulis . Para ahli sosiologi dan ilmuwan politik terutama yang aktif dalam meneliti dan menulis gerakan mahasiswa.

Sulit untuk melakukan generalisasi mengenai sifat kepustakaan gerakan mahasiswa . Banyak analisis yang dilakukan tidak menyukai gerakan dan kegiatan kemahasiswaan , terutama kalau para mahasiswa tersebut mengeritik pendidikan tinggi . Tulisan Lewis Feuer , Conflict of Generations (1969) , merupakan contoh khas dari analisis kegiatan kemahasiswaan dari perspektif yang kritis. Hanya sedikit saja dari kalangan ilmuwan sosial yang menulis tentang kegiatan kemahasiswaan menelaah organisasi kemahasiswaannya itu sendiri . Kebanyakan mengkaji sikap , motivasi , atau ideologi . Banyak sekali tulisan tahun 1960-an yang hanya mempunyai relevansi sedikit saja karena hanya berkaitan dengan peristiwa –peristiwa khusus dan ditulis dari perspektif krisis sesaat .

(3)

Tidak adanya perspektif teoritik yang secara luas bisa diterima mengenai kegiatan kemahasiswaan , muncul akibat dari melimpah ruahnya jumlah tulisan tentang mahasiswa dalam tahun 1960-an . Banyak penulis yang merasa bahwa perbedaan-perbedaan nasional , tradisi akademik , dan gerakan-gerakan mahasiswa begitu berbeda sehingga tidak mungkin melakukan generalisasi yang memadai . Para penulis seperti Feuer (1969) atau Miles ( 1971) , yang membuat generalisasi yang sangat umum , dikritik sebagai tidak berhasil memperhitungkan sejumlah pengalaman nasional yang memadai . Meskipun banyak sekali data tersedia yang menyangkut kegiatan kemahasiswaan di berbagai tatanan nasional dan berbagai periode historis yang berbeda-beda , sekarang ini tidak tersedia formulasi teoritik yang diterima secara luas oleh cendikiawan dalam bidang tersebut . Pendekatan metodelogis yang berbeda serta kesukaan ideologis yang berbeda pula membuat semakin sulit munculnya landasan teoritik ini telah menghambat penelitian lebih lanjut, karena masing-masing cendikiwan atau penulis harus mengembangkan suatu kerangka acuan sendiri atau mulai dengan tanpa memakai kerangka acuan yang jelas . bagi buku-buku serta artikel-artikel dan ketika cukup tersedia dana untuk itu , kembali kepada topik-topik penelitian yang lebih mapan dalam bidang mereka masing-masing . Sekalipun banyak diabaikan dalam kepustakaan , perbedaan-perbedaan yang tajam antara pengalaman para aktivis mahasiswa di negara-negara industri dan Dunia Ketiga mungkin merupakan variabel analistik kunci dalam kajian tentang kegiatan kemahasiswaan . Sesungguhnya , jika suatu kerangka teoritik mau dikembangkan maka kerangka tersebut sekurangnya harus dibagi kedalam dua ketegori analitik , karena pengalaman-pengalaman keduanya sangat berbeda . Kita bisa melihat banyak kemiripan di kalangan negara-negara industri Eropa Barat dan Amerika Utara . Gerakan-gerakan tahun 1960-an berkembang dalam waktu yang hampir bersamaan , sebagai respon terhadap rangsangan yang sama , dan gerakan-gerakan tersebut menurun pada periode yang hampir sama (dengan beberapa variasi ) . Ada keserupaan dalam tradisi akademik , peran dan fungsi universitas dan sebagainya .

Kepustakaan dalam bidang ini kesannya menjadi penting , karena periode aktif produktivitasnya yang pendek dan tidak bisa , dan dalam keragamannya . Kepustakaan tersebut , yang jumlahnya anjok sampai sedikit sekali , menyajikan sejumlah pengetahuan faktual yang signifikan namun masih kekurangan teori . Para ilmuwan sosial yang menulis mengenai kegiatan kemahasiswaan , ketika tersedia pasar yang jelas bagi buku-buku serta artikel-artikel dan ketika cukup tersedia dana untuk itu , kembali kepada topik-topik penelitian yang lebih mapan dalam bidang mereka masing-masing .

Sekalipun banyak diabaikan dalam kepustakaan , perbedaan-perbedaan yang tajam antara pengalaman para aktivis mahasiswa di negara-negara industri dan Dunia Ketiga mungkin merupakan variabel analitik kunci dalam kajian tentang kegiatan kemahasiswaan . Sesungguhnyalah , jika suatu kerangka teoritik mau dikembangkan maka kerangka tersebut sekurangnya harus dibagi ke dalam dua kategori analitik , karena pengalaman-pengalaman keduanya sangat berbeda . Kita bisa melihat banyak kemiripan di kalangan negara-negara industri Eropa Barat dan Amerika Utara . Gerakan-gerakan tahun 1960-an berkembang dalam waktu yang hampir bersamaan , sebagai respon terhadap rangsangan

(4)

yang sama , dan gerakan-gerakan tersebut menurun pada periode yang hampir sama (dengan beberapa variasi ) . Ada keserupaan dalam tradisi akademik , peran dan fungsi universitas dan sebagainya .

Kegiatan mahasiswa di Dunia Ketiga lebih sulit dibuat kategorinya . Namun jelas bahwa kendatipun mahasiswa di negara industri tidak pernah mampu menggulingkan suatu pemerintahan ( meskipun di Jepang dan Perancis dalam tahun 1960-an mereka hampir saja melakukan hal itu ) , di sejumlah negara Dunia Ketiga mahasiswa merupakan penyebab huru-hara politik secara langsung . Dengan kata lain , dari waktu ke waktu para mahasiswa Dunia Ketiga efektif dalam merangsang perubahan sosial dan , dalam beberapa peristiwa seperti halnya reformasi Cordoba tahun 1918 di Amerika Latin , dalam merangsang perubahan besar di universitas . Selanjutnya , para mahasiswa di Dunia Ketiga merupakan bagian dari persamaan politik yang konsisten , penting , dan bahkan absah . Dalam berbagai kasus , mahasiswa adalah “ cabang keempat “ dari pemerintahan dan kampus menduduki posisi kunci dalam sistem politik . Dengan kedudukan sosial dan politik mereka yang penting , maka mengherankan bahwa gerakan mahasiswa di Dunia Ketiga hanya sedikit sekali dianalisis oleh para cendikiawan .

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Daniel Levy , kondisis-kondisi politik dalam negeri di suatu negara Dunia Ketiga bisa mengubah lingkup dan dampak keterlibatan politik mahasiswa . Misalnya , kediktaktoran militer yang sekarang ini ada di Amerika Latin sebagian besar mencegah para mahasiswa untuk memainkan peran politik aktif dengan cara aktif menekan gerakan mahasiswa. Namun demikian , kegiatan kemahasiswaan di Dunia Ketiga tetap merupakan suatu faktor penting , dan ada sejumlah sebab yang bisa dikemukakan di sini . Mahasiswa di Universitas di Dunia Ketiga membentuk suatu elit yang baru mulai , dan di banyak negara membangun perasaan bahwa mereka mempunyai akses bagi pendidikan pasca –SMTA dan kesempatan mereka untuk mendapatkan akses bagi posisi-posisi kekuasaan dan kewenangan yang jauh lebih baik dibandingkan orang biasa.. Perbedaan-perbedaan antara mereka yang memiliki latar belakang pendidikan pasca SMTA dan mereka yang tidak memiliki latar belakang seperti ini sangat penting artinya di Dunia Ketiga .Relatif sedikit negara di Dunia Ketiga yang secara efektif menjalankan sistem politik yang demokratis . Akibat keadaan ini , dan meluasnya persoalan buta huruf serta buruknya komunikasi , mahasiswa sering dianggap sebagai orang-orang yang bisa menyuarakan populasi yang lebih luas. Sedikit banyak mereka memiliki kewenangan yang melampui sejumlah mereka yang kecil, dan mereka yang memegang kekuasaan sering memperlakukan demontrasi dan ketidakpuasan mahasiswa secara serius karena alasan ini . Dalam berbagai kasus , demontrasi mahasiswa yang nampaknya kecil ternyata efektif dalam memobilisasikan gerakan sosial yang lebih besar secara cepat atau mengakibatkan dampak yang mengejutkan bagi penguasa . Sedikit banyak mahasiswa di Dunia Ketiga bertindak sebagai “hati nurani “ masyarakat mereka . Faktor-faktor ini merupakan penjelasan parsial atas efektifitas relatif gerakan-gerakan aktivitas mahasiswa di Dunia Ketiga dalam dua puluh tahun terakhir ini. Namun semua gerakan kemahasiswaan di Dunia Ketiga tidak efektif , dan sering dikenakan represi yang efektif dalam menghancurkan gerakan-gerakan tersebut . Memang , kekerasan yang dilakukan terhadap para mahasiswa serta kematian akibat kekerasan tersebut lebih

(5)

banyak terjadi di Dunia Ketiga dibanding negara-negara industri . Korea Selatan dan Muangthai merupakan contoh-contoh terakhir tentang represi besar-besaran atas mahasiswa. ( Altbach , 1988 : 3 – 10 )

Arkeologi Gerakan Mahasiswa

Pada bulan Januari 1901 Ratu Wilhelmina mengumumkan di depan Parlemen program Pemerintah Belanda yang baru saja terpilih . Pemerintah mengikuti bahwa sementara di masa lalu banyak perusahaan dan orang-orang Belanda telah memperoleh keuntungan yang berlimpah-limpah dari Hindia Belanda , penduduk di tanah jajahan itu sendiri semakin miskin . Tujuan utama pemerintah jajahan di masa mendatang ialah memperbaiki kesejahteraan rakyat . Ratu Wilhelmina menambahkan bahwa bangsa Belanda : telah berhutang budi : kepada rakyat Hindia Belanda . Dengan bernaung di bawah apa yang kemudian dikenal sebagai politik etis , pemerintah Hindia Belanda perlahan-lahan memperluas kesempatan bagi anak-anak Indonesia dari golongan atas untuk mengikuti Sekolah-sekolah berbahasa Belanda tingkat dasar dan menengah . Sampai akhir Perang Dunia I kebijaksanaan yang baru dalam pendididikan tersebut menghasilkan beberapa lulusan yang jumlahnya semakin meningkat ( Ingelson ,1983 : 1 ) Pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan sekolah kedokteran tingkat menengah pada tahun 1902 dengan nama School Tot Opdeling van Inlandsche Arsten ( STOVIA ), yang merupakan kelanjutan dari Sekolah Dokter Djawa ( 1851 ) . .Pada tahun 1914 STOVIA ditingkatkan lagi karena calon-calonnya haruis diambil dari lulusan MULO . Pada tahun itu pula di Surabaya didirikan sekolah sejenis dengan nama Nederlands Indiische Artsen School ( NIAS). Baru pada tahun 1927 pemerintah mendirikan Sekolah Tinggi Kedokteran ( Genneskudige Hoogeschool ) atau GH yang mengambil lulusan AMS dan HBS .

Untuk tenaga-tenaga kejaksaan dan pengadilan , pada tahun 1909 didirikan Rechts School.Pada tahun 1924 , ketika lulusan Sekolah Menengah sudah banyak , didirikan Sekolah Hukum Tingkat Tinggi dengan nama Rechts Hoogeschool . .Pendidikan per tukangan sudah dicoba dari masa ke masa sejak abab ke-19 . Sebagian besar sekolah-sekolah itu tidak berlangsung lama, Dalam awal abad ke-20 dicoba lagi dan kali ini lebih berhasil . Sebuah sekolah teknik tingkat tinggi baru didirikan pada tahun 1920 , dan inipun oleh golongan swasta . Pada tahun 1924 sekolah yang bernama Technische Hoogeschool ( TH ) itu diambil alih oleh pemerintah . .

Perlu disebutkan di sini bahwa sekolah-sekolah tinggi kehakiman , teknik dan kedokteran tidak didirikan khusus untuk orang Indonesia seperti sekolah-sekolah kejuruan dasar dan menengah . Pada mulanya malah golongan Belanda dan Cinalah yang lebih menonjol . Ini disebabkan karena sekolah lanjutan atas bagi pendudukan kepulauan Indonesia belum banyak . Calon-calon dari kalangan orang-orang Indonesia makin banyak memasuki sekolah tinggi setelah orang-orang Indonesia diperkenankan memasuki sekolah-sekolah menengah atas yang khusus didirikan untuk golongan-golongan Belanda . ( Leiressa , 1985 : 27 – 29 )

(6)

Kemajuan nasional negeri-negeri Asia lainnya juga telah berperanan di dalam membangkitkan hasrat maju di kalangan terpelajar Jawa . Kaum terpelajar ini sadar , bahwa persatuan sangat penting bukan sekedar untuk menjamin keberhasilan mereka sendiri , tetapi juga meningkatkan kondisi kehidupan rakyat mereka sendiri . Kesadaran ini , demikian juga kelambanan untuk bersatu, terdapat dan terdengar paling di kuat di kalangan orang Jawa . Inspirasi dan bimbingan yang luar biasa diperoleh dari kampanye menyala-nyala yang boleh dikatakan dilakukan seorang diri oleh dokter Wahidin , seorang lulusan STOVIA .

Tema perjuangan Wahidin adalah , bahwa perjuangan untuk tetap tegaknya budaya dan bangsa merupakan kepentingan vital bagi orang Jawa . Cita-citanya semula terbatas mendirikan organisasi beasiswa agar bisa membantu siswa-siswa yang miskin namun pandai . Para siswa di STOVIA menggunakan usaha ini untuk sekaligus juga mendirikan sebuah organisasi yang bersifat umum bagi penduduk pribumi . Perjuangan untuk persatuan nasional itu dilancarkan pada sebuah rapat tanggal 20 Mei 1908 ; mereka membangun sebuah basis dan dari basis inilah siswa-siswa itu menghubungi orang-orang dari kalangan priyayi inilah siswa –siswa itu menghubungi orang-orang dari kalangan priyayi atasan yang maju , dan juga siswa-siswea dari sekolah-sekolah lain di seluruh Jawa . ( Nagazumi , 1989 : 251 – 253 )

Pada waktu didirikan , rapat yang diselenggarakan pada tanggal 20 Mei 1908 di STOVIA , ternyata dihadiri tidak saja oleh mahasiswa sekolah kedokteran Jawa itu , melainkan juga dari sekolah pertanian dan kehewanan Bogor m sekolah pegawai negeri pribumi atau pamong praja Magelang dan Probolinggo , sekolah-sekolah guru Bandung , Yigyakarta dan Probolinggo dan siswa-siswa dari Surabaya . Ini menunjukkan kemampuan yang sudah dimiliki oleh para mahasiswa untuk menghimpun orang-orang segenerasi pada waktu itu .yang sungguh-sungguh merupakan gejala baru di Indonesia pada awal abad 20. Ia patut dicatat karena awal sejarah kedasaran nasional ternyata adalah awal sejarah pergerakan mahasiswa dan golongan terpelajar juga .

Para mahasiswa STOVIA agaknya berperan memimpin , mengingat prestise tertinggi yang dimiliki oleh mahasiswa kedokteran . Peranan mahasiswa ini ternyata menjadi tradisi karena ternyata kemudian banyak mahasiswa kedokteran yang terlibat dalam pergerakan dan bahkan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa . Tidak berlebihan rasanya untuk dikatakan bahwa berdirinya Budi Utomo ini merupakan kebangkitan kaum muda Indonesia di awal abad ke 20 . Kebangkitan ini ini, sekalipun terbatas di kalangan suku Jawa dan sangat kuat dilatar-belakangi oleh budaya Jawa , tapi kemudian diakui sebagai awal kebangkitan nasional walaupun oleh majalah Jong Indie pada waktu itu hanya disebut sebagai “ Kebangkitan Jawa .”

Peranan mahasiswa dan pelajar memang menonjol , tidak saja dalam proses pembentukannya melainkan juga pada awal perkembangan organisasi Budi Utomo tersebut , setidak-tidaknya hingga kongresnya yang pertama di Yogyakarta tanggal 3 – 5 Oktober 1908 . Peranan Sutomo, Suraji, Saleh, Suwarno dan Gunawan begitu menonjolnya dan mampu mengangkat isu kebangkitan di pers nasional Hindia Belanda

(7)

pada waktu itu , sehingga menenggelamkan peranan Wahidin sendiri . Tak dapat diingkari , bahwa gagasan yang menyebabkan berdirinya BU berasal dari Wahidin , seorang dokter senior yang disebut oleh kalangan muda sebagai “dokter tua “ itu . Sesudah berdiri sebagai organisasi umum, dibentuk pula BU Cabang Yogyakarta yang ketianya adalah dokter Wahidin yang kemudian terpilih sebagai ketua kongres BU yang pertama itu . Kongres itulah yang merupakan titik-balik haluan BU kearah cita-cita Wahidin yang asli .

Sebenarnya bahwa pada waktu mendirikan Budi Utomo , para siswa STOVIA di sekitar Sutomo itu adalah anak-anak muda yang berumur antara 20 – 22 tahun . Mereka boleh dikatakan belum berpengalaman , baik dalam berorganisasi maupun dalam mengeluarkan pendapat BU itulah yang memberikan mereka forum untuk melatih dan mengembangkan diri . Dalam situasi seperti itu mereka menoleh kepada para pemimpin yang lebih senior .Ada dua orang tokoh yang berdiri melatarbelakangi terbentuknya Budi Utomo . Pertama adalah dokter Wahidin sendiri . Kedua adalah seorang tokoh intelektual terkemuka yang kurang disebut namanya dalam hubungannya dengan terbentuknya Budi Utomo yakni seorang Indo-Eropa bernama Eduard Douwes Dekker yang kelak berubah namanya menjadi Danudirdja Setiabudi . Keduanya sangat mempengaruhi pemikiran para mahasiswa dan pelajar pada waktu itu . Pada mulanya , kalangan muda itu lebih terkesan oleh pandangan Wahidin . Tapi kemudian beberapa diantaranya cenderung mengikuti Dekker .

Kaum pelajar dan mahasiswa itu , sebelum bertemu langsung dengan Wahidin , telah lebih dahulu mendengar gagasannya yang mempropagandakan usaha pemberian beasiswa kepada anak-anak pribumi yang pandai . Ia berpendapat bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa . Atas dasar itu ia menghimbau para priyayi dan golongan atas pamong praja pribumi agar mendukung gagasan ini . Gagasan lainnya adalah penyebaran ilmu pengetahuan dan informasi mengenai perkembangan dunia luar guna menambah pengetahuan umum masyarakat . Di samping itu ia juga mencita-citakan untuk melestarikan dan mengembangkan seni-budaya Jawa yang luhur .

Sikap dan langkah yang diambil oleh para mahasiswa dipengaruhi oleh lingkungan tertentiu . Bagi para mahasiswa , langkah pembentukan Budi Utomo itu adalah suatu keputusan politik tersendiri karena mereka harus dapat menilai situasi dan menimbang segala pengaruh yang mereka peroleh dalam menghadapi situasi . Sebelum bertemu dengan Wahidin , para mahasiswa sudah berkenalan terlebih dahulu dengan Douwes Dekker yang rumahnya dapat dicapai dengan berjalan saja dari STOVIA . Rumah Dekker adalah tempat persinggahan karena disitu tersedia perpustakaan dan ruang baca bagi para peminat . Dekker , mempunyai pandangan lain . Ia bercita-cita mendirikan partai-politik yang terbuka bagi kaum pribumi dan Indo-Belanda untuk memperjuangkan Indonesia yang merdeka . Cita-citanya itu dan memikirannya yang progresif , tercermin dalam artikel-srtikel dan berita-berita yang dimuat dalam Koran Bataviaasch Niewsblad ( BN) dimana ia menjadi redakturnya .

Agaknya , para mahasiswa pada waktu itu menghadapi pilihan , apakah mengikuti haluan Wahidin atau Dekker . Wahidin masih berfikir dalam pagar . Ia tidak menentang

(8)

pemerintahan kolonial Belanda , bahkan ingin menciptakan harmoni dengannya . Sementara itu Dekker yang nota-bene keturunan Indo-Belanda itu , justru menentang pemerintahan Belanda di Indonesia . Baginya pemerintah Belanda bukanlah pemerintahannya . Ia menginginkan kolonialisme lenyap dari bumi Indonesia . Dengan sikapnya ia berusaha mempengaruhi masyarakat . Korannya itu sudah tentu mendapat perhatian dari para mahasiswa dan pemuda . Ada dua Koran yang diminati oleh kalangan muda , yaitu Bataviaasch Niewsblad diatas dan De Lokomotief yang terbit di Semarang ( di bawah pimpinan JE Stokvis dan Anton Lievegud )

Tapi agaknya Sutomo lebih cenderung kepada Wahidin . Demikian pula teman-teman lainnya walaupun beberapa diantaranya seperti Tjipto Mangunkusumo , Suwardi Surjaningrat dan Suwarno merasa lebih dekat dan bersahabat dengan Douwes Dekker . Yang jelas , berdirilah Budi Utomo . Dan dalam pendiriannya itu , ternyata Douwes Dekker ikut juga membantu para mahasiswa . Jadi Wahidin yang memberi inspirasi , sedangkan yang membantu membentuknya adalah Douwes Dekker . Ia membantu bukan karena tertarik pada cita-cita Wahidin , melainkan karena hubungan dekatnya dengan para mahasiswa .

Nama organisasi Budi Utomo itu berasal dari kalangan mahasiswa sendiri . Ada yang mengatakan bahwa istilah Budi Utomo itu berasal dari kata-kata Sutomo sendiri kepada Wahidin yang memuji pikiran Wahidin dengan kata-kata ; “ Punika Satunggaling pedamelan sae sarta nelakaken budi utamo “ yang artinya ,” Itu adalah adalah suatu perbuatan yang baik dan menunjukkan budi yang utama . Tapi ada yang mengatakan bahwa istilah itu adalah usul kawannya , Suraji . Pilihan atas nama itu mencerminkan alam pikiran para mahasiswa pada waktu itu . Mereka tidak berpikir mengenai politik , melainkan partai , melainkan sebuah perkumpulan masyarakat . ( Rahardjo , 1990 : xii – xxi )

Anak-anak muda Indonesia yang belajar di negeri Belanda setelah Perang Dunia I semakin banyak jumlahnya dibandingkan sebelumnya .Banyak di antara mereka itu memiliki lebih banyak kesadaran politik daripada angkatan sebelumnya. Ketika masih berada di Indonesia mereka itu itu telah memegang pimpinan dalam organisasi-organisasi pemuda dan telah dengan penuh semangat ikut serta dalam pergerakan kebangsaan . Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa setelah berada di negeri Belanda , mereka ingin terus terlibat dalam politik pergerakan Indonesia dan bergabung dengan organisasi mahasiswa Indonesia, yaitu Indische Vereeninging , untuk menyalurkan keinginan tersebut . Organisasi ini didirikan pada tahun 1908 ; semula merupakan suatu pusat kegiatan sosial dan kebudayaan di mana para mahasiswa Indonesia dapat melewatkan waktu senggangnya dan paling bertukar berita dan tanah air . Pada tahun 1920-an peran sosial dan kebudayaan memang tetap, tetapi berkat pengaruh generasi baru itu maka kedua peran tersebut tidak lagi menjadi fungsi yang utama . Sejak bulan Februari 1925 mereka telah mengembangkan organisasi tersebut sebagai sebuah organisasi yang mengutamakan masalah-masalah politik .Sebagai bagian daripada identitas nasional yang baru, mereka memakai nama Perhimpunan Indonesia dan memberi nama baru Indonesia Merdeka kepada majalah mereka.

(9)

Mereka yang menjadi anggota PI merupakan sekelompok kecil yang terjalin erat dan hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh mahasiswa Indonesia yang ada di negeri Belanda. Tahun 1926 , misalnya pada saat memuncaknya aktivis politik PI, jumlah seluruh anggota PI hanya 38 orang . Namun demikian , pengalaman hidup dan belajar ditengah-tengah masyarakat Belanda telah memberikan suatu akibat yang mendalam . Mereka yang lama tinggal di sana memperoleh pengalaman yang semakin luas , dan mengalami suatu dampak tambahan sebagai akibat perpindahan mereka dari suatu masyarakat kolonial yang restriktif dan paternalistis ke dalam masyarakat yang lebih terbuka di mana mereka untuk pertama kalinya dianggap sederajat dengan bangsa Eropa baik di depan hukum maupun dalam masyarakat . Sebagian dari mereka itu berasal dari desa atau kota kecil dan yang pada waktu belajar di Bandung atau Batavia tercerabut dari kebudayaan desa karena tertelan oleh kehidupan kota dan hiruk pikuk dunia Barat yang baru saja mengalami guncangan mental perang dunia , kini, mempunyai kesempatan di Eropa , untuk untuk mengatasi krisis identitas pribadi . Usaha penemuan kembali identitas pribadi ini pada tingkat kelompok berjalan sejajar dengan usaha pencarian identitas sebagai bangsa Indonesia . Keduanya tersalur kedalam aktivitas gerakan kebangsaan .

Kebanyakan mahasiswa tersebut sewaktu tiba di negeri Belanda, berumur sekitar 20 tahun , di mana kesepian dan keterasingan budaya merupakan masalah utama yang harus mereka atasi . Untuk mengatasi masalah ini mereka saling membina persaudaraan dan saling membantu dan sedikit sekali bergaul dengan mahasiswa Belanda . Para mahasiswa yang membawa serta istri dan anak-anaknya sering mengundang mahasiswa-mahasiswa bujangan untuk makan bersama demi persahabatan . Karena bersama-sama terlempar ke dalam suatu lingkungan asing , meningkatkan kebanggaan bersama terhadap tanah airnya sendiri . Perbedaan kedaerahan , kesukuan dan kekhasaan masing-masing mereka yang semula dibesar-besarkan unutk keuntungan orang Eropa kini ditempatkan dalam perspektif baru . ( Ingelson , 1983 : 1 – 3 )

Sumbangan PI yang terbesar adalah usahanya mengembangkan ideologi sekulernya yang menjadi dasar dari satu arus utama gerakan kebangsaan setelah tahun 1927 . Mungkin tidak satu pun ideologi yang benar-benar orsinal . Unsur-unsurnya dapat ditelusuri kembali dalam organisasi politik dan nonpolitik yang telah mendahuluinya bertahun-tahun sebelumnya . Tetapi , yang belum pernah dikerjakan oleh organisasi sebelumnya PI menyatukan unsur-unsur itu ke dalam organisasi yang secara keseluruhan berpadu . Inilah organisasi Indonesia pertama yang namanya menggunakan kata“Indonesia “. Seandainya dianggap tidak menghasilkan sesuatu yang lain lagi sekalipun , namun tekanan yang diberikan PI pada bangsa Indonesia dan usahanya mengembangkan jati diri nasional , yang bukan bersifat kedaerahan , tetap mempunyai arti penting yang abadi . Anggotanya sering kali tiba di negeri Belanda tanpa mendapat bayangan yang jelas tentang politik , tetapi hampir semuanya pulang ke tanah air dengan dikaruniai jati diri nasional dan berketetapan hati untuk menciptakan bangsa yang merdeka dan bersatu .

PI tidak hanya mengembangkan ideologi . Anggota-anggotanya jadi terpikat oleh ide dan semangat nasionalisme baru tersebut , dan ketika pulang ke tanah air mereka tetap aktif di bidang politik . PNI hampir seluruhnya adalah ciptaan PI , demikian pula organisasi

(10)

penerusnya , Partindo dan PNI Baru . Ketiga partai ini bersama-sama mendominasi gerakan kebangsaan setelah tahun 1927 . ( Ingelson , 1993 : 102 – 103 )

Sejak tahun 1926 mulai terlihat kecenderungan kearah penyatuan organisasi-organisasi angkatan muda yang telah ada . Kalau menjelang dekade kedua tahun 1900-an sifat organisasi angkatan muda diwarnai sifat kedaerahan dan keagamaan , setelah periode tersebut mulai diwarnai oleh keterlibatan mereka dalam masalah politik nasional . Salah satu sebabnya adalah makin menebalnya perasaan kebangsaan yang merasuki sebagian besar tokoh-tokoh angkatan muda Indonesia . Dua organisasi pemuda yang baru muncul dan langsung memasuki gelagang politik adalah Perhimpunan Pejalar-Pejalar Indonesia dan Jong Indonesia . Kedua organisasi ini seperti terlihat kelak akan sangat banyak berperan dalam mencetuskan Sumpah Pemuda di tahun 1928 .

PPPI berpendapat bahwa persatuan Indonesia adalah senjata yang kuat dalam perjuangan melawan kaum penjajah Belanda . Untuk itu menurut PPPI perasaan kedaerahan harus dihilangkan karena perasaan kedaerahan harus dihilangkan karena perasaan semacam itu memperlemah persatuan . Caranya , menurut PPPI , adalah dengan menfusikan semua organisasi pemuda . Sikap PPPI yang berusaha keras untuk mencapai persatuan itu berarti memasuki gelagang politik . Sebaliknya PPPI selalu tidak lupa mendorong anggotanya untuk rajin belajar . Demikianlah semboyan “ berjuang sambil belajar “ menjadi tekad angkatan muda Indonesia .

Tujuan Jong Indonesia ialah memperluas dan memperkuat ide kesatuan nasional Indonesia . Untuk maksud tersebut Jong Indonesia mendirikan organisasi kepanduan , mengadakan kerjasama dengan organisasi-organisasi angkatan muda lainnya , memajukan olahraga , menerbitkan majalah dan penerbitan lainnya , serta mentelenggara

kan rapat-rapat . Walaupun nama organisasi memakai bahasa Belanda namun mereka memakai bahasa Melayu ( bahasa Indonesia ) sebagai bahasa pengantar .

Cita-cita Indonesia Merdeka barulah dapat menjadi milik bersama bagi organisasi kaum pergerakan setelah melalui liku-liku yang sulit dan panjang . Proses berubahnya perasaan kedaerahan menjadi persamaan nasional tidak diciptakan dalam waktu sekejap .Proses itu telah melalui masa yang panjang . Proses berubahnya perasaan kedaerahan menjadi persamaan nasional tidak diciptakan dalam waktu sekejap .

Tekanan yang diberikan pemerintah kolonial mempercepat cita-cita Indonesia Merdeka itu . Tekanan ini semakin keras dirasakan setelah meletusnya pemberontakan komunis di tahun 1926/1927 . Pemerintah Hindia Belanda , di samping memenjarakan dan membuang mereka yang dianggap terlibat , juga makin mencurigai setiap usaha kaum pergerakan sebagai hasutan pada rakyat untuk merongrong pemerintah . Akibatnya untuk beberapa kaum pergerakan berada dalam situasi khawatir dan was-was karena pemerintah bisa saja menghubungkan kegiatan mereka sebagai gerakan komunis . Situasi seperti itu juga dialami sejumlah tokoh angkatan muda , baik di dalam maupun di luar negeri .

(11)

Pukulan pertama diberikan kepada Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda Tanggal 23 September 1927 empat mahasiswa anggota PI ditangkap dan dituduh menghasut massa terhadap pemerintah , Penangkapan itu dihubungkan juga dengan kegiatan PI dalam Liga Penentang Tindasan Penjajahan dan Pengejar Kemerdekaan Kebangsaan yang mengadakan kongres di Brussel dari 10 – 15 Februari 1927 . Kongres ini , selain menyokong gerakan kebangsaan Indonesia , juga menuntut kepada pemerintah kolonial Belanda untuk memberikan kemerdekaan bekerja kepada kaum pergerakan Indonesia , dan menghentikan pemulangan . Karena kongres diadakan sesudah pemberontakan komunis , maka pemerintah menghubungkan kuputusan kongres Liga itu dengan usaha komunis .

Dalam Indonesia , orang-orang yang dicurigai terlibat dengan pemberontakan ditangkap dan sebagian diasingkan ke Digul di Irian Jaya . Pada tanggal 16 Desember 1927 Pemerintah Hindia Belanda menangkap Dr. Tjipto Mangunkusumo dengan alasan yang sama , yakni dituduh menghasut rakyat . Dr. Tjipto Mangunkusumo kemudian diasingkan ke pulau Banda .

Situasi umum kaum pergerakan banyak membantu dan mendorong organisasi angkatan muda untuk saling mendekati menentukan pilihan fusi atau federasi . Bantuan dan dorongan itu terlihat dengan terbentuknya Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI ) pada tanggal 17 Desember 1927 . Dengan terbentuknya PPPKI maka terlihat inter-aksi kearah persatuan antara organisasi orang dewasa dengan angkatan muda . Suasana ini terus menjadi matang beberapa bulan kemudian , dan dalam suasana seperti itulah para angkatan muda memasuki Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 , yang kemudian menelorkan Sumpah Pemuda .

Sumpah Pemuda tidak hanya merumuskan aspirasi yang hidup di kalangan pemuda tetapi, juga sekaligus menciptakan kearah angkatan muda . Bahkan sampai saat ini Sumpah Pemuda tetap bermakna dalam kehidupan bangsa . Hal ini membuktikan bahwa perumusan Sumpah Pemuda bukan hanya diperuntukan untuk kebutuhan seketika . Sumpah Pemuda adalah tekad abadi yang mengikat setiap insan Indonesia akan fitrahnya yang terikat dalam kesatuan bangsa yang utuh . ( Martha , 1985 : 111 – 124 )

Salah satu sebab mengapa angkatan muda 1908 dan 1928 dapat berperan dan berpengaruh demikian besar dalam masyarakat Indonesia , sehingga tindakan mereka masing-masing disebut awal dari Kebangkitan Nasional dan cikal bakal eksistensi bangsa Indonesia itu sendiri , adalah struktur pendidikan . Struktur pendidikan dan alam pendidikan Barat dalam kedudukan yang istimewa .Bayangkan , dalam suatu masyarakat yang sebagian besar hidup dalam alam agraris-religius /spiritual , buta huruf dan terisolasi , di mana koran belum tersebar , film belum ada dan hubungan-hubungan dengan kota masih sedikit , muncul sejumlah orang Indonesia , yang belajar untuk menyerap ide-ide baru . Angkatan muda ini adalah orang Indonesia yang pertama mendapat pendidikan Barat , yang pertama kali berhubungan dengan dunia dan menjelaskannya secara lain daripada yang lazim dilihat .

(12)

Mereka berwibawa sebab mereka mendapat ilmu Barat , ilmu penguasa kolonial. Sebenarnya , para angkatan muda itu , karena kedudukannya yang istimewa dalam masyarakat , juga tidak mengenal masa muda . Mereka dengan segera didorong masuk ke dalam golongan intelgensia yang berpikir untuk masyarakatnya . Menurut umur , mereka memang pemuda, tetapi fungsinya bukanlah demikian .

Angkatan 1908 dan 1928 adalah contoh klasik , bagaimana segolongan cendikiawan muda dapat mendinamisasikan kehidupan politik . Ide-ide golongan ini diterima oleh dunia dewasa , diperlunak dan dan menurut beberapa orang dijinakkan kearah konservatisme . Ini jelas terjadi dengan ide-ide Angkatan 1908 pada Kongres Budi Utomo pada tahun berikutnya yang dipimpin oleh para bupati dan priyayi tinggi lainnya . Namun , gerakan kearah “ kebangkitan “ tetap berjalan . Demikian juga yang terjadi dengan Angkatan 1928 . Kekuatan tersendiri tidak pernah timbul dari tindakan cendikiawan muda ini , tetapi ide-ide mereka diserap ke dunia politik dewasa .

Tanggapan politisi tua terhadap ide-ide muda ini dimungkinkan karena sebenarnya kedua-duanya merupakan oposisi terhadap pemerintah kolonial dan memang dunia dewasa sudah berpikiran kearah demikian juga . Mengenai angkatan muda sebelum 1945 ini .harus dicatat bahwa mereka menunaikan tugasnya sebagai intelgensia dengan sangat baik . Baik mereka yang belajar kedokteran , teknik, ilmu hukum atau ekonomi tidak menyempitkan diri dalam bidang-bidang mereka , akan tetapi bacaan dan pendalaman pengetahuan mereka yang luas menyebabkan sadar akan issue –issue besar zaman mereka seperti kolonialisme, imperialisme , hubungan internasional dan lain-lain . Generasi itu memang istimewa : berani menentang kolonialisme , menyodorkan suatu keadaan lain dari yang ada , yakni suatu Indonesia merdeka . Dalam hal itu , sampai kini belum ada yang menyamainya .( Onghokham , 1983 : 136 – 137 )

Kalau golongan pemuda pelajar sebelum 1945 dimasukkan kedalam kategori cendikiawan karena pendidikan mereka , maka para pemuda pada tahun 1945 dijadikan pejuang .Peranan pokok angkatan muda pada permulaan revolusi nasional Indonesia pada tahun 1945 adalah kenyataan politik yang paling menonjol pada zaman itu Bagi Belanda yang sedang berusaha datang kembali dari Inggris sekutu mereka , dan juga bagi masyarakat –masyarakat Indo dan Tionghoa , kata pemuda , yang dulu “ biasa saja “ dengan cepat memperoleh pancar cahaya yang menakutkan dan kejam . Di pihak Indonesia , terdapat suatu kepustakaan yang berisi pemujaan , yang memperlihatkan kesadaran yang menggembirakan akan kebangkitan pemuda yang tiba-tiba sebagai kekuatan revolusioner pada saat-saat yang gawat itu . Peneliti-peneliti tentang perkembangan nasionalisme di Indonesia juga telah memberikan tekanan pada corak yang relatif baru dari perwujudan ini dalam suatu masyarakat yang nilai-nilai penghormatannya untuk, dan kepatuhan kepada , orang tua secara tradisional adalah yang tertinggi .

Telah menjadi kebiasaan untuk menghubungkan kebangkitan angkatan muda itu terutama dengan usaha-usaha yang dibuat oleh pejabat-pejabat pendudukan Jepang yang mengerahkan pemuda . Jawa di belakang perjuangan melawan Sekutu yang semakin maju kearah Nusantara . Tak usah diragukan bahwa dengan propaganda yang intensif

(13)

dan pembentukan sejumlah besar organisasi pemuda , apakah militer penuh , para militer,politik , atau bahkan olahraga , Jepang benar-benar membantu mempertajam kesadaran diri yang kuat di kalangan pemuda yang mereka kerahkan itu . Namun , janganlah dianggap bahwa politik Jepang itu akan memperoleh hasil yang bermanfaat seperti itu jika sebelumnya tak ada segi-segi tertentu dari kehidupan Jawa yang sangat berakar . Sebenarnya pemuda itu adalah suatu golongan penting dari masyarakat Jawa tradisional , yang mendapat suatu corak dan arti tersendiri dari kebudayaan Jawa

Dalam suatu pengertian . “ pemuda “ ditentukan oleh masyarakat sebagai tahap tersendiri dalam garis busur kehidupan antara masa kanak-kanak dan dewasa . Tetapi dalam pengertian yang lain maka arti pemuda melebihi busur kehidupan itu, dan dengan corak Kebudayaannya yang otonom ia membedakan dirinya dari masyarakat tradisional melalui penentangan yang sistematis . Hanya dengan membayangkan golongan pemuda itu sebagai bagian dari busur kehidupan dan sebagai sarana kebudayaan untuk melampui busur itu , maka orang dapat mengerti peranan pemuda Jawa dalam zaman revolusi itu . ( Anderson , 1988 : 21 – 22 ) .

Dalam berbagai cara yang berbeda , pesantren dan asrama telah menawarkan cara hidup yang berdisiplin dan rela mengorbankan kepentingan sendiri dalam upaya mencapai tujuan tujuan yang luhur . Dari lembaga-lembaga ini gerakan pemuda ini banyak memperoleh gaya khas dan simbolismenya . Tetapi gaya dan simbolisme dalam diri mereka itu tidak cukup untuk menyalurkan air pasang pemuda itu menjadi suatu kekuatan revolusioner politik yang terpadu . Orang dapat menganggap gerakan pemuda itu sebagai mesin mobil yang dijalankan dengan kecepatan setinggi-tingginya , tetapi tanpa seorang sopirpun yang bisa memasang pernellingnya .

Pemuda itu tidak menemukan sopir mereka . Selama waktu yang singkat , di berbagai tempat yang berbeda , badan perjuangan dan militer sebagaian mengisi fungsi ini . Partai-partai politik , karena sebagian besar terdiri dari anggota-anggota golongan atas politik , tidak pernah dapat melakukan hal itu . Tetapi tentara dan badan perjuangan itu sendiri tidak cukup ; dan dengan kegagalan untuk menempa mereka ke dalam suatu struktur nasional yang terpadu , gerakan pemuda itu ditakdirkan untuk kecewa terus . Dengan demikian Revolusi itu tidak pernah menjadi lebih dari pada siatu “revolusi nasiona; “ , ia berakhir dalam tahun 1949 , ketika Belanda menyerahkan kedaulatan sah atas hampir seluruh kepulauan itu ke dalam tangan Indonesia , dan Soekarno pindah ke dalam sebuah istana tempat para gubernur jendral telah begitu lama bertahta . Potensi-potensi Revolusi itu hanya sepintas dapat dilihat dalam revolusi-revolusi sosial yang berlangsung dengan singkat dan terpencil di daerah-daerah , dan dalam ingatan dari beberapa orang yang telah mengalaminya .( Anderson , 1988 : 446 )

Angkatan 1966

Dari mana dan sejak kapan terbentuk identitas sosial mahasiswa sebagai kekuatan politik? Persepsi dan konsepsi tentang peran sosial ini terbentuk dan menguat sejalan

(14)

dengan tegaknya hegemoni Negara Orde Baru . Sejak aksi-aksi unjuk rasa yang diorganisasikan oleh KAMI ( terutama di pusatnya , Jakarta , sepanjang bulan-bulan akhir 1965 dan awal 1966 ) untuk meretaskan jalan bagi pemberontakan PKI , kejatuhan Soekarno dan kenaikan Jendral Soeharto ke puncak pemerintahan itu ; seakan-akan meledak semacam praktek diskursif tentang arti gerakan mahasiswa dan peranan mereka dalam perubahan politik . Tak usah heran , karena situasi umum di dunia pada saat itu tengah dimeriahkan gelombang protes yang dipelopori dan digalang dari dalam kampus. Walaupun kita tidak boleh membayangkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi saat itu sudah sedemikian canggih seperti sekarang , namun kita tidak boleh meremehkan gema yang meluas dari gerakan-gerakan protes mahasiswa di luar negeri dalam membentuk pendapat umum dunia , dan kemudian peranan mereka sebagai faktor kunci dalam perubahan atau bahkan suksesi kekuasaan .

Selain faktor pengaruh gaung internasional , yang unik dalam pembentukan identitas sosial mahasiswa di masyarakat Dunia Ketiga adalah pandangan historis-demografis tentang posisi politik mereka . Dalam arti ini, mahasiswa dipandang sebagai bagian dari politik kaum muda yang dipertentangkan dengan establishment yang diduduki orang tua (dewasa ) . Namun , berbeda dengan konsepsi youth culture yang ada di Barat , pandangan tentang pemuda di Indonesia juga bermakna politik serta memiliki kaitan masa lampau yang khas . Sumber legitimasi perannya pertama didapat dari Kebangkitan Nasional 1908 lalu Sumpah Pemuda 1928 , dimana pemuda dipandang sebagai pelopor dan pemersatu bangsa dan kemudian pada masa Perang Kemerdekaan dalam sebuah revolusi yang dilakukan oleh pemuda .

Pada tiga titik penting dalam pembentukan nasionalisme Indonesia itulah mahasiswa lalu menemukan makna politiknya dalam kisah sukses aksi-aksi Tritura yang kemudian disebut sebagai “ Angkatan 1966 “ ; bukan sekedar sebagai pemuda tetapi juga sebagai mahasiswa . Yang unik dibandingkan dengan pra-1966 di mana agen perubahan sosial adalah pemuda, maka setelah tahun 1966 , dalam arti demografis yang sangat umum , peran tersebut dipegang oleh mahasiswa . Karena itu , acuan untuk mengindentifikasikan peran mahasiswa dalam sejarah politik Indonesia kemudian juga ikut dipilah-pilah menurut pembagian angkatan : “08,”28,”45 dan “66 Tetapi pembedaan nama angkatan demi angkatan , pada akhirnya bukan hanya menunjukkan masa , masyarakat yang melahirkannya , dan alam pikiran yang mereka bawa . . Pembedaan nama telah pula menjadi penunjuk perbedaan “jejak sejarah “ yang dibuat , dan dijadikan :lawan “ dalam perjuangan . Angkatan 1908, 1928 dan 1945 , yang lahir pada masa kolonial , yang menempatkan dirinya pada medan yang berseberangan dengan penjajah . Hasrat politiknya , mereka jejakan secara nyata dan dengan makna yang mendasar ,baik pemikir an nasionalisme , yang harus direbut untuk sebuah bangsa .

Generasi sesudah mereka sama sekali tidak dalam kedudukan seperti itu. Angkatan 66 dan setiap gerakan anak muda yang muncul setelah itu tidak lagi berhadapan dengan“orang lain “. Gerakan anak muda dalam masa merdeka , bermuka-muka dengan sistem yang dibuah oleh generasi orangtuanya . .

(15)

Tentu saja kemunculan mahasiswa sebagai presentasi politik angkatan muda berkesesuaian dengan kenyataan sosiologis dalam periode 50-an dan 60-an di mana terjadi perluasan pendidikan tinggi dan proses politisasi masyarakat serta mobilisasi massa yang menjangkau hingga ke kampus-kampus. Yang artinya , meluasnya golongan terpelajar dan terdidik dengan kemungkinan munculnya tuntutan baru , seperti mobilitas sosial , kesejahteraan hidup , serta pengintegrasian kembali kedalam kapitalisme internasional .

Tetapi arti penting pembentukan Orde Baru di tingkat negara ialah terjadinya aliansi segitiga antara perwira Angkatan Darat , teknokrat , dan mahasiswa . Ketiganya merupakan bagian dari lapisan elite intelgensia yang bakal menyerap, melopori dan menyebarkan gagasan modernisasi . Dengan kata lain, disamping militer dan teknokrat , mahasiswa juga dipercaya sebagai agen modernisasi atau pembangunan . Tetapi aliansi segitiga itu pecah ketika terjadi disintegrasi dalam KAMI , dan mulai muncul persoalan bagaimana mendefinisikan peran mahasiswa selanjutnya dalam sistem politik dan bagaimana seharusnya tugas dan masa depan para eksponen angkatan 1966 . Akhirnya, setelah isu back to campus muncul di akhir 60-an , mahasiswa tampaknya menentukan peranannya yang cocok sebagai calon “intelektuial “ atau “ intelgensia .”( Rajab ,1991 : 68 – 49 )

Pandangan tersebut sebetulnya bertolak dari suatu diskursus yang menggunakan konsep“moral” . Mahasiswa bukan kelompok politik yang berusaha mendapat kekuasaan, melainkan suatu kekuatan moral (moral force ) yang secara aktif ingin ikut berperan dalam mencapai cita-cita negara . Tugas mahasiswa ,dalam konsep ini melakukan kritik terhadap keadaan sosial yang kacau . Dalam pandangan ini peran mahasiswa dimiripkan dengan peran resi dalam konsepsi kuasa dalam budaya feudal-kolonial Jawa, ( Budiman , 1976 ) Jika resi hidup di lereng-lereng gunung terpencil sebagai tempat pertapaannya , maka mahasiswa berada di kampus-kampus universitas . Mahasiswa dan kaum terpelajar harus turun dari universitas jika terjadi ketidakberesan atau kekacauan di masyarakat , tentu saja dengan tugas melancarkan kritik sosial terhadap penguasa ( Radjab, 1991 : 68 – 69 )

Dengan penuh kenangan dan heroisme perjuangan kembali ke kampus membawa mitos kemenangan , mengabdikan perjuangan mereka dalam berbagai monumen , seperti Angkatan 66 dan sebagainya . Ini penting tidak hanya untuk kalim sejarah , tetapi yang lebih penting adalah sebagai modal dan sarana untuk klaim representasi politik di kemudian hari . Angkatan 66 dimunculkan sebagai mitos dan dijadikan rujukan sejarah bagi gerakan mahasiswa yang berhasil memperjuangkan idealismenya . Yang terpenting tidak hanya klaim sejarah sebagai sejarah , tetapi yang lebih penting lagi , sejarah sebagai modal untuk menuntut representasi politik di kemudian hari . Selama Orde Baru berkuasa, angkatan itu mendapatkan fasilitas dan peran yang cukup memadai sebab sejarah Orde Baru sangat berhimpitan dengan sejarah gerakan mahasiswa Anmgkatan 66, sehingga keduanya saling membutuhkan . ( DZ, 1999 : 37 )

Sebagian besar mitologi ini memang dibentuk dan ditentukan oleh negara , melalui pewarisan cerita kepahlawanan dari Gerakan Mahasiswa di tahun 1966 dan dibumbui

(16)

dengan gagasan peranan sosial mahasiswa di sebuah negeri yang sedang membangun . Kendati mitologi tentang peranan ini terus merasuk ke kepala sang mahasiswa , diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya , yang kemudian melahirkan berbagai pertunjukan-pertunjukan baru dan tidak harus sesuai dengan “skenario 66 “ – namun inti mitos-mitos tersebut terus lestari hingga saat ini . Walaupun demikian , dan refleksi para bekas aktivis mahasiswa terhadap peristiwa 1966 sudah muncul upaya sadar untuk melepaskan diri dari mitor-mitos tentang peranan sosial-politik yang membebani mereka .

Salah satu upaya demitologisasi yang paling awal , misalnya , coba meluruskan persoalan yang selalu membelenggu dan menjadi dilemma bagi etos gerakan protes mahasiswa , yakni antara pilihan gerakan politik atau moral. Dengan membongkar apa yang sebenarnya terjadi pada bulan –bulan bersejarah di tahun 1966 , seorang eksponen gerakan mahasiswa 1966 mengemukakan bahwa sesungguhnya peranan mahasiswa dalam penggulingan Sukarno dan meretaskan jalan bagi Orde Baru , sangatlah kecil. Bahkan dia mengatakan bahwa mahasiswa pada saat itu sebenarnya tak lebih hanyalah alat legitimasi yang digunakan oleh “lawan-lawan “ Soekarno dan musuh-musuh kom unisme untuk melanjutkan perpindahan kekuasaan ke tangan Soerharto . Karena itu sangatlah tidak berdasar dan sama sekali tidak relevan untuk mengatakan bahwa gerakan mahasiswa bebas dari penunggangan kepentingan politik tertentu . Per definisi, gerakan mahasiswa merupakan sebuah kekuatan politik , entah atas nama dirinya atau atas nama rakyat . Karena itu tidak ligis untuk melihat gerakan mahasiswa sebagai sebagai kekuatan yang bebas politik . Lebih jauh lagi dia menyimpulkan bahwa tuduhan ditunggangi sesungguhnya merupakan strategi ganda yang khas digunakan oleh penguasa manapun untuk mendapat legitimasi atau sebaliknya untuk men”delegitimasi “ gerakan perlawnan . Legitimasi diperlukan karena dalam batas0batas yang ditoleransi penguasa, kritik dan protes mahasiswa jutsru diperlukan oleh penmguasa untuk menunjukkan masih hadirnya “kelompok penekan “. Dengan demikian , mengesankan adanya “demokrasi “ dan mungkin saja : opsisi . api jika kritik dan protes mahasiswa dipandang mengganggu tata tertib serta tatanan yang ada dan delegitimasi tidak ampuh meredam protes , maka represi dan koersi tak segan-segan digunakan . Strategi permenen “permen “ dan “pentungan “ inilah yang digunakan negara untuk tetap mempertahankan tatanan yang ada.

Dalam versi lain, upaya demitologi juga coba dilakukan oleh seorang mantan aktivis mahasiuswa 1966 . Upaya ini dilakukan supaya kacama menjadi proporsial memandang peranan mahasiswa, tanpa melebih-lebihkan dan juga tanpa isyarat apologetic jika ternyata mahasiswa tidak memainkan peranan seperti yang diharapkan oleh identitas sosialnya sendiri. Dipertanyakann anggapan yang melihat bahwa angkatan 66 telah memainkan pperanan besar , bahkan peranan yang menentukan dalam Skenario 1966 . Pertama , dipertanyakan sampai seberapa jauh sebenarnya kesadaran “sejarajh” dari para demontran tersebut akan hadir nya momentuym perubahan . Menurutnya , kesadaran mereka sebenarnya baru sampai pada seruan Tritura , sama sekali tidak menciptakan platform kehidupan politik nasional yang baru .Karena diusulkan pihak dari taraf ornament semata-mata . Kedua , untuk mewujudkan paradigma ini penggaris atas dasar umur, status kemahasiswaan , danm : kekuatan moral dan kontrol.” Tidaklah memadai .

(17)

Artinya , dalam suatu rekayasa besar perubahan politik sangatlah berlebihan meletakkan mahasiswa dalam peran yang menentukan . ( Radjab , 1991 : 73 – 74 )

Pecahnya Bulan Madu Mahasiswa – Militer

Mulai dasawarsa 1970-an dominasi ABRI dalam bidang sosial politik semakin kuat , hampir tidak ada wilayah yang tidak dijamah oleh kekuatan militer ,Setelah itu gerakan mahasiswa sepenuhnya terserap dalam kekuasaan yang dibangun oleh militer di bwah pimpinan Jendral Soeharto yang diberi nama orde baru dengan Golongan Karya sebagai mesin politik untuk mobilisasi massa. Terbuai oleh program pembangunan dan pembaruan politik yang dicanangkan oleh Orde Baru tidak ada lain lagi bagi gerakan mahasiswa 1966 selain mengikutinya dengan penuh bangga dan penuh harapan . Di dalam parlemen militer telah melakukan redressing , mencopot anggota parlemen yang dianggap berbau orde Soekarno dan mengganti orang-orang yang sejalan dengan politik rezim .Soeharto Disitulah awal dari penyimpangan gerakan demokrasi yang sebenarnya dicita-citakan gerakan mahasiswa pada saat itu , tetapi ironisnya para eksponen aktivis mahasiswa tidak terdengar protes .

Pada rezim yang dibangun militer di bawah kepemimpinan Jendral Soeharto ini Angkatan 66, sebagaimana Angkatan 45 , memiliki klaim historis dan moral untuk memperoleh kekuasaan , demikian juga kalangan aktivis mahasiswa akhirnya memperoleh konsesi politik dari rezim yang berkuasa atas jasa mereka membantu militer untuk menggulingkan kekuasaan sipil yang dipimpin oleh Soekarno . Sebagai aparat dari rezim yang berkuasa yang bercita-cita melakukan modernisasi politik , dan kehidupan politik secara menyeluruh bersama militer . Kelompok Angkatan 66 itu juga menjadi pembela yang gigih terhadap rezim orde baru yang didirikan bersama militer , bersama itu juga ia sama sekali tidak membawa pembaruan terhadap rezim yang dibelanya , justru bersama rezim yang berkuasa ini melakukan retradisionalisasi politik dengan dalih untuk mengeliminir bahaya komunisme . Pertama dilakukan dengan pembongkaran partai-partai politik , kedua dengan membungkamkan pers, ketiga melakukan penguasaan pada lembaga legislatif Tampilnya Jendral Nasution sebagai ketua MPRS tahun 1966 , bukan suatu yang kebetulan melainkan bagian dari stategi militer untuk memuluskan ambisi politiknya untuk memperoleh kekuasaan .

Secara ekstrem Parakitri menilai bahwa sejak awal Angkatan 66 memang tidak memiliki kekuatan moral yang bisa diharapkan , karena itu setelah mereka masuk kekuasaan tidak bisa berbuat lain kecuali menyesuaikan dengan logika kekuasaan militer , lelap disana , bahkan lebih dari itu menjadi pendukung yang fanatik walaupun perilaku rezim itu sangat represif terhadap gerakan kritis dan kelompok pro demokrasi . Namun demikian sebenarnya ada beberapa orang yang sadar akan penyimpangan gerakan 66 tersebut , sehingga orang yang selama ini terlihat pada partai yang berkuasa , Golkar seperti Adnan Buyung Nasution dan Rahman Tolleng , keluar dari aliansi dengan rezim orde bariu , dan mulai aktif melakukan kritik-kritik yang mendasar dan tajam , walaupun akhirnya mereka disingkirkan .( DZ, 1999 : 40 – 41 )

(18)

Kehampaan Angkatan 66 akan ide pembaruan yang mendasar yang ditawarkan bagi kehidupan masyarakat yang mereka perjuangkan , bagi generasi sesudah itu sangat disadari . Strategi perjuangan anak-anak muda satu dasawarsa sesudahnya pun diperhitungkan dengan mempelajari kelemahan serta kekurangan aksi 1966 . Permainan politik yang dipandang membuat mahasiswa tidak lagi murni hendak dihindari , dan gerakan yang dipilih berpijak pada dasar moral . Itu berarti mahasiswa bergerak dengan gaya resi, suci dan murni .

Pandangan seperti ini , mulai terasa dalam gerakan pada hari-hari pertama ketika mahasiswa sudah merasa “sendirian “ dalam usaha yang bernama menegakkan keadilan dan kebenaran itu . Identitas diri harus ditentukan , dan pemikiran kembali ke kampus yang sudah beredar sejak 1969 , serta semakin santer dalam tahun 1971 , menandahkan bahwa moral sebagai dasar berpijak sudah dipilih . Pada saat itu pula harapan lebih banyak digantungkan pada organisasi mahasiswa universitas .

Ada kesan bahwa terdapat pendewasaan pandangan dari kalangan angkatan muda waktu itu . Tapi tidak pula dapat diingkari , bahwa pandangan seperti itu masih digerakan oleh orang yang dalam aksi 1966 turut berperan . . Sebelum memasuki dasawarsa 1970-an mereka memperdengarkan kritik serta koreksi terhadap orde yang baru beridiri, orde yang mereka retaskan jalan dengan mengalahkan Soekarno serta PKI . Suara-suara itu mengingatkan patner lama akan penyimpangan –penyimpangan yang ia lakukan . Aksi yang berlangsung jauh lebih kecil, banyak pula yang hanya dilakukan beberapa eksponen saja , sangat temporer dan setempat . Organisasi intra universiter dan ekstra universitas tidak pernah lagi bergabung menjadi satu di dalamnya . Pemborosan, korupsi, penyelewengan , masalah demokrasi dan sandiwara politik dijadikan tema gerakan . Ia terjadi di Jakarta . Bandung , Yogyakarta, Surabaya dan Ujungpandang , Di dalamnya terdapat keseragaman –kritis terhadap suasana – namun kepercayaan terhjadap rezim tetap ada . Hanya saja, dukungan yang diberikan kelompok kekuatan yang berada di luar mereka tidak pernah terdengar lagi . Karena itu getaran -getaran yang diperlihatkannya bukanlah seperti getaran aksi 1966 yang ditopang oleh unsur ABRI .

Tahun 1969 , harga bensin naik dan lahirlah “ Gerakan Mahasiswa Mengugat “ . Korupsi, penyakit lama yang baru mulai dibersihkan Operasi Tertib secara kecil-kecilan sejak 1967 , sudah menggelisahkan Komite Anti Korupsi ( KAK) pada tahun 1970 . Sebelum memasuki pemilihan umum 1971 , terdapat kegelisahan dan pernyataan untuk tidak percaya pada 9 partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat . Ia adalah kelanjutan pemikiran pertumbuhan struktur politik yang dimulai sejak akhir 1960-an . Proyek Miniatur Indonesia Indah deng1960-an biaya raksaksa , juga meng1960-andung proses angkatan muda. Tetapi , April 1874 , Taman Mini Indonesia Indah . proyek swasta yang berhasil menghimpun dana dalam negeri sebanyak 2,5 juta dollar AS di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri . selesai dibangun dan diresmikan . Sama dengan KAK , sederetan nama gerakan yang melancarkan kritik untuk ide mendirikan TMII berlalu begitu saja . Nasib yang sama juga dialami oleh rangkaian gerakan yang memprotes keteledoran strategi pengandaan beras sesudah kemarau panjang 1972 . Ia lewat dari ingatan orang begitu Kepala Badan Urusan Logistik ( Bulog ) Ahmad Tirtosudiro berangkat ke Bonn , Jerman Barat , untuk menduduki kursi dutabesar dan digantikan oleh

(19)

Bustanil Arifin .

Baru tahun 1973 terlihat perubahan yang nyata dalam suara protes mahasiswa. Pemikiran untuk memeriksa kembali strategi pembangunan mulai terdengar dari kampus. Tapi ide ini sebetulnya berasal dari kalangan ekonom yang membuat kritik terhadap pembangunan yang terlalu berorientasi pada GNP , dan mempersoalkan faktor-faktor non-ekonomi dalam pembangunan .

Koreksi yang dilancarkan sepanjang 1973 semakin keras ketika Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI ) , J.P. Pronk , berkunjung ke Jakarta . Pernyataan kegelisahan disampaikan sejak Pronk mendarat di Kemayoran . Dia disambut dengan karangan bunga, poster dan surat pernyataan ketidakpuasaan terhadap kebijaksanaan pembangunan . Di sini , kalkulasi politik mulai masuk kembali .

Dalam masa ini , selain mempersoalkan strategi pembangunan , tema perjuangan yang bersifat kecil juga diperlihatkan . Beberapa peroalan yang dijadikan inti proses adalah masalah Asisten Pribadi Presiden , kekayaan pejabat , persoalan Pertamina , dan korupsi lainnya . Masalah hukum , keadilan dan hak asasi manusia juga masuk didalamnya . Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang juga mengundang kehebohan . tidak lagi diributkan sebelum tahun 1973 berakhir..

Dengan peranan organisasi mahasiswa intra unicersitas secara penuh , dalam masa ini terlihat kesatuan semangat di dalam tubuh mahasiswa . Gejolaknya tidak begitu cepat . Walaupun sudah bersifat federatif - seperti yang diperbuat Angkatan 66 dengan membentuk KAMI – tidak didirikan , masa akhir 1973 dan awal 1974 adalah saat di mana mahasiswa memperlihatkan suara bulat . Tanggal 13 Januari 1974 , 85 orang delegasi 35 dewan mahasiswa (dari poerguruan tinggi di Jakarta , Bandung , Bogor, Yogyakarta , Denpasar , Banjarmasin , Medan , Aceh , Padang , Semarang , Ujungpandang , dan Purwokerto ) diterima berdialog hampir dua jam oleh Presiden Soeharto di Bina Graha . Hasil pertemuan ini dipandang tidak memuaskan oleh mahasiswa.

Puncak gejolak terjadi ketika Perdana Menteri Jepang , Kakuei Tanaka, datang ke Jakarta dalam rangkaian kunjungnya ke Asia Tenggara. Sekaligus pula ia hampir menjadi titik kematian gerakan kaum muda Indonesia . Tanggal 15 Januari 1974 , ketika Tanaka dan rombongan berunding dengan Presiden Soeharto dan beberapa menteri Kabinet Pembangunan II di Istana , mahasiswa berpawai dari kampus UI , Salemba, ke kampus Trisakti , Jl. Kyai Tapa , Jakarta Barat . Di luar route pawai ini, pada saat itu pula berbagai penjuru Jakarta terjadi aksi massa yang merusak gedung serta membakar mobil buatan Jepang . Keadaan menjadi lain . Gerakan mahasiswa yang untuk hari-hari sebelumnya memperoleh nama keramat , karena huru-hara yang melanda Jakarta ini memperoleh sebutan “malapetaka :. Peristiwa pembakaran mobil dan aksi pengerusakan oleh massa 15 Januari 1974 kemudian dipopulerkan dengan akronim “Malari “ ( Malapetaka 15 Januari )

(20)

Tanaka meninggalkan Jakarta setelah diterbangkan ke Halim Perdanakusuma dengan helikopter dari atas Bina Graha , 16 Januari 1974 . Setelah itu perkembangan cenderung jadi tenang . Halaman suratkabar pun sepi dari anak muda yang berkeluh-kesah . Rusak dan terbakarnya beberapa gedung di Jakarta , serta bangunannya kendaran –kendaraan buatan Jepang , disusul oleh serentetan penahanan dan interogasi – yang tidak hanya dilakukan terhadap mahasiswa , tetapi juga terhadap ilmuwan, cendikiawan dan anggota DPR – menghentikan semuanya . Beberapa suratkabar dan majalah diberangus . Lembaga Asisten Pribadi Presiden bubar , terjadi pergeseran jabatan dalam lingkungan pemerintahan , dan Menteri P dan K Sjarif Thajeb , pemberi inspirasi mendiirikan KAMI tahun 1965 , mengeluarkan Surat Keputusan 028/1974 yang tidak disenangi mahasiswa. Akhirnya vonis pengadilan dijatuhkan terhadap mereka yang dituduh terlibat dalam Peristiwa 15 Januari 1974 . Sebagian lagi dilepas tanpa diproses perkaranya. Tak seorang pun dapat menjawab apa sebetulnya yang terjadi tanggal 15 Januari 1974 .Tetapi ada yang menduga bahwa peristiwa ini sudah dirancang sebelumnya untuk memukul mundur mahasiswa, yang akan dijadikan “dosa keturunan “ gerakan protes angkatan muda . ( Mangiang , 1981 : 100 – 102 )

Terlepas dari semua distorsi mengenai gerakan kisah gerakan mahasiswa 1974 itu , bagaimana pun harus diakui bahwa perjuangan mereka telah menjadi sebuah episode bersejarah dalam kisah gerakan mahasiswa di Indonesia . Gerakan mahasiswa 1974 telah mencoba melakukan respon terhadap tantangan zamannya . Betapapun dari latar belakang yang memicu peristiwa yang diwarnai malapetaka saat itu , namun jika dihubungkan dengan praktek kekuasaan Orde Baru yang mereka protes , di balik itu ada pemikiran kritis yang menandakan subtansi idealisme yang mendorong mahasiswa untuk mengisi kekosongan yang justru mungkin telah dianggap remeh oleh kekuatan politik lainnya . Hal ini mengingat kondisi Indonesia sejak rezim Orde Baru tampil berkuasa mulai tahun 1966 hingga tahun 1974 , telah berlangsung praktek kekuasaan yang justru mengabaikan nasib rakyat banyak , pemerataan , keadilan dan demokrasi , namun kekuatan politik yang ada seolah menutup mata .

Perbedaan antara gerakan mahasiswa 1974 dengan 1966 , adalah jika dalam peristiwa 1966 organisasi ekstra universitas ( KAMI ) memainkan peranan yang amat menentukan , maka dalam peristiwa 1974 , gerakan mahasiswa semata mengandalkan basis organisasi intra ( Dewan Mahasiswa ) . Ini menunjukkan adanya indepedensi yang sangat tinggi dari gerakan mahasiswa , yang terkait dengan berkembangnya kultur demokratisasi yang mereka praktekkan termasuk melalui sosialisasi pemilihan dewan-dewan mahasiswa . Di lain pihak , hal ini mungkin tidak terlepas pula dari pemikiran yang berkembang pada generasi 1974 yang menilai keberadaan eksistensial dan aktivitas protes mereka semata sebagai bentuk kekuatan moral , sedangkan generasi 1966 dalam konteks yang berbeda dilihat merupakan representasi wujud gerakan mahasiswa sebagai kekuatan politik . Dengan kata lain , mahasiswa 1974 ingin menjadikan potret gerakan mereka berwajah netral, yakni sebagai gerakan yang terpusat dari kampus dengan motif moral dan intelektual yang murni , dan tidak memiliki ikatan organisatoris sama sekali apalagi interes politik dengan kelompok tertentu atau kekuatan sosial politik di luar komunitas mereka . Sesuatu yang jelas membedakan dengan gerakan mahasiswa 1974 dengan 1966 ,

(21)

adalah karena gerakan mahasiswa 1966 memiliki linking politis yang jelas dengan kekuatan-kekuatan atau organisasi –organisasi luar kampus seperti misalnya militer dan KAMI par exelence ( Magenda , 1977 : 13 – 14 )

Menyusul peristiwa Malari , sebagai reaksi terhadap gerakan mahasiswa 1974 , pemerintah pun memberlakukan SK No. 028/U/1974 yang pada intinya berisi petunjuk-petunjuk pemerintah dalam rangka pembinaan kehidupan kampus perguruan tinggi . Kebijakan ini pada hakekatnya merupakan sebuah usaha sistimatis yang hendak dilakukan pemerintah dalam usasha pembatasan aktivitas politik mahasiswa . Melalui SK ini ditegaskan antara lain mengenai apa yang disebut sebagai kegiatan bersifat politis di mana hal itu , - menurut penguasa – harus dilaksanakan dengan bimbingan dan atas tanggung jawab pimpinan perguruan tinggi dan berdasarkan penganalisaan secara ilmiah. Selain itu , ditegaskan bahwa otonomi perhuruan tinggi dan kebebasan ilmiah dilaksanmakan dengan mengingat segi hak dan tanggung jawab yang melekat pada tiap kebebasan , sedangkan kebebasan dalam penerapannya adalah kongkrit , situasional dan terikat pada ruang dan waktu . ( Juoro , 1981 : 52 – 68 )

Menuju depolitisasi kampus

Pada periode ini , gerakan mahasiswa sebetulnya bermain politik lebih terang-terangan jika dibandingkan dengan gerakan yang yang terjadi akhir 1973 dan awal 1974 . Ia

hampir sama berterus-terang dengan yang dilakukan oleh Angkatan 66 ketika menghadapi Soekarno dahulu . Tetapi ia berbeda satu dengan yang lain . Angkatan 66 mendapat dukungan jelas dari kalangan militer , sedangkan anak-anak muda yang memprotes kekuasaan tahun 1977 , tidak punya pendukung nyata . Partai politik yang baru saja menyaksikan kemenangan Golkar secara mutlak untuk kedua kalinya dalam pemilihan umum 1977 tidak pernah membuat pernyataan jelas tentang ini . Garis keras yang dibuat kekuasaan dalam mengahadapi gerakan protes di luar parlemen ini, menumbuhkan beberapa hal lain yang harus dirasakan kalangan di luar kampus . Beberapa suratkabar terkemuka di Jakarta ditutup selama dua minggu , dengan alasan pemberitaan yang mereka sajikan dapat menghasut dan membangkitkan gejala yang membahayakan negara ..

Dari pihak pemerintah sendiri ada usaha mengirim tujuh menteri bidang ekonomi ke kampus-kampus untuk berdialog dengan mahasiswa mengenai pelaksanaan pembangunan . Cara ini terbaca seperti” ingin menjinakkan kampus lewat teknokrat “ sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang tahun 1978 . Tetapi usaha ini gagal di tiga kampus, Universitas Indonesia ( Jakarta ) , Insitut Teknologi Bandung ( Bandung), dan Universitas Gadjah Mada ( Yogyakarta ) . Mereka ditolak mahasiswa . Ketika itu banyak golongan menengah yang anti-politik khawatir akan berlanjutnya gelombang protes menjadi huru-hara seperti waktu-waktu yang lalu .

Dari kalangan mahasiswa sendiri ada keinginan agar kekuatan politik di luar mereka memanfaatkan suasana yan telah mereka ciptakan . Mereka tetap menamakan gerakan tersebut sebagai gerakan moral yang menjadi perhitungan politik praktis . Tetapi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :