Pemeriksaan Fisik Abdomen (Patologis)

43 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BUKU MATERI PELATIHAN KETERAMPILAN MEDIS BUKU MATERI PELATIHAN KETERAMPILAN MEDIS

PEMERIKSAAN FISIK UMUM PEMERIKSAAN FISIK UMUM

TAHUN 3 TAHUN 3

PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN

PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN

(PATOLOGIS)

(PATOLOGIS)

BLOK 3.3 BLOK 3.3

Laboratorium Keterampilan Medis Laboratorium Keterampilan Medis

Fakultas Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta Yogyakarta

2010 2010

(2)
(3)

PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN

(PATOLOGIS) (PATOLOGIS) Koordinator: Koordinator: Bambang Djarwoto Bambang Djarwoto

Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Ginjal-Hipertensi, Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Ginjal-Hipertensi,

Bagian Ilmu Penyakit Dalam Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

KONTRIBUTOR: KONTRIBUTOR: Rizka Humardewayanti Asdie

Rizka Humardewayanti Asdie Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Penyakit Tropik-Infeksi Penyakit Tropik-Infeksi Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UGM Fakultas Kedokteran UGM

Neneng Ratnasari Neneng Ratnasari

Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Gastroentero-hepatologi

Gastroentero-hepatologi

Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UGM Fakultas Kedokteran UGM

Fahmi Indrarti Fahmi Indrarti Spesialis Penyakit Dalam Spesialis Penyakit Dalam Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Fakultas Kedokteran UGM Fakultas Kedokteran UGM

KO-KONTRIBUTOR: KO-KONTRIBUTOR: Arum Tri Wahyuningsih Arum Tri Wahyuningsih Asisten Tim Materi Skills Lab Asisten Tim Materi Skills Lab Fakultas Kedokteran UGM Fakultas Kedokteran UGM

Suharyanto Suharyanto

Karyawan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Karyawan Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Fakultas Kedokteran UGM Fakultas Kedokteran UGM

ACKNOWLEDGEMENT: ACKNOWLEDGEMENT:

Wasilah Rohmah Wasilah Rohmah

Guru besar Emeritus Ilmu Penyakit Dalam Guru besar Emeritus Ilmu Penyakit Dalam Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Geriatri Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Geriatri

Bagian Ilmu Penyakit Dalam Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Desain program pendidikan ditinjau oleh Desain program pendidikan ditinjau oleh

Mora Claramita Mora Claramita

Koordinator Tahun III untuk Pelatihan Keterampilan Medik Koordinator Tahun III untuk Pelatihan Keterampilan Medik

Fakultas Kedokteran UGM Fakultas Kedokteran UGM

(4)

KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR

Tahun ke 3 pendidikan di FK UGM Prodi Pendidikan Dokter sudah memasuki “

Tahun ke 3 pendidikan di FK UGM Prodi Pendidikan Dokter sudah memasuki “diseasedisease  perspective”

 perspective” yang merupakan kelanjutan dari spiral Pendidikan Dokter tahun-tahun sebelumnya; yang merupakan kelanjutan dari spiral Pendidikan Dokter tahun-tahun sebelumnya; oleh karenanya tahun ini merupakan

oleh karenanya tahun ini merupakan

“inti”

“inti”

dari baik buruknya seorang Klinisi. Tugas utamadari baik buruknya seorang Klinisi. Tugas utama dokter adalah membuat diagnosis, sehingga ketrampilan dalam Prosedur Diagnosis merupakan dokter adalah membuat diagnosis, sehingga ketrampilan dalam Prosedur Diagnosis merupakan syarat mutlak untuk menjadi Klinisi yang ideal. Untuk itu Klinisi harus mempunyai

syarat mutlak untuk menjadi Klinisi yang ideal. Untuk itu Klinisi harus mempunyai “hard skill” “hard skill”  meliputi:

meliputi: Biological  Biological science, science, Attitude, Attitude, Skills Skills dan dan KnowledgeKnowledge - sedangkan - sedangkan “soft skill” “soft skill”  yang harus yang harus dimiliki meliputi:

dimiliki meliputi: Humane,  Humane, Sympathetic, Sympathetic, Systematic, Systematic, Observant, Observant, Use Use reason reason & & logic, logic, RespectRespect information, His/her approach is confident-gentle and competent 

information, His/her approach is confident-gentle and competent  dan alumni FKUGM juga harus dan alumni FKUGM juga harus mempunyai Roh Nasionalisme Ke-Gadjah Mada-an..

mempunyai Roh Nasionalisme Ke-Gadjah Mada-an..

Topik dalam buku materi ini adalah salah satu topik yang berada di bawah topik utama: Topik dalam buku materi ini adalah salah satu topik yang berada di bawah topik utama: Pemeriksaan Fisik Umum yang akan dipelajari secara berkelanjutan di setiap blok selama masa Pemeriksaan Fisik Umum yang akan dipelajari secara berkelanjutan di setiap blok selama masa  pendidikan

 pendidikan di di S1. S1. Ketrampilan Ketrampilan yang yang ada ada dalam dalam buku buku materi materi ini ini didasarkan didasarkan pada pada KurikulumKurikulum Berbasis Kompetensi 2007. Topik-topik yang termasuk dalam Pemeriksaan Fisik Umum tahun Berbasis Kompetensi 2007. Topik-topik yang termasuk dalam Pemeriksaan Fisik Umum tahun ke-3 adalah sebagai berikut:

ke-3 adalah sebagai berikut: No.

No. Topik Topik BlokBlok

1.

1. Pengumpulan Pengumpulan Data Data Antropometri Antropometri 3.13.1 (( Research Research))

2.

2. Pemeriksaan Pemeriksaan Fisik Fisik Dada; Dada; Paru Paru dan dan JantungJantung (Patologis)

(Patologis)

3.2 3.2

((Chest Complaint Chest Complaint ))

3.

3. Pemeriksaan Pemeriksaan AbdomenAbdomen (Patologis)

(Patologis)

3.3 3.3

(( Abdominal C Abdominal Complaint omplaint ))

4.

4. Encounter Encounter to to Simulated Simulated Patient Patient 1 1 3.53.5

(( Neuro-sensor Neuro-sensory Complaint y Complaint )) 5.

5. Encounter Encounter to to Simulated Simulated Patient Patient 2 2 3.63.6

(( Life-style related Complaint  Life-style related Complaint ))

Sangat penting bagi mahasiwa, untuk menyadari bahwa topik-topik ketrampilan yang Sangat penting bagi mahasiwa, untuk menyadari bahwa topik-topik ketrampilan yang harus dikuasai sudah ada di Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Kompetensi hanya akan harus dikuasai sudah ada di Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Kompetensi hanya akan tercapai jika tingkat penguasaan Kognitif sampai C6 (evaluasi) A5 (karakterisasi) dan Psikomotor tercapai jika tingkat penguasaan Kognitif sampai C6 (evaluasi) A5 (karakterisasi) dan Psikomotor P5 (naturalisasi). Hanya dengan latihan yang benar, diulang, diulang, dan diulang berkali-kali P5 (naturalisasi). Hanya dengan latihan yang benar, diulang, diulang, dan diulang berkali-kali akan membawa mahasiswa ke tingkat: Kompeten.

akan membawa mahasiswa ke tingkat: Kompeten. Selamat berlatih! Selamat berlatih! Yogyakarta, November 2010 Yogyakarta, November 2010 Kontributor Kontributor

(5)

Tingkat Kompetensi

Tingkat Kompetensi

Tingkat kemampuan yang diharapkan dicapai pada akhir pendidikan dokter Tingkat kemampuan yang diharapkan dicapai pada akhir pendidikan dokter

• Tingkat Kemampuan 1Tingkat Kemampuan 1

Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai penyakit ini Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai penyakit ini ketika membaca literatur. Dalam korespondensi, ia dapat mengenal gambaran klinik ketika membaca literatur. Dalam korespondensi, ia dapat mengenal gambaran klinik ini, dan tahubagaimana mendapatkan informasi lebih lanjut. Level ini ini, dan tahubagaimana mendapatkan informasi lebih lanjut. Level ini mengindikasikan

mengindikasikan overview level.overview level.  Bila menghadapi pasien dengan gambaran klinik  Bila menghadapi pasien dengan gambaran klinik ini dan menduga penyakitnya, Dokter segera merujuk.

ini dan menduga penyakitnya, Dokter segera merujuk. •

• Tingkat Kemampuan 2Tingkat Kemampuan 2

Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan  pemeriksaanpemerik

 pemeriksaanpemeriksaantambahan saantambahan yang yang diminta diminta oleh oleh dokter dokter (misalnya (misalnya ::  pemeriksaan

 pemeriksaan laboratoriumsedlaboratoriumsederhana erhana atau atau X-ray). X-ray). Dokter Dokter mampu mampu merujuk merujuk pasienpasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya

secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya •

• Tingkat Kemampuan 3Tingkat Kemampuan 3 3a.

3a.  Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan  Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan  pemeriksaan-pemerik

 pemeriksaan-pemeriksaan saan tambahan tambahan yang yang diminta diminta oleh oleh dokter dokter (misalnya(misalnya :pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan :pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat).

(bukan kasus gawat darurat). 3b.

3b.  Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan  Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan  pemeriksaanpemerik

 pemeriksaanpemeriksaan saan tambahan tambahan yang yang diminta diminta oleh oleh dokter dokter (misalnya (misalnya ::  pemeriksaan

 pemeriksaan laboratorium laboratorium sederhana sederhana atau atau X-ray). X-ray). Dokter Dokter dapat dapat memutuskanmemutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).

gawat darurat). •

• Tingkat Kemampuan 4Tingkat Kemampuan 4

Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan  pemeriksaanpem

 pemeriksaanpemeriksaan eriksaan tambahan tambahan yang yang diminta diminta oleh oleh dokter dokter (misalnya (misalnya ::  pemeriksaan

 pemeriksaan laboratorium laboratorium sederhana sederhana atau atau X-ray). X-ray). Dokter Dokter dapat dapat memutuskan memutuskan dandan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas

mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas

 Physical Examina

 Physical Examinationtion Level of expected abilityLevel of expected ability General Survey

General Survey

assessment of mental status assessment of mental status

assessment of apparent state of health assessment of apparent state of health assessment of nutritional condition assessment of nutritional condition assessment of habitus and posture assessment of habitus and posture assessment of respiration assessment of respiration 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

(6)

 palpation of pulse

measurement of blood pressure

measurement of jugular venous pressure measurement of height and weight inspection and palpation of skin inspection of mucous membranes  palpation of lymph nodes

1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4  Head/neck

inspection of eyes, nose, mouth and throat chvostek’s sign

 palpation of salivary glands throat swab

 palpation of thyroid gland  palpation of trachea

 palpation of carotic arteria

1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 The spine inspection at rest inspection in motion  percussion for tenderness  palpation for tenderness

 palpation for pain on vertical pressure (eg pressing down on shoulders) assessment of lumbar flexion

1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 Thorax inspection at rest

inspection during respiration  palpation of respiratory expansion  palpation of tactile fremitus

 palpation of apex beat

 percussion of lungs, lung bases, cardiac size auscultation of lungs auscultation of heart inspection of breasts  palpation of breasts 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4  Abdomen Inspection

auscultation (bowel, sounds, bruits)

 percussion (especially liver, Traube’s area bladder dullness)

 palpation (abdominal wall, colon, liver, spleen, aorta, rigidity)

eliciting abdominal tenderness and rebound tenderness eliciting shifting dullness

eliciting a fluid thrill

1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4

(7)

eliciting renal tenderness 1 2 3 4  Extremities

inspection of skin, nails, muscle tone inspection of joints

assessments of capillary pulse assessments of capillary refill  palpation of arterial pulses

detection of bruits

 palpation of skin, tendons, joints

assessments of range of motion of joints examination of sensory system

examination of monitor system

eliciting reflexes: knee reflex, ankle reflex, triceps reflex,  biceps reflex, plantar response

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Therapeutic skills

to advice a patient about life-style to prescribe a diet

subcutaneous and intramuscular injection administration of insulin

intravenous cannulation mouth to mouth resuscitation cardiac massage

initiate resuscitation nasogastric tube

Contraventil needle (needle decompression) WSD

Endoscopy  bladder catheter

renal dialysis

sclerotherapy for varicose veins

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

(8)
(9)

!"#"$%&'(() +%'%& (,-.#") /!(0.1.2%'3

!"#"$% "'"' ()!)*$'+,-$% ').,/ !$0"% 1

!" #$%$&'&($ *$*+, *-*.'/$ 01*,/'0$&' 2$/ '/3-4$0&' 2103-45+$&'-/

6" #$%$&'($ *$*+, *-/-/3,0$/ 2'$7/1&'& .$/2'/7 2$4' +-4*$&$8$%$/ +$&'-/ 9" #$%$&'&($ *$*+, *-4-/:$/$0$/ +-/71.$3$/ ;$/7 4$&'1/$8

<" #$%$&'&($ *$*+, *-/-71&'$&'0$/ 4-/:$/$ *$/$=-*-/ >?@AB CD@EF 2-/7$/ +$&'-/ 2-/7$/ *-*+-43'*.$/70$/ .'1&1&'10,83,4$8 >0-3-48'.$3$/ 0-8,$47$G +-/77,/$$/ +-/71.$3$/ 34$2'&'1/$8G 3$/77$+$/ 2$/ +-4'8$0, /1/ H-4.$8 +$&'-/F

Ilustrasi kasus

Pertanyaan

1. Apa saja kemungkinan diagnosis pada pasien tersebut?

2. Sebagai dokter umum, apa saja yang harus disiapkan pada pasien ini? 3. Edukasi apa yang dapat diberikan untuk pasien tersebut?

Tujuan Pembelajaran

!" #$%&'()%& +$,-)(. ()%&+)/0()%&+)/ 1)2)3 45,'%.+)2. 65+7$308)2.$%9 )%),%$2.29 :.7)( 2.&%9 ;$,$3.+2))% <.2.+ )-15,$%9 2$37) 53&)% ().% =)%& 3$($:)%"

>" #$%&'()%& +$,-)(. ,$,)/),. ,$751$ 1)% ;352$1'3 1)(), ,$%&&'%)+)% ;$3)()7)% =)%& 1.;$3('+)% '%7'+ ;$,$3.+2))% )-15,$%9 2$37) 53&)% ().% =)%& 3$($:)%"

?"

#),;' ,$,)/),. 1)% ,$()+2)%)+)% 8352$1'3 6.)&%527.+ @)%),%$2.29 ;$,$3.+2))% <.2.+ 1)% ;$,$3.+2))% ;$%'%A)%&B"

C"

#),;' ,$,-$3.+)% D$3);. 1)% E1'+)2. 2$2'). 1$%&)% +$F$%)%&)%%=)"

G"

#),;' ,$%'(.2 H$2$;

Hasil Pembelajaran yang Diharapkan

Seorang wanita berusia 24 tahun datang ke ruang unit darurat ditemani

suaminya dengan keluhan nyeri kram pada perut. Karena rasa nyeri ini

muncul bersamaan dengan menstruasi, dia beranggapan bahwa nyeri kram

tersebut menunjukkan awal dysmenorrheal yang biasa dia alami. Rasa nyeri

ini awalnya menyebar dan sulit untuk dilokalisir. Rasa nyeri bermula di

daerah tengah (periumbilical) dan berpindah dari wilayah periumbilical ke

wilayah kuadran kanan bawah. Dia menderita demam, kehilangan nafsu

makan yang berkembang menjadi mual-mual dan bahkan muntah-muntah.

Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan pasien memiliki temperatur yang

tinggi dan detak nadi yang semakin cepat. Sewaktu dilakukan palpasi pada

abdominal, dokter mendeteksi adanya rigiditas terlokalisisr dan nyeri pada

abdomen kanan bawah. Dokter meminta dilakukan penghitungan darah dan

merujuk pasien ke ahli bedah tanpa memberikan medikasi analgesik.

(10)

Mahasiswa diharapkan menjadi kompeten dalam Prosedur diagnostik kelainan abdomen.

!"  Mahasiswa mampu mengelola paripurna penyakit abdomen sesuai etiologi penyakit:

- Kelainan congenital

- Kelainan Aquisita (Trauma, Infeksi, Kelainan degenerasi, malignansi dan autoimun).

>" Mahasiswa mampu berkomunikasi Dokter-Pasien yang optimal sejak awal pertemuan hingga akhir.

?" Mahasiswa mampu menemukan Keluhan utama.

C" Mahasiswa mampu membuat konsep diagnosis banding. G" Mahasiswa mampu anamnesis

I" Mahasiswa mampu cuci tangan secara lege artis sebelum dan sesudah pemeriksaan.

J" Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik patognomonis, relevan, skrining. K" Mahasiswa mampu merencanakan pemeriksaan penunjang.

L" Mahasiswa mampu menemukan masalah aktif & pasif dari Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

!M" Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinis – causative/definitive

!!" Mahasiswa mampu memberikan terapi non medika mentosa – medikamentosa. !>" Mahasiswa mampu menulis Resep.

!?" Mahasiswa mampu memberikan edukasi untuk promotif, preventif dan rehabilitative.

Hubungan dengan Ketrampilan Lain

N%7'+ ,$()+'+)% +$73),;.()% ;$,$3.+2))% <.2.+ 1)(), O(5+ ?"?9 ,)/)2.2F) /)3'2 ,),;' ,$()+'+)% ;$,$3.+2))% <.2.+ 1)2)3 2$;$37. ;)1) O(5+ !"!P !"> 1)% !"?P ,$,)/),. )%)75,. 2$37) <.2.5(5&. )-15,$%"

4$73),;.()% 1)(), O(5+ ?"? 1.;$3('+)% '%7'+ ,$,;$()A)3. +$73),;.()% +(.%.2 ()%A'7 ;)1) O(5+ C"! @4$)1))% 6)3'3)7B"

Penilaian

8352$1'3 +$3A) 1.&'%)+)% 2$-)&). ,$751$ ;$%&)A)3)%" Q+53 ,.%.,)( ;)1) )+/.3 -(5+ )1)()/ JM"

Latihan Mandiri

D'A')% 1)3. ()7./)% ,)%1.3. )1)()/ '%7'+ ,$%.%&+)7+)% 2+53 R %.(). ;352$1'3 ;$,$3.+2))% 2),;). 1$%&)% S JM"

#$,;$37.,-)%&+)% -)/F) 2$2. ()7./)% 7$3-.,-.%& 1$%&)% .%273'+7'3 1. 7)/'% +$7.&) .%. ),)7 7$3-)7)2 @'%7'+ ,)2.%&0,)2.%& 75;.+ /)%=) ! +)(. ()7./)%B9 ,)+) ()7./)% ,)%1.3. 2)%&)7 1.;$3('+)%"

Q)()/ 2)7' +$2$,;)7)% ()7./)% ,)%1.3. )1)()/ ()7./)% 1. 2$7.%& ;$()=)%)% ;3.,$3 @8'2+$2,)2 1)% TQ#B =)%& 7$()/ 1.<)2.(.7)2. 5($/ Q+.((2 T)-" #)/)2.2F) 7)/'% +$7.&) 2.()+)% ,$,)%<))7+)% +$2$,;)7)% 7$32$-'7 '%7'+ ,$%&5;7.,)(+)% ()7./)% +$7$3),;.()% ,$1.+ 2$U)3) 7$3.%7$&3)2. 1. +5,'%.7)2 @1$%&)% 7$7); ,$%1);)7+)% ',;)% -)(.+ 1)3. .%273'+7'3 2+.((2 ()- 2$U)3) ;$3.51.+B"

(11)

Tabel 1. Aktifitas Pembelajaran %23 ,45 6789 !:;<5=7> (:>:;78978 1. !4567899:V 0 O$315)" 0 8$%A$()2)% 1)% ;$32.);)% -)/)% 0 Q+$%)3.5 1)% ;3$7$27" 0 D'A')% ;$,-$()A)3)%" 0 Q.,'()2. =)%& 1.()+'+)% 5($/ -$-$3);) ,)/)2.2F) @1.()+'+)% 5($/ ,)/)2.2F) =)%& 7$()/ ,$,;$32.);+)% 1.3. ,$3$+) 2$%1.3. )7)' 1.;.(./ 5($/ .%273'+7'3B 0 45,$%7)3 1)3. .%273'+7'3 1)% ,)/)2.2F) Instruktur Mahasiswa 15 menit O)/)%V WX(+5/5( WQ7$752+5; @27$752+5; ()7./)% 1)% 27$752+5; 7'%&&)(B ?3 &4;<9=9: >=959V 0 '4?< !@98=48 " D.); +$(5,;5+ 7$31.3. 1)3. Y ?0C ,)/)2.2F)9 =)%& -$3;$3)% 2$-)&). ;)2.$%9 15+7$39 ;$%.(). @2$7.); ,)/)2.2F) /)3'2 -$3&)-'%& 1)(), 2.,'()2.B" 8$3)% 2$-)&). 15+7$39 ;)2.$% 1)% ;$%.(). 1.()+'+)% 2$U)3) -$3&)%7.)%"

0 19=<A9: B4:;9: CDE &9?7? F9:; ?7B9A B<?<9G89: ?469;9< HI@8GJ9: 7:=78 =<9G 84JI5GI8K

0 8$,$3.+2))% ;$3<53,) )-15,$%

0 D)%&&);)% ()%&2'%& 1)3. ;)3) ,)/)2.2F)" 0 6.2+'2.V Q$('3'/ ;$37)%=))% ;)1) 3$%U)%)

+$3A) 1.7'A'+)% ()%&2'%& ;)1) .%273'+7'3"

Mahasiswa terbimbing 80 menit

Checklist/feedback form

13 !4:7=7G9:V

0 H$<($+2.9 /)2.( ()7./)% 1.-)%1.%&+)% 1$%&)% U/$U+(.27 R <$$1-)U+ <53," 0 8$%A$()2)% 2$,') ;$37)%=))%!"#$ &'()*

0 8$%A$()2)% 7'&)2 '%7'+ ,$%.%&+)7+)% +$)/(.)% 1$%&)%,4J9L9@ #9:B<@<K 0 #$%&.%&)7+)% ;)3) ,)/)2.2F) ,$%&$%). ;$%7.%&%=) +$)/(.)% 2$-)&). 1)2)3 1)3. ;$,$3.+2))% <.2.+ =)%& )+)% 1.)A)3+)% ;)1) -(5+ 2$()%A'7%=)" 0 !""# %&'(  1)3. ,)/)2.2F) ,$%&$%). 2$2. ;3)+7$+ '%7'+ Q+.(( T)-" 0 65) ;$%'7';" Instruktur  25 menit

Alat dan Bahan

X()7 1)% -)/)% =)%& 1.;$3('+)% '%7'+ ;$,$3.+2))% )-15,$% )1) ;)1) 7)-$( >"

Tabel 2. Instrumen dan alat bantu dalam pemeriksaan tanda vital dan abdomen W D$3,5,$7$3 ).3 3)+2) Z3)(9 )[.(()9 3$U7)( W D$3,5,$7$3 E($+73.+ 6.&.7)( W D$3,5,$7$3 \%<3),$3)/ W Q;/=&,5,)%5,$7$3 0 #$3U'3= 0 ])3', 0 6.&.7)(

(12)

W 6$%='7 0 #)%')( @A), 7)%&)% 1$%&)% M($># -"0%&3 0 E($+73.+R1.&.7)( • X(+5/5( ^'U. 7)%&)% W D$,;)7 ;$,$3.+2))% #$A) ;$3.+2)9 ,$A) ;$3)()7)%9 1)% 7$,;)7 7.1'3 W Q7$752+5; W T),;' Q$%7$3 8$%) W 8$%2.( 1)% +$37)2 W 8$%&'+'3 -$3)7R7.%&&. -)1)% W ]'-)/ 8$,$3.+2))% W 4).% ;$%'7';

(13)

Struktur dan Fisiologi Abdomen

Untuk tujuan deskriptif abdomen dapat dibagi menjadi

empat kuadran

. Dua garis

khayal bersilangan di pusar dan membagi abdomen menjadi kuadran kanan atas dan

kanan bawah, serta kuadran kiri atas dan kiri bawah. Satu garis ditarik dari sternum ke

tulang pubis melalui pusar. Dengan demikian terbentuklah empat kuadran dan organ

 perut di dalam tiap kuadran diperlihatkan dalam

Gambar 1.

@7A=7; B3Empat kuadran abdomen

Sumber : Swartz M.H.Textbook of Physical Diagnosis,  History and Examination. 5th edition. Philadelphia.

WB Saunders Company. 2007

@7A=7; ?3 /:A=5<78 CD7E;78 7=E2A:8 Sumber : Swartz M.H.Textbook of Physical  Diagnosis, History and Examination. 5th edition.

Philadelphia. WB Saunders Company. 2007

Cara deskripsi lainnya membagi abdomen menjadi

sembilan daerah (Gambar 2):

epigastrium, umbilikus, suprapubis, hipokondrium kanan dan kiri, lumbal kanan dan kiri,

inguinal kanan dan kiri. Dua garis khayal ditarik dengan memperpanjang garis

midklavikular sampai ke pertengahan ligamen inguinal. Garis-garis ini membentuk batas

lateral muskulus rektus abdominus. Dua garis sejajar dibuat tegak lurus dengan

garis-garis ini, yaitu satu pada margo kosta dan lainnya pada spina iliaka anterior superior.

Yang lazim dipakai hanya nama tiga daerah di bagian tengah (epigastrium, umbilikus,

dan suprapubis).

Pemeriksa harus menguasai struktur abdomen yang terletak pada tiap daerah.

Tabel 3.

 memuat daftar organ-organ yang ada pada masing-masing dari empat kuadran.

Karena ginjal, duodenum, dan pankreas merupakan organ posterior, kelainan pada

organ-organ ini tidak mungkin teraba pada orang dewasa. Pada anak-anak, di mana otot

 perutnya belum berkembang, massa ginjal dapat diraba.

(14)

Tabel 3. Struktur abdomen menurut empat kuadran Kanan Kiri Atas

Hati

Kandung empedu

Pilorus

Duodenum

Pankreas: kaput

Adrenal kanan

Ginjal kanan: kutub atas

Fleksura hepatika

Kolon asendens: sebagian

Kolon transversum: sebagian

Hati: lobus kiri

Limpa

Lambung

Pankreas: korpus

Adrenal kiri

Ginjal kiri: kutub atas

Fleksura lienika

Kolon desendens: sebagian

Kolon transversum: sebagian

Bawah

Ginjal kanan : kutub bawah

Sekum

Apendiks

Kolon asendens: sebagian

Ovarium kanan

Tuba falopii kanan

Ureter kanan

Korda spermatika kanan

Uterus (jika membesar)

Kandung kemih (jika membesar)

Ginjal kiri: kutub bawah

Kolon sigmoid

Kolon desendens: sebagian

Ovarium kiri

Tuba falopii kiri

Ureter kiri

Korda spermatika kiri

Uterus (jika membesar)

Kandung kemih (jika membesar)

PEMERIKSAAN ABDOMEN

Pada pemeriksaan abdomen pasien harus berbaring lurus di tempat tidur,

memakai bantal di kepala dan perutnya harus terlihat penuh dari sternum sampai lutut.

Lengannya diletakkan di sisi tubuh dan tungkainya lurus. Sehelai handuk atau kain

diletakkan di atas genetalia pasien seperti yang terlihat pada

gambar 3.

Pada pemeriksaan selanjutnya, untuk membantu merelaksasi otot-otot perut dapat

diletakkan bantal di bawah lutut pasien atau dengan mengintruksikan pasien menekuk

lututnya

(gambar 4)

. Pemeriksa harus berdiri di sisi kanan penderita. Jika pasien

mempunyai keluhan nyeri perut, adalah penting bahwa daerah yang nyeri diperiksa

terakhir. Jika pemeriksa menyentuh area yang nyerinya maksimal, otot perutnya akan

teregang.

(15)

@7A=7; 13 +24545 477> F:A:;5C4778 7=E2A:8G +745:8 =:;=7;589H 7=E2A:8 >:;F7F7; F:8DI E7;5 4>:;8DA

47AF75 589D587<

Sumber : Swartz M.H.Textbook of Physical Diagnosis,  History and Examinati on. 5th edition. Philadelphia. WB

Saunders Company. 2007

@7A=7; J3 ':;:<7C4745C78 2>2> 7=E2A:8K F745:8 =:;=7;589 E:8978 <D>D> E5>:CDC

Sumber : Swartz M.H.Textbook of Physical Diagnosis,  History and Examinati on. 5th edition. Philadelphia. WB

Saunders Company. 2007

Pemeriksaan fisik abdomen meliputi:

o Inspeksi o Auskultasi o Perkusi o Palpasi o Pemeriksaan dubur o Teknik khusus A. INSPEKSI ABDOMEN

Inspeksi abdomen adalah memeriksa abdomen dengan cara mengamati/

memandang/melihat dan membandingkan secara cermat keadaan abdomen. Pemeriksa

harus melatih dirinya untuk melihat tubuh dengan menggunakan suatu pendekatan

sistematik. Ketika melakukan anamnesis, pemeriksa sudah harus memperhatikan hal-hal

tertentu mengenai pasien yang mungkin dapat membantu menegakkan diagnosis. Coba

 buka kembali buku materi skills lab blok 1.3 mengenai pemeriksaan umum yang

 berkaitan dengan kelainan di abdomen.

(16)

@7A=7; L3 0:A2M;2A7>2454 NO;28P: .57=:>:4Q

@7A=7; R3 !78978 +:8E:;5>7 E:8978 0:A2M;2A7>2454

@7A=7; S3 +7<A7; :;5>:A7

(17)

@7A=7; U3 +:D>P #:9I:; /V8E;2A:

@7A=7; BW3 +:D>P #:9I:; /V8E;2A:

@7A=7; BB3 @7;E8:;X4 /V8E;2A: NC54>7 :F5E:;A25E AD<>5F<:Q

@7A=7; B?3 Y<D==589 Z589:; F7E7 /5;2454 O5<5:; +;5A:;

(18)

@7A=7; B13 );DF45 [78>I2A7 F7E7 /5;2454 O5<5:; +;5A:;

@7A=7; BJ3 );DF45 [78>I2A7 F7E7 /5;2454 O5<5:;

@7A=7; BL3 \<D4I589 F7E7 Y7;M5825E

Inspeksi abdomen meliputi kontur dinding abdomen yang ditentukan oleh volume

 jaringan subkutan, perkembangan otot-ototnya, dan adanya distorsi jaringan parut.

Diperhatikan pula bentuk abdomennya apakah

rounded 

,

 protuberan

, datar atau

 scaphoid 

.

Abdomen yang

 scaphoid 

  mungkin berkaitan dengan kakeksia, sedang abdomen

 protuberan

 dapat disebabkan oleh distensi usus oleh gas, asites, pembesaran organ atau

(19)

obesitas. Jaringan parut dari bekas operasi sebelumnya dapat menyebabkan distorsi dari

kontur.

Umbilikus dinilai untuk menilai apakah ada penonjolan atau indentasi. Umumnya

umbilicus normal biasanya mengadakan indentasi tetapi sama rata dengan dinding

abdomen atau agak menonjol.

Umbilikus yang tereversi sering menjadi tanda peningkatan tekanan abdominal, biasanya karena asites atau massa yang besar.

Suatu hernia umbilical juga dapat menyebabkan eversi umbilicus. Adakah nodul-nodul

seperti nodul

Sister Mary Joseph’s

  yang merupakan nodul metastatik adenocarcinoma

lambung.

@7A=7; BR3 +:8D;D878 !D;92; (D<5> F7E7

.:I5E;745 O:;7> @7A=7; BS3 %2ED<!"#$%& ()&* +,#%-./#

(20)

Selain itu kulit abdomen harus dilihat apakah ada jaringan parut bekas

 pembedahan atau trauma serta dicatat dimana lokasi jaringan parut tersebut berada.

Tanda-tanda kulit seperti perubahan warna, lesi local, dan pola vena, seperti stria perak

atau putih atau “tanda garukan” yang merupakan tanda peregangan kulit yang terjadi

 pada orang-orang dengan pertambahan berat badan yang cepat, stria berwarna agak

kebiruan atau kehitaman dapat dilihat pada orang hamil, stria ungu-merah muda

merupakan tanda klasik akibat kelebihan adrenokortikal. Apakah ada

tanda Gray

  yaitu

 perdarahan / ekimosis yang masif dapat terjadi pada daerah abdomen atau pinggul yang

dapat terjadi pada pankreatitis atau strangulasi usus, atau apakah ada

tanda Cullen

 yaitu

kebiru-biruan yang disebabkan oleh hemoperitoneum.

Pola vena abdomen biasanya hampir tidak dapat dilihat atau samar, tidak jelas dan

retikuler, jika dapat dilihat drainase dua pertiga bawah abdomen terjadi ke arah bawah.

Jika ada sumbatan pada vena cava, vena superficial mungkin berdilatasi dan drainase

vena terjadi ke arah

cephal 

. Pada pasien dengan

hipertensi portal

 dilatasi vena kelihatan

menyebar dari umbilicus, ini disebabkan oleh aliran membalik melalui vena kolateral di

dalam ligamentum falsiformis, dan pola aliran ini disebut dengan

caput medusae

. Jika

vena superfisialis mengalami distensi periksalah arah drainasenya.

Inspeksi adanya hernia dilakukan pada pasien dengan posisi berbaring ditempat tidur, dan pasien diminta untuk batuk, sementara pemeriksa memeriksa daerah inguinal, umbilical dan femoral.

(21)

@7A=7; ?B3 .5<7>745 ]:87 .58E589 $=E2A:8 @7A=7; ??3 *24: /F2>

@7A=7; ?13 +2<7 ]:87 $=E2A:8

@7A=7; ?J3 $45>:4

Pada orang kurus dapat dilihat hantaran pulsasi aorta pada epigastrium atau

 periumbilikalis. Amati pula pergerakan peristaltik dan naik turunnya dinding abdomen

 pada waktu pergerakan pernafasan. Pergerakan abdomen sewaktu istirahat pada posisi

terlentang adalah minimal.

B. AUSKULTASI ABDOMEN

Lakukan auskultasi abdomen sebelum melakukan perkusi atau palpasi, karena manuver-manuver ini dapat mengganggu frekuensi suara usus.

  Auskultasi

 bunyi usus dapat didengarkan dengan diafragma stetoskop dengan menekan secara

lembut terhadap kulit dan dapat dinilai pada setiap kuadran. Bunyi usus normal terdiri

dari

clicks and gurgles

, timbul kira-kira tiap 10 detik dan bernada tinggi atau sekitar

(22)

5-34 kali permenit. Hitunglah berapa kali terdengar bunyi usus dalam 1 menitnya dengan

cara meletakkan diafragma stetoskop diatas mid-abdomen. Pada keadaan normal, suara

 peristaltik usus kadang-kadang dapat didengar walaupun tidak menggunakan stetoskop,

terutama pada keadaan lapar. Dengan bertambahnya isi usus, peristaltik menjadi lebih

aktif, aktivitas usus bertambah saat

 post 

-

 prandial 

  dan bunyi usus menjadi lebih sering.

Pada waktu istirahat bunyi usus menjadi lebih jarang.

Jika ada obstruksi usus, suara peristaltik dapat meningkat, lebih lagi pada saat

timbul rasa sakit yang bersifat kolik dan mungkin akan timbul arus “denting” bernada

tinggi yang disebut dengan

borborigmi 

  (atau

 stomach growling 

). Suara

 gurgle

  yang

diperpanjang yang berkaitan dengan hiperperistaltik, sering dijumpai pada obstruksi usus

akut dini. Jika setelah 2 menit tidak terdengar bunyi usus, dapat dibuat pernyataan tidak

ada bunyi usus. Tidak adanya bunyi usus mengarah pada ileus paralitik yang disebabkan

iritasi peritoneum difus. Keadaan ini juga dapat terjadi pada tahap lanjut dari obstruksi

usus dimana usus menjadi sangat melambat dan atoni. Pada ileus obstruksi kadang

terdengar suara peristaltik dengan nada yang tinggi dan suara logam (

metallic sound 

).

Suatu

succussion splash

 mungkin ditemukan pada abdomen yang distensi sebagai

akibat adanya gas dan cairan didalam suatu organ yang mengalami obstruksi, dengan cara

meletakkan stetoskop diatas abdomen pasien sambil mengguncang pasien dari sisi ke sisi.

Adanya bunyi percikan biasanya menunjukkan adanya distensi lambung atau kolon.

(23)

Auskultasi juga berguna untuk menentukan adanya

bruit

. Tiap kuadran harus

diperiksa untuk mengetahui adanya bruit ini terutama pada aorta, arteri iliaca, dan arteri

renalis. Suara murmur sistolik atau diastolic mungkin dapat didengar pada auskultasi

abdomen.

Bruit sistolik 

  dapat didengar pada aneurisma aorta atau pada pembesaran

hepar karena hepatoma. Bruit dengan komponen sistolik dan diastolic menunjukkan

adanya turbulensi aliran darah akibat oklusi parsial arteri atau insufisiensi arteri. Jika

 pasien memiliki tekanan darah tinggi, cari apakah ada bruit di epigastrium dan

masing-masing di kuadran atas, dan lanjutkan pada daerah sudut costovertebralis pada posisi

 pasien duduk.

Bising vena (venous hum)

yang kadang-kadang disertai dengan terabanya

getaran (

thrill 

) dapat didengar diantara umbilicus dan epigastrium. Pada keadaan fistula

arteriovenosa intra-abdominal kadang-kadang dapat didengar

suara murmur

.

Selain itu dapat pula digunakan untuk menilai ada tidaknya gesekan friksi

 peritoneal yang menunjukkan adanya peradangan. Selama gerakan pernafasan, suatu

gesekan friksi mungkin terdengar di kuadran atas kanan atau kiri jika ada kelainan hepar

atau limpa, seperti tumor hepar, infeksi gonococca l disekitar hepar dan infark limpa.

C. PERKUSI ABDOMEN

Perkusi dipakai untuk memperlihatkan adanya distensi gas, cairan atau massa

 padat. Pada pemeriksaan normal biasanya hanya ukuran dan lokasi hepar dan limpa yang

dapat ditentukan. Sebagian pemeriksa lebih suka melakukan palpasi sebelum perkusi,

terutama jika pasien mengeluh nyeri perut. Perkusi abdomen, dilakukan dengan posisi

 pasien berbaring terlentang, dilakukan perkusi 13 titik, seperti yang telah dipelajari pada

 blok 1.3 sebelumnya. Perkusi abdomen sangat membantu dalam menentukan apakah

rongga abdomen berisi lebih banyak cairan atau udara serta distribusinya udara di dalam

abdomen. Selain itu perkusi berguna untuk menentukan ukuran hepar dan limpa.

Timpani merupakan bunyi perkusi yang paling sering ditemukan pada abdomen.

Ini disebabkan oleh adanya gas didalam lambung, usus kecil dan kolon, kecuali di daerah

hepar suara perkusinya adalah pekak. Hilangnya sama sekali daerah pekak hepar dan

 bertambahnya bunyi timpani di seluruh abdomen harus dipikirkan akan kemungkinan

adanya udara bebas dalam rongga perut, misal pada perforasi usus. Daerah suprapubis

mungkin redup pada perkusi jika kandung kemih distensi atau pada wanita jika uterusnya

(24)

membesar. Terdapat suatu keadaan yang disebut dengan

fenomena papan catur (chessboard phenomenon)

 dimana pada perkusi dinding perut ditemukan bunyi timpani

dan redup yang berpindah-pindah, sering ditemukan pada peritonitis tuberkulosa.

Perkusi hepar

Lakukan perkusi hepar seperti yang telah dipelajari pada blok 1.3. Distensi kolon

 pada kuadran kanan dapat mengaburkan redup hepar bagian bawah, oleh karena itu

 pemeriksa dapat menaksir terlalu rendah ukuran hepar. Jika pada perkusi ditemukan

redup hepar lebih dari 12 cm pada garis midclavicula kanan, atau jika tepinya teraba lebih

dari 2 cm di bawah margo kosta kanan tanpa pengembangan paru yang berlebihan maka

dicurigai hepar ini membesar. Redup hepar ini berkurang bila hepar ini mengecil (misal

 pada sirosis hepar) atau terdapat udara bebas di atas diafragma sebagai akibat perforated 

hollow viscus. Batas atas redup hepar mungkin dapat turun ke bawah akibat rendahnya

diafragma pada penderita penyakit paru obstrusi menahun (PPOK)

.

Jika pemeriksa mendapat kesulitan dalam menentukan batas bawah hati,

scratch test 

  merupakan pemeriksaan tambahan yang bermanfaat. Difragma stetoskop

ditempatkan pada hepar tepat di atas tepi iga pada garis mid clavicula. Satu jari tangan

mengadakan garukan dengan lembut pada kulit secara zigzag berlanjut ke

cephal 

di

sepanjang garis mid-clavicula menuju kuadran kanan atas. Bila jari tangan penggaruk

menyilang tepi hepar, maka bunyi dihantarkan lebih jelas melalui organ padat.

@7A=7; ?R3!1&)$1. $%#$ 

(25)

Meskipun daerah limpa sulit untuk diperkusi, penentuan ukuran limpa harus

diusahakan.

Ruang Traube

adalah daerah gelembung udara lambung pada kuadran atas

kiri. Tepat disebelah lateral ruang Traube ada daerah redup yang berkaitan dengan

adanya limpa. Daerah ini kira-kira terletak pada iga ke sepuluh disebelah posterior garis

mid-aksila. Ingat dan kalau perlu buka kembali buku petunjuk skills lab blok 1.3

 bagaimana cara memperkusi limpa.

Perkusi kandung kemih dan atau uterus

Apabila pada perkusi menunjukkan bunyi redup pada daerah suprapubik maka

menunjukkan kandung kemih penuh atau suatu pembesaran uterus pada pasien wanita.

Lakukan pula perkusi untuk menentukan tingginya kandung kemih atau uterus di atas

simfisis osis pubis.

Pemeriksaan Ascites

Dalam keadaan adanya cairan bebas didalam rongga abdomen, perkusi di atas

dinding perut mungkin timpani dan disampingnya redup. Lakukanlah perkusi mulai dari

umbilikus ke lateral hingga ditemukan batas timpani dan redup pada posisi pasien

 berbaring telentang. Batas timpani ada di atas batas redup, ini disebabkan gas dalam usus

yang terapung di atas puncak asites. Dengan memiringkan pasien ke satu sisi suara redup

ini akan berpindah (

 shifting dullness)

, pada posisi yang lebih rendah, daerah disekitar

umbilikus yang mula-mula timpani sekadang akan menjadi redup. Pemeriksaan ini sangat

 patognomonis dan lebih dapat dipercaya dari pada memeriksa adanya gelombang cairan,

memiliki sensitivitas 83% dan spesifisitas 56%. Adanya redup bilateral pada perkusi

 pinggang merupakan tanda yang paling sensitif untuk adanya asites dengan

sensitivitasnya 94% sedang spesifisitasnya hanya 29%.

Selain ini ada beberapa

teknik lain  untuk memeriksa adanya cairan bebas

didalam rongga abdomen (asites), yaitu:

Cara pemeriksaan gelombang cairan ( fluid  wave). Cara ini dilakukan pada

 pasien dengan asites yang cukup banyak dan perut yang agak tegang. Pasien dalam

keadaan berbaring telentang dengan tangan asisten atau tangan pasien sendiri diletakkan

di bagian tengah abdomen dengan sedikit penekanan. Penekanan dinding abdomen ini

(26)

akan menghentikan transmisi impuls oleh jaringan adiposa subkutan dan mencegah

gerakan yang diteruskan melalui dinding abdomen. Tangan pemeriksa diletakkan pada

satu sisi sedang tangan lainnya mengetuk-ngetuk dinding perut atau pinggang pada sisi

yang lain. Adanya gelombang cairan mempunyai sensitivitas hanya 50% dan

spesifitasnya 82%. Hasil positif palsu dapat terjadi pada pasien yang terlalu gemuk dan

hasil negatif palsu dapat terjadi jika asitesnya sedikit sampai sedang.

@7A=7; ?S3 +:A:;5C4778 $45>:4 E:8978430"5 6)7% 8%1.2"90%

Untuk cairan yang lebih sedikit dan meragukan dapat dilakukan pemeriksaan

dengan

posisi pasien terkurap dan menungging (knee-chest position)

. Setelah

 beberapa saat, perkusi daerah perut yang terendah, jika terdapat cairan akan didengar

 bunyi redup. Pada posisi tegak maka perkusi redup akan didengarkan pada bag ian bawah.

Pemeriksaan yang lain adalah

 puddle sign

  yaitu posisi pasien tetap pada

knee-chest  position

  dan dengan menggunakan stetoskop yang diletakkan pada bagian perut

terbawah didengarkan perbedaan suara yang ditimbulkan karena ketukan jari-jari pada

sisi perut sedangkan stetoskop digeserkan melalui perut tersebut ke sisi yang lainnya.

Ketukan diteruskan pada posisi yang terfiksir. Pengurangan intensitas bunyi secara

mendadak yang dihasilkan dari ketukan jari tangan ketika stetoskop bergerak di atas

cairan yang tergenang dianggap tanda positif. Jika dirasakan perubahan ini, proses ini

diulang pada tempat seberangnya untuk menentukan margo/batasnya.

D. PALPASI ABDOMEN

Untuk mempermudah palpasi hepar abdomen diperlukan dinding usus yang lemas

dengan cara posisi pasien berbaring telentang, kaki ditekuk sehingga membuat sudut 45

o

(27)

-60

o

. Palpasi abdomen dilakukan 2 kali yaitu palpasi ringan atau

 superficialis palpation

dan palpasi dalam atau

deep palpation

.

Palpasi ringan

dipakai untuk menemukan nyeri tekan dan daerah spasme otot

atau rigiditas dan beberapa organ dan massa superfisial. Seluruh abdomen harus dipalpasi

secara sistematis, dengan menggunakan bagian rata tangan atau bantalan jari tangan,

 bukan dengan ujung jari. Jari-jari tangan harus disatukan dan hindari gerakan menusuk

secara tiba-tiba. Tangan harus diangkat dari satu daerah ke daerah yang lain, bukannya

digeserkan diatas dinding perut. Palpasi ini dengan menekan ke arah dalam tidak lebih

dari 1 cm sambil mencari dan menilai adanya nyeri tekan, massa kutan atau subkutan.

Setiap kuadran harus dilakukan palpasi ringan.

Untuk memonitor respon palpasi abdomen,

pemeriksa harus mengamati wajah pasien  secara terus menerus selama pemeriksaan, karena banyak pasien tidak

memperlihatkan ekspresi nyeri secara verbal tetapi menunjukkan rasa tidak enak/nyaman

dengan perubahan wajah. Teknik ini sudah dipelajari pada blok 1.3. Coba ingat kembali.

Selama ekspirasi, muskulus rektus biasanya rileks dan lunak. Jika ada sedikit perubahan

dikatakan bahwa ada rigiditas (rigiditas adalah spasme

involunter 

  otot-otot perut dan

menunjukkan iritasi peritoneum). Rigiditas mungkin difus seperti pada peritonitis atau

setempat, seperti diatas apendiks atau kandung empedu yang meradang. Pada pasien yang

mengeluh nyeri perut, palpasi harus dilakukan dengan hati-hati dan palpasi dilakukan dari

tempat yang jauh dari keluhan, meninggalkan palpasi dalam pada tempat yang

 bersangkutan untuk pemeriksaan yang terakhir.

Palpasi dalam  diperlukan untuk menentukan ukuran organ dan adanya massa

abdomen, lokasinya, ukurannya, bentuknya, konsistensinya, ada nyeri tidak dan

mobilitasnya terhadap respirasi atau jaringan sekitarnya. Pada palpasi dalam bagian datar

tangan kanan diletakkan di atas abdomen dan tangan kiri diletakkan di atas tangan kanan.

Ujung jari tangan kiri memberi tekanan, sedang tangan kanan mengindera setiap

rangsang taktil. Tekanan kepada abdomen harus diberikan dengan ringan tetapi terus

menerus. Selama palpasi dalam, pasien harus disuruh untuk bernafas perlahan-lahan

melalui mulutnya dan meletakkan kedua lengannya pada sisi tubuhnya. Meminta pasien

untuk membuka mulutnya selama bernafas dapat membantu relaksasi otot secara umum.

(28)

menimbulkan spasme otot volunter yang disebut dengan  guarding 

. Mengajak pasien

 bercakap-cakap sering membantu merelaksasi otot-otot perutnya.

Sebelum melakukan palpasi pada pasien dengan nyeri perut atau nyeri tekan,

suruh pasiennya batuk, ini untuk menilai apakah batuk mencetuskan nyeri. Kemudian

lakukan palpasi secara gentle dengan menggunakan satu jari untuk mendapatkan daerah

yang nyeri. Pasien dengan nyeri perut harus ditentukan apakah ada

nyeri lepas (rebound tenderness)

.

 Nyeri lepas adalah tanda iritasi peritoneum dan dapat dibangkitkan dengan

mempalpasi dalam-dalam dan perlahan-lahan di daerah perut menjauhi daerah yang

diduga mengalami peradangan setempat. Tangan yang melakukan palpasi kemudian

diangkat dengan cepat. Tanyailah pasien dan lihat ekspresi wajah pasien mana yang

lebih sakit, saat saya tekan (sambil melakukan penekanan) atau saat saya lepas (sambil

melepaskan tekanan). Sensasi nyeri pada sisi peradangan yang terjadi ketika tekanan

dilepaskan disebut nyeri lepas.

Palpasi Hepar

Untuk mempermudah palpasi hepar diperlukan dinding usus yang lemas dengan

cara posisi pasien berbaring telentang, kaki ditekuk sehingga membuat sudut 45

o

-60

o

.

Palpasi dikerjakan dengan menggunakan sisi palmar radial jari tangan (bukan ujung jari)

dengan posisi ibu jari terlipat di bawah palmar manus. Lebih tegas lagi bila arah jari

membentuk sudut 45

o

  dengan garis median. Ujung jari terletak pada bagian lateral

musculus rectus abdominalis dan kemudian pada garis median untuk memeriksa hepar

lobus sinistra, sementara tangan kiri pemeriksa diletakkan dibawah tubuh pasien paralel

dan menyokong iga ke-11 dan 12 kanan, disebelah lateral muskulus paraspinosus.

Pasien diminta relaks dan menarik nafas panjang, pada saat ekspirasi maksimal

 jari ditekan ke bawah kemudian pada awal inspirasi jari bergerak ke kranial dalam arah

 parabolik, sehingga diharapkan bila hepar membesar akan terjadi sentuhan antara jari

 pemeriksa dengan hepar pada saat inspirasi maksimal.

Palpasi dimulai dari regio iliaka kanan menuju ke tepi lengkung iga kanan.

Dinding abdomen ditekan ke bawah dengan arah dorsal dan kranial sehingga akan dapat

menyentuh tepi anterior hepar. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang dan posisinya

(29)

digeser 1-2 jari ke arah lengkung iga. Penekanan dilakukan pada saat pasien sedang

inspirasi. Pada inspirasi, hepar terpalpasi sekitar 3 cm di atas lengkung iga kosta kanan

 pada garis midclavicula. Beberapa orang bernafas lebih dengan menggunakan dadanya

(pernafasan dada), dibandingkan dengan abdomennya. Akan sangat membantu bila

melatih pasien terlebih dahulu untuk bernafas dengan abdomennya, pada saat melakukan

 palpasi hepar, limpa dan ginjal.

Bila pada palpasi dapat meraba adanya pembesaran hepar, maka harus didiskripsikan

sebagai berikut:

Berapa cm lebar redup hepar di bawah lengkung iga kanan atau di bawah

 processus xyphoideus?

Bagaimana keadaan tepi hati? Misalnya tajam pada hepatitis akut atau tumpul

 pada tumor hepar.

Bagaimanakah konsistensinya? Apakah kenyal (konsistensi normal) atau keras

(pada tumor hepar)?

Bagaimanakan permukaannya? Pada tumor hepar permukaan teraba berbenjol,

dan

Apakah ada nyeri tekan? Hal ini dapat terjadi pada kelainan seperti abses hepar

atau tumor hepar. Pada abses hepar dapat pula dirasakan adanya fluktuasi.

Pada keadaan normal hati tidak akan terpalpasi kecuali pada beberapa kasus misal dengan

tubuh yang kurus. Terabanya hepar 1-2 jari di bawah lengkung iga harus dikonfirmasi

apakah hal tersebut memang suatu pembesaran hepar atau karena adanya perubahan letak

diafragma misal pada emfisema paru.

Teknik lain untuk palpasi hepar dikenal dengan

metode ”kaitan”/ hooking  technique, terutama jika pasien obese

. Pemeriksa berdiri didekat kepala pasien dan

meletakkan kedua tangan bersama-sama di bawah margo/lengkung kosta kanan dan

daerah redup. Pemeriksa menekan ke dalam dan keatas dan mengait di sekitar tepi hepar

ketika pasien disuruh menarik nafas dalam-dalam.

Untuk menilai adanya pembesaran lobus kiri hepar dapat dilakukan palpasi pada

garis tengah abdomen ke arah epigastrium. Batas atas sesuai dengan pemeriksaan perkusi

 batas paru hepar (normal sela iga 6). Pada beberapa keadaan patologis misal emfisema

(30)

 paru, batas ini akan lebih rendah sehingga besar hepar yang normal dapat teraba tepinya

 pada waktu palpasi.

 Nyeri tekan hepar diperiksa dengan meletakkan telapak tangan kiri diatas kuadran

akan atas dan dengan lembut mengetuknya dengan permukaan ulnar kepalan tinju tangan

kanan. Proses peradangan yang menyerang hepar atau kandung empedu akan

menyebabkan nyeri tekanan pada palpasi dengan tinju ini.

Kadang-kadang selama palpasi nyeri timbul selama inspirasi dan pasien secara

tiba-tiba menghentikan usaha inspirasi ini. Hal ini disebut dengan

tanda Murphy

, dan

mengarah kepada kolesistitis akut. Pada waktu inspirasi kandung empedu yang meradang

turun menyentuh tangan yang melakukan palpasi, timbul nyeri, sehingga pernafasan

 berhenti.

Palpasi Limpa

Teknik palpasi limpa tidak berbeda dengan palpasi hepar dan telah dipelajari pada

 blok 1.3. Pada keadaan normal limpa tidak teraba. Limpa membesar mulai dari bawah

lengkung iga kiri, melewati umbilikus sampai regio iliaka kanan. Seperti halnya hepar,

limpa juga bergerak sesuai inspirasi. Palpasi dimulai dari regio iliaka kanan melewati

umbilikus di garis tengah abdomen, menuju ke lengkung iga.

Pembesaran limpa diukur dengan menggunakan garis  Schuffner 

  yaitu garis

yang dimulai dari titik dilengkung iga kiri menuju ke umbilicus dan diteruskan sampai

spina iliaka anterior superior (SIAS) kanan. Garis tersebut dibagi menjadi 8 bagian yang

sama. Untuk meyakinkan bahwa yang teraba itu adalah limpa, harus diusahakan meraba

incisura lienalisnya. Palpasi limpa juga dipermudah dengan memiringkan pasien 45

o

ke

arah kanan (ke arah pemeriksa). Pembesaran limpa dapat disebabkan oleh hiperplasia,

kongesti, infeksi atau infiltrasi oleh tumor atau unsur leukemoid. Setelah tepi bawah

limpa teraba maka didiskripsikan sebagai berikut:

Berapa jauh dari lengkung iga kiri pada garis

Schuffner 

? (SI sampai SVIII)

Bagaimana konsistensinya? Apakah kenyal (splenomegali karena hipertensi

 portal) atau keras (seperti pada malaria).

(31)

Ginjal terletak pada daerah retroperitoneal sehingga pemeriksaan harus dengan

cara bimanual. Tangan kiri diletakkan pada pinggang bagian belakang dan tangan kanan

 pada dinding abdomen di ventralnya. Teknik ini sudah dipelajari di blok 1.3. Pembesaran

ginjal (akibat adanya tumor atau

hidronefrosis

) akan teraba diantara kedua tangan

tersebut. Fenomena ini dinamakan

ballotement  positif 

. Pada keadaan normal

ballotement 

negatif.

Untuk menyingkirkan kemungkinan nyeri tekan ginjal, maka untuk pemeriksaan

ini pasien harus dalam posisi duduk. Pemeriksa mengepalkan tinjunya menggunakan

tangan kanan dengan lembut memukul tangan pemeriksa yang satunya yang diletakkan

daerah di atas sudut kostovertebral dikedua sisi. Pasien dengan pielonefritis biasanya

merasakan nyeri hebat bahkan pada perkusi ringan di daerah ini. Jika mencurigai adanya

 pielonefritis, pakailah tekanan dengan jari-jari saja.

Palpasi Kandung Kemih

Apabila pada perkusi menunjukkan bunyi redup pada daerah suprapubik maka

 palpasilah pada daerah itu akan menunjukkan kandung kemih penuh atau suatu

 pembesaran uterus pada pasien wanita. Secara normal kandung kemih tidak dapat

dipalpasi kecuali mengalami distensi di atas simphisis osis pubis. Pada palpasi kubah

kandung kemih yang terdistensi akan teraba halus dan bundar dan kadang-kadang lunak.

 Nilailah apakah ada nyeri tekan. Lakukan pula perkusi untuk mengecek area redupnya

dan menentukan tingginya kandung kemih diatas simfisis osis pubis.

Palpasi aorta

Palpasi dalam pada garis tengah dekat umbilikus memungkinkan kejelasan margo

aorta pada orang yang kurus atau orang dengan dinding abdomen yang sangat kendur.

Dengan menggunakan kedua tangan, lakukan penekanan yang dalam pada salah satu sisi

aorta dan dapat diperkirakan dimensi lateral. Pada orang berusia > 50 tahun ke atas lebar

aorta tidak lebih dari 3 cm (sekitar 2,5 cm). Pengukuran ini tidak termasuk ketebalan

dinding abdomen. Kemudahan merasakan pulsasi aorta bervariasi sesuai dengan

ketebalan dinding abdomen dan diameter anteroposterior abdomen.

(32)

@7A=7; ?T3 +7<F745 $2;>7 $=E2A587<54

Pemeriksaan Untuk Menilai Kemungkinan Cholecystitis akut

Jika didapatkan nyeri atau nyeri tekanan pada kuadran kanan atas, salah satu yang

diagnosis bandingnya adalah cholecystitis akut, lakukanlah

pemeriksaan Murphy’s sign

.

Tempatkanlah ujung jari di bawah lengkung kosta kanan di sebelah lateral batas

muskulus rectus abdominis menyeberang dengan lengkung kosta. Suruhlah pasien untuk

menarik nafas dalam. Kadang-kadang selama palpasi nyeri timbul selama inspirasi dan

 pasien secara tiba-tiba menghentikan usaha inspirasi ini. Hal ini disebut dengan tanda

 Murphy positive, dan mengarah kepada kolesistitis akut. Pada waktu inspirasi, kandung

empedu yang meradang turun menyentuh tangan yang melakukan palapasi, timbul nyeri,

sehingga pernafasan berhenti (Gambar 28).

(33)

Pemeriksaan untuk kemungkinan Appendicitis

1. Pertama, tanyailah pasien dan minta menunjukkan dimana rasa sakit awalnya

muncul dan sekarang ini nyeri dirasakan dimana. Setelah itu mintalah pasien

untuk batuk, untuk menilai apakah nyeri tersebut dicetuskan oleh batuk dan

dimanakah nyeri tersebut muncul. Nyeri appendicitis secara klasik dimulai dari

sekitar umbilicus dan kemudian menetap di kuadran kanan bawah, dan nyeri

tersebut bertambah bila batuk.

2. Carilah secara cermat daerah nyeri tekan. Nyeri tekan di lobus kanan bawah dapat

mengindikasikan appendicitis, meskipun dapat pula disebabkan yang lain.

3. Rasakan apakah ada rigiditas otot.

4. Lakukanlah pemeriksaan atau

test “rebound tenderness” pada daerah nyeri tekan

tadi. (Gambar ). Rebound tenderness menunjukkan adanya inflamasi peritoneum

yang salah satunya disebabkan oleh appendicitis.

@7A=7; 1W3:%;,025 $%25%&2%## N7FF:8E5M5>54Q

5. Lakukan pemeriksaan

test Rovsing sign

dan radiasi / penjalaran nyeri dari test

rebound tenderness

’. Tekanlah secara “

 gentle

” pada kuadran kiri bawah

kemudian lepas dengan cepat dan mendadak. Nyeri yang dirasakan pada kuadran

kanan bawah ketika daerah kiri bawah ditekan disebut dengan

 Rovsing sign

 positive

. Nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika tekanan

(34)

6. Lakukan pemeriksaan

 Psoas sign  (Gambar 30). Tempatkan tangan pada lutut

kanan pasien dan mintalah pasien mengangkat kakinya melawan tangan anda.

Atau mintalah pasien untuk miring ke sisi kiri, suruhlah pasien untuk mengangkat

kaki kanannya lurus ke atas dengan bertumpu pada pangkal paha. Fleksi kaki

 pada pangkal paha akan menyebabkan kontraksi dari muskulus psoas. Adanya

nyeri abdomen akibat manuver ini disebut dengan

 psoas  sign positive

,

menunjukkan adanya iritasi muskulus psoas yang diakibatkan oleh radang

appendix.

@7A=7; 1B3<33",-#,)# #"=2

7. Lakukan juga

maneuver obturator sign  (Gambar 31). Fleksikan kaki kanan

 pasien 90

o

  pada pangkal paha dengan lutut ditekuk. Pegang kaki pasien di atas

lutut dan di atas pergelangan kaki. Rotasikan kaki ke dalam dan medial. Nyeri

 pada daerah hipogastrik kanan disebut dengan

  obturator sign positive

,

(35)

@7A=7; 1?3>;$0&)$,& #"=2

8. Carilah daerah hiperestesi kulit dengan mencubit kulit secara

 gentle

 menggunakan

ibu jari dan jari telunjuk. Secara normal perasat ini tidak menyebabkan nyeri.

9. Lakukan pemeriksaan rectal. Perasat ini tidak hanya dapat membantu

membedakan antara appendix yang normal dan appendiks yang meradang, tetapi

 juga membantu apakah yang meradang betul-betul appendix di dalam rongga.

Adanya nyeri pada daerah kanan pada pemeriksaan rectal mungkin dapat pula

disebabkan inflamasi dari jaringan adnexa atau vesicular seminalis.

Pemeriksaan Inguinal

Daerah inguinal ditempati oleh spermatic cord, kelenjar getah bening inguinal dan

arteri femoralis. Pembengkakan pada daerah inguinal dapat disebabkan oleh hernia

inguinalis atau hernia femoralis atau limfadenopati. Pada fase embrional seorang

laki-laki, testis dan spermatic cord turun dari ronga abdomen ke dalam skrotum melalui

kanalis inguinalis. Proses penurunan ini meninggalkan saluran yang bila tidak tertutup

akan dapat menyebabkan hernia dikemudian hari. Kanalis inguinalis berjalan ke bawah

dari lateral ke medial melalui anulus inguinalis interna ke anulus inguinalis eksterna di

atas dan sejajar dengan ligamentum inguinalis sehingga ligamentum tersebut menjadi

dasar kanalis inguinalis. Anulus inguinalis interna terletak pada titik percabangan antara

ligamentum inguinalis dan arteri femoralis. Arteri femoralis berjalan dari kranial ke

kaudal pada titik tengah antara spina iliaka anterior superior dan simfisis osis pubis

masuk ke dalam

 femoral sheath

, selain arteri femoralis didalam

 femoral sheath

  juga

(36)

terdapat vena femoralis dan kanalis femoralis. Kanalis femoralis ditutup oleh jaringan

lemak dan kelenjar getah bening dan merupakan jalan terbentuknya hernia femoralis.

Hernia inguinalis akan tampak sebagai benjolan di daerah inguinal atau didalam

skrotum bila tekanan intraabdominal meninggi. Massa itu akan hilang spontan bila pasien

 berbaring, oleh sebab itu pemeriksaan untuk mencari hernia sebaiknya dilakukan dalam

 posisi pasien berdiri. Untuk melakukan palpasi kanalis inguinalis, terutama bila ada

keluhan hernia inguinalis, letakkan ujung jari pemeriksa di bawah skrotum lalu mengikuti

spermatic cord naik keatas dan menembus anulus inguinalis eksterna. Lima sentimeter di

atas anulus ini terletak anulus inguinalis interna. Bila ujung jari telah mencapai anulus

inguinalis interna, pasien di suruh mengejan atau batuk. Bila ada masa yang mendorong

maka berarti terdapat hernia.

@7A=7; 113 0:;857 ,89D587<54 E5;:M>K 0:;857 ,89D587<54 58E5;:M> 78 0:;857 Z:A2;7<54

Untuk membedakan hernia inguinalis dengan hernia femoralis dilihat dari letak

hernia tersebut dengan pubic tubercle, bila hernia terletak di atas dan medial dari pubic

tubercle merupakan hernia inginalis sedang jika terletak di bawah dan lateral terhadap

 pubic tubercle merupakan hernia femoralis.

(37)

@7A=7; 1J3 0:;857 ,89D587<54

Pemeriksaan Perineum

Pemeriksaan abdomen akan lengkap dengan pemeriksaan perineum dan colok

dubur. Untuk pemeriksaan ini penting dijelaskan terlebih dahulu pada pasien tentang

tujuan dan manfaatnya. Pasien pada berbaring pada posisi lateral dekubitus kiri atau

 posisi

Sims  dengan kedua lutut terlipat ke arah dada.

Pemeriksaan menggunakan

sarung tangan

. Dengan penerangan cahaya yang adekuat, pantat kanan pasien ditarik

keatas dengan menggunakan tangan kiri pemeriksa sehingga kita dapat melakukan

inspeksi perineum dengan baik. Adanya hemoroid eksterna atau interna yang prolaps,

fisura ani, jaringan parut, perianal tags, dermatitis, keganasan, ulkus ataupun tumor dapat

dinilai dengan baik.

@7A=7; 1L3 +;2<7F4 0:A2;25E ,8>:;87

(38)

@7A=7; 1S3 +2<5F Z5=;2^74CD<:; 787< @7A=7; 1T3 +:;5787< 7=4:4

Pemeriksaan Urogenital Eksterna

Pemeriksaan ini merupakan hal yang penting meski agak sensitif karena itu harus

mendapat ijin dari pasien apalagi bila dokter dan pasien berbeda jenis kelaminnya dan

harus ada indikasi pemeriksaannya. Bila ditemukan adanya kelainan genital pada

 perempuan dapat dikonsulkan ke dokter kulit kelamin atau dokter kandungan. Yang perlu

diperhatikan tentu semua kelainan bawaan, penyakit seksual dan lainnya dari genetalia

eksterna.

Genetalia Laki-laki

Lakukan inspeksi secara seksama, perhatikan pertumbuhan rambut pubes yang

kadang-kadang dapat mencapai umbilikus. Perhatikan lubang penis, terutama bila ada

keluhan retentio urin. Bila pasien mengeluh nyeri waktu ereksi, perhatikan kemungkinan

ada hipospadia. Tanda-tanda peradangan pada glans penis juga harus diperhatikan. Kalau

 perlu lakukan pengurutan penis untuk melihat adanya

urethral discharge

. Pada pasien

yang tidak sirkumsisi, preputium harus dibuka untuk melihat adanya smegma atau

 peradangan. Skrotum dan testis juga harus diperiksa dengan seksama, apakah ada

 pembesaran atau tidak. Dalam keadaan normal terstis kiri dapat lebih besar dibandingkan

dengan testis kanan. Perhatikan terhadap kemungkinan adanya varikokel, hidrokel dan

(39)

hernia.

Varikokel

 merupakan pelebaran vena-vena pleksus pampiniformis biasanya pada

 bagian kiri tanpa adanya keluhan yang berarti.

Pada

Hidrokel -penimbunan cairan pada tunika vaginalis testis - biasanya kulit

teraba agak tegang, mengkilat, tidak nyeri dan teraba fluktuasi. Bila diberi sinar dengan

cara meletakkan senter pada skrotum maka akan nampak sinar tersebut menembus

lapisan cairan tersebut (diafonoskopi/transluminasi positif 

). Pada

hernia, karena di dalam

skrotum didapatkan massa padat yang berasal dari rongga abdomen, maka bila diberi

sinar, sinar tidak akan menembus massa skrotum (diafonoskopi negatif 

). Testis yang

membesar lunak serta nyeri merupakan tanda adanya orchitis virus, bila konsistensinya

keras dan tidak nyeri hati-hati kemungkinan sifilis atau tumor. Pada tumor permukaan

testis biasanya tidak rata. Pada palpasi juga harus dicari epididimitis. Pada epididimitis

tuberkulosis akan teraba epididimis seperti manik-manik. Pada palpasi daerah inguinal,

dicari benjolan yang mungkin merupakan kelenjar getah bening, hernia dan testis yang

tidak turun, atau limfogranuloma inguinal. Denyut arteri femoralis juga harus dipalpasi

dan dinilai apakah normal atau tidak. Demikian juga daerah suprapubik harus dipalpasi,

terutama pada retensio urin untuk melihat adakah pembesaran kandung kemih.

Genetalia Perempuan

Bila dianggap perlu, pemeriksaan genitalis perempuan harus disertai dokter atau

 perawat atau dokter muda perempuan. Perhatikan pertumbuhan rambut pada mons

veneris, klitoris, labia mayora dan labia minora. Pisahkan labia mayora dengan ibu jari

dan jari telunjuk tangan kanan. Usakan mencari kelenjar bartolini, dalam keadaan normal

kelenjar ini tidak teraba. Pembesaran kelenjar bartolini akan teraba di posterolateral labia

mayora, biasanya disebabkan infeksi atau abses. Pisahkan kedua labia minora sehingga

introitus vagina dan uretra akan tampak. Perhatikan vulva dengan seksama, apakah ada

ulkus atau lekoplakia. Perhatikan juga cairan vagina, apakah normal atau berlebih, berbau

 busuk atau tidak. Kemudian dengan kedua labia masih dipisahkan oleh jari telunjuk dan

 jari tengah, pasien diminta untuk meluruskan kedua tungkainya, perhatikan adanya

 penonjolan (bulging 

) pada dinding vagina yang mungkin disebabkan oleh sistokel atau

(40)

Pemeriksaan Anorektal

Pada inspeksi diperhatikan kelainan anus, misalnya adanya hemoroid eksterna, keganasan

dan lain-lain. Bila perlu dan ada indikasinya lakukan pemeriksaan colok dubur (

rectal

toucher 

).

Adapun

cara pemeriksaan rectal adalah sebagai berikut:

Posisi pasien dapat dilakukan dengan pasien berbaring terlentang; berbaring pada sisi

kiri tubuh atau berdiri, membungkuk pada meja pemeriksaan. Posisi litotomi (pasien

terlentang dengan kedua lutut difleksikan) yang dimodifikasikan dipakai kalau pasien

sulit berdiri atau kalau pemeriksaan anus secara rinci tidak diperlukan. Pemeriksa

menjulurkan tangan kanannya di bawah paha kanan pasien. Jari telunjuk di dalam rektum

dipakai bersama dengan tangan kiri pemeriksa yang diletakkan di abdomen.

Posisi miring ke lateral kiri / posisi sims dipakai pada wanita atau pada pasien yang

sangat lemah dan harus terpaku pada tempat tidur. Dalam posisi ini tungkai kanan atas

harus difleksikan sedangkan tungkai kiri bawah setengah diekstensikan.

Posisi berdiri merupakan posisi yang paling banyak dipakai dan dengan posisi ini

dapat dilakukan inspeksi menyeluruh pada anus dan palpasi pada rektum. Pasien disuruh

 berdiri membungkuk dengan bahu dan siku disokong di atas tempat tidur atau meja

 pemeriksa. Tangan kanan pemeriksa dengan memakai sarung tangan memeriksa anus dan

 jaringan sekitarnya sementara tangan kiri dengan hati-hati merentangkan pantat. Jika

mencurigai adanya infeksi, kedua tangan pemeriksa harus memakai sarung tangan.

Pasien diberi tahu bahwa pemeriksan rektum akan segera dilakukan. Pemeriksa harus

memberitahukan pasien bahwa lubrikan yang memberikan sensasi dingin akan dipakai

dan ini akan diikuti dengan sensasi akan buang air besar, pasien harus diberikan jaminan

 bawha sebenarnya ia tidak akan buang air besar. Pasien diminta mengejan untuk

menginspeksi anus untuk melihat adanya hemoroid atau fisura.

Oleskan jari telunjuk tangan kanan yang telah memakai sarung tangan dengan jeli

atau vaselin dan juga dioleskan pada anus pasien, sementara tangan kiri diletakkan pada

 pantat pasien untuk merentangkan pantat pasien. Pasien disuruh tarik nafas dalam, dan

 pada saat ini letakkan bagian palmar ujung jari telunjuk kanan pada tepi anus dan secara

 perlahan tekan agak memutar sehingga jari tangan masuk ke dalam lumen anus, saat

sfingter ani mengendur. Sfingter ani harus menutup dengan sempurna disekitar jari

(41)

 pemeriksa. Masukkan lebih dalam secara perlahan–lahan sambil menilai apakah ada

spasme anus (misal pada fisura ani) dan tonus sfingter ani harus dinilai. Jari harus

dimasukkan sejauh mungkin ke dalam rektum meskipun 10 cm merupakan batas

eksplorasi jari yang mungkin dilakukan. Tangan kiri pemeriksa dapat dipindahkan ke

 pantat kiri pasien sementara jari telunjuk kanan memeriksa rektum. Dinding rektum

dipalpasi untuk melihat adanya polip, massa tumor dan ada tidaknya

rak blumer,

hemoroid interna beserta derajatnya, rasa nyeri, mukosa yang teraba ireguler, pembesaran

 prostat pada laki-laki atau penekanan dinding anterior oleh vagina/rahim pada

 perempuan. Pada waktu jari telunjuk sudah dikeluarkan dari anus, perhatikan pada sarung

tangan apakah terdapat perdarahan baik darah merah atau hitam (melena), lendir ataupun

 bentuk feses yang menempel pada sarung tangan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :