Bab 2. Landasan Teori. suatu teori untuk dapat mengetahui makna dari warna yang bersangkutan dan

Teks penuh

(1)

9 Bab 2

Landasan Teori

2.1 Teori Semantik

Untuk dapat memahami makna yang terkandung di dalam suatu warna diperlukan suatu teori untuk dapat mengetahui makna dari warna yang bersangkutan dan menggambarkannya dengan kata-kata.

Menurut Saeed (2003 : 3), “semantics is the study of meaning communicated through language”, yang berarti “semantik adalah ilmu yang mempelajari makna yang dikomunikasikan melalui bahasa”. Jadi teori semantik adalah teori yang mempelajari ilmu tentang makna yang dikomunikasikan melalui bahasa.

Hiejima (1991 : 1 – 3), seorang ahli semantik modern, menyatakan bahwa semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang makna dari kata, frase, dan kalimat. Menurutnya, bila melihat sebuah makna dari kata atau frase atau kalimat dengan sudut pandang secara objektif ataupun secara fisik, banyak hal yang akan memiliki pengertian berbeda dan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Dalam melihat sebuah makna dalam kondisi seperti itu, lebih baik menggunakan sudut pandang secara subjektif. Hal ini dikarenakan kata atau kalimat merupakan sesuatu yang digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari sehingga dari masing-masing individu akan lahir makna-makna yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Untuk pembagian semantik dalam ilmu bahasa, ahli semantik Ikegami (1991 : 19) juga mengatakan :

言語における意味の問題は、本然言語学の一部門として意味論の対象に なる。意味論は、持に区別されるときは

(2)

10

「言語学的な意味論」(linguistic semantics)、「哲学的な意味論」

(philosphical semantics)、「一般意味論」(general semantics)というふうに

それぞれ呼ばれるが、多くはいずれの場合に対しても「意味論」(seman

tics)という名称が使われる。

Terjemahan :

Permasalahan arti dalam bahasa menjadi objek semantik yang merupakan salah satu bagian dalam linguistik. Semantik yang jika secara khusus dibedakan sesuai dengan sebutannya menjadi semantik linguistik, semantik filosofis, semantik umum, tetapi sering digunakan nama semantik dalam berbagai macam kesempatan dengan nama sebutannya.

Semantik adalah studi tentang makna; untuk memahami suatu ujaran dalam konteks yang tepat seseorang harus memahami makna dalam komunikasi (Keraf, 2007 : 25). Oleh karena itu, berdasarkan dari pengertian akan semantik tersebut, makna kata dalam suatu frase atau kalimat terbagi menjadi dua, yaitu

1. Makna denotatif adalah makna dari sebuah frase atau kata yang tidak

mengandung arti atau perasaan tambahan. Dalam hal ini, seorang penulis hanya menyampaikan informasi, khususnya dalam bidang ilmiah, biasanya akan cenderung untuk mempergunakan kata – kata yang bermakna denotatif. Tujuan utamanya adalah untuk memberi pengenalan yang jelas terhadap fakta. Ia tidak menginginkan interpretasi tambahan dari tiap pembaca (Keraf, 2007 : 28).

2. Makna konotatif adalah makna yang mengandung arti tambahan, perasaan

tertentu, atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar yang umumnya. Makna tersebut sebagian terjadi karena pembica ingin menimbulkan perasaan setuju atau tidak setuju, senang atau tidak senang, dan sebagainya pada pihak pendengar dengan orang lain. Sebab itu, bahasa manusia tidak hanya menyangkut masalah makna denotatif atau ideasional dan sebagainya (Keraf, 2007 : 20).

2.1.1. Medan Makna

Pada awal analisis linguistik struktural, para linguis sangat dipengaruhi oleh psikologi asosionistik dalam pendekatan terhadap makna. Para linguis dengan intuisi mereka sendiri menyimpulkan hubungan di antara seperangkat kata. Misalnya, dengan

(3)

11 data baik, kebaikan, memperbaiki, pembaikan, perbaikan” atau “satu, satuan, penyatu, persatuan, penyatuan, bersatu, pemersatu” memberikan simpulan bahwa kata-kata itu mempunyai asosiasi antarsesamanya. Dengan demikianlah awal konsep asosiasi makna yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure (Parera, 1990 : 67).

Dalam memberikan gambaran mengenai hubungan asosiatif makna, Saussure membedakan dengan kesamaan formal dan semantik, similaritas semantik (butir umum), similaritas sufiks umum biasa, dan similar kebetulan (Parera, 1990 : 67).

Bally, seorang murid Saussure, memasukkan konsep medan asosiatif dan menganalisisnya secara mendetail dan terperinci. Ia melihat medan asosiatif sebagai satu lingkaran yang mengelilingi satu tanda dan muncul ke dalam lingkungan leksikalnya. Ia menggambarkan kata “ox” yang menyebabkan seseorang berpikir tentang kata seperti “cow”, lalu makin jauh orang berpikir tentang “plow”, dan akhirnya “strength”, dan sebagainya. Misalnya, medan asosiatif ini terjadi dalam kata “kerbau” dalam bahasa Indonesia. Dengan kata “kerbau” mungkin seseorang akan berpikir tetang kekuatan atau kebodohon. Jadi, medan makna adalah salah satu jaringan asosiasi yang rumit berdasarkan pada similaritas atau kesamaan, kontak atau hubungan, dan hubungan-hubungan asosiatif dengan penyebutan satu kata (Parera, 1990 : 68).

Salah satu patokan utama linguistik abad dua puluh ini ialah amsumsi bahwa bahasa terdiri dari sistem atau satu rangkaian subsistem yang berhubungan. Oleh karena itu, analisis bahasa dipecah-pecah atas subsistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Hubungan antar-unsur dalam subsistem-subsistem itu menentukan nilai dan fungsi masing-masing unsur. Dengan demikian, para linguis pun ingin mencari hubungan antara unsur-unsur dalam sistem semantik sebuah bahasa (Parera, 1990 : 67).

(4)

12 Buah pikir F. de Saussure dan muridnya C. Bally, juga buah pikir dari W. von Humboldt, Weisgerber, dan R.M. Meyer telah menjadi inspirasi utama bagi J. Trier dalam pengembangan teori medan makna, seperti yang dikemukakan oleh Parera (1990 : 69) sebagai berikut :

J. Trier melukiskan vokabulari sebuah bahasa tersusun rapi dalam medan-medan dan dalam medan itu setiap unsur yang berbeda didefinisikan dan diberi batas yang jelas sehingga tidak ada tumpang tindih antar sesama makna. Ia mengatakan bahwa medan makna itu tersusun sebagai satu mosaik. Setiap medan makna itu akan selalu tercocokkan antar sesama medan sehingga membentuk satu keutuhan bahasa yang tidak mengenal tumpang tindih.

2.2 Teori Semiotika

Menurut Lemke (2001), teori semiotika adalah teori dari produksi dan interpretasi dari makna atau pengertian. Pengertian dasarnya adalah bahwa makna dibuat oleh penyebaran tindakan dan objek yang berfungsi sebagai “tanda” dalam hubungannya dengan tanda-tanda yang lainnya. Sistem tanda didasari oleh himpunan hubungan makna yang ada antara tanda yang satu dengan yang lainnya, terutama hubungan dari kekontrasan dan superordination atau subordinasi (seperti kelas atau murid, seluruh atau sebagian). Tanda ditempatkan dalam ruang dan waktu untuk memproduksi “teks”, yang maknanya ditasfirkan oleh hubungan diantara tanda-tanda tersebut.

Eco dalam Scott (2004) berargumen bahwa pengertian isyarat atau tanda tidak harus selalu ditentukan oleh apakah mereka berhubungan dengan objek yang sesungguhnya, dan dia juga menjelaskan bahwa adanya hubungan antara objek dengan isyarat atau tanda yang dapat berkoresponden bukanlah suatu keadaan untuk menspesifikasikan.

Bagi Pierce dalam Hoed (2008 : 18-19) tanda adalah “sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain”. Inti pemikiran Pierce adalah bahwa jagat raya ini terdiri atas tanda-tanda

(5)

13 (signs). Dalam teori semiotik ada yang disebut proses semiotik, yakni proses pemaknaan dan penafsiran berdasarkan pengalaman budaya seseorang.

Dalam buku yang berbeda menurut Pierce dalam Christomy (2004 : 117), tanda melibatkan proses kognitif di dalam kepala seseorang dan proses itu dapat terjadi jika ada representamen, acuan, dan interpretan. Dengan kata lain, sebuah tanda senantiasa memiliki tiga dimensi yang saling terkait : Representamen (R) sesuatu yang dapat dipersepsi (perceptible), Objek (O) sesuatu yang mengacu kepada hal lain (referential), dan Interpretan (I) sesuatu yang dapat diinterpretasi (interpretable).

Gambar 2.1. Tiga Dimensi Tanda

Sumber : Christomy (2004 : 117)

Sebuah tanda (representamen) mengacu kepada objeknya (denotatum) melalui tiga cara utama menurut Pierce dalam Christomy (2004 : 121-122) yaitu :

1) Ikon adalah tanda hubungan representamen dan objeknya yang bersifat persamaan bentuk alamiah

2) Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara representamen dan objeknya melalui cara penunjukkan.

Objek (O)

Interpretan (I) Representamen (R)

(6)

14 3) Simbol dalah tanda yang menunjukkan hubungan antara representamen dan

objeknya berdasarkan kesepakatan atau konvensi masyarakat.

Hubungan dalam representamen, objek, dan interpretan menurut Pierce dalam Christomy (2004 : 127-128) mengajukan tiga kategori pula, yaitu :

1) Term, sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum 2) Proposisi, sebagai tanda informatif

3) Argumen, sebagai proses berpikir yang memungkinkan percaya tentang sesuatu Kemudian menurut Pradopo (1990 : 122-124) bahasa yang merupakan sistem tanda yang kemudian dalam karya sastra menjadi mendiumnya itu adalah sistem tanda tingkat pertama. Dalam semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama itu disebut meaning (arti). Karya sastra juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat. Karena, karya sastra merupakan sistem tanda yang lebih tinggi kedudukannya dari bahasa, maka disebut sistem semiotik tingkat kedua. Dalam karya sastra, arti kata-kata ditentukan oleh konvensi sastra. Jadi arti sastra itu merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Untuk membedakannya dari arti bahasa, arti sastra itu disebut makna (significance) yang terbagi menjadi signifiant (nouki/能記、 kigohyogen/記号表現) dan siginifie (touki/所記、 kigonaiyou/記号内容) (Kazama dkk, 1993 : 2).

2.2.1 Teori Semiotika Warna

Faur (2007) mengatakan bahwa warna dan cara mereka dapat menggambarkan informasi berkode adalah sebuah area yang sering difokuskan dalam bidang desain, seni, filosofi, dan physiologi. Dapat dengan mudah dikenali dalam konjungasi dengan warna

(7)

15 dapat dengan cepat memberitahu kita tentang potensial adanya bahaya (peringatan = warna kuning, bahaya = warna merah), warna dapat membimbing kita mengenai apa yang diharapkan oleh masyarakat, dan juga sebagai tanda pengenal yang dapat langsung dikenali dari suatu merek barang (McDonald, Coca cola, dan sebagainya).

Warna yang paling umum memiliki persepsi standar masyarakat, yakni suatu warna secara spesifik dapat mewakili suatu ide atau suasana hati. Pengertian ini sering kali menjadi pembatas dari apa pengertian yang masyarakat inginkan. Sebagai contoh warna hitam yang sering kali berarti kematian di dalam masyarakat Eropa atau Amerika sementara kebalikannya, warna putih merupakan lambang kematian di kebudayaan Asia (Faur, 2007).

Telah ada sistem yang diletakkan dari masa lalu yang menggunakan warna untuk menggambarkan pengertian abstrak. Sistem ini jarak dari mereka yang menggunakan coat of arms, bendera, seragam militer hingga ke warna dan pola dari rok skotlandia yang digunakan sebagai identitas dari suatu klan atau kelompok (Faur, 2007).

2.3 Konsep Agama Budha

Menurut Zhao (2007 : 1), dalam pengertian luas, agama Budha adalah religi, mencakup juga kitab-kitab, tata cara dan ritual, kebiasaan dan tradisi, serta organisasi komunitasnya. Dalam pengertian yang lebih khusus, agama Budha adalah apa yang diajarkan oleh Budha, seperti yang dinyatakan oleh Takada (1997 : 40),

“仏教とは、言うまでもなく仏の教えです。それは、キリスト教がイエス・キリ

ストの教えであり、イスラム教がモハメッドの教えであるのと同じです”; yang

(8)

16 seperti agama Kristen yang merupakan ajaran yang diajarkan oleh Yesus Kristus, dan agama Islam yang merupakan ajaran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.”

Sejarah agama Budha masuk ke Jepang adalah seperti yang dinyatakan oleh Takada (1997 : 82) :

「日本書紀」は奈良時代の政府が全力を傾けて作った公式の歴史書です

。その記述によると、仏教が公に伝わったのは552年ということになって

います。 Terjemahan :

Nihonshoki merupakan catatan sejarah yang dibuat ketika pemerintahan pada zaman periode Nara berada pada puncak kejayaannya. Berdasarkan catatan tersebut, disebutkan bahwa agama Budha diperkenalkan di Jepang pada tahun 552.

Pada saat itu, raja Song dari Paekche di semenanjung Korea mengirim misionaris ke Jepang untuk menyebarkan patung Budha dan sutra Budha, dan hal ini dipercayai sebagai awal permulaan agama Budha di Jepang (Takada, 1997 : 85).

Pendiri agama Budha adalah Budha sakyamuni, yang sebelum mencapai pencerahan dan menjadi Budha bernama Siddharta Gautama. Siddharta hidup pada pertengahan abad ke 6 SM, satu zaman dengan Konfusius. Dia adalah pangeran dari kerajaan Kapilavasu, di daerah Nepal. Sejak kecil Siddharta mempunyai kebiasaan merenung dan berfikir yang mendalam. Fenomena hidup yang penuh penderitaan membuatnya mencari-cari sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan, yaitu bagaimana agar manusia dapat hidup terbebas dari penderitaan. Kemewahan hidup di istana tidak membuatnya puas dan melupakan hal itu, sehingga pada suatu ketika ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan istana untuk mengembara mencari cara agar manusia dapat terbebas dari penderitaan. Setelah pencarian yang panjang selama bertahun-tahun, pada suatu malam dalam meditasinya, akhirnya dia berhasil mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang

(9)

17 selama ini dicari olehnya dan hal itu disebut dengan “pencerahan”. Pencerahan artinya pencapaian kebudhaan, dan memperoleh kebijakan sempurna. Setelah mencapai keBudhaan, sang Budha pun mengkhotbahkan ajaran-ajarannya kepada orang-orang dan ajaran inipun menyebar, dan inilah yang disebut dengan ajaran agama Budha (Zhao, 2007 : 2-10).

Singkatnya, ajaran-ajaran Budha mencangkup yang disebut dengan “empat kebenaran mulia”, yaitu duka, asal mula duka, lenyapnya duka, dan cara menuju lenyapnya duka. Hal ini sendiri berhubungan dengan alasan Budha meninggalkan keduniawian yaitu bertujuan untuk mencari suatu cara agar manusia dapat terbebas dari penderitaan yang diakibatkan oleh kelahiran, umur tua, sakit, dan kematian. (Zhao, 2007 :33). Agama Budha memiliki beberapa konsep utama yang merupakan inti dari ajaran-ajaran agamanya, diantaranya adalah konsep kesucian dan pengajaran-ajaran, yang menurut Griffiths (1994 : 75), kedua hal tersebut merupakan hakikat dari keBudhaan; konsep ketidakkekalan, menurut Piyadassi (2003 : 103), ketidakkekalan merupakan realitas bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu berubah dan tidak ada yang selamanya tetap kekal abadi; konsep karma, yang menurut Dhammananda (2005 : 22), merupakan hukum sebab-akibat, aksi dan reaksi; dan konsep Samsara, yang menurut Piyadassi (2003 : 103), merupakan kepercayaan akan adanya siklus kelahiran kembali setelah kematian, yang terus berulang. Dalam konsep ini dinyatakan bahwa setelah mati, manusia akan dilahirkan kembali ke salah satu dari enam alam, tergantung karma (perbuatan) mereka ketika hidup, dan proses tersebut akan terus berulang.

(10)

18 2.3.1 Konsep Warna Menurut Agama Budha

Konsep warna digunakan secara luas dalam variasi cara yang mengagumkan dalam ritual dan seni agama Budha. Dalam agama Budha, terutama agama Budha orang Tibet, masing-masing warna dari lima warna (pancha-varna) melambangkan sebuah keadaan pikiran, seorang Budha, bagian dari tubuh, bagian dari kata mantra Hum, atau elemen alam (Kumar, 2004).

Ada kepercayaan bahwa dengan hanya berfokus pada suatu warna tertentu, yang mengandung pokok yang bersangkutan dan diasosiasikan dengan suatu Budha atau Bodhisattva yang khusus, sebuah transformasi rohani dapat dicapai (Kumar, 2004)

2.3.1.1 Merah

Menurut Nitin Kumar (2004), warna merah memiliki konotasi dengan hidup dan semua hal yang dianggap sakral selama perkembangan perabadan. Maka dari itu warna merah kemudian berkembang sebagai sinonim dengan pemeliharan dari kelangsungan hidup kita, seperti misalkan warna merah yang digunakan pada simbol Red Cross and Red Cresent (organisasi kemanusiaan terbesar di dunia; atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Palang Merah Indonesia). Tanda dan sinyal bahaya juga sering dikelilingi dalam warna merah untuk mengindikasikan peringatan atau ancaman dalam hidup. Sama halnya dengan api yang memiliki dua sisi, yaitu dapat berarti hangat yang dapat menyelamatkan hidup (api unggun) atau penghancur yang tak dapat dikontrol (kebakaran).

Warna merah memberi harapan baik di dalam kebudayaan orang Tibet. Merah dianggap sebagai warna sakral, salah satu warna dari lima Budha dan digunakan sebagai warna untuk pakaian biksu. Warna ini dipercaya memiliki kemampuan untuk

(11)

19 melindungi dan oleh karena itu sering digunakan untuk mengecat bangunan-bangunan sakral. Di perumahan di Cina, batu karang adalah simbol dari umur panjang, dan di India batu karang dianggap dapat mencegah pendarahan. Hans Weihreter memiliki catatan akan kepercayaan mengenai batu karang di bagian barat kebudayaan orang Tibet yang berpusat pada darah (Kumar, 2004).

Dimensi lain mengenai warna merah adalah kepercayaan yang ada pada batu karang, batu semi-berharga yang merupakan hadiah dari ibu pertiwi untuk mengingatkan kita akan kehidupan. Batu karang sebenarnya terbentuk dari tulang-tulang binatang kecil menjadi tanaman laut dengan cabang yang keras. Hal ini mengingatkan kita akan tulang kita – keras dan awet. Dalam agama Budha, batu karang dipercaya dapat membawakan nasib baik; dipercaya bahwa orang yang mengenakan batu karang akan memiliki sukses di dalam kehidupan (Kumar, 2004).

2.3.1.2 Biru

Kekekalan, kebenaran, pengabdian, kepercayaan, kesucian, kesederhanaan, kedamaian, spiritual, dan kehidupan intelektual – hal-hal ini adalah beberapa dari asosiasi-asosiasi yang muncul pada kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Semua itu menggambarkan perasaan umum bahwa warna biru adalah yang paling sejuk, paling terpisah dan berbahan paling sedikit dari semua warna (Kumar, 2004).

Dalam agama Budha, kedua aspek dari warna biru, baik biru tua ataupun biru muda, dari warna misterius ini sangatlah penting. Pentingnya perbedaan warna (muda atau tua) tercermin dalam supremasi dari batu pirus (turquoise) semi-mulia dalam kehidupan spiritual dan religius sehari-hari orang-orang Budha beriman, yang mempercayai berbagai macam kepercayaan mengenai batu ini. Dalam istilah umum, turquouise adalah

(12)

20 simbol wana biru dari lautan dan langit. Ketidakterbatasan pada langit menggambarkan tinggi yang tak berbatas dalam kenaikan yang dapat diraih. Batu ini sama (warnanya) dengan bumi, tapi batu ini mengangkat semangat yang tinggi, dengan memberikan kita kebijakan baik dari bumi maupun langit (Kumar, 2004).

2.3.1.3 Hijau

Hijau berada di tengah-tengah dari tujuh spektrum warna (pelangi), sehingga menggambarkan kualitas dari keseimbangan dan harmoni. Hijau adalah warna yang kita sangkut pautkan dengan alam, pohon, dan tumbuhan. Oleh karena itu warna Green Tara (yang dikenal sebagai Budha dari kegiatan pencerahan) mewakilkan sebuah perpaduan dari warna putih, kuning, dan biru – warna-warna yang menyimbolkan, secara berurutan, fungsi-fungsi dari menenangkan, meningkatkan dan menghancurkan (Kumar, 2004).

Warna hijau juga melambangkan aktivitas dan semangat orang muda, dan Green Tara selalu ditunjukkan sebagai gadis kecil yang memiliki sifat nakal dan suka bermain. Pemimpin penganut agama Budha akan karma (perbuatan), Amoghasiddhi, juga diasosiasikan dengan warna ini, menyatakan kembali bahwa hijau dalam pemikiran penganut agama Budha merupakan warna akan perbuatan atau tindakan (Kumar, 2004).

2.3.1.4 Kuning

Kuning memiliki nilai simbol tertinggi di dalam agama Budha melalui hubungannya dengan jubah saffron (kunyit) milik para biarawan (Kumar, 2004).

Warna ini, yang sebelumnya digunakan oleh para kriminal, dipilih oleh Budha Gautama sebagai simbol dari kerendahhatian dan pemisahan dirinya dari masyarakat

(13)

21 materialistik. Hal itu kemudian menandakan penolakan (hal tidak mementingkan diri sendiri), ketidak-inginan, dan rendah hati (Kumar, 2004).

Kuning merupakan warna bumi, dan dengan demikian merupakan sebuah simbol dari akar dan ketenangan bumi (Kumar, 2004).

Figur

Gambar 2.1. Tiga Dimensi Tanda

Gambar 2.1.

Tiga Dimensi Tanda p.5

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :