• Tidak ada hasil yang ditemukan

Survei Persepsi Masyarakat 2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Survei Persepsi Masyarakat 2010"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

K

OMISI

P

EMBERANTASAN

K

ORUPSI

R

EPUBLIK

I

NDONESIA

Survei Persepsi

Masyarakat 2010

(2)

SURVEI PERSEPSI MASYARAKAT

MENGENAI KORUPSI DAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI

2010

Tim Peneliti:

Doni Muhardiansyah

Aida Ratna Zulaiha

Wahyu Dewantara Susilo

I Gusti Nyoman Lia Oktirani

Annisa Nugrahani

Bariroh Barid

Direktorat Penelitian dan Pengembangan

Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia

(3)

Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK

KATA PENGANTAR KATA PENGANTARKATA PENGANTAR KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa “Survei Persepsi Masyarakat 2010 Mengenai Korupsi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)” telah selesai disusun oleh Direktorat Penelitian dan Pengembangan, Kedeputian Bidang Pencegahan, Komisi Pemberantasan Korupsi.

Survei dilakukan terhadap 2.525 responden di 13 Kota dan Kabupaten pada lima wilayah sampel. Survei ini ditujukan untuk mengetahui persepsi masyarakat mengenai korupsi dan KPK. Persepsi ini menyangkut kesadaran (awareness), pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan perilaku (behavior) dari responden baik terhadap korupsi maupun KPK.

Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan maupun kontribusi dalam penyusunan studi ini. Karena keterbatasan waktu, kami menyadari bahwa hasil survei ini masih jauh dari sempurna. Oleh karenanya, saran dan kritik sangat diharapkan, guna perbaikan dimasa mendatang.

Jakarta, Oktober 2010

Pimpinan

Komisi Pemberantasan Korupsi

(4)

DAFTAR ISI DAFTAR ISIDAFTAR ISI DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……… i

DAFTAR ISI ……… ii

DAFTAR TABEL ……….. iii

DAFTAR GAMBAR ……… iv

RINGKASAN EKSEKUTIF ……….. v

SURVEI PERSEPSI MASYARAKAT 2010 I. PENDAHULUAN ………. 1

1.1 Latar Belakang ……….. 1

1.2 Tujuan Penelitian ……… 1

1.3 Metode Survei ……… 2

II. KARAKTERISTIK RESPONDEN ………. 4

III. PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI KORUPSI ……… 6

3.1 Kesadaran terhadap korupsi ……….. 6

3.2 Pengetahuan terhadap korupsi ………. 8

3.3 Sikap terhadap korupsi ……….. 18

3.4 Perilaku terhadap korupsi ……… 19

3.5 Indeks Pemahaman Korupsi dan Target Pencapaian Strategis KPK ……… 22

IV. PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) ……….. 23

4.1 Kesadaran terhadap KPK ………. 23

4.2 Pengetahuan mengenai tugas KPK ……… 25

4.3 Penilaian terhadap kinerja KPK ……… 27

4.4 Sikap terhadap KPK ……….. 35

4.5 Perilaku terhadap KPK ……… 40

V. KESIMPULAN & REKOMENDASI ……….. 45

VI. DAFTAR PUSTAKA ………. 51 LAMPIRAN

(5)

Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK

DAFTAR TABEL DAFTAR TABELDAFTAR TABEL DAFTAR TABEL

1 Tabel I.1 Lokasi Sampel dan Sebaran Responden ……… 3

2 Tabel II.1 Jumlah Responden dan Sebarannya Berdasarkan Lokasi dan Wilayah Sampel ……. 4

3 Tabel II.2 Status Pekerjaan Responden ………. 4

4 Tabel II.3 Tingkat Pendidikan Responden ……… 5

5 Tabel II.4 Nilai Pengeluaran Rata-rata Responden Per Bulan ……… 5

6 Tabel III.1 Respon Masyarakat Indonesia Terhadap Kelaziman Korupsi ……….. 7

7 Tabel III.2 Respon Masyarakat Hongkong terhadap Kelaziman Korupsi 2005-2008 ……….. 8

8 Tabel III.3 Identifikasi Kategori Perbuatan Korupsi berdasarkan Peraturan Perundangan oleh Responden ………. 10

9 Tabel III.4 Nilai Factor Loading Variabel Bahaya Korupsi ………. 15

10 Tabel III.5 Sikap Responden Terhadap Perilaku Koruptif ………. 19

11 Tabel III.6 Target Pencapaian Indeks Pemahaman Korupsi ……….. 22

12 Tabel IV.1 Perbandingan Pengetahuan Responden Terhadap Tugas KPK 2008-2010 ……… 26

13 Tabel IV.2 Perbandingan Penilaian Kinerja Pencegahan KPK ………. 29

14 Tabel IV.3 Penilaian Kinerja Penindakan KPK Hasil Jajak Pendapat Kompas ……….. 31

15 Tabel IV.4 Perbandingan Tingkat Kepuasan Hasil Survei KPK dan Jajak Pendapat Kompas …. 32 16 Tabel IV.5 Dampak Keberadaan KPK Menurut Responden ……… 33

17 Tabel IV.6 Perbandingan Penilaian Dampak Keberadaan KPK 2008-2010 ……… 34

18 Tabel IV.7 Target Pencapaian Tingkat Kepercayaan Publik KPK 2008-2011 ………. 35

19 Tabel IV.8 Perbandingan Tingkat Kepercayaan Terhadap Kemampuan KPK 2008-2010 ... 36

20 Tabel IV.9 Pencapaian Tingkat Kepercayaan Terhadap Kemampuan KPK 2008-2010 (Berdasar Angka Indeks 2008) ………. 36

21 Tabel IV.10 Perbandingan Kebutuhan akan Keberadaan KPK 2009-2010 (%) ……… 37

22 Tabel IV.11 Perbandingan Hasil SPM 2010 dan 2009 Mengenai Integritas Personel KPK ... 40

23 Tabel IV.12 Kecenderungan Melaporkan LHKPN bagi Pegawai Negeri berdasarkan Wilayah ….. 41

24 Tabel IV.13 Kecenderungan Melaporkan Gratifikasi bagi Pegawai Negeri berdasarkan Wilayah 43 25 Tabel IV.14 Kecenderungan Melaporkan Dugaan TPK berdasarkan Wilayah ……… 44

(6)

DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR

1 Gambar 3.1 Tingkat Kesadaran Terhadap Korupsi ……… 6

2 Gambar 3.2 Identifikasi Jenis Korupsi Terkait Benturan Kepentingan berdasarkan Pekerjaan …. 12 3 Gambar 3.3 Identifikasi Jenis Korupsi Gratifikasi berdasarkan pekerjaan ……… 12

4 Gambar 3.4 Identfikasi Jenis Tindak Pidana Lain Terkait Korupsi berdasarkan Pekerjaan ……….. 13

5 Gambar 3.5 Dampak dari Bahaya Korupsi Menurut Responden ………. 16

6 Gambar 3.6 Respon Responden pada Pertanyaan 'Apakah Responden Merasakan Dampak dari Korupsi?' ………. 17

7 Gambar 3.7 Respon Responden pada Pertanyaan 'Apakah Dampak tersebut Langsung atau Tidak Langsung?' ………. 17

8 Gambar 3.8 Prioritas Bidang Pemberantasan Korupsi ……….. 18

9 Gambar 3.9 Kecenderungan Perilaku Melapor ……… 20

10 Gambar 3.10 Kecenderungan Melapor Berdasarkan Pekerjaan ………. 21

11 Gambar 3.11 Kecenderungan Perilaku Koruptif ……… 21

12 Gambar 4.1 Tingkat Kesadaran Terhadap KPK ……… 23

13 Gambar 4.2 Sumber Informasi Utama Responden ……….. 24

14 Gambar 4.3 Pengetahuan Mengenai Tugas-Tugas KPK ……… 25

15 Gambar 4.4 Penilaian Terhadap Kinerja KPK dalam Pelaksanaan Tugas ………. 28

16 Gambar 4.5 Kecukupan Upaya Pencegahan KPK ………. 28

17 Gambar 4.6 Kecukupan Upaya Sosialisasi Korupsi dan Gerakan Anti Korupsi ……….. 29

18 Gambar 4.7 Kecukupan Upaya Keterbukaan Akses Pengaduan/Laporan TPK ………. 30

19 Gambar 4.8 Kecukupan Terhadap Upaya Penindakan KPK ……… 31

20 Gambar 4.9 Kepuasan Terhadap Kinerja KPK ………. 32

21 Gambar 4.10 Tingkat Kepercayaan Terhadap KPK ………. 35

22 Gambar 4.11 Kebutuhan Terhadap KPK ……… 37

23 Gambar 4.12 Independensi KPK dalam Menangani Kasus ……….. 38

24 Gambar 4.13 Penggunaan Kewenangan KPK ……… 39

25 Gambar 4.14 Integritas Personel KPK ………. 39

26 Gambar 4.15 Kecenderungan Melaporkan LHKPN ………. 41

27 Gambar 4.16 Kecenderungan Melaporkan Gratifikasi ……….. 42

28 Gambar 4.17 Kecenderungan Melaporkan Tindak Pindana Korupsi ……… 43

29 Gambar 4.18 Kesediaan Responden Dalam Memberikan Informasi dan Data ……… 44

(7)

Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK

RINGKASAN EKSEKUTIF RINGKASAN EKSEKUTIFRINGKASAN EKSEKUTIF RINGKASAN EKSEKUTIF

I. I. I.

I. Latar BelakangLatar BelakangLatar BelakangLatar Belakang

Survei Persepsi Masyarakat merupakan survei berkala yang rutin dilakukan oleh Direktorat Penelitian Pengembangan setiap tahunnya sejak tahun 2008. Berlangsung mulai dari bulan Juli 2010 dan berakhir pada bulan Oktober 2010, survei ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran perkembangan pemahaman masyarakat mengenai korupsi dan mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi. Gambaran pemahaman masyarakat yang ingin diketahui meliputi kesadaran (awareness), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude) serta perilaku (behavior) masyarakat mengenai tindak pidana korupsi dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Hasil dari kegiatan survei ini diharapkan dapat dijadikan masukan dan saran yang dapat membantu mengembangkan strategi yang efektif dalam memberantas korupsi serta menjadi salah satu alat ukur efektivitas kinerja KPK dalam menjalankan tindakan represif dan preventif pemberantasan korupsi.

II. II. II.

II. Metode SurveiMetode SurveiMetode SurveiMetode Survei

Pengumpulan data primer Survei Persepsi Masyarakat terhadap Korupsi dan KPK tahun 2010 (SPM 2010) menggunakan metode wawancara langsung (tatap muka) dengan responden. Alat bantu yang digunakan dalam wawancara langsung adalah kuesioner terstruktur. Survei ini menggunakan purposive sampling dalam melakukan pemilihan responden dengan kriteria responden: (1) Usia minimal 20 tahun, (2) Pendidikan minimal lulusan SLTA, dan (3) Mewakili kelompok profesi populasi (masyarakat) (meliputi mahasiswa, pegawai swasta, pegawai negeri/polisi/militer, wiraswasta, dan lainnya (ibu rumah tangga, pensiunan, dsb); Jumlah responden dalam SPM 2010 secara keseluruhan adalah 2,525 orang, yang tersebar di 13 kota dan kabupaten pada lima wilayah sampel meliputi Medan, Binjai, Jakarta, Bogor, Tangerang, Surabaya, Mojokerto, Banjarmasin, Banjarbaru, Makassar, Maros, Ambon, dan Maluku Tengah. Survei ini menggunakan tingkat kepercayaan (confidence level) 95% dan selang kepercayaan (confidence interval) sebesar 2%. Uji validitas (Factor Analysis) dan reliabilitas (Cronbach Alpha) dilakukan pada instrumen survei. Analisis faktor kemudian dilakukan untuk menemukan dimensi dari bahaya korupsi. Deskriptif statistik (nilai tengah, ukuran dispersi, dan tabulasi silang) digunakan untuk menggambarkan karakteristik, kesadaran, pengetahuan, dan sikap maupun perilaku responden terhadap korupsi ataupun KPK.

Ditinjau dari tingkat pendidikan, sebagian besar responden survei ini adalah tamatan SMA (66.4%), kemudian diikuti oleh tamatan S-1, Akademi dan Pascasarjana. Apabila dikaitkan dengan status pekerjaan, penyebaran pekerjaan relatif merata antara mahasiswa, pegawai swasta, ibu rumahtangga dan pekerja sektor informal (masing-masing sekitar 14-15 persen). Sementara status pekerjaan PNS, Wiraswasta, Profesional, TNI/Polri, dan lain-lain masing-masing sekitar 7-10 persen).

(8)

III. III. III.

III. HASIL SURVEIHASIL SURVEIHASIL SURVEIHASIL SURVEI

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam Survei Persepsi Masyarakat (SPM) 2010, kesimpulan yang dihasilkan dalam survei ini sebagai berikut:

1. Persepsi responden terhadap tindak pidana korupsi berdasarkan kesadaran, sikap, dan kecenderungan perilaku korupsi adalah sebagai berikut:

a. Hasil SPM 2010 menunjukkan bahwa kesadaran (Awareness) responden terhadap fenomena korupsi cukup tinggi dan pengetahuan mereka terhadap kasus-kasus korupsi terkini juga baik. Mengenai kelaziman korupsi di Indonesia, sebagian besar responden mengatakan bahwa korupsi merupakan hal yang lazim terjadi di Indonesia.

b. Responden umumnya menyikapi (Attitude) korupsi sebagai sesuatu yang buruk. Hasil ini seperti hasil yang didapatkan pada survei sejenis yang diadakan tahun 2006 menunjukkan sikap negatif terhadap korupsi.

c. Kecenderungan perilaku (Behavior) responden positif terhadap keinginan melapor yang menunjukkan kecenderungan sebagian besar responden untuk melaporkan korupsi yang terjadi di sekeliling mereka. Sedangkan kecenderungan terhadap perilaku koruptif relatif kecil dengan hanya sebagian kecil responden yang berusaha mempercepat layanan dengan membayar lebih apabila situasinya terjadi.

2. Persepsi responden terhadap KPK berdasarkan kesadaran, sikap, dan kecenderungan perilaku korupsi adalah sebagai berikut:

a. Kesadaran (Awareness) masyarakat terhadap institusi KPK termasuk tinggi dan Sumber informasi utama kesadaran tersebut berasal dari TV dan surat kabar. Dari sisi pengetahuan (Knowledge), umumnya masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup mengenai tugas-tugas KPK.

b. Hasil penilaian masyarakat terhadap kinerja KPK secara umum menunjukkan persentase berimbang dari responden yang merasa tidak puas dan yang puas terhadap kinerja KPK. sebagian besar responden umumnya masih percaya bahwa KPK dapat bertugas memberantas korupsi dan masih dibutuhkan di Indonesia. Terkait tingkat kepercayaan terhadap KPK pada tahun 2010, hasil yang diperoleh menunjukkan penurunan dibandingkan hasil yang dicapai pada tahun 2009.

c. Kecenderungan perilaku (Behavior) pegawai negeri dan masyarakat secara umum terhadap KPK umumnya positif. Hal ini dapat dilihat dari respon mereka terhadap keinginan untuk melaporkan harta kekayaan, melaporkan gratifikasi, dan keinginan untuk melaporkan dugaan tindak pidana korupsi ke KPK.

(9)

Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK

IV. IV. IV.

IV. REKOMENDASIREKOMENDASIREKOMENDASIREKOMENDASI

Berdasarkan kesimpulan survei ini, maka rekomendasi yang disampaikan Direktorat Penelitian dan Pengembangan kepada organisasi KPK secara keseluruhan adalah:

1. KPK melakukan sosialisasi lebih intensif dalam rangka meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai korupsi terutama yang terkait konflik kepentingan, gratifikasi, dan tindak pidana lain terkait korupsi. Selain mengkomunikasikan secara intensif mengenai jenis-jenis korupsi, KPK juga perlu melakukan sosialisasi mengenai dampak dan bahaya korupsi serta upaya penindakan yang konsisten terhadap tindak pidana korupsi untuk membantu masyarakat dalam membentuk kesadaran, pengetahuan dan sikap yang dibutuhkan dalam kampanye melawan korupsi. Agar dapat lebih memenuhi ekspektasi masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi maka KPK dapat memfokuskan upayanya pada tiga sektor yang mengemuka dan menjadi prioritas menurut responden yaitu: (1) Bidang keuangan, perencanaan pembangunan nasional, perbankan ; (2) Bidang pemerintahan dalam negeri dan daerah, aparatur negara; dan (3) Bidang hukum, HAM dan keamanan.

2. KPK mendorong respon masyarakat untuk melaporkan dugaan tindak pidana korupsi. Upaya yang dapat dilakukan di antaranya ditujukan untuk mengurangi resiko dan biaya yang timbul. Mendorong implementasi program dan instrumen kebijakan perlindungan saksi, memudahkan akses pelaporan, dan sosialisasi terintegrasi merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan probabilitas kejadian melapor.

3. Kesadaran yang tinggi mengenai institusi KPK merupakan modal awal yang positif bagi KPK untuk mendorong responden masuk ke dalam tahapan berikutnya dalam program-program yang melibatkan mereka. Dengan mengacu pada model tahapan komunikasi Awareness Interest Desire

Action (AIDA) maka tahapan berikutnya yang dapat ditempuh adalah berusaha menimbulkan atau

meningkatkan ketertarikan dan preferensi terhadap KPK hingga dapat menggerakkan perilaku masyarakat.

4. Hasil penilaian terhadap pelaksanaan tugas dan kinerja KPK secara umum maupun perbagian memberikan masukan dan kesempatan yang baik bagi KPK untuk merefleksikan upaya-upaya yang dilakukan sejauh ini. Tindakan evaluasi menyeluruh dan pemahaman lebih dalam mengenai harapan masyarakat atas upaya yang seharusnya, diharapkan dapat mengidentifikasi arah tindakan perbaikan ke depan.

5. KPK perlu terus mendorong kecenderungan perilaku positif masyarakat seperti pelaporan LHKPN, gratifikasi dan dugaan tindak pidana korupsi ke KPK. Tindakan atau kebijakan yang harus dilakukan oleh KPK ditujukan untuk mengurangi disparitas antara kecenderungan perilaku dengan perilaku sebenarnya (apakah mereka melakukan hal tersebut pada saatnya) melalui upaya-upaya yang memudahkan mereka untuk melapor (akses, metode dan lain-lain).

(10)

I. PENDAHULUAN I. PENDAHULUAN I. PENDAHULUAN I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang

Korupsi merupakan kejahatan luar biasa karena menyebabkan terjadinya kerugian negara dan melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Modus yang digunakan juga semakin beragam dan canggih. Oleh karena itu dikeluarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan tugas pemberantasan korupsi di Indonesia.

Pemberantasan korupsi tidak dapat dilakukan oleh KPK dan penegak hukum saja, tetapi juga memerlukan sinergi dan persamaan persepsi dari seluruh komponen bangsa. Disini, peran serta masyarakat memiliki arti penting dalam strategi pemberantasan korupsi. Dari sisi represif, masyarakat dapat langsung menjadi pelapor dugaan tindak pidana korupsi terutama di birokrasi dan layanan publik kepada penegak hukum, sedangkan dari sisi preventif, tindakan utama pemberantasan korupsi dapat dimulai dari kesadaran diri masing-masing untuk mematuhi hukum dan menjauhi tindakan koruptif. Masyarakat pada umumnya anti korupsi, namun pada realitanya sering kali melakukan tindakan yang berpotensi koruptif atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjadi lahan korupsi.

Sebagai lembaga publik yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pemberantasan korupsi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2002, KPK diwajibkan untuk mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada publik. Selain pelaporan ke DPR dan audit BPK, KPK juga perlu mengetahui persepsi dan harapan masyarakat terhadap kinerja dan capaian KPK sebagai salah satu wujud mekanisme pengawasan lembaga publik oleh masyarakat. Untuk itu, KPK secara berkala melakukan survei yang ditujukan untuk mendapatkan pemahaman mengenai persepsi dan harapan masyarakat terhadap korupsi dan KPK.

Sasaran kegiatan survei ini adalah memacu pembenahan internal berupa kritik, masukan dan saran sehingga KPK lebih handal, transparan dan akuntabel dalam melaksanakan Undang-Undang yang diamanatkan kepada KPK. Selain dari itu informasi mengenai pemahaman masyarakat terkait korupsi dan KPK dapat membantu mengembangkan strategi yang efektif dalam memberantas korupsi, juga menjadi alat ukur efektifitas kinerja KPK dalam menjalankan tindakan represif dan preventif.

1.2 Tujuan Penelitian 1.2 Tujuan Penelitian 1.2 Tujuan Penelitian 1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan pelaksanaan Survei Persepsi Masyarakat terhadap Korupsi dan KPK tahun 2010 adalah untuk:

1. Mendapatkan gambaran perkembangan pemahaman masyarakat mengenai korupsi. Hal ini meliputi kesadaran, pengetahuan, dan sikap serta perilaku masyarakat mengenai korupsi.

2. Mengetahui perkembangan persepsi masyarakat mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Persepsi yang ingin diketahui dalam penelitian ini mencakup kesadaran, pengetahuan, dan sikap serta perilaku terhadap KPK. Termasuk didalamnya adalah persepsi mengenai penilaian dan kepuasan masyarakat terhadap kinerja KPK.

(11)

Hasil Survei Persepsi Masyarakat terhadap Korupsi dan KPK tahun 2010 diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan masukan dalam menyusun strategi pemberantasan korupsi yang efektif maupun evaluasi dari perencanaan strategis KPK yang sudah dikembangkan sebelumnya.

1.3 1.3 1.3

1.3 MetodeMetodeMetodeMetode SurveiSurveiSurveiSurvei

1.3.1 1.3.1 1.3.1

1.3.1 Metode Pengumpulan DataMetode Pengumpulan DataMetode Pengumpulan DataMetode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer Survei Persepsi Masyarakat terhadap Korupsi dan KPK tahun 2010 (SPM 2010) menggunakan metode wawancara langsung (tatap muka) dengan responden. Alat bantu yang digunakan dalam wawancara langsung ini adalah kuesioner terstruktur.

1.3.2 1.3.2 1.3.2

1.3.2 LoLoLoLokasi dan Respondenkasi dan Respondenkasi dan Respondenkasi dan Responden

Kriteria pemilihan lokasi survei adalah:

a) Secara geografis mewakili wilayah Indonesia bagian Barat, Tengah dan Timur;

b) Merupakan daerah ibukota provinsi (kota besar) dan daerah di sekitar ibukota provinsi ;

c) Memiliki aktivitas ekonomi, politik dan potensi pembangunan yang relatif tinggi, yang diantaranya dapat dilihat dari jumlah usia produktif, luas wilayah, kepadatan penduduk, nilai PDRB perkapita, nilai PAD, dan indeks pembangunan manusia.

Berdasarkan kriteria tersebut terpilih 13 kota/kabupaten.

Survei ini menggunakan purposive sampling dalam melakukan pemilihan responden dengan kriteria responden sebagai berikut:

a) Usia minimal 20 tahun;

b) Pendidikan minimal lulusan SLTA;

c) Mewakili kelompok profesi populasi (masyarakat) (meliputi mahasiswa, pegawai swasta, pegawai negeri/polisi/militer, wiraswasta, dan lainnya (ibu rumah tangga, pensiunan, dsb);

Kriteria tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan responden yang telah memiliki cukup pengetahuan untuk menjawab pertanyaan kuesioner.

Dengan menggunakan tingkat kepercayaan (confidence level) 95% dan selang kepercayaan (confidence interval) sebesar 2% serta total populasi (penduduk berusia 20 tahun ke atas) berjumlah 134.985.427 (BPS, 2006) maka jumlah minimum responden berdasarkan perhitungan statistik adalah 2400. Dengan mempertimbangkan waktu survei dan biaya yang dibutuhkan, maka jumlah responden untuk survei ini ditetapkan minimal berjumlah 2500 orang.

Tabel berikut menjelaskan 13 kota/kabupaten yang terpilih sekaligus penyebaran sampel respondennya pada ke 13 kota/kabupaten tersebut yang didasarkan pada rasio antara usia produktif, luas wilayah, kepadatan penduduk, PDRB perkapita, PAD, dan IPM masing-masing sebesar 20% : 20% : 20% : 10% : 10% : 20%.

(12)

Tabel I.1 Lokasi Sampel dan Sebaran Responden No NoNo No Daerah Daerah Daerah Daerah Jumlah Sampel Jumlah Sampel Jumlah Sampel Jumlah Sampel 1 11 1 Kota Medan 205 2 22 2 Kota Binjai 87 3 33 3 DKI Jakarta 725 4 44 4 Kota Bogor 138 5 55 5 Kota Tanggerang 220 6 66 6 Kota Surabaya 263 7 77 7 Kota Mojokerto 109 8 88 8 Kota Banjarmasin 131 9 99 9 Kota Banjarbaru 99 10 1010 10 Kota Makassar 155 11 1111 11 Kabupaten Maros 172 12 1212 12 Kota Ambon 104 13 1313

13 Kabupaten Maluku Tengah 92

Total 2500

1.3.3 1.3.3 1.3.3

1.3.3 PelaksanaPelaksanaPelaksanaPelaksana

Survei Persepsi Masyarakat terhadap Korupsi dan KPK 2010 dilakukan oleh Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK. Dalam rangka efektivitas dan efisiensi, pada tahap pengumpulan data primer, KPK melakukan kerjasama melalui sistem swakelola dengan pihak universitas/lembaga peneliti/konsultan lokal di 6 wilayah survei.

1.3.4 1.3.4 1.3.4

1.3.4 AnalisisAnalisisAnalisisAnalisis DataDataDataData

Sebelum tahapan analisis data, uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada instrumen survei. Analisis faktor kemudian dilakukan untuk menemukan dimensi dari bahaya korupsi. Deskriptif statistik (nilai tengah, ukuran disperse, dan tabulasi silang) digunakan untuk menggambarkan karakteristik, kesadaran, pengetahuan, dan sikap maupun perilaku responden terhadap korupsi ataupun KPK.

1.3.5 1.3.5 1.3.5

1.3.5 PelaporanPelaporanPelaporanPelaporan

Pelaporan hasil survei dilakukan dalam bentuk pelaporan analisis data secara nasional. Namun demikian, untuk kepentingan KPK, isi laporan bisa dielaborasi berdasarkan daerah maupun karakteristik tertentu yang telah didefinisikan dalam kuesioner.

(13)

II. II. II.

II. KARAKTERISTIK RESPONDENKARAKTERISTIK RESPONDENKARAKTERISTIK RESPONDEN KARAKTERISTIK RESPONDEN

Jumlah responden dalam SPM 2010 secara keseluruhan adalah 2,525 orang, terdiri dari 61 persen pria (1,549 orang) dan 39 persen wanita (976 orang). Responden tersebut tersebar di 13 kota dan kabupaten pada 5 wilayah sampel, dengan rincian sebaran sebagai berikut.

Tabel II.1. Jumlah responden dan Sebarannya Berdasarkan Lokasi dan Wilayah Sampel

No No No No Lokasi Lokasi Lokasi Lokasi Wilayah Wilayah Wilayah Wilayah Responden (%) Responden (%) Responden (%) Responden (%) 1 1 1

1 Medan dan Binjai Sumatera Utara 11.9

2 2 2

2 Jakarta, Bogor dan Tangerang Jabodetabek 42.5

3 3 3

3 Surabaya dan Mojokerto Jawa Timur 15.2

4 4 4

4 Makassar dan Maros Sulawesi Selatan 13.5

5 5 5

5 Banjarmasin dan Banjarbaru Kalimantan Selatan 9.2

6 6 6

6 Ambon dan Maluku Tengah Maluku 7.7

Total Responden Indonesia 100

Sumber: Data diolah

Ditinjau dari tingkat pendidikan, sebagian besar responden adalah tamatan SMA (66.4%), kemudian diikuti oleh tamatan S-1, Akademi dan Pascasarjana. Apabila dikaitkan dengan status pekerjaan, penyebaran pekerjaan relatif merata antara mahasiswa, pegawai swasta, ibu rumahtangga dan pekerja sektor informal (masing-masing sekitar 14-15 persen). Sementara status pekerjaan PNS, Wiraswasta, Profesional, TNI/Polri, dan lain-lain (masing-masing sekitar 7-10 persen). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel II.2 di bawah ini.

Tabel II.2 Status Pekerjaan Responden

No No No No Status Pekerjaan Status Pekerjaan Status Pekerjaan Status Pekerjaan Persentase Persentase Persentase Persentase 1 1 1 1 Mahasiswa 14.9 2 2 2

2 Pegawai Negeri Sipil (PNS) 9.7 3 3 3 3 TNI/POLRI 6.6 4 4 4 4 Pegawai Swasta 14.9 5 5 5 5 Wiraswasta/Pengusaha 9.5 6 6 6 6 Profesional 7.1 7 7 7

7 Ibu Rumah Tangga 14.6

8 8 8 8 Sektor Informal 13.6 9 9 9 9 Lain-lain 9.1 Total 100

(14)

Tabel II.3 Tingkat Pendidikan Responden No NoNo No Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Persentase Persentase Persentase Persentase 1 11 1 Tamat SMA 66.6 2 22 2 Tamat Akademi 8.4 3 33 3 Tamat S1 22.1 4 44 4 Tamat S2/S3 2.8 Total 100

Sumber: Data diolah

Sebagian besar responden dalam survei ini pengeluaran per bulannya berada di sekitar Rp. 1 juta sampai Rp. 2.5 juta dan di bawah Rp. 1 juta, dan hanya sebagian kecil yang berada di antara Rp. 2.5 juta sampai 5 juta dan di atas Rp. 5 juta, seperti ditunjukkan oleh Tabel II.4 berikut.

Tabel II.4 Nilai Pengeluaran Rata-rata Responden/Bulan

No No No No Pengeluaran PengeluaranPengeluaran Pengeluaran (Rp)(Rp)(Rp) (Rp) Persentase Persentase Persentase Persentase 1 1 1 1 Di bawah 1 juta 38.3 2 2 2 2 1 juta sd. 2.5 juta 46 3 3 3

3 Diatas 2.5 juta sd. 5 juta 12.8

4 4 4

4 Di atas 5 juta 2.9

Total 100

Sumber: Data diolah

Karakteristik responden yang ditampilkan tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai kondisi nyata responden sehingga mempermudah dalam menganalisis hasil survei SPM 2010 dan selanjutnya menetapkan program kerja pada tahun-tahun berikutnya.

(15)

III. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KORUPSI III. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KORUPSI III. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KORUPSI III. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KORUPSI

Survei Persepsi Masyarakat mengenai Korupsi membagi pembahasan menjadi 4 (empat) bagian, yaitu persepsi masyarakat mengenai kesadaran korupsi, pengetahuan mengenai korupsi, sikap terhadap korupsi, serta persepsi masyarakat terhadap kecenderungan perilaku korupsi. Output dari bagian ini adalah pengukuran indeks pengetahuan masyarakat mengenai korupsi yang akan digunakan sebagai evaluasi pencapaian salah satu target bidang pencegahan KPK seperti yang disyaratkan dalam perencanaan strategis KPK.

3 3 3

3.1 Kesadaran Mengenai Korupsi.1 Kesadaran Mengenai Korupsi.1 Kesadaran Mengenai Korupsi.1 Kesadaran Mengenai Korupsi

Untuk mengukur kesadaran masyarakat mengenai korupsi, penelitian ini mengembangkan beberapa instrumen pertanyaan. Pertanyaan pertama mengukur secara langsung paparan (exposure) kasus-kasus korupsi terhadap masyarakat untuk melihat apakah masyarakat sadar mengenai korupsi yang terjadi di sekitar mereka. Pertanyaan kedua dilakukan untuk melihat kasus-kasus yang mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Pertanyaan terakhir pada bagian ini menggambarkan persepsi masyarakat mengenai kelaziman korupsi di Indonesia. Sebagai pembanding, survei korupsi di Hongkong ditunjukkan untuk membandingkan perbedaan persepsi masyarakat Hongkong dan masyarakat Indonesia terhadap kelaziman korupsi di masing-masing Negara/Wilayah.

Sebagian besar jawaban responden pada pertanyaan pertama menyatakan pernah mendengar atau mengetahui kasus korupsi dalam 1 tahun terakhir (98.7%). Pertanyaan ini menunjukkan tingkat kesadaran yang tinggi dari responden terhadap korupsi. Jawaban dari responden secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Tingkat Kesadaran Masyarakat Terhadap Korupsi (%)

(Jawaban Responden pada pertanyaan ‘apakah anda mengetahui/mendengar kasus korupsi yang pernah terjadi dalam 1 tahun terakhir?’ jenis Pertanyaan tertutup)

Terdapat tiga besar (modus) kasus korupsi yang mendapatkan perhatian masyarakat dan sering disebutkan yaitu kasus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, kasus Bank Century dan kasus yang melibatkan Anggodo. Kasus

98.7 1.3

0 20 40 60 80 100

Persentase

(16)

korupsi lain yang menjadi perhatian sebagian kecil responden adalah kasus penyuapan yang melibatkan Arthalita Suryani dan Jaksa Urip, Kasus Bank Indonesia yang melibatkan Aulia Pohan, Kasus BLBI, Kasus SISMINBAKUM, Kasus kriminalisasi KPK yang melibatkan pimpinan KPK, serta kasus-kasus korupsi di daerah di mana responden berdomisili.

Mengenai kelaziman korupsi di Indonesia, sebagian besar responden mengatakan bahwa korupsi merupakan hal yang lazim terjadi di Indonesia. Jumlah responden yang menyatakan korupsi merupakan suatu hal yang lazim mencapai 94.1% responden, sisanya menyatakan sebaliknya (5.5%) atau tidak tahu (0.5%) (Tabel III.1). Respon ini dapat dijadikan barometer mengenai hal berikut: (1) Seberapa jauh/dekat kejadian korupsi pada kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga Tindak Pidana Korupsi dapat dikatakan masih banyak terjadi dimasyarakat, dan masyarakat dapat dengan mudah menemukan perbuatan ini di lingkungan mereka, (2) Sebagai alat ukur/evaluasi KPK secara tidak langsung untuk melihat sejauh mana dampak keberhasilan upaya-upaya dari sisi pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi. Dalam bidang pencegahan hasil ini dapat digunakan untuk mengukur apakah upaya yang telah dilakukan KPK dapat mengubah persepsi masyarakat mengenai kelaziman korupsi di Indonesia. Dalam bidang penindakan apakah penanganan kasus saat ini telah memberikan efek jera kepada masyarakat sehingga mengurangi tindak pidana korupsi.

Hasil survei yang menunjukkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap korupsi pada penelitian ini serupa dengan hasil yang didapatkan pada penelitian sejenis mengenai korupsi pada Desember 2006 (Inacon, 2006). Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa kesadaran responden terhadap fenomena korupsi cukup tinggi dan pengetahuan mereka terhadap kasus-kasus korupsi terkini juga baik.

Tabel III.1 Respon Masyarakat Indonesia terhadap Kelaziman Korupsi (%)

(Jawaban atas pertanyaan ‘apakah korupsi merupakan suatu hal yang umum (lumrah/sering) terjadi di Indonesia?’ Jenis pertanyaan tertutup)

No NoNo No Respon Respon Respon Respon 2010 2010 2010 2010 1 11 1 Ya 94.1 2 22 2 Tidak 5.5 3 33 3 Tidak Tahu 0.5 Total 100 Sumber: Data diolah

Bandingkan hasil tersebut dengan hasil survei pada pertanyaan yang sama yang diperoleh Hongkong selama tahun 2005-2008 seperti yang terlihat pada Tabel III.2. Tabel tersebut menunjukkan secara tidak langsung keberhasilan upaya-upaya pemberantasan korupsi di Hongkong dalam hal ini Independent Comission Against

Corruption (ICAC) sehingga dapat mengubah persepsi kelaziman korupsi. Jika tahun 2005 jumlah yang

menyatakan korupsi sebagai suatu hal yang tidak biasa berjumlah 67.6% , pada tahun 2008 jumlahnya meningkat menjadi 71.2%. Perbandingan antara Hongkong dan Indonesia paling tidak memberikan gambaran mengenai

(17)

perbedaan persepsi yang terjadi di antara masyarakat Indonesia dan Hongkong.

Tabel III.2 Respon Masyarakat Hongkong Terhadap Kelaziman Korupsi 2005-2008 (%)

No No No No Respon ResponRespon Respon 2005 2005 2005 2005 2006 2006 2006 2006 2007 2007 2007 2007 2008 2008 2008 2008 1 1 1 1 Ya 29.10 33.70 28.80 28.60 2 2 2 2 Tidak 67.60 65.40 68.80 71.20 3 3 3 3 Tidak Tahu 3.30 1.00 2.60 0.20 Total 100 100 100 100

Sumber: Independent Comission Against Corruption (ICAC) Annual Survei 2008

3 3 3

3.2 .2 .2 .2 Pengetahuan Mengenai KPengetahuan Mengenai KPengetahuan Mengenai Korupsi Pengetahuan Mengenai Korupsi orupsi orupsi

Pengetahuan responden mengenai korupsi pada penelitian ini diukur dengan menggunakan beberapa indikator. Pertama dengan melihat apakah responden dapat mengidentifikasi jenis-jenis korupsi sesuai dengan yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua dengan melihat apakah responden memahami bahaya dan tingkatan dampak korupsi. Ketiga dengan melihat pengetahuan responden terhadap sektor-sektor yang menurut mereka paling parah tingkat korupsinya sehingga perlu diprioritaskan penanganannya.

3.2. 3.2. 3.2.

3.2.1 Identifikasi Ka1 Identifikasi Ka1 Identifikasi Kategori Perbuatan Korupsi1 Identifikasi Kategori Perbuatan Korupsitegori Perbuatan Korupsi tegori Perbuatan Korupsi

Jenis-jenis korupsi berdasarkan perundangan dipaparkan secara tidak langsung dengan menggunakan contoh perilaku yang masuk kategori pada tindak pidana korupsi tertentu berdasarkan peraturan yang berlaku. Responden kemudian diminta pendapatnya mengenai apakah tindakan tersebut masuk dalam kategori korupsi atau tidak. Pendekatan ini lebih sesuai digunakan dibanding jika responden ditanyakan mengenai apakah mereka mengetahui mengenai definisi korupsi sesuai dengan peraturan yang ada atau menanyakan mengenai apakah mereka mengetahui mengenai peraturan tersebut.

Survei ini mengelompokkan dan memberikan contoh tindak pidana korupsi kedalam beberapa kelompok yaitu: (1) korupsi yang menyangkut kerugian keuangan negara, (2) korupsi yang menyangkut suap menyuap, (3) korupsi yang menyangkut penggelapan dalam jabatan, (4) korupsi yang menyangkut pemerasan, (5) korupsi yang menyangkut perbuatan curang, (6) korupsi yang menyangkut benturan kepentingan dalam pengadaan, (7) korupsi terkait gratifikasi, dan (8) tindak pidana lain terkait tindak pidana korupsi. Pengembangan contoh dibuat sedekat mungkin dengan realitas kejadian korupsi yang mungkin dialami dan mudah dipahami oleh responden.

(18)

1. 1. 1.

1. Pendapat Masyarakat Secara Umum Terhadap Kategori Perbuatan KorupsiPendapat Masyarakat Secara Umum Terhadap Kategori Perbuatan KorupsiPendapat Masyarakat Secara Umum Terhadap Kategori Perbuatan KorupsiPendapat Masyarakat Secara Umum Terhadap Kategori Perbuatan Korupsi

Untuk menilai apakah masyarakat dapat mengidentifikasi jenis korupsi yang menyangkut kerugian keuangan Negara sebuah pertanyaan diajukan mengenai apakah perbuatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai panitia pengadaan barang/jasa yang memenangkan tender kepada perusahaan saudaranya sendiri, meski penawarannya bukan yang paling baik dan paling murah dapat digolongkan ke dalam korupsi. Jawaban responden terkait contoh perbuatan di atas adalah 72.6% menyatakan bahwa tindakan tersebut termasuk korupsi, 20.9% menyatakan bukan merupakan korupsi dan 6.5% tidak mengetahui apakah tindakan tersebut merupakan korupsi atau bukan. Meski sebagian besar responden dapat mengidentifikasi bahwa perbuatan tersebut termasuk korupsi, masih terdapat sejumlah 20.9% responden yang memiliki pemahaman yang salah dan 6.5% yang bahkan tidak tahu mengenai apakah perbutan tersebut korupsi atau bukan. Tabel III.3 menjelaskan respon masyarakat terhadap pertanyaan yang disampaikan terkait kategori perbuatan korupsi berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.

Penilaian korupsi yang menyangkut suap-menyuap dilakukan dengan mengajukan sebuah pertanyaan mengenai ‘apakah pelanggar lalu lintas yang memberikan uang damai kepada polisi lalu lintas daripada ditilang dan menjalani persidangan dapat digolongkan ke dalam korupsi?’ Respon dari responden umumnya berpendapat bahwa hal tersebut merupakan perbuatan korupsi (86.4%) sisanya sebesar 12.0% berpendapat sebaliknya dan sebanyak 1.6% responden yang tidak tahu mengenai apakah perbuatan tersebut masuk ke dalam kategori perbuatan korupsi. Jika dibandingkan respon pada kategori jawaban sebelumnya, nampak bahwa pada kategori ini, semakin banyak responden yang dapat mengidentifikasi perbuatan tersebut masuk dalam kategori korupsi. Dimasa mendatang, dengan usaha sosialisasi berkelanjutan, konsisten dan terintegrasi dari KPK beserta pihak terkait diharapkan jumlah masyarakat yang dapat mengidentifikasi perbuatan ini sebagai korupsi semakin meningkat.

Untuk mengukur tingkat pengetahuan mayarakat terhadap jenis korupsi yang menyangkut penggelapan dalam jabatan, pertanyaan situasional seperti ‘Apakah pegawai negeri yang sengaja memalsu laporan keuangan tidak sesuai dengan yang sebenarnya termasuk ke dalam korupsi?’ disampaikan kepada masyarakat. Sebanyak 95.8% responden dapat mengidentifikasi perbuatan ini sebagai korupsi. Sisanya sebesar 2.8% mengatakan hal ini bukan merupakan korupsi dan sebanyak 1.3% responden yang tidak tahu mengenai apakah perbuatan tersebut termasuk korupsi atau bukan. Respon ini tentunya sangat baik dan menunjukkan tingkat pengetahuan yang cukup dari masyarakat dalam mengidentifikasi korupsi yang tergolong pada penggelapan dalam jabatan.

Perbuatan pejabat yang meminta tips atau fasilitas lain pada pengusaha yang sedang mengikuti tender di instansi pejabat tersebut seringkali menempatkan pengusaha pada posisi yang serba salah. Jika tidak mengikuti permintaan, maka resiko kehilangan tender merupakan sebuah kemungkinan yang harus dihadapi. Tindakan dari pejabat tersebut dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang mengarah kepada pemerasan.

(19)

Menyikapi hal ini, umumnya responden beranggapan bahwa tindakan tersebut merupakan korupsi (79.8%). Meski demikian masih terdapat sebanyak 15.1% yang beranggapan bahwa tindakan tersebut bukan merupakan korupsi dan sejumlah 5.1% yang tidak tahu bahwa hal tersebut merupakan korupsi/bukan.

Tabel III.3 Identifikasi Kategori Perbuatan Korupsi berdasarkan Peraturan Perundangan oleh Responden

No No No No Respon Respon Respon Respon Pertanyaan Pertanyaan Pertanyaan Pertanyaan Respon Respon Respon Respon (%)(%)(%)(%)

Ya Tidak Tidak Tahu

1 1 1

1 Korupsi yang Menyangkut

Kerugian Negara

Apakah perbuatan PNS sebagai Panitia Pengadaan Barang dan Jas a yang memenangkan tender kepada perusahaan saudaranya sendiri meski penawarannya bukan yang paling baik dan paling murah dapat dikategorikan perbuatan korupsi?

72.6 20.9 6.5

2 2 2

2 Korupsi yang Menyangkut Suap

Menyuap

Apakah pelanggar lalu lintas yang

memberikan uang damai kepada polisi lalu lintas daripada ditilang dan menjalani persidangan dapat digolongkan ke dalam korupsi? 86.4 12.0 1.6 3 3 3 3 Korupsi yang menyangkut Penggelapan dalam Jabatan

Apakah Pegawai Negeri yang sengaja memalsukan laporan keuangan tidak sesuai dengan pengeluaran sebenarnya dapat digolongkan ke dalam korupsi?

95.8 2.8 1.3

4 4 4

4 Korupsi yang Menyangkut

Pemerasan

Apakah pejabat Pemerintah yang meminta tips atau fasilitas kepada pengusaha yang sedang mengikuti tender di instansinya dapat digolongkan ke dalam korupsi?

79.8 15.1 5.1

5 5 5

5 Korupsi yang Menyangkut

Perbuatan Curang

Apakah perbuatan pengawas bangunan yang dengan sengaja membiarkan pembangunan gedung tidak sesuai dengan standar dapat dikategorikan sebagai perbuatan curang dan masuk ke dalam korupsi? 84.0 11.7 4.3 6 6 6 6 Korupsi yang termasuk Benturan Kepentingan dalam Pengadan Barang dan Jasa

Apakah perbuatan yang dilakukan sebagai panitia pengadaan barang dan jasa ikut terlibat langsung dalam pengadaan yang sedang diurus/diawasinya dapat dikategorikan ke dalam korupsi?

52.7 36.7 10.6 7 7 7 7 Korupsi terkait Gratifikasi

Apakah perbuatan Pegawai Negeri menerima diskon khusus/voucher belanja dan pihak pemasok barang di instansinya dapat dikategorikan ke dalam korupsi?

61.0 31.8 7.1

8 8 8

8 Tindak Pidana Lain

terkait Korupsi

Apakah perbuatan orang yang menolak memberikan keterangan sebagai saksi dalam kasus korupsi yang diketahuinya dapat di kategorikan ke dalam korupsi?

54.6 34.4 11.0

Sumber: Data diolah

Perbuatan pengawas bangunan yang dengan sengaja membiarkan pembangunan gedung tidak sesuai dengan standar dapat dikategorikan sebagai perbuatan curang dan masuk dalam kategori tindak pidana korupsi. 84% responden dapat mengidentifikasikan hal ini dengan baik. Meski demikian, masih terdapat sejumlah 11.7% responden yang salah mengidentifikasi dan 4.3% yang bahkan tidak mengetahui bahwa perbuatan ini tergolong dalam tindak pidana korupsi.

(20)

Jika seseorang mendapatkan tugas sebagai Panitia pengadaan barang/jasa kemudian ikut terlibat langsung dalam pengadaan yang diurus/diawasinya, hal ini menempatkan seseorang/panitia tersebut pada posisi yang dapat mengakibatkan benturan/konflik kepentingan. Jika mengacu pada peraturan yang ada, perbuatan ini dapat dikategorikan sebagai perbuatan korupsi terkait benturan kepentingan dalam pengadaan. Sebanyak 52.7% responden beranggapan perbuatan ini termasuk korupsi sedangkan 36.7% beranggapan perbuatan itu bukan korupsi dan 10.6% menyatakan tidak tahu. Di antara kategori jenis tindak pidana korupsi, kategori perbuatan korupsi yang berhubungan benturan/konflik kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa merupakan kategori korupsi yang masih membutuhkan peningkatan pemahaman masyarakat lebih jauh.

Meski bukan kosa kata baru dalam kamus Indonesia, gratifikasi dan pengaturannya relatif baru diundangkan jika dibandingkan dengan tindak pidana korupsi lainnya yang dituangkan dalam Pasal 12 B Undang Undang No. 20 Tahun 2001. Hasil survei pada tindakan pegawai negeri yang menerima gratifikasi menunjukkan bahwa masih terdapat sebesar 31.8% responden yang beranggapan bahwa perbuatan tersebut bukan merupakan perbuatan korupsi dan sebanyak 7.1% menyatakan tidak tahu. Hal ini mengindikasikan kurangnya pemahaman terhadap jenis korupsi menyangkut gratifikasi sehingga mengisyaratkan kebutuhan sosialisasi lebih jauh oleh KPK pada masyarakat.

Kategori kedua tertinggi yang berdampak pada kebutuhan untuk diadakannya sosialisasi terdapat pada kategori tindak pidana lain terkait korupsi. Untuk menilai kategori tindak pindana lain terkait korupsi, survei ini mangajukan pertanyaan ‘apakah orang yang menolak memberikan keterangan sebagai saksi dalam kasus korupsi yang diketahuinya termasuk ke dalam korupsi?’ Terdapat 34.3% responden yang menyatakan tidak, 11% menyatakan tidak tahu dan 54.5% menyatakan ya.

2. 2. 2.

2. Kategori Kategori Kategori Kategori PekerjaanPekerjaanPekerjaanPekerjaan yang Masih Membutuhkan Usaha Sosialisasi Lebih Jauhyang Masih Membutuhkan Usaha Sosialisasi Lebih Jauhyang Masih Membutuhkan Usaha Sosialisasi Lebih Jauhyang Masih Membutuhkan Usaha Sosialisasi Lebih Jauh

Terdapat perbedaan variasi pemahaman dalam mengidentifikasi korupsi pada responden dengan latar belakang profesi/perkerjaan berbeda. Berdasarkan hasil survei terlihat bahwa kategori korupsi yang menyangkut benturan kepentingan, gratifikasi dan tindak pidana lain terkait korupsi paling tidak mengindikasikan adanya perbedaan tersebut.

Tabulasi silang yang dilakukan pada data pekerjaan dan respon dari responden pada pertanyaan terkait kategori korupsi yang menyangkut benturan kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa menghasilkan informasi tambahan bahwa kelompok terbanyak dari mereka yang memberikan jawaban yang keliru justeru terdapat pada Mahasiswa (50.5%), Pegawai Negeri Sipil serta dan TNI/POLRI yang masing-masing 39%. Persentase yang menjawab tidak tahu juga paling besar pada TNI/POLRI (12.7%) dan PNS (10.3%). Kondisi ini cukup mengecewakan mengingat PNS dan TNI/POLRI justru yang paling banyak bersentuhan dengan proses pengadaan barang dan jasa. Informasi ini sekaligus memberikan arah pada usaha sosialisasi yang dapat dilakukan oleh KPK ke depan terkait masih kurangnya pemahaman kelompok masyarakat tertentu terhadap

(21)

jenis korupsi yang menyangkut benturan kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa. Selengkapnya mengenai informasi ini dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Identifikasi Jenis Korupsi Terkait Benturan Kepentingan dalam PBJ berdasarkan Pekerjaan (%)

Tabulasi silang yang dilakukan terhadap kategori korupsi terkait gratifikasi dengan variabel pekerjaan menunjukkan bahwa mahasiswa (42.3%), PNS (40%) dan TNI/POLRI (36.7%) merupakan pihak yang masih membutuhkan penjelasan mengenai jenis korupsi ini (Lihat Gambar 3.3). Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan pengetahuan 3 kelompok ini terhadap kategori korupsi terkait benturan kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa. Walaupun mengecewakan, fakta ini harus mendapat perhatian lebih dari KPK mengingat kelompok PNS dan TNI/POLRI merupakan kelompok yang paling besar terkena kasus korupsi yang masuk dalam kategori gratifikasi.

Gambar 3.3. Identifikasi Jenis Korupsi terkait Gratifikasi berdasarkan Pekerjaan (%) 40.40 50.60 48.20 55.70 60.30 58.10 57.10 58.20 46.10 50.50 39.10 39.20 36.30 30.50 35.20 31.30 29.50 37.70 9.00 10.30 12.70 8.00 9.20 6.70 11.70 12.30 16.20 0 20 40 60 80 100 Mahasiswa Pegawai Negeri Sipil TNI/POLRI Pegawai Swasta Wiraswasta Profesional Ibu Rumah Tangga Sektor Informal Lain-lain

Ya Tidak Tidak Tahu

51.90 55.80 53.60 65.20 69.70 65.90 62.50 67.00 55.70 42.30 40.00 36.70 28.50 22.00 28.50 30.20 26.00 32.20 5.90 4.20 9.60 6.40 8.30 5.60 7.30 7.00 12.20 0 20 40 60 80 100 Mahasiswa Pegawai Negeri Sipil TNI/POLRI Pegawai Swasta Wiraswasta Profesional Ibu Rumah Tangga Sektor Informal Lain-lain

(22)

Survei yang sama (SPM 2008, 2009) secara konsisten menunjukkan hasil yang identik mengenai perlunya usaha sosialisasi lebih intensif dilakukan terkait gratifikasi. Jika pada tahun 2008 jumlah proporsi responden yang setuju bahwa perbuatan ini bukan merupakan korupsi berjumlah 40.94% pada tahun 2009 hasilnya menunjukkan terdapat sekitar 28.09% yang mengatakan bahwa perbuatan ini sebagai sesuatu yang wajar dan bukan sebagai korupsi. Sebagai pembanding, Survei Integritas pada tahun 2007, 2008 dan 2009 juga masih menemukan adanya perilaku pemberian uang tambahan diluar ketentuan resmi yang dilakukan oleh responden dengan besaran sekitar 25%. Jika SPM mengukur persepsi korupsi, Survei Integritas mengukur perbuatan aktual yang pernah dilakukan oleh responden sebagai pengguna layanan.

Pada kategori tindak pidana lain terkait tindak pidana korupsi, pertanyaan 'Apakah perbuatan orang yang menolak memberikan keterangan sebagai saksi dalam kasus korupsi yang diketahuinya dapat dikategorikan korupsi', kelompok yang paling banyak memberikan respon yang salah berasal dari TNI/POLRI (40.4%), Wiraswasta (36.5%), PNS (35.8%) serta Profesional (35.8%) (Gambar 3.4).

Gambar 3.4. Identfikasi Jenis Tindak Pidana Lain Terkait Korupsi berdasarkan Pekerjaan (%)

Hasil survei di atas memberikan arah bagi KPK mengenai kategori tindakan korupsi yang masih membutuhkan sosialisasi lebih jauh. Pemahaman mengenai konflik kepentingan, gratifikasi dan tindakan lain terkait korupsi merupakan tiga kategori tindakan korupsi yang mengemuka dalam penelitian ini. Pengetahuan mengenai korupsi penting dikarenakan hal ini merupakan dasar dari pembentukan sikap dan perilaku masyarakat terhadap korupsi. Beberapa kajian dalam ranah akademis dan praktis menemukan adanya hubungan yang signifikan dan saling mempengaruhi antara pengetahuan, kesadaran dan sikap serta perilaku yang terbentuk. Berbagai teori ditawarkan dalam ranah akademis untuk menjelaskan hubungan antara variabel tersebut.

Hasil survei sejenis pada tahun 2006 (KPK, 2006; INACON, 2006) menemukan beberapa hal tambahan terkait pengetahuan masyarakat mengenai korupsi, yaitu: (1) Kemungkinan terdapat perbedaan pemahaman yang

57.20 47.30 47.60 57.60 53.90 53.60 58.60 60.30 44.80 33.50 35.80 40.40 29.90 36.50 35.80 32.30 30.60 42.60 9.30 16.90 12.00 12.50 9.50 10.60 9.00 9.00 12.60 0 20 40 60 80 100 Mahasiswa Pegawai Negeri Sipil TNI/POLRI Pegawai Swasta Wiraswasta Profesional Ibu Rumah Tangga Sektor Informal Lain-lain

(23)

diakibatkan adanya perbedaan jenjang pendidikan dimana responden mahasiswa dan umum cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik, lebih detail dan lebih konseptual dibandingkan responden SMP dan SMA (hal ini kemudian dijadikan salah satu alasan munculnya kriteria pendidikan minimal SMP pada penelitian ini); (2) terkait definisi korupsi ditemukan bahwa masyarakat cenderung kesulitan mendefinisikan korupsi, definisi cenderung terlalu sempit atau malah melebar; (3) Tentang aturan hukum, masyarakat umumnya tahu bentuk hukum secara umum tetapi tidak tahu aturan perundangannya; dan (4) Seperti halnya yang ditemukan pada penelitian ini, pada tahun 2006 pun masyarakat cukup baik dan tahu mengenai kasus-kasus korupsi terbaru.

Meski proporsi responden yang berhasil mengidentifikasi perbuatan-perbuatan diatas sebagai korupsi merupakan mayoritas namun apakah pengetahuan mengenai hal itu saja cukup untuk membentuk sikap dan perilaku masyarakat, masih diperlukan kajian lebih mendalam untuk menjawab hal tersebut. Ke depan menjadi tugas KPK untuk merancang dan memberikan jenis pengetahuan yang diperlukan dan seberapa jauh tingkat pemahamannya kepada masyarakat sehingga dapat membentuk sikap dan perilaku anti korupsi.

3.2.2 3.2.2 3.2.2

3.2.2 Memahami Bahaya dan Tingkatan Dampak KorupsiMemahami Bahaya dan Tingkatan Dampak KorupsiMemahami Bahaya dan Tingkatan Dampak KorupsiMemahami Bahaya dan Tingkatan Dampak Korupsi

Selain mampu mengidentifikasi korupsi, pengetahuan lain yang dibutuhkan adalah pemahaman mengenai bahaya korupsi. Pemahaman mengenai hal ini dapat membantu meningkatkan mengenai dampak yang ditimbulkan dari korupsi baik bagi diri maupun pihak lain sehingga dapat membantu membentuk sikap dan perilaku anti korupsi. Hasil analisis faktor yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan ada tiga faktor yang menjadi dimensi utama bahaya korupsi menurut responden yaitu: (1) Bahaya pertama adalah bahwa korupsi dapat menyebabkan kerugian keuangan negara/perekonomian dan menghambat pembangunan, (2) Bahaya kedua adalah bahwa korupsi menimbulkan hilangnya kepercayaan pada lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, (3) Terakhir korupsi dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Ketiga faktor baru tersebut dapat menjelaskan sekitar 64% dari variasi data yang terjadi dari variabel-variabel pembentuknya. Hasil pengujian KMO & Bartlett Tes menunjukkan nilai 0.77 dan signifikan pada tingkat 0.00 yang menunjukkan kecukupan syarat untuk melakukan analisis faktor.

Faktor pertama (korupsi dapat menyebabkan kerugian keuangan negara/perekonomian dan menghambat pembangunan/loss) merupakan kumpulan persepsi responden mengenai bahaya korupsi yang dapat mengakibatkan: (1) pengurangan penerimaan negara baik dari pajak, cukai, bea masuk dan lainnya, dan (2) bahaya pemborosan keuangan negara. Responden umumnya beranggapan bahwa korupsi berdampak besar pada dua (2) variabel tersebut. Satu variabel lain yaitu meningkatnya biaya pembangunan infrastruktur (jalan, listrik, air, dll) dipisahkan dan dianggap berdiri sendiri dari dimensi pertama karena memiliki factor loading di bawah 0.6 (syarat kecukupan nilai pada survei ini).

(24)

yudikatif/trust) mengenai bahaya korupsi menunjukkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya korupsi yang dapat menimbulkan ketidakpercayaan terhadap lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tiga variabel pembentuk dimensi ini adalah (1) korupsi menyebabkan ketidakpercayaan terhadap Pemerintah Pusat dan Daerah, (2) ketidakpercayaan pada DPR, DPRD dan DPD, (3) ketidakpercayaan terhadap Peradilan. Sebagian besar Responden berpendapat bahwa korupsi memberikan dampak besar pada timbulnya ketidakpercayaan pada tiga variabel di atas.

Faktor ketiga (korupsi dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat/viol) menjelaskan mengenai bahaya korupsi yang dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Pelanggaran tersebut mencakup sulitnya masyarakat mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai, sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, tidak terjaminnya keamanan masyarakat, semakin sulitnya mencari pekerjaan dan harga-harga barang semakin mahal. Satu variabel yaitu berkurangnya partisipasi dalam pemilihan dipisahkan dari faktor ini karena memiliki nilai factor loading di bawah 0.6 (kriteria yang ditentukan dalam survei ini). Selengkapnya mengenai nilai factor loading masing-masing variabel terhadap faktor dapat melihat pada Tabel III.4.

Tabel III.4 Nilai Factor Loading Variabel Bahaya Korupsi

No No No No Variabel Variabel Variabel Variabel Nilai Nilai Nilai

Nilai FactFactFactFactor Loadingor Loadingor Loadingor Loading KomponenKomponenKomponen Komponen

Faktor Viol Faktor Trust Faktor Loss 1

1 1

1 Pengurangan Penerimaan Negara (Pajak,

Cukai, Bea Masuk, Migas, dll) .123 .032 .817

2 2 2

2 Pemborosan Keuangan Negara .055 .180 .801

3 3 3

3 Ketidakpercayaan terhadap Pemerintah

Pusat dan Daerah .108 .831 .093

4 4 4

4 Ketidakpercayaan pada DPR, DPRD dan

DPD .114 .859 .091

5 5 5

5 Ketidakpercayaan pada Peradilan .094 .809 .073

6 6 6

6 Sulitnya mendapatkan pelayanan

kesehatan yang memadai .795 .184 .029

7 7 7

7 Sulitnya mendapatkan pelayanan

pendidikan yang memadai .803 .183 .002

8 8 8

8 Tidak terjaminnya keamanan masyarakat .734 .137 .026

9 9 9

9 Semakin sulitnya mencari pekerjaan .746 .035 .118

Sumber: Data diolah, *Catatan: Faktor Loss: Kerugian keuangan negara/perekonomian dan menghambat pembangunan, Faktor Trust: Hilangnya kepercayaan pada lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, dan Faktor Viol: Pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat.

Tahapan selanjutnya adalah menanyakan kepada masyarakat mengenai tingkatan dampak dari bahaya korupsi pada variabel-variabel yang terdapat pada 3 faktor bahaya korupsi tersebut. Hasilnya ditunjukkan oleh Gambar 3.5. Berdasarkan gambar tersebut, nampak bahwa sebagian besar responden berpendapat korupsi

(25)

yang dilakukan akan berdampak besar pada varibel-variabel yang sebutkan diatas seperti yang dapat dilihat pada Tabel III.4. Dampak terbesar jika diurutkan dari nilai proporsi pendapat responden terdapat pada variabel pengurangan penerimaan Negara (94.6%) dan terendah pada tidak terjaminnya keamanan masyarakat (6 2.8%). Jika dilihat berdasarkan faktor yang terbentuk pada penelitian ini maka faktor pertama yaitu Bahaya bahwa korupsi dapat menyebabkan kerugian keuangan negara/perekonomian dan menghambat pembangunan merupakan bahaya yang dipersepsikan paling berdampak besar diikuti oleh faktor kedua yaitu bahaya bahwa korupsi menimbulkan hilangnya kepercayaan pada lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif dan terakhir faktor ketiga yang merangkum bahaya korupsi yang dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat (selengkapya lihat Gambar 3.5).

Gambar 3.5 Dampak dari Bahaya Korupsi Menurut Responden (%)

Ketika responden ditanyakan mengenai apakah mereka pernah merasakan dampak dari korupsi dan apakah dampak tersebut terasa secara langsung atau tidak langsung, sebagian besar responden (81.9%) menyatakan pernah merasakan dampak korupsi. Sebagian mengatakan merasakan dampak langsung dari korupsi (54.6%) dan sebagian lagi mengatakan bahwa dampak yang dirasakan bersifat tidak langsung (45.4%). Pertanyaan ini penting untuk mengelaborasi strategi komunikasi yang sesuai bagi KPK dalam mengkomunikasikan dan mengkampanyekan gerakan melawan korupsi. Salah satu tantangan dalam kampanye dan komunikasi pemahaman mengenai korupsi serta bahaya korupsi adalah bahwa korupsi merupakan sebuah konsep abstrak yang seperti dikemukakan dari hasil survei dampaknya bagi sebagian responden tidak dirasakan secara langsung. Tantangan yang timbul dari hal ini menyangkut bagaimana membuat konsep tersebut relevan dan kontekstual bagi masyarakat sehingga masyarakat dapat memvisualkan abstraksi konsep dan menghubungkan hal tersebut dengan dirinya sehingga dapat mendorong terbentuknya sikap dan perilaku yang

94.9 94.8 82.4 82.1 85.1 69.3 71.8 62.8 78.6 79.5 75.4 65.1 4.2 4.6 16.2 16.4 13.7 28.8 25.8 33.4 18.5 17.6 19.7 32.2 0 20 40 60 80 100

Pengurangan Penerimaan Negara (Pajak, Cukai, Bea) Pemborosan Keuangan Negara Ketidakpercayaan terhadap Pemerintah Ketidakpercayaan pada DPR, DPRD dan DPD Ketidakpercayaan pada Peradilan Sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan Sulitnya mendapatkan pelayanan pendidikan Tidak terjaminnya keamanan masyarakat Semakin Sulitnya mencari pekerjaan Harga-harga barang menjadi mahal Meningkatnya Biaya Infrastruktur Menurunnya Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilu

(26)

diharapkan oleh KPK. Komunikasi secara intens mengenai jenis-jenis korupsi, dampak dan bahaya korupsi disamping upaya penindakan terhadap tindak pidana korupsi yang konsisten diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memvisualkan abstraksi konsep korupsi.

Gambar 3.6 Respon responden pada pertanyaan ‘Apakah responden merasakan dampak dari

korupsi?’(%)

Gambar 3.7 Repon responden pada pertanyaan ‘Apakah dampak tersebut langsung atau tidak

langsung?’(%)

3 3 3

3.2.3 .2.3 .2.3 .2.3 Prioritas Pemberantasan Tindak Pidana KorupsiPrioritas Pemberantasan Tindak Pidana KorupsiPrioritas Pemberantasan Tindak Pidana KorupsiPrioritas Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Tiga sektor yang mengemuka dan menjadi prioritas pemberantasan tindak pidana korupsi menurut responden adalah: (1) Bidang keuangan, Perencanaan Pembangunan Nasional, Perbankan (34,6%) (2) Bidang Pemerintahan dalam Negeri dan Daerah, Aparatur Negara (23.6%) dan (3) Bidang Hukum, HAM dan Keamanan (21.2%). Bidang lain yang menjadi perhatian responden dengan nilai di bawah 10 persen adalah: (1) Bidang Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UMKM (4.4%), (2) Bidang Perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat (4.2%), (3) Bidang Agama, Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan (2.9%), (4) Bidang Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (2.7%), (5) Bidang Pertahanan, Luar Negeri dan Informasi (1.6%), (6) Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi (1.2%), dan (7) Bidang Energi, Sumber Daya Mineral, Riset dan Teknologi (0.9%). Berbeda dari tahun sebelumnya, SPM pada tahun ini mengelompokkan bidang/sektor prioritas pemberantasan korupsi menjadi 11 bidang yang harus dipilih oleh responden sebagaimana bidang-bidang tersebut di atas.

Hasil ini konsisten terhadap jawaban responden pada saat menjawab mengenai bahaya korupsi yang menempatkan bahaya pengurangan penerimaan Negara dan pemborosan keuangan Negara ditempat pertama, serta kehilangan kepercayaan pada lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif (peradilan) pada tempat berikutnya.

Hasil survei ini memberikan arah bagi KPK untuk memfokuskan usaha pemberantasan korupsi pada tiga bidang yang dipersepsikan penting dan kritis dalam upaya pemberantasan korupsi. Fokus pada bidang ini

81.9 18.1 Persentase 0 20 40 60 80 100 Ya Tidak 44.6 37.1 18.3 Persentase 0 20 40 60 80 100

(27)

dapat membantu KPK dalam memenuhi ekspektasi masyarakat disatu sisi dan optimalisasi penggunaan sumberdaya KPK ditengah keterbatasan sumber daya yang ada di sisi lain. Jika dibandingkan dengan hasil SPM 2009 yang menempatkan sektor penertiban APBN/APBD yang menjadi prioritas pertama maka hasil yang didapatkan pada tahun ini menunjukkan adanya konsistensi harapan masyarakat agar KPK menempatkan bidang keuangan sebagai prioritas utama.

Gambar 3.8 Prioritas Bidang Pemberantasan Korupsi Menurut Responden (%)

3

3 3

3.3 Sikap Mengenai Korupsi.3 Sikap Mengenai Korupsi.3 Sikap Mengenai Korupsi.3 Sikap Mengenai Korupsi

Definisi secara sederhana mengenai sikap adalah evaluasi terhadap sesuatu apakah itu berupa konsep, produk ataupun perilaku. Evaluasi yang terbentuk memiliki arah dan nilai apakah itu berupa penilaian baik atau buruk, tinggi atau rendah. Sikap yang dinilai pada penelitian ini adalah sikap responden secara umum mengenai korupsi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bersifat tidak langsung di mana responden diminta untuk menilai sikap mereka terhadap perilaku korupsi. Empat pertanyaan yang diajukan mencakup apakah perbuatan-perbuatan berikut ini merupakan perbuatan yang buruk – baik (skala satu (1) yang cenderung kearah buruk sampai dengan empat (4) yang berarti cenderung baik) adalah: (1) Seseorang memberikan uang tambahan di luar ketentuan resmi untuk pengurusan KTP/SIM/Paspor/dll wajar dilakukan sebagai ucapan terima kasih, (2) Pegawai Negeri menggunakan mobil dinas di luar jam kerja tanpa ijin yang sah, (3) Seseorang

0.9 1.2 1.6 2.6 2.7 2.9 4.2 4.4 21.2 23.6 34.6 0 10 20 30 40

Bidang Energi Sumber Daya Mineral, Riset Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kependudukan Bidang Pertahanan, Luar Negeri dan Informasi Bidang Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan Bidang Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Pariwisata Bidang Agama, Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan Bidang Perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Bidang Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi Bidang Hukum, HAM dan Keamanan Bidang Pemerintahan Dalam Negeri dan Daerah Bidang Keuangan, Perencanaan Pembangunan Nasional

(28)

tidak keberatan memberikan sesuatu kepada petugas layanan publik agar layanan lebih cepat, (4) Seseorang bersedia membayar sejumlah uang asal diterima di sekolah favorit/diterima sebagai PNS. Nilai rerata yang dihasilkan kemudian dikembangkan untuk meilhat arah dari sikap responden terhadap korupsi. Nilai rerata yang dihasilkan untuk keempat pertanyaan tersebut adalah 1.44 yang menunjukkan bahwa responden menganggap perbuatan—perbuatan tersebut sebagai sesuatu yang buruk. Konsensus/persetujuan yang tinggi mengenai korupsi sebagai sesuatu yang buruk didapatkan pada perbuatan seseorang yang bersedia memberikan uang agar dapat diterima sebagai PNS atau disebuah sekolah berkualitas (96%) dan terendah pada perbuatan gratifikasi berupa pemberian uang tambahan diluar ketentuan resmi(75%). Detail mengenai hal ini dapat dilihat pada Tabel III.5.

Tabel III.5 Sikap Responden Terhadap Perilaku Koruptif

No NoNo No Situasi Situasi Situasi Situasi Baik Baik Baik Baik (%)(%)(%)(%) Buruk (%) Buruk (%) Buruk (%) Buruk (%) Tidak Tahu (%) Tidak Tahu (%) Tidak Tahu (%) Tidak Tahu (%) Rerata RerataRerata Rerata Nilai Respon Nilai ResponNilai Respon Nilai Respon

1 11 1

Seseorang memberikan uang tambahan di luar ketentuan resmi untuk pengurusan

KTP/SIM/Paspor/dll wajar dilakukan sebagai ucapan terima kasih

22.4 75.8 1.8 1.73

2 22

2 Pegawai Negeri menggunakan mobil dinas di luar jam kerja tanpa ijin yang

sah

5.7 92.6 1.8 1.29

3 33 3

Seseorang tidak keberatan memberikan sesuatu kepada petugas layanan publik agar layanan lebih cepat

15.3 82.9 1.9 1.58

4 44

4 Seseorang bersedia membayar sejumlah uang asal diterima di

sekolah favorit/diterima sebagai PNS

3.6 96 0.5 1.16

Sumber: Data diolah

Hasil ini seperti hasil yang didapatkan pada survei sejenis yang diadakan tahun 2006 menunjukkan sikap yang negatif terhadap korupsi. Pengembangannya adalah, SPM 2010 memberikan rata-rata penilaian yang dapat dijadikan dasar untuk menunjukkan pengembangan arah sikap masyarakat terhadap korupsi yaitu apakah setiap tahunnya secara agregat arah sikap tersebut semakin negatif atau sebaliknya di tengah usaha KPK membentuk sikap dan perilaku anti korupsi.

3 3 3

3.4 Perilaku Mengenai Korupsi .4 Perilaku Mengenai Korupsi .4 Perilaku Mengenai Korupsi .4 Perilaku Mengenai Korupsi

Untuk mengukur perilaku korupsi, survei ini melihat kecenderungan perilaku yang akan dilakukan oleh responden (konatif). Kecenderungan perilaku yang diukur adalah perilaku positif (konstruktif) yang diharapkan dilakukan oleh responden jika mengetahui korupsi yang terjadi di sekeliling mereka. Dalam hal ini adalah perilaku melaporkan kasus korupsi yang diketahuinya pada pihak berwenang. Rata-rata nilai yang diperoleh adalah 2.94 (skala 1 (tidak melaporkan) – 4 (melaporkan)) yang menunjukkan kecenderungan responden

(29)

untuk melaporkan korupsi yang terjadi di sekeliling mereka. Sebanyak 69.5% responden menyatakan akan melaporkan sedangkan 25.5% menyatakan tidak akan melapor serta 4.9% menyatakan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Survei yang sama yang dilakukan dengan metode berbeda pada tahun 2006 (Inacon, 2006) menemukan bahwa adanya kecenderungan perilaku masyarakat untuk takut melapor, memilih tindakan anti korupsi yang sesuai dengan keadaan diri dan memilih tindakan kolektif yang belum tentu bersifat konstruktif (demo dan lainnya).

Gambar 3.9. Kecenderungan Perilaku Melapor (%)

Analisis lebih jauh pada 25.5% reponden yang menyatakan tidak akan melapor dihubungkan dengan pekerjaan menemukan bahwa Profesi Pegawai Negeri Sipil (35.2%) diikuti oleh Pegawai Swasta (30.4%) dan Wiraswasta/Pengusaha (28%) merupakan tiga (3) profesi teratas yang memiliki jumlah proporsi terbesar dari responden yang tidak ingin melaporkan korupsi yang terjadi di sekitar mereka (Gambar 3.10). Menarik untuk ditelaah lebih jauh mengenai adanya fenomena kejadian ini, dampaknya dan antisipasi tindakan yang harus dilakukan oleh KPK.

Satu hal yang bias ditarik dari hal ini adalah bahwa keputusan untuk melapor nampaknya bukanlah sebuah keputusan yang mudah bagi masyarakat terutama bagi 3 profesi yang disebutkan di atas. Bila ditelaah, orang yang berprofesi di 3 bidang tersebut sebanarnya cukup besar peluangnya melihat dan terkontaminasi korupsi (yang merugikan negara). Interpretasi lebih jauh mengindikasikan adanya perhitungan antara manfaat dan dampak (biaya) yang diakibatkan oleh tindakan melapor. Dampak yang timbul oleh perbuatan yang dilakukan akan menjadi resiko yang harus ditanggung oleh pelapor dengan kata lain menjadi biaya yang harus ditanggung. Resiko yang timbul tidak hanya masalah resiko keamanan (ancaman fisik) dan finansial (kehilangan bisnis, mata pencaharian, karir dan lainnya) tetapi juga mencakup resiko psikologis (beban pikiran) dan sosiologis (bagaimana respon dan dampaknya dari dan bagi lingkungan seperti rekan kerja, kerabat dan keluarga). Belum lagi biaya waktu, tenaga, pikiran dan moneter yang ditimbulkan akibat menjalani proses

69.5 25.5 4.9

0 20 40 60 80 100

Persentase

(30)

pelaporan tersebut. Jika perhitungan biaya dan resiko mendominasi manfaat maka keengganan melaporkan perkara korupsi merupakan hasilnya.

Gambar 3.10. Kecenderungan Melapor berdasarkan Pekerjaan (%)

Jika respon melapor merupakan salah satu respon perilaku yang diharapkan maka penting bagi KPK untuk mendorong terjadinya perilaku ini. Mengurangi resiko dan biaya yang timbul apakah itu dengan mendorong implementasi program dan instrumen kebijakan perlindungan saksi, memudahkan akses pelaporan, dan sosialisasi terintegrasi merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan probabilitas kejadian melapor.

Gambar 3.11. Kecenderungan Perilaku Koruptif

(Jawaban responden pada pertanyaan ‘apa yang anda lakukan jika menghadapi layanan yang lama dan berbelit, padahal persyaratan sudah lengkap sesuai aturan?’ (%))

74.59 64.76 80.52 69.55 71.98 80.59 73.84 72.37 75.59 25.41 35.24 19.48 30.45 28.02 19.41 26.16 27.63 24.41 0. 20. 40. 60. 80. 100. Mahasiswa Pegawai Negeri Sipil (PNS) TNI/POLRI Pegawai Swasta Wiraswasta/Pengusaha Profesional Ibu Rumah Tangga Sektor Informal Lain-lain

Melapor Tidak Melapor

63.6 16.6 11.9 7.9

0 20 40 60 80 100

Persentase

Melaporkan kondisi ini pada pihak yang berwenang

Membiarkan kondisi tersebut, dengan resiko waktu lebih lama Berusaha mempercepat layanan dengan membayar lebih Lainnya

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan aplikasi “mobile community” pengguna dapat dengan mudah melihat kalender dimana kalender ini nantinya akan dijadikan fitur untuk memuat event

Pada kelompok eksperimen, hasil pre test dan post test menunjukan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan respoden sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dengan

Kota Semarang merupakan salah satu kota yang memiliki jumlah penduduk yang padat, sehingga pemerintah Kota Semarang juga telah membuat suatu Peraturan Daerah

Balai Besar Veteriner Denpasar (BBV Denpasar) telah melakukan pengembangan metoda indirect FAT Rabies dengan menggunakan antibodi monoklonal yang berasal dari

Boşluk bölgesinde oluşan elektrik alanı (uzaklık ile ters orantılı) ise artar. Dolayısıyla katkı oranının arttırılması zener diyodun devrilme gerilimini azaltır...

Perbedaan kebiasaan konsumsi minuman yang paling sering dikonsumsi antara hasil penelitian pada siswa SMP Raksana Medan dengan hasil survei CSPI mungkin disebabkan karena para

1. Melakukan pengumpulan data yang diperoleh dari hasil kuesioner yang telah diberikan kepada 41 responden yang berisi 8 pernyataan untuk variabel X1 , 5 pernyataan

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran matematika menggunakan model TAI ( Team Assisted Individualizaion ) bernantuan CD interaktif pada siswa