• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

KOTA DUMAI

LEMBARAN DAERAH

KOTA DUMAI

Nomor : 22 Tahun 2007 Seri : B Nomor 06

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 22 TAHUN 2007

TENTANG

RETRIBUSI IZIN PENGELOLAAN AIR BAWAH TANAH DAN AIR PERMUKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA DUMAI,

Menimbang : a. bahwa Untuk memanfaatkan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan perlu diatur pengelolaannnya berdasarkan azaz fungsi, nilai ekonomis pemanfaatan keseimbangan dan serta tidak menimbulkan kerusakan lingkungan; b. bahwa hal tersebut sejalan dengan Keputusan

Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 1451 K/10/ MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Penyenggaraan Tugas Pemerintahan Di Bidang Pengelolaan Air Bawah Tanah, yang menyatakan setiap kegiatan ekplorasi, pengeboran termasuk penggalian, penurapan dan pengambilan air tanah hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh izin dari Bupati/Walikota;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Retribusi Izin Pengelolaan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan;

535 Ayat (4)

Dalam hal Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban Perpajakannya sebagaimana dimaksud dalam Ayat ini yaitu dengan ditemukannya data baru dan atau semula belum terungkap yang berasal dari pemeriksaan sehingga Pajak yang terutang bertambah, maka Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 100% (seratus persen) dari jumlah keterangan Pajak sanksi administrasi ini tidak dikenakan Pajak apabila Wajib Pajak melaporkannya sebelum diadakan tindakan Pemeriksaan.

Ayat (5) s.d (7) Cukup jelas Pasal 12 Ayat (1) s.d (7) Cukup jelas. Pasal 13 Ayat (1) dan (2) Cukup jelas. Pasal 14 Ayat (1) s.d (3) Cukup jelas. Pasal 15 Ayat (1) dan (2)

Dasar Hukum Penagihan dengan Surat Paksa berdasarkan kepada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Tahun 1997, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3686)

Pasal 16

Cukup jelas. Pasal 17

Cukup jelas.

(2)

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah denganUndang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang –undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699);

3. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3829);

4. Undang - Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

5. Undang-Undang Nomor10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5489); 6. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548; Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Ayat (1) s.d (4) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2)

Ayat ini mengatur tentang pengenaan Pajak yaitu ditetapkan oleh Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak.

Pasal 11 Ayat (1)

Cukup jelas. Ayat (2)

Dalam Ayat ini mengatur tentang Penerbitan Surat Ketetapan Pajak yang dibayar sendiri.

Penerbitan Surat Ketetapan Pajak ditujukan kepada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh tidak kebenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak.

Ayat (3)

huruf a dan b Cukup jelas Ayat (3)

huruf c

Yang dimaksud dengan Penetapan Pajak secara Jabatan adalah Penetapan besarnya Pajak yang terutang dilakukan oleh Walikota atau Pejabat Lain yang ditunjuk berdasarkan Data yang ada atau keterangan lain yang dimiliki, dengan mengenakan sanksi administrasi berupa bunga.

(3)

7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan;

9. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air ( lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3225);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4239);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 153);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

15. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 1993 tentang Bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Tambahan;

537 II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Ayat (1) s.d (4) Cukup jelas. Pasal 3 Ayat (1) dan (2) Cukup jelas. Pasal 4 Ayat (1) s.d (3) Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan tidak dapat diborongkan adalah bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan pajak tidak diserahkan kepada pihak ketiga. Namun dimungkinkan adanya kerjasama dengan pihak ketiga dalam rangka proses pemungutan pajak, antara lain ;

Percetakan formulir perpajakan, pengiriman surat-surat kepada wajib pajak atau perhimpunan data obyek dan subyek pajak. Kegiatan yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan penghitungan besarnya pajak yang terutang, pengawasan penyetoran pajak dan penagihan pajak.

Ayat (2) dan (3) Cukup jelas. Pasal 7

Cukup jelas.

(4)

16. Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 1451 K/10/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Penyenggaraan Tugas Pemerintahan Di Bidang Pengelolaan Air Bawah Tanah;

17. Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 13 Tahun 2002 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota dumai (lembaran Daerah Kota Dumai Tahun 2001 Nomor 26 Seri D);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DUMAI dan

WALIKOTA DUMAI MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI IZIN PENGELOLAAN AIR BAWAH DAN AIR PERMUKAAN.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kota Dumai.

2. Pemerintah Daerah, adalah Pemerintah Kota Dumai. 3. Walikota adalah Walikota Dumai.

4. Unit Kerja adalah Unit Kerja yang Mengelola Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.

5. Kas Daerah adalah Kas Derah Kota Dumai.

6. Retribusi Daerah adalah Pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa dan pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

538

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 21 TAHUN 2007

TENTANG

PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C I. UMUM

Pajak Daerah merupakan sumber pendapatan yang penting guna membiayai penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah untuk mendukung pelaksanaan Otonomi Daerah yang nyata, luas, dinamis dan bertanggung jawab sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang–Undang Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang petunjuk pelaksanaannya diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 Tentang Pajak Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 Tentang Retribusi Daerah telah ditetapkan bahwa jenis Pajak Daerah Tingkat II adalah sebagai berikut :

a. Pajak Hotel b. Pajak Restoran c. Pajak Hiburan d. Pajak Reklame

e. Pajak Penerangan Jalan

f. Pajak pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C g. Pajak Parkir

Sehubungan dengan hal tersebut, maka Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2000 Tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C (Diundangkan Dalam Lembaran Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2000) dinyatakan tidak berlaku.

(5)

7. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang tertuang.

8. Pejabat adalah Pegawai yang diberikan tugas tertentu dibidang Retribusi Daerah sesuai Peraturan Perundang – undangan yang berlaku.

9. Badan adalah suatu bentuk usaha yang meliputi persero terbatas, persero comanditer, persero lainnya, badan usaha milik Negara atau daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi atau organisasi yang sejenis lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya 10. Asosiasi adalah asosiasi perusahaan pengeboran air bawah

tanah dan Air Permukaan atau asosiasi juru bor air bawah tanah dan Air Permukaan yang telah dapat akreditasi dari Lembaga Pengeboran Jasa Kontruksi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000.

11. Badan Usaha adalah lembaga swasta atau pemerintah yang salah satu kegiatannya melaksanakan usaha di bidang air bawah tanah.

12. Perusahaan Pengeboran Air Bawah Tanah adalah Badan Usaha yang sudah mendapat izin untuk bergerak dalam bidang Pengeboran Air Bawah tanah.

13. Air Bawah Tanah adalah Semua Air yang terdapat dalam lapisan pengandung air di bawah tanah termasuk mata air yang muncul secara alamiah diatas tanah.

14. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah yaitu sungai , danau, waduk, rawa, irigasi dan air laut yang berada di darat.

15. Pengelolaan air bawah tanah adalah pengeloaan dalam arti luas mencangkup segala usaha, inventarisasi, pengaturan, pemanfaatan, perizinan, pengawasan, pembinaan, dan pengendalian serta konservasi air bawah tanah.

16. Hak guna air bawah tanah adalah hak untuk memperoleh, menggunakan dan memelihara air bawah tanah untuk keperluan tertentu.

17. Eksplorasi air bawah tanah adalah penyelidikan air bawah tanah detail untuk menetapkan lebih teliti / seksama tentang sebaran karekteristik sumber air tersebut.

539 Pasal 34

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2000 tentang Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C (Lembaran Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2000), dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 35

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap Orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam lembaran Daerah Kota Dumai.

Ditetapkan di Dumai

pada tanggal 10 Desember 2007 WALIKOTA DUMAI,

dto, H. ZULKIFLI A.S Diundangkan di Dumai

pada tanggal 11 Desember 2007 SEKRETARIS DAERAH KOTA DUMAI, dto,

H. WAN FAUZI EFFENDI

Pembina Utama Muda, NIP.01005541

(6)

(3) Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal 4, dengan dasar pengenaan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal 4.

BAB V

SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH Pasal 7

(1) Setiap Wajib Pajak mengisi Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD).

(2) SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditanda tangani oleh Pemilik/Pengusaha atau Kuasanya, selanjutnya disampaikan kepada Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak.

(3) Bentuk formulir dan tata cara pengisian SPTPD ditetapkan dengan Peraturan Walikota.

BAB VI

TATA CARA PENETAPAN PAJAK DAN TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 8

(1) Berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk menetapkan Pajak Terutang dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD).

(2) Apabila SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.

(3) SPTPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, digunakan untuk menghitung, memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yang terhutang.

Pasal 14

Setiap orang dan atau badan dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya sumber daya air dan prasarananya serta dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan pencemaran air bawah tanah dan air permukaan.

BAB IX

PERUNTUKAN PEMANFAATAN Pasal 15

(1) Peruntukan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan untuk keperluan air minum merupakan prioritas utama diatas segala keperluan lain.

(2) Urutan prioritas peruntukan air bawah tanah dan air permukaan adalah sebagai berikut :

a. Air minum (non komersial);

b. Air untuk rumah tangga (bukan Usaha);

c. Air untuk peternakan dan pertanian sederhana; d. Air untuk industri;

e. Air untuk irigasi;

f. Air untuk pertambangan; g. Air untuk usaha perkotaan;

h. Air untuk keperluan lainnya yang bersifat komersial. (3) Urutan prioritas peruntukan air bawah tanah

sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat berubah dengan memperhatikan kepentingan umum dan kondisi setempat.

BAB X PERIZINAN Bagian Kesatu Izin dan Jenis Izin

Pasal 16

(1) Setiap kegiatan eksplorasi, pengeboran termasuk penggalian, penurapan,pengambilan air bawah tanah dan air permukaan hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh izin.

(7)

(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari : a. Izin Eksplorasi Air bawah Tanah;

b. Izin Pengeboran (SIP) dan Izin Pengambilan Air Bawah tanah (SIPA);

c. Izin Penurapan (SIP) dan Izin Pemanfaatan Mata Air/ Air Permukaan (SIPMA);

d. Izin Perusahaan Pengobaran Air Bawah Tanah (SIPPAT);

e. Izin Juru Bor Air Bawah Tanah (SIJB).

(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2), akan di tetapkan dengan Keputusan Walikota.

Pasal 17

(1) Izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat 2, dikecualikan/ tidak diperlukan Bagi :

a. Keperluan penelitian oleh Instansi/Badan/Lembaga Pemerintah Pusat dan daerah yang telah melaporkan kegiatannya kepada Unit Kerja;

b. Keperluan air minum dan rumah tangga dalam batas-batas ketentuan yang meliputi :

1. Pengambilan air bawah tanah dan air permukaan dengan menggunakan tenaga manusia;

2. Pengambilan air bawah tanah dan air permukaan untuk rumah tangga (non komersial) bagi kebutuhan kurang dari 100 (seratus) meter kubik sebulan dengan tidak menggunakan distribusi secara terpusat dan batasan diameter pipa pada sumur bor(cassing) kurang dari 2 (dua) inci atau 5 (lima) cm, serta tidak berada dalam wilayah atau lokasi industri.

c. Keperluan Sosial dan rumah ibadah;

d. Pengambilan air bawah tanah dan air permukaan untuk keperluan pertanian rakyat yang berada dalam sistem irigasi air;

e. Pengambilan air bawah tanah dan air permukaan oleh Badan Usaha Milik Daerah atau Badan Usaha Milik Negara yang khususnya didirikan untuk menyelenggarakan usaha eksploitasi dan pemeliharaan pengairan serta mengusahakan air dan sumber-sumber air.

Pasal 3

(1) Subyek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang mengambil Bahan Galian Golongan C.

(2) Wajib Pajak adalah Orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan pengambilan Bahan Galian Golongan C.

BAB III

DASAR PENGENAAN DAN TARIF PAJAK Pasal 4

(1) Dasar pengenaan Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C adalah Nilai Jual Hasil Pengambilan Bahan Galian Golongan C.

(2) Nilai Jual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan mengalikan volume/tonase hasil pengambilan dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis Bahan Galian Golongan C.

(3) Nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis Bahan Galian Golongan C diatur dan ditetapkan dengan Peraturan Walikota.

Pasal 5

Tarif Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C ditetapkan sebesar 20% (Dua puluh persen).

BAB IV

WILAYAH PEMUNGUTAN, MASA PAJAK, DAN CARA PENGHITUNGAN PAJAK Pasal 6

(1) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C yang terutang dipungut dalam wilayah Kota Dumai.

(2) Masa Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C adalah 1 (satu) bulan takwim setelah pembayaran kepada Hotel dilakukan.

(8)

(2) Penetapan jaringan sumur pantau dalam satu cekungan air bawah tanah dan air permukaan dilakukan oleh Walikota.

(3) Setiap pemegang Pengambilan izin air bawah tanah dan air permukaan wajib melaksanakan konservasi air bawah tanah dan air permukaan sesuai dengan fungsi kawasan yang ditetapkan dalam tata ruang wilayah serta wajib menjaga kualitas air bawah tanah dan air permukaan serta mengendalikan pencemaran air bawah tanah dan air permukaan.

(4) Pengelolaan kualitas air bawah tanah dan air permukaan serta pengendalian pencemaran air bawah tanah dan air permukaan ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air bawah tanah dan air permukaan yang ada pada sumber-sumber air.

(5) Pengelolaan kualitas air sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air.

(6) Pengendalian pencemaran air bawah tanah dan air permukaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dilakukan dengan cara mencegah masuknya air pada sumber air dan prasarana sumber daya air.

Pasal 13

(1) Walikota sesuai dengan lingkup kewenangannya melakukan upaya konservasi air bawah tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.

(2) Walikota dalam pengelolaan air bawah tanah bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan keberadaan air bawah tanah dan lingkungan sekitarnya.

(3) Setiap pemegang izin pengambilan air bawah tanah dan izin pengambilan mata air, wajib melaksanakan konservasi air bawah tanah sesuai dengan fungsi kawasan yang ditetapkan sesuai tata ruang wilayah yang bersangkutan.

Pasal 9

(1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terhutangnya Pajak, Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk dapat menerbitkan:

a. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB), dalam hal :

1. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, Pajak yang terutang tidak dilunasi atau kurang dibayar;

2. Apabila SPTPD tidak disampaikan kepada Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk dalam jangka waktu yang ditentukan dan setelah ditegur secara tertulis, dan dikenakan sanksi sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak kurang atau terlambat bayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat ) bulan yang dihitung sejak terutangnya pajak ;

3. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak di penuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak kurang atau terlambat bayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat ) bulan yang dihitung sejak terutangnya pajak .

b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang, dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, apabila jumlah pajak

yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.

(2) Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak dikenakan, apabila wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.

(9)

(4) Pelaksanaan penentuan debit air bawah tanah dan penentuan debit penurapan mata air dilakukan oleh Walikota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1). (5) Penentuan debit pengambilan air bawah tanah berpedoman

kepada Pedoman Teknis Penentuan Debit Pengambilan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

BAB VIII KONSERVASI

Pasal 11

(1) Untuk mencegah terjadinya kerusakan air bawah tanah dan air permukaan, lingkungan keberadaannya dan lingkungan sekitarnya, serta untuk perlindungan dan pelestarian air bawah tanah, maka perlu dilakukan upaya konservasi air bawah tanah dan air permukaan.

(2) Konservasi air bawah tanah dan air permukaan bertumpu pada azas kemanfaatan, kesinambungan, ketersediaan dan kelestarian air bawah tanah, serta lingkungan keberadaannya.

(3) Pelaksanaan konservasi air bawah tanah dan air permukaan didasarkan pada :

a. Kajian identifikasi dan evaluasi cekungan air bawah tanah dan air permukaan;

b. Kajian kawasan imbuh (recharge area) dan lepasan (discharge area);

c. Perencanaan pemanfaatan;

d. Informasi hasil pemantauan perubahan kondisi air bawah tanah dan air permukaan.

Pasal 12

(1) Dalam upaya konservasi air bawah tanah dan air permukaan dilakukan pemantauan terhadap perubahan muka dan mutu air bawah tanah dan air permukaan untuk debit pengambilan lebih dari 50 liter/ detik dari suatu sumur produksi pada kawasan kurang dari 10 (sepuluh) hektar serta memasang water meter pada jaringan dan atau pada titik penyebaran air bawah tanah dan air permukaan. Pasal 10

(1) Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah apabila:

a. pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar; b. dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah

terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung;

c. wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.

(2) Jumlah kekurangan Pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak. (3) Surat Ketetapan Pajak Daerah yang tidak atau kurang

dibayar setelah jatuh tempo pembayan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan, dan ditagih melalui Surat Tagihan Pajak Daerah. (4) SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b,

diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula yang belum terungkap yang menyebabkan penamabahan jumlah pajak yang terutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

Pasal 11

(1) Pemungutan Pajak tidak dapat diborongkan.

(2) Pajak dipungut berdasarkan ketetapan wajib pajak atau dibayar sendiri oleh wajib pajak.

(3) Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban membayar pajaknya, dengan menggunakan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau Dokumen Lain yang dipersamakan.

(10)

(4) Inventarisasi air bawah tanah berpedoman kepada Teknis Evaluasi Potensi Air Bawah Tanah yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

BAB VII

PERENCANAAN PENDAYAGUNAAN Pasal 8

Kegiatan perencanaan pendayagunaan air bawah tanah dan air permukaan dalam rangka pengelolaan air bawah tanah dan air permukaan pada satuan wilayah cekungan air bawah tanah dan air permukaan.

Pasal 9

(1) Kegiatan perencanaan Pendayagunaan air bawah tanah dan air permukaan wajib dilaksanakan sebagai dasar pengelolaan air bawah tanah dan air permukaan pada satuan wilayah cekungan air bawah tanah.

(2) Perencanaan pendayagunaan air bawah tanah dan air permukaan berpedoman kepada Pedoman Teknis Perencanaan Pendayagunaan Air Bawah Tanah yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

Pasal 10

(1) Perencanaan pendayagunaan air bawah tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, didasarkan pada hasil pengolahan dan evaluasi data inventarisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1).

(2) Perencanaan pendayagunaan air bawah tanah dalam rangka pengelolaan, pemanfaatan dan perlindungan air bawah tanah di daerah dilaksanakan oleh Walikota dan lembaga masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3) Pelaksanaan perencanaan pendayagunaan air bawah tanah yang berada dalam cekungan air bawah tanah yang melintasi wilayah Kota Dumai lakukan oleh Walikota.

548

BAB VII

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 12

(1) Pembayaran dilakukan oleh wajib pajak di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk Walikota sesuai waktu yang ditentukan.

(2) Apabila Pembayaran Pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk maka hasil penerimaan Pajak harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 (satu) kali 24 (dua puluh empat) jam.

(3) Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), harus dilakukan sekaligus atau lunas dengan mempergunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD).

Pasal 13

(1) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada wajib Pajak untuk mengangsur pajak terutang dalam kurun waktu tertentu, setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.

(2) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4), harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar. (3) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada wajib

Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang bayar.

(4) Persyaratan untuk dapat mengangsur dan menunda pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4), diatur dengan Peraturan Walikota.

Pasal 14

(1) Setiap Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan Pasal 13, diberikan Tanda bukti Pembayaran dan dicatat dalam Buku Penerimaan.

(11)

BAB VI PENGELOLAAN

Pasal 6

Teknik pengelolaan air bawah tanah dan air permukaan dilakukan melalui tahapan kegiatan :

a. Inventarisasi; b. Perencanaan pendayagunaan; c. Konservasi; d. Peruntukan e. Pemanfaatan; f. Perizinan;

g. Pembinaan dan pengendalian; h. Pengawasan.

BAB VI INVENTARISASI

Pasal 7

(1) Kegiatan inventarisasi meliputi kegiatan pemetaan, penyelidikan penelitian, eksplorasi, evaluasi, pengumpulan dan pengelolaan data air bawah tanah mencangkup : a. Sebaran cekungan air bawah tanah dan geometri

akuifer;

b. Kawasan imbuh (recharge area) dan lepasan (discharge area);

c. Karakteristik akuifer dan potensi air bawah tanah; d. Pengambilan air bawah tanah;

e. Data lain yang berkaitan dengan air bawah tanah. (2) Semua data sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah

milik pemerintah yang dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

(3) Kegiatan inventarisasi air bawah tanah dilakukan dengan memperhatikan kepentingan umum dan Pemerintah dalam rangka penyusunan rencana atau pola induk pengembangan terpadu air bawah tanah dan pemanfaatannya.

(2) Bentuk, jenis, isi, ukuran Buku Penerimaan dan Tanda Bukti Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan Walikota.

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN PAJAK Pasal 15

(1) Surat teguran atau Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran.

(2) Dalam Jangka Waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis, Wajib Pajak harus melunasi pajak yang terutang.

(3) Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikeluarkan oleh Walikota atau Pejabat yang ditunjuk.

(4) Pajak yang terutang berdasarkan Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang tidak atau kurang dibayar oleh wajib pajak pada waktunya, ditagih dengan Surat Paksa.

(5) Penagihan Pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan berdasarkan Peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(6) Surat Paksa diterbitkan segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal Surat Teguran atau surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis.

Pasal 16

Apabila Pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan Surat Paksa, Pejabat yang ditunjuk segera menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.

(12)

(2) Wewenang dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam pada ayat (1), meliputi :

a. Menetapkan petunjuk pemecahan berbagai permasalahan yang terkait dengan pendayagunaan dan pelestarian air bawah tanah dan air permukaan atau mata air pada cekungan air bawah tanah dan air permukaan;

b. Melakukan pembinaan dalam pengendalian dan pengawasan atas pengambilan serta penghimbuhan air bawah tanah dan air permukaan dalam rangka izin pengambilan air bawah tanah dan atau mata air sebagaimana dimaksud pada huruf a;

c. Pengumpulan dan pengelolaan air bawah tanah dan air permukaan mata air sebagaimana sumber informasi air bawah tanah dan atau mata air Wilayah Dumai;

d. Menetapkan dan mengatur system jaringan sumur pantau dalam satu cekungan air bawah tanah dan air permukaan;

e. Pemberian persetujuan atau rekomendasi teknik untuk izin penelitian dan atau penyelidikan dan atau eksplorasi air bawah tanah dan air permukaan , izin pengeboran air bawah tanah dan air permukaan, izin penurapan mata air, izin pengambilan air bawah tanah dan air permukaan, dan izin pengambilan mata air pada wilayah cekungan air bawah tanah dan air permukaan;

f. Memberikan saran teknik untuk Surat Izin Pengeboran dan saran teknik untuk Surat Izin Pengambilan Air Bawah Tanah dan air permukaan pada cekungan air bawah tanah dan air permukaan;

g. Memberikan saran teknik untuk Surat Izin Penurapan Mata Air dan saran teknik untuk Surat Izin Pengambilan air bawah tanah dan air permukaan dari mata air pada cekungan air bawah tanah;

h. Menetapk an dan memungut Pajak Daerah Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan

Pasal 17

Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak belum juga melunasi hutang pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Pejabat yang ditunjuk mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara.

Pasal 18

Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, Juru Sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak.

Pasal 19

(1) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dapat menetapkan jadwal waktu tindakan penagihan pajak yang menyimpang dari jadwal waktu yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16, dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada.

(2) Penagihan seketika dan sekaligus atas jumlah Pajak yang masih harus dibayar dilakukan oleh Pejabat dengan mengeluarkan surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan sekaligus.

(3) Terhadap Wajib Pajak yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk segera dilakukan tindakan penagihan pajak dengan Surat Paksa, Surat Perintah membayar Pajak dan permintaan penetapan tanggal serta tempat pelelangan, tanpa memperhatikan tenggang waktu yang telah ditetapkan.

Pasal 20

Bentuk, jenis dan cara pengisian formulir yang dipergunakan untuk melaksanakan penagihan pajak diatur dengan Peraturan Walikota.

(13)

BAB IV PENGELOLAAN

Pasal 4

(1) Kegiatan Inventarisasi meliputi kegiatan pemetaan, penyelidikan, penelitian, eksplorasi, ekploitasi, evaluasi, pengumpulan dan pengelolaan data air bawah tanah dan air permukaan yang meliputi :

a. Sebaran cekungan air bawah tanah dan wilayah air permukaan;

b. Kawasan imbuh (recharge area) dan lepasan (discharge area);

c. Karakteristik akuifer dan potensi air bawah tanah serta air permukaan;

d. Pengambilan air bawah tanah dan air permukaan; e. Data pengguna dan pemanfaatan air bawah tanah dan

air permukaan;

f. Data besarnya kubikasi air bawah tanah dan air permukaan yang digunakan/dimanfaatkan.

(2) Kegiatan Inventarisasi air bawah tanah dan air permukaan dilakukan dengan memperhatikan kepentingan umum dan pemerintah daerah dalam rangaka penyusunan rencana atau pola induk pengembangan terpadu pengambilan air bawah tanah dan air permukaan dilaksanakan oleh Unit Kerja.

(3) Inventarisasi air bawah tanah dan air permukaan dalam rangka pengelolaan air bawah tanah dan air permukaan dilaksanakan oleh Unit Kerja.

BAB IV

WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB Pasal 5

(1) Wewenang dan tanggung jawab pengelolaan air bawah tanah dan air permukaan dilakukan oleh Walikota dan dilaksanakan oleh Unit Kerja Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Dumai.

545 BAB IX

TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN, DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 21

(1) Walikota karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat :

a. membetulkan Surat Ketetapan Pajak Daerah atau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, atau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, atau Surat Tagihan Pajak Daerah yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau kekeliruan dalam penerapan Peraturan Per Undang-Undangan perpajakan Daerah;

b. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan pajak yang terutang menurut Peraturan Per Undang-undangan Perpajakan Daerah, dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya;

c. mengurangkan atau membatalkan ketetapan pajak yang tidak benar.

(2) Tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur dengan Peraturan Walikota.

BAB X

KEBERATAN DAN BANDING Pasal 22

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk atas suatu :

a. SKPD; b. SKPDKB; c. SKPDKBT; d. SKPDLB.

(14)

(2) Teknik pengelolaan air bawah tanah berlandaskan pada satuan wilayah cekungan air bawah tanah dan satuan wilayah air permukaan.

(3) Hak atas air bawah tanah dan air permukaan adalah hak guna air.

(4) Hak Guna Air sebagaimana dimaksud pada ayat (3), berupa hak guna uasaha air.

(5) Hak guna air diberikan dan akan ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

BAB III

WILAYAH CEKUNGAN AIR BAWAH TANAH Pasal 3

(1) Walikota berwenang menetapkan Satuan Wilayah Cekungan Air Bawah Tanah dan air permukaan, berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh Unit Kerja.

(2) Pengelolaan cekunagn air bawah tanah dan air permukaan yang melintasi wilayah kabupaten lain yang berbatasan dengan wilayah kota Dumai didasarkan pada titik koordinat di kelola atas kesepakatan bersama masing-masing Walikota.

(3) Walikota apabila dianggap perlu dapat menentukan lokasi yang tertutup untuk kegiatan usaha pengambilan atau pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan pada wilayah cekungan air bawah tanah.

(4) Teknik pengelolaan air bawah tanah dan air permukaan dilakukan melalui tahapan kegiatan :

a. Inventarisasi;

b. Perencanaan pendayagunaan; c. Konservasi;

d. Peruntukan pemanfaatan; e. Perizinan;

f. Pembinaan dan pengendalian; g. Pengawasan.

(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan SKPDLB diterima oleh Wajib Pajak, kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

(3) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan Keberatan atas Ketetapan Pajak secara Jabatan, Wajib Pajak harus dapat membuktikan ketidakbenaran Ketetapan Pajak tersebut. (4) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), tidak dianggap sebagai Surat Keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan. (5) Walikota atau Pejabat dalam jangka waktu paling lama

12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diterima, harus memberi keputusan.

(6) Keputusan Walikota atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya pajak terutang.

(7) Apabila setelah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), Walikota atau Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulkan.

(8) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak menunda kewajiban membayar pajak.

Pasal 23

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Walikota. (2) Permohonan diajukan dalam Bahasa Indonesia dengan

alasan yang jelas dilampiri salinan dari Surat Keputusan tersebut.

(3) Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak.

(15)

47. Izin Pengeboran air bawah tanah yang selanjutnya disingkat IP adalah izin melakukan pengeboran, penurupan dan pengaliran air bawah tanah.

48. Izin pengambilan air bawah tanah yang disingkat IPA adalah izin pengambilan dan atau penggunaan air bawah tanah yang berasal dari sumur bor, sumur pasak dan sumur gali.

49. Izin pengambilan mata air yang selanjutnya disingkat IPMA izin pengambilan air bawah tanah yang berasal dari lapisan equifer.

50. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan serta penyelenggaraan usaha dan atau kegiatan.

51. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UPL) adalah dokumen yang mengandung upaya pemantauan komponen Lingkungan hidup yang terkena dampak akibat dari rencana usaha dan atau kegiatan.

52. Upaya Pengeloaa Lingkungan (UKL) adalah dokumen yang mengandung upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan atau kegiatan.

53. Prosedur adalah tahapan mekanisme yang harus di lalui dan diikuti untuk melakukan kegiatan di bidang air bawah tanah dan air permukaaan.

BAB II ASAS LANDASAN

Pasal 2

(1) Pengelolaan air bawah tanah didasarkan atas asas-asas : a. Fungsi sosial dan nilai ekonomi;

b. Kemanfaatan umum;

c. Keterpaduan dan keserasian; d. Keseimbangan;

e. Kelestarian; f. Keadilan; g. Kemandirian;

h. Transparansi dan akuntabilitasi publik.

543 Pasal 24

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 atau banding sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

BAB XI

KADALUARSA PENAGIHAN Pasal 25

(1) Hak untuk melakukan penagihan pajak kadaluarsa setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terhutangnya pajak, kecuali apabila Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah. (2) Kadaluarsa Penagihan Pajak sebagaimana dimaksud pada

ayat (1), tertangguh apabila :

a. diterbitkan surat teguran dan surat paksa; atau

b. ada pengakuan hutang pajak dari wajib pajak baik langsung maupun tidak langsung.

Pasal 26

Pedoman tata cara penghapusan pajak yang kadaluarsa diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.

BAB XIV BIAYA PEMUNGUTAN

Bagian Pertama Umum Pasal 27

(1) Dalam rangka kegiatan pemungutan Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C diberikan biaya pemungutan diatur berdasarkan Peraturan Walikota.

(16)

37. Izin Perusahaan Pengeboran Air bawah tanah (SIPPAT) adalah Izin atau kuasa yang diberikan kepada orang perseorangan, bidang usaha nasional baik yang berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum dan badan usaha asing di sertai dengan kewajiban yang perlu dilaksanakan oleh pemegang izin dalam menjalankan kegiatannya. 38. Sumur Bor adalah sumur yang pembuatannya dilakukan

dengan cara pengeboran dan kostruksi dengan pipa bergaris tengah lebih dari dua inci (Lebih Kurang 5 Cm). 39. Sumur pasak adalah sumur yang pembuatannya dilakukan

dengan cara pengorbanan dan dikonstruksi dengan pipa bergaris tengah maksimum dua inci (lebih kurang 5 Cm). 40. Sumur imbuhan adalah sumur yang digunakan untuk

usaha penambahan cadangan air bawah tanah dengan cara memasukan air kedalam lapisan pembawa air (equifer).

41. Penurupan mata air ialah kegiatan mengubah bentuk alamiah mata air berupa upaya mempertinggi permukaan mata air, penampungan dan atau penimbaan yang dialirkan sesuai dengan keperluaan.

42. Meter air adalah alat ukur untuk mengetahui volume pengambilan air yang telah ditera atau dikali brasi oleh instansi yang berwenang.

43. Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang atau pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat di paksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan Pembangunan Daerah.

44. Zona pengambilan air bawah tanah adalah wilayah pengambilan air bawah tanah dikaitkan dengan daya dukung alamnya dan potensi ketersediaan air bawah tanah setempat.

45. Akreditasi adalah pengakuan atas kelayakan peralatan pengorbanan yang telah memenuhi persyaratan teknis sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 46. Izin usaha pengeboran air bawah tanah yang selanjutnya

yang disingkat IUPAT adalah izin melakukan kegiatan usaha pengeboran bawah tanah oleh setiap badan atau

(2) Biaya Pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), digunakan untuk membiayai kegiatan penghimpunan data objek dan subjek pajak, penagihan dan pengawasan. (3) Biaya pemungutan ditetapkan sebesar 5% (lima persen)

dari Realisasi Penerimaan Pajak, yang akan dirinci dalam alokasi biaya pemungutan.

Bagian Kedua Pelaksanaan

Pasal 28

Alokasi biaya pemungutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3), ditetapkan dengan Peraturan Walikota.

BAB XV PENYIDIKAN

Pasal 29

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan pemerintah Kota diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah sebagaimana dimaksud di dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Acara Hukum Pidana.

(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah :

a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas; b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan mengenai orang

pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah;

(17)

27. Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menjamin tegaknya peraturan perundang-undangan pengelolaan air bawah tanah dan Air Permukaan.

28. Persyaratan teknik adalah ketentuan teknik yang harus dipenuhi untuk melakukan kegiatan di bidang air bawah tanah dan air permukaan.

29. Pendayagunaan air bawah tanah dan air permukaan adalah pemanfaatan air bawah tanah dan air permulkaan secara optimal dan berkelanjutan.

30. Prosedur adalah tahapan dan mekasnisme yang harus dilalui dan diikuti untuk melakukan kegiatan di bidang air bawah tanah dan Air Permukaan.

31. Pedoman adalah acuan di bidang air bawah tanah dan air permukaan yang bersifat umum yang harus dijabarkan lebih lanjut dan dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan daerah setempat.

32. Sumur pantau adalah sumur yang dibuat untuk memantau muka dan atau mutu air bawah tanah dan air permukaan dari lapisan akuifer tertentu.

33. Jaringan sumur pantau adalah kumpulan sumur pantau yang tertata berdasarkan kebutuhan pemantau terhadap air bawah tanah pada suatu cekungan air bawah tanah dan air permukaan .

34. Izin Eksplorasi Air Bawah Tanah adalah Izin atau kuasa untuk melakukan eksplorasi air baewah tanah sehingga di peroleh data dan informasi bagi perencanaan pengambilan air bawah tanah.

35. Izin Pengeboran (SIP) dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (SIPA) adalah Izin atau kuasa melakukan pengeboran dan pengambilan air Bawah Tanah untuk keperluan sesuai peruntukan pemanfaatan dan ketersediaanya serta tidak mengganggu dan keseimbangan Air bawah tanah dan lingkungan sekitarnya.

36. Izin Penurapan (SIP) dan Izin Pemanfaatan Mata Air/Air permukaan (SIPMA) adalah izin atau kuasa dalam pengaturan debit pengambilan air permukaan dan sesuai dengan ketersediaanya serta tidak menggangggu keseimbangan sumber daya air dan lingkungan sekitarnya.

541 d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan

dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana perpajakan daerah;

e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah;

g. menyuruh berhenti atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e ayat (2);

h. memotret seseorang dengan kaitan tindak pidana perpajakan daerah;

i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. menghentikan penyidikan;

k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan;

(3) Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahuk an dimulainya penyidik an dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik/Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XVI KETENTUAN PIDANA

Pasal 30

(1) Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak yang terutang.

(18)

18. Cekungan air bawah tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batuan-batuan dimana semua kejadian hidrogeologi proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air bawah tanah berlangsung.

19. Hidrogeologi adalah Ilmu yang mempelajari mengenai air bawah tanah yang berkaitan dengan cara terdapat, penyebaran, pengaliran, potensi dan sifat kimia air bawah tanah.

20. Aquifer atau lapisan pembawa air adalah lapisan batuan didawah permukaan tanah jenuh air yang dapat menyimpan dan meneruskan air dalam jumlah yang cukup dan mempunyai nilai ekonomis.

21. Pengambilan air bawah tanah dan Air Permukaan adalah setiap kegiatan pengambilan air bawah tanah dan air permukaan yang dilakukan dengan cara penggalian, pengeboran, atau dengan cara membuat bangunan penurap lainnya, untuk dimanfaatkan airnya dan atau tujuan lain.

22. Inventarisasi air bawah tanah dan Air Permukaan adalah kegiatan pemetaan, penyelidikan, penelitian, ekplorasi, evaluasi, pengumpulan dan pengelolaan data air bawah tanah.

23. Konservasi air bawah tanah dan Air permukaan adalah pengelolaan air bawah tanah untuk menjamin pemanfaatannya secara bijkasana dan menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara serta mempertahankan mutunya.

24. Pencemaran air bawah tanah dan Air Permukaan adalah masuknya atau dimasukkannya unsur, zat, komponen fisika, kimia, atau biologi kedalam air bawah tanah oleh kegiatan manusia atau oleh proses alami yang mengakibatkan mutu air bawah tanah turun kesampai tingkat tertentu sehingga tidak lagi sesuai dengan peruntukannya.

25. Pembinaan adalah segala usaha yang mencangkup pemberian pengarahan, petunjuk, bimbingan, pelatihan dan penyuluhan dalam pelaksanaan pengelolaan air bawah tanah dan air Permukaan.

26. Pengendalian adalah segala usaha yang mencangkup kegiatan pengaturan, penelitian dan pemantauan pengambilan air bawah tanah dan air permukaan untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana demi menjaga

(2) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang terutang.

Pasal 31

Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak saat terutangnya Pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau berakhirnya bagian tahun Pajak yang bersangkutan.

BAB XVII KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 32

(1) Dalam rangka mendorong perkembangan pendapatan daerah Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dapat melakukan kerjasama dengan asosiasi pelaku usaha. (2) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dapat memberikan

penghargaan kepada Wajib Pajak yang berprestasi dalam membayar pajak.

(3) Bentuk kerjasama dan pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.

BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP

Pasal 33

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang menyangkut teknis pelaksanaannya akan diatur dan ditetapkan lebih lanjut dalam Peraturan Walikota.

(19)

7. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang tertuang.

8. Pejabat adalah Pegawai yang diberikan tugas tertentu dibidang Retribusi Daerah sesuai Peraturan Perundang – undangan yang berlaku.

9. Badan adalah suatu bentuk usaha yang meliputi persero terbatas, persero comanditer, persero lainnya, badan usaha milik Negara atau daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi atau organisasi yang sejenis lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya 10. Asosiasi adalah asosiasi perusahaan pengeboran air bawah

tanah dan Air Permukaan atau asosiasi juru bor air bawah tanah dan Air Permukaan yang telah dapat akreditasi dari Lembaga Pengeboran Jasa Kontruksi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000.

11. Badan Usaha adalah lembaga swasta atau pemerintah yang salah satu kegiatannya melaksanakan usaha di bidang air bawah tanah.

12. Perusahaan Pengeboran Air Bawah Tanah adalah Badan Usaha yang sudah mendapat izin untuk bergerak dalam bidang Pengeboran Air Bawah tanah.

13. Air Bawah Tanah adalah Semua Air yang terdapat dalam lapisan pengandung air di bawah tanah termasuk mata air yang muncul secara alamiah diatas tanah.

14. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah yaitu sungai , danau, waduk, rawa, irigasi dan air laut yang berada di darat.

15. Pengelolaan air bawah tanah adalah pengeloaan dalam arti luas mencangkup segala usaha, inventarisasi, pengaturan, pemanfaatan, perizinan, pengawasan, pembinaan, dan pengendalian serta konservasi air bawah tanah.

16. Hak guna air bawah tanah adalah hak untuk memperoleh, menggunakan dan memelihara air bawah tanah untuk keperluan tertentu.

17. Eksplorasi air bawah tanah adalah penyelidikan air bawah tanah detail untuk menetapkan lebih teliti / seksama tentang sebaran karekteristik sumber air tersebut.

539 Pasal 34

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2000 tentang Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C (Lembaran Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2000), dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 35

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap Orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam lembaran Daerah Kota Dumai.

Ditetapkan di Dumai

pada tanggal 10 Desember 2007 WALIKOTA DUMAI,

dto, H. ZULKIFLI A.S Diundangkan di Dumai

pada tanggal 11 Desember 2007 SEKRETARIS DAERAH KOTA DUMAI, dto,

H. WAN FAUZI EFFENDI

Pembina Utama Muda, NIP.01005541

(20)

16. Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 1451 K/10/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Penyenggaraan Tugas Pemerintahan Di Bidang Pengelolaan Air Bawah Tanah;

17. Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 13 Tahun 2002 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota dumai (lembaran Daerah Kota Dumai Tahun 2001 Nomor 26 Seri D);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DUMAI dan

WALIKOTA DUMAI MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI IZIN PENGELOLAAN AIR BAWAH DAN AIR PERMUKAAN.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kota Dumai.

2. Pemerintah Daerah, adalah Pemerintah Kota Dumai. 3. Walikota adalah Walikota Dumai.

4. Unit Kerja adalah Unit Kerja yang Mengelola Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.

5. Kas Daerah adalah Kas Derah Kota Dumai.

6. Retribusi Daerah adalah Pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa dan pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

538

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 21 TAHUN 2007

TENTANG

PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C I. UMUM

Pajak Daerah merupakan sumber pendapatan yang penting guna membiayai penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah untuk mendukung pelaksanaan Otonomi Daerah yang nyata, luas, dinamis dan bertanggung jawab sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang–Undang Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang petunjuk pelaksanaannya diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 Tentang Pajak Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 Tentang Retribusi Daerah telah ditetapkan bahwa jenis Pajak Daerah Tingkat II adalah sebagai berikut :

a. Pajak Hotel b. Pajak Restoran c. Pajak Hiburan d. Pajak Reklame

e. Pajak Penerangan Jalan

f. Pajak pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C g. Pajak Parkir

Sehubungan dengan hal tersebut, maka Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2000 Tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C (Diundangkan Dalam Lembaran Daerah Kota Dumai Nomor 2 Tahun 2000) dinyatakan tidak berlaku.

(21)

7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan;

9. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air ( lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3225);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4239);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 153);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

15. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 1993 tentang Bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Tambahan;

537 II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Ayat (1) s.d (4) Cukup jelas. Pasal 3 Ayat (1) dan (2) Cukup jelas. Pasal 4 Ayat (1) s.d (3) Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan tidak dapat diborongkan adalah bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan pajak tidak diserahkan kepada pihak ketiga. Namun dimungkinkan adanya kerjasama dengan pihak ketiga dalam rangka proses pemungutan pajak, antara lain ;

Percetakan formulir perpajakan, pengiriman surat-surat kepada wajib pajak atau perhimpunan data obyek dan subyek pajak. Kegiatan yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan penghitungan besarnya pajak yang terutang, pengawasan penyetoran pajak dan penagihan pajak.

Ayat (2) dan (3) Cukup jelas. Pasal 7

Cukup jelas.

(22)

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah denganUndang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang –undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699);

3. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3829);

4. Undang - Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

5. Undang-Undang Nomor10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5489); 6. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548; Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Ayat (1) s.d (4) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2)

Ayat ini mengatur tentang pengenaan Pajak yaitu ditetapkan oleh Walikota atau Pejabat lain yang ditunjuk atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak.

Pasal 11 Ayat (1)

Cukup jelas. Ayat (2)

Dalam Ayat ini mengatur tentang Penerbitan Surat Ketetapan Pajak yang dibayar sendiri.

Penerbitan Surat Ketetapan Pajak ditujukan kepada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh tidak kebenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak.

Ayat (3)

huruf a dan b Cukup jelas Ayat (3)

huruf c

Yang dimaksud dengan Penetapan Pajak secara Jabatan adalah Penetapan besarnya Pajak yang terutang dilakukan oleh Walikota atau Pejabat Lain yang ditunjuk berdasarkan Data yang ada atau keterangan lain yang dimiliki, dengan mengenakan sanksi administrasi berupa bunga.

(23)

(2) Walikota dapat memberikan pembebasan izin serta kewajiban-kewajiban lainnya terhadap kegiatan pengambilan air bawah tanah dan air permukaan atas dasar pertimbangan untuk kepentingan daerah berdasarkan kepada aspek pembangunan dan kemajuan daerah.

Pasal 18

(1) Setiap Badan atau perorangan yang melakukan ekspolarasi, pengeboran, pengambilan air bawah tanah dan air permukaan atau pemanfaatannya, untuk berbagai keperluan hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh izin.

(2) Perusahaan Industri yang berada dikawasan Industri, dilarang melakukan kegiatan eksplorasi, pengeboran, pengambilan air bawah tanah dan air permukaan selama kebutuhan air bersih untuk kegiatan industri dapat disuplai dari air permukaan.

(3) Izin Pengeboran, pengambilan air bawah tanah atau mnnfaatnya untuk satuaan cengkungan air tanah yang lintas wilayah Kabupaten / Kota baik izin baru maupun daftar ulang harus terlebih dahulu mendapatkan persyaratan Teknis dari Gubernur.

(4) Pengeboran dan Pengambilan air bawah tanah yang tidak memerlukan izin adalah:

a. Keperluan air minum dan rumah tangga dengan jumlah maksimum 100 (seratus) meter kubik perbulan dan tidak dipergunakan untuk keperluan komersial;

b. Keperluan peribadatan, penanggulangan kebakaran dan keperluan penelitian yang tidak menimbulkan kerusakan atas sumber air bawah tanah dan lingkungan;

c. Keperluan pembuatan sumur imbuhan. Pasal 19

Jenis izin Pengelolaan air, terdiri dari a. Izin Eksplorasi (IE);

b. Izin usaha pengeboran air bawah tanah (IUPAT); c. Izin pengeboran air bawah tanah (IP);

d. Izin pengambilan air bawah tanah (IPA); e. Izin pengambilan Mata air (IPMA).

(24)

Pasal 20

(1) Izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, ditetapkan oleh Walikota.

(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yaitu:

a. Diberikan atas nama pemohon untuk setiap titik pengambilan air / sumber air;

b. Tidak dapat dipindah tangankan kecuali atas persetujuan Walikota.

Bagian Kedua Tata Cara Memperoleh Izin

Pasal 21

(1) Untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, pemohon mengajukan permohonan secara tertulis Kepada Walikota, melalui Unit Kerja yang mengelola Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus melampirkan:

A. Untuk izin Eksplorasi ( IE ): a.1. Izin lokasi / HO / IMB; a.2. Melampirkan Peta lokasi;

a.3. Persyaratan lainnya yang ditetapkan oleh Kepala Unit Kerja.

B. Untuk izin usaha Pengeboran air bawah tanah (IUPAT).

b.1. Surat peryataan Kepemilikan instlansi bor bermeterai;

b.2. Foto instlansi bor berukuran 9 X 12 Cm dan 4 X 6 Cm masing-masing sebanyak 3 (tiga) lembar; b.3. Data teknis instlansi bor;

b.4. Salin sertifikat klasifikasi dan sertifikat kualifikasi badan usaha yang dikeluarkan oleh asosiasi dan telah diregistasii di LPJK;

b.5. Persyaratan lainnya yang ditetapkan oleh Kepala Unit Kerja.

(25)

C. Untuk izin pengeboran (IP):

c.1. Peta situasi brsekala 1 : 10.000 atau lebih besar dan peta topografi skala 1 :50.000 yang memperlihatkan titik lokasi rencana pengeboran;

c.2. Informasi mengenai rencana pengeboran;

c.3. Foto copy Izin Usaha Pengeboran Air Tanah (IUPAT), Surat Tanda Isntalansi Bor (STIB) yang masih berlaku;

c.4. Tanda Bukti Kepemilikan 1 (satu) buah sumur pantau yang dilengkapi alat perekam otomatis muka air (Automartic Water Level Recorder / AWLR) bagi pemohon ke 5 (lima) atau kelipatannya atau jumlah pengambilan air bawah tanah sama atau lebih besar dari 50 (lima puluh) L / detik dari 1 (satu) atau beberapa sumur pada kawasan kurang dari 10 (sepuluh) Hektar;

c.5. Persyaratan lainnya ditetapkan oleh Kepala Unit Kerja.

D. Izin pengambilan Air (IPA) dan izin Pengambilan Mata Air (IPMA) :

d.1. Izin Pengeboran (IP);

d.2. Gambar Penampang LItologi / batuan dan hasil rekaman logging sumur;

d.3. Gambar bagan penampang penyelesaian kontruksi sumur Bor;

d.4. Berita acara pengawasan pemasangan kontruksi Bor;

d.5. Berita acara uji pemompaan; d.6. Laporan uji pemompaan;

d.7. Hasil analisis fisika dan kimia air bawah tanah. Bagian Ketiga

Masa Berlaku dan Daftar Ulang Izin Pasal 22

(1) Masa berlaku IE sebagai mana dimaksud dalam Pasal 21 ayat 2 huruf a, diberikan selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang kembali apabila memenuhi persyaratan.

(26)

Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Cukup Jelas Pasal 6 Cukup Jelas Pasal 7 Cukup Jelas Pasal 8 Cukup Jelas Pasal 9 Cukup Jelas 593 (2) Masa berlaku IUPAT sebagaimana dimaksud dalam Pasal

21 ayat 2 huruf b, diberikan selama 3 (tiga) tahundan dapat diperpanjang kembali apabila memenuhi persyaratan. (3) Masa berlaku IP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21

ayat 2 huruf c, diberikan selama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali selama 3 (tiga) bulan, dan hanya pada lokasi yang diajukan dalam permohonan.

Pasal 23

(1) Izin pengambilan air bawah tanah berlaku selama kondisi air bawah tanah dan air permukaan disekitarnya masih memungkinkan untuk dimanfaatkan ditinjau dari segi teknis Hidrogeologi.

(2) Pemegang IPA dan IPMA wajib mendaftar ulang izin yang dimiliki setiap 2 (dua) tahun sekali, dengan mengajukan permohonan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum berakhirnya daftar.

Bagian Keempat Pencabutan Izin

Pasal 24

(1) IE dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi apabila pemegang izin tidak mengajukan perpanjangan izin. (2) IUPAT dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi apabila

pemegang izin tidak mengajukan perpanjangan izin. (3) IP dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi apabila:

a. Pemegang izin tidak mengajukan perpanjangan izin; b. Izin kembalikan oleh pemegang izin;

c. Pemegang izin tidak memenuhi ketentuan yang tercantum dalam surat izin;

(4) IPA dan IPMA dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi apabila :

a. Pemegang izin tidak mengajukan permohonan perpanjangan atau daftar ulang;

b. Izin dikembalikan oleh pemegang izin;

c. Pemegang izin tidak memenuhi ketentuan yang tercantum dalam surat izin;

(27)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 24 TAHUN 2007

TENTANG

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR AIR MINUM DENGAN SISTEM TAHUN JAMAK

I. UMUM

Kota Dumai dengan posisi yang memiliki geostrategis secara internasional dan memiliki bentang garis pantai yang sangat menunjang perkembangan Kota Dumai pada masa yang akan datang sesuai dengan perencanaan Nasional sebagai daerah Pengembangan kawasan andalan untuk kegiatan Pelabuhan, Industri, Perdagangan, Jasa dan Pariwisata. Pemerintah Kota Dumai telah menyusun Renstra dengan arahan prioritas yang memuat visi, misi dan program satuan kerja perangkat daerah yang mana dipandang perlu menetapkan Pengikatan Dana Anggaran Kegiatan Tahun Jamak dengan Peraturan Daerah.

Pembiayaan infrastruktur air minum dimana dengan keterbatasan dana menyebabkan tidak mungkin bagi pemda membiayai dalam satu tahun anggaran.

Pendanaan ditujukan untuk dua kegiatan yaitu : pengembangan dan up rating.

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Cukup Jelas 592

d. Berdasarkan pertimbangan teknis menimbulkan dampak negatif yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. (5) Tata cara pencabutan izin sebagaimana yang dimaksud

pada ayat (2), ayat (3) dan ayat (4), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.

Bagian Kelima

Hak dan kewajiban Pemegang Izin Paragraf 1

Hak Pemegang Izin Pasal 25

(1) Pemegang IE berhak melakukan kegiatan ekplorasi air bawah tanah sesuai dengan izin yang diberikan.

(2) Pemegang IUPAT berhak melakukan usaha dibidang pengeboran air dibawah tanah sesuai dengan izin yang diberikan.

(3) Pemegang IP berhak melakukan pengeboran, penggalian dan penurapan dengan izin yang diberikan.

(4) Pemegang IPA dan IPMA berhak melakukan pengambilan air sesuai dengan izin yang diberikan.

Pragraf 2

Kewajiban Pemegang Izin Pasal 26

(1) Pemegang IE berkewajiban :

a. Melaporkan hasil kegiatan eksplorasi air bawah tanah secara tertulis setiap 1 ( Satu ) Bulan sekali Kepada Kepala Unit Kerja;

b. Memelihara dan Bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan;

c. Menghentikan kegiatan eksplorasi air bawah tanah serta mengusahakan penanggulangannya apabila dalam pelaksanaannya ditemukan kelainan-kelainan yang dapat menganggu kelestarian sumber air bawah tanah dan lingkungan hidup.

Referensi

Dokumen terkait

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437),

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437),

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor