• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan KP Indra Asahimas Chemical Cilegon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan KP Indra Asahimas Chemical Cilegon"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Indra Saputra
  • Pengajar:
    • Dr. Eny Kusrini, S.Si
    • Dr. Ir. Yuliusman, M.Eng.
  • Sekolah: Universitas Indonesia
  • Mata Pelajaran: Teknik Kimia
  • Topik: Studi Proses Produksi Polyvinyl Chloride (PVC) Pada PT. Asahimas Chemical Cilegon
  • Tipe: laporan kerja praktik
  • Tahun: 2015
  • Kota: Depok

I. PROFIL PERUSAHAAN PT

PT. Asahimas Chemical (PT. ASC) adalah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang berfokus pada produksi bahan kimia dasar untuk memenuhi kebutuhan industri nasional. Didirikan pada 8 September 1986, perusahaan ini telah mengalami beberapa kali ekspansi, meningkatkan kapasitas produksi dan nilai investasi. Saat ini, PT. ASC adalah pabrik Chlor Alkali-Vinyl Chloride terpadu terbesar di Asia Tenggara, menghasilkan produk-produk penting seperti Caustic Soda, Ethylene Dichloride, dan Polyvinyl Chloride.

1.1 Gambaran Umum

PT. ASC beroperasi di lahan seluas lebih dari 90 hektar dan mempekerjakan lebih dari seribu karyawan. Perusahaan ini berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor dan telah meraih sertifikasi ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001, menunjukkan dedikasi terhadap kualitas produk dan keselamatan kerja.

1.2 Struktur Organisasi

Struktur organisasi PT. ASC terdiri dari Dewan Komisaris, Dewan Direktur, Manajer Divisi, dan staf operasional. Setiap posisi memiliki tanggung jawab yang jelas untuk memastikan pencapaian tujuan perusahaan. Dewan Komisaris dan Direktur bertindak sebagai perwakilan pemegang saham, sedangkan manajer dan staf bertanggung jawab atas operasional sehari-hari.

1.3 Pengaturan dan Iklim Kerja

Manajemen PT. ASC dan Serikat Pekerja telah menyusun Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang mengatur berbagai aspek hubungan kerja, termasuk jam kerja, sistem pengupahan, dan keselamatan kerja. Ini menciptakan iklim kerja yang kondusif dan berkeadilan bagi semua karyawan.

1.4 Kebijakan Perusahaan

Kebijakan perusahaan menekankan pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja, pelestarian lingkungan, dan mutu produk. PT. ASC berkomitmen untuk mengidentifikasi risiko dan mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi karyawan dan lingkungan.

1.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PT. ASC menerapkan Sistem Manajemen K3 untuk melindungi karyawan dari risiko kecelakaan dan gangguan kesehatan. Program-program keselamatan mencakup pelatihan, pemeriksaan kesehatan tahunan, dan kegiatan pencegahan untuk memastikan lingkungan kerja yang aman.

1.6 Pengelolaan Lingkungan

Dengan proses produksi yang melibatkan bahan kimia berbahaya, PT. ASC mengoperasikan instalasi pengolahan limbah untuk mengelola limbah cair dan gas. Pengelolaan ini dilakukan sesuai dengan standar yang ditetapkan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

II. DESKRIPSI PROSES PRODUKSI

PT. ASC memiliki empat pabrik utama: Chlor Alkali Plant, VCM Plant, PVC Plant, dan Utility Plant. Setiap pabrik berfungsi secara terintegrasi, di mana produk dari satu pabrik digunakan sebagai bahan baku di pabrik lainnya. Deskripsi proses produksi akan memberikan wawasan tentang metode dan teknologi yang digunakan dalam setiap pabrik.

2.1. Bahan Baku dan Hasil Produksi

Bahan baku utama untuk proses produksi di PT. ASC meliputi Etilen, Garam Industri, Tenaga Listrik, Oksigen, dan Air Industri. Dari bahan baku ini, perusahaan dapat memproduksi berbagai produk kimia dasar seperti Caustic Soda, Sodium Hypochlorite, dan Polyvinyl Chloride.

2.2. Proses Produksi pada Integrated Plant

Proses produksi di PT. ASC melibatkan beberapa tahap, termasuk produksi Etilen di Chlor Alkali Plant, pemurnian EDC, dan produksi VCM. Setiap tahap memerlukan teknologi khusus untuk memastikan efisiensi dan kualitas produk akhir.

2.2.1 Chlor Alkali Plant (Pabrik C/A)

Proses di Chlor Alkali Plant dimulai dengan pelarutan garam, diikuti dengan pemurnian larutan garam dan proses elektrolisa untuk menghasilkan gas Hidrogen, gas Klorin, dan cairan NaOH. Teknologi yang digunakan di pabrik ini berfokus pada pengurangan polusi dan efisiensi energi.

2.2.2 EDC & VCM Plant

Produksi VCM dari Etilen melibatkan klorinasi langsung dan oksiklorinasi. EDC yang dihasilkan kemudian dimurnikan dan direngkah untuk menghasilkan VCM dan HCl. Proses ini memerlukan kontrol yang ketat untuk memastikan kualitas produk.

2.2.3 PVC Plant

Pabrik PVC menggunakan proses suspensi untuk memproduksi PVC dari VCM. Proses ini melibatkan beberapa tahap, termasuk polimerisasi, demonomer, pengeringan, dan pengepakan. Setiap tahap dirancang untuk memaksimalkan efisiensi dan meminimalkan limbah.

2.3. Proses Pendukung (Utility Plant)

Utility Plant menyediakan semua kebutuhan material pendukung untuk proses produksi, termasuk pengolahan air, pemisahan gas, dan penyediaan energi. Unit-unit ini berfungsi untuk memastikan bahwa proses produksi berjalan lancar dan efisien.

III. ALAT DAN INSTRUMENTASI PROSES

Proses produksi di PT. ASC didukung oleh berbagai alat dan instrumentasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk. Spesifikasi alat utama dan pendukung akan dijelaskan untuk memberikan gambaran tentang teknologi yang digunakan.

3.1 Spesifikasi Alat Utama

Proses produksi di PVC Plant dibagi menjadi empat seksi: polimerisasi, demonomer, VCM recovery, dan storage. Setiap seksi dilengkapi dengan alat utama yang memiliki spesifikasi tertentu untuk mendukung fungsi masing-masing proses.

3.2 Spesifikasi Alat Pendukung

Alat pendukung berfungsi untuk meningkatkan kinerja alat utama. Spesifikasi alat pendukung seperti pompa, tangki, dan sistem kontrol akan dijelaskan untuk menunjukkan bagaimana alat-alat ini berkontribusi pada keseluruhan proses produksi.

IV. SISTEM UTILITAS

Sistem utilitas di PT. ASC mencakup penyediaan air, steam, tenaga listrik, dan udara bertekanan. Setiap sistem dirancang untuk mendukung proses produksi dengan efisiensi maksimal dan menjaga kualitas produk.

4.1 Sistem Penyediaan Air

Sistem penyediaan air terdiri dari beberapa unit, termasuk unit pengolahan air, air demineralisasi, dan air untuk kebutuhan rumah tangga. Setiap unit berfungsi untuk memastikan ketersediaan air berkualitas untuk proses produksi dan kebutuhan operasional lainnya.

4.2 Sistem Penyediaan Steam

Sistem penyediaan steam mencakup beberapa jenis steam dengan tekanan yang berbeda, digunakan untuk berbagai kebutuhan dalam proses produksi. Sistem ini dirancang untuk memastikan ketersediaan steam yang stabil dan efisien.

4.3 Sistem Penyediaan Tenaga Listrik

Sistem penyediaan tenaga listrik di PT. ASC berfungsi untuk mendukung semua operasional pabrik. Keandalan dan efisiensi sistem ini sangat penting untuk menjaga kelancaran proses produksi.

4.4 Sistem Penyediaan Udara Bertekanan

Sistem penyediaan udara bertekanan digunakan untuk berbagai aplikasi, termasuk pengoperasian alat dan proses. Udara bertekanan dihasilkan melalui kompresi dan dipastikan kualitasnya untuk mencegah kontaminasi.

V. PENGOLAHAN LIMBAH

PT. ASC menerapkan sistem pengolahan limbah yang komprehensif untuk mengelola limbah yang dihasilkan selama proses produksi. Pengolahan ini dilakukan sesuai dengan standar lingkungan yang berlaku.

5.1 Pengolahan Limbah Gas

Pengolahan limbah gas di PT. ASC dilakukan dengan teknologi yang dirancang untuk mengurangi emisi berbahaya ke atmosfer. Proses ini termasuk pemantauan dan pengendalian untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.

5.2 Pengolahan Limbah Padat

Limbah padat yang dihasilkan selama produksi dikelola melalui proses pembakaran dan daur ulang. Instalasi pengolahan limbah padat berfungsi untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan dan memanfaatkan kembali material yang masih dapat digunakan.

5.3 Pengolahan Limbah Cair

Pengolahan limbah cair dilakukan melalui instalasi pengolahan air limbah yang efektif. Proses ini memastikan bahwa limbah cair yang dihasilkan memenuhi standar kualitas sebelum dibuang ke lingkungan.

VI. TUGAS KHUSUS

Laporan ini juga mencakup tugas khusus yang dilakukan selama kerja praktik, termasuk analisis dan desain sistem pendingin yang digunakan dalam proses produksi. Tugas ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang aspek teknis dan operasional di PT. ASC.

6.1 Latar Belakang

Latar belakang tugas khusus ini berfokus pada pentingnya sistem pendingin dalam menjaga efisiensi operasional pabrik. Sistem pendingin yang efektif dapat mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan kinerja proses.

6.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam tugas khusus ini mencakup tantangan yang dihadapi dalam desain sistem pendingin, termasuk pemilihan teknologi dan material yang tepat untuk mencapai efisiensi maksimal.

6.3 Tujuan

Tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk merancang sistem pendingin yang memenuhi kebutuhan operasional pabrik dan mematuhi standar lingkungan yang berlaku. Desain ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja pabrik secara keseluruhan.

6.4 Ruang Lingkup

Ruang lingkup tugas khusus ini mencakup analisis sistem pendingin yang ada, perbandingan dengan teknologi alternatif, dan rekomendasi untuk perbaikan. Hal ini bertujuan untuk memberikan solusi yang praktis dan berkelanjutan.

VII. TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka mencakup literatur yang relevan mengenai sistem pendingin, teknologi pengolahan, dan praktik terbaik dalam industri kimia. Referensi ini digunakan untuk mendukung analisis dan rekomendasi yang diberikan dalam laporan.

7.1 Sistem Pendingin pada Heat Exchanger

Sistem pendingin sangat penting dalam proses industri untuk mengontrol suhu dan menjaga efisiensi. Heat exchanger yang tepat dapat mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan produktivitas.

7.2 Air Cooled Heat Exchanger

Air cooled heat exchanger adalah salah satu jenis sistem pendingin yang menggunakan udara sebagai media pendingin. Teknologi ini sering digunakan karena efisiensinya dalam mengurangi biaya operasional.

7.2.1 Jenis Air Cooled Heat Exchanger

Berbagai jenis air cooled heat exchanger memiliki karakteristik dan aplikasi yang berbeda. Pemilihan jenis yang tepat bergantung pada kebutuhan spesifik proses dan kondisi operasional.

7.2.2 Tube Bundle

Tube bundle merupakan komponen penting dalam heat exchanger yang mempengaruhi efisiensi perpindahan panas. Desain dan material tube bundle harus dipilih dengan hati-hati untuk mencapai performa optimal.

7.2.3 Jenis Fin

Fin digunakan untuk meningkatkan area permukaan dalam heat exchanger, sehingga meningkatkan efisiensi perpindahan panas. Pemilihan jenis fin yang tepat dapat berdampak signifikan pada kinerja sistem pendingin.

7.3 Kelebihan dan kekurangan ACHE

Air Cooled Heat Exchanger (ACHE) memiliki kelebihan seperti efisiensi tinggi dan biaya operasional rendah, namun juga memiliki kekurangan seperti ketergantungan pada kondisi lingkungan. Analisis mendalam diperlukan untuk menentukan kelayakan penggunaannya.

VIII. DESAIN DAN ANALISIS

Bagian ini membahas desain sistem pendingin yang diusulkan, termasuk data desain, hasil perhitungan, dan analisis perbandingan antara sistem yang ada dan sistem yang diusulkan.

8.1 Data Desain

Data desain mencakup parameter teknis yang diperlukan untuk merancang sistem pendingin yang efisien. Parameter ini harus dipertimbangkan dengan cermat agar sistem yang dihasilkan memenuhi kebutuhan operasional.

8.2 Hasil Perhitungan dan Desain

Hasil perhitungan menunjukkan kinerja sistem pendingin yang diusulkan dibandingkan dengan sistem yang ada. Desain ini didasarkan pada analisis kebutuhan energi dan efisiensi perpindahan panas.

8.3 Perbandingan ACHE dan Water Cooling System

Perbandingan antara Air Cooled Heat Exchanger dan Water Cooling System menunjukkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem. Analisis ini membantu dalam pengambilan keputusan mengenai teknologi yang akan digunakan.

8.4 Analisis dan Pembahasan

Analisis mendalam tentang desain sistem pendingin mencakup diskusi mengenai efisiensi, biaya, dan dampak lingkungan. Pembahasan ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi yang berkelanjutan dan praktis.

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dari laporan ini merangkum temuan utama dan memberikan saran untuk perbaikan di masa mendatang. Rekomendasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keberlanjutan di PT. ASC.

9.1 Kesimpulan

Kesimpulan laporan ini menunjukkan bahwa PT. ASC telah menerapkan berbagai praktik terbaik dalam produksi dan pengolahan limbah. Namun, masih ada ruang untuk perbaikan dalam hal efisiensi energi dan pengelolaan limbah.

9.2 Saran

Saran yang diberikan mencakup pengembangan teknologi baru, peningkatan sistem pengolahan limbah, dan pelatihan karyawan untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan dan kesehatan kerja. Upaya ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan perusahaan.

Referensi Dokumen

  • Jurnal Air Cooled Heat Exchanger Section 10

Gambar

Gambar 1. 1 Blok Diagram Proses di PT. Asahimas Chemical (Sumber: ASC, 2015)
Tabel 2. 1 Perbandingan proses Chlor-Alkali
Diagram   di   bawah   ini   menunjukkan   masing-masing   seksi   dari keseluruhan proses produksi VCM
Tabel 3. 2 Spesifikasi Alat Utama pada Seksi Demonomer dan Drying
+7

Referensi

Dokumen terkait

Di samping itu, komposisi dan karakteristik sampah dari tahun ke tahun bergeser ke arah sampah yang lebih kompleks, termasuk adanya kandungan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Di samping itu, komposisi dan karakteristik sampah dari tahun ke tahun bergeser ke arah sampah yang lebih kompleks, termasuk adanya kandungan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Kegiatan / usaha yang ada di Kabupaten Bojonegoro yang berpotensi menghasilkan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) sesuai dengan klasifikasi sebagaimana Peraturan Pemerintah

Sampah B3 yaitu sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan atau produksi yang mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung

Limbah cair sebagai hasil samping dari aktivitas industri sering menimbulkan permasalahan bagi lingkungan.Limbah cair yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun

Timbulan limbah B3 yang dihasilkan oleh pabrik ini sudah tentu dalam jumlah yang   besar, mengingat banyaknya bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi

Penilaian Kesesuaian a K3 Lingkungan Kerja dan Bahan Kimia Bahaya Beracun 1 Terdapat rambu-rambu di ruang penyimpanan tabung 2 Terdapat eye washer di ruang TPS B3 3 Terdapat ruangan

Tugas penanganan untuk tumpahan B3, ppt, slide. Membahas peralatan yang digunakan, jenis jenis tumpahan, tahapan penanganan tumpahan, spill kit, serta mitigasi tumpahan. B3 merupakan singkatan dari Bahan Berbahaya dan Beracun. ● B3 adalah zat, energi, atau komponen lain yang memiliki karakteristik, konsentrasi, dosis , mempengaruhi suatu lingkungan hidup dapat tercemar langsung atau tidak langsung, membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan hidup. ● Penggunaan bahan kimia dapat ditemukan sehari- hari bahkan pada barang-barang di rumah. ● Penggunaan bahan kimia harus dilakukan dengan hati-hati, seperti alat yang digunakan, APD (Alat Pelindung Diri), dan lainnya. ● Paparan bahan kimia (tergantung pada sifatnya) dapat menyebabkan bahaya kesehatan, lingkungan. Dampaknya dari yang kronis hingga akut. Dapat berefek jangka Panjang atau pendek, bahkan dapat menurunkan kemampuan organ. Dampak pada lingkungan seperti pencemaran udara, air, tanah, termasuk pada mahluk hidup di dalamnya. ● Tumpahan adalah ketika sejumlah volume besar ataupun kecil keluar atau lepas tidak dapat dikendalikan ● Penyebab tumpahan bisa dari alam atau manusia. Alam = gempa, angin topan, kebakaran dan letusan dari gunung. Manusia = bisa dari penanganan yang tidak aman, penyimpanan kurang tepat, dengan kata lain human