• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku K3 Polban2.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Buku K3 Polban2.pdf"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

Tujuan Pembelajaran Umum:

Mahasiswa mempunyai wawasan dasar tentang K3 sehingga mempunyai sikap selalu mengutamakan keselamatan (diri sendiri, orang lain, peralatan dan lingkungan kerja) dalam segala situasi;

Mahasiswa dapat menerapkan konsep K3 dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di tempat kerja maupun di tempat lain guna menghindari kecelakaan, kebakaran, dan peledakan serta penyakit akibat kerja

Tujuan Pembelajaran Khusus:

Setelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan mampu: Menjelaskan pentingnya K3 bagi mahasiswa politeknik;

Menjelaskan kesamaan dan perbedaan permasalahan keselamatan pada zaman dahulu dan sekarang (modern);

1.1 Apakah K3?

Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau yang disingkat dengan K3 merupakan suatu konsep pencegahan kecelakaan, kebakaran, ledakan dan penyakit akibat kerja. Sesuai dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, K3 dimaksudkan untuk menyelamatkan para karyawan dan orang lain di tempat kerja, peralatan dan lingkungan kerja. Dengan K3 ini diharapkan para karyawan terlindungi dari kecelakaan kerja dan terhindar dari penyakit akibat kerja. Di samping itu, dengan penerapan K3 di tempat kerja para pekerja akan merasa nyaman bekerja karena tidak ada bahaya yang mengancam, tempat kerja tertata dengan baik, bersih dan nyaman. Dengan kenyamanan kerja yang dirasakan oleh para pekerja akan meningkatkan gairah kerja yang dapat memberikan produktivitas kerja yang tinggi. Dengan penerapan K3 juga akan mencegah penyakit akibat kerja bagi para karyawan. Alhasil, kesehatan para pekerja juga akan terjamin.

1.2. K3 dan Perkembangan Zaman

Terkait dengan masalah bahaya terhadap keselamatan, sebenarnya tidak ada bedanya dari zaman kuno dahulu sampai dengan zaman yang sudah maju dan modern seperti sekarang ini. Sebagai contoh, pada zaman kuno dahulu, manusia tidak lepas dari ancaman binatang-binatang buas yang ada di sekitarnya. Untuk dapat terbebas dari ancaman tersebut mereka membuat tempat peristirahatan di atas pohon atau membuat rumah-rumah panggung. Dengan kemampuan pikirnya mereka membuat peralatan-peralatan dari kayu, batu-batuan sebagai senjata untuk mempertahankan hidup dan melindungi diri dari bahaya-bahaya yang ada. Namun dengan adanya, misalnya, tempat peristirahatan di atas pohon atau rumah-rumah panggung, manusia harus membuat tangga untuk dapat mencapai ke atas. Dengan adanya tangga ini membawa dampak

BAB 1

PENDAHULUAN

(2)

negatif, yaitu bahaya terjatuh atau tertimpa tangga. Demikian pula dengan senjata-senjata yang dibuat untuk mempertahankan hidup, dapat pula memberikan ancaman bagi dirinya sendiri maupun warga di sekitarnya sebagaimana yang diilustrasikan pada Gambar 1.1 dan 1.2.

K3 dan Perkembangan Zaman

Terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), tidak ada yang baru bagi kita. Mulai zaman kuno dahulu sampai dengan sekarang, kita tak pernah lepas dari ancaman bahaya. Sebagai contoh, pada zaman dahulu sebagaimana yang telah diilustrasikan di atas. Suku-suku di pedalaman harus mampu bertahan dari ancaman binatang-binatang buas dengan menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya, misalnya dengan menciptakan senjata dari batu, dari batang kayu (Gambar 1.1), mendirikan rumah-rumah bermeter- meter di atas permukaan tanah agar tidak terjangkau oleh binatang-binatang buas yang ada di permukaan tanah.

Hasil kreasi yang dimaksudkan sebagai pengaman terhadap dirinya tersebut juga akan menimbulkan bahaya-bahaya yang baru. Sebagai contoh, alat-alat pengaman seperti martil batu yang digunakan untuk memukul binatang buas bisa jadi ketika digunakannya mengenai orang lain yang di sekitar, atau rumah yang tinggi di atas permukaan tanah membutuhkan tangga, tangga itu sendiri akan menimbulkan bahaya baru. (Lihat Gambar 1.2)

Coba sekarang bandingkan dengan kehidupan kita yang ada pada era modern ini, semakin banyak industri kecil maupun besar, peralatan-peralatan juga semakin canggih. Lalu semakin amankan kita? Jawabnya adalah tidak. Semakin tinggi

Gambar 1.1 Untuk

mempertahankan hidup diperlukan senjata

Gambar 1.2 Suatu kreasi selalu ada konsekwensi

(3)

teknologi yang berhasil kita ciptakan akan semakin tinggi pula konsekwensi terhadap keselamatan yang harus ditanggung.

Jadi, sekali lagi tidak ada yang baru di dunia ini bila berbicara tentang bahaya terhadap keselamatan. Mulai dunia diciptakan sampai dengan saat ini dan waktu-waktu yang akan datang bahaya akan tetap ada di sekitar kita. Bahkan semakin tinggi tingkat teknologi, konsekwensi bahaya yang akan ditimbulkan akan semakin tinggi pula.

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa pada zaman kuno dahulu dalam menjaga keselamatan cukup menggunakan naluri semata, sedangkan untuk zaman modern, di mana teknologi telah berkembang seperti sekarang ini hal itu tidaklah cukup, melainkan perlu ilmu pengetahuan, keterampilan dan teknologi yang memadai. Sebagai contoh, bila teknologi transportasi kita hanya sampai pada teknologi becak, maka masalah pengamanannya tidaklah serumit bila kita menggunakan mobil, pesawat terbang atau pesawat ulang alik, di mana aspek keselamatannya semakin banyak dan rumit.

Dengan transportasi becak aspek keselamatan terbatas pada kekuatan konstruksi, ban, rem dan keseimbangannya dan tidak pernah mendengar kecelakaan akibat alat transportasi ini menimbulkan akibat yang fatal seperti luka parah atau meninggal dunia. Sebaliknya dengan alat transportasi modern, seperti kendaraan bermotor dengan kecepatan yang sangat tinggi, atau pesawat luar angkasa yang beroperasi di daerah yang memiliki karakteristik lingkungan yang sama sekali berbeda-beda, demikian rentannya terhadap kecelakaan (Gambar 1.3). Sebagai penyebabnya adalah semakin meningkatnya jumlah dan kualitas potensi bahaya yang dimilikinya dalam menjalankan fungsinya. Mungkin melibatkan puluhan bahkan ribuan aspek keselamatan yang harus dipertimbangkan agar alat bisa beroperasi secara aman.

(4)

Begitu pula dengan perkembangan di dunia industri, semakin modern dan canggih sistem peralatan, maka akan semakin rumit pula aspek keselamatannya. Coba bila Anda perhatikan, kondisi industri seperti pabrik-pabrik kimia, manufaktur, dan pembangkit tenaga listrik, pastilah akan Anda temukan betapa kompleks sistem dan juga aspek keselamatannya untuk menjamin agar sistem produksi/operasinya bisa berjalan dengan baik dan aman.

Terkait dengan itu, kita sebagai seorang praktisi/calon p raktisi di dunia kerja perlu belajar dan melatih diri sehingga mampu menjaga keselamatan kita, orang-orang di sekitar kita, peralatan-peralatan dan lingkungan sekitar kita sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan peraturan perundangan lain yang terkait.

Matakuliah ini dimaksudkan untuk memberikan prinsip-prinsip keselamatan dan kese-hatan kerja dengan harapan bahwa kita selalu mengutamakan keselamatan (safety

first) dalam segala tindakan. Dengan demikian dalam bekerja kita selalu mematuhi

sistem prosedur yang telah ditetapkan, menggunakan cara-cara dan sikap yang benar dan tidak lepas dari aspek keselamatan. Dengan adanya kesadaran dan kewaspadaan seperti ini niscaya keselamatan akan tetap terjaga.

(5)

BAB 2

PENCEGAHAN KECELAKAAN

(ACCIDENT PREVENTION)

Tujuan Pembelajaran Khusus:

Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan mampu:

1. Menjelaskan definisi, pengaruh dan kerugian akibat kecelakaan; 2. Menjelaskan penyebab-penyebab kecelakaan kerja;

3. Menjelaskan konsep pencegahan kecelakaan melalui pendekatan sub-sub sistem dalam perusahaan dan prinsip “domino sequence”;

4. Menjelaskan tip-tip praktis tentang pencegahan kecelakan di tempat kerja

2.1. Pendahuluan

Seiring dengan laju program industrialisasi di negara-negara yang sedang membangun, khususnya Indonesia, telah disepakati bahwa masalah Keselamatan dan Ke sehatan Kerja merupakan masalah yang sangat penting untuk dilaksanakan. Pengalaman telah membuktikan bahwa akibat tidak dipatuhinya K3 banyak terjadi peris tiwa-peristiwa seperti terbakarnya suatu industri, meledaknya tangki-tangki bahan bakar atau kecelakaan lain yang banyak memakan korban baik harta maupun jiwa.

Memang tidak dapat dipungkiri, dengan masih sangat tingginya tingkat kecelakaan yang ada di Indonesia menunjukkan masih perlunya penyuluhan, pembinaan dan pe ngawasan terhadap dipatuhinya program K3 ini. Salah satu bagian dari program K3 yang sangat penting adalah Pencegahan Kecelakaan (Accident Prevention). Semua pihak yang terlibat dalam proses produksi perlu memahami, menghayati dan mene rapkan prinsip-prinsip pencegahan kecelakaan ini.

2.2. Data Kecelakaan

Di Amerika bagian utara, setiap tahunnya sebanyak 125.000 orang mengalami kecelakaan fatal, 500.000 orang mengalami cacat tetap seperti kehilangan mata, tangan, dan lainnya yang cedera sehingga ia tidak dapat masuk kerja lebih dari satu hari. Kalau kerugian akibat kecelakaan tersebut dinilai dengan uang, diperoleh angka yang menakjubkan, yaitu 40 milyar dolar per tahun.

Data-data dari industri menunjukkan bahwa 15 dari setiap juta pegawai mengalami kecelakaan fatal, sedangkan kecelakaan yang terjadi di rumah tangga 12 orang meninggal dari setiap juta penduduk. Yang terjadi di jalan raya (1974) tercatat 46200 meninggal dan 1,5 juta orang cidera.

Kemudian yang terjadi di perminyakkan akibat kebakaran besar, rata-rata menimbulkan kerugian 37 juta dolar, angka ini menunjukkan suatu kenaikan sebesar 30% dari dasa

(6)

warsa sebelumnya (Effective loss prevention, MJ Crowe). Namun dengan diterapkannya keselamatan kerja tingkat kecelakaan menurun secara drastis dari tahun ke tahun.

2.3. Pengaruh Kecelakaan

Bila kecelakaan menimpa seseorang, akibat yang ditimbulkannya tidak terbatas pada yang tertimpa kecelakaan itu sendiri, namun melip uti keluarga, perusahaan di mana dia bekerja dan negara. Banyak pengaruh kecelakaan ini, dan untuk memberikan ilustrasi yang lebih jelas, berikut adalah beberapa contoh tentang pengaruh kecelakaan.

2.3.1. Pengaruh terhadap Pegawai yang bersangkutan Menderita (sakit,takut, dll)

Tidak mampu untuk selama- lamanya

Tidak mampu malaksanakan pekerja semula Pengaruh psikologis

Kehilangan pendapatan

Tidak dapat/sukar mengikuti kehidupan sosial yang baik.

Gambar 2.1 Pengaruh kecelakaan

Jelas bahwa seseorang yang mengalami kecelakaan merupakan pihak yang paling menderita baik secara fisik, material dan juga psikologis. Oleh karena itu, jagalah diri Anda dari kecelakaan dengan selalu mengutamakan keselamatan dalam menjalankan aktivitas.

2.3.2. Pengaruh terhadap keluarga yang bersangkutan Kehilangan seseorang yang dicintainya

Kehilangan seseorang pemberi nafkah bagi keluarga Kegiatan dalam masyarakat menjadi kurang/terbatas

Berdasarkan, penderitaan yang dijelaskan, perlu disadari bahwa keselamatan tidak terbatas pada diri sendiri, namun keluarga pun akan ikut menderita jika ada yang mengalami kecelakaan fatal. Hindarkanlah keluarga Anda dari penderitaan dengan selalu mengutamakan kesalamatan.

(7)

2.3.3. Kerugian perusahaan te rhadap kecelakaan Kerugian waktu sikorban

Kerugian waktu kerja pegawai Kerugian waktu kerja pengawas Biaya pertolongan pertama Biaya kerusakan mesin (bila ada) Biaya kerusakan bahan (bila ada) Biaya terganggunya produksi

Biaya akibat “claim” pemesan bila terjadi kelambatan penyerahan barang Biaya pembayaran dana sosial

Kemunduran moral pegawai

Biaya pengadilan jika ada pelanggaran peraturan

Demikian luas kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan. Bila hal-hal di atas dihitung dalam bentuk rupiah maka sangatlah besar bila kecelakaan menimpa salah seorang karyawannya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila perusahaan akan menerapkan pelaksanaan K3 ini secara sangat ketat termasuk dalam pemberian sangsi kepada karyawannya bila melakukan pelanggaran peraturan K3 ini.

2.3.4. Kerugian negara

Kehilangan pegawai yang terampil; Kekurangan tenaga terampil;

Mengurangi minat orang untuk menerima pekerjaan tersebut.

Ternyata Negara pun ikut mengalami kerugian bila salah seorang tenaga kerjanya yang berkualitas mengalami kecelakaan. Secara makro, hal ini akan sangat berpe ngaruh terhadap proses perkembangan dan pembangunan bangsanya. Betapa ma hal biaya pencetakaan seorang tenaga terampil. Anda bisa membayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sekolah, latihan dan lain sebagainya sampai menjadi terampil, berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan? Ini hendaknya menjadi renungan dan membuka kesadaran kita seluas- luasnya dalam pencegahan kecelakaan.

2.4. Apakah Kecelakaan itu?

Banyak pendapat mengenai kecelakaan. Berikut ini beberapa pendapat mengenai kecelakaan kerja yang bisa kita gunakan sebagai dasar pemikiran.

Khong Hu Cu:

Kecelakaan merupakan suatu statistik jika menimpa orang lain dan merupakan suatu kejadian yang menyedihkan apabila menimpa saudara atau keluarga

sendiri.

H.H. Berman dan W.W. Mc Cron (Applied Safety Engineering):

“Kecelakaan adalah suatu kejadian tiba tiba yang merintangi suatu pekerjaan atau aktifitas”.

(8)

Dr. L.P Alford (The Moral Responsibility of Management ):

“Kecelakaan dalam industri harus dianggap sebagai suatu bukti adanya kesalahan dalam pengawasan terhadap kondisi kerja”.

Sudah jelas bahwa kecelakaan merupa kan suatu kejadian yang tiba-tiba dan tak diharapkan yang menimbulkan kerugian. Kecelakaan juga merupakan bukti adanya kesalahan dalam pengawasan terhadap kondisi kerja. Secara manajemen, pe nang-gungjawab utama dalam pengawasan ini adalah organisasi dan karyawan sebagai ujung tombak dalam suatu proses produksi dan oleh karenanya harus selalu mengutamaka n kelamatan.

2.5. Penyebab Kecelakaan

Kecelakaan kerja tidak terjadi dengan begitu saja, akan tetapi pasti ada penyebabnya. Penyebab inilah yang harus ditemukan untuk dapat mencegah terjadinya kecelakaan yang sama pada waktu yang akan datang. Secara umum ada tiga penyebab utama terjadinya kecelakaan, yaitu tindakan tidak aman (unsafe action), kondisi lingkungan tidak aman (unsafe condition) dan fenomena alam.

2.5.1. Tindakan tidak aman

Bekerja tanpa memperhatikan tanda-tanda; Bekerja tidak menggunakan alat pengaman; Membuat alat pengaman tidak berfungsi;

Mempergunakan alat tidak sesuai dengan fungsinya; Menempatkan barang tidak sesuai aturan;

Mengambil tempat/posisi yg salah (pada bagian mesin yang bergerak); Gambar 2.2 Penyebab kecelakaan

(9)

Mengejutkan, menggoda.

2.5.2. Kondisi lingkungan tidak aman Mesin dengan desain yang kurang baik; Alat/mesin yang sudah aus/rusak; Housekeeping yang kurang baik;

Iluminasi dan ventilasi yang tidak memadai; Alat keselamatan diri yang kurang baik. 2.5.3. Fenomena alam

Petir, Hujan, Badai, Banjir, Gempa bumi, dan Kebakaran hutan

Dari ketiga penyebab di atas, penyebab 1 dan 2 yang paling dominan. Hal ini pernah di buktikan oleh H .W. Heinrich dalam penelitian yang pernah dilakukan, bahwa penyebab kecelakaan 88 % oleh manusia, 10 % oleh keadaan lingkungan yang tidak aman dan sisanya, 2 % oleh fenomena alam. Atas dasar itu, unsur manusia merupakan unsur pertama yang harus mendapat perhatian dalam usaha pencegahan kecelakaan. Dengan segala macam aspeknya, manusia merupakan substansi yang sangat kompleks. Tidak hanya terbatas pada aspek teknis, seperti bagaimana sikap kerja seseorang, namun juga menyangkut faktor psikologisnya. Aspek teknis yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja sangatlah luas, tergantung pada bidang pekerjaannya. Gambar 2.3 menunjukkan beberapa contoh tindakan manusia yang sering mengakibatkan suatu kecelakaan.

Untuk hal- hal yang bersifat teknis ini, supervisor merupakan orang kunci yang dapat mencegah terjadinya kecelakaan akibat tindakan tidak aman para pegawai. Di samping itu, pelatihan keterampilan merupakan faktor yang sangat penting untuk dilakukan sebelum seorang pegawai mulai bekerja.

Gambar 2.3 (a). Menggunakan alat yang sudah

rusak

(b). Menggunakan alat tidak sesuai fungsinya

(c). Menggunakan alat secara salah

(10)

Setelah faktor tindakan tidak aman oleh manusia adalah kondisi peralatan dan lingkungan yang tidak aman. Untuk peralatan, secara prinsip, aspek keselamatannya sudah diperhitungkan sejak desain dimulai dan ketika akan masuk ke pasaran, peralatan sudah harus lolos uji mutu. Namun karena ada demikian banyak produsen dengan harga yang bervariasi, hal ini menyebabkan harga alat yang berbeda-beda.

Selain itu, karena faktor umur dan faktor operasional lainnya seringkali kita menjumpai peralatan yang tidak selengkap ketika masih barunya. Tak jarang pula yang kondisinya sudah tidak baik lagi sehingga tidak aman lagi. Gambar 2.4 menunjukkan beberapa contoh perkakas tangan yang tidak sempurna keadaannya yang apabila digunakan akan berbahaya.

Gambar 2.4. Contoh kondisi perkakas tangan yang tidak aman

2.6. Pencegahan Kecelakaan

2.6.1. Apakah pencegahan kecelakaan?

Menurut F.B Maynard (Industrial Engineering Hand Book): “Pencegahan kece-lakaan lebih ditekankan kepada perkataan pengontrolan, pengontrolan cara kerja pegawai, jalannya mesin- mesin dan lingkungan kerja”.

Menurut H.W. Heinrich (Industrial Accident Prevention). “Pencegahan kecelakaan sebagai suatu program terpadu yang terdiri dari berbagai aktivitas yang terkoordinir, ditujukan kepada pengawasan terhadap tindakan tidak aman para pegawai, keadaan tidak aman, mesin- mesin dan lingkungan kerja berdasarkan pengetahuan tertentu pendirian dan kemampuan.

Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukaan tersebut, menunjukkan bahwa pencegahan kecelakaan merupakan program yang telah disusun secara sistematis dan terorgnisir dengan baik dalam suatu perusahaan. Oleh karena itu, pencegahan kecelakaan harus melalui pendekatan sistem secara keseluruhan dari suatu perusahaan.

(11)

2.6.2. Pendekatan sistem

Dalam setiap kegiatan produksi di dalam suatu perusahaan selalu terdapat unsur - unsur utama yang menunjang secara langsung terhadap sistem kegiatan operasi. Unsur-unsur utama ini adalah manusia, peralatan, bahan baku, lingkungan kerja, dan manajemen. Secara garis besar bagaimana peranan unsur-unsur tersebut dijelaskan sebagai beriktut.

1) Manusia: Tidak ada suatu kegiatan pun yang terlepas sama sekali dari unsur manusia. Bahkan mesin- mesin otomatis secanggih apapun masih memerlukan pengawasan manusia.

2) Peralatan: Baik yang berbentuk mesin maupun alat-alat lainnya yang dipergunakan oleh manusia dalam kegiatan operasi perusahaan untuk menghasilkan produk dan jasa.

3) Bahan: Merupakan bahan baku maupun bahan tambahan yang dipergunakan selama proses produksi guna menghasilkan suatu produk.

4) Lingkungan kerja: lingkungan di mana manusia bekeja yang meliputi bangunan, keadaan udara, penerangan, kebisingan, suhu, kelembaban, dan lain sebagainya.

5) Manaje men (sebagai proses): Yaitu suatu proses koordinasi dari ke empat subsistem di atas, sedemikian rupa sehingga semua kegiatan mempunyai arah yang sama yaitu tercapainya tujuan organisasi/perusahaan.

Gambar 2.5 Unsur-unsur utama dalam perusahaan

Kelima subsistem di atas saling terkait sehingga apabila kita ingin menyelidiki sebab-sebab kecelakaan perlu meneliti kelima subsistem tersebut. Dari kelima

(12)

subsistem tersebut unsur manusia dan manajemen merupakan unsur yang paling dominan dalam terjadinya kecelakaan atau dalam pencegahan kecelakaan dan kerugian. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kedua unsur tersebut akan dibahas lebih lanjut.

2.6.2.1 Pendekatan Subsistem Manusia

Penyebab kecelakaan tertinggi adalah disebabkan oleh tindakan tidak aman oleh manusia. Oleh karena itu, untuk dapat mencegah kecelakaan perlu pendalaman terhadap sifat-sifat utama yang dimiliki oleh seseorang kemudian berdasarkan sifat-sifat tersebut dilakukan pengarahan pada usaha pencegahan kecelakaan. Dalam hal ini akan ditinjau beberapa aspek yang menyangkut manusia dalam pekerjaannya seperti tingkah laku, aspek fisik dan kejiwaan serta faktor lain yang mempengaruhinya yang diurai dalam Sepuluh Sifat Manusia. Kesepuluh sifat ini apabila mendapatkan perhatian yang baik dari manajemen akan menjadi media yang sangat efektif dalam pencegahan kecelakaan. Sepuluh sifat manusia itu adalah:

1) Self Preservation: Melindungi diri, Takut akan tertimpa kecelakaan, Ingin mempertahankan hidup

2) Personal and Material Gain: Menginginkan perbaikan/keuntungan pribadi dan materi

3) Loyality (Kesetiaan): Menginginkan bekerjasama dan rela berkorban dalam membela diri, kelompok, atau institusinya

4) Responsibility: Menginginkan diberi tanggung jawab. Seseorang akan

lebih bertanggungjawab bila diberi tanggungjawab

5) Pride (Kebanggaan): Perasaan puas. Seseorang akan merasa puas setelah mampu berprestasi dalam menaklukkan tantangan

6) Conformity (Menyesuaikan diri): Menginginkan persamaan 7) Rivalry (Persaingan): Menginginkan berlomba/berkompetisi 8) Leadership (Kepemimpinan): Berkeinginan memimpin

9) Logic (berfikir logis): Kemampuan untuk memberi alasan yang baik dan tepat

10) Humanity (Kemanusiaan): Berprikemanusiaan

2.6.2.2 Pendekatan Subsistem Manajemen

Menurut pendekatan ini, terjadinya kecelakaan adalah kekurangan/kesalahan pada manajemen perusahaan, baik dalam bentuk kurangnya pengawasan, kesalahan struktur organisasi maupun kesalahan dalam pelaksanaan operasi perusahaan. Dengan demikian pihak yang bertanggung jawab secara keseluruhan dalam usaha pencegahan kecelakaan adalah manajemen, karena manajemenlah yang mampu mengatur unsur-unsur yang terlibat dalam operasi perusahaan seperti manusia, peralatan, dan bahan – bahan serta lingkungan kerja.

(13)

Sistem manajemen perusahaan harus dimonitor dan dievaluasi kefektifannya. Bila terdapat kelemahan, seperti seringnya terjadi kecelakaan kerja, system harus diperbaiki.

Perbaikan ini selain dapat mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan, juga akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas dan efisiensi perusahaan.

Pencegahan kecelakaan pada dasarnya adalah tanggungjawab semua unsur yang terlibat dalam perusahaan. Oleh karena itu, semua unsur perusahaan harus mengetahui tanggung jawab masing- masing sesuai dengan posisi dan fungsinya di dalam perusahaan.

Walaupun begitu ada posisi tertentu yang paling menentukan dalam pencegahan kecelakaan ini, yaitu penyelia (supervisor) lapis pertama. Supervisor mengetahui persis potensi bahaya di tempat kerja, dan kondisi karyawan yang menjadi tanggungjawabnya serta melakukan pengawasan langsung terhadap cara kerja para karyawan. Bila pengetahuan dan kemampuan karyawan masih belum memadai supervisor bisa melatihnya terlebih dahulu dan bila karyawan melakukan tindakan tidak aman supervisor bisa melarangnya sehingga tidak terjadi kecelakaan. Kemudian memberikan petunjuk tentang cara kerja yang aman.

Gambar 2.2 Key person dalam pencegahan kecelakaan

2.6.3 Domino Sequence (H.M Heinrich)

Metoda Domino sequence merupakan teori klasik yang telah banyak digunakan untuk menyampaikan prinsip-prinsip pencegahan kecelakaan. Domino Sequence ini menggambarkan mata rantai suatu kejadian. Dengan diketahuinya mata rantai kejadian ini berarti telah diketahui sebab-sebab kecelakaan. Prinsip dari metoda ini seperti yang diilustrasikan pada gambar berikut.

(14)

Gambar 2.3 Prinsip pencegahan kecelakaan ”Urutan domino”

Pada prinsip ini terdapat 5 kartu yang disusun secara berurut, yaitu kartu: pertama (latar belakang seseorang), kedua (kelemahan/kekurangan seseorang), ketiga (tindakan dan atau kondisi tidak aman), keempat (kecelakaan) dan kelima (rugi).

Kalau terjadi kecelakaan berarti kartu keempat jatuh. Jatuhnya kartu keempat ini akan menimpa kartu nomor lima, yang berarti terjadi kerugian. Berat ringan dari kerugian ini ditentukan oleh berat ringannya kecelakaan. Kartu nomor 4 jatuh pasti ada penyebabnya, yaitu jatuhnya kartu nomor 3. Ini berarti bahwa setiap kecelakaan pasti ada penyebabnya dan penyebabnya adalah akibat dari tindakan dan atau kondisi tidak aman. Mengapa terjadi tindakan dan atau kondisi tidak aman? Ini akibat adanya kelemahan, kelemahan karyawan, manajemen atau desain peralatan. Kelemahan ini seperti kurangnya keterampilan, pengetahuan dan pengalaman, dan lain seba gainya. Khusus yang terkait dengan aspek manusia bisa dilacak ke belakang lagi sampai pada latar belakang seseorang. Aspek latar belakang ini menyangkut faktor lingkungan sekitar, keturunan (bakat) dan psikologis lainnya. Faktor lingkungan akan sangat berpengaruh pada sikap seseorang. Sebagai contoh seseorang yang berada di lingkungan pendidikan akan sangat berbeda dengan yang tinggal di jalanan. Sangat dimungkinkan seorang anak menuruni temperamen orang tuanya, dan lain sebagainya.

2.7. Tip tindakan pencegahan kecelakaan. 1) Menghilangkan bahaya

Tindakan ini merupakan tindakan yang paling prinsip dalam pencegah kece lakaan dan harus dilakukan jika dapat dilakukan. Contoh membersihkan lantai dan tem-pat kerja akan mengurangi kecelakaan.

2) Mengganti bahaya .

Kadang-kadang dimungkinkan mengganti bahaya yang besar dengan sesuatu yang bahayanya kurang. Contoh menurunkan tegangan kerja suatu mesin dari tinggi ke yang lebih rendah, mengganti asbes dengan gelas fiber untuk isolasi panas.

3) Membe rikan pelindung bahaya

Jika bahaya tidak dapat dihilangkan maka harus dipasang alat pelindung bahaya pada mesin sehingga pekerja tidak dapat bersentuhan langsung de ngan bahaya mesin. Contoh: Alat pelindung pada mesin bubut, mesin bor, alat listrik, dan lain-lain.

(15)

4) Memakai alat pengaman

Alat pengaman orang diperlukan jika metoda- metoda di atas masih belum dapat menghilangkan potensi bahaya.

Seperti kalau seseorang bekerja dengan bahan-bahan kimia beracun (Toxic) atau yang bersifat sangat reaktif maka yang bersangkutan harus mengenakan masker pernafasan, kaca mata keselamatan dan sarung tangan. Memakai alat pelindung mata ketika menggerinda logam, menggunakan sarung tangan untuk memegang benda-benda yang tajam, masker pelindung muka ketika memasang isolasi glas fiber.

5) Mendidik dan melatih pekerja

Pendidikan di bidang K3 juga sangat penting dalam pencegahan kecelakaan oleh itu semua pekerja harus diberi informasi, instruksi dan pelatihan me mastikan keselamatan kerja pada saat bekerja. Contoh: Pengetahuan prosedur pemadaman kebakaran, tempat P3K penggunaan alat pelindung mesin.

6) Membe rikan petunjuk bahaya

Untuk membentuk etiket individu dalam masalah K3 dapat diberikan advis ten tang keselamatan misalnya melalui gambar, poster-poster di TV, atau pada papan peng-umuman pabrik.

Latihan:

1) Jelaskan, mengapa K3 sangat penting, khususnya bagi mahasiswa politeknik! 2) Jelaskan penyebab utama terjadinya kecelakaan dan berikan contoh kongkrit

mengenai penyebab-penyebab yang dimaksud berdasarkan pengalaman pribadi Anda!

3) Buatlah cerita tentang suatu kecelakaan (kerja) yang pernah Anda alami. Narasikan mulai dari kejadian sebelum kecelakaan terjadi, ketika kecelakaan terjadi dan setelah kecelakaan terjadi. Sesuai dengan prinsip domino sequence, analisislah penyebab kecelakaan dan cara pencegahannya agar kecelakan yang sama tidak terjadi lagi. 4) Siapakah yang menjadi kunci (key person) dalam pencegahan kecelakan kerja?

(16)

BAB 3

BAHAYA LISTRIK DAN PENGAMANANNYA

Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah me mpelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Menjelaskan bahaya listrik bagi manusia, alat dan lingkungan sekitar;

2. Menjelaskan faktor-faktor yang menentukan tingkat keseriusan akibat sengatan listrik bagi manusia;

3. Menjelaskan prinsip pengamanan dan alat pengaman listrik tegangan rendah;

4. Menjelaskan prinsip pengamanan dan alat pengaman listrik teganga n tinggi bagi manusia, alat, dan lingkungan sekitar.

3.1. Pendahuluan

Pada satu sisi, dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, kita sangat membutuhkan daya listrik, namun pada sisi lain, listrik sangat membahayakan keselamatan kita kalau tidak dikelola dengan baik. Sebagian besar orang sudah pernah mengalami/merasakan sengatan listrik. Mulai dari yang hanya terkejut saja sampai dengan yang merasa sangat menderita. Oleh karena itu, untuk mencegah dari hal- hal yang tidak diinginkan, kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya listrik dan jalan yang terbaik adalah melalui peningkatan pemahaman terhadap sifat dasar kelistrikan yang kita gunakan.

3.2. Bahaya Listrik

Bahaya listrik dibedakan menjadi dua, yaitu bahaya prime r dan bahaya sekunder. Bahaya primer adalah bahaya-bahaya yang disebabkan oleh listrik secara langsung, seperti bahaya sengatan listrik dan bahaya kebakaran atau ledakan (Gambar 3.1).

(a) (b)

Gambar 3.1 Bahaya primer listrik

(17)

Sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya-bahaya yang diakibatkan listrik secara tidak langsung. Namun bukan berarti bahwa akibat yang ditimbulkannya lebih ringan dari yang primer.

Contoh bahaya sekunder antara lain adalah tubuh/bagian tubuh terbakar baik langsung maupun tidak langsung, jatuh dari suatu ketinggian, dan lain- lain (Gambar 3.2)

Gambar 3.2 Bahaya Sekunder Listrik

3.3. Bahaya Listrik bagi Manusia

3.3.1. Dampak sengatan listrik bagi manusia

Dampak sengatan listrik antara lain adalah:

- Gagal kerja jantung (Ventricular Fibrillation), yaitu berhentinya denyut jantung atau denyutan yang sangat lemah sehingga tidak mampu mensirkulasikan darah dengan baik. Untuk mengembalikannya perlu bantuan dari luar;

- Gangguan pernafasan akibat kontraksi hebat (suffocation) yang dialami oleh paru-paru

- Kerusakan sell tubuh akibat energi listrik yang mengalir di dalam tubuh, - Terbakar akibat efek panas dari listrik.

3.3.2. Tiga faktor penentu tingkat bahaya listrik

Ada tiga faktor yang menentukan tingkat bahaya listrik bagi manusia, yaitu tegangan (V), arus (I) dan tahanan (R). Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi antara satu dan lainnya yang ditunjukkan dalam hukum Ohm, pada Gambar 3.3. Tegangan (V) dalam satuan volt (V) merupakan tegangan sistem jaringan listrik atau sistem tegangan pada peralatan. Arus (I) dalam satuan ampere (A) atau mili amper (mA) adalah arus yang mengalir dalam rangkaian, dan tahanan (R) dalam satuan Ohm atau megaohm adalah nilai tahanan atau resistansi total saluran yang tersambung dengan tegangan. Sehingga berlaku:

(a) luka terbakar karena kontak langsung

(18)

IxR V I V R R V I ; ;

Gambar 3.3 Segitiga tegangan, arus, dan tahanan

Gambar 3.4 Tubuh manusia bagian dari rangkaian

Bila dalam hal ini, titik perhatiannya pada unsur manusia, maka selain kabel (penghantar), sistem pentanahan, dan bagian dari peralatan lain, tubuh kita termasuk bagian dari tahanan rangkaian tersebut (Gambar 3.4). Tingkat bahaya listrik bagi manusia, salah satu faktornya ditentukan oleh tinggi rendah arus listrik yang mengalir

(19)

ke dalam tubuh kita. Sedangkan kuantitas arus akan ditentukan oleh tegangan dan tahanan tubuh manusia serta tahanan lain yang menjadi bagian dari saluran.

Berarti peristiwa bahaya listrik berawal dari sistem tegangan yang digunakan untuk mengoperasikan alat. Semakin tinggi sistem tegangan yang digunakan, semakin tinggi pula tingkat bahayanya.

3.4. Sistem Tegangan di Indonesia

Jaringan listrik tegangan rendah di Indonesia mempunyai tegangan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.5. dan sistem tegangan yang digunakan di Indonesia adalah: fasa-tunggal 220 V, dan fasa-tiga 220/380 V dengan frekuensi 50 Hz. Sistem tegangan ini sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan.

(a) Fasa-Tunggal

(b) Fasa-Tiga Gambar 3.5

Sistem tegangan rendah di Indonesia

3.5. Jenis Sengatan Listrik

Ada dua cara listrik bisa menyengat tubuh kita, yaitu melalui sentuhan langsung dan tidak langsung. Bahaya sentuhan langsung merupakan akibat dari anggota tubuh bersentuhan langsung dengan bagian yang bertegangan sedangkan bahaya sentuhan tidak langsung merupakan akibat dari adanya tegangan liar yang terhubung ke bodi atau selungkup alat yang terbuat dari logam (bukan bagian yang bertegangan) sehingga bila tersentuh akan mengakibatkan sengatan listrik. Gambar 3.6 memberikan ilustrasi tentang kedua bahaya ini.

(20)

(a) Sentuhan Langsung (a) Sentuhan Tak Langsung Gambar 3.6 Sentuhan langsung dan tak langsung

3.6. Tiga faktor penentu keseriusan akibat sengatan listrik

Ada tiga faktor yang menentukan keseriusan sengatan listrik pada tubuh manusia, yaitu: besar arus, lintasan aliran, dan lama sengatan pada tubuh.

3.6.1 Besar arus listrik

Besar arus yang mengalir dalam tubuh akan ditentukan oleh tegangan dan tahanan tubuh. Tegangan tergantung sistem tegangan yang digunakan (Gambar 3.5), sedangkan tahanan tubuh manusia bervariasi tergantung pada jenis, kelembaban/moistur kulit dan faktor- faktor lain seperti ukuran tubuh, berat badan, dan lain sebagainya. Tahanan kontak kulit bervariasi dari 1000 kΩ (kulit kering) sampai 100 Ω (kulit basah). Tahanan dalam (internal) tubuh sendiri antara 100 – 500 Ω.

Contoh:

Jika tegangan sistem yang digunakan adalah 220 V, berapakah kemungkinan arus yang mengalir ke dalam tubuh manusia?

Kondisi terjelek:

- Tahanan tubuh adalah tahanan kontak kulit ditambah tahanan internal tubuh, (Rk)=100Ω +100Ω = 200 Ω

- Arus yang mengalir ke tubuh: I = V/R = 220 V/200 Ω = 1,1 A Kondisi terbaik:

- Tahanan Tubuh Rk= 1000 kΩ - I = 220 V/1000 kΩ = 0,22 mA.

3.6.2 Lintasan aliran arus dalam tubuh

Lintasan arus listrik dalam tubuh juga akan sangat menentukan tingkat akibat sengatan listrik. Lintasan yang sangat berbahaya adalah yang melewati jantung, dan pusat saraf (otak). Untuk menghindari kemungkinan terburuk adalah apabila kita bekerja pada sistem kelistrikan, khususnya yang bersifat ON-LINE adalah sebagai berikut:

(21)

gunakan topi isolasi untuk menghindari kepala dari sentuhan listrik,

gunakan sepatu yang berisolasi baik agar kalau terjadi hubungan listr ik dari anggota tubuh yang lain tidak mengalir ke kaki sehingga jantung tidak dilalui arus listrik,

gunakan sarung tangan isolasi minimal untuk satu tangan untuk menghindari lintasan aliran ke jantung bila terjadi sentuhan listrik melalui kedua tangan. Bila tidak, satu tangan untuk bekerja sedangkan tangan yang satunya dimasukkan ke dalam saku.

3.6.3 Lama waktu sengatan

Lama waktu sengatan listrik ternyata sangat menentukan kefatalan akibat sengatan listrik. Penemuan faktor ini menjadi petunjuk yang sangat berharga bagi pengembangan teknologi proteksi dan keselamatan listrik. Semakin lama waktu tubuh dalam sengatan semakin fatal pengaruh yang diakibatkannya. Oleh karena itu, yang menjadi ekspektasi dalam pengembangan teknologi adalah bagaimana bisa membatasi waktu sengatan agar sependek mungkin. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengaruh besar dan lama

waktu arus sengatan terhadap tubuh, ditunjukkan pada Gambar 3.7

Daerah Reaksi Tubuh 1 Tidak terasa

2 Belum menyebabkan gangguan kesehatan 3 Kejang otot, gangguan

pernafasan

4 Kegagalan detak jantung

Gambar 3.7 Reaksi Tubuh terhadap Sengatan Listrik

Dalam gambar ini diperlihatkan bagaimana pengaruh sengatan listrik terhadap tubuh, khususnya yang terkait dengan dua faktor, yaitu besar dan lama arus listrik mengalir dalam tubuh. Arus sengatan pada daerah 1 (sampai 0,5 mA) merupakan daerah aman dan belum terasakan oleh tubuh (arus mulai terasa 1-8 mA).

(22)

Daerah 2, merupakan daerah yang masih aman walaupun sudah memberikan dampak rasa pada tubuh dari ringan sampai sedang walaupun masih belum menyebabkan gangguan kesehatan. Daerah 3 sudah berbahaya bagi manusia karena akan menimbulkan kejang-kejang/kontraksi otot dan paru-paru sehingga menimbulkan gangguan pernafasan. Daerah 4 merupakan daerah yang sangat memungkinkan menimbulkan kematian si penderita.

Dalam gambar tersebut juga ditunjukkan karakteristik salah satu pengaman terhadap bahaya sengatan listrik, di mana ada batasan kurang dari 30 mA dan waktu kurang dari 25 ms. Ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian proteksi.

3.7. Kondisi-kondisi berbahaya

Banyak penyebab bahaya listrik yang ada dan terjadi di sekitar kita, di antaranya adalah isolasi kabel rusak, bagian penghantar terbuka, sambungan terminal yang tidak kencang.

Gambar 3.8 Isolasi kabel sudah rusak

Isolasi kabel yang rusak merupakan akibat dari sudah terlalu tuanya kabel dipakai atau karena sebab-sebab lain (teriris, terpuntir, tergencet oleh benda berat dll), sehingga ada bagian yang terbuka dan kelihatan penghantarnya atau bahkan ada serabut hantaran yang menjuntai. Ini akan sangat berbahaya yang secara tidak sengaja menyentuhnya atau bila terkena ceceran air atau kotoran-kotoran lain bisa menimbulkan kebakaran. Penghantar yang terbuka biasa terjadi pada daerah titik-titik sambungan terminal dan akan sangat membahayakan bagi yang bekerja pada daerah tersebut, khususnya dari bahaya sentuhan langsung. Sambungan listrik yang kendor atau tidak kencang. Walaupun biasanya tidak membahayakan terhadap sentuhan, namun akan menimbulkan efek pengelasan bila terjadi gerakan atau goyangan sedikit. Ini kalau dibiarkan akan merusak bagian sambungan dan sangat memungkinkan menimbulkan potensi kebakaran.

(23)

Gambar 3.9 Konduktor terbuka

Gambar 3.10 Kontak yang jelek

Pemakaian ekstension yang berlebihan, bertumpuk seperti yang terlihat pada Gambar 3.11. Pemakaian listrik seperti ini sangat memungkinkan terjadinya beban lebih pada kabel utamanya yang bisa mengakibatkan pemanasan lebih dan kebakaran.

Gambar 3.11 Pemakaian stop kontak yang bertumpuk

3.8. Sistem Proteksi terhadap Bahaya Listrik

3.8.1. Proteksi terhadap sentuhan langsung pada sistem tegangan tinggi

Yang dimaksud dengan tegangan tinggi di sini adalah tegangan di atas 50 volt, seperti sistem tegangan yang saat ini digunakan di Indonesia, yaitu 220 V untuk sistem fasa tunggal dan 220/380 V untuk sistem fasa-tiga. Sistem tegangan ini sangat berbahaya bagi keselamatan kita. Oleh karena itu, proteksi terhadap sentuhan langsung mutlak harus dilakukan.

(24)

 Proteksi dengan Isolasi Pengaman

Penyekatan dimaksudkan untuk menghin darkan ketidaksengajaan mendekati dae rah aktif (seperti misalnya dengan palang, atau pagar) atau menghindarkan menyentuh bagian aktif secara tidak sengaja (dengan cara penutupan khusus). Penutupnya dapat dilepas tanpa menggunakan obeng atau peralatan lainnya. Langkah proteksi dengan menjaga jarak, adalah dengan meletakkan bagian-bagian bertegangan diluar jangkauan. Langkah pengamanan ini hanya dapat dilakukan pada keadaan khusus, misalnya untuk instalasi listrik yang tertutup.

Gambar 3.12. Proteksi dengan isolasi pengaman  Proteksi dengan Pemberian Jarak

Gambar 3.13 Pengamanan dengan pemagaran  Proteksi terhadap sengatan tidak langsung

Metode pengamanan peralatan listrik portabel dibedakan menjadi 2 kelas, yaitu Alat Kelas I dan Kelas II. Sedangkan untuk alat-alat mainan dikategorikan Alat Kelas III.

Alat Kelas I adalah alat listrik yang pengamanan terhadap sengatan listrik menggunakan saluran pentanahan (grounding). Alat ini mempunyai selungkup (casing) yang terbuat dari logam.

(25)

Alat Kelas II adalah alat listrik yang mempunyai isolasi ganda, di mana selungkup atau bagian-bagian yang tersentuh dalam pemakaiannya terbuat dari bahan isolasi. Pada alat kelas ini tidak diperlukan saluran pengetanahan.

Pada peralatan yang dioperasikan pada tegangan rendah, dalam kondisi abnor mal atau gagal tidak akan terjadi teganga n tembus terlalu tinggi. Isolasi yang solid sebagai sarana proteksi terhadap sentuhan langsung memberikan garansi keselamatan dan juga menjamin keamanan terhadap bahaya kebakaran. Isolasi pada bagian aktif boleh tidak ada, tetapi dalam hal ini sumber arus dari transformator harus dibatasi, sehingga bila terjadi hubungan singkat tidak terjadi percikan bunga api.

Sistem proteksi bagi manusia yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan sistem pengetanahan dan alat proteksi otomatis.

 Sistem pengetanahan (grounding system).

Sistem pengetanahan ini menghubungkan bagian-bagian peralatan (mesin) yang terbuat dari logam yang kemungkinan tersentuh oleh manusia ke tanah melalui elek troda pengetanahan. Sistem pengetanahan ini harus menjamin bahwa apabila terjadi kebocoran listrik pada peralatan kita maka tegangan sentuhnya tidak melebihi 50 volt. Oleh karena itu, saluran pengetanahan juga disebut sebagai saluran pengaman (lihat Gambar 3.14).

Gambar 3.14 Sistem peralatan tanpa dan dengan pengetanahan  Alat pengaman tegangan sentuh otomatis

Jenis-jenis alat proteksi yang banyak dipakai, antara lain adalah: Residual Current

Device (RCD), Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB) dan Ground Fault Current Interruptor (GFCI). Walaupun berbeda-beda namun secara prinsip adalah sama. Yakni,

alat ini akan bekerja/aktif bila mendeteksi adanya arus bocor ke tanah. Karena kemampuan itulah, arus bocor ini dianalogikan dengan arus sengatan listrik yang mengalir pada tubuh manusia. Alat ini dalam PUIL 2000 disebut gawai pende teksi arus sisa (GPAS).

RCD dan GFCI merupakan pengaman terhadap arus sengatan listrik (bocor ke tanah). RCD dalam pemakaiannya banyak yang sudah digabung dengan alat-alat pemutus tenaga seperti circuit breaker (CB) atau miniature circuit breaker (MCB). Salah satunya adalah ELCB.

(26)

Dengan demikian ELCB mempunyai fungsi ganda sebagai pengaman komponen rangkaian dan juga sebagai pengaman manusia. Bentuk kompak ini ditunjukkan Gambar 3.15.

Gambar 3.15

Bentuk kompak MCB dan RCD Prinsip kerja RCD

Gambar 1.14 menunjukkan gambaran fisik sebuah RCD yang telah digabung dengan MCB untuk sistem fasa-tunggal. Diagram skema RCD sendiri ditunjukkan pada Gambar 3.16

Prinsip kerja RCD dapat dijelaskan sebagai berikut. Perhatikan gambar diagram skematik Gambar 3.16.

Iin : arus masuk Iout : arus keluar

IR1 : arus residual yang mengalir ke tubuh IR2 : arus residual yang mengalir ke tanah

Min : medan magnet yang dibangkitkan oleh arus masuk Mout : medan magnet yang dibangkitkan oleh arus keluar.

Dalam keadaan normal (tidak ada arus bocor), prinsip kerja alat ini dapat dijelas kan sebagai berikut:

- arus keluar sama dengan arus masuk, Iout < Iin; - karena Iin=Iout maka Min=Mout

- karena Min=Mout, kedua medan magnet ini akan saling meniadakan (arah berla-wanan) sehingga tidak menimbulkan aksi dan alat tidak melakukan reaksi apa. Lalu bagaimana bila ada arus mengalir ke tubuh atau bocor ke t anah? Ikuti penjelasan berikut ini.

Dalam keadaan terjadi arus bocor (kondisi tidak normal): - arus keluar lebih kecil dari arus masuk, Iout < Iin;

(27)

- karena Iin>Iout maka Min>Mout

- akibatnya, akan timbul ggl induksi pada koil yang dibelitkan pada toroida; - ggl induksi mengaktifkan peralatan pemutus rangkaian

Skema diagram untuk sistem fasa tiga ditunjukkan pada Gambar 3.17. Prinsip kerja pengaman otomatis untuk sistem fasa tiga ditunjukkan pada Gambar 3.17a. Bila tidak ada arus bocor (ke tanah atau tubuh manusia) maka jumlah resultan arus yang mengalir dalam keempat penghantar sama dengan nol. Sehingga trafo arus (CT) tidak mengalami induksi dan trigger elektromagnet tidak aktif. Dalam hal ini tidak terjadi apa-apa dalam sistem.

Gambar 3.16 Diagram skematik sebuah RCD

(a). Diagram skematik RCD fasa tiga

(b). Diagram skematik pemasangan GPAS (RCD) pada beban fasa-tiga Gambar 3.17

Pemasangan GPAS fasa tiga pada beban

 Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB). ELCB ini merupakan suatu alat pemutus daya yang akan bereaksi apabila terjadi beban lebih dan apabila terjadi arus bocor ke tanah pada besaran tertentu. Sebagai contoh ELCB dengan arus bocor 30 mA untuk peralatan-peralatan kerja yang dalam operasinya tidak bersentuhan langsung dengan tubuh manusia, 10 mA untuk peralatan-peralatan yang dalam operasinya bersentuhan langsung dengan tubuh (alat penyukur rambut, bathing tube, dll.). Alat ini juga

(28)

dikembangkan untuk pencegahan kebakaran, yaitu dengan arus bocor 400-500 mA. Seperti yang telah disebutkan di bagian sebelumnya bahwa kebakaran sering diakibatkan oleh arus bocor ke tanah, dari yang sangat rendah kemudian berangsur-angsur meningkat hingga mencapai kemampuan membakar, yaitu 400-500 mA.  Ground Fault Current Interruptor. Alat ini sangat umum digunakan pada

sistem-sistem tenaga.

Bila GPAS dikehendaki untuk dipasang se cara terpusat maka sistem rangkaian ditunjukkan pada Gambar 3.18. Dengan pemasangan terpusat seperti ini maka setiap peralatan di bawahnya diamankan dari bahaya tegangan sentuh yang mem bahayakan manusia.

Ga mbar 3.18 Diagra m ske mat ik pe masangan GPAS (RCD) pada pusat beban

3.8.2 Bahaya Kebakaran akibat Listrik

Kebakaran terjadi karena adanya panas berlebih pada bahan-bahan yang mudah terbakar. Terkait dengan kelistrikan, panas lebih bisa terjadi akibat dari banyak faktor, antara lain adalah: arus beban lebih, arus hubung singkat, sambungan/kontak yang longgar. Arus beban lebih berarti bahwa arus yang mengalir pada komponen instalasi melebihi arus pengenal komponen tersebut. Dengan berlebihnya arus tersebut, maka rugi-rugi saluran I2Rt juga akan berlebih (dari nominalnya). Sementara itu, rugi-rugi ini akan keluar dalam bentuk panas, sehingga komponen-komponen instalasi yang mengalami kelebihan arus akan mengalami kelebihan panas juga. Panas inilah yang akan merusak dan membakar isolasi dan pada akhirnya bisa menimbulkan kebakaran. Sama halnya akan terjadi bila kabel/penghantar yang digunakan terlalu kecil.

Pada peristiwa hubung singkat di mana terjadi kontak langsung antara saluran yang mempunyai beda tegangan, Bila ini terjadi maka akan menimbulkan arus hubung singkat yang sangat tinggi. Semakin tinggi arus hubung singkat, semakin tinggi pula busur api yang terjadi dan semakin keras pula bunyi ledakan yang terjadi. Bila dalam kondisi semacam ini di sekitar terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar maka akan besar sekali kemungkinan terjadinya kebakaran.

(29)

Tidak jauh berbeda dengan peristiwa longgarnya suatu kontak listrik, pada kontaknya pasti akan menimbulkan efek pengelasan dan bila hal ini terjadi secara berulang dalam waktu lama maka akan sangat dimung kinkan juga terjadinya kebakaran.

Ada satu hal lagi yang barangkali ini kurang disadari oleh masyarakat adalah dampak arus bocor ke tanah. Peristiwa arus bocor ini terjadi akibat kegagalan isolasi sehingga ada arus bocor yang mengalir melalui moistur/kotoran-kotoran. Pada awalnya, arus yang mengalir sangat kecil (5 mA), namun dengan mengalirnya arus ini membuat kotoran-kotoran yang dilewati mengalami pemanasan dan terba kar serta berubah menjadi karbon.

Setelah menjadi karbon, lintasan arus mempunyai konduktivitas yang lebih baik sehingga arus yang mengalir akan semakin besar. Demikian terjadi terus menerus dan sampai pada keadaan di mana besar arus bocor sampai 500 mA.

Berdasarkan penelitian arus 500 mA tersebut sudah mampu membakar benda-benda disekitarnya sehingga terjadi kebakaran. Penghantar yang berada pada lingkungan lembab, akan terjadi penetrasi kelembaban ke dalam isolasi yang kemudian menimbulkan arus bocor. Itulah beberapa penyebab kebakaran akibat dari sistem kelistrikan yang perlu kita waspadai.

Peristiwa hubung singkat diilustrasikan pada Gambar 3.19. Hubung singkat terjadi bila terjadi kontak langsung antara kawat fasa dan netral, kawat fasa dan tanah, dan antar kawat fasa sendiri. Semakin tinggi tegangan maka peristiwa hubung singkat akan semakin besar pula.

Gambar 3.19 Kondisi hubung singkat

Kegagalan isolasi dapat dihindarkan dengan pemilihan penghantar yang benar dan dengan pembebanan mekanis pada penghantar yang sesuai. Hal ini disebabkan karena kemampuan hantar arus pada penghantar dan kabel ditentukan oleh ketahanan panas dan konduktivitas panas material isolasi, material penghantar (misal tembaga atau aluminium), media pendinginan dan juga kondisi lingkungan. Kega galan isolasi sering terjadi pada isolasi yang besar dan rapuh, juga yang sering terbebani beban lebih.

(30)

Untuk mencegah bahaya kebakaran karena kesalahan isolasi pada peralatan listrik, upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan pengukuran tahanan isola si secara teratur dalam interval waktu tertentu.

3.8.3 Proteksi Peralatan Instalasi

Proteksi terhadap peralatan-peralatan instalasi, seperti kabel dan mesin- mesin harus dilakukan agar bila terjadi kesalahan kelistrikan dapat terlin dung dari kerusakan.

Alat-alat proteksi yang umum digunakan adalah sekering (fuse), pemutus daya ( circuit

breaker (CB, MCB)) atau thermal overload relay, dan lain- lain.

Alat-alat proteksi semacam ini harus dipilih untuk mengamankan komponen rangkaian dari arus kesalahan (abnormal), seperti arus hubung singkat, arus beban lebih. Oleh karena itu, kapasitas alat pengaman harus disesuaikan dengan kapasitas/kemampuan komponen-komponen instalasi dalam mengatasi arus-arus abnormal semacam ini. Untuk mengetahui ukuran penghantar dan juga ukuran gawai-gawai proteksi dapat dilihat pada PUIL 2000 atau standar-standar lain yang berlaku secara internasional.

3.8.4 AC atau DC yang lebih berbahaya?

Tingkat bahaya arus searah adalah lebih rendah daripada arus bolak-balik. Akibat yang ditimbulkan oleh arus searah akan sama dengan akibat oleh arus bolak balik, bila besar arus searah 3 kali lebih besar daripada besar arus bolak balik. Ventricular fibrillation tidak terjadi. Pada kecelakaan dengan arus searah tinggi dapat menimbulkan luka bakar karena efek panas dan busur listrik seperti pada arus bolak-balik.

Dalam praktek sering timbul pertanyaan berapa besar tegangan sentuh maksimal yang tidak membahayakan jiwa. Dikarenakan besar tahanan tubuh manusia sangatlah berbeda-beda (sekitar 100 Ω sampai 1000 kΩ) dan nilai hambatan tersebut akan turun dengan naiknya tegangan, maka nilai absolut tegangan sentuh yang tidak membahayakan tidaklah dapat dinyatakan secara pasti, yang dapat ditentukan hanyalah kemungkinan nilai tegangan yang tidak berbahaya.

Ga mbar 3. 20 Contoh-contoh sekering lebur jenis kaca dan pisau

(31)

Pada ketentuan VDE telah ditetapkan nilai tegangan, yang disebut dengan tegangan sentuh yang dapat terjadi pada peralatan, tanpa harus diikuti denga n pemutusan arus pada peralatan tersebut. Tegangan yang ditetapkan tersebut besarnya:

Arus bolak-balik (nilai efektif) UL 50 V Arus searah UL 120 V

Pada kasus-kasus tertentu, seperti di rumah sakit, maka nilai tegangannya adalah Arus bolak-balik (nilai efektif) UL 25 V

Arus searah UL 60 V

Bila pada peralatan terjadi tegangan sentuh yang tinggi, maka peralatan harus diputuskan hubungannya. Lama waktu pemutusan adalah untuk:

Rangkaian arus stop kontak sampai 32 A t 0,2 s Peralatan portable (handy) t 0,2 s

Rangkaian arus peralatan kerja dengan sambungan tetap t 5 s

3.9 Prosedur Keselamatan Umum

Hanya orang-orang yang berwenang, berkompeten dan kualifaid yang diperbolehkan bekerja pada atau di sekitar peralatan listrik.

Menggunakan peralatan listrik sesuai dengan prosedur (jangan merusak atau membuat tidak berfungsinya alat pengaman).

Gambar 3.22 Contoh penggunaan alat listrik

Jangan menggunakan tangga logam untuk bekerja di daerah instalasi listrik.

Gambar 3.23 Penggunaan tangga di daerah instalasi listrik Pelihara alat dan sistem dengan baik.

(32)

Gambar 3.24 Inspeksi kondisi peralatan

Menyiapkan langkah-langkah tindakan darurat ketika terjadi kecelakaan. - Prosedur shut-down: tombol-pemutus aliran listrik (emergency off) harus

gampang diraih - Pertolongan pertama

Pertolongan pertama pada orang yang tersengat listrik

- Korban harus dipisahkan dari aliran listrik dengan cara yang aman sebelum dilakukan pertolongan pertama

- Hubungi bagian yang berwenang untuk melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan. Pertolongan pertama harus dilakukan oleh orang yang berkompeten

Gambar 3.25 Pemisahan si korban dari aliran listrik

(33)

3.10

Bahaya Kebakaran dan Ledakan akibat Listrik

Banyak peristiwa kebakaran dan peledakan sebagai akibat dari kesalahan listrik. Peristiwa ini memberikan akibat yang jauh lebih fatal dari pada peristiwa sengatan listrik karena akibat yang ditimbulkannya biasa nya jauh lebih hebat.

Akibat ini tidak terbatas pada jiwa namun juga pada harta benda. Lebih- lebih lagi bila melibatkan zat- zat berbahaya, maka tingkat bahayanya juga akan merusak lingkungan. Oleh karena itu, peristiwa semacam ini harus dicegah.

Gambar 3.25 Bahaya Kebakaran dan Peledakan

.10.1 Penyebab Kebakaran dan Pengamanan

Ukuran kabel yang tidak memadai

Salah satu faktor yang menentukan ukuran kabel atau penghantar adalah besar arus nominal yang akan dialirkan melalui kabel/penghantar tersebut sesuai dengan lingkungan pemasangannya, terbuka atau tertutup. Dasar pertimbangannya adalah efek pemanasan yang dialami oleh penghantar tersebut jangan melampaui batas. Bila kapasitas arus terlampaui maka akan menimbulkan efek panas yang berkepanjangan yang akhirnya bisa merusak isolasi dan atau membakar benda-benda sekitarnya.

(34)

Agar terhindar dari peristiwa kapasitas lebih semacam ini maka ukuran kabel harus disesuaikan dengan persyaratan instalasi listrik seperti PUIL 2000.

Penggunaan adaptor atau stop kontak yang salah. Yang dimaksudkan di sini adalah penyambungan beban yang berlebihan sehingga melampaui kapasitas stop-kontak atau kabel yang mencatu dayanya.

Gambar 3.27 Pemakaian stop-kontak yang salah Instalasi kontak yang jelek.

Gambar 3.28 Koneksi yang kendor

Percikan bunga api pada peralatan listrik atau ketika memasukkan dan mengeluarkan soket ke stop-contact pada lingkungan kerja yang berbahaya di mana terdapat cairan, gas atau debu yang mudah terbakar.

(35)

Gambar 3.29 Lingkungan sangat berbahaya

Kondisi hubung singkat

 terjadinya hubung singkat antar saluran aktif L1, L2, dan L3,

 hubung singkat ke tanah (hubung tanah) antara saluran aktif L1, L2, L3 dengan tanah

 Bila ada kawat netral bisa terjadi hubung singkat antara saluran aktif L1, L2, L3 dengan saluran netral,

Untuk mencegah potensi bahaya yang disebabkan oleh kondisi abnormal semacam ini adalah pemasangan alat proteksi yang tepat, seperti sekering, CB, MCB, ELCB, dll

.10.2 Sistem – IP berdasarkan DIN VDE 0470

Tabel 1

Simbol- simbol yang digunakan untuk berbagai jenis proteksi menurut EN 60529.

Jenis Proteksi menurut EN 60529

Proteksi terhadap sentuhan

Simbol menurut

VDE

IP 0X Tidak ada proteksi sentuhan

IP 1X Proteksi terhadap benda asing > 50 mm IP 2X Proteksi terhadap benda asing > 12 mm IP 3X Proteksi terhadap benda asing > 2,5 mm

IP 4X Proteksi terhadap benda asing dan perkakas krja > 1 mm

(36)

IP 5X Proteksi terhadap penumpukan debu di dalam peralatan

IP 6X Kedap terhadap debu

Jenis Proteksi menurut EN 60529

Proteksi terhadap air

Simbol menurut

VDE IP X0 Tidak ada proteksi air

IP X1 Proteksi terhadap tetesan air, tetesan air jatuh tegak

IP X2 Proteksi terhadap tetesan air, tetesan air jatuh miring

IP X3 Proteksi terhadap cipratan

sampai dengan sudut 30 terhadap garis datar IP X4 Proteksi terhadap cipratan air

dari segala arah

IP X5 Proteksi terhadap semprotan air IP X6 Proteksi terhadap banjir

IP X7 Proteksi dalam penyelaman

IP X8 Proteksi penyela man dalam

LATIHAN:

1. Sebutkan alat-alat proteksi listrik yang digunakan untuk mengamankan komponen instalasi dari bahaya arus abnormal (lebih)!

2. Sebutkan alat-alat proteksi manusia dari bahaya sengatan listrik!

3. Identifikasi alat-alat proteksi dari bahaya listrik yang ada di lab Teknik Energi. 4. Jelaskan faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat keseriusan akibat sengatan listrik

(37)

BAB 4

BAHAYA MEKANIK DAN PENGAMANANNYA

Tujuan Pembelajaran Khusus:

Seteleh mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Menjelaskan bahaya-bahaya mesin bagi manusia; 2. Menjelaskan bagian-bagian berbahaya dari suatu mesin; 3. Menjelaskan jenis-jenis pelindung mesin;

4. Mengidentifikasi potensi bahaya dan pengelolaannya (pelindungannya) pada mesin;

5. Menjelaskan jenis-jenis bahaya dari mesin.

4.1 Pendahuluan

Permesinan merupakan sumber bahaya terjadinya kecelakaan industri. Beberapa studi di Amerika Serikat menyatakan bahwa kecelakaan yang disebabkan oleh mesin menduduki rangking ke-3 dan menduduki rangking pertama penyebab cacat permanen yang dialami oleh pekerja, yaitu 32 %. Dari kecelakaan yang disebab kan oleh permesinan ini, 20 % di antaranya adalah akibat dari lemahnya pelin dung/pengaman mesin (machinery guards). Hal ini menjadi perhatian para perancang mesin- mesin dan para enjiner safety bagaimana bisa menciptakan mesin-mesin yang aman dalam pemakaiannya.

4.2 Bahaya-bahaya Mesin

Banyak potensi bahaya terkait dengan mesin. Berikut ini adalah beberapa jenis potensi bahaya yang ada.

 Bersentuhan dengan mesin atau terperangkap antara mesin dan sesuatu benda di mesin.

 Terbenturnya anggota tubuh atau tersangkutnya anggota tubuh ke mesin atau bagian mesin yang bergerak.

 Terbentur oleh bagian-bagian dari mesin karena operasinya.  Terbentur oleh barang-barang yang terlempar keluar dari mesin.

Di samping bahaya-bahaya tersebut, biasanya masih ada bahaya-bahaya lain seperti bahaya listrik, bahaya kimia, dan lain- lain. Namun pada kesempatan kita akan mempelajari yang terkait dengan bahaya-bahaya mekanik saja.

4.2.1 Bagian-bagian Mesin yang me merlukan Pelindung Bahaya

Untuk dapat mengoperasikan mesin seca ra aman, syarat pertama yang harus dipe nuhi adalah keamanan dari mesin itu sendiri. Jadi, mesin harus dirancang secara aman. Secara prinsip ada tiga bagian dari mesin yang menjadi titik perhatian untuk diamankan agar tidak menimbulkan kurban terhadap orang yang menggunakan dan orang-orang di sekitarnya. Ketiga bagian ini adalah: transmisi daya, bagian yang bergerak, dan titik operasi. Perhatikan Gambar 4.1.

(38)

 Transmisi daya

Peralatan-peralatan transmisi daya mekanik meliputi: poros, roda gila, puley, sabuk, batang-batang penghubung, kopling, spindel, crank, clutches, cams dan bagian-bagian mesin yang digerakkan.

 Bagian mesin yang bergerak

Ini adalah bagian-bagian mesin yang bergerak ketika mesin beoperasi.  Titik operasi

Ini adalah bagian mesin dimana mesin dirancang untuk melakukan pekerja annya. Seperti pisau potong perata logam, feeder rolls pada mesin pres, dan gunting. Jadi, merupakan bagian di mana dilakukan penggambaran, pemotongan, pembentukan, pengecapan (stamping), dan lain- lain.

Gambar 4.1 Bagian-bagian mesin yang memerlukan pelindung bahaya 4.2.2 Jenis-jenis Pelindung Bahaya

Ada sejumlah pelindung yang direapkan untuk mengamankan suatu peralatan atrau mesin, di atantaranya adalah: pelindung tetap, pelindung yang dapat diatur, pelindung jarak, pelindung berpautan (interlocking) dan pelindung otomatis. Berikut ini adalah penjelasan tentang jenis pelindung tersebut.

 Pelindung Tetap

Pelindung ini dirancang secara tetap, tidak mempunyai bagian yang bergerak atau tergantung dari mekanik lainnya. Pelin dung ini dimaksudkan untuk menghalangi jalan keluar dari bagian-bagian mesin yang membahayakan. Oleh karena itu, perlengkapan mesin ini dirancang secara kuat dan kokoh serta mampu menahan takanan dari proses dan lingkungan.

 Pelindung yang Dapat Diatur

Pelindung ini merupakan pelindung tetap namun mempunyai bagian-bagian yang dapat diatur, dan bila diatur, pelindung tersebut masih tetap pada posisinya selama operasi. Pelindung ini tidak dapat digunakan untuk melindungi jalan masuk ke bagian-bagian mesin yang berbahaya. Pelindung ini boleh digunakan selama mendapatkan pengawasan terhadap kondisi lingkungan seperti penerangan dan operatornya yang harus sudah terampil.

 Pelindung Jarak

Pelindung ini tidak ditempatkan secara langsung pada titik bahaya, namun diletak kan pada jarak di luar jangkauan normal.

Keterangan: 1. Transmisi daya, 2. Bagian yang bergerak , 3. Titik operasi

(39)

 Pelindung yang Berpautan (Interlocking)

Ini adalah pelindung yang mempunyai sua tu bagian bergerak yang disambungkan dengan pengendali mesin sehingga mesin tidak dapat dioperasikan apabila pelindung dalam keadaan tidak tertutup (ditutup). Pelindung interlocking ini memerlukan kontrol dan penginderaan.

 Pelindung otomatis

Pelindung otomatis mempunyai kompo nen yang bisa bekerja secara otomatis sesuai dengan sistem kerja mesin. Pelindung oto matis juga mencakup suatu pelindung yang mencegah seseorang masuk ke daerah titik bahaya secara tak sengaja, tetapi jalan masuk akan terbuka bila keadaan aman dan menutup kembali bila sedang operasi (bahaya).

(40)

Gambar 4.3 Pelindung bagian-bagian mesin gerinda Latihan:

Pilih salah satu sampel mesin proses/produksi yang ada di lab/bengkel POLBAN dan identifikasi bagian-bagian mesin yang perlu dilindungi untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Jelaskan jenis pelindung yang digunakan dan jelaskan pendapat anda tentang aspek keselamatan mesin yang anda selidiki.

(41)

BAB 5

BAHAYA PELEDAKAN PADA BEJANA TEKAN

Tujuan Pembelajaran Khusus:

1. Menjelaskan perlengkapan minimal yang harus dimiliki oleh sebuah ketel uap (boiler);

2. Menjelaskan persyaratan operasional yang harus dipenuhi untuk mencegah agar ketel uap tidak sampai meledak;

3. Menjelaskan faktor- faktor penyebab meledaknya ketel uap;

4. Menjelaskan cara operasi dan pemeliharaan kompresor agar tidak terjadi peledakan;

5. Menjelaskan cara menangani tabung-tabung gas bertekanan tinggi.

5.1 Pendahuluan

Ketel uap (boiler), kompresor, dan tabung bertekanan banyak digunakan dalam kehi-dupan sehari- hari terutama di gedung- gedung komersial atau industri. Ketel uap (boiler) merupakan peralatan yang digu nakan untuk membangkitkan uap panas. Ketel uap banyak digunakan di pembangkit listrik tenaga uap, hotel- hotel sebagai sarana mandi air hangat, industri pertanian untuk keperluan pengeringan, industri se bagai pembangkit uap panas untuk proses produksinya. Jadi sangat luas pemakaiannya. Kompresor banyak digunakan mulai pada usaha tambal ban, sampai dengan industri manufak tur sebagai pembangkit udara bertekanan dalam menunjang proses produksinya. Sedangkan tabung-tabung bertekanan tinggi juga dipakai di mana diperlukan zat yang penyim-panannya memerlukan tekanan tinggi. Ketel uap merupakan bejana bertekanan berapi sedangkan kompresor dan tabung yang disebutkan di atas merupakan bejana ber-tekanan tinggi yang tidak berapi. Walau pun berbeda dalam tingkat bahayanya, namun kedua macam bejana bertekanan tersebut sama-sama berbahayanya.

5.2 Perlengkapan Minimal Ketel Uap (Boiler)

Perlengkapan pengaman pada ketel uap sudah mempunyai standar yang sangat tinggi, yang dapat diandalkan untuk mencegah bahaya ledakan. Gambar 5.1 memperlihatkan suatu boiler tipikal lengkap dengan perlengkapan-perlengkapan utamanya.

(42)

Gambar 5.1 Sebuah boiler tipikal

Dalam peraturan Uap Tahun 1930 juga dimuat perlengkapan ketel uap. Peraturan ini sampai saat ini masih berlaku di Indonesia. Dalam peraturan ini dinyatakan perlengkapan minimal yang ada pada suatu ketel uap adalah sebagai berikut:

1) Sekurang-kurangnva mempunyai 2 katup pengaman (safety valve) yang berkualitas, berukuran cukup, dan dipasang pada ketel uap itu sendiri atau pada kamar uapnya.

Gambar 5.2 Katup pengaman pada boiler

Gambar 5.3 Alat pengukur tekanan pada sebuah boiler

Gambar 5.2 memperlihatkan katup pengaman (safety valve) yang dipasang pada boiler. Katup pengaman ini adalah untuk mencegah terjadinya tekanan lebih pada boiler. Dengan demikian boiler terhindar dari ledakan akibat tekanan kerja yang berlebih. Disyaratkan dengan dua katup adalah untuk menghindari kegagalan kerja katup secara total.

2) Sekurang-kurangnya mempunyai 1 pedoman tekanan (alat ukur tekanan) (Gambar 5.3). Alat ukur tekanan untuk mengetahui tekanan boiler setiap saat.

3) Sekurang-kurangnya mempunyai 2 kran/kerangan coba atau pengukur air dan 1 gelas pedoman air yang memakai kran sembur yang dapat ditusuk sewaktu

(43)

ketelnya beruap, atau 2 gelas pedoman air (Gambar 5.4-5.5). Perlengkapan ini untuk memastikan bahwa air di dalam ketel cukup.

Gambar 5.4 Gelas pengukur pada boiler Gambar 5.5 Kran sembur pada boiler 4) Sekurang-kurangnya mempunyai 2 alat pengisi yang tidak bergantung antara satu

dan lainnya, yang masing- masing dapat memberi air ke dalam ketel dengan leluasa, dan sekurang-kurangnya satu diantaranya dapat bekerja sendiri (otomatik) (Gambar 5.6);

5) Mempunyai alat yang dapat bekerja sendiri, yang dapat memberitahukan kekurangan air dalam ketel uapnya, lepas dari masinis atau peladennya (Gambar 5.7);

Gambar 5.6 Pompa pengisi air boiler Gambar 5.7 Alarm suara (bel) dari sebuah boiler tipikal 6) Mempunyai tanda batas air terendah yang diperbolehkan (Gambar 5.8);

7) Mempunyai kran tekanan untuk memasang pedoman tekanan coba; 8) Mempunyai katup/kran buang (Gambar 5.9);

Gambar

Gambar 1.3 Keselamatan zaman dahulu dan sekarang
Gambar 1.4  Contoh-contoh produk dan pengguna teknologi modern
Gambar 2.2  Penyebab kecelakaan
Gambar  2.3  menunjukkan  beberapa  contoh  tindakan  manusia  yang  sering  mengakibatkan suatu kecelakaan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink (1996), sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum

Karakteristik pupuk organik adalah sebagai berikut: (a). Hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung pada jenis bahan dasarnya. Hara yang berasal dari

Praktikum kimia yang tidak dapat diganti dengan menggunakan bahan kimia ramah lingkungan dapat ditanggulangi dengan menggunakan teknik micro scale, artinya pelaksanaan

Kinerja Lingkungan Bahan baku, energi, air, Keanekaragaman hayati (biodiversity), emisi, sungai, dan sampah, pemasok, produk dan jasa, pelaksanaan, dan angkutan. Praktik kerja

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Operasi tambang terbuka akan selalu merubah bentang alam dan aliran air permukaan, sebagai contohnya. Perlu sebuah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan yang baik untuk menghindari/meminimalkan dampak lingkungan yang besar, seperti lansekap yang tidak beraturan, lubang tambang yang ditinggalkan, erosi dan sedimentasi yang tinggi, kesuburan tanah yang rendah yang tidak layak untuk pertumbuhan tanaman, produksi air asam tambang yang dapat berlangsung hingga ratusan tahun sehingga dapat mematikan biota di perairan umum, dan lain sebagainya. Secara umum terdapat 4 lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan lingkungan pertambangan, yaitu: 1. pengelolaan dan pemantauan kualitas air, 2. pengelolaan dan pemantauan kualitas udara, 3. pengelolaan tanah, reklamasi, dan keanekaragaman hayati, 4. pengelolaan sampah, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan limbah B3. Pelaksanaan kegiatan penting tersebut perlu diatur dalam sebuah sistem manajemen pengelolaan dan pemantauan, termasuk aspek kepatuhan terhadap izin/peraturan/ standar yang diperlukan untuk kegiatan

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Operasi tambang terbuka akan selalu merubah bentang alam dan aliran air permukaan, sebagai contohnya. Perlu sebuah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan yang baik untuk menghindari/meminimalkan dampak lingkungan yang besar, seperti lansekap yang tidak beraturan, lubang tambang yang ditinggalkan, erosi dan sedimentasi yang tinggi, kesuburan tanah yang rendah yang tidak layak untuk pertumbuhan tanaman, produksi air asam tambang yang dapat berlangsung hingga ratusan tahun sehingga dapat mematikan biota di perairan umum, dan lain sebagainya. Secara umum terdapat 4 lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan lingkungan pertambangan, yaitu: 1. pengelolaan dan pemantauan kualitas air, 2. pengelolaan dan pemantauan kualitas udara, 3. pengelolaan tanah, reklamasi, dan keanekaragaman hayati, 4. pengelolaan sampah, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan limbah B3. Pelaksanaan kegiatan penting tersebut perlu diatur dalam sebuah sistem manajemen pengelolaan dan pemantauan, termasuk aspek kepatuhan terhadap izin/peraturan/ standar yang diperlukan untuk kegiatan

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Operasi tambang terbuka akan selalu merubah bentang alam dan aliran air permukaan, sebagai contohnya. Perlu sebuah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan yang baik untuk menghindari/meminimalkan dampak lingkungan yang besar, seperti lansekap yang tidak beraturan, lubang tambang yang ditinggalkan, erosi dan sedimentasi yang tinggi, kesuburan tanah yang rendah yang tidak layak untuk pertumbuhan tanaman, produksi air asam tambang yang dapat berlangsung hingga ratusan tahun sehingga dapat mematikan biota di perairan umum, dan lain sebagainya. Secara umum terdapat 4 lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan lingkungan pertambangan, yaitu: 1. pengelolaan dan pemantauan kualitas air, 2. pengelolaan dan pemantauan kualitas udara, 3. pengelolaan tanah, reklamasi, dan keanekaragaman hayati, 4. pengelolaan sampah, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan limbah B3. Pelaksanaan kegiatan penting tersebut perlu diatur dalam sebuah sistem manajemen pengelolaan dan pemantauan, termasuk aspek kepatuhan terhadap izin/peraturan/ standar yang diperlukan untuk kegiatan

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Operasi tambang terbuka akan selalu merubah bentang alam dan aliran air permukaan, sebagai contohnya. Perlu sebuah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan yang baik untuk menghindari/meminimalkan dampak lingkungan yang besar, seperti lansekap yang tidak beraturan, lubang tambang yang ditinggalkan, erosi dan sedimentasi yang tinggi, kesuburan tanah yang rendah yang tidak layak untuk pertumbuhan tanaman, produksi air asam tambang yang dapat berlangsung hingga ratusan tahun sehingga dapat mematikan biota di perairan umum, dan lain sebagainya. Secara umum terdapat 4 lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan lingkungan pertambangan, yaitu: 1. pengelolaan dan pemantauan kualitas air, 2. pengelolaan dan pemantauan kualitas udara, 3. pengelolaan tanah, reklamasi, dan keanekaragaman hayati, 4. pengelolaan sampah, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan limbah B3. Pelaksanaan kegiatan penting tersebut perlu diatur dalam sebuah sistem manajemen pengelolaan dan pemantauan, termasuk aspek kepatuhan terhadap izin/peraturan/ standar yang diperlukan untuk kegiatan