• Tidak ada hasil yang ditemukan

ب ُهحنَع

Dalam dokumen Eksistensi Sunnah Tarkiyah dalam Fiqh Islam (Halaman 162-165)

حتَيُِّسَ اَذَِلََو .”ِلَسحرُمحلا ِل َلاحدِتحس ِلاا ”ب ُبَّقَلُ يَو “ ِةَلَسحرُمحلا ِحِلاَصَمحلا ” ًةَلَسحرُم ”

َغحلُ ت حَلَو حَبََتحعُ ت حَل حيَأ

.

386

Artinya:

“Membicarakan perkara yang didiamkan oleh syariat, apakah ia dianggap ataukah dilupakan, itulah yang dinamakan ‘al-mashlahah al-mursalah’, disebut juga dengan ‘istidlal mursal’. Disebut ‘al-mursalah’ karena tidak ada dalil yang menganggapnya ataupun yang meniadakannya.”

E. Macam-Macam al-Tark.

Menurut Muhammad Husain al-Jizānī dalam kitabnya, membagi Tark Nabi saw. menjadi lima bagian:

a. Al-Tark al-Jibilī atau al-‘Adī. 387

Yaitu sesuatu yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw karena alasan naluri atau selera pribadi. Seperti keengganan Rasulullah saw. memakan daging dhabb (sejenis biawak padang pasir). Nabi saw. memberikan alasan dengan mengatakan:

“Binatang itu tidak ada di tempat kaumku sehingga aku tidak berselera untuk memakannya.” Keengganan Nabi saw. ini setara dengan perbuatan yang Nabi saw. lakukan karena alasan naluri dan selera pribadi, sehingga tidak ada keharusan bagi umat Islam untuk meneladaninya. Jadi hukumnya mubah memakan dhabb.

b. Al-Tark al-Khas bihi.388

386 Abū Abdullāh Badruddīn Muhammad bin Abdullāh bin Bahadir al-Zarkasyī, al-Bahru al- Muhīth fi Ushūl al-Fiqh,Juz.VIII,...h.83

387 Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī, Sunnah al-Tark wa Dilalātihā ‘alā al-Ahkām al-Syar’iyyah,...h. 31

388 Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī, Sunnah al-Tark wa Dilalātihā ‘alā al-Ahkām al-Syar’iyyah,...h. 32

Yaitu sesuatu yang ditinggalkan khusus bagi Rasulullah saw. Dan hal ini ditetapkan oleh dalil khusus, Seperti Rasulullah saw. meninggalkan makan bawang putih. Jadi hukumnya mubah memakan bawang putih bagi umatnya.

c. Al-Tark al-Mashalahī. 389

Yaitu sesuatu yang ditinggalkan oleh Rasulullah sebab mashlahah. Misalnya, (1) Karena takut diwajibkan bagi umatnya. Seperti keengganan Nabi saw.

melanjutkan memimpin shalat malam berjamaah di bulan Ramadhan setelah beliau memimpin shalat malam berjamaah selama tiga hari berturut-turut.

Beliau berhenti melakukan hal itu semata-mata karena takut hal itu akan diwajibkan bagi umatnya.

(2) Karena khawatir akan dampak negatifnya. Seperti paling nyata ialah keputusan Nabi saw untuk tidak membangun al-Ka'bah Al-Musyarrafah di atas pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. Nabi saw. beralasan karena mereka masih baru saja meninggalkan masa kekafiran.

Contoh juga Nabi saw. memutuskan untuk tidak menghukum mati orang yang menghina Nabi saw. dengan ucapan yang pantas mendapatkan sanksi hukum.

Termasuk juga Nabi saw. meninggalkan membunuh orang-orang munafik.

Nabi saw. beralasan bahwa khawatir kalau-kalau manusia kelak akan berkata bahwa Muhammad suka membunuh sahabat-sahabatnya.

Contoh juga Rasulullah saw. meninggalkan tidak menshalati jenazah shahibud dain (orang yang punya hutang), dan tukang tipu, sebab hukuman bagi keduanya dan ancaman bagi siapa yang melakukan perbuatan tersebut.

4. Al-Tark Bayanī atau al-Tark al-Tasyrī’ī.390

Yaitu sesuatu yang ditinggalkan oleh Rasūlullāh saw. sebagai bentuk tasyrī

kepada umatnya. Seperti Rasulullah saw. tidak pernah melakukan/menganjurkan adzan dan iqomat untuk shalat ‘Ied. Dan Rasulullah

389 Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī, Sunnah al-Tark wa Dilalātihā ‘alā al-Ahkām al-Syar’iyyah,...h. 32

390 Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī, Sunnah al-Tark wa Dilalātihā ‘alā al-Ahkām al-Syar’iyyah,...h. 33

saw. meninggalkan untuk merayakan peringatan hari kelahiran Rasulullah saw. yang masyhur dengan nama Maulid Nabi saw.

Al-Tark al-Tasyri’iy inilah yang dimaksud dengan Sunnah Tarkiyah.

Sunnah Tarkiyah ini dijadikan sebagai hujjah jika terkait masalah ibadah.

Apabila sebab untuk melakukannya ada di zaman Rasulullah dan tidak yang menghalangi Nabi saw. melakukannya. Jika ada yang menghalangi Nabi tentu Nabi saw. akan menyebutkannya. Atau Nabi melakukannya kemudian meninggalkannya setelah Nabi saw. menjelaskan alasan mengapa Nabi saw.

meninggalkannya. Seperti shalat tarawih.

e). Al-Tark li ‘Adami al-Qudrah.391

Yaitu sesuatu yang ditinggalkan oleh Nabi saw. karena tidak adanya kemampuan untuk melakukannya. Dan tidak adanya unsur kesengajaan.

Pada hakikatnya al-tark Rasulullah saw. seperti ini tidak disebut sebagai al-tark, karena keadaannya tidak dikategorikan hakikat al-tark, karena al-tark sebagaimana penjelasan yang telah berlalu, al-tark khusus pada suatu perbuatan yang mampu untuk dilakukan.

Di antara contohnya, Rasulullah saw. meninggalkan memerangi orang yang tidak membayar zakat. Karena pengingkaran terhadap wajibnya zakat baru terjadi di zaman Abu Bakar r.a. dan Rasulullah saw. meninggalkan masuk wc karena wc belum dikenal dan belum terpenuhi (baca: belum ada) di negeri-negeri kaum muslimin sebelum terjadinya al-Futūhāt.

Sedangkang menurut Yahya bin Ibrahim Khalil membagi Tark Nabi saw.

menjadi dua macam:

1. Sesuatu yang benar-benar ada

( يدوجو رمأ)

Ini tercemin pada tindakan menahan diri dari perbuatan tertentu. Seperti meninggalkan perkara yang makruh atau haram. Termasuk meninggalkan sesuatu yang secara alamiah tidak sisukai oleh manusia.392

391 Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī, Sunnah al-Tark wa Dilalātihā ‘alā al-Ahkām al-Syar’iyyah,...h. 36

2. Sesuatu yang benar-benar tidak ada.

)ضمُ مدع (

Ini bukannlah sesuatu yang benar-benar ada, melainkan suatu kondisi di mana tidak ada alasan untuk melakukan sesuatu.393

Apa yang ditinggalkan oleh Nabi saw. kadang termasuk jenis yang pertama.

Seperti tindakan Nabi saw. ketika meninggalkan sesuatu yang tadinya mubah karena diharamkan bagi Nabi saw. sendiri atau bagi Nabi saw. dan segenap umatnya, atau meninggalkan sesuatu yang tidak cocok dengan selera beliau. Dan terkadang termasuk jenis yang kedua seperti kebanyakan apa yang beliau tinggalkan yang akan dibahas di dalam tesis ini, karena Allah at-Tark jenis inilah yang dimaksud di sini.394

Kedua jenis at-Tark itu bisa masuk ke dalam tasyri’ ini dan oleh karena itu menjadi sesuatu yang harus diikuti. Yang pertama seseorang akan mendapatkan pahala manakala dia meninggalkannya dengan niat menjalankan ketentuan yang ada.

Ini sesuai dengan definisi yang dirumuskan oleh para ahli ushul fiqih untuk haram dan makruh. Sedangkan yang kedua seseorang akan mendapatkan pahala manakala dia meninggalkannya dan akan berdosa manakala ia melakukannya. Tatkala para ahli Ushul Fiqih berbeda pendapat tentang apakah al-Tark itu termasuk perbuatan atau tidak, sesungguhnya yang mereka maksud ialah at-Tark jenis pertama yang diambil dari kata Nahi (larangan). Ada kelompok yang berpendapat bahwa hal itu termasuk perbuatan. Dan insya Allah ini adalah pendapat yang paling rajih (kuat).395

Penulis kitab Al-Maraqi menyatakan

لبِ انفكف

Dalam dokumen Eksistensi Sunnah Tarkiyah dalam Fiqh Islam (Halaman 162-165)