• Tidak ada hasil yang ditemukan

ةئيس ة

Dalam dokumen Eksistensi Sunnah Tarkiyah dalam Fiqh Islam (Halaman 177-182)

427

Artinya:

Adapun sesuatu yang ada alasan untuk melakukannya ada di zaman Nabi saw.

dan tidak ada penghalang untuk melakukannya tetapi Nabi saw. tidak melakukannya, maka melakukan hal itu berarti melakukan perubahan terhadap Agama Allah swt. sebab, sekiranya sesuatu itu mengandung maslahat tentu Nabi saw. telah melakukannya atau menganjurkannya dan tatkala Nabi saw.

tidak melakukannya dan tidak menganjurkannya berarti Nabi saw. mengetahui bahwa sesuatu itu tidak mengandung mashlahat, melainkan perbuatan bid’ah yang buruk.

Kaidah di atas didukung oleh Kamaluddin Muhammad bin Abdul Wahid salah ulama besar Madzhab Hanafi yang sangat teliti dan tidak fanatik kepada Madzhabnya. Perbincangan terfokus pada meninggalkan sesuatu yang pada masa Nabi saw. tidak halangan untuk melakukannya ada ada banyak alasan untuk melakukannya.

Misalnya:

Tidak memberlakukan adzan untuk shalat ‘Ied, tidak mewajibkan mandi untuk tiap-tiap shalat, tidak melaksanakan shalat malam nisfu sya’ban, tidak melakukan adzan untuk shalat tawawih, tidak memanjatkan do’a setelah melaksanakan shalat- shalat sunnah secara berjama’ah, dan tidak pernah mengadakan khātaman al-Qur’an untuk orang-orang yang meninggal.

4. Ulama Malikiyah.

Para ulama Malikiyah mempunyai metode tersendiri di dalam menukilkan bahwa suatu perkara termasuk sunnah tarkiyah:

426 Yahyā bin Ibrahīm Khalīl, al-Sunnah al-Tarkiyah Mafhūmuhā, Hujjiyatuhā, Atsaruhā, al- Asilatu al-Wāridatu ‘Alaiha, (Riyādh: Majallah al-Bayān, 1432H), h.156

427 Yahyā bin Ibrahīm Khalīl, al-Sunnah al-Tarkiyah Mafhūmuhā, Hujjiyatuhā, Atsaruhā, al- Asilatu al-Wāridatu ‘Alaiha,...h.155

ٍتحوَص ىَلَع ِعاَمِتحج ِلاا ِةَئح يَِب ِرحكِّذلاَك ،ِةَنَّ يَعُمحلا ِتاَئح يَحلَاَو ِتاَّيِفحيَكحلا ُماَزِتحلا :اَهح نِمَو َبحشَأ اَمَو ،اًديِع َمَّلَسَو ِهحيَلَع َُّللَّا ىَّلَص ِِّبَّنلا ِةَد َلاِو ِمحوَ ي ُذاَِّتّاَو ،ٍدِحاَو .َكِلَذ َه

428

Artinya:

Dan diantara hal yang masuk dalam perkara bid’ah ini adalah mengadakan kaifiyat (tata cara) hai’at (keadaan) tertentu di dalam beribadah (kecuali yang datang keterangannya dalam agama), seperti mengadakan dzikir dengan cara berkumpul dengan dikomandoi (dipimpin) oleh seseorang, atau mengadakan perayaan pada hari kelahiran Nabi saw. (maulidan), atau semisal dengan itu.

Jadi dari penukilan para ulama empat madzhab tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa para ulama sepakat menjadikan sunnah tarkiyah sebagai hujjah.

428 Ibrahīm bin Mūsā bin Muhammad al-Lakhamī al-Ghurnathī al-Syāthibī, al-I’tishām, Tahqīq Salim bin ‘Ied al-Hilalī Cet.I, (Saudi ‘Arabiyah: Dār Ibn Affān,1429 H), h. 53

BAB IV

ANALISIS IMPLIKASI MAKNA SUNNAH TARKIYAH TERHADAP BEBERAPA MASALAH FURU’IYYAH

A. Periode Nabi saw.

1. Keengganan Rasulullah saw. untuk berlebih-lebihan (ghulluw) di dalam beribadah seperti yang dilakukan para pendeta. Sebagaimana dalam hadits Nabi saw.

dari Anas bin Malik meriwayatkan:

َنََبَحخَأ :ُلوُقَ ي ،ُهحنَع َُّللَّا َيِضَر ٍكِلاَم َنحب َسَنَأ َعَِسَ ُهَّنَأ ،ُليِوَّطلا ٍدحيَُحم ِبَِأ ُنحب ُدحيَُحم

ِِّبَّنلا ِةَداَبِع حنَع َنوُلَأحسَي ،َمَّلَسَو ِهحيَلَع ُالله ىَّلَص ِِّبَّنلا ِجاَوحزَأ ِتوُيُ ب َلَِإ ٍطحهَر ُةَثَلاَث َءاَج حيَلَع ُالله ىَّلَص ىَّلَص ِِّبَّنلا َنِم ُنحَنَ َنحيَأَو :اوُلاَقَ ف ،اَهوُّلاَقَ ت حمَُّنََأَك اوُِبَحخُأ اَّمَلَ ف ،َمَّلَسَو ِه

ِّنِّإَف َنَأ اَّمَأ :حمُهُدَحَأ َلاَق ،َرَّخََتَ اَمَو ِهِبحنَذ حنِم َمَّدَقَ ت اَم ُهَل َرِفُغ حدَق ؟َمَّلَسَو ِهحيَلَع ُالله َلحيَّللا يِّلَصُأ ُلِزَتحعَأ َنَأ :ُرَخآ َلاَقَو ،ُرِطحفُأ َلاَو َرحهَّدلا ُموُصَأ َنَأ :ُرَخآ َلاَقَو ،اًدَبَأ

ُمُتح نَأ :َلاَقَ ف ،حمِهحيَلِإ َمَّلَسَو ِهحيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا ُلوُسَر َءاَجَف ،اًدَبَأ ُجَّوَزَ تَأ َلاَف َءاَسِّنلا َأ ،اَذَكَو اَذَك حمُتحلُ ق َنيِذَّلا ،ُرِطحفُأَو ُموُصَأ ِّنِّكَل ،ُهَل َِِّللَّ حمُكاَقح تَأَو حمُكاَشحخََلأ ِّنِّإ َِّللَّاَو اَم

يِّنِم َسحيَلَ ف ِتَِّنُس حنَع َبِغَر حنَمَف ،َءاَسِّنلا ُجَّوَزَ تَأَو ،ُدُقحرَأَو يِّلَصُأَو هيلع قفتم هاور.ب

429

Artinya :

Telah mengabarkan kepadai kami Humaid bin Abi Humaid al-Thawil, bahwasanya dia mendengari Anas bin Malik berkata: Tiga orang sahabat datang ke rumah istri-istri Nabi, mereka bertanya tentang badahnya Rasulullah saw. Setelah mendapat penjelasan, maka mereka merasa bahwa ibadah mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ibadahnya Rasulullah saw, sehingga mereka berkata: "di nama kedudukan ibadah kita bila dibandingkan dengan ibadahnya Nabi saw, padahal dosa Nabi saw. yang lalu dan yang akan datang telah diampun Allah!

Lantas, salah seorang dari mereka berkata: “Aku akan shalat sepanjang malam, selamanya." Yang kedua mengatakan:

“Aku akan teru berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka, selamanya."

Adapun yang ketiga mengatakan:

“Aku akan menjauhi wanita dan tidak menikah, selamanya." Mendengar tentang sikap ketiga Sahabat itu, Rasulullah pun datang lalu berkata:

“Benarkah kalian yang berkata begini dan begitu? Ketahuilah, demi Allah, akulah hamba yang paling takut dan paling bertakwa kepada-Nya. Kendati demikian, aku puasa dan berbuka, aku shalat malam dan tidur, dan aku pun menikahi wanita. Barang siapa tidak menyukai isunnahkui (iyang iseperti itu), imaka ia ibukan termasuk igolongankui.(Hadits Muttafaq ‘Alaihi)

429 Muhammad bin Ismāil Abū Abdullāh Al-Bukhārī al-Ju’fī, Shahīh al-Bukhārī, Tahqīq Muhammad Zuhair bin Nāshir Al-Nāshir, Juz.VII,...h. 2

Hadits yang mulia ini menjelaskan tentang sunnah tarkiyah yakni bagaimana Rasulullah saw. melarang seseorang beribadah dengan cara yang tidak disyariatkan.

Perbuatan tiga orang sahabat tersebut terlihat sebagai ghulluw dalam beribadah sehingga menyalahi apa yang disunnahkan oleh Rasulullah saw.

Kemudian maksud dari sunnah dari hadits atas adalah jalan selain kewajiban, sedangkan keengganan untuk melakukan sunnah Rasulullah saw. ada dengan memiliki jalan lain seperti jalan yang dilakukan oleh para pendeta yang terlalu memaksakan diri dan berlebih-lebihan di dalam ibadah, karena sunnah Rasulullah saw. adalah jalan yang lurus dan moderat sehingga Rasulullah saw. berbuka puasa agar kuat di dalam berpuasa, tidur agar kuat di dalam bangun malam, dan menikah untuk menjinakkan syahwat menjaga kesucian diri dan memperbanyak keturunan.

Maka orang-orang yang tidak menyukai sunnah-sunnah Rasulullah saw. tersebut bukanlah termasuk jalanku, kecuali jika ketidaksukaan tersebut atas dasar menentang, maka maknanya adalah tidak termaksud di dalam agamaku.430

Apabila diperhatikan, ketiga orang tersebut menghendaki kebaikan. Bahkan sama sekali mereka tidak menghendaki keburukan. Apalagi Ibnu Hajar berkata: “Dan dalam riwayat yang mursal dari Sai’d Ibnu al-Musayyib sebagaimana dikeluarkan oleh Abdurrazaq dalam Mushannafnya (6/167) bahwasanya tiga orang tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dan Utsman bin Madz’un. 431

Apakah perkataan salah seorang dari mereka “Saya akan menjauhi para wanita” tidak lain menunjukkan untuk beribadah kepada Allah swt. Perkataan salah seorang dari mereka “Saya akan shalat malam selama-lamaanya” menunjukkan ia akan sungguh-sungguh bermujahadah melawan hawa nafsunya demi beribadah sujud kepada Allah swt. Mereka memandang bahwa kehidupan dunia ini fana, lalu mereka

430 Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abū al-Fadhl al-‘Asqalānī, Fathu al-Bārī Syarh Shahīh al- Bukhārī, Juz.IX,...h. 105-106

431 Abū Bakar Abdurrazaq bin Hamam bin Nafi’ al-Humairī al-Yamanī al-Sha’anī, al- Mushannaf, Tahqīq Habiburrahmān al-‘Ahzmaī, Juz. VI, (Cet.II; Beirūt: al-Maktab al-Islāmī,1403 H), h. 167

pun mengedepankan hak Allah daripada kesenangan kehidupan duniawi. Pada saat mereka mengetahui ibadah Nabi saw. yang telah dimaafkan dosa-dosanya, baik yang telah lampau maupun yang akan datang, mereka berkesimpulan bahwa ibadah mereka harus lebih banyak dari pada yang telah diamalkan oleh Nabi saw. Mereka berpandangan tidak ada jaminan ampunan dosa-dosa yang akan datang. Mereka beranggapan, barang siapa yang tidak dijamin ampunan dosa-dosanya maka harus berlebih-lebihan dalam beribadah dengan harapan memperoleh ampunan Allah swt.

dengan beribadah yang berlebih-lebihan tersebut.

Nabi saw. membantah persangkaan mereka dengan berkata:

َِِّللَّ حمُكاَقح تَأَو حمُكاَشحخََلأ ِّنِّإ

Artinya:

Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah swt. dibandingkan kalian.

Ucapan Nabi saw. ini untuk menjelaskan, bukan merupakan suatu kelaziman bahwa orang yang lebih takut kepada Allah swt. (karena belum jelas jaminan ampunan dosa) harus berlebih-lebihan dalam beribadah. Karena bagaimanapun juga, meskipun Nabi saw. telah diampuni dosa-dosanya, Rasulullah saw. yang lebih takut kepada Allah dibandingkan mereka. Akan tetapi, Nabi saw. tidak berlebih-lebihan dalam beribadah.432

Nabi saw. tidak berkata kepada mereka “ Bersungguh-sungguhlah, teruskan niat baik kalian semoga Allah memberi taufik kepada kalian dan memudahkan kesungguhan kalian dalam beribadah keapda Allah swt. Namun Nabi saw. sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada mereka. Tidak memandang niat baik mereka, karena amal yang hendak mereka lakukan tidak seperti yang dicontohkan Nabi saw. Bahkan Nabi saw. membantah perkataan mereka satu persatu, perkataan orang pertama. “Aku shalat (yaitu shalat malam) dan tidur” untuk membantah perkataan orang yang kedua. “ Dan aku menikahi para wanita” untuk membantah

432 Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abū al-Fadhl al-‘Asqalānī, Fathu al-Bārī Syarh Shahīh al- Bukhārī, Juz.IX,...h. 105

perkataan orang yang ketiga. Kemudian Nabi saw. mengakhiri bantahannya dengan perkataannya yang keras,“ Barang siapa yanag membenci sunnahku maka ia tidak termasuk dariku.”433

2. Sebagian sahabat melakukan perbuatan-perbuatan ibadah yang tidak ada dalil khusus menunjukkan hal tersebut, Akan tetapi Nabi tidak mengingkarinya. Sebagian kaum muslimin menjadikan dalil perbuatan sahabat tersebut adanya bid’ah hasanah.

Contohnya antara lain sebagai berikut:

a. Kisah Khubaib yang shalat dua raka’at sebelum terbunuh, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dari Sahabat Abū Hurairah berkata:

حمَُلَ َلاَق ،ِّلِلْا ِفي ُهوُلُ تحقَ يِل ِمَرَلْا َنِم اوُجَرَخ اَّمَلَ ف ،ِحينَتَعحكَر حعَكحرَأ ِنّوُرَذ :ٌبحيَ بُخ

اَهُ تحلَّوَطَل ٌعَزَج ِبِ اَم َّنَأ اوُّنُظَت حنَأ َلاحوَل :َلاَق َُّثُ ،ِحينَتَعحكَر َعَكَرَ ف ،ُهوُكََترَف َلِتُق ٍمِلحسُم ٍئِرحما ِّلُكِل ِحينَتَعحكَّرلا َّنَس َوُه ٌبحيَ بُخ َناَكَف ِثِراَلْا ُنحبا ُهَلَ تَقَ ف ....

اًحبََص

Dalam dokumen Eksistensi Sunnah Tarkiyah dalam Fiqh Islam (Halaman 177-182)