dapat dimasuki melalui pintu qiyas (analogi). Maka wajib menjaga (tidak mengubah) lafazh yang datang dari syariat..”
(2) Pengingkaran Rasulullah saw. terhadap hal-hal baru yang dilakukan oleh sahabat Abu Israel yang melakukan suatu amalan yang tidak dianggap sebagai cara pendekatan diri kepada Allah swt. di dalam syariat Islam. Hal ini terjadi ketika Abu Israel berdiri di bawah terik matahari ketika Rasulullah saw. sedang berkhutbah. Rasulullah saw. kemudian menanyakan sebabnya, para sahabat kemudian menjawab bahwa Abu Israel yang sedang bernadzar untuk terus berdiri dan tidak bernaung, tidak berbicara dan berpuasa. Lalu Rasulullah saw.
memerintahkan agar Abu Israel itu untuk berbicara, bernaung, dan duduk serta meneruskan puasanya. Sebagaimana dalam riwayat Imam Malik:
حنَع ُهاََبَحخَأ اَمَُّنََأ ،ِّيِليِّدلا ٍدحيَز ِنحب ِرحوَ ثَو ،ٍسحيَ ق ِنحب ِدحيَُحم حنَع ،ٍكِلاَم حنَع ، َيحَيَ ِنَّثَّدَح َلوُسَر َّنَأ ،ِهِبِحاَص ىَلَع ِثيِدَحلْا ِفي ُديِزَي اَُهمُدَحَأَو ،َملَسَو ِهيَلَع الله ىلَص ِالله ِلوُسَر ىلَص ِالله :اوُلاَقَ ف ؟اَذَه ُلَبِ اَم :َلاَقَ ف ِسحمَّشلا ِفي اًمِئاَق ًلاُجَر ىَأَر َملَسَو ِهيَلَع الله
ِالله ُلوُسَر َلاَقَ ف ،َموُصَيَو ،َسِلحَيَ َلاَو ،ِسحمَّشلا َنِم َّلِظَتحسَي َلاَو ،َمَّلَكَتَ ي َلا حنَأ َرَذَن َّلَكَتَ يحلَ ف ُهوُرُم :َملَسَو ِهيَلَع الله ىلَص .ُهَماَيِص َّمِتُيحلَو ،حسِلحجَيحلَو ،َّلِظَتحسَيحلَو ،حم
ُلوُسَر ُهَرَمَأ حدَقَو ،ٍةَراَّفَكِب ُهَرَمَأ َملَسَو ِهيَلَع الله ىلَص ِالله َلوُسَر َّنَأ حعَحسََأ حَلَو :ٌكِلاَم َلاَق َو ،ًةَعاَط َِِّللَّ َناَك اَم َّمِتُي حنَأ َملَسَو ِهيَلَع الله ىلَص ِالله .ًةَيِصحعَم َِِّللَّ َناَك اَم َكُحترَي
هاور
menjadi ketaatan kepada Allah dan meninggalkan apa yang menjadi maksiat kepada Allah swt. (HR.Mālik)
Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah saw. mengingkari sebagian dari apa yang dilakukaan oleh Abu Israel yaitu tidak berbicara, tidak bernaung dari terik matahari dan tidak duduk karena tidak memiliki dasar di dalam syariat baik dari al- Qur’an atau sunnah Rasulullah saw. apalagi hal tersebut menyiksa diri sendiri dan tidak memiliki nilai ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah swt. karena ketaatan adalah apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
(3) Pengingkaran Rasulullah saw. terhadap sahabat Abu Burdah yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied. Sebagaimana dalam riwayat Bara’ bin ‘Azib:
َّنلا َمحوَ ي َمَّلَسَو ِهحيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا ُلوُسَر اَنَ بَطَخ :َلاَق ، ٍبِزاَع ِنحب ِءاََبَلا ِنَع َدحعَ ب ِرحح
َكَسَن حنَمَو ،َكُسُّنلا َباَصَأ حدَقَ ف ،اَنَكحسُن َكَسَنَو ،اَنَ تَلاَص ىَّلَص حنَم :َلاَقَ ف ،ِةَلاَّصلا حدَقَل َِّللَّاَو ،َِّللَّا َلوُسَر َيَ :َلاَقَ ف ،ٍراَيِن ُنحب َةَدحرُ ب وُبَأ َماَقَ ف ،ٍمحَلْ ُةاَش َكحلِتَف ،ِةَلاَّصلا َلحبَ ق حبَ ق ُتحكَسَن ،ُتحلَّجَعَ تَ ف ، ٍبحرُشَو ٍلحكَأ ُمحوَ ي َمحوَ يلا َّنَأ ُتحفَرَعَو ،ِةَلاَّصلا َلَِإ َجُرحخَأ حنَأ َل
ُةاَش َكحلِت :َمَّلَسَو ِهحيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا ُلوُسَر َلاَقَ ف ِنّاَيِْجَو ،يِلحهَأ ُتحمَعحطَأَو ،ُتحلَكَأَو ٍمحَلْ
يراخبلا هاور.
441
Artinya:
Dari al-Barra’ bin Azib berkata: Rasulullah saw. berkhutbah kepada kami pada waktu hari ‘Idul adha, lalu ia bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat ‘Ied kemudian menyembelih hewan qurban sesuai aturan kami, maka dia telah mengamalkan qurban yang benar. Dan barang isiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat, maka sembelihannya hanyalah sembelihan biasa (bukan sembelihan qurban) dan dia tidak dianggap melaksanakan qurban. (HR. al-Bukhari). Maka hendaknya ia menyembeli sembelihan yang lain sebagai gantinya).”Abu Burdah bin Niyar berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, saya menyembelih sembelihanku aku keluar untuk shalat ‘Ied, dan aku mengetahui bahwasanya hari ini adalah hari makan dan minum maka aku pun bersegera (menyembelihnya) lalu memakannya dan aku memberi makanan kepada keluargaku dan para tetanggaku.” Maka Nabi saw.
berkata, “Daging sembelihanmu itu hanyalah daging biasa (bukan daging kurban) (HR. Al-Bukhārī)
Dalam riwayat lain Abu Burdah berkata:
441 Muhammad bin Ismāil Abū Abdullāh Al-Bukhārī al-Ju’fī, Shahīh al-Bukhārī, Juz. II,...h.
23
ِتِحيَ ب ِفي ُحَبحذُي اَم َلَّوَأ ِتاَش َنوُكَت حنَأ ُتحبَ بححَأَو يراخبلا هاور.
442
Artinya:
Aku ingin agar kambingku adalah kambing yang pertama kali disembelih di rumahku
Dalam riwayat yang lain Abū Burdah berkata:
يِراَد َلحهَأَو ِنّاَيِْجَو يِلحهَأ َمِعحطُِلأ ِتَِكيِسَن ُتحلَّجَع ِّنِّإَو ملسم هاور.
443
Artinya:
Ya Rasulullah aku segera memotong sembelihanku untuk memberi makan keluarga, para tetanggaku, dan para familiku.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,
حَل ًةَنَسَح ًةَّيِن َقَفاَو حنِإَو َلَمَعحلا َّنَأ ِهيِفَو َةَرحَجْ ِبَِأ ُنحب ِدَّمَُمُ وُبَأ ُخحيَّشلا َلاَق اَذِإ َّلاِإ َّحِصَي
ِعحرَّشلا ِقحفَو ىَلَع َعَقَو
444
Artinya:
“Abū Muhammad bin Abī Hamzah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa suatu amalan meskipun dibangun di atas niat yang baik, namun jika tidak sesuai dengan syariat maka tidak sah.”
Lihatlah bagaimana niat baik Abū Burdah tidak menjadikan sembelihan qurbannya diterima. Padahal ia melakukannya bukan karena sengaja melanggar syariat Rasulullah saw. Namun ia melakukannya karena tidak mengetahui hal tersebut. Apabila direnungkan pun bisa jadi ide Abū Burdah tersebut merupakan ide yang sangat cemerlang. Terlebih di zaman sekarang ini yang terkadang shalat ‘Iednya lama. Apabila para jama’ah pulang dari shalat dalam keadaan lapar dan hewan sembelihan qurban telah siap dihidangkan (karena telah disembelih sebelum shalat
‘Ied) maka itu sungguh baik. Namun, ide yang cemerlang itu melanggar syariat Nabi
442 Muhammad bin Ismāil Abū Abdullāh Al-Bukhārī al-Ju’fī, Shahīh al-Bukhārī, Tahqiq Muhammad Zuhair bin Nāshir Al-Nāshir, Juz. II,...h. 17
443 Muslim bin Hajjaj Abū al-Hasan al-Qusyairī al-Naisabūrī, al-Musnad al-Shahīh al- Mukhtashar, Tahqīq Majmū’ah min Muhaqiqīn, Juz. VI,...h. 74
444 Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abū al-Fadhl al-‘Asqalānī, Fathu al-Bārī Syarh Shahīh al- Bukhārī, Juz.X,...h.16
saw. Meskipun disertai dengan niat yang baik tidak dapat menjadikan amalan tersebut diterima.445
Jika ternyata tidak semua ijtihad para sahabat dalam ibadah disetujui oleh Nabi saw. lantas dari mana para pelaku dan pencipta bid’ah hasanah mengetahui bahwasannya Nabi saw. pasti menyetujui bid’ah-bid’ah mereka? Padahal Nabi saw.
telah bersabda, “Semua bid’ah sesat”.446
Kedua: Shalat sunnah wudhu dan juga shalat sunnah sebelum dibunuh oleh musuh bukanlah suatu ibadah yang baru yang tidak pernah disyariatkan oleh Nabi saw. Tidaklah disebutkan bahwa shalat sunnah wudhu adalah kreasi Bilal. Akan tetapi, Nabi saw. hanya bertanya kepada Bilal tentang ibadah yang paling memberi pengharapan kepadanya. Tidak termaktub dalam riwayat-riwayat hadits ini bahwa Bilal telah menciptakan (melakukan bid’ah) shalat sunnah wudhu. 447
Peneliti menegaskan bahwa perbuatan Bilāl tersebut sesuai perintah Nabi saw.
dan tidaklah benar (yakni perlu dikaji ulang secara komprehensif) klaim bahwa Bilal melakukan bid’ah, pemahaman seperti itu sangat jauh dari sifat para sahabat yang dijelaskan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an.
Nabi saw. mengatakan, “Amalan apa yang menjadi andalanmu ?” Seolah-olah Nabi saw. mengatakan, ”Wahai Bilal, dari semua yang amalan yang aku ajarkan, amalan mana yang menjadi andalanmu?”. Karena amalan shalat sunnah wudhu sudah diajarkan oleh Nabi saw. kepada para sahabat yang lain. Dan peneliti berprasangka baik bahwa sahabat Bilal r.a. mengetahui juga amalan shalat sunnah wudhu tersebut.
Hadits yang mendukung perbuatan Bilal tersebut yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat yang mulia Utsmān bin Affān setelah Utsmān menjelaskan tata cara wudhu yang sempurna sesuai ajaran Nabi saw.
445Firanda Andirja Abidin, Bid’ah Hasanah, (Mengenal Bid’ah dan Sunnah),...h. 32
446 Firanda Andirja Abidin, Bid’ah Hasanah, (Mengenal Bid’ah dan Sunnah),..h. 232
447 Firanda Andirja Abidin, Bid’ah Hasanah, (Mengenal Bid’ah dan Sunnah),..h. 232