َمُ
َم ٌة َّك
134
Artinya:
“Sebuah adat (kebiasaan) itu bisa dijadikan landasan hukum.”
Perlu diktehaui bahwa lafadz al-‘Adah tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah, namun yang ada adalah lafadz al-urf dan al-ma’ruf. Dan ayat dan hadits dengan lafadz al-urf itulah yang dijadikan dasar oleh para ulama untuk kaidah ini.135 Diantaranya adalah :
1. Dalil al-Qur’an
Firman Allah swt. dalam QS. al A’rof /7:199
ِنَع حضِرحعَأَو ِفحرُعحلِبِ حرُمحأَو َوحفَعحلا ِذُخ َينِلِهاَحلا
133 Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab bin al-Hasan al-Sulamī, Jāmī’ al-‘Ulūm wa al-Hikam,Tahqīq Syu’aib al-Arna’ut dan Ibrahīm Bajis, Juz. I, (Cet.VII, Beirūt: Mussasah al- Risālah,1422 H/2001 M), h.178
134 Ya’qūb bin Abdul Wahhāb Bā Husain, Al-Mufashol fī al-Qawā’id al-Fiqhiyyah, (Cet. II, Riyādh: Dār al-Tadmuriyah, 1432H/2011M), h. 403
135 Abū Ubaidah Yūsuf bin Mukhtār al-Sidawī, Mengenal 5 Kaedah Dalam Fiqh, (Jawa Timur: Media Dakwah al-Furqan, t.th), h. 47
Terjemahnya:
“Jadilah engkau pemaaf dan perintahkanlah orang mengerjakan yang al- ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”136
Juga firman-Nya dalam QS. al-Baqarah/1: 233)
َّنُهُ قحزِر ُهَل ِدوُلحوَمحلا ىَلَعَو ِفوُرحعَمحلِبِ َّنُُتََوحسِكَو
Terjemahnya:
“Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya secara ma’ruf.”137
Dan beberapa ayat lain yang menyebut lafadz al-urf atau al-ma’ruf yang mencapai 37 ayat. Yang mana maksud dari al-urf dan al-ma’ruf disemua ayat ini adalah dengan cara baik yang diterima oleh akal sehat dan kebiasaan manusia yang berlaku.138
2. Dalil dari Sunnah.
Banyak dalil dari sunnah yang memerintahkan sesuatu kemudian mengaitkan pelaksanaanya dengan cara al-ma’ruf. Di antaranya adalah.
ِهحيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا ِلوُسَرِل َةَيِواَعُم ُّمُأ ٌدحنِه حتَلاَق :اَهح نَع َُّللَّا َيِضَر َةَشِئاَع حنَع :َمَّلَسَو
يِذُخ:َلاَق ؟ا رِس ِهِلاَم حنِم َذُخآ حنَأ ٌحاَنُج َّيَلَع حلَهَ ف ،ٌحيِحَش ٌلُجَر َناَيحفُس َبَِأ َّنِإ ِفوُرحعَمحلِبِ ِكيِفحكَي اَم ِكوُنَ بَو ِتحنَأ يراخبلا هاور.
139
Artinya:
Dari Aisyah r.ha. sesungguhnya Hindun binti utbah r.ha. berkata: Wahai Rasulullah saw. sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang sangat pelit, dia tidak memberikan nafkah yang cukup untukku dan anakku kecuali apa yang saya ambil sendiri tanpa sepengetahuannya, maka Rasulullah saw. bersabda:
“Ambillah yang cukup bagimu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf.” (HR.
Bukhari)
“al-Ma’ruf” dalam hadits ini ditafsirkan dengan ukuran kebutuhan seorang istri sesuai kebisaan yang ada.140
136 Kementerian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahan,...h. 176
137 Kementerian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahan,...h. 37
138 Abū Ubaidah Yūsuf bin Mukhtār al-Sidawī, Mengenal 5 Kaedah Dalam Fiqh,…h. 47
139 Muhammad bin Ismāil Abū Abdullāh Al-Bukhārī al-Ju’fī, Shahīh al-Bukhārī, Tahqīq Muhammad Zuhair bin Nāshir Al-Nāshir, Juz. III, (Cet.I , Dār Thūqun Najah, 1422 H), h. 79
140 Abū Ubaidah Yūsuf bin Mukhtār al-Sidawī, Mengenal 5 Kaedah Dalam Fiqh,...h. 49
a. Syarat penerapan al-urf :
Tidak semua al-urf bisa dijadikan sandaran hukum, akan tetapi harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:141
1) Al-Urf itu berlaku umum
Oleh karena itu kalau hanya merupakan al-urf orang-orang tertentu saja, maka tidak bisa dijadikan sebagai sebuah sandaran hukum.
2) Tidak ada nash dalam adat tersebut
Adapun jika ada dalil yang jelas tentang adat tersebut baik dari l-Qur’an, hadits atau ijmak, maka itulah yang menjadi pedoman.
3) Tidak bertentangan dengan nash syar’i
Al-Sarokhsi berkata: “Setiap adat yang bertentangan dengan syariat maka tidaklah dianggap”. Ibnu Aqil juga berkata: “Tidak sepantasnya menyelisihi adat manusia untuk mengambil hati masyarakat setempat kecuali jika itu adalah adat yang haram maka harus diselisihi, masyarakat ridho atau tidak ridho”.
Contohnya banyak sekali, jika ada orang yang beralasan mengenakan pakaian yang tidak menutup aurat dengan alasan adat, maka alasan tersebut bathil.
4) Adat tersebut tidak masuk area ibadah
Jika masuk dalam area ibadah maka hukum asalnya adalah terlarang, sebagaimana kaidah yang telah berlalu. Contohnya adalah acara-acara bid’ah, khurofat dan tahayul yang dilakukan dengan alasan menghidupkan budaya dan adat istiadat.
5) Tidak berbenturan dengan tashrih
Kalau sebuah al-urf berbenturan dengan tashrih (ketegasan seseorang dalam sebuah masalah) maka al-urf itu tidak berlaku. Ibnu Abdussalam berkata:
“Setiap yang ditetapkan oleh al-urf namun, apabila kedua pemilik akad/transaksi menegaskan menyelisihinya maka itu sah”
141 Ya’qūb bin Abdul Wahhāb Bā Husain, Al-Mufashol fī al-Qawā’id al-Fiqhiyyah,...h. 413- 414
Misalnya : Kalau seseorang bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah daerah yang biasanya digaji 100 ribu tapi pemilik bangunan membuat syarat adan ketegasan bahwa gajinya adalah kurang atau lebih dari itu dan disetujui oleh pekerja maka hukumnya boleh.
b. Contoh penerapan kaidah:142
1) Penemuan-penemuan modern seperti internet, hp, pesawat, radio, televisi dan sebagainya. Hukum asalnya adalah boleh dan tergantung kepada penggunaannya.
2) Tidak ada batasan tertentu tentang berapa jumlah nafkah yang harus diberikan suami kepada istrinya, namun semua itu dikembalikan kepada al-urf.
3) Kebiasaan mudik dan berkunjung ke kerabat dan tetangga untuk silaturrahmi di hari raya idhul fithri adalah boleh selagi aman dari kemunkaran.
4) Memakai pakaian seragam, pakaian batik, kopyah hitam dan sebagainya.
Hukum asalnya adalah boleh.
5) Syukuran karena usai bangun rumah atau karena anaknya bisa jalan hukum asalnya adalah boleh jika tidak disertai kemunkaran dan keyakinan-keyakinan tertentu yang bathil.
6) Aturan-aturan yang dibuat untuk kemaslahatan dunia oleh pemerintah, pabrik, sekolah dan sebagainya
c. Hakikat Ibadah
Pelaksanaan ibadah dan tata cara beribadah dalam bentuk apa pun tidak dapat terealisasi dan diterima kecuali dilaksanakan sesuai dengan syariat dalam enam perkara, yaitu:
Pertama: Sebab (ببسلا )
Apabila seseorang melakukan ritual ibadah untuk Allah swt. yang dikaitkan dengan sebab tertentu, sementara sebab tersebut tidak disyariatkan, maka perbuatan tersebut tidak diterima. Contohnya seandainya seseorang ketika masuk ke dalam
142 Abū Ubaidah Yūsuf bin Mukhtār al-Sidawī, Mengenal 5 Kaedah Dalam Fiqh,...h. 51
mesjid selalu menggunakan siwak, sebab diqiyaskan kepada bersiwak ketika masuk ke dalam rumah, maka hal tersebut tidak sah (diterima)143
Apa yang sebabnya ada di zaman Nabi saw. dan tidak dikerjakan oleh Nabi saw. Maka meninggalkan sesuatu tersebut adalah sunnah. Maka apa yang dikerjakan oleh Nabi saw. adalah sunnah begitu pula apa yang ditinggalkan oleh Nabi saw.
adalah sunnah. Segala sesuatu yang sebabnya ada di zaman Nabi saw. namun, tidak dikerjakan oleh Nabi saw. maka meninggalkannya adalah sunnah. Oleh Sebab itu, apa yang dilakukan oleh sebagian manusia merayakan Maulid Nabi saw. adalah suatu kebid’ahan. Karena merayakan Maulid Nabi saw. sebabnya ada di zaman Nabi saw.
tetapi Nabi saw. tidak melakukannya dan tidak juga dilakukan oleh Khulāfā’ al- Rāsyidīn.144
Kedua: Jenis ) سنجلا (
Apabila seseorang melakukan ritual ibadah untuk Allah yang jenisnya tidak ditentukan oleh syari’at, maka ibadah tersebut tertolak, seperti berkurban dengan ayam, atau seluruh jenis burung, karena tidak ada perintah Allah dan Rasul-Nya.145
Ketiga: Kadar ) ردقلا (
Seseorang harus beribadah dengan kadar yang ditetapkan syariat, maka siapa yang menambah atau mengurangi satu raka’at untuk shalat yang telah ditentukan rakaatnya, maka perbuatan tersebut bid’ah dan tertolak, karena ukuran ibadah tidak boleh diubah oleh siapa pun bila Allah swt. dan Rasul-Nya telah menetapkan secara baku seperti jumlah raka’at shalat lima waktu, nishab zakat, puasa ramadhan 1bulan, tawaf tujuh kali, dan lain-lain.146
Keempat: Tata Cara ) ةيفيكلا (
143 Khālid bin ‘Ali al-Musyaiqī, Syarh al-Qawā’id wa al-Ushūl al-Jāmi’ah, Cet. I, (Riyādh:
Maktabah al-Rusydi, 1436 H), h. 64
144 Khālid bin ‘Ali al-Musyaiqī, Syarh al-Qawā’id wa al-Ushūl al-Jāmi’ah,...h. 65
145 Zainal Abidin bin Syamsuddin, Akidah Muslim, (Landasan Pokok Ahli Sunnah wa al- Jama’ah),...h. 250
146 Zainal Abidin bin Syamsuddin, Akidah Muslim, (Landasan Pokok Ahli Sunnah wa al- Jama’ah),...h. 251
Seluruh ibadah harus ditunaikan sesuai dengan tata cara yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, karena setiap ibadah memiliki tata cara baku yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya seperti shalat, haji dan umrah, dzikir setelah shalat, dzikir pagi petang hingga keluar masuk kamar kecil untuk buang hajat telah diajarkan oleh Rasulullah saw. termasuk tata cara bersuci dari mulai wudhu dan mandi junub.147
Kelima: Waktu ) تقولا ( Jika pelaksanaan suatu ibadah terikat dengan waktu tertentu, maka ibadah tersebut dianggap tidak sah bila dikerjakan tidak pada waktunya seperti shalat dhuhur dikerjakan pada waktu Dhuha, menyembelih hewan kurban pada bulan Rajab dan lain-lain.148
Keenam: Tempat ) ناكملا (
Jika pelaksanaan ibadah terikat dengan tempat tertentu, maka ibadah tersebut dianggap tidak sah bila dikerjakan di selain tempat yang telah ditentukan oleh syariat seperti; wukuf di Muzdalifah pada tanggal sembilan Dzulhijjah, thawaf di sekitar Masjid Quba’, meskipun jumlah dan tata cara benar.149
Berikut ini dapat peneliti gambarkan kerangka konseptual terkait dengan judul penelitian:
147 Zainal Abidin bin Syamsuddin, Akidah Muslim, (Landasan Pokok Ahli Sunnah waal- Jama’ah),...h. 252
148 Zainal Abidin bin Syamsuddin, Akidah Muslim, (Landasan Pokok Ahli Sunnah waal- Jama’ah),...h. 252
149Zainal Abidin bin Syamsuddin, Akidah Muslim,(Landasan Pokok Ahli Sunnah wa al- Jama’ah),...h. 252
F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research) merupakan penelitian yang menggunakan data pustaka, sumber data dan objek penelitian adalah buku-buku atau kitab-kitab tertentu yang ada di perpustakaan. 150
Sedangkan sifat penelitian ini, adalah deskriptif-kualitatif.151 Dikarenakan penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas dan sistematis tentang eksistensi sunnah tarkiyah dalam fiqh Islam.
2. Pendekatan Penelitian.
Peneliti dalam menyusun tesis ini, menggunakan pendekatan syar’i yaitu pendekatan..yang menggunakan kaidah-kaidah agama baik dari aspek teologi maupun aspek hukum dan kaidah-kaidahnya.152
Fokus penelitian ini, adalah eksistensi sunnah tarkiyah dalam fiqh Islam
150 Sutrisno Hadi, Metode Research, Jilid. I, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1986 M), h. 3
151 Penelitian Deskriptif Kualitatif adalah suatu metode penelitian yang diajukan untuk menggambarkan dan menelaah penelitian dan bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Lihat; Saifuddin Azwar, Metode Penelitian (Cet. I, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1998), h. 7
152 Hamka, Falsafah Ushul Fiqhi, (Cet. I; Ujung Pandang: al-Ahkam, 1998 M), h. 136
Al-Qur’an
Sunnah Tarkiyah
Menjadi Hujjah dalam
Menetapkan Hukum Bukan Hujjah dalam
Menetapkan Hukum Implikasi Makna Sunnah
Tarkiyah Terhadap Beberapa Masalah
Furu’iyyah
dengan pendekatan tersebut diharapkan mampu mengetahui secara jelas eksistensi sunnah tarkiyah.
3. Pengumpulan Data.
a. Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah kepustakaan. Tesis ini penelitian kepustakaan, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode library research, mengumpulkan bahan-bahan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dan dilakukan melalui studi kepustakaan.153
b. Sumber Data
Ada dua sumber data yaitu primer dan sekunder. Sumber data primer yaitu informasi yang secara langsung mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap pengumpulan dan penyimpanan data, sumber semacam ini dapat disebut juga dengan data atau informasi dari satu orang ke orang lain.154
1) Ma’ālim Ushūl al-Fiqh ‘Inda Ahli Al-Sunnah wa al-Jamā’ah,Disertasi doktoral di Universitas Islam Madinah jurusan Ushūl Fiqh. Karya Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī. Disertasi yang akhirnya diterbitkan oleh Dar Ibnu al-Jauziy, Al-Jizānī
2) Sunnah al-Tark wa Dalālatuhā ‘Alā al-Ahkām al-Syar’iyah. Karya Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī.
3) As-Sunnah at-Tarkiyah Mafhūmuha, Hujjiayatuhā, Atsaratuha, Al-Asilatu Al- Wāridah ‘Alaihā. Disertasi doktoral di Universitas Ummu Durman yang ditulis oleh Syaik Dr. Yahya bin Ibrahīm Khalīl.
4) Af’āl al-Rasūl wa Dalālatuhā ‘Alā al-Ahkām al-Syar’iyah, Karya Muhammad Sulaimān al-Asyqar yang akhirnya memberikannya gelar doktor dari Universitas al-Azhar jurusan Ushūl Fiqh. Disertasi yang akhirnya diterbitkan oleh Muassasah al-Risālah,
153 Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Prakteknya,(Jakarta: Bumi Askara,2003), h. 34-35
154 Muhammad Ali, Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi,( Bandung: Angkasa, 1993), h. 42
5) al-Tark ‘Inda al-Ushūliyyīn. Tesis karya Muhammad Rubhi Muhammad Mallah yang memberikannya gelar Master dari Fakultas Dirāsah Ulyā Universitas al- Najah al-Wataniyah di Nablus Palestina.
6) Dirāsah fī Ushūl al-Fiqh “Mashādir al-Tasyrī”.Karya Mutawallī al-Barajilī.
Diterbitkan oleh Dār al-Salafiyah.
7) Taisīr Ilmu Ushūl Al-Fiqh. Karya Abdullāh bin Yūsuf al-Judayyi’. Beliau menjelaskan pengertian sunnah, pembagiannya dan kaidah sunnah tarkiyah.
8) Husn al-Tafahhum wa al-Dark li Mas’alah al-Tark. Karya Sayyid Abdullāh bin Muḥammad bin al-Ṣiddīq al-Ghumārī, diterbitkan oleh Maktabah al-Qāhirah, 1423 H/2002 M.
9) Qawā’id Ma’rifah al-Bida’. Karya Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī. 10) Mi’yāru al-Bid’ah (Dhawābith al-Bid’ah ‘Alā Tharīqat al-Qawā’id al-Fiqhiyah.
Karya Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizānī.
Adapun sumber data sekunder dipakai untuk lebih memperdalam kajian dan mempertajam analisa yaitu sumber data tambahan atau sumber pendukung yang juga berkaitan dengan penelitian ini.
4. Teknik Pengolahan dan Analisis data
Untuk sampai kepada tujuan dan kesimpulan dalam penelitian ini, maka teknik pengolahan data yaitu mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil penelusuran kepustakaan. Peneliti menggunakan metode analisis data yaitu analisis isi (conten analysist) dengan mencoba meneliti secara rinci permasalahan sunnah tarkiyah secara deskriptis analistis.
G. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan
Penelitian ini bertujuan:
a. Untuk dapat menemukan hakikat makna sunnah tarkiyyah.
b. Untuk dapat menemukan bangunan argumentasi eksistensi sunnah tarkiyyah.
c. Untuk dapat menemukan serta menganalisis implikasi makna sunnah tarkiyah terhadap beberapa masalah furu’iyah.
2. Kegunaan
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah : a. Kegunaan Ilmiah (al-Fawā’id al-‘Ilmiah)
Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemahaman tentang eksistensi sunnah tarkiyah dalam fiqh Islam, sekaligus juga dapat memberikan khazanah perkembangan intelektual, perkembangan ilmu pengetahuan pada..umumnya dan perkembangan ilmu-ilmu keislaman khususnya yang berkaitan dengan perkembangan usul fiqh kontemporer. Harapan ini merupakan tanggung jawab akademik..dalam upaya peningkatan dan kecerdasan spiritual umat Islam.
Semoga hasil penelitian ini, bermanfaat juga untuk memotivasi para pengkaji untuk mengadakan penelitian lebih. komprehensif sehingga kegiatan penelitian menjadi tradisi ilmiah baik individu maupun secara kelompok.
b. Kegunaan Praktis (al-Fawā’id al-Tatbiqiyyah).
Secara praktis, penelitian ini diharapkan memiliki implikasi secara langsung, antara lain:
1) Dapat menambah wawasan keilmuan dalam perkembangan kajian usul fiqh kontemporer bagi para guru, ustadz, dai’ dan muballigh agar dapat memahami dengan baik eksistensi sunnah tarkiyah dalam fiqh Islam yang pada akhirnya dapat mengikuti dan mencontoh Rasulullah saw.
2) Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan bagi peneliti berikutnya, utamanya kepada peminat kajian-kajian sunnah-sunnah Nabi saw. untuk semakin termotivasi melakukan kajian yang mendalam dan ilmiah.
H. Garis Besar Isi Tesis.
Secara garis besar komposisi bab tesis ini terdiri dari lima bab yang berisi beberapa sub pembahasan yang berkaitan dengan judul penelitian. Garis-garis besar dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut:
Bab pertama, berisi pendahuluan yang memuat; latar belakang masalah, rumusan masalah, definisi operasional judul dan ruang lingkup pembahasan, kajian
pustaka, kerangka teoretis, metodologi penelitian, tujuan dan kegunaan dan garis-garis besar isi tesis.
Bab kedua, Sunnah dan Bid’ah dalam fiqh Islam terdiri: a. Pengertian Sunnah, b. Kedudukan Sunnah dalam Islam, c. Af’alu al-Nabiy (perbuatan Nabi saw.) d.
Macam-Macam Sunnah, e. Pengertian Bid’ah, f. Hadits-Hadits Nabi saw. tentang Bid’ah, g. Bahaya Bid’ah dalam Agama, h. Cara Mengenal Bid’ah, i. Kaidah-Kaidah Bid’ah, j. Adakah Bid’ah Hasanah?, k. Persamaan dan Perbedaan antara Bid’ah dan al-Mashlahah al-Mursalah, l. Macam-Macam Bid’ah.
Bab ketiga, al-Tark dan Sunnah Tarkiyah dalam fiqh Islam, terdiri: a.
Pengertian al-Tark, b. Pengertian Sunnah Tarkiyah, c. Macam-Macam al-Tark., d.
Sunnah Tarkiyah dibangun di atas Tiga Muqaddimah, e. Cara mengetahui sunnah tarkiyah, f. Dhawābith (batasan-batasan) Sunnah Tarkiyah.
Bab keempat, Analisis Implikasi makna sunnah tarkiyah terhadap beberapa masalah furū’iyah.terdiri: a. Periode Nabi saw. b. Periode Sahabat, c. Periode Para Ulama.
Bab kelima, Penutup terdiri: a. Kesimpulan, b. Implikasi penelitian.
BAB II
SUNNAH DAN BID’AH DALAM FIQH ISLAM
A. Pengertian Sunnah 1. Sunnah secara etimologi
Menurut Ibnu Faris155 kata ( َّن َس) adalah huruf sin dan nun yang menjadi satu kesatuan induk yang maththarid (berlaku umum), yaitu jalannya sesuatu. Dan keumumannya itu sangat mudah. Kata ( َّن َس) berasal dari ucapan ( ى َل َع َءا َملا ُت َن ن َس ا ن ِس ُه ن ُس َأ
َو ِه ج
ي ) yang berarti: "Aku mengalirkan air ke wajahku". Salah satu turunan dari kata ( َّن َس) ialah kata ( ة َّن ُس) yang berarti perilaku. Jadi, Sunnah Rasulullah adalah perilaku Nabi saw. yang terpilih. Al-Hudzali mengatakan: