• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-Macam Sunnah

Dalam dokumen Eksistensi Sunnah Tarkiyah dalam Fiqh Islam (Halaman 88-95)

Para ulama ahli al-Sunnah wa al-Jamā’ah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap sunnah Rasulullah saw. Salah satunya dengan menjelaskan macam- macam sunnah melalui beberapa sudut pandang yang berbeda diantaranya:189

1. Sunnah ditinjau dari segi dzatnya.

a. Sunnah qauliyyah.

b. Sunnah fi’liyyah.

c. Sunnah taqrīriyah.

Dan ini mencakup perkataan Nabi saw. perbuatannya, taqrirnya, penulisannya (surat-surat), isyaratnya, keinginannya (rencana), dan apa yang ditinggalkannya. Dan jenis-jenis sunnah ini, sebagiannya masuk kepada sebagian yang lain; maka masuk dalam jenis perbuatan Nabi saw. yakni setiap dari penulisannya (surat-surat), isyaratnya, keinginannya (rencana), dan apa yang ditinggalkan.

Dan sungguh sebagian ulama ushuliyin memasukan sunnah Khulafa’ al-Rasyidin.

Sebagaimana hadist Nabi saw :

187 Muhammad bin Husain al-Jizānī, Ma’ālim Ushūl al-Fiqh ‘Inda Ahli Sunnah wa al- Jamā’ah,...h. 128

188 Muhammad bin Husain al-Jizānī, Ma’ālim Ushūl al-Fiqh ‘Inda Ahli Sunnah wa al- Jamā’ah,...h. 128

189 Muhammad bin Husain al-Jizānī, Ma’ālim Ushūl al-Fiqh ‘Inda Ahli Sunnah wa al- Jamā’ah,...h. 119

ِتَِّنُسِب حمُكحيَلَعَ ف حمُكَّيَِإَو ِذِجاَوَّ نلِبِ اَهح يَلَع اوُّضَعَو َينِّيِدحهَمحلا َنيِدِشاَّرلا ِءاَفَلُحلا ِةَّنُسَو

ةَلَلاَض ٍةَعحدِب َّلُك َّنِإَف ِروُمُلأا ِتَثَدحُمَُو ٌدحمأ هاور.

190

Artinya:

Kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulāfāur Rāsyidīn yang mendapat petunjuk; peganglah ia erat-erat, dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara setiap perkara yan diada-adakan (dalam agama). Karena sesunnguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.

Kemudian sunnah juga selain yang disebutkan di atas, dimasukan dalam pembagian sunnah ditinjau dari kaitannya dengan al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian:191

Pertama, al-Sunnah al-Muakkadah yaitu sunnah yang menguatkan al-Qur’an atau sesuai dengan al-Qur’an misalnya, wajibnya shalat hal ini ditetapkan oleh al- Qur’an dan sunnah.

Kedua, al-Sunnah al-Mubayyinah atau al-Mufassirah yaitu sunnah yang menjelaskan hal-hal yang mujmal dalam al-Qur’an, misalnya jumlah shalat dan zakat dan waktu-waktunya.

Ketiga, al-Sunnah al-Istiqlaliyah atau al-Sunnah al-Zaidah yaitu sunnah yang berdiri sendiri atau sunnah tambahan terhadap apa yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an, misalnya, hukum-hukum syuf’ah, warisan al-Jaddah.

2. Sunnah ditinjau dari segi sampainya kepada kita, jumlah nukilannya dan rawi- rawinya yaitu Mutāwatir dan Aahād .192

Ada juga para ulama yang membagi sunnah menjadi dua jenis, apabilah dilihat dari penisbatannya kepada Rasulullah saw. yaitu:193

190 Ahmad bin Hanbal Abū Abdullāh al-Syaibānī, Musnad Ahmad bin Hanbal, Tahqīq Maktab al-Buhūts bijam’iyyah al-Mu’naz, Juz.VII, (Cet. I; Jam’iyyah al-Muknaz al-Islāmī,1431H), h.1567

191 Muhammad bin Husain al-Jizānī, Ma’ālim Ushūl al-Fiqh ‘Inda Ahli Sunnah wa al- Jamā’ah,...h. 119

192 Muhammad bin Husain al-Jizānī, Sunnah al-Tark wa Dalālatuha ‘alā al-Ahkām al- Syar’iyyah,...h. 14 dan Muhammad bin Husain al-Jizānī, Ma’ālim Ushūl al-Fiqh ‘Inda Ahli Sunnah wa al-Jamā’ah,...h. 119

193.https://muslim.or.id/24143-dua-jenis-sunnah-nabi-sunnah-sharihah-dan-sunnah-

dhimniyyah.html. diakses tanggal 20 September 2021 atau lihat Mizan Qudsiyah, Kaidah-Kaidah Penting Mengamalkan Sunnah,..59

1. Sunnah sharīhah (sunnah yang gamblang atau jelas) adalah sunnah yang disandarkan kepada Rasulullah secara jelas. Ia dapat berupa sabda, perbuatan, ketetapan, atau sikap Nabi saw. Sunnah inilah yang sering kita temukan dalam hadits. Misalnya jika disebutkan di dalam hadits, ”Rasūlullah berkata…”;

“Rasūlullah melakukan…”; “DuluRasūlullah demikian…”; atau “Hal ini terjadi bersama Rasūlullah…” Maka disandarkannya.

2. Sunnah dhimniyyah (sunnah yang tersembunyi). Yaitu sunnah yang tidak secara langsung menyebutkan bahwa hal itu berasal dari Rasulullah saw.

akan tetapi hukum perkara-perkara tersebut terangkat menjadi sunnah marfu’ah sharihah (marfu’ artinya terangkat, yaitu perkataan atau pendapat sahabat,namun terangkat dianggap sebagai perkataan atau pendapat yang berasal dari Rasulullah saw.

a) Sunnah dhimniyyah ini mencakup beberapa jenis sunnah berikut ini:

Perkataan sahabat (tentang sesuatu) yang bukan menjadi ranah (ruang) untuk dilogika oleh akal manusia atau bukan ranah untuk (diperbolehkan) berijtihad dalam perkara tersebut. Karena selama akal tidak bisa dijadikan sebagai sandaran atau tidak boleh berijtihad di dalamnya, maka dari mana sumber atau dari mana sahabat mengambil pendapat tersebut? Tentu mereka mengambilnya dari Rasulullah saw.

b) Ucapan sahabat yang tidak diingkari oleh para sahabat yang lainnya. Maka halini hukumnya sama dengan hukum sunnah marfu’ah. Sebagian ulama berkatabahwa ini termasuk “ijma’ sukūtī” (sukut artinya diam, sehingga maksudnya adalah ijmak atau kesepakatan karena diamnya para sahabat terhadap masalah tersebut atau tidak diingkari oleh mereka). Karena jika seorang sahabat mengatakan sesuatu hal dan sahabat yang lain diam tidak melakukan pengingkaran, maka hal ini adalah dalil bahwa perkataan sahabat tersebut adalah sunnah Rasulullah saw.

Baik hukumnya sunnah sharīhah atas dasar hal tersebut, atau menjadi hujjah (dalil syar’i) karena adanya kesepakatan para sahabat. Maka jadilah hukumnya menjadi ijma’ sukūtī.

c) Ucapan sahabat tentang asbābun nuzūl (sebab atau latar belakang turunnya ayat al-Qur’an). Dalam asbābun nuzūl, maka hal ini hukumnya juga menjadi sunnah marfu’ah. Jika cara pengungkapan yang digunakan tentang sebab turunnya suatu ayat adalah ungkapan yang jelas (gamblang), seperti perkataan,”Terjadi demikian,kemudian Allah menurunkan ayat demikian”, maka hal ini merupakan penegasanbahwa kejadian ini (benar-benar) terjadi pada masa Rasulullah saw.

d) Ucapan sahabat tentang penjelasan suatu hadits yang dia riwayatkan sendiri.

Jika seorang sahabat mendengar hadits dari Rasulullah saw. maka dia mengetahui indikasi-indikasi yang terkandung dalam hadits tersebut.

e) Maka penjelasan sahabat atas hadits yang dia riwayatkan sendiri dari Rasulullah saw. didahulukan atas ucapan sahabat lainnya (yang tidak meriwayatkan atau mendengar langsung hadits tersebut,). Bahkan hukum asalnya adalah bahwa pemahaman atau makna yang menafsirkan hadits tersebut (yaitu pemahaman sahabat yang meriwayatkan hadits) mengalahkan dugaan (zhanny) yang disimpulkan dari ucapan Rasulullah saw. (olehsahabat yang tidak meriwayatkan hadits)

Kemudian ada juga ulama yang membagi sunnah menjadi dua jenis : 1. Sunnah Fi'liyah (yang berupa perbuatan) 194

Yaitu apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Sunnah fi'liyah terdiri dari tiga macam:

a) Perbuatan yang termasuk dalam tabiat manusiawi (Jibillah). Hukum dari perbuatan Nabi yang masuk dalam kategori ini adalah mubah; seperti makan, minum, berjalan, tidur dan perbuatan-perbuatan yang lain yang mubah (boleh) dilakukan oleh Nabi saw. dan oleh seluruh umatnya. Dan inilah yang telah ditetapkan oleh jumhur ulama.

b) Perbuatan yang khusus dilakukan oleh Nabi saw. seperti kewajiban melakukan shalat tahajjud di malam hari, kewajiban bermusyawarah, diperbolehkannya

194 Sa’ad Yūsuf Abū Azīz, Buku Pintar Sunnah dan Bid’ah, (Pustaka al-Kautsar, 2006M), h.

25-28

wishol dalam berpuasa, boleh menikahi lebih dari empat wanita, boleh masuk Makkah dengan tanpa berpakaian ihram, dan perbuatan-perbuatan lain yang khusus diperbolehkan kepada Nabi saw. yang kita tidak boleh mengikutinya.

c) Perbuatan Nabi saw. yang berfungsi untuk menjelaskan hukum-hukum Allah swt. seperti memberikan penjelasan dan penguraian terhadap perintah dan larangan-Iarangan Allah swt. Begitu juga dalam menjelaskan perintah dan larangan Nabi saw. sendiri.

Kemudian ada juga sunnah fi'liyah Nabi saw. yang terjadi khilaf di antara para ulama yaitu perbuatan-perbuatan yang tidak termasuk tabiat kemanusiaan, bukan pula perbuatan yang khusus dilakukan beliau dan tidak pula perbuatan beliau yang berfungsi untuk menjelaskan syara'.195

Perbuatan Nabi saw. ada kalanya nampak sebagai sebuah ibadah (taqarrub) kepada Allah swt, seperti mencopot sandal ketika akan menunaikan shalat, memotong rambut ketika berada di Hudaibiyah ketika Nabi saw. memerintahkan para sahabat untuk memotong rambut akan tetapi mereka tidak melaksanakannya, sehingga Nabi saw. memotong rambutnya sendiri. Perbuatan-perbuatan ini ada yang mengatakan hukumnya wajib, ada yang mengatakannya sunnah, dan ada pula yang mengatakannya mubah. Tetapi ada pula yang tawaqquf (tidak memberikan kesimpulan hukum). Dan para ulama memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyimpulkan hukum-hukum perbuatan Nabi saw. tersebut, dan ini dapat dilihat dalam kitab al-Ibdā' karya Syekh Ali Mahfuzh.196

Jika perbuatan Nabi saw. belum jelas sebagai sebuah ibadah kepada Allah swt.

maka ada empat pendapat dalam masalah ini. Imam al-Syaukāniī lebih memilih bahwa hukum perbuatan itu adalah sunnah, dengan alasan bahwa semua perbuatan Nabi saw. tidak pernah lepas dari ibadah dan taqarrub kepada Allah. Dan tingkatan hukum ibadah yang paling rendah adalah mandūb (sunnat), sementara untuk menghukuminya lebih tinggi dari mandūb, tidak ada dalil yang mendukung. Maka

195 Sa’ad Yūsuf Abū Azīz, Buku Pintar Sunnah dan Bid’ah,...h. 27

196 Sa’ad Yūsuf Abū Azīz, Buku Pintar Sunnah dan Bid’ah,...h. 27

tidak ada pilihan lain selain berpegang pada hukum mandūb tersebut. Contoh paling dekat untuk itu adalah Nabi saw. memakai jubah. Perbuatan Nabi saw. ini bisa saja untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan hukumnya adalah sunnah, atau sekedar untuk menunjukkan bahwa ia tidak haram dan dibolehkan pemakaiannya.197

Contoh lainnya adalah kadangkala Nabi saw. memakai pakaian luar (sejenis mantel), dan kadang pula beliau tidak memakainya. Jika seorang muslim memakainya dengan niat menyerupai Rasulullah saw,. maka ia mendapatkan pahala. Akan tetapi ia tidak diharuskan untuk itu dengan alasan ibadah.198

2. Sunnah Tarkiyah (meninggalkan suatu perbuatan)

Adalah perbuatan yang ditinggalkan oleh Nabi saw meski terdapat alasan dan tuntutan, serta tidak ada hal yang menghalanginya.199

Seperti meninggalkan adzan dan iqamah untuk shalat Idul Fithri dan IduI Adha, tidak mandi setiap kali akan melakukan shalat, tidak mengumandangkan adzan dan iqamah ketika akan melaksanakan shalat tarawih, tidak membaca ayat-ayat al- Qur'an kepada orang yang meninggal, tidak melakukan shalat sunnah pada malam Nishfu Sya'bān, tidak mengeluarkan zakat terhadap sayur-sayuran, dan perbuatan- perbuatan Iain yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw. meski ada alasan dan tuntutan untuk itu. 200

Menurut Muhammad bin Abdul Wahhāb al-Wushabī ‘Abdali al-Yamani sunnah Nabi saw terbagi menjadi lima:201

1. Sunnah I’tiqadiyah adalah keyakinan Nabi saw.

2. Sunnah qauliyyah adalah ucapan Nabi saw.

3. Sunnah fi’liyyah adalah perbuatan Nabi saw.

197 Sa’ad Yūsuf Abū Azīz, Buku Pintar Sunnah dan Bid’ah,...h. 27-28

198 Sa’ad Yūsuf Abū Azīz, Buku Pintar Sunnah dan Bid’ah,...h. 28

199 Sa’ad Yūsuf Abū Azīz, Buku Pintar Sunnah dan Bid’ah,...h. 28

200 Sa’ad Yūsuf Abū Azīz, Buku Pintar Sunnah dan Bid’ah,...h. 28

201 Muhammad bin Abdul Wahhāb al-Wushabī ‘Abdali al-Yamani, al-Qaul al-Mufīd fī Adillah al-Tauhīd, Cet.I, (Beirūt: Dār Ibnu Hazm, 1427 H), h.168

4. Sunnah taqririyah adalah persetujuan Nabi saw terhadap perkataan atau perbuatan para sahabat.

5. Sunnah Tarkiyah adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw dengan tujuan ibadah.

D. Pengertian Bid’ah 1. Bid’ah secara bahasa.

Kata ‘bid’ah’ berasal dari bada‘a - yabda’u - bad’un atau bid’atun, yang secara bahasa artinya sesuatu yang baru. Mengenai hal ini, Imam al-Azhariy menukil ucapan Ibnu al-Sikkit yang mengatakan:

ةَثَدحُمُ ُّلُك :ُةَعحدِبحلَا

202

Artinya:

“Bid’ah itu segala sesuatu yang baru”

Definisi senada juga dinyatakan oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy, yang mengatakan:

ةَفِرحعَم َلاَو ٌرحكِذ َلاَو ٌقحلَخ ُلحبَ ق حنِم ُهَل حنُكَي حَل ٍ حئَش ُثاَدححِإ :ُعحدَبلا

203

Artinya:

“al-Bad’u (bid’ah) ialah mengadakan sesuatu yang tidak pernah diciptakan, atau disebut, atau dikenal sebelumnya”

Isim fa’il (nama pelaku) dari kata bada’a tadi ialah badie’ (

عيدب

) atau mubdi’

(

عدبم

), artinya: Pencipta sesuatu tanpa ada contoh terlebih dahulu. 204 Hal ini seperti firman Allah swt. dalam al-Qur’an adalah al-Badī’ dalam QS. al-Baqarah/1:117

ِضحرَحلأاَو ِتاَواَمَّسلا ُعيِدَب

Terjemahnya:

“Allah membuat sesuatu yang baru, tidak ada sesuatu tersebut sebelumnya.205

202 Muhammad bin Ahmad bin al-Azharī al-Harawī, Tahdzīb al-Lughah, Tahqīq Muhammad

‘Audh Mur’ib, Juz. II, (Cet. I; Dār Ihyā’ al-Turāts al-‘Arabī, 2001M), h. 142

203 Al-Khalīl bin Ahmad al-Farāhid, Kitab al-‘Ain Murattaban ‘alā Hurūf al-Mu’jam, Tahqīq Abdul Hamīd Hindawī, Juz. I, (Cet.I; Beirūt: Dār al-Kutub al-‘llmiyah, 1424 H/2003 M), h. 121

204 Muhammad bin Ahmad bin al-Azharī al-Harawī, Tahdzīb al-Lughah, Tahqīq Muhammad

‘Audh Mur’ib, Juz.II,...h. 143

205 Kementerian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahan,...h. 34

2. Korelasi antara definisi bid’ah secara bahasa dan syar’i

Dari nukilan-nukilan di atas, dapat dipahami bahwa bid’ah secara bahasa ialah segala sesuatu yang baru, entah itu baik atau buruk; berkaitan dengan agama atau tidak. Karenanya al-Zajjaj mengatakan:

َأ :ُهَل َلحيِق ِهحيَلِإ حقَبحسُي حَلاَم َأَشحنَأ حنَم ُّلُكَو

َ لم َلحيِق اَذَِلََو .َتحعَدحب

َخ حن

Dalam dokumen Eksistensi Sunnah Tarkiyah dalam Fiqh Islam (Halaman 88-95)