Artinya: Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri kalian.
Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh ‘ta’atilah’ karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (taabi’) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban dengar dan ta’at.
Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezhaliman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan
yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita.
Ada yang mengatakan bahwa pemimpin itu tidak benar-benar bermaksud memasukkan mereka ke dalam api. Dia sebenarnya hendak mengisyaratkan bahwa ketaatan pemimpin adalah wajib dan siapa yang meninggalkan kewajiban tersebut maka dia masuk neraka. Jika terasa berat bagi kamu memasuki api itu maka bagaimana dengan api yang lebih besar lagi. Ini mengesankan seolah-olah maksudnya adalah apabila dia melihat dari mereka kesungguhan untuk memasukinya, maka dia akan mencegah mereka.
Memperhatikan beberapa hadits tentang Kepemimpinan dalam pendidikan Islam tersebut di atas, maka tugas pemimpin dalam manajemen pendidikan Islam, mengelola organisasi dalam hal ini adalah pendidikan bahwa Manajemen Mutu Terpadu adalah tantangan penyelarasan:
bagaimana kita mendapatkan semua anggota organisasi yang akan didedikasikan untuk kualitas kinerja dan peningkatan kontinyu sedemikian rupa untuk memastikan bahwa kami dapat bertemu dan kemudian melebihi harapan mereka kami berada di sini untuk melayani, cara lain untuk mengungkapkan ini adalah: bagaimana bisa organisasi, melalui strategi mereka untuk manajemen kinerja, memastikan bahwa misi Manajemen Mutu Terpadu sepenuhnya diadopsi oleh semua dalam organisasi.132
Berikut adalah beberapa isu tentang sifat penetapan tujuan pendidikan Islam, keseimbangan antara pemberdayaan, kontrol dan fokus kegiatan di lembaga pendidikan Islam, kemaslahatan yang harus diwujudkan keberlanjutan pendidikan Islam adalah kemaslahatan primer (dharuri), seperti menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal pikiran, menjaga kehormatan, dan menjaga kekayaan.133 Ada juga beberapa pertanyaan yang sangat signifikan tentang perbedaan antara jenis tujuan biasanya digunakan dalam organisasi Manajemen Mutu Terpadu dan tujuan biasanya digunakan oleh organisasi non Manajemen Mutu Terpadu, yang perlu diperiksa.
132Stephen Murgatroyd Morgan, Total Quality Management and the School, Open University Press Cetlic Court 22 Ballmoor Buckingham MK 18 IXW, p.120.
133Muhammad Syafii Antonio, Kepemimpinan Sosial dan Politik Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad S.A.W. The Super Leader Super Manager, (Jakarta:
2012, Buku 5), hlm. 155.
Selain memeriksa pertanyaan-pertanyaan ini, kita akan menguraikan proses praktis untuk pengembangan dan pengaturan dari apa yang kita sebut tujuan yang menantang organisasi untuk melampaui bahwa yang saat berpikir sendiri dengan salah satu karakteristik utama dari sebuah organisasi Manajemen Mutu Terpadu sukses134. Istilah kunci lainnya bahasan pemberdayaan: kemampuan sendiri atau regu dalam sekolah bekerja di cara mereka dalam menyetujui waktu dan dengan menyetujui sumber daya mencapai gol menyimpan kepemimpinan dalam pendidikan Islam. definisi ini berbeda dari banyak dari itu lanjutan dengan lain.
pemberdayaan, sedikitnya di sangat organisasi efektif, tidak kebebasan tak terkekang menentukan apa tujuan untuk sekolah, atau bagaimana mereka ingin sekolah untuk menjadi dasar pemberdayaan mulai bila visi dan tujuan punya telah menyimpan pemimpin organisasi pendidikan Islam.
apa regu atau perorangan menguasakan lakukan ke giliran visi dan siasat ke kenyataan melalui hasil itu menantang seperangkat tujuan untuk mereka oleh kepemimpinan dari sekolah.135.
Pemberdayaan seimbang ke tujuan menyimpan kepemimpinan dalam pendidikan Islam, pemberdayaan guru kelas mengenai bagaimana mereka mengajar dengan spesifikasi kurikulum yang mereka ajarkan.
Kepemimpinan dalam hal ini adalah guru dalam memberikan proses pembelajaran agar lebih fokus sehingga hasilnya diharapkan akan lebih baik sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan Islam.
134Ibid.Stephen Murgatroyd Morgan, Total Quality Management and the School.
Perencanaan juga akan menarik perhatian khusus terhadap peran dan lingkup tim kerja-kelola, dan mengacu pada lapangan yang sistematis atas periode tujuh tahun evaluasi pengembangan kurikulum di sekolah sekolah di wales dan Canada dan efektivitas mereka dalam memenuhi tujuan. studi kasus disajikan sebuah sekolah Kanada, yang telah secara sistematis mengadopsi TQM sebagai bingkai untuk bekerjaStephen Murgatroyd Morgan, hlm.121.
135Ibid. Stephen Murgatroyd Morgan, Total Quality Management and the School..
individu menguasakan di tren dari bagaimana mereka dapat mencapai seperangkat tujuan, tidak di trem dari apa yang tujuan boleh. sejajar untuk;menjadi menggambar disini guru kelas hal yang kecil, siapa punya tujuan kurikulum dan seperangkat sasaran hasil untuk mereka melalui nasional kurikulum (di Inggris) atau membawa keadaan/propinsi spesifikasi kurikulum (di Amerika ). sementara guru mungkin ikut campur mengembang spesifikasi ini, paling tidak: mereka menerima bagaimana guru menemui spesifikasi dan ekspektasi sekolah teliti di mana mereka sedang mengejar metter untuk mereka menentukan, salah satu di mereka kurikulum regu atau di mereka sendiri, hlm. 121.
5. Mampu Menjaga Perkataan yang Baik
Seorang pemimpin dalam pendidikan Islam harus mampu menjaga perkataan yang baik, dan dapat dijadikan keteladanan. Muhammad S.A.W, manusia yang paling utama yang memilki hatinya makhtum dan lisannya jujur, hati yang makhtum disini adalah hati yang bertakwa dan bersih di dalamnya tidak terdaapat dosa, rasa dengki, rasa iri, dan rasa hasut.136 Kejujuran seorang pemimpin juga merupakan salah satu syarat untuk menjadi manusia utama, Muhammad S.A.W, menunjukkan bahwa ada dua syarat untuk mencapai keutamaan sebagai manusia, yaitu hati yang bersih dan lisan yang jujur, kedua hal tersebut adalah hati dan lidah sering kali membawa manusia ke berbagai masalah. Di dalam al-Quran disebutkan beberapa jenis perkataan yang baik dan kita perintahkan untuk mengatakannya, ada enam macam perkataan yang baik yang disebutkan dalam al-Quran, dapat d ilustrasikan seperti gambar sebagai berikut:
Gambar: 2.3. Macam-macam perkataan yang baik
136Muhammad Syafi’i Antonio, Kepemimpinan dan Pengembangan Diri Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad S.A.W. The Super Leader Super Manager, Buku 1 (Jakarta: 2012, Cetakan Ketiga, Penerbit: Tazkia Publishing), hlm.230.
Adapun Jenis Perkataan yang baik dan perlu dimiliki oleh semua pemimpin dan guru dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya agar lebih berkembang dan keberlanjutan dalam sebuah lembaga pendidikan Islam, dapat diambil manfaat sesuai yang disebutkan dalam al-Quran adalah:
a. qaulan ma’rifa,adalah perkataan yang baik adalah ungkapan yang jujur dan mendidik serta dapat menjadi tauladan di tengah masyarakat (Q.S. An-Nisa ayat 5) sebagai berikut: