• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Kelola (Good governance) Sekolah/ Madrasah

Ancaman/Threats

2. Tata Kelola (Good governance) Sekolah/ Madrasah

Peranan manajemen mutu terpadu sangatlah penting dikaitkan dengan pelaksanaan good governance di bidang pendidikan Islam. Beberapa karakteristik yang melekat dalam praktek good governance.Menurut Effendi, adalah: Pertama, praktek good governance harus memberi ruang kepada pihak di luar pemerintah yaitu masyarakat untuk berperan secara optimal sehingga memungkinkan adanya sinergi diantara mereka (dalam hal ini pelanggaran atau stake holder lembaga pendidikan). Kedua, dalam praktek good governance terkandung nilai-nilai yang membuat pemerintah maupun lembaga pendidikan dapat lebih efektif bekerja.

Nilai-nilai seperti efisiensi, keadilan, dan daya tanggap menjadi nilai yang penting (di sini bererti efektifitas dan efisiensi yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan pendidikan). Ketiga, praktek good governance adalah praktek pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi serta berorientasi pada kepentingan publik (yaitu kepentingan pelanggaan pendidikan).

Karakteristik tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sebetulnya, good governance tersebut adalah merupakan penerapan implementasi mamajemen mutu terpadu juga, yaitu untuk pencapaian tujuan nasional di bidang pendidikan285. Ada beberapa pertimbangan mengapa pelayanan publik dalam dunia pendidikan (memenuhi kebutuhan pelanggan) menjadi strategis untuk memulai menerapkan good governance.

284Kebijakan teknis (Lemhannas, 2009), diakses tanggal 29 Februari 2013.

285Effendi. Dikutip Damiri dalam Bukunya Administrasi Pendidikan, (Jakarta:

2007), Pemerintahan dinilai mampu mewujudkan transparansi, penegakan hukum, dan akuntabilitas publik (sesuai dengan prinsip good governance), adalah ketika pemerintah menerapkan prinsip manajemen mutu terpadu juga di dalam mengembangan praktek good governance, pemerintah perlu memilih strategi/

metodologi yang jitu. Untuk melakukan praktek good governance, mengharuskan pemerintah mengambil pilihan yang strategis. Menerapkan praktek good governance dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kapasitas pemerintah. Salah satu pilihan strategis untuk menerapkan good governance di Indonesia adalah melalui penyelenggaraan pelayanan publik (dalam istilah MMT yaitu memenuhi kebutuhan pelanggan), hlm. 54.

Pertama, pelayanan publik dalam pendidikan selama ini menjadi ranah dimana pemerintah berinteraksi dengan masyarakat. Ini berarti jika terjadi perubahan yang signifikan pada pelayanan publik, dengan sendirinya dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat luas (dalam hal ini pelanggan).

Kedua, pelayanan publik adalah ranah dimana berbagai aspek good governance dapat diartikulasikan secara lebih mudah. Nilai-nilai yang selama ini mencirikan praktek good governance seperti efisien, non diskriminatif, dan berkeadilan, berdaya tanggap, dan memiliki akuntabilitas tinggi dapat dengan mudah dikembangkan parameternya dalam ranah pelayanan publikpelanggan.

Ketiga, pelayanan publik melibatkan kepentingan semua pihak.

Pemerintah mewakili negara, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar, yang semuanya memiliki kepentingan dan keterlibatan yang tinggi dalam ranah ini. Dengan memulai perubahan pada bidang yang dapat secara langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sipil dan para pelanggan (dapat disebut juga pemangku kepentingan), upaya melaksanakan good governance akan memperoleh dukungan dari semua pemangku kepentingan.286

Melalui pendekatan lainnya, adalah perlu dilakukan penyuluhan, konsultansi, dan pendampingan bagi pihak-pihak terkait maupun kantor Pemerintah yang bermaksud untuk mengimplementasikan good governance dalam bidang pendidikan, dengan melakukan kegiatan, misalnya self assessment, kemudian memasang rambu-rambu pada masing-masing instansi dan atau pemerintah daerah.

Karakteristik yang melekat dalam praktek good governance di bidang pendidikan harus memberi ruang kepada pihak diluar pemerintah/

286Ibid. Damiri, Upaya untuk mewujudkan hal itu, perlu pendekatan yang harus sekaligus dilakukan, antara lain: (1) menetapkan kebijakan tentang pentingnya mutu dalam pendidikan dan (2) kemudian memasyarakatkan pedoman good governance secara nasional (melalui pedoman manajemen mutu terpadu bidang pendidikan). Dalam konteks Sismennas, yang pertama merupakan kebijakan umum/strategis di tingkat nasional dan yang kedua merupakan kebijakan manajerial, baik untuk kalangan korporasi maupun publik, yang kemudian bisa ditindak lanjuti dengan pedoman sektoral bidang pendidikan (sebagai kebijakan teknis). Seharusnya, pedoman ini merupakan suatu rujukan yang selalu mengikuti perkembangan jaman. Oleh karena itu, dalam kurun waktu tertentu perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Adm.Pendidikan, hlm..55.

terutama masyarakat (pelanggan) untuk berperan secara optimal sehingga memungkinkan adanya sinergi di antara mereka, dengan demikian maka peranserta masyarakat madani (civil society) sangatlah penting dalam menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan guna menunjang terwujudnya good governance. Tuntutan akan mutu dalam bidang pendidikan adalah suatu keniscayaan yang tak bisa dihindari.

Pengembangan manajemen mutu terpadu, dalam dunia pendidikan tidak lain dapat dikatakan sebagai usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelangggannya, yaitu mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut atau pihak yang berkepentingan lainnya.

Para pelanggan layanan pendidikan terdiri dari berbagai unsur misalnya, yang belajar, bisa merupakan mahasiswa/pelajar/ murid/peserta belajar yang biasa disebut klien/pelanggan eksternal primer (primary external customers).287

Karakteristik yang dimiliki kepengelolaan dan kepengurusan yang baik (termasuk dalam bidang pendidikan) adalah, meliputi: a. Setiap warga negara mempunyai suara dalam formulasi keputusan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Partisipasi masyarakat dibangun atas dasar kebebasan berasasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif; b. Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu, terutama hukum untuk HAM; c. Transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. Proses-proses, lembaga-lembaga dan informasi secara langsung dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Informasi harus dapat dipahami dan dapat dimonitor;

d. Lembaga dan proses-proses harus dapat melayani stakeholders; e. Tata Kelola (Good governance) menjadi pranata kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas,

287Mereka inilah yang langsung menerima manfaat layanan pendidikan dari lembaga tersebut. Kedua, para klien terkait dengan orang yang mengirimnya ke lembaga pendidikan, yaitu orang tua atau lembaga tempat klien tersebut bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan sekunder (secondary external customers).

Ketiga bersifat tersier adalah lapangan kerja bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna output pendidikan (tertiary external customers). Keempat, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal dari intern lembaga; mereka itu adalah para guru/dosen/tutor dan tenaga administrasi lembaga pendidikan, serta pimpinan lembaga pendidikan (internal customers) Menurut Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara (2006 ), diakses tanggal 29 Februari 2013.

baik dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur; 1). Laki-laki mapun perempuan berkesempatan untuk meningkatkan atau menjaga kesejahteraan mereka; 2).Proses dan lembaga menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia sebaik mungkin; 3). Pembuat keputusan dalam hal ini pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat bertanggungjawab kepada publik dan stakeholders sebagai penyelenggara pendidikan; 4). Para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektif good governance dan pengembangan manusia yang luas dan jauh ke depan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan. Dari kesembilan karakteristik tersebut, ada empat ukuran pokok yaitu akuntabilitas, transparansi, fairness (keadilan) dan responsivitas (ketanggapan).288