ٱ َنوُنِمۡؤُمۡل
5. Pendapat Ulama di Indonesia
Pendidikan Islam tidak bisa terlepas dari adanya organisasi keagamaan di Indonesia yang mengemban misi dalam melakukan aktifitas keagamaan pendidikan Islam di antaranya adalah:
1). Al-jami’at Al-Khairiyah
Organisasi ini di dirikan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1905, yang mengemban misi mengembangkan pendidikan agama Islam, sedangkan tenaga guru di datangkan dari daerah lain dan luar negeri seperti Syeikh Ahmad Surkati dari Sudan, Syekh Muhammad Taib dari Maroko, dan Syeikh Muhammad Abdul Hamid dari Mekkah.58 2). Al-Islah Wal Irsyad
Dalam bulan Februari 1912 Syeikh Ahmad Surkati, meninggalkan Jami’at Khair dan mendirikan gerakan Agama sendiri bernama Al- Islah Wal Irsyad, dengan haluan mengadakan pembaharuan dalam Islam (reformisme). Pada tahun 1915 berdirilah sekolah Al-Irsyad di Jakarta. Syeikh Ahmad Surkati dilahirkan di Dunggala, Sudan pada tahun 1872 dan mereka belajar pada Syeikh Muhammad bin Yusuf al-Khayat, kemudian tinggal di Malaya dan sering berkunjung ke Sumatera Utara.59
3). Persyerikatan Ulama
Didirikan pada tahun 1911 sebagai perwujudan gerakan pembaharuan di Majalengka Jawa Barat, atas inisiatif Kyai Haji Abdul Halim lahir pada tahun 1887 di Ciberelang Majalengka.
57Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: 1988),Penerbit:
Pustaka Alhusna, hlm. 86.
58Ibid.Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, hlm.159.
59Ibid. Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, hlm.162.
Pada tahun 1932, dalam suatu konggres Persyerikatan Ulama di Majalengka mengusulkan agar di dirikan Lembaga Santi Asrama, yang dibagi menjadi: tingkat permulaan, dasar, dan lanjutan. Para santri di latih pertania, pekerjaan tangan, (besi dan kayu), menenun dan mengolah berbagai bahan seperti membuat sabun, mereka tinggal di asrama.
4). Persyarikatan Muhammadiyah
Didirikan pada tanggal 18 November 1912 bertepatan pada tanggal 18 Zulhijjah 1330 H. Oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, atas saran yang di ajukan oleh murid-muridnya dan beberapa anggota Budi Utomo untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat permanen. Organisasi ini mempunyai maksud untuk memberikan kemurnian sesuai pengajaran Nabi Muhammad S.A.W, kepada penduduk bumi putera, dan memajukan agama Islam kepada anggotanya, untuk mencapai ini mendirikan amal usaha persyarikatan di antaranya lembaga pendidikan, dari tingkat Sekolah Rakyat (SR), Taman Kanak-Kanak, SD/MI, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Mu’alimin, Madrasah Pendidikan Guru Agama, SMP, SMA, SGB, SGA, dan Perguruan Tinggi di seluruh wilayah Indonesia, mengadakan rapat-rapat dan tabligh dimana- mana membicarakan masalah-masalah Islam, menertibkan wakaf, dan mendirikan masjid-masjid.60
5). Nahdatul Ulama
Nahdatul Ulama didirikan pada tanggal 23 Januari 1926 M bertepatan tanggal 16 Rajab 1344 H di Surabaya, yang terdiri dari para alim ulama dari tiap-tiap daerah di Jawa Timur, diantaranya:
a). KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng; b). KH. Abdul Wahab Hasbullah;
c). KH. Bisri Jombang; d). KH. Ridwan Semarang; e). KH. Nawawi Pasuruan; f). KH. R. Asnawi Kudus; g). KH. R. Hambali Kudus; h).
K. Nakhrawi Malang; i). KH. Doromuntaha Bangkalan; j). KH. M.
Ali Abdul Azis, dan lain-lain.
Pada akhir tahun 1938 M komisi Perguruan Nahdatul Ulama, telah dapat mengeluarkan tentang susunan madrasah-madrasah NU, yang harus di jalankan mulai tanggal 2 Muharram 1357 H, dengan susunan sebagai berikut:
60Ibid. Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, hlm.171-178.
a). Madrasah Awaliyah, lama belajar 2 tahun;
b). Madrasah Ibtidaiyah, lama belajar 3 tahun;
c). Madrasah Tsanawiyah, lama belajar 3 tahun;
d). Madrasah Mu’alimin Wusta, lama belajar 2 tahun;
e). Madrasah Mua’alimin ‘Ulya, lama belajar 3 tahun.61
Banyak tokok-tokoh ulama besar di Idonesia yang mengembangkan pendidikan Islam, misalnya pada awal abad ke-17 Iskandar Muda Mahkota Alam Sultan Aceh, mendirikan tempat-tempat pendidikan Islam, pada zaman ini lahirlah alim ulama dan tokoh sastrawan dari Aceh, antara lain: 1). Syekh Nuruddin Ar-Ramiri; 2). Syekh Ahmad Khatib Langin; 3). Syekh Hamzah Fansuri; 4). Syekh Abdur Rauf Singkel; 5). Syekh Syamsuddin As-Sumantrani; 6). Syekh Burhanuddin yang kemudian menjadi ulama besar di Minangkabau.
Sedangkan para ulama besar di pulau jawa, tidak lepas dari sejarah masuk dan berkembangnya Islam di tanah Jawa adalah para wali yang disebut Walisongo, masing-masing sebagai berikut: 1). Maulana Malik Ibrahim (maulana Syekh Magribi); 2).Sunan Ampel (Raden Rahmat); 3).
Sunan Bonang (Maulana Ibrahim); 4). Sunan Derajat (Raden Qasim);
5). Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin); 6). Sunan Kudus (Raden Amin Haji atau Ja’far Shadiq); 7). Sunan Muria (Raden Prawoto atau Raden Said); 8). Sunan Kalijaga (Raden Syahid); 9).Sunan Gunung Jati (Raden Abdul Qadir/Syarif Hidayatullah/Falatehan/Fatahillah).62
Pengembangan pendidikan Islam, sangat penting dalam penerapan manajemen mutu terpadu, ungkapan senada dinyatakan oleh Kaoru Ishikawa: Pendidikan Islam, hubungan yang sangat signifikan terhadap pelaksanaan kontrol kualitas. Kristen masih dominan di negara-negara Barat, sedangkan Islam dan Hindu terus memegang kekuasaan di negara berkembang. Jepang masih sangat dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme dan Budha. Cunfucianism dibagi menjadi dua jenis.
Salah satunya adalah diwakili oleh Mencius, yang mengatakan bahwa manusia adalah dengan sifat yang baik. Belajar Konfusianisme dari beberapa sudut, dan mungkin keyakinan adalah bahwa yang lainnya diwakili oleh Hsuntzu, yang mengatakan bahwa manusia kejahatan
61Ibid. Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, hlm. 182.
62Mustafa. H.A dan Aly Abdullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Cetakan Kedua Revisi, (Bandung: 1999, Penerbit: CV. Pustaka Setia), hlm. 32-39.
alami, masih sedikit yang terkait dengan pendidikan, siapa pun bisa menjadi baik dalam tradisi terbaik dari Mencius63.
Ungkapan tersebut, menginspirasikan pengelolaan pendidikan Islam tidak mendiskriminasikan pemeluk agama yang mereka yakini.
Sebagai sebuah pendekatan, pendidikan, harus mencari bentuk sebuah perubahan permanen dalam mencapai tujuan sebuah organisasi, dari tujuan “kelayakan” jangka pendek menuju tujuan perbaikan mutu jangka panjang64. Akhirnya, keberhasilan strategi sangat bergantung pada kemampuan kepemimpinan dalam mengelola lembaga pendidikan, untuk membangun rasa komitmen65. Demikian juga dalam pendidikan yang dapat menjadi ukuran adalah jumlah lulusan yang secara kuantitatif, sedang kualitasnya sulit untuk ditetapkan kualifikasinya.
Sekilas melihat bagaimana Rasullah S.A.W, dalam mengaplikasikan perencanaan dalam konteks pendidikan Islam. Al-Quran memberikan konsep tentang perencanaan, hal ini penting karena bagi sebagian kalangan, perencanaan dianggap tidak Islami karena bertentangan dengan konsep tawakal atau iman kepada takdir66. Allah mengisahkan
63Kaoru Ishikawa, Ibid. The basic teachings of christianity appear to say that man is by nature evil. (Translator’s note: the translator dissociates himself from this statement. See the translator’s introduction). This teaching has cast a shadow over the Wastern nation’s management philoshopy. It suggests that people, for example employees in the manucacturing division, cannot be trusted.Therefore the divisions of inpection and quality control must be made independent and be given greater power. Without this power to observe and inspect, there can be no quality assurance. p.31.
64Ibid. Edwars Sallis, Total Quality Management in Education. Institusi yang melakukan inovasi secara konstan, melakukan perbaikan,dan perubahan secara terarah, dan mempraktekkan MMT, akan mengalami siklus perbaikan secara terus menerus. hlm.76.
65Ibid. Stephen Murgatroyd and Colin Morgan, Total Quality Management and the School Interestingly, research on school effectiveness points to these kinds of varibles as critical in determining the diffrence between high and low performing schools. Of particular importance, according to this work, is the role of leaders in the school system in shaping vision and strategy, comunicating that vision to all stakeholders, engaging stakeholderse in the work of the school, engendring commitment and sustaining performence outcomes assosiated with this strategy over time (rutter et al, 1979: reynolds et al 1987: murphy 1992). hlm. 40.
66Imron Fauzi, Manajemen Pendidikan ala Rasullah, Cet. I, (Yogyakarta:2012), Penerbit: Ar-Ruzz Media, Pandangan ini biasanya datang dari kaum sufi yang cenderung bersifat pasrah. Jika dicermati secara seksama, ada beberapa ayat yang secara implisit sebenarnya mengandung anjuran bagi umat Islam untuk memperhatikan perencanaan misalnya dalam surat al-Kahfi (18): 94-95, ketika zhulkarnain merencanakan persiapan menghadang Ya’juj dan Ma’juj dengan
bagaimana Nabi Yusuf as, menyampaikan ide perencanaan manajemen pangan jangka panjang atau sekitar 15 tahun dalam mengantisipasi datangnya masa peceklik. Allah berfirman dalam surah Yusuf (QS.12:48) bahwa:
َّمُث
َّ �ِإ َّنُهَل ۡمُتۡمَّدَق اَم َنۡلُكۡأَي ٞداَدِش ٞعۡبَس َكِلَٰذ ِدۡعَب ۢنِم ِتۡأَي َنوُن ِصۡ ت اَّمِّم ُ ٗ
��ِلَق ٤٨
Yusuf 48
Artinya: Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari bibit gandum yang akan kamu simpan. (QS. 12:48)
Pengertian disebut di atas dapat diartikan dalam konteks manajemen pendidikan Islam bahwa ada perencanaan baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang, sehingga untuk mengantisipasi kondisi yang mungkin saja terjadi terjadi berbagai kerusakan di muka bumi sudah diisyaratkan kepada manusia.
Manajemen Mutu Terpadu dalam pendidikan Islam harus menempatkan peserta didik sebagai klien, atau dalam istilah perusahaan sebagai stakeholders yang terbesar, suara peserta didik harus disertakan dalam setiap pengambilan keputusan strategis di setiap langkah organbisasi lembaga pendidikan Islam. Tanpa suasana yang demokratis, manajemen lembaga pendidika Islam tidak akan mampu menerapkan Manajemen Mutu Terpadu. Tetapi yang terjadi adalah kualitas pendidikan di dominasi oleh pihak-pihak tertentu yang sering kali memiliki kepentingan yang bersimpangan dengan hakikat pendidikan Islam.67
Disamping itu, peran sumberdaya Insani dalam pendidikan Islam juga merupakan potensi yang berkewajiban melaksanakan tugas pokok organisasi (sekolah) untuk mewujudkan eksistensinya. Kualitas pelaksanaan tugas pokok sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh SDM, baik yang telah diwujudkan dalam prestasi kerja maupun yang masih bersifat potensial dan dapat dikembangkan; e. Keterlibatan membangun sebuah benteng yang kukuh. hlm. 89-91.
67Baharuddin & Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Islam Antara Teori dan Praktik, Cetakan Pertama, Penerbit: Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, hlm. 276.
semua Fungsi, Semua fungsi dalam organisasi sebagai sumber kualitas, sama pentingnya satu dengan yang lainnnya, yang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, untuk itu semua fungsi harus dilibatkan secara maksimal, sehingga saling menunjang satu dengan yang lainnya;
f. Perbaikan Kualitas secara Berkesinambungan, Sumber-sumber kualitas yang ada bersifat sangat mendasar, karena tergantung pada kondisi pucuk pimpinan (kepala sekolah/madrasah), yang selalu menghadapi kemungkinan dipindahkan, atau dapat memohon untuk dipindahkan.68
Atas dasar pemikiran tersebut di atas bahwa yang paling utama dalam kepemimpinan dalam pendidikan Islam adalah harus mempunyai sifat yang dimiliki seorang pemimpin adalah sebagai pengarah, memiliki jiwa keteladanan, konsistensi terhadap apa yang menjadi kebijakan, keterbukaan, kelembutan, kearifan, memiliki etos kerja yang tinggi, dan bekerja adalah ibadah (lillah, fillah, dan mardlatillah).