Pemberian motivasi terhadap para pendidik/guru madrasah, dalam proses pembelajaran dan sosialisasi penerapan disiplin agar dapat mempengaruhi kinerja tenaga pendidik/guru, dengan motivasi yang tinggi tanpa didukung oleh kemampuan yang cukup, maka pada prinsipnya aparatur tersebut memiliki minat yang tinggi namun kemampuan kurang. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi dalam organisasi192.Untuk itu perlunya motivasi bagi pendidik/guru
191Ibid. Peter M. Senge, Disiplin Kelima Seni dan Praktek dari Organisasi Pembelajar, Alih Bahasa: Nunuk Adiarni, Cetakan Pertama (Jakarta: 1996, Penerbit: Bina Rupa Aksara), hlm. 375-376.
192James A.F Stonner dkk,Manajemen, Edisi Ke-V Jilid II, meliputi:
1.Karakteristik individu adalah minat, sikap, dan kebutuhan yang dibawa seseorang ke dalam situasi kerja, jelas, orang berbeda satu sama lainnya dalam karakteristik ini, dan oleh karena itu motivasi mereka akan berbeda. Contoh, ada orang yang mungkin menginginkan prestise, dan dengan demikian dimotivasi oleh sebuah pekerjaan dengan nama yang mengesankan. Yang lain mungkin menginginkan uang, dan dengan demikian dimotivasi untuk memperoleh gaji yang tingi. 2.Karakteristik pekerjaan, adalah sifat dari tugas karyawan dan meliputi jumlah tanggung jawab, macam tugas, dan tingkat kepuasan yang orang peroleh dari karakteristik
untuk terus disosialisasikan dalam lingkungan sekolah madrasah.
Sedangkan menurut, George R. Terry mengemukakan bahwa “Motivasi adalah keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan indakan-tindakan”.Lebih lanjut, bahwa pelaksanaan motivasi memerlukan penerapan prinsip-prinsip motivasi, membaginya sebagai berikut:
1. Prinsip Mengikutsertakan Bawahan
Dengan diberi kesempatan dalam memberikan ide-ide, gagasan- gagasan, pembuatan keputusan-keputusan, para pendidik dan tenaga kependidikan mereka ikut bertanggug jawab dan disiplin kerja meningkat.
2. Prinsip Komunikasi
Komunikasi merupakan hal yang penting dalam organisasi, melalui komunikasi yang baik maka motivasi untuk mencapai hasil-hasil mempunyai kecenderungan kerja meningkat.
3. Prinsip Pengakuan
Pemimpin yang mengakui hasil pekerjaan para pendidiki dan memberikan penghargaan atas sumbangan terhadap hasil yang dicapai maka semangat kerja akan meningkat.
4. Prinsip Wewenang yang Didelegasikan
Pemberian tugas pekerjaan dan wewenang pertanda kepercayaan pemimpin terhadap pendidiki yang bersangkutan. Dengan kepercayaan ini motivasi pendidiki akan meningkat dan akan tercipta hasil kerja yang baik.
5. Prinsip Timbal Balik
Perhatian timbal balik dari pemimpin bisa merupakan pengembangan karier, pemberian insentif atau pemberian fasilitas dapat memotivasi pendidik untuk mencapai berprestasi.
pekerjaan itu sendiri. Sebuah pekerjaan yang secara instrinsik memuaskan akan lebih memotivasi bagi kebanyakan orang dari pada sebuah pekerjaan yang tidak memuaskan. 3.Karakteristik situasi kerja, adalah faktor-faktor yang dalam lingkungan kerja seseorang, apakah ekan kerja mendorong individu untuk bekerja dengan standard tingggi, atau mereka mendorong produktivitas rendah, apakah atasan menghargai kinerja yang tinggi, ataukah mereka mengabaikannya?
Apakah kultur organisasi membantu perkembangan perhatian untuk para anggota organisasi yang bersangkutan ataukah ia mendorong formalitas yang kaku dan acuh tak acuh.hlm.33.
Upaya tersebut di atas dapat berjalan dengan baik harus dapat dikordinasikan dari masing-masing lini yang terkait. Perubahan lingkungan organisasi bukan hanya perlu diantisipasi secara institusional (kelembagaan), namun perlu diantisipasi secara lokal, maupun individual (masyarakat perorangan). Menghadapi perubahan tersebut, maka peranan pemerintah memiliki relevansi yang tinggi, apalagi bila dikaitkan dengan tantangan strategis meningkatkan kualitas pendidikan, merupakan tuntutan masyarakat global.
Dalam konteks pemberian pelayanan kepada masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan, sistem sentralistik yang mempertahankan stabilitas kurun waktu yang lama terbukti tidak menimbulkan kepuasan dalam pemberian pelayanan yang baik kepada masyarakat yang semakin cerdas. Mengenai kelambanan tersebut, memberikan deskripsi yang cukup tepat sebagai berikut:
a. Memahami Perubahan Tenaga Pendidik/Guru
Memahami perubahan, pola pikir bagi tenaga pendidik/guru madrasah, merupakan suatu hal yang pasti terjadi dan atau akan terjadi pada masa-masa mendatang termasuk dalam lingkungan suatu organisasi khususnya dalam lingkungan madrasah, keinginan adanya suatu perubahan terjadi diharapkan akan membawa dampak yang lebih baik dari segala aspek, dengan demikian tentunya harus diupayakan agar bila memungkinkan perubahan diarahkan kearah hal yang baik dibandingkan kondisi sebelumnya dalam rangka meningkatkan kinerjanya.193
Paradigma baru sistem pemerintahan yang menangani bidang pendidikan Islam umumnya dirancang birokratis untuk menjaga stabilitas. Tetapi kita telah mencapai sebuah titik dalam sejarah dimana stabilitas ini kontraproduktif. Dalam era informasi yang secara global penuh persaingan dan cepat berubah seperti sekarang,
193Winardi J, Manajemen Perubahan. Ada beberapa indikator dalam manajemen perubahan, sebuah siklus perubahan yang saling memperkuat (a mutually reinforceing cycle of change), meliputi: (a) komitmen, (b) kompetensi, (c) efektivitas,dan (d) koordinasi Manajemen Perubahan. Terkait dengan hal tersebut di atas, bahwa organisasi pemerintah daerah yang baik harus mampu dan mau melakukan perubahan, terutama dalam pendidikan, hal ini tercermin adanya komitmen para aparatur pemangku kebijakan, sejalan dengan kompetensinya, dalam mengefektifkan sebuah organisasi pemerintah daerah yang terlibat dalam menangani pendidikan. hlm .11.
sistem-sistem yang tidak bisa berubah pasti menemui kegagalan.
Sistem-sistem itu seperti dinosaurus, yang tidak bisa berkembang dengan cepat untuk mempertahankan kelangsungannya pada saat lingkungan mereka berubah”.194
Sejalan dengan pemikiran, paradigma baru dalam pendidikan Islam, dapat diartikan sebagai pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana yang tercantum dalam al-Quran dan al- Hadits serta dalam pemikiran para ulama dan dalam praktek sejarah umat Islam.195 Proses tersebut diarahkan pada dimensi-dimensi leadership, structur, process and workforce. Pengenalan masalah dan pengorganisasian untuk secara kolektif melakuakan kegiatan guna mengubah kondisi agar menjadi lebih baik. Prases pemberdayaan juga membebaskan perasaan inferior, pengakuan terhadap martabat, kekuatan, pengetahuan dan ontelegensia, serta keahlian, sehingga dapat memiliki kemandirian.
b. Pembentukan Akhlakul Karimah pada Guru
Akhlaq al karimah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang terpuji.
Akhlak yang baik disebut juga dengan akhlak mahmudah. Akhlak mahmudah adalah segala tingkah laku yang terpuji, dapat disebut juga dengan akhlak fadhilah (
ةليضف
), akhlak yang utama. Para ahli Tasawuf sering mengemukakan sabda Nabi agar kita meniru kualitas Tuhan, atau meniru akhlak Tuhan (Ittashifu bi shifat-i’l- Lah), dan Takhahallaqu bi akhlaq-i’l-Lah).196 Keutamaan Akhlak Mahmudah. Perbuatan yang baik merupakan akhlaq karimah yang wajib dikerjakan dan ditanamkan pada tenaga pendidik/guru madrasah. Akhlaq karimah berarti tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah.194Osborne dan Plastrik, Kebijakan Publik, hlm.22.
195Ahmad Tafsir, Epistimologi untuk Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: 1995, IAIN Sunan Gunung Jati), ...Berbagai komponen dalam pendidikan mulai dari visi, misi, tujuan, kurikulum, guru, metode, pola hubungan guru murid, evaluasi, sarana prasarana, lingkungan, dan evaluasi pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam. Jika berbagai komponen tersebut satu sama lainnya membentuk suatu sistem yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam, maka sistem tersebut selanjutnya dapat disebut sebagai sistem pendidikan Islam. hlm.15.
196Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius Cetakan Keempat, Penerbit:
Paramadina, Jakarta, hlm.112.
Pandangan al-Ghazali tentang akhlak yang baik hampir senada dengan pendapat Plato yang mengatakan, bahwa orang adalah orang yang dapat melihat kepada Tuhannya secara terus-menerus. Al-Ghazali memandang orang yang dekat kepada Allah adalah orang yang mendekati ajaran-ajaran Rasulullah yang memiliki akhlak sempurna.
Al-Ghazali menerangkan adanya empat pokok keutamaan akhlak yang baik, yaitu sebagai berikut: 1. Mencari hikmah. Hikmah ialah keutamaan yang lebih baik.2. Bersikap berani. Berani berarti sikap yang dapat mengendalikan kekuatan amarahya dengan akal untuk maju. 3. Bersuci diri. Suci berarti mencapai fitrah, yaitu sifat yang dapat mengendalikan syahwatnya dengan akal dan agama.4. Berlaku adil. Adil sebagai misalnya, yaitu seseorang yang dapat membagi dan memberi haknya sesuai dengan fitrahnya atau seseorang mampu menahan kemarahannya dan nafsu syahwatnya untuk mendapatkan hikmah di balik peristiwa yang terjadi. Imam al-Ghozali menjelaskan akhlak dengan beberapa tingkatan. Tingkatan pertama (paling rendah) adalah selalu merasa dilihat Allah. Sampai disini belum muncul akhlakul karimah. Barulah ketika merasa melihat Allah (tingkatan kedua) akan muncul akhlak tersebut dan tingkatan yang paling tinggi takkala merasa bersatu dengan Allah, seseorang akan memiliki akhlak yang paling tinggi.197