BAB II G AMBARAN U MUM K ONDISI D AERAH
6. Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil a. Rasio Penduduk ber KTP
Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
116 sementara dua komponen lainnya yaitu IKA dan IKTL nilainya masih sangat rendah.
Sedangkan IKLH di tahun 2020 mengalami penurunan menjadi 50,84, kondisi ini dikarenakan terjadinya penurunan pada komposisi IKA dan IKU.
Rendahnya IKA di Kota Pekalongan disebabkan oleh beberapa parameter yang melebihi baku mutu air kelas II seperti BOD, COD, DO, dan Fecal Coliform.
Parameter tersebut merupakan karakteristik dari limbah cair domestik yang bersumber dari pemukiman berupa grey water yang merupakan hasil dari cucian dapur, cucian pakaian dan kamar mandi, dan sekitar 60-85 persen dari total volume kebutuhan air bersih akan menjadi limbah cair domestik. Karakteristik dari limbah domestik (grey water) yaitu mengandung unsur nitrogen, fosfat, dan potasium, unsur tersebut merupakan nutrien bagi tumbuhan yang akan menyebabkan eutrofikasi pada badan air. Tingginya kadar organik dalam perairan akan berdampak pada tingginya konsentrasi BOD, COD dan rendahnya konsentrasi DO. Adanya pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan merupakan salah satu potensi terhadap tingginya pencemaran air di Kota Pekalongan.
Sementara itu Indeks Tutupan Lahan (IKTL) di Kota Pekalongan dari tahun 2017-2019 masih sama dengan nilai IKTL yang sangat kecil. Kondisi ini dikarenakan di wilayah Kota Pekalongan lebih didominasi oleh pemukiman, sedangkan persentase tutupan lahannya masih sangat kurang. Sehingga perlu adanya upaya dalam memperbaiki kondisi tutupan lahan di Kota Pekalongan terutama di kawasan mangrove.
6. Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil
Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
117 kepemilikan KTP-el telah mencapai 227.268 jiwa (97,76 persen) dari target wajib KTP-el sebesar 232.540 jiwa.
b. Persentase Penduduk ber-NIK
Sesuai dengan bunyi pasal 1 point 12 UU No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan menyebutkan bahwa Nomor Induk Kependudukan (NIK) adalah nomor identitas penduduk yang bersifat unik atau khas, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai Penduduk Indonesia. NIK tersebut berlaku seumur hidup dan selamanya, yang diberikan oleh Pemerintah dan diterbitkan oleh Instansi Pelaksana kepada setiap Penduduk setelah dilakukan pencatatan biodata. Dalam lima tahun terakhir (tahun 2016-2020), semua penduduk di Kota Pekalongan telah memiliki NIK sebagaimana disajikan dalam tabel 2.96 berikut.
Tabel 2.96 Persentase Penduduk ber-NIK di Kota Pekalongan Tahun 2016 - 2020 Tahun Persentase Penduduk ber-NIK
(persen)
2016 100
2017 100
2018 100
2019 100
2020 100
Sumber : Dindukcapil Kota Pekalongan, 2021 c. Persentase Penduduk Ber Akta Kelahiran
Sebagai salah satu syarat identitas diri bagi penduduk yang telah dilahirkan, maka Pemerintah Daerah mengeluarkan akta kelahiran bagi penduduknya.
Kepemilikan akta kelahiran per 1.000 penduduk ditunjukkan dengan membandingkan jumlah akta kelahiran dan jumlah penduduk dalam seribu penduduk.
Dalam kurun waktu tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 Kepemilikan akta kelahiran Kota Pekalongan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Secara lengkap kepemilikan akta kelahiran di Kota Pekalongan tahun 2016 sampai dengan 2020 ditunjukkan dalam gambar 2.46.
Gambar 2.46 Perkembangan Kepemilikan Akta Kelahiran di Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020 Sumber : Dindukcapil Kota Pekalongan (diolah), 2021
2016 2017 2018 2019 2020
Kepemilikan akta kelahiran per 1.000 penduduk
368,51 482,25 498,49 521,45 538,15 300
350 400 450 500 550 600
Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
118 d. Penerbitan Akta kematian
Berdasarkan ketentuan Pasal 44 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Pasal 81 ayat (2) dan Pasal 83 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil, yang intinya diatur bahwa setiap kematian dilaporkan kepada Instansi Pelaksana (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten/Kota) tempat penduduk berdomisili, untuk diterbitkan kutipan akta kematian.
Dalam lima tahun terkahir, penerbitan akta kematian terus meningkat. Pada tahun 2016 telah diterbitkan sebanyak 1.133 akta, pada tahun 2017 diterbitkan sebanyak 1.473 akta. Setiap tahun terus bertambah hingga pada tahun 2020 diterbitkan sebanyak 3.220 akta sebagaimana disajikan dalam tabel 2.97 berikut.
Tabel 2.97 Penerbitan Akta Kematian di Kota Pekalongan Tahun 2016 - 2020
Tahun Jumlah Akta Kematian
2016 1.133
2017 1.473
2018 2.691
2019 2.797
2020 3.220
Sumber : Dindukcapil Kota Pekalongan dan Kota Pekalongan dalam Angka 2021, 2021 e. Penerbitan Akta Nikah
Pencatatan Pernikahan adalah kegiatan pengadministrasian peristiwa pernikahan. Di Kota Pekalongan, akta nikah hanya diterbitkan bagi penduduk non Islam. Sepanjang lima tahun terakhir, akta nikah yang diterbitkan tidak banyak, sekitar 50-60 lembar per tahunnya.
Tabel 2.98 Penerbitan Akta Nikah di Kota Pekalongan Tahun 2016 - 2020
Tahun Jumlah Akta Nikah
2016 62
2017 43
2018 60
2019 46
2020 45
Sumber : Dindukcapil Kota Pekalongan dan Kota Pekalongan dalam Angka 2021, 2021 7. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa/Kelurahan adalah upaya untuk mewujudkan kemampuan dan kemandirian masyarakat desa dan kelurahan yang meliputi aspek ekonomi, sosial budaya, politik dan lingkungan hidup melalui penguatan pemerintahan desa dan kelurahan, lembaga kemasyarakatan dan upaya dalam penguatan kapasitas masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam suatu kerangka pembangunan partisipatif yang dilaksanakan dari, oleh dan untuk masyarakat yaitu sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pemanfaatan dan pemeliharaan hasil-hasil pembangunan serta pengembangan
Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
119 tindak lanjut hasil pembangunan. Perencanaan pembangunan desa disusun dengan mengacu kepada perencanaan pembangunan kabupaten/kota, provinsi dan nasional.
Program-program pembangunan yang diarahkan ke desa wajib disinkronisasikan dan diintegrasikan dengan perencanaan pembangunan desa.
Pada tahun 2010 di Kota Pekalongan telah ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK). Pembentukan lembaga tersebut untuk lebih meningkatkan peran masyarakat dalam aspek pelayanan, perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan di kelurahan. LKK meliputi 6 unsur yaitu Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Tim Penggerak PKK kelurahan, RT/RW, Karang Taruna, Lembaga Adat dan Lembaga Kemasyarakatan lainnya.
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa/Kelurahan dilakukan dengan melibatkan Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan (LPMD/K). LPM pada tahun pertama dari periode 2013-2017 sebanyak 47 LPM. Jumlah ini berkurang menjadi 27 LPM pada tahun 2014 sampai sekarang dikarenakan penggabungan kelurahan dari 47 kelurahan menjadi 27 kelurahan. Adapun jumlah LPM Kelurahan yang aktif di Kota Pekalongan sebagaimana disajikan dalam tabel 2.99 berikut.
Tabel 2.99 Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di Kota Pekalongan Tahun 2016-2020
Tahun Jumlah LPM
2016 27
2017 27
2018 27
2019 27
2020 27
Sumber : DPMPPA Kota Pekalongan, 2021
PKK sebagai salah satu penggerak pemberdayaan masyarakat membantu masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat di wilayahnya. PKK membantu pemerintah Kota Pekalongan memberdayakan peran ibu-ibu di lingkungan Pemerintah Kota Pekalongan. Jumlah PKK aktif mulai tahun 2016 sebanyak 32 PKK.
Hal ini terjadi karena adanya penggabungan kelurahan di Kota Pekalongan dari 47 kelurahan menjadi 27 kelurahan.
Tabel 2.100 PKK Aktif
di Kota Pekalongan Tahun 2016-2020 Tahun Jumlah PKK Aktif
2016 32
2017 32
2018 32
2019 32
2020 32
Sumber : DPMPPA Kota Pekalongan, 2021
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah salah satu upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat terutama untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Posyandu juga berperan dalam membantu lansia untuk meningkatkan kualitas hidupnya di masa tuanya. Hasil pelaksanaan kegiatan yang
Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah
120 dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pelayanan Posyandu kepada masyarakat selama kurun waktu Tahun 2016-2020 adalah meningkatkan peran dan fungsi Posyandu sebagai garda terdepan dalam menanggulangi kesehatan masyarakat yang bersifat preventif. Pada tahun 2020 terdapat tambahan 3 Posyandu dari 411 pada tahun 2019 menjadi 414 ditahun 2020. Data posyandu aktif di Kota Pekalongan disajikan dalam tabel 2.101 berikut.
Tabel 2.101 Posyandu Aktif di Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020
Tahun Jumlah Posyandu Aktif
2016 406
2017 407
2018 409
2019 411
2020 414
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, BPS Kota Pekalongan, 2021
8. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana