• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II G AMBARAN U MUM K ONDISI D AERAH

3. Pangan

Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

109 terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak. Ada 24 indikator yang mampu mewakili terpenuhinya hak-hak anak sehingga dapat dikatakan menuju kabupaten/kota layak anak yang terdiri dari 5 kluster, yaitu : (1) hak sipil dan kebebasan; (2) lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif/pengganti; (3) kesehatan dasar dan kesejahteraan; (4) pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya; (5) perlindungan khusus.

Pada tahun 2018, Kota Pekalongan meraih penghargaan Kota Layak Anak kategori Pratama dengan nilai 565 dari nilai maksimal 1000. Upaya terus ditingkatkan, salah satunya adalah fokus pada sarana dan prasarana mengenai informasi layak anak seperti baliho, dan sebagainya. Upaya lain juga dilakukan untuk memenuhi indikator dan klaster KLA. Hasilnya, pada tahun 2019 Kota Pekalongan kembali meraih penghargaan Kota Layak Anak kategori Madya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan berupaya serius untuk mengejar peringkat Nindya sebagai Kota Layak Anak (KLA) tingkat nasional. Komitmen ini dibuktikan dengan dibukanya layanan Unit Pelaksana Program Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (UP PKSAI) yang akan bertugas melakukan penjangkauan kepada anak-anak rentan di Kota Pekalongan. Dengan berdirinya UP PKSAI ini diharapkan dapat semakin memudahkan pemerintah membangun mekanisme layanan terpadu bagi anak di tingkat masyarakat.

Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

110 terhadap total energi baik dalam hal ketersediaan maupun konsumsi pangan, yang mampu mencukupi kebutuhan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi, budaya, agama dan cita rasa ( Depkes RI, 2005). Kualitas konsumsi pangan masyarakat Kota Pekalongan dari tahun 2016-2020 yang ditunjukkan dengan meningkatnya skor Pola Pangan Harapan (PPH), merupakan salah satu indikator keberhasilan ketahanan pangan di Kota Pekalongan dari aspek konsumsi.

Skor PPH selama lima tahun terakhir terus membaik. Skor PPH Kota Pekalongan menunjukkan perkembangan yang semakin membaik pada tahun 2016- 2020. Jika skor PPH tahun 2016 sebesar 88,70 maka pada tahun 2020 semakin naik menjadi 92,01. Capaian skor PPH disajikan dalam tabel 2.88 berikut.

Tabel 2.88 Skor PPH Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020

Tahun Skor PPH Kota Pekalongan

2016 88,70

2017 89,71

2018 90,42

2019 91,31

2020 92,01

Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2021

Berdasarkan pengelompokan menurut jenis bahan pangan, menunjukkan bahwa konsumsi beras di Kota Pekalongan menunjukkan fluktuasi dari tahun ke tahun dan pada tahun 2020 sebesar 108,7 kg per kapita/tahun. Begitu pula dengan sayur dan buah bisa dikatakan cukup tinggi jika dibandingkan dengan kelompok pangan lainnya, yaitu 82,2 kg per kapita/tahun pada tahun 2019 dan meningkat menjadi 70,0 kg per kapita/tahun pada tahun 2020. Di urutan ketiga ditempati kelompok pangan hewani (45 kg/kapita/tahun tahun 2019) dan menurun menjadi 36,8 kg perkapita/tahun pada tahun 2020, selanjutnya diikuti dengan kacang-kacangan, umbi-umbian dan kelompok pangan lainnya. Selengkapnya disajikan dalam tabel 2.89 berikut.

Tabel 2.89 Capaian Konsumsi Kelompok Pangan di Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020 Capaian Konsumsi

Kelompok Pangan Satuan 2016 2017 2018 2019 2020

Padi-padian Kg/Kap/th 101,5 107,0 98,8 102,0 108,7

Umbi-umbian Kg/Kap/th 16,0 16,5 16,5 18,8 7,9

Pangan Hewani Kg/Kap/th 38,3 40,2 47,0 45,0 36,8

Minyak dan Lemak Kg/Kap/th 17,2 12,2 11,8 5,7 6,6

Buah/biji berminyak Kg/Kap/th 3,5 2,6 2,8 2,3 0,8

Kacang-kacangan Kg/Kap/th 13,8 19,0 18,0 23,5 8,4

Gula Kg/Kap/th 9,5 10,0 9,5 5,9 7,7

Sayur & Buah Kg/Kap/th 78,4 74,1 73,8 82,2 70,0

lain-lain Kg/Kap/th 2,8 1,3 1,4 2,3 44,1

Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2021

Dari segi konsumsi energi yang diukur dari kilo kalori (kkal) per kapita/tahun, konsumsi beras selalu menempati posisi pertama dengan jumlah 1.006,1 kkal/kapita/tahun pada tahun 2019 dan meningkat menjadi 1.251,5 kkal/kapita/tahun pada tahun 2020. Urutan berikutnya selalu berubah jenis kelompok pangannya. Pada tahun 2020, di urutan kedua ada pangan hewani sebesar 272,5 kkal/kapita/tahun,

Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

111 diikuti oleh minyak dan lemak sebanyak 160,7 kkal/kapita/tahun. Selengkapnya disajikan dalam tabel 2.90 berikut.

Tabel 2.90 Konsumsi Energi Per Kapita/tahun di Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020 Capaian Konsumsi

Kelompok Pangan Satuan 2016 2017 2018 2019 2020 Padi-padian Kkal/Kg/Kap/th 1.000,8 1.055,0 974,9 1.006,1 1251,5 Umbi-umbian Kkal/Kg/Kap/th 48,0 49,5 49,6 56,3 24,7 Pangan Hewani Kkal/Kg/Kap/th 217,2 228,1 266,7 255,4 272,5 Minyak dan Lemak Kkal/Kg/Kap/th 410,7 289,8 280,1 136,8 160,7 Buah/biji berminyak Kkal/Kg/Kap/th 60,2 45,3 49,1 40,6 12,7 Kacang-kacangan Kkal/Kg/Kap/th 124,9 172,1 163,4 213,2 53,8

Gula Kkal/Kg/Kap/th 94,9 99,8 94,7 58,7 77,5

Sayur dan Buah Kkal/Kg/Kap/th 111,4 105,3 104,9 116,8 97,3

Lain-lain Kkal/Kg/Kap/th 22,6 10,3 11,1 18,5 56,1

Sumber : Dinperpa Kota Pekalongan, 2021 4. Pertanahan

Dalam era otonomi daerah saat ini, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, terdapat 9 urusan pertanahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Kota.

Kesembilan urusan tersebut adalah Izin Lokasi, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Pelayanan Umum, Sengketa Tanah Garapan, Ganti Rugi, Penetapan Subyek Obyek Redistribusi tanah, tanah ulayat, pemanfaatan tanah kosong, izin membuka tanah, dan penggunaan tanah. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, urusan pertanahan kabupaten/kota hanya meliputi 8 sub urusan yaitu izin lokasi; sengketa tanah garapan; ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan; subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absente; tanah ulayat; tanah kosong; izin membuka tanah; serta penggunaan tanah.

Pelayanan umum kepada masyarakat di urusan pertanahan, bertujuan untuk mempertahankan kelestarian lahan dan lingkungan. Beberapa hal yang dilakukan antara lain dengan memberikan insentif kepada masyarakat dalam rangka mempertahankan lahan pertanian, serta memberikan sertifikat tanah masyarakat yang berada di kawasan lindung dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Perkembangan kepemilikan sertifikat tanah di Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Secara lengkap tanah bersertifikat di Kota Pekalongan dijelaskan dalam Tabel 2.91 berikut.

Tabel 2.91 Lahan Bersertifikat di Kota Pekalongan Tahun 2016-2020

Uraian 2016 2017 2018 2019 2020

Luas wilayah 4.525 4.525 4.525 4.525 4.642

Luas tanah bersertifikat 3.690,93 3.778,43 4.013,28 4.157,29 4.239,50 Hak Milik 2.939,78 3.013,55 3.192,36 3.320,74 3.360,02

HGB 289,49 293,52 305,94 13,21 322,95

Hak Guna Usaha 5,76 6,76 6,76 6,76 6,76

Hak Pakai 394,95 403,04 444,70 451,53 481,01

Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

112

Uraian 2016 2017 2018 2019 2020

Hak Pengelolaan 4,00 4,00 4,00 4,00 5,00

Hak Wakaf 56.96 58,57 60,5396 62,06 63,76

Lahan Bersertifikat (persen) 77,96 79,94 88,69 91,87 91,33 Sumber : BPN Kota Pekalongan (diolah), 2021

Kinerja persertifikatan bidang tanah di Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 luas lahan bersertifikat adalah 77,96 persen, dalam kurun waktu tahun 2016-2019 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, semakin meningkatnya persentase tersebut dapat juga menandakan kesadaran hukum masyarakat yang semakin meningkat, khususnya terhadap pertanahan.

namun pada tahun 2020 jumlah lahan di Kota Pekalongan yang sudah bersertifikat menurun sebanyak 91,33 persen dikarenakan adanya koreksi total luas lahan Kota Pekalongan.

Gambar 2.41 Persentase Luas Lahan Bersertifikat di Kota Pekalongan Tahun 2016-2020

Sumber : BPN Kota Pekalongan (diolah), 2021 5. Lingkungan Hidup

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) merupakan upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan AMDAL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup.

Gambar 2.42 Cakupan Pengawasan Pelaksanaan UKL-UPL Tahun 2016 – 2020 Sumber : DLH Kota Pekalongan, 2021

2016 2017 2018 2019 2020

Lahan Bersertifikat

(%) 77,96 79,94 88,69 91,87 91,33

70 75 80 85 90 95

2016 2017 2018 2019 2020

Cakupan pengawasan UKL-

UPL

43,43 59,63 26,61 29,87 32,24 0,00

20,00 40,00 60,00 80,00

Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

113 Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan UKL dan UPL menunjukkan persentase perusahaan wajib UKL dan UPL yang diawasi dibandingkan dengan jumlah seluruh perusahaan wajib UKL dan UPL. Selama kurun waktu tahun 2016- 2020, cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan UPL dan UKL mengalami pasang surut sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 2.42.

Pada tahun 2016 cakupan pengawasan terhadap UKL-UPL sebesar 43,43 persen. Pada akhir tahun 2017, pengawasan UPL-UKL mengalami kenaikan menjadi 59,63 persen. pada tahun 2018 dan 2019 terus mengalami penurunan masing- masing menjadi 26,61 persen dan 29,87 persen. Dan pada tahun 2020 mengalami kenaikan yaitu sebesar 32,24 persen.

Peningkatan jumlah pemilik dokumen lingkungan (UKL/UPL dan amdal) seiring dengan peningkatan jumlah usaha di Kota Pekalongan. Peningkatan ini juga didorong oleh perijinan usaha yang mempersyaratkan disusunnya dokumen pengelolaan lingkungan baik berupa UKL/UPL maupun amdal bagi usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki dokumen lingkungan (UKL/UPL dan amdal) sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan tingkat pelaporan monitoring UKL/UPL dan amdal juga cenderung meningkat, hal ini menunjukkan naiknya tingkat kesadaran pengusaha dalam pengelolaan lingkungan. Perlu ada upaya lebih untuk meningkatkan kesadaran pelaporan diantaranya dengan melakukan pengawasan dan pemberian insentif /disinsentif bagi usaha dan/ atau kegiatan yang menaati tertib hukum lingkungan. Persentase tertib hukum lingkungan di Kota Pekalongan dapat dilihat dalam tabel 2.92 berikut.

Tabel 2.92 Persentase Tertib Hukum Lingkungan di Kota Pekalongan Tahun 2016-2020

2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah Usaha yang melaporkan UKL-UPL/AMDAL

4 5 6 8 12

Jumlah UKL-UPL/AMDAL 99 109 124 154 158

Persentase Tertib Hukum Lingkungan

4,04 4,59 4,84 5,19 7,59

Sumber : DLH Kota Pekalongan, 2021

Sebagai salah satu kota pantai dan penghasil batik, Pemerintah Kota Pekalongan berkomitmen untuk melestarikan lingkungan hidup di Kota Pekalongan.

Komitmen itu antara lain dengan membangun instalasi IPAL baik untuk kebutuhan industri batik, industri tempe maupun industri peternakan. Hal ini diperlukan dalam rangka menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan industri rumah tangga.

Industri yang semakin bertumbuh dari tahun 2016-2020 diikuti dengan volume pengelolaan limbah yang semakin baik.

Tabel 2.93 Perkembangan Pemanfaatan IPAL Komunal di Kota Pekalongan Tahun 2016 - 2020

IPAL

2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Kauman 29 100 26 100 29 120 20 150 20 125

Jenggot 75 400 75 400 102 700 80 700 80 600

Industri Kecil 83 425 83 426 83 426 83 426 73 426

IPAL Bersama 3 500 3 500 3 500 3 500 2 700

Industri Besar 5 700 5 700 5 700 5 900 3 500

IPAL Biogas

Duwet 125 160 28 90 125 120 125 120 30 70

Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

114 IPAL

2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Jumlah Industri

Limbah (m3)

Jumlah Industri

Limbah (m3) IPAL Biogas

Ternak 7 210 7 210 7 210 7 75 - -

IPAL Pringrejo - - - - 70 180 20 50 25 60

IPAL Banyurip - - - - - - 69 150 55 125

JUMLAH 327 2.495 227 2.426 424 2.956 412 3.071 288 2.606 Sumber : DLH Kota Pekalongan, 2021

Cakupan pelayanan persampahan merupakan persentase wilayah yang terlayani persampahan dibandingkan dengan luas wilayah Kota Pekalongan.

Cakupan pelayanan persampahan Kota Pekalongan selama kurun waktu tahun 2016- 2019 cenderung tetap seperti ditunjukkan dalam gambar 2.43.

Gambar 2.43 Cakupan Layanan Persampahan Kota Pekalongan Tahun 2016 - 2020 Sumber : DLH Kota Pekalongan, 2021

Jumlah sampah Kota Pekalongan setiap tahun dari tahun 2016 - 2020 terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk selama tahun 2016-2020.

Pengelolaan sampah menggunakan TPS3R selama tahun 2016-2019 pengelolaannya setiap hari semakin membaik.

Tabel 2.94 Penanganan Sampah di Kota Pekalongan Tahun 2016 - 2020

Data Sampah per Hari 2016 2017 2018 2019 2020 (m3) % (m3) % (m3) % (m3) % (m3) %

Timbulan sampah 153.

788

Sampah terangkut ke TPA 650 82,28 530 79,12 271,87 73,30 353,93 91,72 382,19 92,53 Sampah terkelola di

TPS3R, bank sampah dan sodaqoh sampah

140 17,72 140 20,88 99 26,70 31,97 8,28 30,87 7,47

Jml Sampah tertangani (m3)

790 95,40 670 100 370,87 54,48 385,91 86,30 413,06 76,07 Sumber : DLH Kota Pekalongan, 2021

TPA di Kota Pekalongan beroperasi pada tahun 1994. Lokasi TPA tersebut berada di Kelurahan Degayu. Luas TPA tersebut adalah 5,8 Ha dengan desain umur TPA 15 tahun. Pengoperasian TPA Degayu tersebut merupakan control landfill. Jarak

2016 2017 2018 2019 2020

Cakupan Layanan

Persampahan (%) 81,77 80,46 86,27 86,30 76,07 75,00

77,00 79,00 81,00 83,00 85,00 87,00 89,00

Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

115 TPA terhadap permukiman adalah 0,3 km. Adapun jarak TPA terhadap pusat Kota adalah 5 km dan jarak ke badan air terdekat adalah 0,1 km.

Gambar 2.44 Persentase Pengangkutan Sampah dan Pengelolaan Sampah di Kota Pekalongan Tahun 2016 – 2020 Sumber : DLH Kota Pekalongan, 2021

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah sampah Kota Pekalongan setiap tahun dari tahun 2016–2020 terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk selama tahun 2016–2020. Pengelolaan sampah menggunakan TPS3R, bank sampah dan kegiatan sodaqoh sampah selama tahun 2016–2020 pengelolaannya setiap hari semakin menurun. Hal ini disebabkan menurunnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah.

Baik dan buruknya lingkungan hidup diukur dengan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH). IKLH merupakan salah satu indikator kinerja dalam pengelolaan lingkungan di Kota Pekalongan. Dalam melakukan perhitungan IKLH menggunakan tiga komponen yaitu Indeks Kualitas Air (IKA), Indeks Kualitas Udara (IKU), dan Indeks Tutupan Lahan (IKTL). Dari perhitungan tersebut didapatkan hasil IKLH Kota Pekalongan pada tahun 2017-2020 yang disajikan dalam tabel 2.95 berikut.

Tabel 2.95 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan Tahun 2017-2020

Tahun IKA IKU IKTL IKLH

2017 44,67 99,29 23,5 52,59

2018 46,00 98,82 23,5 52,85

2019 46,00 99,05 23,5 52,92

2020 35,33 79,96 23,6 50,84

Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan, 2021

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kota Pekalongan dalam kurun waktu 2017-2019 mengalami tren naik 0,165 setiap tahunnya, jika dilihat masing-masing komponen maka IKU merupakan komponen yang berkontribusi baik terhadap IKLH,

6,00 16,00 26,00 36,00 46,00 56,00 66,00 76,00 86,00 96,00

2016 2017 2018 2019 2020

Persentase Sampah

terangkut ke TPA (%) 82,28 79,12 73,30 91,72 92,53 Persentase Sampah

terkelola di TPS3R (%) 17,72 20,88 26,70 8,28 7,47

Lampiran Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang RPJMD Tahun 2021-2026 | BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

116 sementara dua komponen lainnya yaitu IKA dan IKTL nilainya masih sangat rendah.

Sedangkan IKLH di tahun 2020 mengalami penurunan menjadi 50,84, kondisi ini dikarenakan terjadinya penurunan pada komposisi IKA dan IKU.

Rendahnya IKA di Kota Pekalongan disebabkan oleh beberapa parameter yang melebihi baku mutu air kelas II seperti BOD, COD, DO, dan Fecal Coliform.

Parameter tersebut merupakan karakteristik dari limbah cair domestik yang bersumber dari pemukiman berupa grey water yang merupakan hasil dari cucian dapur, cucian pakaian dan kamar mandi, dan sekitar 60-85 persen dari total volume kebutuhan air bersih akan menjadi limbah cair domestik. Karakteristik dari limbah domestik (grey water) yaitu mengandung unsur nitrogen, fosfat, dan potasium, unsur tersebut merupakan nutrien bagi tumbuhan yang akan menyebabkan eutrofikasi pada badan air. Tingginya kadar organik dalam perairan akan berdampak pada tingginya konsentrasi BOD, COD dan rendahnya konsentrasi DO. Adanya pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan merupakan salah satu potensi terhadap tingginya pencemaran air di Kota Pekalongan.

Sementara itu Indeks Tutupan Lahan (IKTL) di Kota Pekalongan dari tahun 2017-2019 masih sama dengan nilai IKTL yang sangat kecil. Kondisi ini dikarenakan di wilayah Kota Pekalongan lebih didominasi oleh pemukiman, sedangkan persentase tutupan lahannya masih sangat kurang. Sehingga perlu adanya upaya dalam memperbaiki kondisi tutupan lahan di Kota Pekalongan terutama di kawasan mangrove.

6. Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil

Dalam dokumen RPJMD Kota Pekalongan Tahun 2021-2026 upload (Halaman 138-145)