Gambar 5. Struktur Oganisasi Akademi Perikanan Sidoarjo
30 meter dari permukaan tanah. Air bor dipompa dengan pompa otomatis yang memiliki daya 7,5 kW dan 2900 rpm.. Air bor digunakan untuk mencuci peralatan pembenihan, pelarut pakan dan untuk menurunkan salinitas. Air PDAM digunakan untuk kebutuhan sehari- hari seperti mencuci peralatan laboratorium, memasak, mandi dan lain- lain. Sumber air PDAM dapat dilihat pada gambar 6.
Gambar 6. Sumber Air Tawar dari PDAM B. Air Laut
Air laut merupakan kebutuhan penting dalam kegiatan pembenihan udang vannamei. Air yang digunakan untuk hatchery harus bersih, jernih dan relatif bebas dari lumpur. Mutu air harus stabil dan perubahan salinitas tidak terlalu tinggi. Lokasi yang baik untuk pengambilan air laut adalah pantai yang berkarang dan berpasir. Pada daerah ini air relatif jernih memiliki mutu yang baik sepanjang tahun.
Sumber air yang digunakan untuk sarana pembenihan berasal dari perairan desa Tunggul yang jaraknya sekitar 20 meter dari hatchery APS. Lokasi perairan di desa Tunggul sudah sesuai pendapat Kiki (2011) tentang lokasi perairan yang baik yaitu pantai berbatu, dan berpasir, sehingga mempunyai kualitas yang cukup
baik untuk pembenihan. Pengamatan kualitas air dapat dilakukan menggunakan alat termometer, refraktometer, dan pH pen. Kisaran kualitas air pada SLPP APS yang didapat berdasarkan pengukuran adalah suhu antara 27 0C- 33 0C, salinitas 29- 33 ppm, pH 8,1 – 8,5.
Perbandingan kualitas air di SLPP APS dengan kualitas menurut Manijo (2010) pada tabel 4.
Tabel 4. Kualitas Air
Keterangan : a). Kisaran kualitas air laut di SLPP APS b). Kisaran kualitas air (Manijo, 2010)
4.2.2 Bak Pemeliharaan Larva
SLPP APS memiliki 10 buah bak pemeliharaan larva dengan kapasitas masing- masing bak 10 ton. Bak pemeliharaan larva udang vanamei terbuat dari semen (bak beton). Berbentuk persegi panjang dengan ukuran 5 x 2 x 1 meter.
Bak pemeliharaan larva dibuat tumpul pada ujungnya untuk mengindari penempelan kotoran dan mempermudah sirkulasi air (BBAP Situbondo, 2009).
Bak pemeliharaan larva yang dimiliki SLPP APS berada dalam ruangan tertutup dan sebagian dari atapnya terbuat dari fiber glass. Penggunaan fiber glass bertujuan agar cahaya matahari dapat masuk. Bak pemeliharaan larva juga ditutup dengan terpal untuk mempertahankan kesetabilan suhu dan menghindari cahanya matahari yang langsung masuk dalam bak. Suhu memegang peranan yang penting
Parameter Kisaran a Kisaran b
Suhu air 270- 350 C 29-32 0C
Salinitas 29-33 ppm 29-32 ppm
Ph 8,1- 8,5 7,5-8,5
dalam proses pembesaran larva. Suhu akan mempengaruhi kecepatan molting sehingga berpengaruh pada pertumbuhan larva.
Bak pemeliharaan larva yang terbuat dari semen tidak dapat langsung digunakan, karena akan menimbulkan efek buruk untuk larva. Dinding bak harus dilapisi dengan cat ”epoxy” untuk menutupi pori- pori dari semen (BBAP Situbondo, 2009). Gambar bak pembesaran larva dapat dilihat pada gambar 7.
Gambar 7. Bak Pemeliharaan larva
Bak pemeliharaan larva dilengkapi dengan pipa pembuangan pada dasar bak. Pipa pembuangan berukuran 7- 10 cm. Dasar dari bak dibuat miring sekitar 3% dan dilengkapi dengan bak panen dengan ukuran 0,5 x 0,5 x 0,5 m. Hal ini digunakan untuk mempermudah pengeluaran air dan panen. bak panen dapat dilihat pada gambar 8.
Gambar 8. Bak Panen
4.2.3 Bak Pakan Alami
Pakan alami yang digunakan pada pembenihan yaitu Sceletonema dan Artemia. SLPP APS memilki lima buah bak untuk kultur Sceletonema dan enam buah bak untuk kultur Artemia. Bak kultur Sceletonema terbuat dari beton dengan ukuran 2 x 2 x 1 m yang mempunyai kapasitas air 4 ton. Sceletonema merupakan fitoplanton yang membutuhakan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis sehingga bak kultur Sceletonema terdapat diluar ruangan yang mendapat cahaya yang cukup. Bak dilapisi cat dengan warna cerah bertujuan untuk mendukung proses fotosintesis yang dilakukan oleh Sceletonema. Bak kultur Sceletonema juga dilengkapi dengan bak panen yang dibuat miring, seperti pada gambar 9.
Gambar 9. Bak panen Sceletonema
Bak penetasan Artemia terbuat dari fiber dengan bentuk kerucut kebawah.
Bak penetasan artemia ini dilengkapi selang pengeluaran air untuk mempermudah pengeluaran Artemia saat panen. Bak kultur Artemia memiliki volume maksimal 60 liter. Bak penetasan artemia dapat dilihat pada gambar 10.
Gambar 10. Bak penetasan Artemia 4.2.4 Tandon Air
SLPP APS memiliki 5 buah tandon besar yang terbuat dari beton. Tandon tersebut terdiri dari 4 tandon air laut dan 1 tandon air tawar. Tandon air laut biasa disebut dengan tandon 1 dan 2, yang masing- masing berjumlah 2 buah. Tandon 1 mempunyai kapasitas volume air 9 x 9 x 1,4 m (113, 40 m3), tetapi pengisian air di tandon 1 biasaya hanya sampai 81 m3 atau 81 ton. Tandon 1 berfungsi untuk penampungan dan pengendapan air laut. Pada tandon 1 juga dilakukan treatmen untuk meningkatkan kualitas air sehingga layak untuk kegiatan pembenihan.
Air dari tandon 1 akan disaring menggunkan filter bag masuk ke tandon 2.
Tandon 2 mempunyai ukuran yang masing- masing lebih kecil dari tandon 1.
Tandon 2 berfungsi untuk mengendapan lumpur yang tidak tersaring oleh filter bag. Air dari tandon 2 ini akan digunakan untuk mengisi 10 bak pembesaran larva
dan digunakan untuk media kultur pakan alami. Tandon air tawar, dalam kegiatan pembenihan tandon ini tidak digunakan.
4.2.5 Aerasi
Aerasi digunakan untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dan mencegah pengendapan sisa pakan dan sisa metabolisme. Sistem aerasi yang digunakan SLPP APS untuk seluruh aktifitas pembenihan berasal dari blower yang dihubungkan dengan berbagai bak dan tandon dengan menggunakan pipa paralon diameter 2,5 cm. Mesin ini bekerja selama 24 jam penuh. Pada setiap bak dilengkapi dengan selang, dan batu aerasi sesuai dengan kebutuhan. Aerasi digunakan untuk menambah difusi oksigen terlarut, dan untuk mempercepat pengupanan gas racun. Blower yang dimiliki SLPP APS dapat dilihat pada gambar 11.
Gambar 11. Blower 4.2.6 Listrik
Tenaga listrik digunakan untuk mengoperasikan blower, heater, lampu penerangan dan operasional hatchery. Sumber tenaga listrik untuk kegiatan pemebenihan di SLPP APS berasal dari PLN (6600 watt) dan genset (6000 watt).
Sumber listrik dari PLN lebih sering digunakan dengan alasan memiliki lebih besar daya dan lebih praktis dalam operasionalnya.
Genset digunakan sebagai alternatif saat terjadi pemadaman PLN dan jika listrik dari PLN tidak mencukupi untuk kegiatan pembenihan. Genset atau generator set adalah alat pembangkit listrik dengan tenaga diesel dan menggunakan bahan bakar solar. Rangkaian pembangkit listrik genset seperti pada gambar 12.
Gambar 12. Genset 4.3 Prasarana
Prasarana merupakan faktor pelengkap atau pendukung faktor teknis yang dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi usaha sehingga kegiatan pembenihan dapat berjalan dengan lancar. Denah bangunan sarana dan prasarana di SLPP APS terdapat pada lampiran 2.
4.3.1 Banguanan
Bangunan yang melengkapi sarana untuk kegiatan di SLPP APS antara lain gudang pakan, laboratorium, asrama, kantor, musola, dan rumah jaga.
Gudang pakan pakan yang dimiliki oleh SLPP APS berukuran 3 x 3 meter dengan lantai dan dinding putih, tetapi gudang ini jarang digunakan. Pakan lebih sering disimpan dilaboratorium karena jumlah pakan yang digunakan hanya sedikit.
Laboratorium memiliki peralatan yang cukup lengkap mulai dari alat untuk
mengukur kualitas air, mikroskop dan lemari pendingin. Kantor yang dimiliki SLPP APS dilengkapi dengan komputer dan internet. SLPP APS dilengkapi dengan ruang kelas dan asrama. Asrama memiliki kapsitas 40 orang, luas masing- masing kamar 4 x 4 meter.
4.3.2 Jalan
Jalan merupakan prasarana yang digunkan untuk menunjang kegiatan pembenihan. Kondisi jalan yang baik sangat menentukan kelancaran transportasi selama kegiatan. SLPP APS terletak 50 meter dari jalan raya. Jalan menuju lokasi menggunakan jalan kecil yang sudah dipaving dengan lebar sekitar 5 meter yang cukup digunakan untuk lalulintas kendaraan.
4.3.3 Transportasi
Sarana transportasi yang dimiliki SLPP APS berupa dua buah sepeda motor. Sepeda motor digunakan untuk transportasi jarak pendek misalnya untuk pembelian pupuk, obat- obatan dalam jumlah sedikit.
4.3.3 Komunikasi
Alat komunikasi yang digunakan untuk menunjang kegiatan pembenihan udang vanname adalah handphone dan telephone di kantor SLPP APS.
4.4 Kegiatan Pembenihan
SLPP APS merupakan hatchery skala rumah tangga. Kegiatan pembenihan dimulai dari penebaran nauplius yang dipelihara hingga stadia post larva. Pemanenan dilakukan setelah mencapai stadia PL 10, atau sesuai dengan permintaan pembeli. Kegiatan pembenihan udang vannamei di SLPP APS dimulai
dari persiapan, penebaran naupli, pemeliharaan larva yang terdiri dari pemberian pakan, kontrol kualitas air, pengendalian penyakit dan panen.
4.4.1. Pengolahan Air Laut untuk Pemeliharaan larva
Air laut yang digunakan pada kegiatan pembenihan udang vannamei di SLPP APS berasal dari peraiaran desa Tunggul. Air laut tersebut ditampung dan diolah pada tandon biasa disebut tandon I. Tandon I sebelum digunakan untuk mengolah air dicuci dan dikeringkan selama 1 minggu. Tandon yang telah dikeringkan kemudian dicuci kembali menggunakan air tawar. Pencucian bak tandon dapat dilihat pada gambar 13.
Gambar 13. Pencucian tandon air laut
Air laut diambil dengan 2 pompa air laut yang mempunyai kapasitas 200