Udang vannamei yang akan digunakan sebagai indukan harus diseleksi.
Seleksi induk bertujuan untuk memperoleh induk yang mempunyai sifat baik yang diharapkan dapat menurun pada generasi berikutnya (Hadie dan Hadie, 1992).
Seleksi induk vannamei sesuai SNI 01-7253-2006 yaitu umur induk lebih dari 12
bulan. Panjang induk betina lebih dari 18 cm dengan berat 40 g dan mampu menghasilkan 100.000 telur untuk setiap pemijahan. Induk jantan minimal 17 cm dengan berat 35 g. Induk udang vannamai yang berkualitas memiliki ciri fisik yaitu tubuh tidak cacat, memiliki warna tubuh yang cerah, organ tubuh lengkap dan normal, organ reproduksi kondisi baik serta bebas penyakit ( Manijo, 2010).
Ciri lain dari induk yang baik yaitu memilki karakteristik organ reproduksi induk udang vannamei bagus. Spermatophore jantan berkembang baik dan berwarna putih mutiara. Udang betina matang secara seksual dan menunjukkan perkembangan ovarium (Erwinda, 2008).
2.3.2 Bak Induk
Subyakto (2006) membedakan bak untuk induk sesuai dengan fungsinya sebagai berikut:
a. Bak penampungan/ karantina
Bak penampungan berfungsi untuk menampung induk sementara setelah transportasi. Pada bak ini dilakukan adaptasi dan pengecekan penyakit. Bentuk bak bulat, oval, atau empat persegi panjang, bersudut tumpul dengan luas dasar minimal 20 m2, dengan ketinggian bak minimal 1 m dan kedalaman air minimal 0,6 m (jarak antara permukaan air dan bibir bak minimal 0,3 m). Warna dasar bak cerah dan warna dinding bak gelap, atau warna keseluruhannya cerah. Bak karantina ini biasanya terbuat dari semen, fiber glass atau plastik.
b. Bak pemijahan
Bak pemijahan berfungsi untuk memijahkan induk yang telah matang gonad. Bak pemijahan biasanya memiliki bentuk bulat, oval atau empat persegi
panjang, bersudut tumpul dengan ketinggian bak 0,8 m sampai dengan 1 m dan kedalaman air minimal 0,6 m serta luas dasar bak minimal 2 m2.
Penggatian air pada bak induk dilakukan setiap hari dengan volume 50%
dari jumlah total. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas air, membuang sisa pakan dan kotoran udang.
c. Bak penetasan
Bak penetasan berfungsi media penetasan telur dari bak pemijahan. Bak penetasan mempunyai volume minimal 300 liter dengan ketinggian bak 0,8 m sampai dengan 1 m dan kedalaman air minimal 0,6 m. Bak penetasan terbuat dari semen, fiber glass atau plastik. Temperatur 30 –31 C, salinitas 31 –32 ppt, DO 5 – 7 mg/l (Manijo, 2010).
2.4.3 Bak Pemeliharaan Larva
BBAP Situbondo (2009) menjelaskan bahwa larva dari udang vanamei dapat dipelihara pada bak yang tebuat dari semen (bak beton) atau fiber glass. Bak pemeliharaan larva dapat berbentuk bulat, oval, atau persegi empat yang bersudut tumpul. Bak bulat kurang efisien dalam pemanfaatan lahan. Bak dalam ukuran kecil sulit untuk menjaga kestabilan suhu. Bak yang ideal untuk memelihara udang vaname adalah bak yang berbentuk persegi panjang dengan kapasitas minimal 10m3 dengan ketinggian bak minimal 1,5 m dan kedalaman 1,2 m. Bak dibuat dengan sudut tumpul untuk menghindari penumpukan kotoran, selain itu untuk mempermudah sirkulasi air (BBAP Situbondo, 2009).
Bak pemeliharaan larva dilengkapi dengan bak panen dengan ukuran 2 x 0,5x 0, 5m (p x l x t). Bak pemeliharaan larva dilengkapi dengan pipa
pembuangan pada dasar bak. Bak dengan kapasitas 10m3 pipa pembuangan berukuran antara 3-4 inci. Dasar bak dibuat dengan kemiringan 2- 5 % kearah pembuangan (BBAP Situbondo, 2009).
Bak pemeliharaan larva sebaiknya ditempatkan pada ruangan tertutup untuk menjaga kestabilan suhu dan menjaga intensitas cahaya. Atap dari bak dapat terbuat dari asbes dengan 40 % diantaranya menggunakan atap fiber untuk pencahayaan. Screen/ jaring atau kain kelambu yang diletakkan dibawah fiber akan menghindari cahaya matahari secara langsung, sehingga hanya panas dan pantulan dari sinar matahari yang masuk dalam bak larva (BBAP Situbondo, 2009).
2.4.4 Bak Kultur Pakan Alami
Bak kultur pakan alami dapat dibuat dari kayu yang dilapisi plastik atau semen (Juliar, 2011). Jumlah dan kapasitas bak plankton harus disesuaikan dengan jumlah bak pemeliharaan larva yaitu 20-30 % dari kapasitas bak larva.
Posisi bak plankton pada area terbuka untuk mempermudah phytoplankton untuk melakukan fotosintesis.
Bak kultur pakan untuk zooplankton sepeti artemia digunakan wadah fiber glass atau plastik dengan volume minimal 20 liter. Wadah dapat berbentuk kerucut untuk mempermudah dalam pemanenan plankton (BBAP Situbondo, 2009).
2.3.5 Tenaga Listrik
Pada usaha pemebenihan udang vannamei aliran listrik harus tersedia selama 24 jam penuh. Energi listrik digunakan sebagai penggerak blower, pompa (baik pompa air tawar maupun air laut), dan penerangan. Sumber energi listrik diperoleh dari mesin genset atau PLN (Juliar, 2011).
Menurut Nurjanah dan Adisukresno (1983), pemakaian listrik yang tidak melebihi 50 KVA dapat menggunakan sumber listrik dari PLN saja. Pemakaian listrik sebanyak 50 KVA atau lebih, akan lebih menguntungkan jika mengunakan sumber listrik dari PLN dan genset. Pamakaian
2.3.6 Tandon
Tandon merupakan bak yang digunakan untuk menampung air. Pada usaha pembenihan udang vannamei dibutuhkan beberapa tendon antara lain tandon untuk air laut dan air tawar, tendon threatment air untuk media pembenihan udang vannamei (Juliar, 2011). Bak tandon air terbuat dari beton dengan volume minimal 30 % dari kapasitas total bak pemeliharaan (SNI 7311:2009).
2.5 Persiapan Pembenihan
2.4.1 Persiapan Bak dan Pemasangan Aerasi
Persiapan bak dimulai dari pengeringkan bak (dijemur), kemudian dasar dan dinding bak disikat. Desinfektan yang digunkan dapat berupa klorin dengan dosis 100 ppm, KMnO4 (kalium permanganat) 10 ppm, dan formalin 50 ppm (Juliar, 2011).
Pemasangan instalasi aerasi yang terdiri dari selang areasi, regulator, batu aerasi yang dilengkapi dengan pemberat. Sumber aerasi pada pembenihan dapat diperoleh dari blower, atau kompresor (BBAP Situbondo, 2009). Jarak antara selang aerasi 0,4 m sampai 0,6 m dan jarak batu aerasi dari dasar bak 0,05 m sampai dengan 0,1 m. Pengecekan aerasi sebelum kegiatan pembenihan berlangsung dengan cara melihat gelembung dari batu aerasi, jika gemembung rata maka instalasi aerasi telah terpasang dengan baik. Aerasi ini juga meningkatkan kandungan oksigen sehingga gas-gas beracun akan menguap keluar (Juliar, 2011).
2. 4. 2 Persiapan Air sebagai Media Pembenihan
Udang vannamei merupakan udang air payau sehingga air untuk media pembenihan udang vannamei membutuhkan dua jenis air, yaitu air laut dan air tawar. Pengadaan air laut dapat diusahakan dengan menyedot air laut dengan menggunakan pompa dan pipa paralon (PVC) yang dipasang horizontal dan dilengkapi dengan penyaring kotoran. Pengambilan air secara horizontal untuk mendapatkan laut yang lebih bersih dan terjamin. Jarak pengambilan air dari garis pantai sekitar 300 m (Kiki, 2011).
Sterilisasi air laut menggunakan klorin 100 % (5 g/l sampai dengan10 g/l) atau kaporit 60 % (15 g/l sampai dengan 20 g/l) dan dinetralkan dengan aerasi kuat atau natrium tiosulfat maksimum 40 g/l (SNI 7311:2009).
Kadar garam yang digunakan dalam usaha pembenihan antara 24-32 ppt, sedangkan kadar garam untuk air laut antara 33-34 ppt. Penambahan air tawar dapat dilakukan untuk menurunkan salinitas air laut.
2. 4. 3 Pemijahan Induk Udang Vannamei
Perilaku pemijahan pada Penaeus vannamei dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan seperti temperatur air, kedalaman, intensitas cahaya, fotoperiodisme, dan beberapa faktor biologis seperti feromon dan rasio kelamin (Yano et al., 1988). Udang jantan hanya akan memijah dengan udang betina yang memiliki ovarium yang sudah matang. Kontak antena yang dilakukan oleh udang jantan pada udang betina dimaksudkan untuk pengenalan reseptor seksual pada udang (Yano, et al., 1988). Nilai parameter kualitas air untuk pemijahan induk udang vannamei pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai parameter kualitas air selama proses pemijahan induk
Sumber: Afandi (2009)
Padat tebar dalam bak induk berkisar 1-2 ekor/ m2. Perbandingan induk jantan dan betina 2:3 (Nurdjanah dkk., 1983). Proses pemijahan alami pada kebanyakan udang biasanya terjadi pada waktu malam hari, tetapi udang Penaeus vannamei melakukan proses pemijahan pada saat matahari tenggelam (Yano et
Parameter Satuan Kisaran
Suhu air 0C 27-29
Salinitas 0/00 31-34
pH 7,5-8,5
Oksigen terlarut ppm Minimal 5
Nitrit ppm Maksimal 0,1
Bakteri pathogen (Vibrio) Cfu 103
al., 1988). Spesies Penaeus vannamei memiliki tipe thelycum tertutup sehingga udang tersebut memijah saat udang betina pada tahap intermolt atau setelah maturasi ovarium selesai, dan udang akan bertelur dalam satu atau dua jam setelah proses pemijahan (Wyban and Sweeny 1991).
2.4.4 Pakan untuk induk
Kemampuan bertelur induk dapat ditingkatkan dengan cara pemberian makan berupa hewan laut segar atau beku, seperti tiram, cumi, atau poliseta.
Udang induk yang diberi makan oleh organisme tersebut memiliki kemampuan reproduksi yang lebih tinggi daripada udang yang diberi makan pakan kering.
Nutrisi yang baik dapat meningkatkan reproduksi udang dengan meningkatkan sintesis hormon steroid, kuning telur, dan transportasi kuning telur dari hepatopankreas menuju ovarium. Selama masa reproduksi, udang membutuhkan lebih banyak vitamin C. Vitamin C pada proses pemijahan berperan untuk mengubah kolesterol menjadi steroid (Wyban and Sweeny 1991).
Pakan diberikan empat kali sehari dengan alternatif pakan berupa cumi dan cacing darah. Cacing darah dibuat menjadi semi cair dan dipotong-potong menjadi sepertiga dari panjangnya, sedangkan cumi dipotong kotak-kotak. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi turbiditas air (Wyban and Sweeny, 1991).
Jumlah makanan yang diberikan 20% dari berat udang (Nurdjanah dkk., 1983).
2.4.5 Penetasan
Udang vannamei umumnya mengeluarkan telur pada sore hari. Telur tersebut akan menetas menjadi nauplius dalam waktu 12- 16 jam. Perkembangan
dari telur dipengaruhi kondisi lingkungan terutama suhu dan salinitas(Nurdjanah dkk., 1983).
Aerasi harus segara ditambah setelah telur menetas, karena kebutuhan oksigen juga meningkat. Pada stadia nauplius larva tidak perlu beri makan karena masih mempunyai persediaan makanan dari kantong kuning telur (Nurdjanah dkk., 1983).
2.5 Pemeliharaan Larva
2.5.1 Kualitas Air untuk Pemeliharaan larva
Memurut Manido (2010), padat tebar di bak pemeliharaan larva udang vannamei 200-250 ekor/ liter. Kualitas air untuk pemeliharaan larva udang vannamei dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Kualitas air untuk pemeliharaan larva uadang vannamei
Sumber: Manijo (2010) 2.5.2 Pemberian Pakan Larva
Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses pemeliharaan meliputi pakan alami (phytoplankton dan zooplankton) dan pakan tambahan. Ukuran dan jumlah pakan yang diberikan harus tepat. Pemberian
Parameter Satuan Kisaran
Suhu air 0C 29-32
Salinitas 0/00 29-34
pH 7,5-8,5
Oksigen terlarut ppm Minimal 5
Nitrit (NO
2N) Ppm Maksimal 0,1
Nitrar (NO3N) Ppm 0.1-0.2
Amoniak (NH3)) Ppm Maksimal 0,1
pakan yang kurang tepat akan mengakibatkan pertumbuhan udang menjadi lambat, ukuran tidak seragam, tubuh menjadi keropos, dan timbul kanibalisme (Wijayanti, 2004). Pertumbuhan udang vanamei sangat dipengaruhi oleh manajemen pakan yang digunakan (Mudjiman dan Suyanto, 1987). Konsumsi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti umur/ stadia larva kualitas pakan, kondisi lingkungan, dan kesehatan udang. Pemberian pakan untuk larva udang vannamei pada berbagai stadia sebagai berikut:
a. Stadia nauplius, pada stadia ini larva belum memerlukan makanan dari luar karena masih mempunyai cadangan makanan dari kuling telur.
b. Stadia zoea, pada stadia ini larva sudah mempunyai saluran pencernaan yang sempurna dan aktif mencari makan. Pakan yang diberikan berupa phytoplankton (Skeletonema costatum, Nitzchia closterium)
c. Stadia mysis, pada stadia ini larva udang sudah memilki bentuk mirip dengan udang dewasa. Pakan yang diberikan berupa zooplankton (Artemia sp.).
d. Stadia post larva, pada stadia ini pakan yang diberikan berupa zooplankton (Artemia sp., copepoda)
Menurut Manik dan Djunaidah (1983) ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis plankton untuk pakan larva udang vannamei antara lain:
a. Mudah dicerna dan mempunyai ukuran sesuai dengan bukaan mulut larva.
b. Apabila plankton yang digunakan untuk pakan dapat bergerak (zooplankton), kecepatan gerak zooplankton harus disesuaikan dengan kecepatan gerakan larva udang.
c. Mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kultur.
d. Plankton yang digunakan untuk pakan selama daur hidupnya tidak menghasilkan racun atau gas yang yang membahayakan larva.
Pakan tambahan perlu diberikan untuk melengkapi kebutuhan gizi bagi larva udang. Pakan tambahan merupakan pelengkap dari pakan alami, maka kandungan gizi didalamnya seperti protein harus cukup tinggi antara 20-70%, karbohidat kurang dari 20 % (Manik dan Djunaidah, 1983). Pemberian pakan buatan harus memperhatikan ukuran dan dosis pakan harus sesuai dengan umur larva (Hadie dan Hadie, 1992).
2.6 Sampling Larva Udang Vannamei 2.6.1 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan pengambilan secara acak sebanyak minimal 30 ekor untuk pengukuran panjang tubuh, pengujian parasit atau bakteri.
Deteksi virus dengan uji PCR (Polymerase chain reaction), sampel diambil dari beberapa titik dalam bak sebanyak 150 ekor (SNI 01-7252-2006).
Menurut SNI 01-7252 (2006) sampel yang telah diambil dilakukan berbagai pengamatan sebagai berikut:
a. Pengamatan visual
Pengamatan visual digunakan untuk memeriksa tingkah laku benih, kecukupan pakan dan gejala klinis pada larva udang vannamei.
b. Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan mikroskop untuk memeriksa parasit dan kondisi fisik benih.
c. Pengujian virus (TSC, IHHV, WSSV )
Pengujian adanya virus pada larva dilakukan dengan uji PCR (Polymerase chain reactio
d. Pengujian respon benih
Pengujian respon pada stadia nauplius dengan pemberian cahaya, naupius yang sehat akan mendekati datangnya cahanya (phototaksispositif). Pengujian benur dapat dilakukan dengan cara, pemutaran air pada wadah (baskom atau ember berwarna cerah) yang berisi benur. Benur yang sehat akan berenang melawan arus dengan posisi kepala yang mengarah kebawah.
e. Penentuan prevalensi nekrosis
Penentuan prevalensi nekrosis berdasarkan adanya infeksi bakteri yang menyebabkan pembusukan organ tubuh.
f. Penetuan prevalensi parasit
Penetuan prevalensi parasit dilakukan berdasarkan adanya bekteri yang secara visual mengakibatkan pembusukan.
2.6.2 Standar Kualitatif Nauplius dan Benur
Berdasarkan SNI 01-7252 (2006) nauplius berkualitas memiliki ciri yaitu warna tubuh orange, pergerakan aktif, memilki organ tubuh yang lengkap dengan
ukuran yang normal dan bebas patogen, memiliki respon terhadap rangsang cahaya pototaksis positif.
Berdasarkan SNI 01-7252 (2006) benur berkualitas memiliki ciri yaitu warna tubuh transparan, isi usus tidak terputus, gerakan benerang aktif dengan kepala yang mengarah kebawah, kondisi tubuh setelah mencapai PL 10 memilki organ yang lengkap dan ekor yang mengembang. Benur yang berkualitas akan melentik jika diberi kejutan getaran.
2.6.3 Standar Kuantatif Nauplius dan Benur
Standar kuantatif nauplius dan benur udang vannamei terdapat pada tabel 3.
Tabel 3. Standar kuantatif nauplius dan benur
No. Kriteria Satuan Nauplius Benur
1. Umur Jam 16- 18 Minimal PL 10
2. Panjang mm 0,5 8,5
3. Prevalensi parasit (tehadap populasi) maksimal
% 0 20
4. Infeksi virus (TSV, IHHV, WSSV)
% 0 0
5. Keseragaman % - 80
6. Daya tahan terhadap
a. Penurunan salinitas 3 0/00 ke 0 0/00 selama minimal 5 menit.
b. Perendaman dengan formalin 200 ppm selama minimal 30 menit
%
%
- -
80 80
7. Prevalensi nekrosis* (terhadap populasi)
% - 5
CATATAN * Ditentukan berdasarkan adanya infeksi bakteri yang menyebabkan terjadinya pembusukan organ.
Sumber : SNI 01-7252 (2006) 2.7 Pemberantasan Penyakit
Penyakit terjadi karena ketidakseimbangan antara lingkungan, inang dan patogen. Beberapa jenis penyakit yang menyerang larva udang vannamei disebabkan oleh parasit, bakteri dan jamur serta virus. Infeksi penyakit pada udang vannamei dapat diminimalkan dengan melakukan beberapa hal yaitu menggunakan benih udang vannamei yang berkualitas baik, mendeteksi dan memonitoring kesehatan udang secara rutin dan teratur, serta menjaga kualitas air agar tetap stabil sehingga udang tidak stres. Pemberian probiotik dan imunostimulan untuk meningkatkan imunitas udang terhadap serangan penyakit dan menerapkan prinsip-prinsip biosecuritas (Haliman dan Adijaya, 2005).
Anderson (1988) melaporkan adanya dua jenis gen penyakit yang menyerang udang. Penyakit berasal dari bakteri bentuk filamamen merupakan penyakit yang menyerang pada kondisi air yang banyak mengandung bahan organik dan oksigen rendah. Penyakit asal protozoa bentuk ciliata merupakan parasit yang menyerang udang pada periode larva sampai post larva, yang menyebabkan sesak nafas dan kematian. Jenis penyakit yang sering ditemukan menyerang udang vannamei Bacterial White Spot Syndrome (BWSS), Taura Syndrome Virus (TSV), Black Gill Disease (BGD) dan Infectious Hypodermal Hematopoeitic Necrosis Virus (IHHNV).
Arief (2004) menjelaskan, untuk pengobatan terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri, dapat digunakan antibiotic, seperti; Oxytetracycline dengan dosis 1 g/kg pakan, Erythromycine 1 – 3 g/kg pakan, dan Prefuran 0,5 g/m3 air. Menanggulangi jamur dan parasit, dapat digunakan Treflan 0,02 – 0,1 ml/m3 dan formalin 50 ml/m3. Peningkatkan daya tahan tubuh udang terhadap
stress akibat pengaruh lingkungan, dapat menggunakan vitamin C dengan dosis 2 g/kg pakan.
2.9 Pemanenan
Pemanenan benur dilakukan mulai stadia PL10 atau ukauran PL mencapai 1 cm. Pemanenan lebih baik dilakukan waktu malam hingga pagi hari atau diusahakan pada suhu rendah dengan tujuan untuk mengurangi resiko kerusakan mutu udang (DKP, 2002). Pemanenan lebih baik dilakukan pada malam hari untuk menghindari terik matahari, selain itu juga bertujuan untuk mengurangi resiko udang ganti kulit selama panen akibat stress. Udang yang berganti kulit saat panen akan menyebabkan penurunan harga jual (Darmono, 1991)
III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
3.1 Tempat dan Waktu
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Hatchery Akademi Perikanan Sidoarjo, Desa Sekrikil, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan dilaksanakan mulai 8 Februari sampai dengan 13 Maret 2011.
3.2 Metode Kerja
Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu. Metode deskriptif adalah metode untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu (Suryabrata, 1993).
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengambil dua data yang meliputi data primer dan data sekunder.
3.3.1 Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat dalam prosedur dan teknik pengambilan data yang berupa wawancara, observasi, dan partisipasi aktif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara langsung sesuai dengan tujuannya (Azwar, 1998).
A.Observasi
Observasi atau pengamatan secara langsung dilakukan dengan pengamatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena, diselidiki tanpa mangajukan pertanyaan-pertanyaan kepada narasumber. Pada Praktek Kerja Lapang ini observasi akan dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembenihan udang vannamei meliputi persipaan bak, seleksi induk, pemeliharaan larva, panen, penyakit yang menyerang larva serta sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pembenihan.
B.Wawancara
Wawancara merupakan cara pengumpulan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berdasarkan pada tujuan praktek kerja lapang. Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara penanya (pewawancara) dengan penjawab (narasumber), sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan (Nazir, 1998). Wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab mengenai sejarah berdirinya struktur organisasi, tenaga kerja, permodalan, proses produksi, pemasaran , permasalahan dalam produksi dan pemasaran, serta hambatan yang dihadapi di Hatchery Akademi Perikanan Sidoarjo dalam kegiatan pembenihan udang vannamei.
C. Partisipasi Aktif
Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan (Nazir, 1998). Kegiatan yang dilakukan adalah usaha pembenihan udang vannamei. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung mulai dari
pengolahan air, persiapan bak, penebaran benih, kontrol kulitas air, pemberian pakan, serta kegiatan lainnya yang berkaitan dengan praktek kerja lapang yang dilakukan.
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data tangan kedua yaitu data yang diperoleh dari pihak lain, yang tidak langsung diperoleh dari subjek yang diteliti (Azwar, 1998).
Data sekunder dapat diperoleh dari studi-studi sebelumnya yang dikumpulkan dan disatukan atau yang diterbitkan oleh berbagai instansi lain misal biro statistika, majalah, keterangan atau badan publikasi lainnya. Data sekunder dalam Praktek Kerja Lapangan ini dapat diperoleh dari pihak hatchery Akademi Perikanan Sidoarjo.
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang
4.1.1 Sejarah Berdiri dan Perkembangan Akademi Perikanan Sidoarjo Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi perikanan diploma III kedinasan. APS yang didirikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 1998. Berdirinya APS dilatarbelakangi adanya keinginan untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dibidang perikanan. APS berlokasi pada desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Sidoarjo.
Akademi Perikanan Sidoarjo merupakan Unit Pelaksana teknis dibawah Sekretariat Jenderal Departemen Kelautan dan Perikanan.
APS merupakan sebuah perguruan tinggi kedinasan, sehingga sistem pendidikan berbeda dengan perguruan tinggi pada umumnya. Sebelum masa reformasi, lembaga ini ada di bawah Departemen Pertanian dengan status sebagai Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM). Pada masa reformasi SUMP berubah menjadi Akademi Penyuluh Perikanan (APP). Perubahan status menjadi Akademi Perikanan Sidoarjo dimulai sejak tahun 1988. Peresmian gedung baru, dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, pada tanggal 11 Nopember 1999.
APS memiliki lahan praktek tambak di desa Banjar Kemuning Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo seluas 20 Ha dan di desa Pulokerto Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan seluas 12 Ha, serta lahan Hatchery skala rumah tangga di Desa Paciran Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Hatchery ini
memiliki luas 2500 m2 dan biasa disebut Stasiun Lapangan Praktek Pembenihan (SLPP). SLPP APS diresmikan oleh Direktorat Jendral Kelautan dan Perikanan, pada tanggal 17 September 2004. Pembanguanan SLPP APS selian untuk lahan praktek pembenihan oleh mahasiswa, juga untuk memenuhi kebutuhan benih yang berkualitas.
4.1.2 Tugas Pokok dan fungsi Akademi Perikanan Sidoarjo
Tugas pokok dan fungsi Akademi Perikanan Sidoarjo sesuai dengan visi dari Departemen Kelautan dan Perikanan yaitu mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan yang bertanggungjawab bagi kesatuan dan kesejahteraan bangsa.
Visi Akademi Perikanan Sidoarjo adalah menjadikan APS sebagai lembaga pendidikan terkemuka (center of excellent) dalam menunjang terwujudnya sumberdaya manusia perikanan modern yang bertanggung jawab.
Sedangkan Misi Akademi Perikanan Sidoarjo antara lain:
1. Meningkatkan dan mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi 2. Meningkatkan Sumberdaya Pendidikan yang dimiliki
3. Meningkatkan Kejasama Eksternal
Strategi yang digunakan untuk meyempurnaan sarana dan prasarana pendidikan yaitu :
1. Meningkatkan Sumberdaya Perikanan secara berencana dan bertahap melalui koordinasi dan keterpaduan instansi pemerintah yang terkait dan masyarakat perikanan.
2. Meningkatkan Koordinasi dan Konsultasi dengan Departemen Kelautan dan Perikanan yang menaungi Akademi Perikanan Sidoarjo dan melalui