• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Kualitas Air

B. Artemia Salina

4.4.6 Pengelolaan Kualitas Air

Kualitas air dalam proses pemeliharaan larva ada kemungkinan mengalami penurunan. Penurunan kualitas air dapat disebabkan karena timbunan kotoran dari larva maupun sisa makanan yang tidak termakan. Menjaga kualitas air dilakukan dengan cara pengontrolan kualitas air secara berkelanjutan, penyiponan ataupun penggantian air.

Hari ke-

Panjang larva (mm)

Parameter kualitas air yang diukur di SLPP APS meliputi suhu, pH, DO, dan salinitas. Peralatan yang digunakan untuk mengukur kualitas air selama kegiatan pembenihan udang vannamei antara lain pH meter yang berfungsi untuk mengukur tingkat keasaman air. Termometer yang berfungsi untuk mengukur suhu air. DO meter yang digunakan untuk mengukur kadar oksigen terlarut dalam air. Refraktometer yang digunakan untuk melihat kadar garam pada air. Alat yang digunakan untuk mengukur kualitas air di SLPP APS dapat dilihat pada gambar 26.

Gambar 26. Alat pengukur kualitas air Keterangan : a). pH meter

b). DO meter c). Termometer d). Refarktometer

Kisaran hasil pengamatan kualitas air di SLPP APS dengan kualitas air menurut Manijo (2010) dapat dilihat tabel 6.

Tabel 6. Kualitas air pada kegiatan pembenihan udang vannamei di SLPP APS

Parameter Nilai a Nilai b

Suhu 29-32 0C 27-35 0C

Salinitas 29-34 0/00 29-32 0/00

DO Lebih dari 5 ppm 3,1- 3,4 ppm

pH 7,5- 8,5 8,28- 8,45

a .

b .

c .

d .

Keterangan : a). Kualitas air berdasarkan Manijo (2010)

b). Kualitas air berdasarkan pengamatan di SLPP APS

Berdasarkan hasil pengukuran oksigen terlarut di SLPP APS tidak sesuai dengan standar yang digunakan untuk usaha pembenihan. Kandungan oksigen terlarut air terlalu rendah yaitu 3,1- 3,4 ppm yang seharusnya lebih dari 5 ppm.

Kandungan oksigen terus menurun dari stadia naupli yaitu 3,4 ppm hingga stadia post larva yaitu 3,1 ppm. Hal ini disebabkan karena sumber oksigen untuk pembenihan hanya berasal dari aerator, selain itu kandungan bahan organik yang terlarut dalam air bertambah. Bahan organik pada air berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dan hasil metabolisme yang menumpuk. Hasil pengukuran harian kualitas air di SLPP APS dapat dilihat pada lampiran 10.

Pengukuran suhu dilakukan setiap hari dengan termometer. Pada kegiatan pembenihan suhu merupakan parameter yang sangat penting. Perubahan suhu sebesar 5 0C secara tiba- tiba akan menimbulkan stress pada larva udang bahkan akan menimbulkan kematian. Suhu akan mempengaruhi konsumsi pakan, proses metabolisme dan kecepatan moulting, sehingga pengukuran suhu harus dilakukan setiap hari. Proses pencernaan makanan pada udang sangat lambat, suhu hangat akan mempercepat konsumsi pakan udang, sehingga pertumbuhan akan semakin cepat. Suhu air pada bak pemeliharaan larva di SLPP APS cukup stabil yaitu 30- 320 C, hal ini karena bak pemeliharaan larva berada diruang tertutup dan setiap bak ditutup dengan terpal untuk menjaga suhu air agar tetap stabil. Jika terjadi penurunan suhu air yang signifikan, untuk meningkatkan suhu bak dapat diberi heater. Heater yang digunakan di SLPP APS mempunyai daya 3000 watt, untuk menaikan suhu 1 0C membutuhkan waktu selama 6 jam. Perubahan suhu air

sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Grafik perubahan suhu air selama kegiatan pembenihan udang vannamei dapat dilihat pada gambar 27.

Gambar 27. Grafik perubahan suhu harian di SLPP APS.

Salinitas merupakan kadar garam yang terlarut pada air. Salinitas mempunyai hubungan dengan suhu, jika suhu air tinggi maka kadar garamnya juga tinggi. Salinitas di SLPP APS termasuk stabil yaitu 29- 32 0/00 . Kadar salinitas juga berhubungan dengan kecepatan tumbuh udang. Salinitas yang terlalu tinggi akan mengakibatkan proses osmoregulasi meningkat. Proses osmoregulasi adalah proses penyeimbangan tekanan osmosis antara lingkungan dan tubuh.

Salinitas yang tinggi akan mengakibatkan pertumbuhan udang menjadi lambat, karena energi lebih banyak digunakan untuk kegiatan osmoregulasi (Haliman dan Adijaya, 2005). Grafik perubahan salinitas air selama kegiatan pembenihan udang vannamei dapat dilihat pada gambar 28.

Suhu 0 C

Hari ke-

Gambar 28. Grafik perubahan salinitas harian di SLPP APS.

Derajat keasaman (pH) adalah nilai dari pengukuran (H+) dalam air. pH gigunakan untuk mengetahui sifat dari perairan, jika pH kurang dari 7 makan suatu perairan bersifat asam. Menaikkan kadar asam dapat dilakukan dengan menambah kapur, untuk menurunkan kadar asam dapat ditambah dengan HCl yang jumlahnya disesuaikan dengan kondisi air. Grafik perubahan pH air selama kegiatan pembenihan udang vannamei dapat dilihat pada gambar 29.

Gambar 29. Grafik perubahan pH harian di SLPP APS

Menjaga kualitas air dilakukan dengan cara penyiponan dan penggantian air. Tujuan dari penggantian air adalah mengurangi sisa pakan dan kotoran yang mengendap atau menempel pada dinding bak dan untuk memperbarui kualitas air

0 4 8 12 17 Hari ke-

Salinitas

Hari ke-

0 4 8 12 17

Derajat keasaman(pH)

media (Hadie dan Hadie, 1992). Pergantian air jarang dilakukan di SLPP APS, karena ukuran dari larva yang masih terlalu kecil sehingga membutuhkan waktu yang lama dan resiko larva stress lebih besar. Meningkatkan kualitas air dilakukan dengan cara menambah air. Penambahahan air dilakukan pada stadia mysis. Pada stadia mysis biasanya permukaan air telah banyak mengandung gelembung hal ini diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah terjadi banyak perombakan gas di dalam air sehingga perlu dilakukan perbaikan kualitas air.

Penggantian air pada bak pemeliharaan larva di SLPP APS dilakukan 1 kali, yaitu pada stadia awal post larva. Penggantian air dilakukan pada stadia post larva dengan pertimbangan ukuran larva yang sudah cukup besar, sehingga lebih mudah untuk prosesnya. Menurut Menurut Mastantra dan Suriandayani (2004), penggantian air seharusnya dilakukan tiap hari dengan prosentase pergantian air berbeda tiap stadia yaitu stadia Zoea III 20%, Mysis I- III 30%, PL 1-5 40%, dan PL6-10 50%.

Proses penggantian air pada bak pemeliharaan larva dimulai dari pengeluaran air hingga 50 %, dan dilanjutkan hingga semua air keluar. Larva disaring mengunakan jaring besar di bak panen. Bak pemeliharaan diisi kembali dengan air dan diberi pakan sester flake 30- 50 gram untuk tiap bak, kemudian postlarva ditebar.

Dokumen terkait