• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pengobatan

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Teknik pembenihan udang vannamei di SLPP APS yaitu persiapan, manajemen pakan, pengontolan kualitas air, pencegahan penyakit, panen.

Persiapan dimulai dari pengolahan air menggunakan kaporit 20 ppm, karbon aktif 6 ppm, dan natium tiosulfat 40 ppm. Persiapan bak yaitu pencucian, pemberian desifektan berupa formalin 400 ppm. Larva ditebar dengan kepadatan 150 ekor larva/ liter air. Pakan yang diberikan adalah pakan alami (Sceletonema dan Artemia) pakan buatan berupa (GAP, UD 0, UD 1, dan Seaster flake) dengan frekunsi 8 kali dalam sehari. Pengamatan pertumbuhan dan analisis kualitas air meliputi suhu, pH, salinitas, DO.

Penyakit karena jamur Sirolpidium menyerang larva pada stadia mysis.

Panen dilakukan pada post larva 10 dengan SR 26,33 %.

2. Faktor pendukung dalam kegiatan pembenihan udang di SLPP APS adalah dilakukan pengolahan air untuk meningkatkan kualitasnya, padat tebar nauplius yang sudah sesuai standar yaitu 150 ekor/ liter air, pemberian pakan tiap tiga jam, pengamatan pertumbuhan, kualitas air dan penyakit dilakukan tiap hari.

3. Kendala yang terjadi selama kegiatan pembenihan di SLPP APS adalah penurunan kualitas air yang sulit dikontrol. Terjadi kematian larva dalam jumlah banyak pada fase mysis dan awal post larva. Penggantian air hanya dilakukan 1 kali dalam 1 siklus, sehingga nilai DO rendah yaitu 3,1 – 3,4.

Jumlah Artemia yang diberikan pada tingkatan stadia post larva selalu sama.

5.2 Saran

Penurunan kualitas air sangat mempengaruhi kegitan pembenihan khususnya pada proses. Moulting pada larva udang vannamei merupakan saat kritis, sehingga penurunan kualitas air seperti DO sangat berpengaruh terhadap tingkat kelulushidupan larva. Sebaiknya dilakukan pengeloaan kualitas air misalnya penyiponan dan penggantian air secra teratur untuk memperbaiki kualitas air. Dosis pemberian pakan harus lebih diperhatikan, karena residu dari pakan akan mempengaruhi kualitas air. Pemberian pakan misalnya Artemia seharusnya disesuaikan dengan umur dan stadia larva.

DAFTAR PUSTAKA

Adisukresno, S. 1983. Persyaratan Pembenihan Udang Penaeid. Dalam : Pedoman Pembenihan Udang Penaeid. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Aimyaya. 2009. Kumpulan Teknik Penyaringan Air Sederhana. www.

Aimyaya.com. diakses pada 17 Juli 2011.

Afandi, M. 2009. Manajemen Pemeliharaan Induk Udang Vannamei Nusantara-1 (VN-1). Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Situbondo.

Amri, K dan I.Kanna. 2004. Budidaya Vannamei. Gramedia Pustaka Utama.

Jakarta

Anderson, I. G. 1988. Disease Problems Faces by Marine Pawns Farms and Hatcheries. Malaysia.

Arif, T. 2004. Petunjuk Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Budidaya Udang. Departemen kelautan dan Perikanan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara.

Azwar, S. 1998. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 146 hal.

Balai Budidaya Air Payau Situbondo. 2009. Pembenihan Udang Vannamei. Balai Budidaya Air Payau. Situbondo.

Darmono. 1991. Budidaya Udang Windu. Kanisius. Yogyakarta. Direktorat Jenderal Perikana. Statistik Perikanan Indonesia. Departemen Pertanian. Jakarta.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002. Budidaya Udang Vannamei.

Direktorat Jendral Perikanan Budidaya www.Dkp.Go.id.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007. Budidaya Udang Vannamei.

Direktorat Jendral Perikanan Budidaya www.Dkp.Go.id.

Direktorat Bina Pembenihan.2005.Budidaya Perikanan. Departemen Perikanan dan Kelautan. Jakarta

Elovoora A.K, 2001. Shrimp Forming Manual. Practical Tecnology Intensive Commercial Shrimp Production. United States Of Amerika, 2001.

Erwinda, E.Y. 2008. Pembenihan Udang Putih (Penaeus vannamei) secara Intensif. Sripsi. Biologi. Institute teknologi Bandung. Bandung. 7 hal.

Hadie, W. dan EL. Hadie. 1992. Pembenihan Udang Galah. Kanisius. Jakarta.

Haliman dan Adijaya. 2005. Pembudidayaan dan Prospek Pasar Udang Putih yang Tahan Penyakit.Udang Vannamei. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hambali, E., A. Suryani dan Wadli. 2002. Membuat aneka olahan rumput laut.

Penebar swadaya. Jakarta. 87hal.

Juliar, H. 2011. Teknik Pemeliharaan Larva Udang Vannnamei (Litopenaeus vannamei). http://viendy10blogspot.com. Diakses pada 2 April 2011 Jusadi, D. 2003. Budidaya Pakan Alami. Departemen Pendidikan Nasional.

Jakarta

Kiki. 2011. Pembenihan udang vannamei. http://riskyhandayani.wordpress.com.

Diakses pada 1 Mei 2011.

Manijo. 2010. Pembenihan udang Vannamei. Dalam : pembenihan Udang Vannamei. Balai Budidaya Air Payau Situbondo

Manik, R. dan IS. Djunaidah. 1983. Biologi Udang Penaeid. Dalam Pedoman Pembenihan Udang Penaeid. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Marindo. 2008. Kriteria Kualitas Benur. Fakultas Perikanan Institute Pertanian Bogor.

Martosudarmo dan Ranumiharjo. 1983. Biologi Udang Penaeid. Dalam : Pedoman Pembenihan Udang Penaeid. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Mudjiman dan Suyanto. 1987. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya.

Jakarta. 87 hal.

Masntantra, K. dan N. Suriandayani. 2004. Pemeliharaan Larva Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) dengan Penambahan Prebiotik Aeromonas sp.

BY9. Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Bali. Bali Murtidjo, 2003. Benih Udang Windu Skala Kecil. Kanisius. Yogjakarta. 75 hal.

Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. 622 hal.

Nurdjanah, LM., Anindiastuti dan B. Saleh. 1983. Produksi Induk Matang telur Udang Penaeid. Dalam : Pedoman Pembenihan Udang Penaeid. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Nurjanah, LM. dan S. Adisukresno. 1983.Sarana Pembenihan Udang Vannamei . Dalam : Pedoman Pembenihan Udang Penaeid. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Pudadera, Borlogan, and Unggui. 1985. Training Manual Shrimp Hatchery Design, Operation and Management. Network of Aquaculture Centres in Asia. Bangkok

Saravanan, S., B.S. Kamalan and J. S. S. Kumar. 2008. Moulting and Behaviour Changes in Freshwater Prawn. www.thefishsite.com/.../moulting-and- behaviour-changes-in-freshwater-prawn. 12 Juni 2010.

Sholeh, M. 2006. Biologi Udang Vannamei. BBPBAP Jepara. Produksi Induk Matang Telur Udang Penaid. Dalam : Pedoman Pembenihan Udang Penaeid. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.

SNI 01-7252-2006. Benih Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). Badan Satandardisasi Nasional.

SNI 7311-2009. Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar. Badan Standardisasi Nasional.

Subaidah, S.,S. Pramudjo, dan Manijo. 2009. Pembenihan Udang Vaname.

Situbondo.Seleksi Standardisasi dan Informasi Balai Budidaya Air Payau Subyakto, S. 2006. Sarana Pembenihan. Balai Budidaya Air Payau Situbondo.

Situbondo.

Subyakto, dan S. Cahyaningsih. 2005. Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga Kiat Mengatasi Masalah Praktis. PT.Agromedia Pustaka. Jakarta.

Sugama, K, 1993. Panduan Pembenihan Udang Windu (Penaeus monodon).Proyek Penelitian Pembenihan Udang (ATA-379).

Supito. 2011. Budidaya Udang Pada Salinitas Rendah. BBPBAP Jepara. Jepara Suryabrata, S. 1993. Metodologi Penelitian. Rajawali. Jakarta. 115 hal.

Sutaman. 1993. Petunjuk Praktis Pembenihan Udang Windu Skala Rumah Tangga. Kanisius. Yogjakarta

Tricahyo, E. 1995. Biologi Kultur Udang Windu (Penaeus monodon). Jakarta CV. Akademika Pressindo.

Utama, S., Peni dan I. Retno. 2011. Peta Bisnis benur. www.agrina-online.com.

Diakses pada 17 Juli 2011.

Wardiningsih. 1999. Teknik Pembenihan Udang .Universitas Terbuka. Jakarta.

Wijayati, A. 2004. Biologi Udang Sebagai Penunjang Keberhasilan Budidaya Di Tambak. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara. 15 hal.

Wyban dan Sweeney, 1991. Relation Total Length and Body Weight of White Shrimp(Indonesian).http://www.scribd.com/doc.14856544/RelationTotaLe ngthAndBodyWeightOfWhiteShrimp. 23 Desember 2010. 2 Hal.

Yano, I., R.A. Kanna, R.N. Oyama, and J.A. Wyban. 1988. Mating Behavior in the Penaeid Shrimp Penaeus vannamei. Marine Biology. 97:171-175

Lampiran 1. Peta Lokasi SLPP APS Lamongan

Lampiran 2. Denah Bangunan Sarana dan Prasarana di SLPP APS

Lampiran 3. Cara kultur dan pemberian pakan Sceletonema

a. b. c.

d. e. f.

g. h

kererangan gambar:

a. Pengisian air pada bak kultur. Air yang diguanakan dari tandon 2 dan air bor

b. Pemberian pupuk NPK c. Pemberian vitamin B 12 d. Penebaran bibit Sceletonema

e. Sceletonema yang siap digunakan untuk pakan f. Panen Sceletonema

g. Sceletonema diencerkan dengan air bor.

h. Pemberian Sceletonema pada bak pemeliharaan larva

Lampiran 4. Cara kultur artemia

a. b. c.

d. e Keterangan gambar :

a. Artemia cyste

b. Penimbangan Artemia cyste c. Pemberian artemia cyste d. Kultur artemia dengan hidrasi e. Panen artemia

Lampiran 5. Kandungan nutrisi pakan buatan a. Kandungan gizi dari GAP

Protein kasar 43% Serat kasar 3 %

Lemak kasar 25% HCl 2%

Abu 15%

Moisture 10%

b. Komposisi UD 0 dan UD 1

Protein 57% EPA 11,2mg/l

Lemak kasar 19% DHA 12,7mg/l

Ash 5%

Moisture 7%

Ukuran: UD 0 20-80 µm, UD 1 60-100 µm c. Kandungan gizi dari seaster flake

Protein 45%

Lemak kasar 5 %

Ash / abu 15 %

Serat kasar 3%

Moisture 9%

d. Kandungan gizi vitamin eikoso

β karoten 1 gr. Nicotinic Acid 10 gr.

Calciferol 0,5 gr. Ascorbic Acid 10 gr.

Vitamin E 2,5 gr. Folic 0,3 gr.

Vitamin K 0,1 gr. Biotin 5 gr.

Thiamin HCL 1,5 gr. Cal. Pantotenate 4 gr.

Riboflavin 3 gr. Inositol 10 gr.

Phyridoxin HCL 0,6 gr. PABA 5 gr.

B 12 2 gr.

Dosis 0,5- 1% dari pakan yang diberikan.

Lampiran 6. Cara pemberian pakan buatan

Keterangan gambar:

a. Saringan pakan dengan mess size 250 µm b. Gelas pakan

c. Seaster flake

d. Hijau GAP, coklat UD1 e. Penimbangan

f. Pelarutan pakan a

d e.

.

c.

b .

f.

Lampiran 7. Dosis pemberian pakan pada larva

Stadia Pakan alami Pakan buatan Vitamin

Eikoso Sceletonema Artemia GAP UD 0 UD 1 Flake

Nauplius - - - -

Zoea I 150- 200 liter - 5 gr - - - 4 gr

Zoea II 200- 250 liter - 5 gr - - - 4 gr

Zoea III 250- 300 liter - 5 gr - - - 4 gr

Mysis I 300- 350 liter - 5 gr - - - 4 gr

Mysis II 300- 350 liter - 5 gr 3 gr - 2 gr 4 gr Mysis III 300- 350 liter - 3 gr 3 gr 3 gr 3 gr 4 gr

PL 1 - 3 artemia/

larva

- 2 gr 5 gr 10 gr -

PL 2 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

PL 3 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

PL 4 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

PL 5 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

PL 6 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

PL 7 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

PL 8 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

PL 9 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

PL 10 - 3 artemia/

larva

- - 5 gr 10 gr -

Keterangan : Dalam 1 ml Sceletonema terdapat 500.000 sel

a. Sceletonema yang diberikan pada fase zoea I yaitu 75.000.000.000 - 100.000.000.000 sel.

b. Sceletonema yang diberikan pada fase zoea II yaitu 100.000.000.000- 125.000.000.000 sel.

c. Sceletonema yang diberikan pada fase zoea III yaitu 125.000.000.000- 150.000.000 sel.

d. Sceletonema yang diberikan pada fase mysis I, II, III yaitu 150.000.000.000- 175.000.000 sel

No. Tanggal

Jam

08.00 11.00 14.00 17.00 20.00 23.00 02.00 05.00

1. 14-02-11 (Zoea I)

GAP Eikoso

Sceletonema GAP Sceletonema GAP Sceletonema GAP GAP 2. 15-02-11

(Zoea II)

GAP Eikoso

Sceletonema GAP Seletonema GAP Eikoso

Sceletonema GAP GAP 3. 16-02-11

(Zoea II)

GAP Eikoso

Sceletonema GAP Seletonema GAP Eikoso

Sceletonema GAP GAP 4. 17-02-11

(Zoea III)

GAP Eikoso

Sceletonema GAP Seletonema GAP Eikoso

Sceletonema GAP GAP 5. 18-02-11

(Mysis I)

GAP Eikoso

Sceletonema GAP GAP GAP

Eikoso

Sceletonema GAP GAP 6. 19-02-11

(Mysis II)

GAP UD.0 Eikoso

Sceletonema GAP UD.0 Flake

GAP UD.0 Flake

GAP UD.0

GAP UD.0

GAP UD.0

GAP UD.0

7. 20-02-11 (Mysis III)

UD.0 Eikoso

Sceletonema UD.0 Flake

UD.0 Flake Eikoso

UD.0 UD.0 UD.0 UD.0

8. 21-02-11 (PL1)

UD.0 Eikoso

Sceletonema UD.0 Flake

UD.0 Flake Eikoso

UD.0 UD.0 UD.0 UD.0

9. 22-02-11 (PL I)

UD.0 UD.1 Eikoso

Sceletonema UD.0 UD.1

Flake UD.0

UD.1

Flake Flake Flake

10. 23-02-11

(PL I) Artemia Sceletonema UD.1 Flake UD.1 Flake Flake Flake

Lampiran 8. Jadwal pemberian pakanLampiran 8. Jadwal pemberian pakan(lanjutan)

12. 25-02-11 (PL II)

Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 13. 26-02-11

(PL III)

Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 14. 27-02-11 Artemia

UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 15. 28-02-11 Artemia

UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 16. 01-03-11 Artemia

UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 17. 02-03-11 Artemia

UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 18. 03- 03- 11 Artemia

UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 19. 04- 03- 11 Artemia

UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 20. 05- 03- 11 Artemia

UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake 21. 06- 03- 11 Artemia

UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Artemia UD.1

Flake Flake Flake

Lampiran 9. Data Pengamatan Pertumbuhan larva Udang

Tanggal Umur

(hari)

Panjang (mm)

Stadia

13 Feb 2011 0 0,2 Naupli

14 Feb 2011 1 0,3 Zoea 1

15 Feb 2011 2 0,5 Zoea 2

16 Feb 2011 3 0,8 Zoea 2

17 Feb 2011 4 1,2 Mysis 1

18 Feb 2011 5 1,5 Mysis 2

19 Feb 2011 6 2 Mysis 2

20 Feb 2011 7 2,5 Mysis 3

21 Feb 2011 8 2,7 Mysis 3

22 Feb 2011 9 3,2 PL 1

23 Feb 2011 10 3,8 PL 1

24 Feb 2011 11 3,8 PL 1

25 Feb 2011 12 4 PL 1

26 Feb 2011 13 4,2 PL 2

27 Feb 2011 14 4,5 PL 3

28 Feb 2011 15 5 PL 3

1 Maret 2011 16 5 PL 4

2 Maret 2011 17 5,3 PL 5

3 Maret 2011 18 5,6 PL 6

4 Maret 2011 19 6 PL 7

5 Maret 2011 20 6,3 PL 8

6 Maret 2011 21 6,5 PL 10

Lampiran 10. Data Hasil Pengukuran Harian Kualitas Air pada SLPP APS Tanggal Stadia Suhu

0 C

pH Salinitas

0/ 00

DO ppm

13 Feb 2011 Naupli 29 8,28 32 3,45

14 Feb 2011 Zoea 1 30 15 Feb 2011 Zoea 2 31 16 Feb 2011 Zoea 2 29

17 Feb 2011 Mysis 1 30 8,1 31 3,31

18 Feb 2011 Mysis 2 27 19 Feb 2011 Mysis 2 32 20 Feb 2011 Mysis 3 35

21 Feb 2011 Mysis 3 33 8,35 31 3,13

22 Feb 2011 PL 1 30

23 Feb 2011 PL 1 30

24 Feb 2011 PL 1 31

25 Feb 2011 PL 1 30 8,5 30 3,2

26 Feb 2011 PL 2 31

27 Feb 2011 PL 3 32

28 Feb 2011 PL 3 30

1 Maret 2011 PL 4 32

2 Maret 2011 PL 5 32 8,4 32 3,1

3 Maret 2011 PL 6 33

4 Maret 2011 PL 7 30

5 Maret 2011 PL 8 32

6 Maret 2011 PL 10 30

Lampiran 11. Data jumlah larva harian di SLPP APS

Tanggal Umur

(hari)

Stadia Jumlah larva (ekor)

13 Feb 2011 0 Naupli 15.000.000

14 Feb 2011 1 Zoea 1 14.795.000

15 Feb 2011 2 Zoea 2 14.364.000

16 Feb 2011 3 Zoea 2 14.130.000

17 Feb 2011 4 Mysis 1 13.770.000

18 Feb 2011 5 Mysis 2 13.194.000

19 Feb 2011 6 Mysis 2 12.795.000

20 Feb 2011 7 Mysis 3 13.330.000

21 Feb 2011 8 Mysis 3 11.880.000

22 Feb 2011 9 PL 1 11.520.000

23 Feb 2011 10 PL 1 10.440.000

24 Feb 2011 11 PL 1 8.496.000

25 Feb 2011 12 PL 1 7.222.100

26 Feb 2011 13 PL 2 6.308.000

27 Feb 2011 14 PL 3 5.850.000

28 Feb 2011 15 PL 3 5.590.000

1 Maret 2011 16 PL 4 4.979.000

2 Maret 2011 17 PL 5 4.777.000

3 Maret 2011 18 PL 6 4.536.000

4 Maret 2011 19 PL 7 4.480.500

5 Maret 2011 20 PL 8 4.176.000

6 Maret 2011 21 PL 10 3.950.000

Lampiran 12. Proses Panen

a. b. c.

d. e. f.

g. h. i

j. k .l

Lampiran 12. Proses Panen (lanjutan)

m.

Keterangan gambar :

a. Kantong plastik untuk packing benih.

b. Karung

c. Pengurangan volume air . Air disedot menggunakan pipa dilengkapi dengan filter, akan masuk di bak penen.

d. Penyaringan benih dari bak pemeliharaan larva ke bak panen e. Pengambilan benih menggunkan seser halus

f. Benih ditaruh pada bak fiber, dilaakukan pengurangan volume air dengan selang yang dilengkapi filter.

g. Penghitungan benih.

h. Pemasukan benih pada kantong plastik i. Benih diberi oksigen dan diikat dengan karet j. Benih yang sudah siap di pasarkan

k. Kantong plastik dimasukkan gangsing untuk mempermudah pengankutan l. Pengankutan penggunakanpick up

m. Pick up ditutup dengan terpal selama transpotasi

Lampiran 13. Analisis Usaha Pembenihan Udang Vannamei di SLPP APS

Modal Investasi I. Biaya Investasi

Uraian Satuan Jumlah Unit Harga (Rp) Jumlah (Rp)

Bangunan 30.000.000

Blower Buah 1 2.000.000 2.000.000

Genset Set 1 4000.000 4.000.000

Pipa PVC Set 1 100.000 100.000

Pompa air laut Buah 2 5.000.000 10.000.000

Pompa air tawar Buah 1 1000.000 1.000.000

Batu aerasi Pak 2 150.000 300.000

Selang aerasi Rol 2 150.000 300.000

Terpal plastik Meter 60 10.000 600.000

Pemberat aerasi Kg 10 50.000 500.000

Gayung, serok, ember

200.000

Biaya Investasi 49.000.000

II. Biaya Tetap

Uraian Satuan Jumlah unit Harga (Rp) Jumlah (Rp) II. Biaya Tetap

Penyusutan peralatan

Tahun 1 500.000 500.000

Listrik Bulan 12 200.000 2.400.000

Gaji pegawai (2 orang )

Bulan 12 2.000.000 24.000.000

Jumlah Biaya Tetap 1 tahun 26.900.000

Dalam 1 tahun 4 kali siklus, Jumlah biaya 1 siklus 6.725.000

Lampiran 13. Analisis Usaha Pembenihan Udang Vannamei di SLPP APS (Lanjutan)

III. Biaya Variabel

Uraian Satuan Jumlah unit Harga per unit Jumlah Naupli 1 juta ekor 15.000.000 450.000 6.750.000 Pakan alami:

- Artemia Pakan buatan:

- GAP - UD 0 - UD 1 - Flake

kaleng kg

½ kg kg 5 kg

2 1 2 1 1

350.000 245.000 190.000 390.000 450.000

700.000 245.000 380.000 390.000 450.000

Kaporit kg 3 15.000 45.000

Treflan ml 100 500 50.000

Eikoso ½ kg 1 100.000 100.000

EDTA gr 30 60.000 180.000

Eritromysin ons 1 150.000 150.000

Raffia rol 1 15.000 15.000

Plastic rol 3 75.000 225.000

Oksigen tabung 2 100.000 200.000

Biaya panen 300.000

Transportasi 100.000

Karung panen 20.000

Karet kg 1 15.000 15.000

Total variable 10.315.000

Biaya Produksi Jumlah (Rp.)

- Biaya tetap 6.725.000

- Biaya variable 10.315.000

Total biaya total produksi 17.040.000

Hasil penjualan

SR 26,33 % dan harga jual Rp. 9 per ekor

Jumlah benih yang dipanen 26,33 % x 15.000.000 ekor = 3.949.500 ekor Hasil penjualan Rp. 9 x 3.949.500 ekor = Rp. 35.545.500

Lampiran 13. Analisis Usaha Pembenihan Udang Vannamei di SLPP APS (Lanjutan)

Keuntungan bersih dalam 1 kali siklus hasil penjualan – biaya total produksi = Rp. 35.545.500- Rp. 17.040.000

= Rp. 18.505.500

B/C Ratio = Penerimaan

Biaya produksi

= Rp. 35.545.500- Rp. 17.040.000 = 2,09

Hasil perhitungan B/C Ratio menunjukkan nilai 2,09 yang berarti setiap

penggunaan biaya produksi sebesar Rp 1 akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 2,09

BEP (Break Even Point)

BEP (Harga) = Biaya produksi

Total produksi

= Rp. 17.040.000 3.949.500

= Rp. 4, 3

Titik impas pada usaha pembenihan udang vannamei akan tercapai bila harga jual udang vannamei per ekor yaitu Rp 4,3

BEP (Produksi) = Biaya produksi

Harga jual per ekor

= Rp 17.040.000

Rp 9

= 1.893.333,3 ekor

Dalam dokumen Pembenihan Udang Vannamei Skala Rumah Tangga (Halaman 94-118)

Dokumen terkait