• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebagai sebuah rumah peribadatan, Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia Pondok Labu memiliki beberapa aktivitas internal maupun eksternal, di antaranya:

1. Aktivitas Ibadat

Sebagaimana rumah ibadah pada umumnya, Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia memiliki fungsi spiritual yakni sebagai sarana peribadatan umat Buddha di wilayah administrasi Jakarta Selatan. Vihara ini menggelar ritual ibadah “Puja” pada dua waktu, yakni pagi dan sore. Ibadah umat Buddha disebut sebagai Puja (Bahasa Pali) yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai bakti atau penghormatan. Puja dalam Buddhisme, ada dua jenis objek pemujaan, yakni Pujaniya Punggala dan Pujaniya Vatthu.13

Pujaniya Punggala merupakan objek Puja yang bermakna pemujaan atau penghormatan terhadap orang, seperti terhadap Buddha, Dhamma, Sangha, guru, orang tua, raja atau pemimpin, dan tamu. Sedangkan Pujaniya Vatthu dimaknai sebagai pemujaan atau penghormatan terhadap benda yang bermakna. Misalnya seperti Dhatucetiya atau benda berupa stupa untuk menyimpan peninggalan tubuh jasmani, Paribhogacetiya atau bangunan yang berupa candi yang di banagun di empat tempat suci, Dhammacetiya yakni tempat di mana kitab suci Tipitaka disimpan, dan Uddesikacetiya yakni

13 Bhikkhu Hemadhammo, “Amisa Puja Kepada Tiratna,” diakses dari https://www.dhammacakka.org/?channel=ceramah&mode=detailbd&id=354 pada 13 April 2023.

31

penghormatan terhadap benda-benda yang melambangkan karakteristik buddhis seperti rupang buddha, gambar Buddha, maupun arahat lainnya.14 2. Pelayanan Umat

Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia juga difungsikan untuk sarana pelayanan umat, seperti ketika umat awam Buddha mengalami krisis spiritual, maka mereka berbondong-bondong menghadap Bhikkhu di Vihara untuk mendapatkan siraman rohani. Mayoritas umat yang datang ke Vihara meminta wejangan dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan dimensi spiritual, tak jarang juga tentang jodoh. Akan tetapi, Vihara ini lebih banyak digunakan untuk keperluan kegiatan bersifat internal dan eksternal, misalnya Puja Bhakti dan berbagai kegiatan lintas agama.

3. Hari-Hari Besar

Agama Buddha memiliki 4 hari raya keagamaan yakni Waisak, Asadha, Kathina, dan Magha Puja. Namun di Indonesia, hari raya yang dijadikan hari libur keagamaan nasional hanyalah hari raya Waisak, sebagai peringatan kelahiran Sang Buddha, pencapaian Nibbhana, dan Parinibbhana. Pada setiap tahunnya, Vihara Wisma Sangha Theravada hanya ikut menyelenggarakan kegiatan peringatan Waisak saja dengan mengikuti perayaan nasional di Jakarta.15 Sedangkan perayaan keagamaan Buddha yang lain karena umat Buddha di Jakarta Selatan sangat sedikit, mereka mengikuti perayaan di

14 Kemenag Klungkung, “Pemberkahan Pohon Bodhi Vihara Dharma Ratna,” diakses dari https://bali.kemenag.go.id/klungkung/berita/21325/pemberkahan-pohon-bodhi-vihara- dharma-ratna pada 13 April 2023.

15 Wawancara dengan Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, Jakarta 20 Desember 2022.

Vihara-Vihara lain yang lebih besar, misalnya di Vihara Theravada Dhammacakka Sunter.

4. Kegiatan Sosial

Pada saat pandemi Covid-19, pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan vaksinasi secara serentak di berbagai daerah, Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia menjadi salah satu rumah ibadah yang dijadikan lokasi vaksinasi. Selain itu, Vihara juga pernah mengadakan kegiatan bakti sosial kepada masyarakat dengan pembagian sembako, juga membagikan bingkisan pada saat hari raya Idulfitri kepada masyarakat Muslim di sekitar Vihara16.

5. Hubungan Antar Agama

Vihara Sangha Theravada Indonesia memiliki kegiatan yang berhubungan dengan umat agama lain. Sejak awal Vihara ini diresmikan di Jakarta Selatan, Bhikkhu Dhammasubho saban tahunnya menggelar kegiatan buka bersama lintas agama dan masyarakat sekitar. Pada momentum hari raya Idulfitri, Vihara menyediakan bingkisan lebaran untuk masyarakat Muslim17. 6. Kegiatan Konservasi, Upaya dan Sikap Nyata yang Dilakukan

Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia Pondok Labu memiliki salah satu kegiatan menarik yakni konservasi alam dengan penanaman pohon bodhi di beberapa titik di DKI Jakarta. Saat melakukan kunjungan ke beberapa daerah, Bhikkhu Dhammasubho juga membawakan cangkokan pohon Bodhi

16 Wawancara dengan Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, Jakarta 20 Desember 2022.

17 Wawancara dengan Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, Jakarta 20 Desember 2022.

33

untuk ditanam di daerah tersebut dengan harapan dapat membantu dalam penghijauan dan pemulihan lingkungan hidup di daerah tersebut.18

Pohon Bodhi merupakan pohon tempat Sang Buddha mencapai pencerahan sempurna (Nirvana). Pohon Boddhi diyakini sebagai pohon suci oleh penganut agama Hindu, Buddha, dan Jainisme di India.19 Pohon ini dapat hidup hingga 800-900 tahun. Bahkan pohon Bodhi atau Magabodhi di Bodigaya India tempat Sang Buddha mencapai Nirvana, saat ini menjadi salah satu pohon tertua di dunia.

Menurut Bhikkhu Cittagutto yang merupakan anggota pengurus Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia Pondok Labu, pohon Bodhi memiliki satu keunikan yang khas, yakni mampu menghasilkan oksigen selama 24 jam.20 Berbeda dengan jenis-jenis pohon lain yang hanya mampu menghasilkan oksigen selama 12 jam saja. Sehingga dahulu pohon ini digunakan oleh Siddharta Gautama untuk bermeditasi sebelum kemudian mencapai pencerahan sempurna (Nirvana). Selain pohon Bodhi, Sang Buddha dan para Bodhisatva terdahulu banyak melakukan meditasi di bawah pohon mangga, akan tetapi setelah Sang Buddha mencapai Nirvana di bawah pohon Bodhi, maka pohon tersebutlah yang disakralkan oleh Buddha.21

Vihara juga melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya upaya konservasi alam, misalnya dengan keterlibatan Bhikkhu Dhammasubho,

18 Wawancara dengan Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, Jakarta 20 Desember 2022.

19 Balai Konservasi Borobudur, “Pohon Bodhi,” diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/pohon-bodhi/ pada 12 Januari 2023.

20 Wawancara dengan Bhikkhu Cittagutto Mahathera, Jakarta 18 Januari 2023.

21 Wawancara dengan Bhikkhu Cittagutto Mahathera, Jakarta 18 Januari 2023.

Mahathera dalam berbagai ajang diskusi lintas agama yang membahas tentang konservasi alam perspektif agama Buddha. Misalnya dalam pertemuan perwakilan majelis tinggi keagamaan yang diselenggarakan oleh MUI di Depok, 11 Desember 2022 lalu. Dalam kegiatan tersebut, Bhikkhu Dhammasubho menyampaikan terkait pentingnya majelis-majelis agama di Indonesia dalam menyuarakan dan mengupayakan kelestarian alam.

Menurut Bhikkhu Dhammasubho, masing-masing agama memiliki nilai- nilai luhur yang pada prinsipnya menghendaki adanya keadilan bagi alam. Hal tersebut pula lah yang diajarkan oleh Sang Buddha terhadap para muridnya, yakni tentang pentingnya merawat alam melalui konsep Metta, sebagaimana tertuang dalam salam Buddhisme, “Semoga seluruh makhluk hidup berbahagia.”

Makhluk hidup yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya manusia saja, melainkan seluruh makhluk, baik biotik maupun abiotik, baik yang kasatmata maupun yang tidak kasatmata.22

22 Ceramah Bhikkhu Dhammasubho, Depok 11 Desember 2022.

35

Dokumen terkait