118
Rumah ini keadaannya angker, atapnya sudah rusak, tinggal di dinding- dinding yang masih berdiri tegak. Dari sanalah kemudian saya ditanya apa Bhante mau pakai tempat ini? Ya, saya mau tempat ini. Saya pikir menarik meskipun rumahnya angker, saya mau, dan akhirnya dari sanalah rumahnya direnovasi sampai menjadi layak huni. Kemudian oleh pemiliknya tempat ini diberikan kepada saya untuk kepentingan keagamaan Buddha. Sejak saat itu saya saya mulai bermalam di sini, 16 Mei 200. Lalu di tahun 2002 itu juga ini saya hibahkan kepada Yayasan Sangha Theravada Indonesia dan menjadi aset Yayasan Sangha Theravada Indonesia sampai sekarang.
Vihara ini memiliki luas lahan 1650 meter persegi dengan corak ke- Indonesia-an, karena style-nya ini merupakan hasil kolaborasi dari berbagai corak seni. Ada seni Jawa, Bali, Eropa, dan China. Vihara ini juga memiliki koleksi yang bercorak lokal dari Indonesia, misalnya meja dari kayu ukir tangan barang-barang antik handmade yang umurnya udah ratusan tahun.
Di Vihara ini bangunannya sangat mini kaca. Mengapa begitu? Karena kekayaan Indonesia itu batiknya dikumpulkan dari seluruh Indonesia, ada yang dari Aceh, Batak, Palembang, Banyuwangi, Banten, Bogor, Sumatera ada, Sulawesi, Bali, Makassar, Papua, dan NTT. Vihara ini memiliki disini 3 kamar, masing-masing kamar terdiri dari 2 dipan, jadi ada 6 dipan. Ada satu ruang tamu, ruang dapur, ruang depan, ruang perpustakaan, ruang pertemuan, aula, ada kamar tamu. Vihara ini juga pernah direnovasi, yang pertama pada 2002 sampai 2015 karena sering dimakan rayap, atapnya menganga, dapur juga sudah patah.
Kemudian pada 2019 ada renovasi lagi penambahan 1 lantai lagi untuk aula.
120
2. Berapa jumlah umat Buddha di Vihara ini?
Ya, umatnya yang tertua saya sendiri, jadi saya pertama kesini berdua dengan sopir itulah penghuni pertama dan orang pertama. Kalau sekarang ada berapa yang menghuni Vihara ini, yang murni sekarang ada saya, Bhante nya 3, tapi nggak selalu ada ditempat karena para Bhante itu kan berkelana sebetulnya.
Bhantte yang satu ada di Medan, satu di Kalimantan, satunya lagi saya.
3. Bagaimana struktur kepengurusan Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia?
Vihara ini berada di bawah binaan Yayasan Sangha Theravada Indonesia.
4. Apa saja aktivitas Vihara?
Ada beberapa aktivitas yang dilakukan oleh Vihara selain aktivitas ibadah, jadi sejak awal Vihara ini sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan lintas agama. Dulu waktu masih ada Gus Dur beliau sering ke sini. Sehingga disini banyak yang menyebutnya sebagai Rumah Pancasila. Namun untuk ibadah sifatnya internal saja, jadi ada ibadah namun dilaksanakan masing-masing. Jika ada umat yang datang, ya, ibadahnya sesuai kebutuhan mereka.
5. Pada waktu apa saja aktivitas ibadah dilaksanakan?
Biasanya kita melaksanakan aktivitas ibadah chanting atau pembacaan Paritta Suci pada malam hari sekitar pukul 8, kemudian pada pagi harinta kita juga melakukan Puja yang pada intinya berlaku hormat. Hormat kepada siapa?
hormat kepada bumi dan langit, hormat kepada ayah dan ibu, hormat kepada guru, hormat kepada para raja, hormat kepada para leluhur, hormat kepada para
dewa, penjaga alam semesta, itu prinsipnya. Jadi ada lima objek yang disebut sebagai objek pemujaan, apa lima itu? Pertama orang tua, kedua adalah para tamu, yang ketiga adalah raja, yang keempat para leluhur, sedangkan yang kelima adalah para dewa. Itulah yang dilakukan pagi dan sore sebagai objek pemujaan, makanya orang mengira agama Buddha ini kalau sembahyang menyembah patung. Memang ada patungnya, tapi ini kan objek atau simbol karena dulu pendiri agama Buddha itu Sang Buddha dan kemudian Sang Buddha itu divisualisasikan menjadi sebuah patung atau arca.
6. Bagaimana dengan aktivitas pelayanan Vihara terhadap umat Buddha, misalnya konsultasi mengenai jodoh?
Ya karena Bhante itu sahabat rohani, Bhante itu posisinya sebagai sahabat rohani. Jadi intinya kebutuhan rohani itu bagi mereka perlu dikomunikasikan kepada Bhante. Biasanya hal yang berhubungan dengan rohani dengan mentality, dengan mentalitas, dengan kualitas hidup. Orang-orang yang datang ke sini tidak melulu umat Buddha, orang Kristen ada, muslim banyak, pedagang ada, pengusaha ada. Jadi ada istilah, "Yo ono Jenderal, yo ono brandal, ono dukun, budayawan, seniman, agamawan, negarawan, ia jutawan."
7. Adakah aktivitas Vihara pada saat momentum hari besar keagamaan Buddha?
Tidak seperti di tempat lain yang selalu diadakan Kathina, di sini tidak dilaksanakan. Karena saya diminta mengunjungi vihara-vihara di mana-mana, sehingga malah sendiri saya tidak buat. Pada saat Waisak biasanya disini dijadikan tempat anjangsana lintas budaya, lintas agama, lintas tokoh. Jadi
122
berapa kali setiap waisak itu ya waisak bersama, judulnya si waisak tapi dilakukan sama-sama, Bahkan beberapa tahun yang lalu dibuat namanya itu yaitu Puja manta, yakni pembacaan Paritta Suci selama 24 jam. Kemudian pada saat penutupan, dihadiri tokoh lintas agama, lintas budaya, dan melaksanakan doa lintas agama.
8. Untuk kegiatan sosial, apa saja yang dilakukan Vihara?
Yang selalu saya lakukan sejak tahun pertama sampai sekarang adalah memberikan bingkisan lebaran, kemudian pada waktu Covid-19 kemarin kami menyelenggarakan kegiatan Vaksinasi dosis 1, dosis 2, hingga booster.
9. Bhannte, mengapa Vihara ini sering mengadakan buka puasa lintas agama, dari mana inisiatif itu terbentuk?
Karena saya juga sering diundang untuk acara buka bersama lintas agama, jadi inisiatif itu muncul dari situ. Di agama Buddha juga ada dua pilihan soal makan, satu namanya vegetarian, satu lagi namanya atasila.
Vegetarian dengan atasila yang membedakan kalau vegetarian itu dibatasi jenis makanannya, hanya makan sayur tanpa daging. Kalau atasila ini dibatasi waktu jam makannya, ordo saya memilih yang atasila artinya dalam 24 jam itu waktu makannya hanya 6 jam dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang waktu setempat, selebihnya Itu 18 jam kita tidak lagi makan. Jadi kita hanya minum minum saja. Tradisi buka puasa lintas agama sudah lama dijalankan oleh vihara ini, yakni sejak pertama didirikan Vihara ini. Biasanya yang hadir dari berbagai kalangan, baik masyarakat setempat, pejabat, ataupun aparat.
Jumlahnya bisa sampai 300 orang yang hadir.
10. Bagaimana kegiatan konservasi yang dilakukan oleh Vihara Wisma sangha Theravada ini, Bhante?
Kalau konservasi atau masalah lingkungan, setiap waisak kita punya program penghijauan atau menanam pohon. Pohon yang kami tanam adalah pohon Bodhi, di Indonesia khususnya di Jawa kan sebetulnya masih ada bibit itu. Misalnya di Jombang dan Mojokerto karena di sana daulu menjadi pusat Kerajaan Hindu-Buddha maka di pinggir-pinggir jalan itu ada tapi orang tidak mengenal kalau itu sebenarnya pohon bodhi. Selain pohon bodhi kita juga menanam beberapa jenis pohon lainnya. Kalau di agama buddha terdapat 29 jenis pohon Buddha, ada bambu, ada salak, manga, dan masih banyak lagi.
Jadi sejak dahulu kala kalau untuk pelestarian alam, sebetulnya saat orang belum berfikir ke arah sana, Sang Buddha sudah menjalankan. Sang Buddha ini kan tinggal di di alam terbuka selama 6 tahun pertapaannya. Sang Buddha dahulu duduk bermeditasi hingga mencapai penerangan sempurna itu di bawah pohon bodhi. Bodhi itu artinya "terang" jadi kalau pohon itu sendiri sebenarnya nama aslinya itu ara, kalau dalam nama latinnya itu serumpun dengan beringin, tapi kelebihannya daun bodi itu daunnya kayak kipas jadi daun tunggal lalu ada gagangnya. Sehingga ketika ditiup angin dia bergerak semua. Sehingga itulah yang membuat pohon bodhi bisa memproduksi oksigen selama 24 jam.
124
Nama : Bhikkhu Cittagutto, Mahathera
Alamat : Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Buddha
Jabatan : Bhikkhu
Tanggal Wawancara : 18 Januari 2023
1. Bagaimana ajaran agama Buddha tentang kelestarian alam dipraktikkan oleh Vihara? Jangan berbuat jahat merupakan perintah Sang Buddha terhadap para pengikutnya, ini tidak hanya terikat pada manusia saja melainkan juga terhadap lingkungan sekitar. Tidak boleh membunuh manusia, tidak boleh membunuh hewan, bahkan ada yang berlaku Vegetarian alias tidak makan daging sama sekali, kemudian tidak menyabut atau menebang pohon. Ini merupakan perintah luhur Sang Buddha terhadap umatnya agar tidak berlaku sewenang-wenang terhadap alam. Ini diatur dalam Tripitaka yang merupakan kitab suci agama Buddha dan dilaksanakan oleh umat Buddha di seluruh dunia apapun alirannya.
2. Dalam Agama Buddha terdapat pohon yang disakralkan yakni pohon Bodhi. Pohon ini memiliki keunggulan yakni tetap mengeluarkan oksigen selama 24 jam non-stop. Pohon Bodhi atau Ara ini bukanlah satu-satunya pohon yang digunakan oleh Buddha Gautama maupun Bodhisatva terdahulu dalam bermeditasi, melainkan ada pohon lain yang juga disakralkan. Salah satunya adalah pohon mangga.
Nama : Bhikkhu Dhammasubho, Mahathera
Alamat : Vihara Wisma Sangha Theravada Indonesia Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Buddha
Jabatan : Kepala Vihara Tanggal Wawancara : 1 April 2023
1. Apa saja ajaran Buddha dalam Kitab Suci Tipitaka yang berkaitan dengan konservasi alam?
Dalam buku Paritta selain Karaniya Metta Sutta itu ada namanya Ratana Sutta. Jadi Ratana Sutta pada bait pertama kalimat pertama Sang Buddha menyebutkan makhluk apapun yang berkumpul disini, baik yang datang dari air, dari darat, dari puncak gunung, dari atas pohon, maupun yang datang dari ruang angkasa apakah makhluk-makhluk yang berkaki dua, berkaki empat, berkaki banyak, yang tidak berkaki, yang lahir melalui kandungan, melalui telur, melalui lembah, maupun yang lahir spontan secara langsung. Itu disebutkan dalam syair awal pernyataan Sang Buddha. Kalimat ini erat hubungannya dengan makhluk hidup di seluruh alam semesta.
Selain Ratana Sutta dan karaniya Metta Sutta ada lagi namanya Dasamo Ahe Rajasuttavato yang isinya adalah Sang Buddha menyapa, mengenalkan, mengenali, mengenalkan, mengajarkan, menganjurkan untuk membangun hubungan, membangun relasi, membangun komunikasi dengan raja-raja penguasa 10 penjuru mata angin. Jadi kalau tadi itu makhluk-makhluk yang yang datang dari air, dari darat, dari puncak gedung, dari atas pohon, maupun yang datang dari ruang angkasa kemudian di Dasamo Ahe Rajasuttavato ini Sang
126
Buddha berbicara bahwa di masing-masing penjuru itu ada Rajanya, ada penguasanya. Makanya Dasamo Ahe Rajasuttavato, artinya Raja penguasa 10 penjuru mata air. Kemudian ada lagi juga namanya Etavata Tiadipati Dana. Nah itu jika Sang Buddha berbicara ketika berbagi berkah kepada semua makhluk yang ada, seperti manusia, dewa, hewan, makhluk halus, dan lain-lain.
2. Bagaimana pandangan teologis dan pandangan etis Vihara Sangha Theravada mengenai konservasi alam?
Di dalam itu Patthimoka diatur tentang bagaimana para bhikkhu harus berkontribusi dalam merawat lingkungan milik bersama. Ada empat hal yang mesti dilakukan, yakni:
Pertama, Bhikkhu tidak memotong pohon; ini jelas ajarannya.
Kedua, Bhikkhu tidak membakar sampah bukan pada tempatnya kecuali artinya di tempat yang memang sudah menjadi tempat pembakaran sampah.
Sehingga kalau misalnya harus melakukan bakar sampah, ya, sampah-sampah yang dibakar itu harus dibawa ke tempat pembakaran.
Ketiga, Bhikkhu tidak boleh mengotori air hidup, misalnya kencing, BAB, cuci tangan di air yang mengalir. Jadi kalau dalam perjalanan kemudian mau kencing atau BAB begitu ya kita mesti mencari toilet umum. Tidak serta merta begitu berhenti kemudian BAB atau kencing apalagi di air hidup yang aliran sungai itu di ujung sana digunakan untuk kepentingan publik yang lain.
Keempat, tidak boleh menggali tanah. Jadi para bhikkhu tidak membuat lubang, namun kalau memang itu perlu untuk membuat lubang maka Bhikkhuu harus mencari tempat yang sudah ada lubangnya dan memang tempat itu lubang,
bukan melubangi tempat yang belum pernah ada lubangnya. Maksudnya intinya tidak merusak alam semesta yang masih utuh, tetapi bisa menggunakan alam semesta yang ada sesuai dengan konteksnya. Maka ada istilahnya tekstual, kontekstual, dan situasional, tekstual memang teksnya kita tidak merusak, apa konteksnya kalaupun harus melakukan kita harus perhitungkan konteksnya bagaimana, yang intinya tidak merusak atau tidak membuat kerusakan baru pada alam itu.
Nah kemudian bagaimana Apakah itu bisa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat luas yang semula pesan itu disampaikan buat kepala para Bhikkhu, ternyata bisa dan di dunia ini sampai saat sekarang masih ada yang memberlakukan Undang-Undang dengan asas pesan Dhamma tersebut. Secara umum di negara-negara Buddhis punya Undang-Undang dilarang memotong pohon, yang kedua dilarang memotong hewan. Undang-Undang itu masih berlaku hingga saat ini, misalnya di negara Bhutan yang raja sampai rakyatnya beragama Buddha.
Dahulu Bhutan terlalu kecil, maka tidak kelihatan di peta dunia. Tapi sejak UNESCO memberikan Heritage kepada negara Bhutan yang isinya adalah negara yang penduduknya paling bahagia di dunia. UNESCO dan PBB memberikan perhatian pada Bhutan yang mempunyai Undang-Undang melarang memotong pohon dan melakukan pemotongan hewan. Kalau harus menggunakan kayu yang mengharuskan penebangan pohon makaharus jelas peruntukkannya, jenis pohon, cara pemotongan, dan harus mengganti dengan pohon yang baru.
128
3. Kemudian bagaimana pandangan kultural Vihara mengenai konservasi alam?
Di Pulau Jawa dahulu ada satu budaya namanya budaya Puja, yang mana masyarakat melakukan puja baik terhadap manusia maupun alam semesta.
Misalnya kalau anak muda lewat di depan orang tua, anak-anak muda harus mengucapkan permisi, nuwun sewu. Begitulah action-nya sebagai tata kehidupan sosial kemasyarakatan sesama manusia. Puja itu artinya berlaku hormat, menghargai. Maka puja-puji artinya nilai atau harga. Sekarang budaya Puja itu hilang, artinya tata etika kehidupan sosial kemasyarakat menjadi liar.
Lantas bagaimana konteksnya dengan alam semesta? setelah kita menghormati sesama manusia, kita juga akan menghormati sesama penghuni alam semesta. Misalnya sebagai negara agraris, setiap melakukan pertanian selalu diawali dengan budaya Puja namanya "bubak sawah" lalu mau nanam padi ada upacara namanya “wiwit tandur”, kemudian selesai menanam semuanya ada namanya upacara lagi namanya “tutup tandur”, begitu padinya mulai berbunga upacara lagi namanya “ngerujak padi”, kemudian padinya sudah tua mau dipanen ada upacara lagi namanya "metik manten", budaya itu semua dilakukan secara berurutan dan itu bisa dirinci dengan alasan ilmiah yang sangat masuk akal. Artinya, sebenarnya masyarakat kita sejak dulu sudah tahu gimana caranya melestarikan alam, menjaga sawah, menjaga dan melindungi kesuburan tanah.
4. Selanjutnya Bhante, bagaimana pengimplementasian konservasi alam di Vihara Wisma Sangha Theravada itu sendiri?
Ya caranya melalui praktik meditasi. Aslinya adalah samadi, yang terdiri dari dua suku kata, sama dan adi. Sama itu artinya semua yang ada, adi itu artinya Indah. Artinya bagaimana kita menciptakan semua yang ada ini menjadi indah, baik yang ada dalam diri kita sendiri maupun yang ada di dalam lingkungan semesta karena kita itu kan bagian dari alam semesta. Siapa yang membuat? Ya mereka yang membuat, mereka yang tinggal di alam semesta.
Kalau yang menghuni alam semesta tidak mengerti keindahan dan tidak mengindahkan semesta ya semestanya jadi rusak ya seperti sekarang sekarang.
Kalau manusia yang tinggal di dunia ini tidak menjaga dunia ya dunianya bisa rusak. Nah Karena itulah kalau bahasa Buddha dalam samadi ini doanya "Sabbhe satta bhavantu sukhitata" Semoga semua makhluk berbahagia, ya makhluk hidup, makhluk mati, dalam bahasa Jawanologi "memayu hayuning Bawono"
memperindah indahnya dunia. Samadi itu begitu, jadi nggak usah dianjurkan karena itu sudah menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Jadi melalui samadi itulah tindakan nyata atau bahkan bentuk-bentuk upaya memperindah indahnya dunia, dalam rangka berbahagia, membahagiakan diri sendiri, dan membahagiakan sesama. Karena meditasi itu kan intinya pengendalian diri. Nah kalau semua sudah pada punya pengendalian diri kan kita hidup lebih damai, hidup lebih aman dibanding dengan yang tidak memiliki pengendalian diri.
130
Meditasi tidak berdiri sendiri, ada juga sila dan dana. Vihara dibangun juga atas dasar ketiga itu dan menjadi sumber referensi, pusat pengkajian, pusat pelaksanaan, pusat pembelajaran tentang dana sila samadhi.
5. Sejauh ini apa yang dilakukan Vihara terkait implementasi konservasi alam?
Banyak ide yang dikeluarkan dari sangha, salah satunya adalah di Jakarta ini ada event namanya gema waisak, untuk memperingati Trisuci Waisak sebagai hari besar keagamaan Buddha. Kami melakukan perjalanan menyelusuri kota tua, lalu melakukan kegiatan spiritual Puja bakti di vihara masing-masing, kemudian juga menanam pohon.
Kami beberapa kali sudah melakukan penanaman pohon di Jakarta sebanyak 108 pohon. Itu sudah dilakukan bertahun-tahun, meskipun itu positif tapi untuk mendapatkan persetujuan dari pemerintah setempat sulitnya bukan main.
Padahal tahu bahwa ini konservasi. Padahal di sisi lain ada anjuran untuk menanam pohon, menjaga kelestarian lingkungan, tetapi sulit bukan dipermudah. Kami menanam pohon di beberapa tempat salah satunya di Waduk Pluit, di Kalijodo, Taman kota, hingga di Jalan Daan Mogot.
Nama : M. Islah
Alamat : Tegal Parang Utara No.14 Mampang Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Jabatan : Deputi Internal WALHI Tanggal Wawancara : 23 Mei 2023
1. Bagaimana tanggapan WALHI sebagai NGO yang bergerak di isu lingkungan hidup dalam merespons berbagai fenomena konflik agraria, deforestasi, penambangan ilegal, dan berbagai masalah lingkungan lainnya di Indonesia?
WALHI memegang prinsip bahwa kedaulatan ada pada rakyat. Ini menjadi standing point. Kemudian jika kita ditanya, bagaimana apabila ada konflik agraria? Berarti itu kedaulatan tidak sedang berada di tangan rakyat, sehingga terjadi konflik agraria. Yang dimaksud dengan konflik agraria itu kan konflik antara masyarakat atau rakyat dengan negara atau dengan korporasi. Ini untuk membedakan adanya konflik pertanahan antara masyarakat. Oleh karena itu yang menjadi salah satu solusi untuk konflik agraria adalah bagaimana menyelesaikan konflik-konflik ini dari akarnya.
Adanya kebijakan negara yang membuat tanah-tanah masyarakat itu dirampas atau masyarakat tidak punya lahan atau wilayah Kelola rakyat. Bahkan sejak zaman kolonial, konflik agraria sudah ada. Kemudian saat ini kalau kita
132
berbicara konflik agraria maka yang terjadi sebenarnya adalah ketimpangan penguasaan agraria, jadi ada masyarakat yang sama sekali tidak punya lahan, ada orang yang punya lahan berlebihan. Ketimpangan ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, bahkan tidak hanya di Indonesia saja. Kalau dari sejarah sejak zaman romawi kesenjangan itu sudah ada dan sudah dicarikan solusinya, yakni reforma agraria yakni suatu reformasi untuk menghilangkan kesenjangan agraria dengan mengambil yang kelebihan kemudian didistribusi kepada yang sama sekali tidak punya.
Dalam konteks Indonesia di sektor masyarakat yang paling membutuhkan lahan cukup luas adalah petani karena usahanya berbasis lahan sehingga harus punya hak akses dan penguasaan atas lahan. Konflik agraria ini jika dilacak di Indonesia itu terjadi seiring dengan berkembang atau berubahnya model ekonomi menuju ekonomi kapitalisme. Mulai masuknya konflik agraria di Indonesia ditandai dengan masuknya perkebunan-perkebunan besar oleh Belanda misalnya perkebunan tebu atau sistem tanam paksa pada zaman VOC.
Cita-cita kemerdekaan adalah menghapus kesenjangan itu. Karena kalau petani tidak punya lahan, ia tidak punya alat produksi. Artinya dia akan menjadi buruh tani.
Penciptaan buruh itu terjadi ketika terjadi pergumunan-pergumunan skala besar. Konflik agraria harus diselesaikan dengan cara menghilangkan kesenjangan, mana-mana rakyat yang dirampas harus dikembalikan. Dirampas itu dalam berbagai cara ya termasuk perampasan yang legal atau penodongan senjata sampai jual beli yang terpaksa dalam artian pemilik tanah mau tidak mau
harus menjual lahan karena tidak adanya pilihan lain. Konflik agraria ini merupakan tanggung jawab negara karena berhubungan dengan sektor-sektor pangan dan lain sebagainya.
WALHI percaya bahwa jika tanah dikelola oleh rakyat dengan segala bentuk kearifannya maka lingkungan lebih berkelanjutan. Misalnya pengelolaan tanah sawah, jika masyarakat yang mengolah dengan cara tradisionalnya ketika menanam padi, sawah masih bisa ditemukan ada pohon pisang, sayur, dan lain sebagainya. Dibandingkan dengan perkebunan skala besar semacam food estate, itu jika dia menanam padi ya padi semua. Tidak ada jenis tanaman lain, monokultur.
Deforestasi terjadi juga karena peralihan fungsi lahan yang awalnya hutan.
Di Indonesia ada yang namanya kawasan hutan dan kawasan non-hutan.
Sehingga jika kawasan non-hutan bisa dibongkar menjadi kawasan pertambangan, perkebunan sawit, maupun kawasan hutan tanaman industri (HTI). Pun jika dia kawasan hutan, di Indonesia masih bisa ditebang habis untuk tanaman industri. Kalau diganti dengan tanaman jenis lain yang berskala besar maka sistemnya monokultur, padahal sebelumnya yang hidup di atas lahan hutan itu berbagai jenis tanaman.
Karena di Indonesia salah satu hutan hujan, sehingga tanamannya beraneka ragam sehingga dapat menghidupi beraneka ragam makhluk hidup. Jadi deforestasi terjadi karena lahan atau kawasan hutan mau diubah menjadi peruntukkan lain dalam hal ini oleh perusahaan-perusahaan skala besar. Jadi kalau kita tahu prosesnya dari hutan itu sebelum ditanami, mereka menyiapkan