UMAT ISLAM
B. AL KHAWARIJ l. Asal Usul Firqah Khawarij
Apa sajakah nama firqah yang ada dalam Islam? Firqah manakah yang paling menonjol di antara semua firqah itu? Bagaimana sejarah kelahiran dan perkembangannya? Bagaimana pemahaman aqidah- nya? Pertanyaan-pertanyaan itu akan dibahas satu per satu, untuk selanjutnya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan bermuara pada satu pertanyaan penting, yaitu mungkinkah firqah-firqah itu dapat disatukan dan dirapatkan dalarn satu barisan, sehingga dapat pula menyatukan pemikiran politiknya, pemahaman aqidahnya, serta mengokohkan kembali umat Islam seperti pada awal kelahirannya.
B. AL KHAWARIJ
"fadi atas dasar apa kalian mengingkariku dan mencampakkan aku?"
"Sesungguhnya kami telah melakukan suatu perbuatan dosa, maka
kami pun kini
bertaubat kepadaAllah,"
jawab mereka, setelah menyadari kesalahan yang mereka lakukan.Akhirnya mereka purr kembali ke Kufah. Namun kesadaran itu tidak lama mengendap dalam hati mereka, sehingga mereka kembali lagi kepada pemikiran semula, karena mengira bahwa Ali telah me- lepaskan tampuk pimpinan. Ali kemudian mengutus Abdullah lbnu Abbas untuk menyadarkair mereka kembali, agar tidak terladi fitnah yang lebih besar dalam tubuh umat Islam. Namun, mereka tetap pada pendirian semula, ingin keluar dari kelompok Ali. Akhirnya mereka sepakat
untuk
membai'at Abdullahbin
WahbAr
Rasibi sebagai pemimpin mereka. Abdullah kemudian dikenal dengan julukan Haruriyyah, yang berasal dari Harura, nama desa pertama yang mereka tufu dalam pelariannya. Mereka juga dikenal dengan istilah Muhakamah, karena mereka mengatakan, "I,aa hukma illallah."Banyak orang dari kalangan Ali yang keluar dan bergabung de- ngan jamaah tadi, mereka menamakan dirinya Asysyuraat, yakni yang mempunyai sifat jelek, bermakna menjelekkan
diri
mereka sendiri dengan mengharap keridhaan Allah Swt. Namun, tidak begitu lama setelah keluar dari kelompok Ali, kelompok tadi menunjukkan cacat dalam ucapan maupun amaliahnya. Pandangan dan pemikiran mereka mulai menyimpang dari kebenaran. Mereka mengecam Ali, menjelek- kannya, serta mengajukan protes terhadap kepemimpinan Ali. Mereka juga mengecam kepemimpinan khalifah terdahulu, Utsman bin Affan, serta mencela setiap orangyang tidak mau memusuhi Ali dan orang- orang yang menyalahkan Utsman. Salah satu amaliah buruk perla- kuan mereka terhadap muslim dan nonmuslim. Mereka membunuh muslim, namun orang-orang nonmuslim mereka biarkan hidup.Mereka berkilah, "Peliharalah kehormatan nabimu." pernyataan ini merupakan pemutarlialikan yang nyata. Seharusnya, kehormatan semua orang, baik muslim maupun dzimmi, hendaknya dilindungi.
Dan tentu, darah dan kehormatan muslim harus diutamakan dari- pada dzimmi.
Dalam menghadapi pembangkangan tersebut, Ali mengambil sikap defensif, ia tidak memerangi mereka, selama mereka tidak memulai penyerangan. Setelah nyata bahwa mereka mulai menggunakan ke- kerasan, barulah
Ali
memerangi mereka. Mereka telah membunuh Abdullah bin Khabab, setelah sebelumnya terjadi dialog antara kedua 104belah pihak. Pertarungan antara pihak
Ali
dan kelompok Khawarij membawa korban pada pihak Khawarij. Pemimpin mereka, Ibnu Wahb, termasuk yang tewas dalam bentrokan tersebut. Peristiwa itu dikenal dengan peristiwa Nahrawan. Sebenarnya,Ali
memiliki ke- sempatan untuk menghabisi Khawarij dengan nrntas, namun Khawarij segera mengirim Abdurrahman bin Maljam Al Muradi untuk membu- nuh AIi bin Abi Thalib. Usahanya berhasil, Ali terbunuh di masjid.Setelah
Ali
wafat, kegiatan kaum Khawarij semakin merajalela.Mereka selalu melibatkan diri dalam berbagai fitnah, terutama pada masa khilafah Muawiyah. Mereka melancarkan perang urat syaraf, karena mereka merasa tidak mempunyai kemampuan untuk melawan pasukan pemerintah yang terlatih dan mahir dalam peperangan.
Mereka gentar menghadapi pasukan penunggang kuda yang amat kuat dan gesit dalam peperangan. Inilah pasukan elit Muawiyah yang tak kenal kata menyerah dan memiliki taktik tinggi dalam pertempuran.
Sepeninggal Muawiyah, Khawarij berkembang pesat. Kegiatan mereka semakin menonjol pada akhir masa kekhilafahan Yazid bin Muawiyah. Mereka berusaha untuk menarik Abdullah bin Zubair ke dalam barisannya atau setidaknya menyetujui pemikiran mereka.
Mereka melancarkan hasutan kepada Ibnu Zubair, dengan mengata- kan, "Wahai Ibnu Zubair, jika engkau mengutamakan Abu Bakar dan Umar, bebas dari fitnah Utsman dan
Ali,
serta mau mengkafirkan ayahmu (Zubair bin Awwam), maka kami akan membai'atmu. Namun jika tidak, maka tentulah sebaliknya."Dari dialog yang terjadi antara pihak ithawarij dan Ibnu Zubair, terungkap pandangan mereka tentang masalah kepemimpinan umat, serta pandangan mereka terhadap sebagian sahabat.
"Kami datang menemuimu
untuk
menanyakan pendapatmu,"mereka bertanya kepada lbnu Zubair, "jika pendapatmu benar, maka kami akan membai'atmu. Namun,
jika
engkau tidak benar dalam mengutarakan pendapatmu, maka kami akan mengajakmu kepada kebenaran. Apa pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar?""Keduanya baik dan sempurna," iawab Ibnu Zubair.
"Kami menanyakan pendapatmu tentang Utsman yang telah me- lampaui batas, menolong orang yang diusir (yang dimaksud adalah Hakam bin Abil Ash, yang diusir Rasulullah ke Thaif. Ia diperkenan- kan datang ke Madinah pada masa Khalifah Utsman), yang bersikap munafik kepada penduduk Mesir (Utsman memaafkan orang-orang Mesir yang datang
untuk
membunuhnya, tetapi setelah mereka pulang, Utsman memerintahkan Gubernur Mesir untuk menghukum105
mereka), memberikan tanah kepada Bani Mu'ith padahal itu adalah
f$_
gryng lain. Dan kami menanyakan pula pendapatmu rentang khalifah sesudahnya (yakni Ali), imam adil yang tehh diprotes oleh kaum yang tak mempunyai hak atas itu, tanpa menyesali perbuatan- nya dan kemudian bertaubat. Dan kami minta pula pendapatmu ten- tang ayahmu dan sahabatnya, yang telah membai'atali,
seorang pemimpin yang adil dan belum pernah menampakkan kekafirannya, namun kedua orangitu
kemudian menyalahi bai'atnya, menyuruh Aisyah, Ummul Mukminin keluar rumah untuk ikut berperang, pada- hal Allah memerintahkannla untuk tetap di dalam rumah..Semuanya ilu yang mengharuskan engkau untuk bertaubat. fika engkau mene-rigq
aga y,ang kami utarakan, maka berarti engkau dekat kepada Allah, dan kemenangan di tangan kita, insya Allah. Kami memohon- kan taufiq dan hidayah-Nya untukmu. Namun, jika engkau menolak, maka engkau akan dihinakan Allah, dan kami akan dapat mengalah- kanmu."Demikianlah sederetan pertanyaan yang diajukan kaum Khawarij kepada Abdullah
bin
Zubair, yang menunjukkan bahwa mereka mengagungkan Abu Bakar dan Umar, membenci Utsman, dan meng- hormati Ali, mengkafirY,an Zubat dan Thalhah, serta mencela AiEah.fbdu]l$ bin
Zubair dengan kemahiran diplomasinya dan dengan kefashihannya berbicara, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka,"Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita, bahwa dalam mgngajak orang yang paling kafir, atau ahli fuhud sekalipun, harus dilakukan dengan kata-kata yang lembut, lebih lembut-dari kata- kata yang kalian ucapkan. Ia berfirman memerintahkan kepada Musa dan Harun, 'Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun yang telah melam- paui batas, dan katakanlah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, barangkali ia akan menjadi sadar dan takut.' Dan Rasulullah telah menyatakan, '|anganlah kalian menyakiti orang yang masih hidup dengan mengumpat kepada
si
mayit.' Dengan pernyataannya itu, Rasulullah melarang mengumpat Abu lahal,untuk
menghormati anaknya lkrimah, seorang muslim yang taat. padahal, Abu lahal ada- lah musuh Allah dan rasul-Nya, orang yang dengan gigih memerangi Islam dan muslimin. Seorang yang telah mencapai puncaknya dosa,yaitu syirik.
Semestinya kalian dapat meninggalkan celaan dan umpatan kepada Thalhah dan ayahku. Kalian dapat mengungkap- kannya dengan pertanyaan, seperti: apakah engkau bebas daii ke- lompok orang-orang yangzalim? fika kedua orang itu dari golongan tadi (yakni zalim), maka berarti keduanya termasuk yang celaka.Namun jika keduanya bukan dari mereka, maka berarti kalian tidak menghormati atau menyakiti hatiku karena mengumpat ayahku dan temannya. Padahal kalian telah mengetahui dengan pasti firman- Nya, "Wain jaahadaaka'alaa an rusyrik.,(hingga akhir ayat). Maka dari itu, hendaknya kalian mengatakan orang yang baik-baik saja.
Adapun mengenai pendapat yang engkau minta, agar engkau dapat mengajakku untuk bergabung di dalamnya, nanti akan tampak de- ngan sendirinya di kemudian hari. Dan kukira tidak ada yang akan dapat memuaskan kalian kecuali kepastian yang jelas. Untuk menda- patkan kepastian itu, sehingga akan terlihat siapa musuh dan siapa pula kawan, maka aku mohon kalian pergi, dan nanti sore Insya Allah kalian akan tahu dengan pasti dimana posisiku dan bagaimana pen- dapatku."
Ketika sore telah tiba, mereka pergi untuk menfumpai Abdullah bin Zubair untuk mendapatkan kepastian darinya. Ternyata, jawaban Abdullah bin Zubair sangat mengecewakan hati mereka, sebab pen- dapat Abdullah bin Zubair berlawanan dengan pendapat kaum Kha- warij. Abdullah Ibnu Zubair berpihak pada Utsman,
Ali,
ayahnya, Thalhah, dan Aisyah. Ia bahkan memberikan pembelaan yang sangat baik sekali, dengan mengemukakan ayat-ayat Al Qur'an, hadits, serta dengan dalih yang akurat dan benar. Kekecewaanitu
mendorong kelompok Khawarij untuk menebar fitnah, dengan cara mengadu domba antara Abdullah bin Zubair dan Bani Umalyah, yang berakhir dengan terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan Mush'ab bin Zubair, saudaranya.Kegiatan kaum Khawarij masih terbatas hanya di bagian timur wilayah Islam dalam kurun waktu cukup lama. Barangkali kelompok ini merupakan satu-satunya kekuatan yang dianggap berbahaya bagi wilayah sekitar Bashrah. Kegiatan mereka baru keluar dari sarang- nya hingga menjalar sampai ke
Afrika
pada masa pemerintahan Abbasiyyah. Di fazirah Arab, gerakan ini hanya aktif dan berkembang dengan baik sekitar tahun 65-72 H. Dalam masa itu mereka hampir menguasai wilayah Hadramaut, Yamamah, Thaif, dan Yaman.Dalam mengajak umat untuk mengikuti garis pemikiran mereka, kaum Khawarij sering menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah. Meskipun agaknya penumpahan darah bukanlah karakter semua pengikut Khawarij. Mereka kadangkala bersikap keras, tetapi kadangkala juga bersikap lunak, tergantung pada karakter pemimpin yang mereka
ikuti.
Kelompok Khawarij yang senang dengan cara- cara kekerasan adalah firqah Azariqah, yang dipimpin oleh Nafi bin t07luraq. Ia sangat senang dengan kekerasan dan pertumpahan darah.
Membunuh anak-anak dan wanita, merampas harta, membajak, semuanya dihalalkannya. Sebaliknya, firqah Najdat, yaitu kelompok Khawarijyangdipimpin oleh Najdah bin Amir Al Hanaff, mengingkari dan mencela segala cara yang ditempuh Nafi bin F.zraq. Bahkan Naj- dah sering menasihati Nafi agar meninggalkan Glra yang ditempuh- nya itu. Namun Nafi tetap saja pada pendiriannya, bahkan sering mengeiek Najdah serta nasihat-nasihatnya itu. Yang paling aneh, ke- dua pemimpin itu, yakni Najdah dan Nafi', dijuluki amirul mukminin oleh masing-masing pengikutnya. Bahkan semua pemimpin dari
fir-
qah yang bernaungdi
bawah Khawarij mempunyai julukan yang sama, yaitu amirul mukminin.Khawarij terbagi menjadi delapan firqah besar. Dan dari firqah besar itu masih terbagi lagi menjadi firqah-firqah kecil yang jumtitr-
nya banyak sekali. Perpecahan inilah yang membuat Khawarij menjadi lemah dan mudah sekali dipatahkan dalam berbagai pertempuran menghadapi kekuatan militer Bani Umayyah yang berlangsung ber- tahun-tahun.
Khawarij menganggap perlu pembentukan republik demokrasi Arab. Mereka menganggap pemerintahan Bani Umayyah dan pengikut Zubair bin Awwam sama seperti pemerintahan kaum aristokrat kafir.
Karena
itu,
mereka berani menghina pemimpin-pemimpin militer Bani Umayyah, seperti Ziyadbin Abihi, Abdullah binZiyad,, Muhallab bin Abi Shufrah, dan Hajjaj binYusuf AtsTsaqafi. Penghinaan-peng- hinaan ini mengundang kemarahan Abdullah binZiyad, sehingga ia sering mengambil sikap yang sangat keras terhadap KhawarU, walau- pun adakalanya ia bersikap lunak terhadap mereka, bahkan terka- dang ia membebaskan pengikut Khawarij yang dipenjarakannya.Keyakinan kaum Khawarij terhadap kebenaran pemikirannya telah memberikan kepercayaan
diri
dalam menghadapi kepemimpinan khilafah Bani Umalyah. Kepercayaan diri itu teruji, ketika Ubaidillah bin Ziyad membunuh Urwah bin Udiyyah, salah seorang pemimpin mereka, Mirdas bin Udiyyah, saudaranya, bersama empat puluh orang pengikutnya pergike
Ahwaz menyatakan tantangannya kepada penguasa. Karena dorongan rasa percaya diri yang besar, sekalipun mereka hanya beriumlah empat puluh orang, namun kekuatan mereka ibarat ribuan tentara. Dua ribu pasukan pilihan yang dipimpin Ibnu Hushun At Tamimi untuk menghadapi pemberontakan kaum Khawarij yang hanya berjumlah empat puluhtak
mampu berbuat banyak.Mereka bahkan terkalahkan. Kejadian
itu
semakin melambungkankepercayaan diri pengikut Khawarij. Syair 'Isa bin Fatik
Al
Khariji mengungkapkan hal itu:(Ki(a..ItrWfii LUdu:|sti!$;
tti;Ai;#ti4w
\'i,,61lwTtfrI(
\'1$,(5{AK:S
\*FaA;:ft1rY6
Dua ribu mukmin, yang kau dakwakan,
dengan empat puluh orang di Tasik, dikalahkan.
Kalian dusta, tak benar yang kalian katakan, namun Khawariilah kaum yang beriman.
Bahwa mereka kelompok yang sedikit, memang benar, namun telah dimenangkan atas kelompok yang besar.
2.
Syair-syatr IlhawarijDalam kebudayaan yang berkembang pada zzrfitutnya, Wair ada, lah alat komunikasi yang handal. Iia mempunyai peranan pendng dalam pembennrkan opini maryarakat. Sebuah grair,
png
menumcar keluar dari lubuk hati penggubahnya, dengan membawa serta keya- kinan dan semangat baja yang adadi
dalam dada, akan nnmpu menggelorakan daya juang ribuan pastrkan dan mengantarkan pada kemenangan gemilang. Dan ryair-syair sekualitas itulahpng
nulmpu dilahirkan oleh kandungan jiwa Qathari Ibnu Fujah, seorang pemim- pin kelompok Azariqah. Syair-syairnya yang melambangkan keper- cayaan diri, serta keberanian yang membara dalam dada, memberi- kan peranan besar dalam penaklukan Ahwaz, I(arman, dan terus menjalar hingga Thabristan. Ia sendiri memimpin wilayah-wilayah itu sampai tiga belas tahun lamanya, hingga ia wafat pada tahun 78 Hijriyah. Seperti halnya pemimpin kelompok Khawarij lang lain, ia pun oleh pengikutnya dipanggl dengan julukan amirul mukminin.Simak'lah salah sanr syairnya yang ditujukan kepada dirinya:
Kukatakan pada diriku,
cahala para pahlawan telah lenyap sirna.
Celakalah bila engkau tak memperhatikannya.
fika engkau tanyakan tentang sisa usia, tinggal berapa hartkah?
109
Maka, sabarlah dalam perjalanan menuju kematian.
Tidaklah mencapai kekekalan suatu yang mungkin.
Tidak pula kekal dapat dicapai oleh kemuliaan.
Itu merupakan kehinaan, menunjukkan kelemahan.
Bhgi setiap yang hidup, kematian adalah akhir perjalanan.
Maka, biarkanlah penghuni bumi memanggilnya.
Bukanlah merupakan kebaikan bagi manusia dalam hidupnya, bila tidak menganggap kehilangan, sesuanr yang berharga.
Bila syair dan kepatriotan merupakan lambang yang telah menyatu dalam tubuh Azariqah, begitu juga halnya dengan kelompok lain di bawah naungan Khawarij. Bahkan kebanyakan penyair besar adalah dari kalangan pemimpin kelompok. Imran bin Hiththan misalnya, adalah pemimpin kelompok Qu'dah dari kelompok Shafarilyah. Ia termasuk orang yang sangat mengharapkan syahid demi membela
garis
pemikirannya, sebagaimana yang dilakukan Qathari Ibnu Fujaah. Harapannyaitu
diungkapkannya melalui syair-syairnya.Kutipan bait di bawah ini adalah salah satu syairnya yang ia ungkap- kan ketika ia mendengar para sahabatnya mati dalam sebuah per- tempuran melawan tentara Bani Umayyah.
Apakah sesudah Ibnu Wahab, yang berhati suci, dan ahli taqwa.
Dan pula dari setiap manusia, yang menempuh jalan kebinasaan, dalam peperangan.
Aku lebih suka keabadian, atau mengharap keselamatan,
Mereka telah membunuh Malik dan Zaid bin Hushun.
Wahai Tuhanku,
selamatkan diriku dan mata hatiku, Dan berilah aku ketaqwaan senantiasa, hingga aku dapat menemui keduanya.
Itulah syair yang diungkapkannya untuk mengenang kematian Ibnu Wahab dan Malik, tersirat dalam bait-baitnya penghargaan atas kematian dalam peperangan. Ia juga melantunkan syair yang senada ketika ia mendengar kematian Abu Bilal Mirdas bin Uddiyah.
Keenggananku kepada kehidupan, kian tebal Gelora dalam hati, telah jadi bara
untuk berperang menebus kematian Abu Bilal.
110
Aku peringatkan diriku,
untuk tidak mati di atas pembaringan, Namun aku berharap, kujemput maut, dalam gemuruh derap pertempuran.
Iklau
saja aku mengertikematianku seperti kematian Abu Bilal, pastilah tak lagi aku peduli.
yang menjadikan keduniaan, setinggi-tingginya tuiuan, Maka terhadapnya,
demi Allah, aku akan menyisihkannya.
Untuk menelusuri lebih dalam pemikiran-pemikiran yang ber- kembang di kalangan Khawarij melalui syair-syair mereka, marilah kita perhatikan pula buah karya penyair terbesar mereka, yaitu Thar- mah bin Hakim Aththai yang wafat pada tahun 100 H. Ia adalah dari kelompok Azariqah, dan tentu banyak syairnya yang menyiratkan sikap keras mereka. Salah satu syairnya adalah sebagai berikut:
Sungguh, tiada henti dalam deraan kesengsaraan, jilca aku tidak dapat lepas dari fahannam.
Tak seorang lepas dari ancaman neraka, kecuali yang kembali kepada-Nya,
yang berhati ikhlas dan pasrah pada-Nya semata.
Atau, orang yang lahir terdahulu, ba$n)ra,
kebahagiaan dari Penciptanya Yang Mahabijaksana.
Terlepas dari penilaian keabsahan garis pemikiran maztrab mereka, dari syair-syair kalangan Khawarij tersebut di atas, tampak dengan jelas keyakinan mereka terhadap kebenaran pemikirannya, dan ke- gigihan mereka dalam membela keyakinannya.
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, kegiatan kaum l(hawarij dalam bidang militer, politik, dan pemikiran (aqidah) orkup menonjol dalam sejarah daulah Islam dalam kurun waktu yang cukup paniang.
Dengan banyaknya kelompok yang bernaung di bawah bendera Ktra- warij, mereka telah mampu menunjukkan peran yang besar dalam berbagai peperangan hingga awal abad kedua Hijri. Bahkan mereka telah menggoyahlen kemapanan Daulah Umawilyah, hingga akhimya mereka diberi satu wilayah otonomi yang cukup luas oleh pemerin- 111
tahan Umawiyyah. Namun, kejayaan mereka tidak dapat bertahan lebih lama, banyaknya perselisihan dan perbedaan ide yang tajam di antara mereka, membuat kekuatan mereka melemah dan kesatuan mereka terkoyak-koyak. Dalam penyebaran fikrah, ataupun dalam fikrah
itu
sendiri, sebagian dari kelompok Khawarij bahkan telah menyimpang jauh dari arus besar pemikiran Khawarij. Di antara mereka ada yang menghalalkan membunuh wanita dan anak-anak, serta berbagai tindak kekefian lainnya. Adanya perbedaan yang tajam serta pertikaian di antara mereka itulah yang menjadi awal keruntuh- an dan porak-porandanya Khawarij. Perselisihan di dalam tubuh ke- lompok-kelompok itu kemudian mempercepat kehancurannya.Para pemimpin Khawarij, seperti Najdah bin Amir, sangat dicintai dan dihormati pengikutnya, hingga kelompok yang dipimpinnya di- namakan Najdat. Namun, kesalahan yang dilakukan oleh salah se- orang pengikutnya menempatkannya pada posisi sulit, hingga ia kemudian dibunuh oleh Abu Fudaik, salah seorang pengikutnya
png
lain. Apa yang dilakukan oleh pengikut Najdat terhadap pemimpin mereka, juga dilakukan oleh pengikut kelompok Azariqah terhadap Qathari bin Fuja'ah. Ia adalah seorang yang amat pemberani. Tidak- lah mudah untuk mematahkan dan mengalahkan pasukan yang di- pimpinnya. IQIau saja bukan karena kudeta yang dilakukan oleh sebagian pengikutnya, dengan membangkang terhadap petunjuk dan perintahnya, kelompok ini barangkali merupakan kelompok Khawarij yang terkuat. Kelompok yang dipimpin oleh Qarhari
ini
rerdiri dari bangsa Arab dan non-Arab. Pengikut yang non-Arab irulah yang membangkang dan melancarkan kudeta. hinga akhirnya teriadi pe- rangdi
antara mereka. Konflik intern inilah yang membuka pintu kemudahan bagi Muhallab, pemimpin pasukan Daulah Umawilyah, untuk menumpas kaum Azariqah.Bila pengikut satu kelompok telah saling mencerca, bahkan t€rjadi perang di antara anggota satu kelompok yang sama, sudah dapat di- pastikan akan terjadi pula pengelompokan-pengelompokan baru, dan masing-masing anggota kelompok akan mendukung pihak yang sepaham. Itulah yang tedadi pada kelompok Khawarij. Sebagai conroh adalah pertikaian antara kelompok Qu'dah kelompokAzariqah, serta berbagai kelompok lainnya.
Banyak sejarawan yang berpendapat, kaum Khawarij banyak memberikan andil dalam runtuhnya daulah Uma1ryah, karena mereka
tak
henti-hentinya mengganggu dan mengacaukan pemerintahan Bani Umalyah dalam kurun waktu yang cukup lama. Rongrongantt2
yang dilakukan Khawarij secara tidak langsung t€lah memberi ke- sempatan kepada dinasti Abbasilyah untuk menghimpun kekuatan yang luput dari pengawasan penguasa Umawiyyah karena disibukkan dengan peperangan dan pengusiran terhadap kaum Khawarij. Semen- tara
inl,
Khawarij dengan kefanatikannya, dengan kebengisannya, dan dengan perselisihan yang tak pernah reda dalam kubunya, telah mengubur diri sendiri.3.
Kelompok-kelompolc dalam Tubuh Khawarij dan Aqidahnya Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Khawarij terbagi menjadi banyak sekali kelompok. Sengaja, kami berikan sebutan kelompok dan bukan kata firqah, untuk memberikan penekanan lebih besar pada pengertianpolitik,
dibandingkan dengan pengertian aliran pemikiran keagamaan. Dan memang demikianlah hakikatnya, Kha- warij adalah aliran pemikiran politik murni, tidak ada kaitannya de- ngan pemahaman agirma, atau yang lazim disebut dengan mazhab.Salah satu pemikiran lCrawarij adalah bahwa khilafah atau ke- pemimpinan tidaklah
dimiliki
terbatas hanya oleh kaum terrentu, namun merupakan hak setiap muslim, sepanjang ia telah memiliki syarat-syaratnya, seperti iman, shalih, dan istiqamah, dan dibai'at seluruh lapisan masyarakat, sekalipun orang yang telah memenuhi syarat itu dari Persia, Turki, atau dari Habasyah (Ettriopia) sekalipun.Dengan demikian, pemikiran Socrates dalam masalah ini tidak mereka
akui, bahkan merupakan musuh atau lazim disebut lawan politik dari pemikiran Khawarij. Pembatasan hak k'hilafah bagi keluarga ter- tentu, misalnya keturunan Nabi, sangat mereka benci, dan mereka memerangi penganjur pembatasan itu dengan segala kekuatan yang mereka miliki.
Sekalipun Khawarij telah beberapa kali memerangi Ali, dan mele- paskan diri dari kelompokAli, namun dari mulut mereka masih dapat terdengar kata-kata haq. Imam Al Mushannif misalnya, pada akhir hayatnya mengatakan, "fanganlah kalian memerangi l(hawarij sesu- dah aku mati. Tidaklah sama orang yang mencari kebenaran kemu- dian ia salah, dengan orang yang mencari kebathilan lalu ia dapat- kan. Amirul Mukminin mengatakan, bahwa Khawarij lebih mulia daripada Bani Umalyah dalam tujuannya, karena Bani Umalyah telah merampas khilafah tanpa hak, kemudian mereka menjadikan- nya hak warisan.
Hd
itu merupakan prinsip yang bertentangan de- ngan Islam secara nash dan jiwanya. Adapun Khawarij adalah seke- lompok manusia yang membela kebenaran aqidah agama, mengima-113