• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALIUI POLIGINI

Dalam dokumen BELAJAR ISIAM TIDAK BERMAZHAB (Halaman 61-66)

I}I.,AHA ESA

G. KEKUATAN BELAS KASIH DALITM ISLI\M

I. MASALIUI POLIGINI

Di samping masalah perbudakan, masalah yang menjadi sasaran orang-orang yang memusuhi Islam dalam upaya menjelek-jelekkan ajaran Islam, adalah masalah poligini (memiliki lebih dari seorang istri). Dalam kaitan dengan masalah poligini ini, banyak orang--ter- utama mereka yang tidak mempunyai ikatan dengan Islam--yang bila mendengar nama Islam, maka yang tergambar olehnya adalah seorang muslim yang beristri empat, dan mengumpulkan empat istrinya itu dalam satu rumah. Mereka juga beranggapan bahwa tidak ada seo-

rang muslim yang hanya mempunyai satu orang isqrlt

Sebenarnya, a-nggapan atau ruduhan itu tidak lebih dari anekdot dan propagahaa

dfrta,

yang diramu sedemikian rupa oleh musuh- musuh titam, kemudian disebarluaskan oleh media massa agar dapat menyesatkan lebih banyak orang. Islam sebenamya tidak mewaiibkan poligini, namun hanya membolehkannya dengan persyaratan ter-

irnti. nu.i

kira cukup jelas perbedaannya antara mewaiibkan de- ngan membolehkan. Mewajibkan mengandung unsur.-keharyTn,

rid"ng

membolehkan mengindung unsur ikhtiar atau pilihan. Seka- lipun demikian, Islam bukanlah din atau syariat yang pertama yang membolehkan melakukan poligini. Din, undang-undang, serta ber- bagai ajaran lain yang berktmbang sebelum d4angnyl risalah yang

dib-awa-Rasulullah, ddak hanya membolehkan dan membatasi sampai pada iumlah tertentu, rulmun membolehkan melakqkan poligini tarya batas, sehingga tak sulit menjumpai seorang laki-laki yang memiliki seratus isUi,?-engan selir yang tak terbilang iumlahnya. Ketika datang risalah lvtuhammad, poligini dibatasi hanya sampai empat istri saia, dan itu pun dengan sejumlah persyaratan tertentu.

Kitab Talmu dz dan Kitab Taurat, yang telah ternodai oleh campur tangan manusia itu, tidak hanya membolehkan poligini, 13yqn juga tidalk menghalangi tasarri (mengambil selir). Poligini

di

kalangan agar.na Bani tsrait sangat dikenal. Bahkan mereka mengatakan bahwa sirlaiman dan Daud, masing-masing mempunyai istri lebih dari sera- tus. Daud dikisahkan pula menghendaki

isri

salah seorang pemimpin militernya untuk diiadikan istri yang keseratus.

Dalam Kitab Iniil, yang juga tak luput dari campur tangan manusia itu, tidak ditemukin -satu naitr pun yang melarang atau mengharam- kan poligini. Paulus yang kemudian menghararykan poligini untuk satu keaiaan atau tingkatan tertentu, yaitu bagi kalangan pemimpin agilma. para pasnrr terlarang untuk melakukan

poligni.sr.i"

sendiri ni'empunyai pandangan dan sikap ganda dalam memandangpoltgtni'

sejarih

hencatat, dewan gereia memperkenankan Raia Carlman mempunyai seiumlah

anaktari

banyak wanita yang digaulinya di tuar

irititr.

Deimart, Raja lrlandia, iuga dibenarkan untuk memiliki dua istri sah dan dua orang selir. Martin Luther, pemimpin Protestan, membolehkan poligini dengan dalih tidak ada satu

Pln

nqgq

{4"'

Iniil yang mengharlmkan hal itu. Dalam ajaran Masehi, poligini ber- kembang hingga abad ke- 17

Dengan penjelasan-penjelasan

di

atas, ielaslah bahwa poligini

tehh

bErkerirUang sejak berabad-abad sebelum datangnya risalah 64

yang dibawa oleh Muhammad. Dan dengan demikian, tslam terbebas

dari tuduhan sebagai penganjur poligini, sebagaimana Islam juga bebas dari tuduhan sebagai din penganjur perbudakan.

Masalah poligini dan perbudakan sebenarnya tidak ada kaitan khusus dengan ajaran Islam, namun karena musuh-musuh Islam berusaha untuk mendiskreditkan Islam, maka mereka menjadikan kedua permasalahan tersebut sebagai

titik

tolak untuk menyerang Islam dan muslimin. Padahal, jika mereka memandang dengan adil, tuduhan itu lebih tepat

unfik

dituiukan kepada syariat, agama, serta undang-undang lain, yang tidak saja membolehkan tetapi bahkan menganjurkan poligini tanpa batas.

Sesungguhnya, di balik pohgrni terkandung hikmah yang t€rka- dang diperlukan dan diharuskan oleh hukum alami kehidupan. Seba- gai contoh, seorang laki-laki menikahi seorang wanita yang ternyata mandul, sementara manusia cenderung mendambakan keturunan.

Tindakan apakah yang lebih bijaksana dan lebih mulia, baik untuk istrinya dan atau untuk kemanusiaan secara umum, dimadu dengan seorang wanita lain yang dapat memberinya anak, ataukah dicerai- kan, agar ia tetap hanya mempunyai satu orang istri saia?

Contoh lainnya, seorang suami mempunyai istri yang sakit berke- panjangan, padahal ia mempunyai anak yang masih membutuhkan perawatan dan perhatian orangfua. Tidakkah lebih adil jika ia meng- ambil seorang istri lagi agar dapat merawat anak-anaknya, dan jika perlu merawat istri pertama yang sakit-sakitan, dibandingkan bila ia justru menceraikan istri yang sakit-sakitan itu dan membiarkannya terlantar?

Pada masyarakat yang t€lah terlanda peperangan, biasanya jumlah kaum wanita akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kaum laki-laki, karena banyak laki-laki yang gugur dalam perrem- puran.

|ika

seorang laki-laki diharuskan untuk tetap.mempunyai seorang istri saja, berarti akan ada ratusan, ribuan, dan bahkan juta- an wanita yang hidup tanpa suami. Keadaan seperti

itu

sekurang- kurangnya akan mendorong lahirnya tiga ekses:

Pefiann: Para wanita akan hidup seperti biarawati. Ini bukanlah pilihannya yang mudah, tidak semua wanita mau dan mampu hidup tanpa suami seperti biarawati.

Kdua: Para wanita akan mengumbar nafsu syahwat atau menje- rumuskan

diri ke

tempat-tempat pelacuran. felas,

hal ini

akan menimbulkan kerusakan mordl

dan

menumbuhkan lingkungan mesum.

Ketiga: Para wanita menerima dan rela dimadu, dan

ini

adalah feputuJan yang lebih mendelati lcepada kebenaran dan kemuliaan, minjamin tiesefatrteraan masyarakat, serti mewujudkan lingkungan yang terbebas dari kebobrokan dan penyimpangan.

-

iamun, bagaimanapun kondisi dan situasinya,lslam tetap hanya membolehkan"poligini,'bukan memerintahkan. Bahkan, syariat yang dibawa oleh ttutrairmad inilah satu-satunya syariat yang membatasi pohgni dengan empat orang isni,

di

samping mensyaratkan sikap

idil

terhadap semua istri itu. Allah berfirman:

51:r1G&4\Eviis,"t#iAt#$1'*St-;

'i'+i,fi;3@'b9:8;3;$&

'Dan

jilo

kamu takut tidak altan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim fiil<a kamu mengawininya). maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua' tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat ber- laku adil, maka (ltawinilah) seorang saja ...." (An Ntsaa' 3) Demikianlah, di samping memperkenankan melakukan po-ligini,

nu.un

syariat Islam teta:p menganjurkan beristri satu, karena dikha- watirkan

tidat

dapat beriaku adil terhadap isri-istrinya. Dalam ayat lain Allah berfirman:

.Dan kamu sekali-l€li tidak al(an dapat berlaku adil di antara istri-istri-mu walaupun

lomu

sangat ingin berbuat demikian,

l<arena itr.r janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung"'"

(An Ntsaa' 129)

para ahli tafsir berbeda pendapat tentang kedua ayat tersebut.

sebagian berpendapat, bahwa poligini tidaklah dianiurkan karena,

r.p.fri

dinyatakan pada Surat An Nisaa' ayat1, pembolehannya di- sertai dengan persyaratan untuk berlaku adil, sedang dalam surat yang

sarni ayit t2s,

diingatkan ketidakmampuan

manutil.dd"*

in.tiuiuAfon ritup

adil teriebut. Dengan demikian, dapat disimp_ul- f,"n Uit tn" poligrii terlarang dalam lslam. Namun, pendapat tersebut

terlalu

berlebii'an

dan

te-rlihat sekali penyimpangannya dalam menafsirkan kedua ayat tersebut. Se9ab, kalau benar poligini itu ter- 66

larang, pastilah para sahabat, tabi'in, dan ulama tidak akan melaku- kannya.

Berkaitan dengan dua ayat tersebut, Syaikh Mahmud Syaltut, dalam bukunya

N

Islam, Aqidah wa Syariah (halaman tT2) mengata- kan, "Dari kedua ayat tadi dapat diambil pengertian bahwa poligini dibolehkan dalam Islam, dan

itu

adalah hukum aslinya. Namun demikian, Islam

tidak

memberikan spirit kepada umatnya untuk melakukan poligini selama tidak dipandang perlu. Dan Islam tetap mengutamakan beristri sanr, sebab dalam poligini Islam mengharus- kan kepada para suami untuk selalu berlaku adil terhadap istri-istri- nya, dan hal

itu

merupakan syarat yang tidak dapat dipenuhi oleh setiap suami. Adapun

jika

melakukan poligini adalah suaru yang sangat diperlukan, maka rukhshah itu tetap ada di sepanjang zaman dan di semua t€rnpat, kapan saja seorang suami itu mau dan mampu."

|ika seorang wanita tidak bersedia dimadu suaminya, maka tidak ada keharusan baginya untuk menerimanya. Seorang wanita juga mempunyai hak untuk menolak dikawini oleh seorang yang telah beristri, karena syariat Islam tidaklah membolehkan pemaksaan ter- fadap kaum wanita agar mau dikawini seorang laki-laki yang telah beristri. Wanita mempunyai hak mutlak untuk memilih dan menen- tukan suami yang disukainya. Syariat Islam juga menganggap bahwa setiap perkawinan yang disertai unsur paksaan adalah tidak sah aqad nikahnya. Rasulullah menegaskan:

.

t \,* w}i$ ; x\# ut r.Fl f {cr<l

"Janganlah mengawinkan seorang janda kecuali melalui musya- warah dengannya, dan jangan pula seorang gadis dikawinkan, kecuali dengan persetqjuannya (kerelaannya).r

(N

Hadits) Hadits tersebut mengandung pengertian bahwa seorang janda lebih berhak terhadap dirinya dalam pernikahan dibandingkan de- ngan walinya. Dan bagi seoranggadis, hendaknya dimintai lierelaan- nya, dan izinnya adalah jika dia diam. Dalam sebuah hadits lain, di- riwayatkan bahwa Rasulullah telah membatalkan pemikahan s@rang wanitayang dipaksa untuk menerima menjadi istri anak pamannya.

Islam memberikan

hak

kepada kaum wanita

untuk

menbhk pinangan seorang laki-laki yang telah beristri. Namun, mereka tidak boleh mencela wanita lain yang rela dimadu. Dan bagaimanapun juga, masyarakat yang membolehkan poligini jauh lebih baik dibanding

masyarakat yang membolehkan hidup bersama tanpa nikah atau mengambil selir. Tentu, masih jelas dalam ingatan kita, ketimpangan sebagai akibat pelarangan poligini dalam masyarakat Jerman seusai Perang Dunia Kedua. Demonstrasi besar yang dilakukan oleh kaum wanita kemudian melanda ]erman. Mereka menuntut dibolehkannya poligini mengingat kurangnya jumlah kaum laki-laki. Pada waktu

itu,

bila seorang wanita telah mempunyai suami, seolah

ia

telah mempunyai harta simpanan yang amat dibanggakan. Perasaan itu

timbil

karena ia telah muak dengan berserakannya ana[t yang tidak jelas bapaknya akibat perbuatan mesum yang dilakukan oleh kaum wanita yang belum mendapatkan suami, baik dengan ses:rma pen- duduk asli ataupun dengan tentara koalisi Amerika, Perancis, dan Inggris.

Sekali lagi, syariat Islam lebih suci dan lebih mulia dibanding sya-

riat

ataupun undang-undang

lain.

Syariat Islam membatasi dan mengatur poligini sebaik mungkin dan mendorong manusia untuk memilih alternatif yang sesuai dengan situasi dan kondisi kehidupan yang dialaminya. Dalam keadaan normal, meskipun poligini diperke- nankan syariat, tetapi kita lihat bahwa sedikit saja di antara kaum pria yangmelakukan poligini. Hal ini menunjukkan betapa fleksibel dan bijaksananya syariat Islam, yang telah membolehkan poligini namun tidak menganjurkan dan tidak pula mewajibkan. Syariat Islam menjadikan poligini hanya sesuai untuk suatu keadaan tertentu.

Keadaan umat Islam pada umumnya dewasa

ini

menuntut dilaku- kannya monogami, kecuali dalam keadaan tertentu yang memang mengharuskan poligini. Demikian pula halnya dengan keadaan pada masa yang akan datang, penerapan

poligini

sangat tergantung dengan situasi, kondisi, dan corak kehidupan masyarakat pada masa yang akan datang.

Dalam dokumen BELAJAR ISIAM TIDAK BERMAZHAB (Halaman 61-66)