I}I.,AHA ESA
G. KEKUATAN BELAS KASIH DALITM ISLI\M
II. ISLITIUI DAN PERBIIDAI(AIII
Seperti yang telah disinggung sebelumnya,
kita
menyaksikan betapa banyak orang berkulit hitam yang telah mengalami penghi- naan dan penganiayaan. Hak asasi mereka direnggutdi
berbagai negara di dunia yang menyebut dirinya sebagai negara modern yang mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Padahal, sebe- narnya negara-negara itu sendirilah yang benar-benar mengabaikan perikemanusiaan, sekalipun mereka pulalah yang paling gencar menuduh Islam mentolerir perbudakan dan memperjualbelikannya.Maqrarakat Eropa dan Amerikalah yang melestarikan perbudakan.
Mereka memperdagangkan budak-budak secara terang-terangan ketika kapal-kapal mereka merapat di pantai-pantai Afrika. Bahkan mereka menculik laki-laki, wanita, dan anak-anak berkulit hitam itu, untuk kemudian di jual-belikan di Amerika dan Eropa dengan harga yang amat murah. Mereka dijadikan pelayan dan pekerja kasar di perkebunan, dengan kondisi kehidupan yang hina dan tidak terurus, sehingga jutaan orang hitam mati. Baru pada abad kedelapan belas, sejumlah negara Barat mulai membuat peraturan yang melarang per- budakan. Namun, meskipun negara telah melarang perbudakan, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat masih melakukannya.
Fakta yang paling nyata adalah yang dialami oleh lebih dari 30 fura orang Negro di Amerika. Mereka dihimpit tekanan bertubi-tubi dari berbagai arah. Begitu juga nasib yang menimpa orang-orang kulit hitam di Afrika Selatan yang dilarang oleh pemerintah rasialis untuk 53
mengenyam hak-hak mereka yang paling asasi. Setiap kali mereka melakukan unjuk rasa, maka senapan otomatislah yang memberikan sambutan dan jawaban tuntas. Tak terbilang lagi tubuh hitam yang terhempas. Penyebutan angka-angka korban tak lagi menjadi berita yang menarik perhatian, sebab telah menjadi kejadian sehari-hari.
Tragedi yang menimpa mereka benar-benar mencoreng wajah peri- kemanusiaan. Hampir pada setiap sidang umum PBB masalah mereka tak luput dari pembicaraan. Dan bukanlah sesuatu yang mengheran- kan bila semua negara Islam yang hadir dalam sidangumum pBB itu selalu membela dan memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan rakyat kulit hitam yang teraniaya itu, meskipun pada saat )ang sama, banyak negara nonmuslim mengambil sikap memusuhi dan menen- tang penyelesaian atas masalah tersebut. Orang-orang
kulit
hitam yang teraniaya itu benar-benar budak, sekalipun tidak di jual-belikan.Masalahnya bukanlah masalah jual-belinya, sehingga seseorang dapat dikategorikan sebagai budak, namun perlakuan yang buruk yang mereka alami, yaitu pelecehan, penekanan, penganiayaan, dan larangan-larangan sepihak itulah yang menempatkan warga kulit hitam
itu
dalam posisi yang bahkan lebih buruk dari budak pada zaman Empau. Para DuoaKol
Dawan naungan lslam paoa masa dahulu tetap memiliki hak asasi dan dalam suasana )rang mendorong mereka untuk mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan penuh.Tuduhan bahwa Islam mentolerir perbudakan benar-benar tak pantas diucapkan oleh bangsa yang justru telah memaksakan perbu- dakan terhadap jutaan manusia
kulit
berwarna, bahkan terhadap banyak bangsa dengan cara penjajahan. Memang benar bahwa Islam membolehkanunffk
sementara adanya perbudakan, tetapi perbuda- kan perorangan, dan sifat kesementaraannya itu merupakan proses menuju penghapusan perbudakan. Sebaliknya, negara-negara ber- kebudayaan modern melakukan perbudakan terhadap jutaan manu- sia, dan mempertahankannya selama mungkin. ;ika mereka tidak menghadapi pemberontakan dan gerakan kemerdekaan, mereka tidak akan melepaskan negeri jajahannya. Berbeda, antara perbudakan perorangan dengan perbudakan bangsa-bangsa.Islam adalah satu-satunya din samawi yang paling tengah-tengah dan bijaksana,
tidak
mendorong adanya perbudakan dan tidak mengajak untuk mengadakannya. Sebagai bukti, ketika Islam di- bangkitkandi
fazirah Arabia, perbudakan telah memenuhi dunia Eropa dan disahkan keberadaannya dalam undang-undang selama berabad-abad. Sebelumnya, perbudakan telah tumbuh dengan suburdalam lingkungan masyarakat yang telah maiu, bukan dalam ling- kungan badui (terbelakang) tempat risalah Nabi Muharnmad pertama kali memancarkan cahayanya. Bahkan pada hakikatnya, Islam adalah satu-satunya din yang mencantumkan pembebasan budak dalam sya- riatnya, pada saat syariat ataupun undang-undang buatan manusia lainnya mengajak untuk mewujudkan perbudakan. Agama yahudi, telah memaksa manusia untuk menjadi budak dengan kekerasan dan paksaan. Orang-orang Yahudi, termasuk Zionis, adalah salah satu kaum yang selalu menuduh Islam menganfurkan perbudakan. pada- hal dalam kitab mereka. Perianjian lama, Ishhah 20 Bab Tstdnih tertera pemyataan.
"Bila engkau mendatangi sebuah kota untuk memerangi pendu- duknya, maka hendaknya engkau ajak damai dahulu mereka. Bila mereka menerima, berarti mereka telah membukakan pintu bagi kali- an. Semua bangln yang ada
di
iagat raya ini diciptakan-Nya untuk berkhidmat kepadamu sehingga memudahkanmu. Apabila mereka tidak mau menerima kenyataan itu, bahkan membangkang dan me- merangimu, maka kepunglah mereka. Apabila Tuhanmu menggiring mereka mendekatimu, maka potonglah leher semua kaum lelakinya dengan pedang. Adapun kaum wanitanya, anak-anaknya, serta semua binatang ternaknya adalah untukmu dan kamu jadikan se- bagai hasil r.rmpasan perang. Oleh karena itu, nikmatilah semrn )rang ada di dalam negeri itu sebagai pemberian Tuhanmu,'Demikianlah, sesuai dengan ajarannya, agama yahudi mengha- Ialkan perbudakan dengan kekerasan. Orang yang mengenal karakter Yahudi tidaklah akan merasa heran terhadap kelakuan mereka.
Mereka telah melangkah mendahului bangsa
lain
dalam keahlian menganiaya dan memperbudak manusia. perilaku seperti itu telah kita saksikan ketika pecah pertikaian di palestina.-
- _Ketika 9?tung agama Nasrani, perbudakan masih tetap diperbo- lehkan, tidak dilarang dan tidak dibatalkannya. Bahkan phulus me- merintahkan kepada para budak untuk tetap selalu setia dan taat kepada nnnnya, seperti yang pernah dikhutbahkannya lewat sebuah surat yang dibacakan untuk penduduk Afasis. Isi surat itu antara lain, "Wahai para budak, patuh taatlah kepada tuanmu dengan jasad kalian,sebagaimana rasa hormatmu kepada Al Masih dengan r-itimu.fanganlah kalian berkhidmat dengan niat mencari kerelaan manusia, namun anggaplah diri kalian sebagai budak bagi AI Masih. Lakukan sggalayangtelah dikehendaki Tuhan dengan sepenuh hati. Berbuat- lah seikhlas mungkin sebagaimana kalian mengabdi kepada Tuhan.
Perlu kalian ketahui dengan baik, setiap perbuatan baik kalian pasti akan mendapatkan balasan dari Tuhan, baik yang berbuat kebaikan itu seorang budak ataupun seorang yang merdeka."
Isi
khuthbahitu
merupakan pengakuan secara agama Nasrani terhadap perbudakan. Pengakuanini
tidak hanya bersumber dari khuthbah Paulus saja, Petrus pun pernah mewasiatkan bahwa men- jadi budak adalah merupakan penghapusan dosa yang dilakukan oleh para hamba dari kemurkaan Tuhan Yang Mahaagung.Di samping Yahudi dan Nasrani, berbagai aiaran filsafat Yunani, yang dianggap sebagai induk kebudayaan yang paling tinggi, iuga membolehkan perbudakan. Pemuka-pemuka filosofnya bahkan men- jadi penganjur perbudakan yang paling berpengaruh. Mereka mem- buat undang-undang yang mengatur pemanfaatan perbudakan, )aitu dengan mengadakan budak-budak
untuk
melayani orang-orang cacat,di
samping adanya undang-undang khusus yang mengatur budak-budak sebagai pelayan rumah tangga. Itudua macam budak itu, baik budak untuk kepentingan sosial ataupun untuk keperluan perorangan, hanya mempunyai kewajiban, namun tidak mempunyai hak asasi.Plato, filosof besar yang menciptakan konsep Republik, mengge- napkan pikiran-pikiran kotornya dengan merengguttak asasi para budak sebagai anggota masyarakat atau sebagai penduduk. Ia mem- buat peraturan yang mengharuskan semua budak untuk patuh taat kepada nrannya dalam segala hal. Apabila seorang budak melarikan diri dan berpindah ke tangan majikan lain, maka pemerintah harus membantu untuk menyerahkannya kembali kepada tuannya.
Demikian pula halnya dengan pendapat Aristoteles, mahaguru
fil-
saf,at Yunani, tidak jauh dari pikiran-pikiran Plato. Bahkan Aristote- les beranggapan bahwa memang ada perbedaan martabat manusia.
Menurut pendapatnya, di antara manusia ada yang diciptakan khusus untuk menjadi budak. Ajaran yang serupa juga terdapat dalam ajaran filsafat Hindu. Ajaran filsafat ini menempatkan segolongan manusia sebagai budak. Sekalipun segolongan manusia
itu tidak
disebut budik, tetapi ajaran filsafat tersebut meniadakan hak-hak asasi pada kasta manusia tertentu.Demikianlah,
kita
dapati adanya pelestarian perbudakan pada berbagai $rariat dan ajaran yang bersumber pada kebudayaan T:,lnan lampiu. Bahkan ajaran perbudakan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan Barat modern pada zaman mutakhir, seperti yang masih kita saksikan di Amerika, beberapa negara Eropa, 56dan Afrika Selatan, meskipun dalam benruk yang berbeda. Manusia- manusia yang diperbudak
itu
memangtidak lagi
menjadi mata dagangan yang dapat diperjual-belikan, namun mereka tetap saja tidak memiliki hak-hak asasi sebagai manusia merdeka.Dengan penjelasan-penjelasan di atas, tak dapat dipungkiri lagi, bahwa ajbran Yahudi dan Nasrani melindungi perbudakan, begitu juga halnya dengan ajaran filsafatYunani dan Hindu. Namun, meng- apa mereka justru menuduh bahwa Islamlah agama yang menyeru kepada perbudakan? Padahal Islam ridak menyeru, tidak menganjur- kan, dan tidak mensyariatkan perbudakan. Ketika risalah Muham- mad pertama kali disebarluaskan di Makkah, perbudakan telah terle- bih dahulu merajalela dan menjadi budaya, tidak saja di fazirah Arab, namun juga di kawasan-kawasan lain di dunia. Syariat Islam justru mengatur, mernanusiakan perbudakan, dan memberikan peluang- peluang pembebasan budak, hingga dapat kita katakan bahwa Islam- lah penganjur penghapusan perbudakan, kecuali membiarkan satu jenis 'perbudakan' yang juga diakui dan dibenarkan oleh.peraturan internasional dewasa ini, yaitu adanya tawanari perang. Itu pun jika kita dapat menyebut tawanan perang sebagai budak. Sudah merupa- kan hal yang tak dapat dihindarkan dalam suatu peperangan, adanya tentara yang jatuh ke tangan lawan. Sekalipun demikian, tslam tetap membolehkan pertukaran tawanan perang atau tebusan terhadap para tawanan
perang.
!Aturan lain tentang perbudakan yang diakui lslam, namun tidak dianjurkan dan tidak disyariatkan, bahkan diserukan untuk diha- puskan, adalah perbudakan
dari hasil
warisan turun-temurun.Namun, di samping itu, Islam membuat aturan khusus yang membe-
rikan
hak-hak kepada budak, seperti yang akankita
kurip pada bagian lain dari bab ini.Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang,posisi Islam dalam memandang perbudakan ini, marilah kita perhatikan terlebih dahulu semua jenis perbudakan yang berkembang sebelum turunnya risalah Muhammad, seperti yang tertera di bawah ini:
1.
Tawanan Perang. Mereka kadangkala dibunuh, atau dijadikan sebagai budak, apabila tidak ada yang dapat menebus mereka.2.
Budak yang diperoleh dari penculikan dan perampokan.3.
Budak yang berasal dari orang-orang yang melakukan tindak kejahatan tertentu, seperti mencuri atau memburiuh. Mereka di- jadikan budakuntuk
kemaslahatan negara atau unruk orang yang teraniaya57
4.
Orangyang tidak mampu membayar hutang, kemudian dijadikan Uuda[ btetr masyarakar untuk mengabdi kepada pemberi hutang.5.
Anak dari para orangtua yang fakir miskin yang diiual untuk di- jadikan budak.6.
Orang yang secara suka rela menyerahkan diri begitu saia untuk dijadikhnbudak
dengan mendapat imbalan tertentu, seperti jaminan makan, perlindungan, atau menutup hutang-hutangnya.7.
Anak cucu keturunan para budaklaki-laki ataupun wanita, seka- lipun bapak budak itu orang merdeka.Ketika risalah Muhammad datang, semua ienis perbudakan itu dihapuskan, kecuali dua macam saja, yaitu tawanan perang dan anak keturunan budak, itupun dengan berbagai persyaratan yang sangat terinci. Kedua macam perbudakan itu dalam lslam tidak diakui dan tidak terjadi dengan begitu saja. Tawanan perangmisalnya, bukan berarti setiap tawanan perang dapat dijadikan budak. Dalam pepe- rangan
png
sifatnya bukan syar'i, Islam tidak membenarkan tawanan pering-sem-acam itu dijadikan budak. Peperangan syar'i yang mem- benarkan tawanannya dijadikan budak, mempunyai persyaratan antAra lain: hendaknya pernyataan perang itu dikeluarkan oleh seo- rang khalifah, peperangan itu harus bersifat defensif, untuk mengha- lau-penrbatalair |e4anJian secara sepihak, atau peperangan untuk mengatasi gangguan stabilitas keamanan negara. fika syarat-syaratitu iiaat
teipenutri, maka semua tawanan perang yang ada tidak dapat dijadikan budak. Dengan demikian, dapat disimptlkan bahwatslim
secara bertahap dan sistematis telah menghapuskan perbuda- kan yang telah ada sejak dahulu kala itu.Usahi penghapusan secara sistematis juga dilakukan terhadap jenis budak ying-berasal dari anak-cucu kerurunan budak. Dalam iral ini, Islam menganggap merdeka setiap anak seorang budak lvanita yang lahir aari pemilik budak. padahal, sebelumnya, setiap anak seo-
ian{uuaatteta}
aianggap sebagai budak, siapapun a.y{1ya. setelah seoiang budak wanita melahirkan anak sebagai hasil hubungannya dengan-pemilik budak, maka budak wanita meniadi ummul walad, dan anaknya berstatus merdeka.Untuk menggambarkan posisi Islam dalam masalah perbudakan ini, Dr. Ali Abdul Wahid mengistilahkan, pada satu sisi Islam meng- akui keberadaannya, namun pada sisi lain menghapuskannya secara bertahap, tanpa menimbulkan pergolakan, bahkan tanpa-dirasakan oleh seiiap anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
58
Demikianlah, Islam mengatasi perbudakan ini dengan kebijaksa- naan yang tinggi dan penuh keadilan. Bukankah dapat kita katakan demikian setelah kita mengetahui hakikat perbudakan dalam pan- dangan Islam? Sesungguhnya, siapa saja yang membaca Al eur'an dari awal hingga akhir, sekalipun dengan kesengajaan untuk men- cari kelemahan dan aib yang ada dalam Islam, pastilah tidak akan mendapatkan safu ayat pun
di
dalamnya yang mbnyerukan atau mengajak ke arah perbudakan, seperti yang ada dalam syariat-sya- riat atau undang-undang yang pernah ada dan yang masih berlaku sekarang ini.Marilah kita perhatikan sekali lagi, bagaimana perlakuan ajaran Islam terhadap para budak. Islam mengajarkan perlakuan yang baik terhadap budak, kemudian memberikan jalan menuju kebebasan, dan sekali seorang budak bebas merdeka, maka mereka harus mendapat- kan hak asasi penuh, tidak boleh diingkari atau ditunda-tunda. Seo-
rang budak berhak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari pemilik budak, baik dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan. Seo- rang pemilik budak tidak diperkenankan untuk memanggil budakryra dengan panggilan 'hai budakku!', akan tetapi harus memanggilnya dengan 'hai pemudaku'. Demikianlah ajaran yang selalu diberikan Rasulullah kepada para sahabatnya yang memiliki budak.
Upaya pembebasan budak tidak hanya dilakukan semasa hidup Rasulullah saja, namun sepeninggalnya pun, para khalifah tetap memperjuangkan upaya itu. Ucapan Umar bin I(haththab, khalifah kedua,
png
merupakan pemyaaan tekad penghapusan perbudakan, sangat termasyhur. Ucapan itu adalah, "Sejak kapan engkau mem- perbudak manusia, padahal mereka dilahirkan ibunya merdeka?"Itulah sikap Umar yang luhur. Dialah salah seorangyang tidak tinggal diam menghadapi perbudakan. Dialah orangyang ingin selalu tampil sebagai pelopor mewujudkan perintah dan aiaran Rasulullah. Dan sikap iru tidak hanya sebatas kata-kata, ia membuktikan yang di- imaninya dalam seluruh perbuatannya. Ia memperlakukan budaknya lebih baik dari perlakuannya kepada anaknya sendiri.
Ketika Umar pergi ke Baitul Maqdis untuk menerima penyerahan wilayah dari Patrik,
ia
menunggangi untanya bergantian dengan budaknya. Ketika telah mendekati Baitul Maqdis, sedanggiliran urtuk menunggangi unta jatuh pada budaknya, dengan tanpa merasa segan ataupun angkuh,ia
menghendaki budaknya tetap mendapatkan gilirannya menunggangi unta, sekalipun pada awalnya budaknya menolak. tvtaka khalifah umat Islamitu
memasuki Baitul Maqdis 59dengan berjalan kaki menuntun unta yang ditunggangi budakn-ya.
iada kesempatan lain, Umar melewati sebuah kampung. Dilihat- nya sekelompok orang sedang bergerombol makan bersama dengan membiarkan-budak-budak mereka menunggu dari kejauhan. Umar sangat gusar melihat hal itu. Ia segera menegur para-pemilik pu{ak- budak i-nr, "Tidaklah berhak bagi suatu kaum membiarkan budak- budaknya merasa
iri
(karerra melihat orang maka!)." Umar lalu me- merinta-hkan semua budak yang menunggu untuk makan bersama- sama dengan tuannya dalam satu hidangan.Suatu ketika Ibnu Mas'ud Al Badri mencambuk budaknya dengan cemeti, tiba-tiba ia mendengar suara dari belakangnya, "Ketahuilah wahai
lbnu
Mas'ud." Namunlbnu
Mas'udtidak
memperhatikan teguran itu. K€tika orang yang meneguritu
mendekat, barulah di- sadarinya bahwa yang meneguriru
adalah Rasulullah. Kemudian nasulullah mengatakan, "Ketahuilah wahai lbnu Mas'ud, sesung- guhnya AllahEbih
mampu untuk berbuat demikian terhadapmuiaripiaa
yang engkau perbuat terhadap budakmu." Ibnu Mas'ud seg&a menyahut, ;oemiAllah, aku tidak akan mencambuk seorang budak pun sesudah ini."Islam benar-benar menjaga dan menyucikan hak asasi para budak, sebagaimana Islam menjaga hak asasi manusia yanq merdeka. Tidak ada iatu syariat pun selain Islam yang memberikan hak kepada para budak unluk m6hngsungkan perkawinan atau membentuk rumah tangga, sebagaimani lazimnya manusia merdeka. Pada syariat-lain, petflaluran hasrat biologis antara budak laki-laki dengan budak pe- iempuan tak ubahnya seperti yang t€riadi pada binatangternak, yakni menurut kemauan pemilik budak. Budak-budak
itu
diberikan ke- sempatan untuk menyalurkannya jika majikannya menganggap perluuntuk memperbanyak keturunan budak yang dimilikinya. Seorang laki-laki yang merdeka terlarang menikahi budak wanita dan seba- liknya,
*anita
merdeka terlarangdinikahi
budaklaki-laki.
Bila larangan itu dilanggar, maka hukuman berat akan dijatuhkan, bah- kan dapat pula di[enakan hukuman mati. Namun, syariat Islam membeiikan hak asasi seorang budak sebagai manusia. Ajaran lslam memperkenankan budak laki-laki mengawini budak wanita, bahkan tak tdrhrang untuk mengawini wanita merdeka; atau seorang budak wanita bole"h dinikahi budak laki-laki dan juga diperkenankan di- nikahi laki-laki merdeka, dengan izin pemilik budak. Dengan ke- nyataan itu, berarti Islam telah melindungi budak dari penganiayaanlihir
maupun batin, di samping telah menfaga kehormatan mereka 60sebagai manusia. Bahkan lebih dari itu, Islam pada setiap kesem- patan selalu menganjurkan
untuk
membebaskan budak. pembe- basan budak diiadikan syarat atau cara penebusan terhadap kesa- Iahan tertentu atau sebagai pengampunan dosa atau suatu kesalahan yang tidak disengaja. Marilah kita perhatikan ayat-ayat berikut:mu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia meng- hukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu seng4ja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu beri- kan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak ...." (AI Maidah Bg)
"... dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman, serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarga- nya (si terbunuh itu), kecualijika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (siterbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahalia mukmin, maka hendaklah (sipembunuh) memerde- kakan budak yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum kafir yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan budak yang mukmin ...." (An
Ni*a'92)
,Bagi siapa saja yang melakukan kesalahan seperti yang tercantum dalam ayat tersebut, sedang dia tidak memiliki budak, maka ia harus membeli budak untuk dimerdekakan, apabila ia mampu untuk mem- belinya.
lelaslah, bahwa Islam telah membuka lebar{ebar semua pintu menuju pembebasan budak. Kesempatan sekecil apa pun dimanfaat- kan dengan baik demi kemaslahatan para budak, salah satu contoh- nya adalah,
bila
seorang pemilik budak mengucapkan kata-kata6t
yang dapat dipahami sebagai maksud untuk membebaskan budak' iruifl
ai"."pkan
secarataiat
ataupun tidak, baik dengan maksudu"rrf
meniUeUastan budaknya ataupun tidak, baik secirra s.ngguh-'ungg"t. ut,,pun
tidak, ma-ka merdekalah budakitu.
lslam jugat .,ffiiit rini,un
setiap budak membeli kemerdekaan dirinya darip.*iiit firaii.
g1u telah teriaditesepakatan antara seorang budak dengan tuannya mengenailumhh
dgb.uTn dan waktunya' makaUrdit in
harus diberii.,esem'paan melakukan usaha mengumpulkan[urt"
r.U"gui tebusan kemeidekaan dirinya_ sebagaimana. layaknya orrne merdeka bemiaga. Islam memperkenankan para budak berniagaffi4ffi;;-,u;tliufii,
yang dalam istilah ilmu hqih disebut muka- tabah.-- -
balam ajaran tslam, pembebasan budak dianggap sebagai salah satu amal r.iuail<an yang
tings
nilainya. Pelakunya dijaniikan pattala vane besar, dan terpuli-di sisi Allah. Pahala yang_besar seringkalifiUirai"g*n
dengian pahala pembebasan budak, sebagaimana;;"y;k ;k"Ii
kitajumpii
dalarn ucapan-ucapan Rasulullah seperti,'/Gf"{r11:'6it'ry){,#f
}r$'iii{S*'ii
-BarangsiapayangberbuatbeginimakapahalanyadisisiAllah
adalah seuigaimana pahala seorang yang membebaskan budak"
Syariat Islam telah mengatul sedemikian rapi dan sistematis.segala
*rrit
ying mendorong tirbukany-a-kesempaan pemlebaryn budak'
rrri*tnyi,
bila seorangfemilik budak yenqucapfan kata-kata yang In"niu".,alrrg arti was"iai pembebasan bagibudaknya, maka hal itut;;i
meru"pakan suatulaminan bagr budak unruk menjadilebas merdeka Uegitu tuannya meninggal. Dan seiak s3at pemilikbudak itu;;grapdn
wasiat-itu hingg;iia menemui aialnya, maka pemilik budik tidak diperbolehkan untuk menjual budaknya itu, atau Teng-hib"hkilra
'kepada oranglain, atau
meniadikannya sebagaiiu*inun
rclbutu,"ttu
perbuitan apa pun yang dapat menghambat pembebasan budak.Bila budak perempuan melahirkan (dari hasil hubungan dengan