BAB 12: PARADIGMA DAKWAH KULTURAL
B. Al-Qur’an dan Hadis Sebagai Sumber Utama Materi Dakwah
86 A. Pendahuluan
Materi dakwah menjadi pokok bahasan yang penting untuk dipahami oleh setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Ilmu Dakwah. Materi ini menjadi bagian yang tidak terpisah dari materi lainnya seperti subjek dakwah (dai), penerima dakwah (mad’u ), media dakwah, dan unsur-unsur lainnya dalam dakwah Islam. Pada bagian ini dijelaskan tentang eksistensi materi dakwah, yang di dalamnya dibahas beberapa topik seperti; pentingnya materi dakwah, syarat materi dakwah yang baik, dan teknik penyampaian materi dakwah, serta materi dakwah yang responsif gender.
87
sahabat-sahabat seperti Ali bin abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Akhirnya pada masa pemerintahan Utsman, khalifah ke tiga, teks definitif yang didasarkan pada salinan-salinan awal dan konfirmasi dari orang-orang yang pernah mendengar ayat-ayat itu dari Nabi sendiri, disalin dan dikirim ke empat penjuru dunia Islam.
Dengan demikian teks al-Qur’an bukan didasarkan pada periode pengumpulan yang lama dan penafsiran manusia. Sebaliknya, al-Qur’an adalah kalam Allah aktual yang diwahyukan kepada rasulnya. Konsekwensinya, bukan hanya makna al-Qur’an tetapi juga bentuk dan semua yang berkaitan dengan al-Qur’an adalah suci. Kata-kata yang ditulis sebagai kaligrafi, suara dari ayat-ayat yang dilantunkan, fisik dari kitab itu, dan pesan yan terkandung di dalamnya adalah suci.127
Al-Qur’an adalah wahyu yang disampaikan melalui suara. Sifat kesucian dari al-Qur’an dapat menimbulkan pesona spiritualitas bahkan dalam diri orang yang tak mengerti bahasa Arab. Sifat kesucian ini terpancar melalui penghalang bahasa manusia dan dirasakan oleh kaum muslimin non Arab. Kehadiran al-Qur’an melalui suara, dirasakan secara instingtif oleh manusia yang bertakwa. Akibatnya ia menemukan kenyamanan dan perlindungan bahkan dalam wujud fisik kitab itu sendiri.128 .
Kemuliaan al Qur’an juga terindikasi dari tidak ada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulisan baca 5000 tahun yang lalu yang dapat menandingi al- Qur’an. Ia dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya atau tidak dapat menulis aksaranya bahkan dihafal huruf demi huruf oleh orang dewasa remaja dan anak-anak. Al-Qur'an yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosa katanya, tapi juga kandungan yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkan. Tata cara membacanya diatur sedemikian rupa, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, di mana tempat terlarang atau boleh atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan irama nya sampai kepada etika membacanya.129
Kemukjizatan dan kesucian al-Qur’an ini diuraikan Quraish Shihab dalam bentuk kosa kata dalam al-Qur’an yang berjumlah 77.439 kata dan 323.015 huruf yang seimbang jumlah kata-katanya, baik antara kata dan pandanannya, maupun
127Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam (Bandung: Mizan, 2003)., 4.
128Ibid.,7.
129Quraisy Syihab, Wawasan Al-Qur’an... 4.
88
kata dengan lawan kata dan dampaknya.130 Mengulang-ulang membaca ayat al- Qur’an menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, menambah kesucian jiwa dan kesejaheraan lahir.
Al-Qur'an diturunkan untuk menjadi pegangan bagi mereka yang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia diturunkan untuk seluruh manusia dan untuk sepanjang masa. Dalam al-Qur’an, Allah menerapkan kaidah-kaidah syariat serta hukum-hukumnya tidak berubah-ubah karena perubahan massa dan tempat.
Tidak ada khilaf sedikitpun di antara umat Islam, bahwa Al-Qur’an merupakan pokok asasi bagi syariat Islam dan juga sebagai sumber utama materi dakwah. 131
Bila umat Islam sepakat tentang keorisinilan al-Qur’an, maka tidak demikian dengan tafsir atas al-Qur’an. Makna teks (tafsir) tergantung pada orang yang memaknai, sehingga dalam makna teks ini tak luput dari bias termasuk didalamnya bias gender. Nasaruddin Umar mencatat setidaknya ada 10 macam bias dalam penafsiran al-Qur’an yaitu pembakuan tanda huruf, tanda baca dan qiro’ah, pengertian kosakata (mufrodat), menetapkan rujukan kata ganti (dhomir), penetapan batas pengecualian (istisna’), penetapan arti huruf athaf, bias dalam struktur bahasa Arab, bias dalam terjemah al-Qur’an, bias dalam metode tafsir dan pengaruh riwayat israiliyat dan bias dalam pembakuan dan pembukuan kitab-kitab fiqih132
Pedoman kedua bagi para juru dakwah dalam menjalankan tugasnya yaitu hadis nabawi. Menurut bahasa, hadis berarti; jadid lawan qodim yang berarti baru, dekat atau warta.133 Menurut Ahli hadis, hadis adalah segala perkataan Nabi, perbuatan, dan hal ikhwalnya. Menurut yang lain, segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik perkataan, perbuatan maupun ketetapannya.134
130Ibid..4.
131A. Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al Qur’an(Jakarta: Bulan Bintang, 1994). 201.
132Nikmatullah, Pengantar Studi Gender (Mataram: LKIM IAIN Mataram, 2005).,150
133M. Hasby Ash shiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 1954) cet. IV.,20
134Munzir Suparta dan Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadits (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996)., cet. II., 2. Menurut para ahli hadis (muhadisin) bahwa sunnah dan hadis mempunyai pengertian yang sama. menurut mereka bahwa sunnah yaitu segala yang dinukilkan dari nabi baik perkataan perbuatan taqrib, pengajaran, sikap, sifat ataupun perjalanan hidup baik sebelum maupun sesudah diutus, sedangkan hadis yaitu sema ucapan Rasul, perbuatan dan keadaannya di mana termasuk di dalamnya keadaan yang diriwayatkan dalam kitab sejarah seperti halnya kelahirannya, tempat dan segala yang bersangkut dengan itu baik sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul. Lihat, A.
Hasjmy, Dustur Dakwah menurut Al- Quran (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1994),198.