BAB 12: PARADIGMA DAKWAH KULTURAL
C. Pendekatan Dakwah: Kesetaraan dalam Perbedaan
81 justru harus disyukuri.
82 dan perempuan ketika menuntut ilmu.
Amat banyak ayat al-Qur’an dan hadis Nabi yang berbicara tentang kewajiban belajar, baik kewajiban tersebut ditujukan kepada laki-laki maupun kepada perempuan. Bahkan para perempuan di zaman Nabi menyadari benar kewajiban ini sehingga mereka memohon kepada nabi agar beliau bersedia menyisihkan waktu tertentu dan khusus untuk mereka agar dapat menuntut ilmu pengetahuan.
Permohonan ini tentu saja dikabulkan oleh Nabi. Al Qur’an memberikan pujian kepada ulul al-bab yang berdzikir dan memikirkan kejadian langit dan bumi, zikir dan pemikiran menyangkut hal tersebut mengantarkan manusia mengetahui rahasia- rahasia alam raya. Mereka yang dinamai ulul al-bab tidak terbatas pada kaum laki- laki saja melainkan juga kaum perempuan, hal ini terbukti dari lanjutan ayat di atas yang menguraikan tentang sifat-sifat ulul al-bab. Al-Qur’an menegaskan
اورجاه نيذلاف ضعب نم مكضعب ىثنا وا ركذ نم مكنم لماع لمع عيضا لا ىنا مهبر مهل باجتساف ىرجت تانج مهنلخدلأو مهتائيس مهنع نرفكلأ اولتقو اولتاقو ىليبس ىف اوذواو مهرايد نم اوجرخأو هدنع اللهو الله دنع نم اباوث راهنلأا اهتحت نم باوثلا نسح
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman)
“sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) sebagian yang lain. Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan terbunuh pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti aku masukkan mereka ke dalam surge-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah.
Dan di sisi Allah ada pahala yang baik”. (QS Ali Imran: 195).
Ini berarti bahwa kaum perempuan dapat berpikir, mempelajari dan kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati setelah berdzikir kepada Allah serta apa yang mereka ketahui dari alam raya ini. pengetahuan tentang alam raya tentu berkaitan dan berbagai disiplin ilmu sehingga dari ayat ini dapat dipahami bahwa perempuan bebas untuk mempelajari apa saja sesuai dengan keinginan dan kecenderungan masing-masing.117
Seorang dai juga dituntut untuk memberikan kesempatan yang sama untuk mengemukakan pendapat dari mitra dakwahnya baik laki-laki maupun perempuan.
117M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2000).307-308.
83
Menyampaikan pendapat merupakan hak setiap orang118 tetapi Islam mengatur bagaimana menyampaikan pendapat yang baik. Ada beberapa term yang digunakan Al-Qur’an dalam menyampaikan pesan, term ini tidak hanya berlaku untuk dai dalam proses penyampaian dakwahnya tetapi juga merupakan panduan mad’u dalam memberikan respon terhadap apa yang disampaikan dai. Pertama, Qaulan Baligha yang bermakna perkataan yang membekas dalam jiwa, kedua, Qaulan layyinan yaitu perkataan yang lembut, ketiga, Qaulan ma’rufa yang bermakna perkataan yang baik., keempat, Qaulan maisuro yaitu perkataan yang ringan dan yang kelima, qaulan karima, yaitu perkataan yang mulia.119 Terminologi yang digunakan al-Qur’an idealnya menjadi panduan komunikasi dalam proses dakwah, penempatan setiap perkataan yang tepat tentu harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi dalam proses dakwah tersebut.
Mitra dakwah baik laki-laki dan perempuan memiliki hak untuk mengaktualisasikan dirinya120 dalam ranah agama. Aktualisasi diri dimaknai sebagai kebutuhan memenuhi keberadaan diri dengan memaksimalkan pengembangan potensi yang dimiliki dalam setiap aspek kehidupan. Konsep aktualisasi diri tersebut berasal dari konsep Abraham Maslow yang merupakan pencapaian tertinggi seorang manusia.121 Tentang potensi manusia, al-Quran menyatakan bahwa manusia memiliki potensi kebaikan dan keburukan walaupun pada dasarnya potensi kebaikan manusia jauh lebih besar dari potensi keburukan.122
Hak mendapatkan pengetahuan, informasi agama dari dai dan kesempatan
118 Lihat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28E ayat (3) dan Undang –Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.
119Munzier Suparta (edt), Metode...159-169.
120Dalam perspektif psikologi, aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan manusia.
Yaitu kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan diri, menyadari dan mengembangkan potensi yang ia miliki. Abraham Maslow membagi kebutuhan manusia secara bertingkat dari yang paling dasar ke kebutuhan tertinggi, kebutuhan-kebutuhan manusia antara lain: kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hisup secara fisik, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan akan penghargaan, kebutuhan kognitif, kebutuhan estetika berupa kebutuhan keserasian, keindahan dan terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri. Lihat Rita Atkinson, et.al, Introduction to Psychology., alih bahasa Nurjannah Taufik, (Jakarta: Erlangga, 1983).54
121Maslow mengajukan teori tentang hierarchy of needs. Kebutuhan-kebutuhan manusia adalah, pertama, kebutuhan-kebutuhan fisiologis, kedua, kebutuhan akan rasa aman, ketiga, kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki keempat, kebutuhan akan penghargaan dan yang terakhir kebutuhan akan aktualisasi diri. Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: CV Andi offset, tt).91
122 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an….244
84
yang sama biasanya dapat dilihat dalam proses dakwah bil lisan dan dakwah jam’iyah sedangkan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri bagi mad’u mengambil bentuk dakwah bil hal.
Rangkuman
Mad’u yang disebut juga mitra, sasaran dan objek dakwah merupakan orang yang menerima pesan dakwah. Mad’u meliputi seluruh umat manusia, yang dapat terklasifikasi dalam berbagai aspek. Laki-laki dan perempuan merupakan klasifikasi mad’u dilihat dari sisi jenis kelamin dan masing-masing mitra tersebut memiliki karakteristik sendiri (peran gender) yang dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya di mana mad’u itu hidup.
Pendekatan dakwah yang dilakukan untuk mad’u baik laki-laki dan perempuan adalah memberikan hak yang sama dalam hal mendapatkan informasi agama (materi dakwah), mengemukakan pendapat (respon terhadap materi dakwah) dan aktualisasi diri mad’u.
Penugasan
1. Mahasiswa/Mahasiswi mendapat tugas menyusun resume terkait mad’u.
2. Mahasiswa/Mahasiswi mendapat tugas membuat makalah sesuai dengan tema mad’u dengan perspektif gender.
3. Mahasiswa/Mahasiswi mempraktekkan ceramah di kelas dengan mad’u laki-laki dan perempuan.
85 BAB VI
MADDAH: MATERI DAKWAH
Kemampuan Akhir:
Mahasiswa-mahasiswi mampu menjelaskan substansi materi dakwah, menyebut pokok-pokok materi dakwah, menjelaskan teknik penyampaian materi dakwah serta menyebut contoh materi dakwah yang responsif gender.
Indikator:
1. Kesesuain menjelaskan makna materi dakwah.
2. Ketepatan menyebut pokok-pokok materi dakwah.
3. Kesesuaian menjelaskan teknik penyampaian materi dakwah.
4. Ketepatan menerapkan materi dakwah yang responsif gender.
86 A. Pendahuluan
Materi dakwah menjadi pokok bahasan yang penting untuk dipahami oleh setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Ilmu Dakwah. Materi ini menjadi bagian yang tidak terpisah dari materi lainnya seperti subjek dakwah (dai), penerima dakwah (mad’u ), media dakwah, dan unsur-unsur lainnya dalam dakwah Islam. Pada bagian ini dijelaskan tentang eksistensi materi dakwah, yang di dalamnya dibahas beberapa topik seperti; pentingnya materi dakwah, syarat materi dakwah yang baik, dan teknik penyampaian materi dakwah, serta materi dakwah yang responsif gender.