• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profesionalisme Dai-daiyah dalam Dakwah

Dalam dokumen BUKU ILMU DAKWAH.pdf (Halaman 65-69)

BAB 12: PARADIGMA DAKWAH KULTURAL

C. Profesionalisme Dai-daiyah dalam Dakwah

1. Profesionalisme Dai

a. Pengertian Profesi

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa “suatu pekerjaan yang diserahkan pada seseorang bukan profesinya, maka tunggulah suatu kehancuran” (H.R. Bukhari).94

Profesi pada hakikatnya adalah sikap yang bijaksana yaitu pelayanan dan pengabdian yang dilandasi oleh keahlian, kemampuan, teknik dan prosedur yang mantap diiringi sikap kepribadian tertentu.

Volmers dan Milles, Mc Cully, dan Diana W. Kommers mereka sama-sama mengartikan bahwa pada dasarnya profesi adalah sebagai suatu spesialisasi dari jabatan intelektual yang diperoleh melalui studi dan training, bertujuan menciptakan keterampilan, pekerjaan yang bernilai tinggi, sehingga keterampilan dan pekerjaan itu diminati, disenangi oleh orang lain, dan dia dapat melakukan pekerjaan itu dengan mendapat imbalan berupa bayaran, upah, dan gaji.

Berbagai pengertian profesi di atas menimbulkan makna, bahwa

Nomor 02, Desember 2012 Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel - Asosiasi Profesi Dakwah Islam Indonesia. 2.

93 Abdul Basit, Dakwah Cerdas di Era Modern, dalam Jurnal Komunikasi Islam | ISBN 2088-6314 | Volume 02, Nomor 02, Desember 2012 Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel - Asosiasi Profesi Dakwah Islam Indonesia.1.

94 Martinis Yamin, Sertifikasi profesi Keguruan di Indonesia(Ciputat: Reperensi (GP Press Group), 2013),19.

66

profesi yang disandang oleh seorang khatib, adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, keahlian, untuk menciptakan masyarakat yang memiliki prilaku sesuai dengan yang diharapkan.95

b. Pengertian Profesional

Terkait dengan professional Komarudin mengemukakan bahwa professional berasal dari bahasa latin yaitu “profesi”, pekerjaan, keahlian, jabatan. Sedangkan kamus besar Bahasa Indonesia mengatakan bahwa profesional adalah orang yang melakukan dengan menerima bayaran; lawan dari amatir. Artinya, profesional adalah kata benda lawan dari amatir, sebagai aplikasi pada seseorang yang menerima pembayaran dari kegiatan yang dilakukan dalam tugasnya.

Adapun menurut Jarvis menjelaskan professional dapat diartikan bahwa seseorang yang melakukan suatu tugas profesi juga sebagai seorang ahli apabila dia secara spesifik memperolehnya dari belajar. Langford, Glenn mengatakan bahwa seorang professional walaupun melakukan pekerjaan atau tidak selalu bertindak sebagai pelaku untuk kepentingan profesinya dari pada sebagai agen untuk yang lain.

Jabatan profesi juga sebagai seorang ahli melaksanakan tugas atau dasar kaidah keilmuan secara objektif, bukan atas dasar pesanan pihak-pihak tertentu yang berkepentingan.

c. Profesionalisme

Profesionalisme berasal dari kata professionyang menunjukkan pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab dan kesetiaan terhadap profesi. Suatu profesi secara teoretik tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau dipersiapkan untuk itu.96

Freidson menjelaskan bahwa profesionalisme adalah sebagai komitmen untuk ide-ide profesional dan karir. Profesionalisme tidak dapat dilakukan atas dasar perasaan, kemauan, pendapat, atau semacamnya tetapi benar-benar

95Ibid.,19-21.

96 Dedi Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru (Yogyakarta: Adicitra Karya Nusa, 2000) 95.

67

dilandasi oleh pengetahuan semacam akademik.97

Profesionalisme berarti suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang mana keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan khusus.

Terdapat persyaratan yang harus dipenuhi dalam tugas profesional sebagai mana dikemukakan oleh Houton sebagai berikut:

1) Menguasai seperangkat ilmu pengetahuan yang sistematis dan kekhususan (spesialisasi).

2) Harus dapat membuktikan skill yang diperlukan masyarakat di mana kebanyakan orang tidak memiliki skill tersebut, yaitu skill sebagian merupakan pembawaan dan sebagian merupakan hasil belajar.

3) Memenuhi syarat-syarat penilaian terhadap penampilan dalam pelaksanaan tugas dilihat dari segi waktu dan cara kerja.

4) Harus mempunyai kemampuan sendiri untuk tetap berada dalam profesinya selama hidupnya, dan tidak menjadikan profesinya sebagai batu loncatan ke profesi yang lainnya.

5) Harus dapat mengembangkan teknik-teknik ilmiah dari hasil pengalaman yang teruji.98

Jadi profesionalisme tidak lain adalah merupakan seperangkat alat atau bekal yang sangat dibutuhkan bagi seorang da’i-da’iyah yang akan menunjang kesuksesan atau keberhasilannya dalam menjalankan tugasnya sebagai salah satu juru dakwah.

Teori Heath and Heath tentang bagaimana upaya ‘menancapkan’ pesan agar dapat tetap bertahan di benak audiens. Mereka mengembangkan prinsip Succes yang dengan sengaja saya tambahkan satu huruf “S” lagi untuk menyempurnakan kata itu “Success”. Succes adalah singkatan dari Simple, Unexpected, Concrete, Credible, Emotional dan Story yang kemudian ditambahkan satu “S”, yaitu: Stay Focus, sehingga lengkap menjadi Success.99Sedangkan untuk meningkatkan kapasitas di bidang public speaking terdapat pula modul-modul yang akan memperkuat kompetensi peserta, yaitu: the entertaining speaker, speaking to

97Syaipul Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer (Bandung: Alfabeta, 2006) 195- 199.

98 Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2009)158.

99Heath, Chip and Dan Heath. 2007, Made to Stick: why some ideas survive and others die, Random House, New York, NY

68

inform, public Relations, The Discussion Leader, Specialty Speeches, Speeches by Management, The Professional Speaker, Technical Presentations, Persuasive Speaking, Communicating on Television, Storytelling, Interpretive Reading, Interpersonal Communication, Special Occasion Speeches dan Humorously Speaking.

Dalam Pedoman Dakwah yang disusun oleh Majelis Ulama Indosenia Pusat, tercantum secara spesifik kompetensi dai-da’iyah atau pelaku dakwah sebagai berikut:

1. Integritas dan Kualitas Dai setidak-tidaknya meliputi hal-hal sebagai berikut:

a) Kualitas Qalbu: kematengan psikologis dan spiritual.

b) Kualitas Lisan: Kompetensi dalam penggunaan lidah dan pengendaliannya dalam bertutur kata yang baik, benar, halus, lembut, tepat, efektif dan efesien.

c) Kualitas keilmuan: khusus Dai muballigh harus memiliki kompetensi dai dari aspek keilmuan normatif dan praktis aplikatif, seperti penguasan dalil dari al-Qur'an dan hadis, serta bacaan (tilawatan), pemahaman (fahman), praktek keseharian (tathbiqan).

d) kualitas Jasmani: kondisi jasmani yang sehat, prima, energik dan penuh vitalitas.

e) kualitas ekonomi: kualitas ekonomi yang mumpuni, dan berdikari karena kelemahan aspek ekonomi akan menjadi kendala di bawah.

f) kualitas sosial: kompetensi komunikasi yang baik secara vertikal, horizontal, dan diagonal sesama manusia.100

2. Di antara kompetensi yang harus dimiliki oleh pelaku dakwah atau dai dan daiyah adalah sebagai berikut:

a. Kompetensi tabligh:

1) Kemampuan mengkondisikan objek dakwah.

2) Menguasi sistematika penyampaian, intonasi dan aksentuasi.

3) Memahami kebutuhan objek dakwah.

4) Percaya diri dan peka terhadap situasi dan kondisi dan

5) Kemampuan menampilkan karakter dan nilai jiwa.

100 KH. Ma'ruf Amin, Pedoman Dakwah Komisi Fatwa MUI se-Indonesia, Diitetapkan pertanggal 5 September 2017- 13 Zulhijjah 1438 M. 8-10

69 b. Kompetensi Irsyad.

1) Kemampuan menjaga dan memelihara kadar intelekrtual, emosional dan spiritualitas.

2) Kemampuan menguasai komunikasi dua arah dan memahami serta menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh objek dakwah,

3) Kemampuan membedakan karakter objek dakwah.

c. Kompetensi Mudabbir

1) Berjiwa besar dan amanah.

2) Berkepribadian santun dan rendah hati.

3) Berwawasan luas dan berdedikasi tinggi.

4) berjiwa pemimpin (leadhership) dan berorientasi penyelesaian masalah.

d. Kompetensi Muthawwir.

1) kemampuan berinteraksi dan bergaul di tengah masyarakat.

2) kemampuan membaca kebutuhan masyarakat dan membuat konsep penyelesaiannya, dan

3) kemampuan mempertahankan karakter positif dan kredibilitas di tengah masyarakat.

4) Kompetensi Mudabbir.

5) kemampuat merawat,mengasah, mengasuh, mengayomi kebutuhan spiritual dan keilmuan pribadi objek dakwah.

6) kemampuan menjadi pengasuh dan suri tauladan bagi masyarakat.

7) kemampuan mengevaluasi dan memonitor perkembangan dakwah.

8) kemampuan kaderisasi pelanjut estafet dakwah di kalangan keluarga dan masyarakat.101

Dalam dokumen BUKU ILMU DAKWAH.pdf (Halaman 65-69)