2. BANGUNAN PENGUKUR DEBIT
2.3 Alat Ukur Romijn
Pintu Romijn adalah alat ukur ambang lebar yang bisa digerakkan untuk mengatur dan mengukur debit di dalam jaringan saluran irigasi. Agar dapat bergerak, mercunya dibuat dari pelat baja dan dipasang di atas pintu sorong Pintu ini dihubungkan dengan alat pengangkat.
2.3.1 Tipe-tipe alat ukur Romijn
Sejak pengenalannya pads tahun 1932, pintu Romijn telah dibuat dengan tiga bentuk mercu (Gambar 2.8), yaitu :
(i) bentuk mercu datar dan lingkaran gabungan untuk peralihan penyempitan hulu (Gambar 2.8A)
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 (ii) bentuk mercu miring ke atas 1-?5 dan lingkaran tunggal
sebagai peralihan penyemplitan (Gambar 2.8B)
(iii) bentuk mercu datar dan lingkaran tunggal sebagai peralihan penyempitan (Gambar 18C}.
Mercu horisontal & lingkaran gabungan:
Dipandang dari segi hidrolis, ini merupakan perencanaan yang baik. Tetapi pembuatan kedua lingkaran gabungan sulit, padahal tanpa lingkaran-lingkaran itu pengarahan air di atas mercu pintu bisa raja dilakukan tanpa pemisahan aliran.
Mercu dengan kemiringan 1:25 & lingkaran tunggal :
Vlugter (1941) menganjurkan penggunaan pintu Romijn dengan kemiringan mercu 1:25. Hasil penyelidikan model hidrolis di laboratorium yang mendasari rekomendasinya itu tidak bisa direproduksi lagi (Bos 1976}. Tetapi dalam program riset terakhir mengenai mercu berkemiringan 1:25, kekurangan-kekurangan mercu ini menjadi jelas :
- Bagian pengontrol tidak berada di atas mercu, melainkan di atas tepi tajam hilirnya, di mana garis-garis aliran benar-benar melengkung. Kerusakan terhadap tepi ini menimbulkan perubahan pada debit alat ukur.
- Karena garis-garis aliran ini, batas moduler menjadi 0,25:
bukan 0,67 seperti anggapan umumnya. Pada aliran tenggelam H2/H1 = 0,67, pengurangan dalam aliran berkisar dari 3% untuk aliran rendah sampai 10% untuk aliran tinggi (rencana).
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 - Karena mercu berkemiringan 1:25 juga lebih rumit
pembuatannya dibandingkan dengan mercu datar, maka penggunaan mercu dengan kemiringan ini tidak dianjurkan.
Mercu horisontal & lingkaran tunggal: (lihat Gambar 2.9)
Ini adalah kombinasi yang bagus antara dimensi hidrolis yang benar dengan perencanaan konstruksi. Jika dilaksanakan pintu Romijn, maka sangat dianjurkan untuk menggunakan bentuk mercu ini.
2.3.2 Perencanaan hidrolis
Dilihat dari segi hidrolis, pintu Romijn dcngan mercu horisontal dan peralihan penyempitan lingkaran tunggal adalah serupa
dengan alai ukur ambang lebar yang telah dibicarakan dalam Pasal 2.2. Untuk kedua bangunan tersebut, persamaar, antara tinggi dan debitnya adalah:
Q = CdCv 2/3 2/3g bc h11,5 …… (2.4) di mana :
Q = debit, m3/dt Cd = koefisien debit
Cv = koefisien kecepatan datang
g = percepatan gravitasi, m/dt2 (≅ 9.8) bc = lebar meja, m
h1 = tinggi energi hula di atas meja, m di mana koefisien debit sama dengan
Cd = 0,93 + 0,10 H1/L …… (2.5)
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04
dengan
H1 = h1 + v12/2g ...(2.6) di mana :
H1 = tinggi energi di atas meja, m v1 = kecepatan di hulu alai ukur, m/dt
Koefisien kecepatan datang Cv dipakai untuk mengoreksi penggunaan h1 dan bukan H1 di dalam persamaan tinggi energi debit (persamaan 2.4).
2.3.3 Dimensi dan tabel debit standar
Lebar standar untuk alat ukur Romijn adalah 0,50, 0,75,1,00,1,25 dan 1,50 m. Untuk harga-harga lebar standar ini semua pintu, kecuali satu tipe, mempunyai panjang standar mercu 0,50 untuk mercu horisontal dan jari-jari 0,10 m untuk meja berujung bulat.
Satu pintu lagi ditambahkan agar sesuai dengan bangunan sadap tersier yang debitnya kurang dari 160 1/dt.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 Lebar pintu ini 0,50 m, tapi mercu horisontalnya 0,33 m dan jari- jari 0,07 m untuk ujung meja.
Kehilangan tinggi energi AH yang diperlukan di atas alat ukur yang bisa digerakkan diberikan di bagian bawah Tabel A.2-5, Lampiran I Hargaharga ini dapat dipakai bila alat ukur mempunyai saluran hilir segi empat dengan potongan pendek, seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 19. Jika dipakai saluran hilir yang lebih lebar, maka kehilangan tinggi energi sebaiknya diambil 0,4 Hmaks.
Harga-harga besaran debit yang dianjurkan untuk standar alat ukur Romijn diberikan pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Besaran debit yang dianjurkan untuk alai ukur Romijn Standar
Lebar, m H1maks’ m Besar debit, m3/dt
0,50 0,33 0 - 0,160
0,50 0,50 0,030 - 0,300
0,75 0,50 0,040 - 0,450
1,00 0,50 0,050 - 0,600
1,15 0,50 0,070 - 0,750
1,50 0,50 0,080 - 0,900
2.3.4 Papan duga
Untuk pengukuran debit secara sederhana, ada tiga papan duga yang harus dipasang, yaitu :
- papan duga muka air di saluran
- skala sentimeter yang dipasang pada kerangka bangunan - skala liter yang ikut bergerak dengan meja pintu Romijn.
Skala sentimeter dan liter dipasang pada posisi sedemikian rupa sehingga pada waktu bagian atas meja berada pada ketinggian yang sama dengan muka air di saluran (dan oleh sebab itu debit di atas meja nol), titik no] pada skala liter memberikan bacaan pada skala sentimeter yang sesuai dengan bacaan muka air pada papan duga di saluran (lihat Gambar 29).
2.3.5 Narakteristik alat ukur Romijn
- Kalau alat ukur Romijn dibuat dengan mercu datar dan peralihan penyempitan sesuai dengan Gambar 2.8C, tabel debitnya sudah ada dengan kesalahan kurang dari 3%.
- Debit yang masuk dapat diukur dan diatur dengan satu bangunan.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 - Kehilangan tinggi energi yang diperlukan untuk aliran
moduler adalah di bawah 33% dari tinggi energi hulu dengan mercu. sebagai acuannya, yang relatif kecil.
- Karena alat ukur Romijn ini bisa disebut "berambang lebar", maka sudah ada teori hidrolika untuk merencanakan bangunan tersebut.
- Alat ukur Romijn dengan pintu bawah bisa dieksploitasi oleh orang Yang tak berwenang, yaitu melewatkan air lebih banyak dari yang diizinkan dengan cars mengangkat pintu bawah lebih tinggi lagi.
2.3.6 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki alat ukur Romijn - bangunan itu bisa mengukur dan mengatur sekaligus - dapat membilas endapan sedimen halus
- kehilangan tinggi energi relatif kecil - ketelitian baik
- eksploitasi mudah.
2.3.7 Kekurangan-kekurangan yang dimiliki alat ukur Romijn - pembuatannya rumit dan mahal
- bangunan itu membutuhkan muka air yang tinggi di saluran - biaya pemeliharaan bangunan itu relatif mahal
- bangunan itu dapat disalahgunakan dengan jalan membuka pintu bawah
- bangunan itu peka terhadap fluktuasi muka air di saluran pengarah.
2.3.8 Penggunaan alat ukur Romijn
Alat ukur Romijn adalah bangunan pengukur dan pengatur serba bisa yang dipakai di Indonesia sebagai bangunan sadap tersier.
Untuk ini tipe standar paling kecil (lebar 0,50 m) adalah yang paling cocok. Tetapi, alat ukur Romijn dapat jugs dipakai sebagai bangunan sadap sekunder.
Eksploitasi bangunan itu sederhana dan kebanyakan juru pintu telah ter- biasa dengannya. Bangunan ini dilengkapi dengan pintu bawah yang dapat disalahgunakan jika pengawasan kurang.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04