5. BANGUNAN PEMBAWA
8.2 Jalan Inspeksi
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 8. JALAN DAN JEMBATAN
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 8.2.1 Klasifikasi
Semua jalan inspeksi digolongkan sebagai jalan kelas III atau lebih rendah lagi menurut Standar Bina Marga No. 13/1970 (BINA MARGA, 1970b) dan merupakan jalan satu jalur. Untuk jalan-jalan yang berada di bawah wewenang Direktorat Irigasi, Standar Bina Marga telah diperluas lagi menjadi :
Kelas I Jalan nasional (Standar Bina Marga) Kelas II Jalan propinsi (Standar Bina Marga)
Kelas III Jalan kabupaten, jalan desa, jalan inspeksi utama (Standar Bina Marga)
Kelas IV Jalan penghubung, jalan inspeksi sekunder (Standar Bina Marga)
Kelas V Jalan setapak/jalan orang.
Lebar jalan dan perkerasan. untuk jalan-jalan kelas III, IV dan V (yang punya arti penting dalam suatu proyek irigasi) disajikan pada Tabel 8.l.
Jalan Kelas III dengan perkerasan; jalan kelas IV boleh dengan perkerasan (untuk yang lebih penting) atau tanpa perkerasan.
Kelas V umumnya tanpa perkerasan.
8.2.2 Potongan melintang
Tipe-tipe potongan melintang jalan inspeksi disajikan Gambar 8.1a dan 8.1b.
8.2.3 Trase
Jalan inspeksi biasanya dibangun di atas tanggul saluran atau pembuang. Jika ini dianggap tidak ekonomis, jarak maksimum antara jalan inspeksi dan saluran atau pembuang adalah 300 m.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 Kecepatan maksimum rencana bagi kendaraan di jalan ini sebaiknya diambil 40 km/jam. Untuk perencanaan geometri jalan inspeksi, digunakan Standar Bina Marga, (lihat Bina Marga, 1970b)
Tanjakan memanjang maksimum yang diizinkan adalah 7 %.
Jari-jari dalam minimum suatu tikungan jalan inspeksi adalah 5 m.
Tempat lewat atau tempat berputar harus tersedia sekurang- kurangnya tiap 600 m.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04
8.2.4 Pelaksanaan
Ada dua jenis perkerasan yang akan digunakan:
1. permukaan kerikil yang dipadatkan setebal 15 cm.
2. permukaan bitumen diletakkan pada base 15 cm dan subbase 15 - 40 cm.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 (1) Jalan dengan perkerasan kerikil (jalan tahan cuaca)
Penggunaan kerikil alamiah untuk perkerasan setebal 15 cm adalah suatu pemecahan yang paling murah. Bahannya harus sesuai dengan kriteria berikut :
(1) Harga CBR (California Bearing Ratio) tidak boleh kurang dari 20 jika ditentukan berdasarkan kepadatan di lapangan.
(2) Gradasi (menurut. pemadatan 95% Mod. AASHO) harus mengikuti pedoman yang diberikan pads Tabel 8.2.
Apabila jalan dibangun di atas tanggul yang dipadatkan, maka daya dukung tanah dasarnya (tanah yang dipadatkan) biasanya cukup. Akan tetapi jika jalan itu tidak dibangun di atas tanggul yang dipadatkan, maka harga CBR-nya paling tidak 6% pada 95% Mod. AASHO yang dipadatkan di tempat.
Gambar 8.3 menyajikan perkiraan harga-harga CBR tanah di lapangan yang dihubungkan dengan muka air tanah.
(2) Perkerasan dengan bitumen
Jalan inspeksi yang lebih penting yang dilewati oleh cukup banyak kendaraan komersial dapat dibuat dengan lapisan sub base 15 - 40 cm, lapisan base 15 cm dan lapisan permukaan dengan bitumen.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 Tabel 8.3 Perkiraan harga-harga minimum CBR untuk perencanaan tanah dasar di bawah jalan perkerasan yang dipadatkan sampai 95% dari berat isi kering maksimum Proctor (Road Note 31, 1977)
CBR minimum (persen) Kedalaman
muka air tanah dari ketinggian formasi
Pasir non plastis
Lempung pasiran PI = 10
Lempung pasiran PI = 20
Lempung Lanauan PI = 30
Lempung berat
PI > 40 lanau
(PI = Indeks Plastisitas) 0,6 m
1,0 m 1,5 m 2,0 m 2,5 m 3,0 m 3,5 m 5,0 m 7,0 m atau lebih
8 25 25 25 25 25 25 25 25
5 6 8 8 8 25 25 25 25
4 5 6 7 8 8 8 8 8
3 4 5 5 6 7 8 8 8
2 3 3 3 4 4 4 5 7
1 2
lihat catatan 3
CATATAN :
1. Karena harga-harga yang diberikan pada tabel 8.3 merupakan perkiraan saja, maka bilamana mungkin harga-harga CBR tersebut hendaknya dites di
laboratorium, pada kandungan air tanah yang sesuai.
2. Tabel 8.3 tidak dapat dipakai untuk tanah-tanah yang mengandung mika atau zat-zat organik dalam jumlah yang cukup banyak. Tanah demikian biasanya dapat dikenali secara visual.
3. Uji CBR di laboratorium diperlukan untuk tanah dasar yang berupa lumpur murni dengan muka air tanah yang dalamnya lebih dari 1,0 m.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04
Gambar 82 sebaiknya digunakan untuk jalan-jalan kelas III, IV dan V. Apabila harga CBR subgrade 25% atau lebih, maka tidak diperlukan subbase. Biasanya bahan subbase adalah kerikil atau campuran pasir-kerikillempung yang terjadi secara alamiah.
Base yang bagus dan biasa digunakan adalah tipe makadnan ikat- air (water-bound macadam typed Ini dibuat terutama dari kricak (batu-batu pecahan). Tipe macadam ikat-air berupa lapisan-lapisan batu berukuran seragam yang besar nominalnya 37,5 sampai 50 mm. Segera setelah lapisan diletakkan, bahan halus dituang dan disiram dengan air di permukaan agar bahan menjadi padat. Tebal masing-masing lapisan yang dipadatkan tidak boleh kurang dari 6 mm ukuran maksimum, - lebih disukai yang bergradasi baik dan bahan ini harus nonplastis.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04 Bila konstruksi makadam akan dikerjakan dengan tangan, hendaknya dipakai ukuran-ukuran batu yang seragam 10 sampai 15 cm (lihat Gambar 8.3).
Gambar 83 Konstruksi makadam yang disusun dengan tangan
Batu-batu yang lebih besar akan ditempatkan di sepanjang tepi perkerasan.
Rongga dan celah-celah antarbaiu yang ditempatkan pada pondasi diisi dengan batu-batu yang berukuran lebih kecil atau dengan bahan-bahan halus. Kemudian lapisan itu disiram air sampai semua bahan halus dan batu yang lebih kecil bisa masuk. Base batu tersebut dipadatkan dengan mesin gilas (flat wheel roller seberat 8 - 10 ton}
Permukaan makadam ikat-air (WBM) tersebut lalu dilapisi dengan bahan bitumen.
Pelapisan permukaan ini terdiri dari penyemprotan permukaan WBM dengan bahan bitumen yang dicampur dengan agregat mineral seperti pecahan batu, kricak halus atau kerikil dan pasir kasar. Tujuannya adalah untuk membuat alas yang keras dan kedap air dengan agregat, pasir kasar atau batu kricak halus setebal 20 - 10 mm.
Jumlah bahan pengikat dan bahan-bahan aus yang diperlukan di sajikan pada Tabel 8.4.
8.2.5 Pembuang
Pembuangan air di permukaan jalan dan lapisan subbase sangat penting dalam pembuatan jalan perkerasan. Pembuangan air di permukaan dilakukan dengan membuat kemiringan melintang permukaan jalan (1:20), umumnya kemiringan itu menjauh dari tengah jalan, tapi kalau jalan itu terletak di atas tanggul jauh dari air saluran irigasi atau pembuang.
KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04
Pembuangan air di lapisan subbase dan base dapat dilakukan dengan memperpanjang lapisan ini sampai ke parit pembuang atau dengan membuat alur pembuang dari batu pecahan kasar setiap jarak 10 rn- Lebar alur ini harus 0,30 m dengan tinggi 0,15 m.
Batu-batu atau pecahan-pecahan batu di dalam alur pembuang ini harus dilengkapi dengan bahan filter, yakni ijuk.
8.3 Jembatan