BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Analisis Jaringan Kerja Metode CPM (Critical Path Method)
4.4.2 Analisa Penjadwalan menggunakan metode PDM (Percepatan 1) . 47
Gambar 4.4 memperlihatkan jaringan kerja dengan menggunakan metode PDM, dengan masing-masing aksi atau node dihubungkan dengan anak panah (constraints). Seperti kegiatan A terhubung dengan kegiatan D, E, F, G, H, I yang terhubung dengan anak panah (konstrain) yang ditunjukkan pada gambar tersebut, begitulah seterusnya hinga berakhir pada kegiatan Finish serta dilakukan perhitungan maju dan perhitungan mundur. Berdasarkan hasil analisisi dan melakukan perhitungan maju dan perhitungan mundur pada metode PDM, ditentukan lintasan kritis ES = LS, EF = LF, LF – ES = Durasi, maka didapat lintasan kritis pada pekerjaan proyek Jalan Sungai Manggis di Kecamatan Sambutan Kota Samarinda adalah A, B, I, J, J2, K, M1, M3, N1, O, O1, jalur yang tidak kritis yaitu D, E, F, G, H, C, G1, K1, L, M, N, M2, P, Q, R, J1, L1, N2, J2 dan total waktu pengerjaan adalah 217 hari.
4.4.2 Analisa Penjadwalan menggunakan metode PDM (Percepatan 1)
Tabel 4.8 Analisa percepatan 1 menggunakan Metode PDM
No Aktivitas Kode Hari
Aktivi tas Penda
hulu
Aktivi tas Selan jutnya
Konstrain
1
Mobilisasi
A 14 - B -
Cuti Idul Fitri
Sosialisasi, promosi dan pelatihan
Alat pelindung kerja dan alat pelindung diri Asuransi dan perizinan terkait keselamatan konstruksi
2
Ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan konstruksi
B 13 A C,D,E,F FS(1-2)=0
Fasilitas sarana, prasana dan alat kesehatan Rambu dan perlengkapan lalu lintas yang
diperlukan atau manajemen lalu lintas
3 Penyiapan badan jalan C 35 B G FS(2-3)=3
4 Lapis fondasi agregat
kelas A D 20 B G FS(2-4)=8
5 Lapisan pondasi bawah
beton kurus E 63 B G FS(2-5)=0
6
Perkerasan beton semen
Fc 30 F 70 B G FS(2-6)=0
7 Timbunan biasa dari
sumber galian G 47 C,D,E,F H,I,J
FS(3-7)=0, FS(4-7)=5, SS(5-7)=38,
SS(6-7)=38
No Aktivitas Kode Hari
Aktivi tas Penda
hulu
Aktivi tas Selan jutnya
Konstrain
8 Perkerasan telfold batu
gunung H 49 G K SS(7-8)=20
9 Baja tulangan polos
BjTP-280 I 12 G K FS(7-9)=4
10 Baja tulangan sirip BjTP-
280 J 14 G K FS(7-10)=6
11 Beton Struktur Fc 30
Mpa K 14 H,I,J - FS(8-11)=2,
FS(9-11)=4, FS(10-11)=4 Sumber: Analisa 2023
Hasil dari analisa jaringan kerja menggunakan metode PDM yang dilakukan pada percepatan 1 menunjukkan gambaran pekerjaan atau aktivitas kerja yang dilakukan, kode, aktivitas pendahulu (predeccessor), aktivitas selanjutnya (successor) dan durasi kegiatan. Misalnya pada aktivitas pertama yaitu aktivitas dengan kode A dengan total durasi 14 hari tanpa aktivitas pendahulu, tanpa hubungan logika/konstrain dan tanpa nilai Lead/Lag, seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.8, hal ini dikarenakan aktivitas dengan kode A merupakan pekerjaan yang pertama dikerjakan, sedangkan aktivitas selanjutnya (successor) yaitu aktivitas dengan kode B yang memiliki durasi 13 hari.
Pada aktivitas ke empat yaitu aktivitas “lapis fondasi agregat kelas A” dengan kode D yang memiliki durasi 20 hari dengan hubungan logika/konstrain FS (Finish to Start) dan nilai Lead/Lag 8, aktivitas yang mendahului (predeccessor) yaitu aktivitas dengan kode B dan aktivitas selanjutnya (successor) yaitu pekerjaan
“timbunan biasa dari sumber galian” dengan kode G.
Kemudian pada aktivitas ke 11 yaitu aktivitas beton Struktur Fc 30 Mpa dengan kode K memiliki durasi 14 hari, aktivitas pendahulu (predeccessor) yaitu aktivitas dengan kode H, I, J atau aktivitas perkerasan telfold batu gunung dengan hubungan logika/konstrain FS (Finish to Start) dan nilai Lead/Lag 2, baja tulangan polos BjTP-280 dengan hubungan logika/konstrain FS (Finish to Start) dan nilai Lead/Lag 4 dan baja tulangan sirip BjTP-280 dengan hubungan logika/konstrain FS
(Finish to Start) dan nilai Lead/Lag 4, dan aktivitas selanjutnya (successor) tidak ada dikarenakan aktivitas beton Struktur Fc 30 Mpa adalah aktivitas terakhir dan nilai Lead/Lag tidak ada seperti yang ditunjukan pada tabel 4.8.
Nilai Lead/Lag ditentukan dari jarak antara awal/akhir satu aktivitas dan awal/akhir aktivitas lainnya pada Tabel 4.8 dan kemudian dianalisis menggunakan hubungan logika/ambang batas. Namun profesi lain pada Tabel 4.8 juga ditentukan oleh hal-hal yang dijelaskan.Bentuk jaringan pada percepatan 1 dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Gambar 4.5 Diagram jaringan percepatan 1 dengan menggunakan metode PDM
Gambar 4.5 memperlihatkan bentuk jaringan kerja menggunakan metode PDM, dimana setiap aksi atau node dihubungkan dengan anak panah (constraint).
Misalnya, tindakan A dihubungkan ke tindakan B, yang dihubungkan dengan panah (constraint) yang ditunjukkan pada gambar, dan seterusnya hingga diakhiri dengan tindakan K dan penghitungan maju mundur. Berdasarkan hasil analisis, perhitungan maju mundur menggunakan metode PDM mengidentifikasi jalur kritis berlabel ES
= LS, EF = LF, LF - ES = Durasi, maka didapat lintasan kritis pada pekerjaan proyek jalan Sungai Manggis, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda adalah A, B, C, E, F, G, H, J, K, sedangkan jalur yang tidak kritis yaitu D, I total waktu pelaksanaannya adalah 150 hari.
4.4.3 Analisa Penjadwalan menggunakan metode CPM (Percepatan 2) Pada percepatan 2, beberapa aktivitas yang bisa dilaksanakan secara bersamaan digabungkan menjadi satu seperti aktivitas dengan kode A dalam waktu 14 hari pekerjaan mobilisasi, cuti idul fitri, sosialisasi, promosi dan pelatihan, alat pelindung kerja dan alat pelindung diri dan asuransi, perizinan terkait keselamatan konstruksi bisa dilaksanakan secara bersamaan karena mobilisasi, sosialisasi, promosi dan pelatihan, alat pelindung kerja serta alat pelindung diri, dan asuransi, perizinan terkait keselamatan konstruksi bisa dilakukan dengan beberapa perwakilan anggota yang sudah ditunjuk, sehingga semua anggota dalam tim tidak perlu melakukannya, untuk sisa anggota dalam tim bisa melakukan aktivitas cuti idul fitri.
Kemudian aktivitas ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan konstruksi, fasilitas sarana, prasana dan alat Kesehatan, rambu dan perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas dengan kode B bisa dilaksanakan secara bersamaan dalam waktu 13 hari karena bisa dilakukan dengan beberapa perwakilan anggota yang sudah ditunjuk, sehingga semua anggota dalam tim tidak perlu melakukannya.
Untuk aktivitas baja tulangan polos BjTP-280 dan baja tulangan sirip BjTP- 280 seperti pada aktivitas I bisa dilaksakan secara bersamaan dalam waktu 14 hari karena aktivitas tersebut dilakukan pada satu lokasi yang sama.
Berikut hasil dari analisa penjadwalan percepatan 2 dengan metode CPM disajikan pada Tabel 4.9 berikut ini.
Tabel 4.9 Analisa percepatan 2 menggunakan Metode PDM
No Aktivitas Kode Hari
Aktivi tas Penda
hulu
Aktivi tas Selan jutnya
Konstrain
1
Mobilisasi
A 14 - C -
Cuti Idul Fitri
Sosialisasi, promosi dan pelatihan
Alat pelindung kerja dan alat pelindung diri Asuransi dan perizinan terkait keselamatan konstruksi
2
Ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan konstruksi
B 13 - C -
Fasilitas sarana, prasana dan alat kesehatan Rambu dan perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas
3 Penyiapan badan jalan C 35 A,B D,E,F FS(1-3)=0, FS(2-3)=0 4
Lapis fondasi agregat kelas
A D 20 C G,H FS(3-4)=1
5
Lapisan pondasi bawah
beton kurus E 63 C G,H FS(3-5)=8
6
Perkerasan beton semen Fc
30 F 70 C G,H FS(3-6)=6
7
Timbunan biasa dari
sumber galian G 47 D,E,F I
FS(4-7)=0, SS(5-7)=13,
SS(6-7)=15 8
Perkerasan telfold batu
gunung H 49 D,E,F I
FS(4-8)=0, SS(5-8)=13,
SS(6-8)=15
No Aktivitas Kode Hari
Aktivi tas Penda
hulu
Aktivi tas Selan jutnya
Konstrain
9
Baja tulangan polos BjTP- 280
I 14 G,H J FS(7-9)=2,
FS(8-9)=0 Baja tulangan sirip BjTP-
280
10 Beton Struktur Fc 30 Mpa J 14 I - FS(9-10)=1 Sumber: Analisa 2023
Hasil dari analisa jaringan kerja menggunakan metode PDM yang dilakukan pada percepatan 2 menunjukan uraian pekerjaan atau aktivitas pekerjaan apa saja yang dilakukan, kode, aktivitas pendahulu (predeccessor), aktivitas selanjutnya (successor) dan durasi kegiatan. Misalnya pada aktivitas pertama yaitu aktivitas dengan kode A yang memiliki jumlah durasi 14 hari tidak memiliki aktivitas pendahulu, hubungan logika/konstrain dan nilai Lead/Lag tidak ada seperti yang terlihat pada tabel 4.8, hal tersebut dikarenakan aktivitas dengan kode A merupakan pekerjaan yang pertama dikerjakan, sedangkan aktivitas selanjutnya (successor) yaitu aktivitas dengan kode B yang memiliki durasi 13 hari.
Pada aktivitas ke empat yaitu aktivitas lapis fondasi agregat kelas A dengan kode D yang memiliki durasi 20 hari dengan hubungan logika/konstrain FS (Finish to Start) dan nilai Lead/Lag 8, aktivitas yang mendahului (predeccessor) yaitu aktivitas dengan kode B dan aktivitas selanjutnya (successor) yaitu pekerjaan timbunan biasa dari sumber galian dengan kode G dan aktivitas perkerasan telfold batu gunung dengan kode H.
Kemudian pada aktivitas ke 9 yaitu aktivitas baja tulangan polos BjTP-280 dan baja tulangan sirip BjTP-280 dengan kode I memiliki durasi 14 hari, aktivitas pendahulu (predeccessor) yaitu aktivitas dengan kode G dan H atau aktivitas timbunan biasa dari sumber galian dengan hubungan logika/konstrain FS (Finish to Start) dan nilai Lead/Lag 2 dan perkerasan telfold batu gunung dengan hubungan logika/konstrain FS (Finish to Start) dan nilai Lead/Lag 0, aktivitas selanjutnya (successor) yaitu aktivitas beton Struktur Fc 30 Mpa gunung dengan hubungan logika/konstrain FS (Finish to Start) dan nilai Lead/Lag 1 seperti yang terlihat pada tabel 4.9.
Nilai Lead/Lag ditentukan dengan cara jarak durasi mulai/akhir suatu aktivitas dengan mulai/akhir aktivitas yang lain dari tabel 4.9, kemudian dilakukan analisa dengan menggunakan hubungan logika/konstrain FS, SS, SF atau FF.
Namun pada pekerjaan lainnya pada tabel 4.9 juga ditentukan dengan hal-hal yang telah dijelaskan. Sedangkan bentuk jaringan kerja pada percepatan 1 dapat dilihat pada Gambar 4.6.
Gambar 4.6 Diagram jaringan percepatan 2 dengan menggunakan metode PDM
Gambar 4.6 memperlihatkan bentuk jaringan kerja dengan menggunakan metode PDM, dengan masing-masing aksi atau node dihubungkan dengan anak panah (constraints).Misalnya, tindakan A dan B dihubungkan ke tindakan C, yang dihubungkan dengan panah (constraints) yang ditunjukkan pada gambar, dan seterusnya hingga diakhiri dengan tindakan J dan penghitungan maju mundur.
Berdasarkan hasil analisis, perhitungan manu mundur menggunakan metode PDM mengidentifikasi jalur kritis berlabel ES=LS, EF=LF, LF - ES=Durasi, maka didapat lintasan kritis pada pekerjaan proyek jalan Sungai Manggis, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda adalah A, C, D, E, F, G, H, I, J sedangkan jalur yang tidak kritis yaitu B dan total dari durasi pekerjaan adalah 148 hari.
4.5 Perbandingan Hasil Metode CPM dan PDM
Dari hasil analisa time schedule dan membuat 2 jadwal percepatan proyek pada pekerjaan jalan Sungai Manggis, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda menggunakan metode CPM (critical path method) dan PDM (Precedence Diagram Method), Selanjutnya diperoleh hasil analisis komparatif dari masing-masing metode baik dari segi penerapan metode, logika dependensi, jalur kritis implementasi proyek, durasi keseluruhan dan kemungkinan ditemukannya penggunaan metode kolaboratif yang disesuaikan dengan sifat proyek.
Perbandingan metode penjadwalan proyek ditunjukkan pada Tabel 4.10.
Tabel 4. 10 Perbandingan Hasil Metode CPM dan PDM
No Metode CPM Metode PDM
1
Jaringan kerja yang digunakan pada metode CPM yakni
klasifikasi AOA (activity on arc)
Jaringan kerja yang digunakan pada metode PDM yakni klasifikasi AON (activity on node)
2
Pada metode CPM kegiatan boleh dimulai setelah kegiatan terdahulu (predecessor) selesai
Pada metode PDM, kegiatan dapat dimulai tanpa harus menunggu kegiatan terdahulu (predecessor) selesai
No Metode CPM Metode PDM 3 Hanya menggunakan konstrain
FS (Finish to Start)
Menggunakan konstrain SS (Start to Start), FF (Finish to Finish), SF (Star to finish) dan FS (Finish to Start)
4
Lintasan kritis pada Time Schedule yakni A, B, I, J, J2, K, M1, M3, N1, O, O1
Lintasan kritis pada Time Schedule yakni A, B, I, J, J2, K, M1, M3, N1, O, O1
5
Lintasan kritis yang didapat dalam percobaan percepatan 1 yakni A, B, F, G, H, K
Lintasan kritis yang didapat dalam percobaan percepatan 1 yakni A, B, C, E, F, G, H, J, K
6
Lintasan kritis yang didapat dalam percobaan percepatan 2 yakni A, C, F, H, I, J
Lintasan kritis yang didapat dalam percobaan percepatan 2 yakni A, C, D, E, F, G, H, I, J
7 Total durasi pada Time Schedule yakni 217 hari
Total durasi pada Time Schedule yakni 217 hari
8
Total durasi yang didapat dalam percobaan percepatan 1 yakni 207 hari
Total durasi yang didapat dalam percobaan percepatan 1 yakni 150 hari
9
Total durasi yang didapat dalam percobaan percepatan 2 yakni 196 hari
Total durasi yang didapat dalam percobaan percepatan 2 yakni 148 hari Sumber: Analisa 2023
Tabel 4.10 menunjukan analisa perbandingan pada time schedule dan 2 jadwal percepatan proyek yang dapat diketahui bahwa metode CPM hanya memiliki satu hubungan logika FS dan kegiatan terletak pada anak panah yang menghasilkan lintasan kritis. Analisa pada time schedule menghasilkan lintasan kritis A, B, I, J, J2, K, M1, M3, N1, O, O1 dengan jumlah durasi kerja 217 hari, pada percobaan percepatan 1 menghasilkan lintasan kritis A, B, F, G, H, K dengan jumlah durasi kerja 207 hari, dan pada percobaan percepatan 2 menghasilkan lintasan kritis A, C, F, H, I, J dengan jumlah durasi kerja 196 hari.
Sedangkan metode PDM memiliki empat hubungan logis seperti SS, FF, FS dan SF, metode ini cocok untuk pekerjaan yang tumpang tindih dan aktivitas metode ini terletak pada node yang dihubungkan oleh anak panah (konstrain) yang menghasilkan jalur kritis dan jumlah durasi yang berbeda dengan metode CPM.
Analisa pada time schedule menghasilkan lintasan kritis A, B, I, J, J2, K, M1, M3, N1, O, O1 dengan jumlah durasi kerja 217 hari, pada percobaan percepatan 1 menghasilkan lintasan kritis A, B, C, E, F, G, H, J, K dengan jumlah durasi kerja 150 hari, dan pada percobaan percepatan 2 menghasilkan lintasan kritis A, C, D, E, F, G, H, I, J dengan total pengerjaan 148 hari.
Item ini menunjukkan perbandingan analisis yang dilakukan dalam studi ini, yang dapat diamati pada jalur dan durasi kritis yang berbeda. PDM merupakan metode yang paling cocok untuk Proyek Pembangunan Jalan Sungai Manggis di Kecamatan Sambutan Kota Samarinda karena PDM memungkinkan durasi proyek lebih pendek dari CPM.
60
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Bentuk jaringan pada metode CPM dalam penelitian ini adalah beberapa pekerjaan dilakukan secara bersamaan, yang dapat mempersingkat perjalanan atau mempercepat durasinya. Sebaliknya, pada metode PDM, karena adanya empat hubungan logika/konstrain yang bekerja dalam analisis jadwal, maka modul jaringan memiliki waktu eksekusi yang lebih singkat, sehingga aktivitas dapat tumpang tindih atau overlapping.
2. Durasi penyelesaian proyek pada time schedule dengan menggunakan metode CPM adalah 217 hari, pada percobaan percepatan 1 jumlah durasi penyelesaian proyek adalah 207 hari, pada percobaan percepatan 2 jumlah durasi penyelesaian proyek adalah 196 hari. Sedangkan durasi penyelesaian proyek pada time schedule dengan menggunakan metode PDM adalah 217 hari, pada percobaan percepatan 1 jumlah durasi penyelesaian proyek adalah 150 hari, pada percobaan percepatan 2 jumlah durasi penyelesaian proyek adalah 148 hari.
3. Metode yang paling sesuai dengan Proyek pekerjaan jalan Sungai Manggis, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda adalah metode PDM karena metode PDM dapat memberikan durasi proyek yang lebih singkat dibandingkan dengan metode CPM, yaitu pada percobaan percepatan 1 metode PDM yang berdurasi 150 hari sedangkan metode CPM berdurasi 207 hari, pada percobaan percepatan 2 metode PDM berdurasi 148 hari sedangkan metode CPM berdurasi 196 hari.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan pihak perusahaan selaku kontraktor proyek wajib mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Dalam pelaksanaan suatu proyek perlu dilakukan perencanaan jadwal kegiatan secara cermat untuk menghindari keterlambatan pelaksanaan proyek.
2. Saat merencanakan durasi kegiatan proyek, beberapa metode harus digunakan untuk menentukan waktu optimal untuk menyelesaikan proyek.
3. Manajer lapangan harus selalu berada di lokasi untuk memastikan semua hasil sesuai jalur.
62
DAFTAR PUSTAKA
Abduh, M. (2004). Penjadwalan Modul I. Jurnal Departemen Teknik Sipil ITB.
Pekanbaru: Pelatihan Teknologi dan Manajemen Konstruksi HAKI.
Assauri, S. (2016). Manajemen Operasi Produksi (Pencapaian Sasaran Organisasi Berkesinambungan). Edisi 3. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Badri, S. (1991). Dasar-Dasar Network Planning (Dasar-Dasar Pelaksanaan Jaringan Kerja). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djojowirono. (2005). Manajemen Konstruksi Edisi Keempat. Yogyakarta: Teknik Sipil UGM.
Ervianto, W. I. (2005). Manajemen Proyek Kontruksi, Edisi Revisi. Yogyakarta:
Andi.
Fahrian, B. H. (2021). Perbandingan Penjadwalan Proyek dengan Metode PDM Precedence Diagram Method & CPM Critical Path Method (Studi Kasus:
Lanjutan Pembangunan Proyek Gedung SD Islamic Center Samarinda).
Samarinda: Universitas Mulawarman.
Hayun, A. (2005). Perencanaan dan pengendalian proyek dengan metode Pert-CPM studi kasus fly over ahmad yani karawang. Journal The winners, vol. 6, no.
2, 155-174.
Husen, A. (2008). Manajemen Proyek , perencanaan, penjadwalan & pengendalian proyek. Yogyakarta: Andi.
Laksito, B. (2005). Studi Komparatif Penjadwalan Proyek Konstruksi Repetitif Menggunakan Metode Penjadwalan Berulang (RSM) dan Metode Diagram Preseden (PDM). Media Teknik Sipil, 85-91.
Levin, R. d. (1972). Perentjanaan dan Pengawasan Dengan PERT dan CPM.
Jakarta: Bharatara.
Maulana, A. (2018). Optimalisasi waktu dengan menggunakan metode CPM, PERT dan PDM pada proyek pembangunan gedung Dinas Sosial dan Dinas Kelautan Kabupaten Gresik. Surabaya: Universitas Narotama.
Mulyono, F. P. (2021). Penjadwalan Ulang Proyek Konstruksi menggunakan metode PDM dan CPM (studi kasus pada pembangunan toserba Yogya di Pekalongan). UNNES Journal of Mathematics, 63-67.
Napsiyana, A. (2007). Perencanaan dan Pengendalian Jadwal Dengan Menggunakan Microsoft Project Professional 2013 Dalam Pengelolaan Proyek. Tasikmalaya: Fakultas Teknik Universitas Siliwangi.
Nurhayati. (2010). Manajemen Proyek. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Priyambodo, W. (2022). Analisa Perbandingan Penjadwalan Proyek Konstruksi dengan Critical Path Method (CPM) dan Precedence Diagram Method (PDM). Medan: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Soeharto, I. (1997). Manajemen Proyek, edisi kedua. Jakarta: Erlangga.
Soeharto, I. (1999). Manajemen Proyek. Edisi kedua. Jakarta: Erlangga.
Syaputra, I. (2019). Analisa Penjadwalan Pelaksanaan Pekerjaan Proyek dengan metode CPM dan PDM pada peningkatan jalan Sei Pakning (KM 130), Teluk Masjid, Simpang Pusako Kabupaten Siak. Pekanbaru: Universitas Islam Riau.
LAMPIRAN
Time Schedule proyek pekerjaan jalan Sungai Manggis, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda
Tabel analisa Time Schedule menggunakan Metode CPM
No Aktivitas Kode Aktivitas
Pendahulu
Aktivitas
Selanjutnya Hari
1 Mulai aktivitas A - D,E,F,
G,H,I 0
2 Cuti Idul Fitri B D,E,F,
G,H,I C,G1,K 14
3 Mobilisasi minggu ke 4 C B J 7
4 Mobilisasi minggu ke 33 C1 M3,N2 - 7
5 Sosialisasi, promosi dan pelatihan D A B 4
6 Alat pelindung kerja dan alat pelindung diri E A B 6
7 Asuransi dan perizinan terkait keselamatan
konstruksi F A B 5
8 Ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan
konstruksi minggu ke 1 G A B 6
9 Ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan
konstruksi minggu ke 4 G1 B J 7
10 Fasilitas sarana, prasana dan alat kesehatan H A B 6
11 Rambu dan perlengkapan lalu lintas yang
diperlukan atau manajemen lalu lintas I A B 7
12 Timbunan biasa dari sumber galian minggu ke 8
dan ke 9 J C,G1,K K1,L,M,
N,O 14
13 Timbunan biasa dari sumber galian minggu ke 24 J1 M2,N1,
P,Q,R M3,N2 5 14 Timbunan biasa dari sumber galian minggu ke 30
hingga minggu ke 33 J2 M3,N2 - 28
15 Penyiapan badan jalan minggu ke 4 hingga minggu
ke 7 K B J 28
16 Penyiapan badan jalan minggu ke 14 K1 J M1 7
17 Lapis fondasi agregat kelas A minggu ke 12 dan ke
13 L J M1 14
18 Lapis fondasi agregat kelas A minggu ke 24 L1 M2,N1,
P,Q,R M3,N2 6
19 Perkerasan beton semen Fc 30 minggu ke 15 M J M1 7
20 Perkerasan beton semen Fc 30 minggu ke 16 dan
ke 17 M1 K1,L,M,
N,O
M2,N1,
P,Q,R 14 21 Perkerasan beton semen Fc 30 minggu ke 19-20
dan ke 22-23 M2 M1 J1,L1,O1 28
No Aktivitas Kode Aktivitas Pendahulu
Aktivitas
Selanjutnya Hari 22 Perkerasan beton semen Fc 30 minggu ke 25
hingga ke 27 M3 J1,L1,O1 C1,J2 21
23 Lapisan pondasi bawah beton kurus minggu ke 15 N J M1 7 24 Lapisan pondasi bawah beton kurus minggu ke 18
hingga ke 23 N1 M1 J1,L1,O1 42
25 Lapisan pondasi bawah beton kurus minggu ke 25
hingga ke 26 N2 J1,L1,O1 C1,J2 14
26 Perkerasan telfold batu gunung minggu ke 10
hingga ke 15 O J M1 42
27 Perkerasan telfold batu gunung minggu ke 24 O1 M2,N1,
P,Q,R M3,N2 7
28 Beton Struktur Fc 30 Mpa P M1 J1,L1,O1 14
29 Baja tulangan polos BjTP-280 Q M1 J1,L1,O1 12
30 Baja tulangan sirip BjTP-280 R M1 J1,L1,O1 14
Diagram jaringan kerja sesuai time schedule dengan menggunakan metode CPM
Tabel hasil perhitungan sesuai time schedule menggunakan metode CPM
No Kode Durasi ES EF LS LF
TF FF IF (LF-
ES- D)
(EF- LS- D)
(TF- FF)
1 A 0 0 0 0 0 0 0 0
2 B 14 7 21 7 21 0 0 0
3 C 7 21 28 21 49 21 0 21
4 C1 7 189 196 189 217 21 0 21
5 D 4 7 11 0 7 -4 7 -11
6 E 6 7 13 0 7 -6 7 -13
7 F 5 7 12 0 7 -5 7 -12
8 G 6 7 13 0 7 -6 7 -13
9 G1 7 21 28 21 49 21 0 21
10 H 6 7 13 0 7 -6 7 -13
11 I 7 7 14 0 7 -7 7 -14
12 J 14 49 63 49 63 0 0 0
13 J1 5 161 166 161 168 2 0 2
14 J2 28 189 217 189 217 0 0 0
15 K 28 21 49 21 49 0 0 0
16 K1 7 63 70 63 105 35 0 35
17 L 14 63 77 63 105 28 0 28
18 L1 6 161 167 161 168 1 0 1
19 M 7 63 70 63 105 35 0 35
20 M1 14 105 119 105 119 0 0 0
21 M2 28 119 147 119 161 14 0 14
22 M3 21 168 189 168 189 0 0 0
23 N 7 63 70 63 105 35 0 35
24 N1 42 119 161 119 161 0 0 0
25 N2 14 168 182 168 189 7 0 7
26 O 42 63 105 63 105 0 0 0
27 O1 7 161 168 161 168 0 0 0
28 P 14 119 133 119 161 28 0 28
29 Q 12 119 131 119 161 30 0 30
30 R 14 119 133 119 161 28 0 28
Analisa Time Schedule menggunakan Metode PDM
No Aktivitas Kode Hari Aktivitas
Pendahulu
Aktivitas Selanjutnya
Kons train
1 Mulai aktivitas A 0 - D,E,F,G,H,I FS
2 Cuti Idul Fitri B 14 D,E,F,G,H,I C,G1,K FS
3 Mobilisasi minggu ke 4 C 7 B J FS
4 Mobilisasi minggu ke 33 C1 7 M3,N2 - FS
5 Sosialisasi, promosi dan pelatihan D 4 A B FS
6 Alat pelindung kerja dan alat pelindung
diri E 6 A B FS
7 Asuransi dan perizinan terkait
keselamatan konstruksi F 5 A B FS
8 Ahli K3 konstruksi atau ahli
keselamatan konstruksi minggu ke 1 G 6 A B FS
9 Ahli K3 konstruksi atau ahli
keselamatan konstruksi minggu ke 4 G1 7 B J FS
10 Fasilitas sarana, prasana dan alat
kesehatan H 6 A B FS
11
Rambu dan perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas
I 7 A B FS
12 Timbunan biasa dari sumber galian
minggu ke 8 dan ke 9 J 14 C,G1,K K1,L,M,N,O FS
13 Timbunan biasa dari sumber galian
minggu ke 24 J1 5 M2,N1,P,Q,R M3,N2 FS
14 Timbunan biasa dari sumber galian
minggu ke 30 hingga minggu ke 33 J2 28 M3,N2 - FS
15 Penyiapan badan jalan minggu ke 4
hingga minggu ke 7 K 28 B J FS
16 Penyiapan badan jalan minggu ke 14 K1 7 J M1 FS
No Aktivitas Kode Hari Aktivitas Pendahulu
Aktivitas Selanjutnya
Kons train 17 Lapis fondasi agregat kelas A minggu
ke 12 dan ke 13 L 14 J M1 FS
18 Lapis fondasi agregat kelas A minggu
ke 24 L1 6 M2,N1,P,Q,R M3,N2 FS
19 Perkerasan beton semen Fc 30 minggu
ke 15 M 7 J M1 FS
20 Perkerasan beton semen Fc 30 minggu
ke 16 dan ke 17 M1 14 K1,L,M,N,O M2,N1,P,Q,R FS 21 Perkerasan beton semen Fc 30 minggu
ke 19-20 dan ke 22-23 M2 28 M1 J1,L1,O1 FS
22 Perkerasan beton semen Fc 30 minggu
ke 25 hingga ke 27 M3 21 J1,L1,O1 C1,J2 FS
23 Lapisan pondasi bawah beton kurus
minggu ke 15 N 7 J M1 FS
24 Lapisan pondasi bawah beton kurus
minggu ke 18 hingga ke 23 N1 42 M1 J1,L1,O1 FS
25 Lapisan pondasi bawah beton kurus
minggu ke 25 hingga ke 26 N2 14 J1,L1,O1 C1,J2 FS 26 Perkerasan telfold batu gunung minggu
ke 10 hingga ke 15 O 42 J M1 FS
27 Perkerasan telfold batu gunung minggu
ke 24 O1 7 M2,N1,P,Q,R M3,N2 FS
28 Beton Struktur Fc 30 Mpa P 14 M1 J1,L1,O1 FS
29 Baja tulangan polos BjTP-280 Q 12 M1 J1,L1,O1 FS 30 Baja tulangan sirip BjTP-280 R 14 M1 J1,L1,O1 FS
Diagram jaringan kerja sesuai time schedule dengan menggunakan metode PDM
Analisa percepatan 1 menggunakan Metode CPM
No Aktivitas Kode Aktivitas
Pendahulu
Aktivitas
Selanjutnya Hari
1
Mobilisasi
A - B 14
Cuti Idul Fitri
Sosialisasi, promosi dan pelatihan
Alat pelindung kerja dan alat pelindung diri Asuransi dan perizinan terkait keselamatan konstruksi
2
Ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan konstruksi
B A C,D,E,F 13
Fasilitas sarana, prasana dan alat kesehatan Rambu dan perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas
3 Penyiapan badan jalan C B G 35
4 Lapis fondasi agregat kelas A D B G 20
5 Lapisan pondasi bawah beton kurus E B G 63
6 Perkerasan beton semen Fc 30 F B G 70
7 Timbunan biasa dari sumber galian G C,D,E,F H,I,J 47
8 Perkerasan telfold batu gunung H G K 49
9 Baja tulangan polos BjTP-280 I G K 12
10 Baja tulangan sirip BjTP-280 J G K 14
11 Beton Struktur Fc 30 Mpa K H,I,J - 14
Diagram jaringan percepatan 1 dengan menggunakan metode CPM
Tabel hasil perhitungan percepatan 1 menggunakan metode CPM
No Kode Hari ES EF LS LF
TF FF IF
(LF- ES- D)
(EF- LS- D)
(TF- FF)
1 A 14 0 14 0 14 0 0 0
2 B 13 14 27 14 27 0 0 0
3 C 35 27 62 27 97 35 0 35
4 D 20 27 47 27 97 50 0 50
5 E 63 27 90 27 97 7 0 7
6 F 70 27 97 27 97 0 0 0
7 G 47 97 144 97 144 0 0 0
8 H 49 144 193 144 193 0 0 0
9 I 12 144 156 144 193 37 0 37
10 J 14 144 158 144 193 35 0 35
11 K 14 193 207 193 207 0 0 0
Analisa percepatan 1 menggunakan Metode PDM
No Aktivitas Kode Hari Aktivitas
Pendahulu
Aktivitas Selanjut
nya Konstrain
1
Mobilisasi
A 14 - B -
Cuti Idul Fitri
Sosialisasi, promosi dan pelatihan Alat pelindung kerja dan alat pelindung diri
Asuransi dan perizinan terkait keselamatan konstruksi
2
Ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan konstruksi
B 13 A C,D,E,F FS(1-2)=0
Fasilitas sarana, prasana dan alat kesehatan
Rambu dan perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas
3 Penyiapan badan jalan C 35 B G FS(2-3)=3
4 Lapis fondasi agregat kelas A D 20 B G FS(2-4)=8
5 Lapisan pondasi bawah beton kurus E 63 B G FS(2-5)=0
6 Perkerasan beton semen Fc 30 F 70 B G FS(2-6)=0
7 Timbunan biasa dari sumber galian G 47 C,D,E,F H,I,J
FS(3-7)=0, FS(4-7)=5, SS(5-7)=38,
SS(6-7)=38
8 Perkerasan telfold batu gunung H 49 G K SS(7-8)=20
9 Baja tulangan polos BjTP-280 I 12 G K FS(7-9)=4
10 Baja tulangan sirip BjTP-280 J 14 G K FS(7-10)=6
11 Beton Struktur Fc 30 Mpa K 14 H,I,J -
FS(8-11)=2, FS(9-11)=4, FS(10-11)=4