Bab V Kerukunan Umat Muslim-Tionghoa di Kota Kediri
C. Analisis Teori Peacebuilding
2. Analisis Implementasi Muslim-Tionghoa
Telah jelas dipaparkan secara definitif, bahwa peasebuilding menghendaki terciptanya kondisi damai, bebas dan aman.269 Suatu
266 johan Galtung, “Three Approaches to Peace: Peacekeeping, Peacemaking, and Peacebuilding,”
dalam Peace, War and Defense: Essays in Peace Research (Copenhagen: Christian Ejlers, 1976), 297–98.
267 Galtung, “Violence, Peace and Peace Research,” 171.
268 jennifer M. Hazen, “Can Peacekeepers Be Peacebuilders?,” International Peacekeeping 14, no. 3 (2007): 323–38.
269 Dalam penelitian Ah. Zakki Fuad yang menganalisis unsur peacebuiding dalam suatu tatanan kehidupan social keberagamaan, menemukan tesis bahwa istilah damai, bebas dan aman memiliki ruang tersendiri yang spesifik. Damai artinya, kondisi social yang harmonis, tenang, mengalir seperti air di sela-sela bebatuan, tanpa konflik, tanpa rasa dengki, tanpa pengakuan agamanya paling benar, tanpa mencampur baurkan agama kedalam doktrin, yang pada intinya system social berjalan pada jalurnya yang tepat. Bebas dalam artian, bebas memilih pekerjaan, bebas menentukan unsur konsumsi sesuai agamanya masing-masing, bebas beribadah, bebas berpolitik, dan bebas berpendapat sesuai aturan agamanya. Sedangkan aman artinya tidak ada halangan beribadah, dilindungi oleh otoritas yang seirama, bebas beragama, bebas yang
kondisi harmoni sosial yang dibangun bersama tanpa paksaan dari pihak manapun. Kondisi damai yang bukan fatamorgana, temporal dan sensitif. Kondisi tersebut dilakukan dan disepakati bersama-sama semua stakeholders, baik tokoh agama, pemerintah, masyarakat dan sebagainya. Baik organisasi atau non-organisasi, swasta maupun negeri, swadaya maupun intervensi, yang kesemuanya, menginginkan kondisi rukun dan damai.
Dengan demikian, Umat muslim dan etnik Tionghoa dalam menjalin hubungan harmonis, memanfaatkan eksistensi tokoh agama, pemerintah melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan karakter masyarakat itu sendiri. Relasi antarumat ini saling bersimbiosis satu sama lain untuk mewujudkan kerukunan antarumat melalui kerangka konseptual peacebuilding. Karakter damai yang tertanam di benak masyarakat, ditopang oleh tokoh agama dan elemen elite lainnya, menciptakan kondisi damai.
Penerapan peacebuilding di pusat Kota Kediri terlihat dari beberapa kegiatan yang dilakukan, pertama adalah gerakan kultural yang dikemas dengan dialog persuasif antarumat beragama.270 Dialog di sini, bukan lantas diadakan secara resmi dan monoton, melainkan diselipkan dalam kegiatan sosial yang bersifat holistik. Semisal, pada acara tahun baru, hari raya dan sebagainya. Dialog bertujuan untuk menyelami dan memahami persoalan-persoalan nyata yang dihadapi agar tumbuh saling pengertian. Dialog yang dibangun juga bukan adu argumentasi
sesuai dengan aturan perundang-undangan. Kondisi peacebuilding di mana masyarakat tahu tentang tata cara menghormati kegiatan, ibadah, hak dan kewajiban agama lain. Lihat dalam penelitian Ah. Zakki Fuad, “Peacebuilding Berbasis Kearifan Lokal pada Masyarakat Plural”, Jurnal Ibda’, 14(1) 2016, 1-15.
270 Dialog merupakan bagian dari komunikasi intens yang diseting oleh elite agama dalam bentuk dialog keagamaan. Menurut Azyumardi Azra, model dialog antarumat beragama ada beberapa model; 1) dialog parlementer (parliamentary dialogue) yakni konsep dialog yang melibatkan ratusan peserta, biasanya berskala nasional bahkan internasional. Output yang dihasilkanpun adalah konversi atau tractat. 2) dialog kelembagaan (institutional dialogue) dialog yang diwakili oleh perwakilan masing-masing kelompok dari setiap golongan, bisa jadi perwakilan antar kelompok, antar agama, pemerintah dan sebagainya, dialog ini diadakan untuk membicarakan masalah-masalah mendesak yang dihadapi umat beragama, ataupun cara-cara efektif untuk menciptakan kerukunan. 3) dialog teologi (theological dialogue), pertemuan yang dikhususkan untuk membahas persoalan-persoalan teologi dan filosofis. Lihat dalam Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. jakarta: Paramadina, 1999, 63-64.
186 Rule Model Kerukunan Umat Beragama
antar agama, berdebat maupun mencari pemenang. Bukan lagi dialog yang bersifat wacana, namun aksi nyata yang dibumbui dengan budaya.
Imbas nyata dari gerakan kultural tersebut adalah cara pandang masyarakat yang semakin terbuka, tidak menganggap agama lain keliru dan agama sendiri yang paling benar. Dialog ini juga tidak hanya melibatkan masyarakat antarumat saja, tapi semua elemen seperti pemerintah, tokoh agama, FKUB dan masyarakat duduk bersama dalam suatu perkumpulan kultur. Sehingga, trilogi kerukunan yang dicetuskan oleh Menteri Agama dengan mudah tercipta dengan menggunakan pendekatan peacebuilding.271
Kedua, transfer aspirasi. Kegiatan ini merupakan agenda wajib yang diamanahkan kepada tokoh agama masing-masing.
Selain disampaikan pada acara gerakan kultur di atas, terkadang muncul perasaan yang diungkep tidak dapat disampaikan di depan umum, maka melalui kegiatan ini masyarakat bisa menitipkan atau berbicara langsung kepada tokoh agama. Aspirasi tersebut ditampung dan direspons dengan cepat. Dengan demikian tokoh masyarakat ingin membentuk nilai karakter, karena bila masyarakat sendiri yang menyelesaikan, dapat bergejolak konflik.
Aspirasi yang tertampung, pada prosesnya digodok bersama oleh tim keragaman yang terdiri dari semua tokoh agama, FKUB, RT dan RW, pemerintah setempat dan perwakilan tokoh pemuda.
Masyarakat tidak dilibatkan karena mereka adalah sasaran damai, sedangkan pemuda merupakan penerus yang melanjutkan estafet sosial. Penampungan aspirasi ini berfungsi untuk menanamkan sikap bebas berpendapat, menjaga kesatuan dan menghindar
271 Trilogi kerukunan yang dikonsep melibatkan semua unsur, mulai dari satu komunitas pemeluk agama, hubungan antar penganut agama dan ketaatan kepada Negara. Ketiganya adalah model kerukunan sejati yang dicita-citakan oleh semua masyarakat dan Negara. Kerja sama elemen-elemen tersebut yang dapat menghasilkan situasi social yang damai. Lihat dalam Asy’ari, Menggugat Islam Indonesia dalam Mewujudkan Religious Peacebuilding di Era Konflik“, Jurnal Fenomena, 16(2) 2017,191-201.
sikap keras. Sebab jika suatu persoalan dipendam dan disimpan sebagai prasangka, dapat menyulut konflik.
Ketiga, community development. Sebagai upaya perekatan sosial masyarakat, ekonomi menjadi pertaruhan pertama. Hipotesis yang dibangun adalah saat masyarakat tidak berdaya, maka berimbas pada timbulnya masalah lain.272 Oleh karena itu, elite agama secara bersama-sama melakukan pemberdayaan ekonomi berupa pemberian modal usaha dari lembaga zakat dan komunitas Tionghoa baik menggunakan akad musyarakah maupun mudharabah. Sebagai kota dengan lalu-lintas perdagangan yang memusat, masyarakat dengan mudah mengembangkan usaha. Karena memang, fokus utama umat beragama adalah bidang agro bisnis.
Tanpa disadari, pemberdayaan masyarakat ini menumbuhkan rasa kerja sama antar pemeluk agama, pemerintah dan tokoh- tokoh agama. Selain itu, masyarakat juga diberi pelatihan untuk bersikap jujur, pekerja keras, amanah, bertanggung jawab, disiplin, ramah, beretika dan nilai-nilai bisnis yang baik dalam berbisnis.273 Pada perjalanannya, nilai-nilai bisnis ini merupakan perintah agama masing-masing yang membentuk karakter dan jati diri masyarakat.
272 Pemberdayaan masyarakat baik melalui pemberdayaan ekonomi, bantuan social, kerja sama yang menghasilkan profit, untuk mendukung dan menyelamatkan masyarakat dari kekurangan gizi dan kebutuhan pokok. Asumsi M. Atho Mudzhar, bahwa agama memiliki semua elemen dalam kehidupan, ekonomi, politik, social dan seluruhnya. Maka jika satu elemen terganggu gerak sempurnanya, maka tidak menutup kemungkinan aka nada gejolak konflik agama.
Sehingga, kesejahteraan masyarakat merupakan suatu ikhtiar untuk mencegah terjadinya konflik agama. M. Atho mudzhar, “Pluralisme, pandangan Ideologis dan Konflik Sosial Bernuansa Agama” dalam Moh. Saleh Isre, Konflik Etno Religius Kontemporer. jakarta: Departemen Agama RI Badan Litbang Agama, 2003, 1. Bisa juga dilihat dalam artikel jurnal penelitian oleh Abdul mun’im DZ; AS Burhan, “Problem Historigrafis dalam Rekonsiliasi di Indonesia:
Upaya Memberi Makna Baru terhadap Tragedi Kemanusiaan 1965”, Jurnal Taswirul Afkar, 15(2) 2003, 9-23.
273 Nilai-nilai kemanusiaan yang diterapkan pada dunia ekonomi merupakan bagian integral dari nuansa agama yang dianut. Karena nilai kemanusiaan pada hakikatnya bersumber dari ajaran agama, aktivitas manusia menjalankan dan menerapkan nilai tersebut ke dalam bentuk kebutuhannya. Karena bagaimanapun, menurut penelitian. j. Cassanova kekeringan bahwa nilai kemanusiaan berpengaruh terhadap cara memahami agama sekaligus cara menyelesaikannya.
Konflik berbagai Negara, baik nasional maupun di Negara-negara global terjadi karena melupakan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang diambil dari sari agama. Sehingga konsep sekuralitas masih dianggap lebih baik dari komunisme karena masih menerapkan aspek nilai agama. Michael Welzer, On Toleration Castle Lectures in Ethics, Politics and Economic. New York: yale University Press, 1997, 56-58.
188 Rule Model Kerukunan Umat Beragama
Dari kegiatan-kegiatan tersebut, dapat mendorong sikap dan sifat saling mendorong untuk menjaga kerukunan umat beragama.
Hal demikian dapat dilihat dari analisis teori peacebuilding yang menyapu seluruh aspek sosial agar tertuju pada konsep damai, suatu perdamaian tanpa ada sekat yang berpotensi konflik, tidak menyisakan masalah pada generasi berikutnya, menampakkan kerukunan yang hakiki. Semua elemen, mulai dari tokoh agama, adat, pemerintah setempat maupun FKUB, pemuda, lembaga lain, dan sebagainya bergelut bersama untuk menciptakan kerukunan.
Maka dengan analisis ini, ditemukan bahwa kegiatan sosial yang dilaksanakan dapat mendorong pada kerukunan hakikat dengan indikasi sebagai berikut:
Pertama, setiap kegiatan sosial keagamaan yang dibangun dan dilestarikan oleh elite agama tidak pandang bulu dan agama, semua masyarakat (umat muslim dan etnik Tionghoa) berpartisipasi mengikuti kegiatan. Asumsi ini, dalam teori peacebuilding dikatakan dengan participatory totality, di mana kerukunan umat beragama diikutandilkan dalam agenda kerukunan.274 Tidak ada individu, kelompok atau golongan yang dibedakan untuk menjadi objek kerukunan. Karena prinsipnya, kerukunan harus bersifat komprehensif tanpa menyisakan apapun.
Dalam teori sosiologis, intensitas interaksi sosial antar masyarakat akan menambah hubungan emosional semakin erat.
Rasa curiga dan patologi abstrak yang menerpa sifat manusia dapat terangkat melalui intensitas. Namun interaksi ini bukan sebatas perkumpulan semata, tapi menjelma ajang silaturrahim yang kental akan budaya dan persaudaraan. Sebab interaksi
274 Partisipatory religious merupakan bagian dari upaya teori peacebuilding yang melibatkan semua anggota masyarakat tanpa terkecuali untuk berpikir dan bertindak bersama mencapai kondisi rukun. Pelibatan semua elemen masyarakat bertujuan untuk menyisir seluruh anggota masyarakat sampai ke lapisan paling bawah, karena jika tidak komprehensif berimbas pada munculnya bibit-bibit muda yang berpotensi konflik. Sumanto al-Qurtuby, “Pluralisme, Dialog dan Peacebuilding Berbasis Agama di Indonesia” dalam Elza Peldi Tahir, Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi. jakarta: ICRP dan Buku Kompas, 192- 193.