Bab V Kerukunan Umat Muslim-Tionghoa di Kota Kediri
B. Pijakan Dasar Kerukunan dan Keberagamaan
Berbicara kerukunan umat beragama di Indonesia, tentu harus punya platform yang juga berskala nasional. Ada enam agama yang diakui dan mendapat perlindungan negara, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu.45
44 Dengan pemaknaan demikian, toleransi ternyata bukan hanya pada aspek keagamaan saja, melainkan jauh luas sampai pada sendi-sendi kehidupan manusia. Karena perbedaan agama dibangun oleh hal-hal yang lain seperti budaya, lingkungan, teks dan semacamnya yang berpengaruh terhadap cara beragama seseorang dalam mengedepankan sikap toleransi. john Hick, A Christian Theology of Religions: The Rainbow of Faiths. America: SCM 1995, 23.
45 Memiliki 6 agama di suatu negara, oleh PBB telah dikatakan sebagai negara yang plural, namun jika hanya 1 agama yang dianut termasuk pada tipe negara teokrasi. Penentuan 6 agama tersebut, merupakan amanah UUD, secara historis memang 6 agama itulah yang telah hidup di Indonesia. Dan fungsi negara adalah melindungi agama yang konstitusional. Menurut Tabrani (2016), sebenarnya Indonesia memiliki 6 agama resmi (tidak ada Kong Hu Chu), namun karena permintaan banyak pihak dan mengedepankan pada kepentingan rakyat dan demokrasi. Lihat Tabrani, “Transformasi Teologis Politik Demokrasi Indonesia (Telaah Singkat
28 Rule Model Kerukunan Umat Beragama
Setiap agama tentu memiliki dasar pijakan dalam melaksanakan kerukunan. Dasar-dasar yang terkandung tersebut diayomi oleh negara ke dalam nilai-nilai. Sehingga terbentuk utilitas bangunan yang membawahi seluruh dasar kerukunan di setiap agama. Di sinilah letak hukum berasaskan universalisme, yaitu menyatukan seluruh kepentingan agama ke dalam nilai-nilai ideologi negara.
Maka dasar utama yang digunakan negara dalam mewujudkan kerukunan umat beragama adalah komitmen keras untuk menghargai warga negara agar hidup dengan rukun, damai dan stabil, sebagaimana dinyatakan dalam UUD 1945, yaitu:
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. (Pasal 29, ayat 2)46
Dengan landasan ini, terdapat dua hal penting yang terkandung; pertama, setiap warga negara bebas memeluk agama manapun yang diyakini. Kata “agama manapun” di sini bukan berarti sebebas-bebasnya, namun 6 agama yang diakui negara di atas-lah yang bebas memilih. Kedua, kebebasan untuk beribadah sesuai agamanya masing-masing. Hal kedua ini, bersinggungan langsung dengan realitas sosial keagamaan di masyarakat, bukan semata hak untuk beragama atau merdeka memilih agama (transendental dan spiritual).
Kebebasan beribadah berhubungan dengan situasi sosial,
Tentang Masyarakat Madani dalam Wacana Pluralisme Agama di Indonesia)”, Al-Ijtima’i:
International Journal of Government, 21(2) 2016, 134-149.
46 Dari UUD 1945, dipedomani oleh undang-undang lain yang bersifat teknis seperti diatur pada UU Hak Asasi Manusia No. 39 tahun 1999 dan UU tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR) Nomor 12 tahun 2005. Kedua undang-undang ini menjelaskan tentang kebebasan beragama mulai dari hal yang sengat kecil seperti tidak memaksa memilih agama, sampai pada toleransi dan kerja sama antarumat beragama. Lihat dalam jurnal M. Yusuf Asry, “Komunikasi Dialog Merawat Kerukunan Umat Beragama di Indonesia”, Jurnal Wacana: XIV(2) 2015, hlm. 110- 200.
fenomena dan tradisi. Sebab konsep beribadah memerlukan banyak hal, seperti tempat beribadah dan ritual keagamaan. Maka kebebasan beribadah, memberikan keluasan kepada pemeluk agama untuk membangun lokasi peribadatan di tengah-tengah masyarakat dan menjalankan ritual agama sebebas-bebasnya, selagi tidak mengganggu kebebasan beribadah umat beragama yang lain.
Ketiga, selain kebebasan atau kemerdekaan beragama, terdapat prinsip fundamental yang terselip pada pasal 29 ayat 2 tersebut, yaitu prinsip non-diskriminasi berdiri di atas semua agama.47 Prinsip ini merambat ke semua sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, politik dan sebagainya. Semisal, dalam menjalankan pendidikan, mengatur pola hidup sosial, menangani bencana alam, menyelesaikan konflik, berpolitik, menjalankan tugas dan semuanya tidak boleh ada perbedaan. Hakim tidak boleh memihak pada si kaya, pendidikan bukan hanya untuk yang bermodal, perempuan juga memiliki quota kursi legislatif dan lain-lain. Prinsip non diskriminatif kebalikan dari sikap “adil”.
Selain apa yang diatur UUD 1945, UU HAM, secara spesifik juga disinggung dalam pengaturan kehidupan umat beragama.
Seperti aturan pembentukan dialog forum keberagamaan melalui forum resmi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melalui kesepakatan Menteri Agama dengan Kementerian Dalam Negeri, juga ada Peraturan Bersama Menteri tahun 2006 tentang pengaturan pembangunan rumah ibadah, dan aturan mengenai penodaan agama dalam UU Nomor 1/PNPS tahun 1965.48 Secara
47 Prinsip non diskriminasi telah digagas semenjak panitia 9 pada BPUPKI menyusun pembukaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Landasan disusunnya dasar negara didasarkan pada kondisi keberagamaan di Indonesia, yang memang telah menganut sistem multi etnik dan agama.
Seluruh aturan dan norma di masyarakat, tidak boleh mengandung diskriminasi kepada pihak lain, baik pada dataran politis, konstitusi maupun pendidikan. Diserap dari Olaf H. Schumann, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan, Cet. Ke-2. jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, 42.
48 Lahirnya beragam peraturan tentang kerukunan umat beragama, terkait erat dengan kondisi dan efektivitas penyelesaian konflik yang terjadi. Sebelum FKUB dibentuk secara resmi, model penyelesaian konflik keagamaan bersifat lokalis atau diselesaikan secara adat, namun jika konflik tersebut melibatkan antar daerah bahkan nasional, maka negara yang menyelesaikan.
30 Rule Model Kerukunan Umat Beragama
tidak langsung, dasar kebijakan kerukunan umat beragama memiliki dasar bangunan yang utuh mulai dari Pancasila, UUD 1945 sampai pada hal-hal teknis.
Djohan Effendi (2009) menancapkan konsep “teologi kerukunan”
yang mengatakan bahwa kerukunan dapat dicapai melalui cara berdialog dan peraturan.49 Saat Mukti Ali menjabat sebagai Menteri Agama, dialog merupakan konsep paling diunggulkan untuk menyelesaikan konflik dan menciptakan kerukunan umat beragama. Namun setelahnya, tepat saat masa Orde Reformasi menggema, konsep teologi kerukunan bergeser dari dialog ke peraturan. Kerukunan dapat tergapai melalui pembuatan berbagai perundang-undangan. Menurut Effendi, yang juga ajudan Mukti Ali, berpendapat bahwa dialog lebih efektif mencapai kerukunan.50
Dengan demikian, bangunan dasar kerukunan umat beragama sebetulnya bertujuan untuk mewujudkan kerukunan umat beragama di Indonesia. Walaupun pada hakikatnya, konsep kerukunan lebih besar dibandingkan dengan peraturan-peraturan yang ada.
Kerukunan umat beragama menyangkut prinsip, karakter, emosional,
Namun menggunakan peraturan yang ada, terkadang tidak mewakili, akhirnya pemerintah membentuk FKUB di setiap daerah yang secara an sich mengawal rekonsiliasi kerukunan umat beragama. Dalam beberapa penelitian, termasuk Abdul Adzim (2019) sejauh ini tercatat efektif menyelesaikan konflik keagamaan, bahkan beberapa kasus mutakhir dilalui melalui forum kerukunan umat beragama (FKUB). Lihat penelitian lebih lanjut oleh Abdul Adzim, “Religious Harmonization as Deradicalisation Efforts Through Interfaith Communities – A Case Study of the Religious Communication Forum (FKUB) in Pekalongan City”, Islamic Studies Journal for Social Transformation, 3(1) 2019, 31-36.
49 Konsep “teologi kerukunan” mengemuka setelah Mukti Ali menanggalkan posisi sebagai Menteri Agama dengan menyelesaikan berbagai peraturan mengenai kerukunan beragama.
Inti dari teori kerukunan mengerucut pada satu pemahaman bahwa duduk bersama oleh para pihak yang berbeda agama adalah hal terpenting untuk mencegah konflik. Elza Peldi Taher (ed.), Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendi. Bandung: ICRP, 2009, 13.
50 Pemikiran johan Effendi, menurut Hamam Faizin, bercorak tafsir sosial. Di mana prinsip masyarakat Indonesia sejak masa sebelum Islam merdeka telah menjadi tradisi yang telah lama hidup. Melalui musyawarah dan berembuk dalam menyelesaikan setiap problem, telah menjadi biasa dan adat di masyarakat. Oleh karena itu, kebiasaan baik yang juga didukung oleh sumber teks keagamaan Islam (al-Quran dan al-Hadits) dan telah menjadi tradisi secara turun temurun masyarakat adalah kekayaan tradisi. Hama Faizin, “Pemikiran Tafsir Djohan Efendi”, Jurnal Kalam, 11(2) 2017, 455-488.
attitude, moral, ilmu dan seluruh aspek yang berhubungan dengan manusia, merupakan aspek kerukunan. Oleh sebab itu, kerukunan bersifat dinamis, fleksibel dan berkembang. Sehingga dibutuhkan aturan baku untuk membentengi keliaran egosentris manusia yang beragama.