Bab V Kerukunan Umat Muslim-Tionghoa di Kota Kediri
C. Prinsip Kerukunan: Resiprokalitas dan Dialog
attitude, moral, ilmu dan seluruh aspek yang berhubungan dengan manusia, merupakan aspek kerukunan. Oleh sebab itu, kerukunan bersifat dinamis, fleksibel dan berkembang. Sehingga dibutuhkan aturan baku untuk membentengi keliaran egosentris manusia yang beragama.
32 Rule Model Kerukunan Umat Beragama
keliru, namun dalam aspek-aspek nilai kemanusiaan semua agama mengajarkan kebaikan, meskipun berbeda secara ritual. Oleh karena itu, semua agama hakikatnya mengajarkan kebaikan, damai dan cinta. Ketiga ajaran ini merupakan makna dari kerukunan.
Bersikap baik, saling menghormati, mencintai rasa damai dan berbuat adil tanpa pandang perbedaan agama adalah ajaran semua agama.
Sebagaimana disampaikan oleh Muhammad Arkoun (2000), yaitu:
Ethics must be carried out from an attitude of tolerance after giving freedom of religion is respecting the existence of other religions with the understanding of respecting the diversity and diversity of teachings contained in every religion and belief that is well recognized state or not yet recognized by the state. Face this reality every time religious adherents are required to always be able to live at once position oneself in the context of plurality based on mutual spirit respect and appreciate the existence of other religions. In no form criticize or impose or act arbitrarily with adherents of other religions.53
Kedua, secara filosofis semua manusia saling membutuhkan.
Tidak dapat memenuhi kebutuhan, tanpa bantuan orang lain.
Kendati berbeda agama, namun kebutuhan sosial merupakan hal yang pasti. Penyadaran ini penting digodok agar sentimental
53 Arkoun ingin menggambarkan bahwa toleransi memiliki etika yang sangat dalam, di mana agama yang satu harus menghormati agama lain dengan cara memberikan kebebasan dalam beragama untuk menghormati eksistensi agama lain sesuai ajaran agama yang diajarkan, baik diakui atau tidak oleh Negara, penghormatan kepada agama lain adalah hal yang niscaya.
Penghormatan yang dimaksud bisa berupa sikap tidak mencela dan tidak bertindak sewenang- wenang terhadap pemeluk agama lain. Ruslani, Masyarakat Dialog Antar Agama, Studi atas Pemikiran Muhammad Arkoun. Yogyakarta: Yayasan Bintang Budaya, 2000, 169.
keagamaan yang berbau fanatik dan doktrinal, dapat terminimalisir.
Seseorang tidak mampu membangun rumah tanpa bantuan orang lain, tidak mampu menggelar pernikahan tanpa campur tangan orang lain, terkadang pada saat tertentu berada pada kondisi lemah dan krisis. Saat itulah, sensitivitas keagamaan disingkirkan.
Ketiga, secara praktis keragaman keagamaan adalah keniscayaan, gesekan konflik pasti ada, maka diperlukan kesadaran untuk hidup rukun dan mengalah. Prinsip keragaman agama, seperti halnya keragaman suku dan ras, cara berbicara, bertindak.54 Suku Madura dengan Suku Batak, tentu memiliki cara berbicara yang berbeda. Suku Sunda dengan Suku jawa memiliki standar adat yang berbeda. Lalu kenapa berbeda agama menjadi konflik?
Hal ini yang perlu ditekankan, bahwa keragaman adalah hal yang wajar.
Sebagaimana diungkap oleh Said Agil al-Munawar tentang konsep Agree in Disagreement, yang dikutip langsung dari bukunya yaitu:
Konsep ini memiliki beberapa prinsip. Yaitu pertama, frank witness and mutual respect. Yaitu kesaksian terang-terangan tentang kepercayaannya di harapan Tuhan dan manusia, agar keyakinan dan agamanya tidak diragukan. Dengan demikian terhindarkan dari rasa takut dan menjauhkan dari tradisi masing-masing. Kedua, religius freedom. Yakni prinsip kebebasan beragama dan kebebasan sosial yang cukup jelas dimiliki. Kebebasan individual tidak ada artinya jika telah tercipta kebebasan agama, karena agama dapat hidup walau tanpa kebebasan sosial. Bebas dari tekanan
54 Bukan hanya di Indonesia, hampir semua negara memiliki sifat keragaman baik agama maupun budaya. Hal pertama yang perlu ditanamkan kepada seluruh masyarakat adalah kesadaran, sebab kesadaran tersangkut paut dengan semangat berbangsa dan bernegara, semangat untuk menjaga kesatuan dan martabat. Kesadaran berhubungan dengan nasionalisme dan bela negara. Abdulaziz Schedina, Dialogical Coversation to Search for Principles of Interfaith Relations: the Future of Pluralistic Word Other, in Joint Christen-Muslim Theological Reflections.
German: The Lutheran Work Federation, 2015, 31.
34 Rule Model Kerukunan Umat Beragama
sosial berarti mampu mengelola kondisi sosial keagamaan yang berjalan tanpa tekanan. Ketiga, prinsip acceptance, yaitu dapat menerima agama orang lain seperti apa adanya.
Tidak menuntut apapun dari agama lain. Keempat, positive thinking and trustworthy. Yaitu berpikir positif terhadap interaksi sosial. Memberikan pikiran positif pada saat bergaul merupakan bagian dari sifat menghargai agama lain.55 Dalam kerangka kehidupan sosial, peraturan mengenai kerukunan umat beragama memang niscaya. Namun tidak jarang, peraturan tersebut tidak mampu mengayomi seluruh isu keagamaan, sifat peraturan terbatas dan berada pada semacam batas minimal, sementara di sisi lain semangat hidup bersama menuntut adanya kemauan dan kompetensi yang besar untuk diupayakan.56 Maka di sinilah peran dialog memainkan peran strategis sebagai cara efektif di bawah komando FKUB.
Melihat sisi kelemahan legislasi dan regulasi yang ada, maka perlu nilai prinsip lain yang mendasar dalam mencapai tujuan kerukunan, terdapat prinsip yang dianggap memiliki nilai universal -meminjam istilahnya Effendi- yaitu “Prinsip Emas” atau resiprokalitas,57 yaitu menempatkan posisi diri kita, pada posisi orang lain, yang diungkap sebagai berikut:
Lakukan pada orang lain apa yang kau ingin orang lain lakukan kepadamu. Jangan lakukan kepada orang lain, apa yang kau tidak ingin orang lain melakukannya padamu.
55 Periksa dalam Said Agil al-Munawar, Fiqh Hubungan Antar Agama. jakarta: Ciputat Press, 2003, 49-51.
56 Hukum di Indonesia menganut asas tidak berlaku surut, artinya apabila ada kejadian yang tidak diatur dalam perundang-undangan maka baru dibuat aturan namun untuk kasus yang terjadi tidak dapat menggunakan aturan yang baru. Adakalanya aturan yang ada tidak mampu menjangkau kawasan luas dan fleksibel di setiap ruang dan waktu. Dilihat dalam Yayuk Kusumawati, “Representasi Rekayasa Sosial sebagai Sarana Keadilan Hukum”, Sangaji:
Jurnal Pemikiran Syariah dan Hukum, 1(2) 2017, 30-32.
57 Prinsip emas yang dicetuskan oleh Djohan Effendi lebih tepatnya merupakan pemikiran yang dihasilkan dari olah rasa dan panduan teknis konsep teologi kerukunan yang dicetuskan.
Secara sederhana, pemahaman prinsip emas adalah kondisi hati dan kesadaran bersama untuk merasakan kondisi orang lain dalam melakukan ibadah. Prinsip emas ini juga disandarkan pada kondisi Agama Islam dulu, saat masih minoritas di tengah agama orang Yahudi yang brutal dan keras. Lihat tulisan Greg Barton, “Neo-Modernism: A Vital Synthesis of Traditionalist and Modernist Islamic Thought in Indonesia”, Studi Islamika, 2(3) 1995, 1-24.
Secara rinci dan gamblang, resiprokalitas dapat dijabarkan pada agama dan kearifan lokal, meskipun diungkapkan secara berbeda, yaitu:
Tabel 2.1
Resiprokalitas Kerukunan Umat Beragama
Budha Jangan sakiti orang sebagaimana itu akan menyakiti dirimu. Budha, Udana-Varga 5.18 Kristen dan Katolik Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya
orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka; demikianlah hukum Taurat dan kitab para nabi. Yesus, Matius 7:12 Kong Hu Chu Satu kata yang bisa merangkum prinsip
perbuatan baik manusia…. Cita kebajikan.
Jangan perlakukan orang lain apa yang kau sendiri tidak suka. Analek Konfusius 15.23 Hindu Inilah inti Dharma: Jangan perlakukan orang
lain dengan yang menyakitimu, jika itu dilakukan padamu. Mahabharata 5:1517 Islam Tidak dikatakan beriman seseorang, sebelum
ia menginginkan bagi saudaranya apa yang diinginkan bagi dirinya. Al-Hadits
Data diambil dari penelitian.58
Prinsip resiprokal, dalam konteks Indonesia, sebetulnya adalah hal yang niscaya. Dibilang niscaya atau keharusan, karena negara ini beragam agama. Sekalipun agama Islam mayoritas, namun pada daerah-daerah tertentu Islam menjadi minoritas dan agama lain menjadi mayoritas. Begitupun sebaliknya, di daerah tertentu agama Kristen, Hindu, Katolik atau lainnya berjumlah minoritas sedangkan Agama Islam mayoritas. Fenomena ini bukan pemandangan tabu, namun keniscayaan. Sehingga, prinsip resiprokal dapat terjalin secara universal.
Semisal, bagi muslim mayoritas dan agama lain minoritas,
58 Prinsip ini oleh pencetus juga bisa diistilahkan dengan welas asih, yaitu saling memahami penderitaan orang lain dengan cara dianalogikan pada diri kita sendiri. Sederhananya, prinsip ini telah lama mengemuka dengan teori kausalitas diri, namun tidak bersinggungan dengan perbedaan agama. Dikutip langsung dari Pusat Studi Agama dan Demokrasi, Menggapai Kerukunan Umat Beragama: Buku Saku FKUB. jakarta: Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI, 2018, 9-10.
36 Rule Model Kerukunan Umat Beragama
ketika yang minoritas ingin membangun tempat ibadah di daerah yang mayoritas muslim, maka umat Islam mesti bersikap resiprokal, dengan cara memosisikan dirinya pada posisi orang lain. Berpikir sama, ketika pada daerah tertentu, di mana umat Islam berjumlah minoritas, di sisi lain agama lain mayoritas, maka yang mayoritas tidak boleh bersikap diskriminatif terhadap yang minoritas. Secara tidak langsung, yang mayoritas merasakan seperti minoritas dan sebaliknya juga demikian.
Namun sebenarnya, istilah mayoritas dan minoritas tidak pantas melekat pada negara yang menjunjung tinggi sikap toleransi dan demokrasi.59 Semua warga negara adalah satu kesatuan, sekalipun ada, hal itu hanya untuk data statistik yang tidak berpengaruh pada kebijakan dan kekuasaan dalam ranah sosial dan kenegaraan. Prinsip kebersamaan (equal) menghilangkan kata-kata “kelompok besar atau kelompok kecil”, istilah tersebut tidak mengisyaratkan pembedaan hak. Negara Pancasilais, tidak memandang mayoritas dan minoritas, ketika telah berada pada satu negara kesatuan, maka semuanya memiliki hak yang sama untuk mewujudkan kerukunan sejati.