• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DENGAN MODEL LEARNING CYCLE 5E YANG DILENGKAPI AUGMENTED REALITY PADA

ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DENGAN MODEL

pembelajaran masih kurang maksimal terutama pada organ pernapasan. Membelajarkan materi yang bersifat konseptual dibutuhkan adanya bantuan bahan ajar yang mengandung media yang dapat memanipulasi objek atau memvisualisasikan objek.

Salah satu komponen penting dalam kegiatan pembelajaran ialah ketersediaan bahan ajar, sebagai alat yang digunakan untuk memudahkan aktivitas dalam proses belajar sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan kompetensi. Bahan ajar berisi sekumpulan bahan atau materi yang disusun dengan sistematis yang digunakan oleh guru dan peserta didik dalam proses kegiatan pembelajaran (Bahtiar, 2015).

Peserta didik akan lebih siap mengikuti pembelajaran apabila telah dibekali bahan ajar, karena konsep-konsep inti yang akan dibahas telah disediakan dalam bahan ajar (Sadjati, 2012).

Berdasarkan tingkat kognitif peserta didik pada tingkatan SMP, untuk memvisualisasikan materi sistem pernapasan yang bersifat abstrak, dibutuhkan adanya kombinasi bahan ajar media sebagai visualisasi objek maupun manipulasi objek yaitu organ pernapasan, salah satunya teknologi Augmented Reality.

Augmented reality ialah teknologi yang dapat menghubungkan objek buatan (virtual) dengan objek nyata sehingga objek virtual juga dapat terlihat nyata (Azuma, 1997 & Dunleavy dkk, 2009). Pada pembelajaran IPA khususnya materi sistem pernapasan, Augmented reality dapat digunakan untuk menggambarkan bentuk organ dalam sistem pernapasan secara jelas dan lebih detail serta lebih menarik untuk pelajari dibanding dengan gambar dua dimensi yang disajikan dalam dibuku teks (Habibi, 2016).

Sejak merebaknya pandemi Covid-19 di dunia menyebabkan beberapa perubahan tatanan sosial, tak terkecuali dalam dunia pendidikan di Indonesia. Beberapa usaha dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran penularan virus Corona di lingkungan sekolah. Salah satunya berupa surat yang diedarkan oleh Kemendikbud No 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19, yang mana pembelajaran dilaksanakan secara daring selama berlangsungnya masa pandemi covid.

Hal ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk tetap menciptakan pembelajaran yang menarik, aktif dan mandiri walaupun pembelajaran dilakukan jarak jauh. Keaktifan dan kemandirian peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dapat diciptakan melalui model pembelajaran yang inovatif. Model pembelajaran inovatif dapat dirumuskan dalam bahan ajar untuk memfasilitasi peserta didik belajar mandiri di masa pandemi Covid-19 (Nurhayati, 2020).

Penggunaan model pembelajaran inovatif bertujuan untuk melatih peserta didik secara aktif dalam membangun pengetahuan (Nida, dkk., 2017). Model pembelajaran Learning Cycle 5E dapat memfasilitasi peserta didik untuk mengkonstruk pengetahuan secara mandiri dan dapat dirumuskan ke dalam bahan ajar.

Model Learning Cycle 5E memiliki lima tahapan yaitu Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration, dan Evaluation yang tersusun secara terorganisir. Peserta didik diberikan pengalaman belajar untuk menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan baru secara runtut pada setiap tahap “E” dalam Learning Cycle 5E (Bybee dkk., 2006).

Berdasarkan uraian kendala dalam kegiatan pembelajaran sistem pernapasan manusia di masa pandemi Covid-19 maka peneliti mengembangkan bahan ajar untuk pembelajaran sistem pernapasan dengan judul

“Pengembangan Bahan Ajar dengan Model Learning Cycle 5E yang dilengkapi Augmented Reality pada Materi Sistem Pernapasan Manusia”.

METODE

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif ialah metode pendekatan dengan menggunakan studi literatur. Sasaran dan target dalam penelitian adalah guru IPA dan peserta didik SMP kelas VIII. Teknik analisis data berupa studi literatur dan studi lapangan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kenyataan di lapangan sebagian besar proses pembelajaran IPA belum terlaksana dengan baik.

Kurangnya ketersediaan bahan ajar yang dapat memvisualisasikan materi abstrak dalam IPA dan kurangnya metode untuk membelajarkan IPA menjadi penyebabnya. Hal ini menyebabkan peserta didik cukup mengalami kesulitan untuk belajar IPA terutama pada materi sistem pernapasan manusia (Ritonga, 2016; Haqiqi, 2018).

Karakteristik materi sistem pernapasan manusia bersifat abstrak artinya tidak dapat diamati secara langsung oleh mata, sehingga dalam pembelajarannya dibutuhkan adanya media tertentu. Bahan ajar yang beredar di lapangan hanya berupa buku teks dengan sedikit gambar (Puspitorini, dkk., 2014).

Hasil wawancara terhadap beberapa peserta didik di beberapa SMP di kota Malang menunjukkan bahwa pembelajaran IPA terutama materi sistem pernapasan masih dirasa sulit olehnya. Sumber belajar yang

digunakan dalam proses pembelajaran terbatas pada buku teks, yang mana penyajian materi sebagian besar berupa teks dengan sedikit gambar yang dapat mewakili konsep yang bersifat abstrak. Peserta didik merasa kesulitan dalam memahami materi tersebut. Karakteristik dari materi ini bersifat abstrak karena terdapat organ pernapasan yang tidak dapat diamati secara langsung. Kesulitan lain yang dialami peserta didik juga karena terlalu banyak hafalan dan penjelasan. Model pembelajaran yang digunakan masih dalam bentuk konvensional, artinya siswa hanya pasif mendengarkan penjelasan dari guru. Sumber belajar yang disediakan oleh guru dari buku panduan untuk peserta didik, sedangkan dalam materi sistem pernapasan terdapat sub materi yang bersifat abstrak yaitu organ pernapasan dengan sumber belajar yang terbatas dalam dua dimensi yang disajikan dalam buku panduan.

Bahan ajar yang dikembangkan perlu dikemas secara kreatif serta aplikatif supaya peserta didik dapat lebih mudah memahami materi sistem pernapasan manusia. Dibutuhkan adanya bahan ajar yang mengandung media sebagai visualisasi objek maupun manipulasi objek sistem pernapasan, yaitu Augmented Reality.

Teknologi Augmented Reality dapat dioperasikan secara langsung oleh peserta didik melalui smartphone.

Penggunaan smartphone sendiri menurut Hasbiyati, (2020) sangat efektif digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Augmented Reality merupakan suatu teknologi yang dapat menghubungkan objek virtual (buatan) dengan objek nyata sehingga objek virtual juga dapat terlihat nyata secara real time (Azuma, 1997).

Penerapan teknologi Augmented Reality dapat membantu peserta didik dalam memahami materi yang bersifat abstrak (Rosa, dkk., 2019; Mustaqim, 2016). Materi organ pernapasan dapat ditampilkan dalam bentuk animasi 3D melalui teknologi tersebut.

Terdapat beberapa komponen yang menunjang kerja Augmented Realityi yaitu adanya hardware dan software. Harware terdiri atas komputer, kamera, da marker. Komputer berfungsi dalam perancangan serta pembuatan Augmented Reality hingga tahap pembuatan marker. Marker pada AR merupakan sebuah perangkat keras berupa pola yang dapat dikenali oleh kamera. Kamera berfungsi untuk perender marker yang telah dibuat software yang digunakan dalam merancang Augmented Reality terdiri atas software pendukung dan software utama. Software pendukung beru[pa blender berfungsi untuk membuat objek 3D yang nantinya ditampilkan dalam Augmented Reality, sedangkan software utama terdiri dari Unity 3D digunakan untuk menggabungkan objek 3D dengan marker dan Vuvoria SDK berfungsi untuk menjadikan Augmented Reality yang telah dibuat.

Proses pembelajaran yang menarik dapat diterapkan melalui penggunaan media pembelajaran dengan bantuan teknologi dan informasi (TIK) yang dapat memberikan dampak positif berupa motivasi belajar dan informasi tambahan yang luas. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di dalam maupun di luar kelas dapat difasilitasi dengan media pembelajaran berbantuan teknologi dan informasi (TIK) sesuai Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 pasal 19 ayat (1) menjelaskan bahwa proses belajar mengajar pada satuan pendidikan dilakukan secara interaktif, inspiratif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi peserta didik. Bahan ajar yang dikembangkan dilengkapi dengan aplikasi Augmented Reality yang mampu menampilkan gambar 2D ke dalam animasi 3D organ pernapasan serta diselipi qr-code untuk membuka materi berupa video maupun teks literatur.

Sesuai tuntutan K-13 yaitu dalam pelaksanaan pembelajaran, peserta didik diminta aktif belajar dengan artian pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered), maka untuk memaksimalkan penggunaan bahan ajar diperlukan langkah-langkah pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang dinilai dapat membantu peserta didik belajar dengan mengkonstruk pengetahuan secara mandiri yakni model Learning Cycle 5E. Penggunaan model pembelajaran Learning Cycle 5E pada materi sistem pernapasan dinilai efektif untuk digunakan. Tahapan pembelajarannya tesusun dari lima sintaks yaitu a) engagement, b) exploration, c) explanation, d) elaboration, dan e) evaluation, tahapan pembelajarannya bersifat terorganisir (Ramlawati, dkk, 2019) .

Produk hasil penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar IPA dengan model Learning Cycle 5E yang dilengkapi Augmented Reality materi sistem pernapasan berupa produk cetak dan produk aplikasi. Bahan ajar yang telah dikembangkan tersusun atas dua komponen yaitu komponen pendukung dan komponen utama.

Komponen pendukung meliputi cover, kata pengantar, daftar isi, apa saja yang dibutuhkan, petunjuk penggunaan, daftar pustaka serta profil pengembang. Komponen utama meliputi susunan materi sistem pernapasan pada manusia yang disajikan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E, tujuan pembelajaran, peta konsep, serta uji kompetensi.

Bahan ajar yang dikembangkan dengan model Learning Cycle 5E dilengkapi Augmented Reality pada materi sistem pernapasan manusia dapat memfasilitasi peserta didik belajar aktif dan mandiri pada masa pandemi Covid-19. Pada pelaksanaannya setiap peserta didik diberi kesempatan melakukan eksplorasi

pengetahuan melalui kelima tahap Learning Cycle 5E. Diawali dengan tahap Engagement peserta didik secara tidak langsung telah difokuskan terhadap materi yang akan dipelajari. Melalui pengoperasian secara mandiri animasi 3 dimensi organ pernapasan pada aplikasi AR membuat pembelajaran lebih interaktif. Selain itu pengamatan video dan studi lietatur yang disediakan dalam barcode dapat discan secara langsung oleh peserta didik untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin. Dari kegiatan tersebut secara tidak langsung peserta didik telah melakukan tahap Exploration. Kegiatan presentasi dan evaluasi juga dapat dilakukan peserta didik secara online melalui soal-soal yang telah disediakan dalam google form dengan scan barcode yang telah tersedia. Selain itu, peserta didik dapat melakukan refleksi terhadap hasil evaluasi melalui pembahasan soal yang akan dikirim secara otomatis ketika peserta didik telah menjawab soal dalam google form.

Pengembangan bahan ajar dengan model Learning Cycle 5E yang dilengkapi Augmented Reality memiliki kelebihan yaitu (1) pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan belajar aktif dan mandiri, (2) dapat digunakan kapanpun dan dimanapun karena hanya membutuhkan perangkat berupa smartphone, (3) aplikasi yang terdapat dalam Augmented Reality memiliki aspek berupa hiburan sehingga dapat meningkatkan minat belajar peserta didik, dan (4) dapat melibatkan peserta didik aktif dalam proses pembelajaran secara langsung

PENUTUP A. Kesimpulan

Pembelajaran menggunakan bahan ajar dengan model Learning Cycle 5E yang dilengkapi Augmented Reality pada materi sistem pernapasan dapat lebih menyenangkan, sehingga dapat menambah motivasi belajar dan membantu peserta didik untuk memahami materi sistem pernapasan pada manusia dalam pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Dengan demikian kemampuan kognitif serta hasil belajar peserta didik dapat meningkat.

B. Saran

Berdasarkan hasil pengembangan bahan ajar ini dibutuhkan adanya tambahan materi-materi lain, sebagai fasilitas bagi peserta didik untuk belajar mandiri dengan mengikuti perkembangan teknologi saat ini.

DAFTAR RUJUKAN

Ali, L. U., Suastra, I. W., & Sudiatmika, A. A. I. A. R. 2013. Pengelolaan Pembelajaran IPA ditinjau dari Hakikat Sains pada SMP di Kabupaten Lombok Timur. E-Journal Program Pascasarjada Universitas Pendidikan Ganesha, 3.

Anidityas, N. A., Utami, N. R., & Widiyaningrum, P. 2012. Penggunaan Alat Peraga Sistem Pernapasan Manusia Pada Kualitas Belajar Siswa Smp Kelas Viii. USEJ - Unnes Science Education Journal, 1(2):

61–69. https://doi.org/10.15294/usej.v1i2.865.

Arjani, L. M., Subagia, I. W., & Sarini, P. 2020. Implementasi Kurikulum 2013 dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi pada Pembelajaran IPA Kelas VII di SMP Negeri 4 Kubutambahan Tahun Ajaran 2018/2019. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Sains Indonesia (JPPSI), 3: 21–30.

Azuma, R. T. 1997. A Syrvey of Augmented Reality. Hughes Reasearch Laboratories, 6(4): 355–385.

Bahtiar, E. T. 2015. Penulisan Bahan Ajar. (Online), (https://doi.org/10.13140/RG.2.1.1441.6083).

Fauzi, D. N., Hendriyani, M. E., & Sari, I. J. 2018. Uji Efektivitas Lks Berbasis Learning Cycle (5E) Materi Sistem Pernapasan Manusia Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa Kelas Xi. Biodidaktika, Jurnal Biologi Dan Pembelajarannya, 13(2): 37–44.

Gazali, A., Hidayat, A., & Yuliati, L. 2015. Efektivitas Model Siklus Belajar 5E terhadap Keterampilan Proses Sains dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Pendidikan Sains (JPS), 3(1): 10–16.

Hamdani Dedy, E. K. dan I. S. 2012. Pengaruh Model Pembelajaran Generatif Dengan Menggunakan Alat Peraga Terhadap Pemahaman Konsep Cahaya Kelas Viii Di Smp Negeri 7 Kota Bengkulu. Exacta, 10(1): 79–88.

Milgram, P., Takemura, H., Utsumi, A., & Kishino, F. 1995. Augmented Reality: A Class of Displays on the Reality-Virtuality Continuum. Telemanipulator and Telepresence Technologies, 2351: 282–292.

Paige, K., Bentley, B., & Dobson, S. 2016. Slowmation: A Twenty-First Century Educational Tool for Science and Mathematics Pre-Service Teachers. Australian Journal of Teacher Education, 41(2): 1–15.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Ramlawati, Adam, W., Rusli, M. A., & Mun’im, A. 2019. The Effect of 5E Learning Cycle Model Assisted with Mind Mapping on Students’ Science Process Skills and Academic Achievement in the Respiratory System Subject Matter. Education and Humanities Research, 227: 290–294.

Ritonga, N. 2016. Analisis Kesulitan Belajar pada Materi Pokok Sistem Pernapasan Manusia di SMP Abdi Negara Asam Jawa. Wahana Inovasi, 5(2): 410–415.

Sadjati, I. M. 2012. Modul 1 Hakikat Bahan Ajar. Pengembangan Bahan Ajar, (1): 1–62.

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERPOTENSI WISATA BEDENGAN

Garis besar

Dokumen terkait