PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS VIII A SMPN 2 WONOREJO KABUPATEN PASURUAN MELALUI PENERAPAN
6) Generalization (generalisasi/menarik kesimpulan)
Tahap generalisasi adalah tahap proses menarik sebuah kesimpulan yang daat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.
Proses Belajar
Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun 2000 tentang pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan peserta didik belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.
Hasil Belajar
Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapat diartikan bahwa prestasi belajar IPA adalah nilai yang dipreoleh peserta didik setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar mengajar IPA.
METODE
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu suatu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki suatu keadaan pembelajaran di dalam kelas dengan melakukan tindakan- tindakan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang dilaksanakan selama tiga siklus pembelajaran. Seperti yang disebutkan Moleong (2005), bahwa dalam penelitian deskriptif data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka yang diungkapkan dalam kalimat.
Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SMP Negeri 2Wonorejo, Tahun Pelajaran 2019-2020.
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan.
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, 13 November 2019 dan Kamis, 14 November 2019, sedangkan siklus II dilaksanakan pada hari Rabu, 22 Januari 2020 dan Kamis, 23 Januari 2020. Siklus I masuk pada semester ganjil sedangkan siklus II masuk pada semester genap.
Subyek penelitian adalah peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 2 Wonorejo Kabupaten Pasuruan.
Jumlah peserta didik 31 orang dengan rincian 18 peserta didik laki-laki dan 13 peserta didik perempuan. Kelas VIII A terdiri dari peserta didik yang heterogen.
Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan selama tiga siklus, pada setiap siklusnya terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
HASIL PENELITIAN Paparan Siklus I
Dari perencanaan yang telah dibuat, pembelajaran sudah dilaksanakan dengan model Discovery Learning.
Dalam pelaksanaannya sudah sesuai dengan perencanaan untuk materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia.
Pada tahap problem statement (identifikasi masalah), secara umum dari enam kelompok sudah dapat membuat pertanyaan dan merumuskan permasalahan. Demikian juga pada saat diskusi kelompok untuk melakukan kegiatan seperti dalam panduan LKPD, secara umum setiap kelompok menunjukkan bahwa seluruh perhatian diarahkan pada materi diskusi, mengikuti kegiatan diskusi secara aktif, menjawab pertanyaan sesuai dengan maksud dan tujuan pertanyaan serta menghargai saran dan pendapat sesama teman . Tetapi di kelompok 1 ada peserta didik yang kadang-kadang mengganggu temannya yaitu Zainul Mujir. Guru sebagai peneliti selalu memberikan teguran kepada peserta didik tersebut. Di kelompok 3 juga ada peserta didik yang kurang serius saat diskusi kelompok yaitu Muhammad Ilham Mubarok. Pada kedua peserta didik tersebut guru memberikan peringatan keras karena dalam kesehariannya mereka memang sering berbuat ulah. Sehingga guru memberikan sanksi untuk menyapu lab. IPA .
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bruner bahwa melalui pembelajaran model Discovery Learning pengetahuan yang diperoleh akan bertahan lama dan lebih mudah diingat, sehingga hasil tes siklus I sangat baik. Akan tetapi perlu diuji lagi dengan materi pembelajaran yang berbeda.
Melalui beberapa temuan pada siklus I maka guru sebagai peneliti memiliki ide yaitu:
a) Memberikan tanggung jawab presentasi lisan kepada perwakilan kelompok secara acak bukan hanya kepada peserta didik yang ditunjuk sebagai ketua kelompok.
b) Memberikan lebih banyak kesempatan untuk membaca buku referensi c) Mengacak kembali pembentukan kelompok agar terjadi pemerataan
Ide-ide tersebut akan diterapkan sebagai upaya perbaikan proses pembelajaran pada siklus II.
Paparan Siklus II
Pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning telah mampu memotivasi peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran (diskusi kelompok dan presentasi lisan di depan kelas). Hal ini dapat dilihat pada lampiran.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pelaksanaan model pembelajaran Discovery Learning ini mengalami keberhasilan dalam meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Untuk melihat hasil dari penerapan pembelajaran seperti ini secara nyata mungkin perlu waktu yang lebih banyak, tidak dalam waktu dekat.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisa data dapat diperoleh kesimpulan sementara bahwa kualitas pembelajaran dan hasil belajar IPA peserta didik SMP Negeri 2 Wonorejo, Pasuruan dapat ditingkatkan melalui pembelajaran model Discovery Learning . Pada bab ini pembahasan difokuskan pada pelaksanaan tindakan yang meliputi aktifitas: (1) penilaian sikap, (2) unjuk kerja , (3) tes tertulis.
Penilaian sikap, unjuk kerja, nilai rata-rata pada tes tertulis, ketuntasan belajar dan persentase peningkatan seluruh aktifitas pada siklus I, siklus II dan siklus III dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Analisis data Penilaiansikap, unjuk kerja, nilai rata-rata pada tes tertulis, ketuntasan belajar dan persentase peningkatan seluruh aktifitas pada siklus I dan siklus II
No Aspek Yang Diamati
Nilai Keterangan
Siklus I Siklus II 1 Penilaian
Sikap
64,13 (Kategori C)
87,47 (Kategori B)
36,4 2 Unjuk Kerja 63,58 (Kategori
C)
87,90 (Kategori B)
38,25 3 Tes tertulis
a. Rata-rata kelas b. % peserta
didik yang tuntas belajar
82,13 77,4%
(24 peserta didik)
85,42 90,3%
(27 peserta didik)
4 16,67
Dari tabel 1 dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
a. Penilaian Sikap dari siklus I ke II naik 36,4%.
b. Unjuk Kerja dari siklus I ke II naik 38,257%.
c. Rata-rata kelas dari siklus I ke II naik 4%.
d. Persentase jumlah peserta didik yang tuntas belajar pada siklus II mengalami kenaikan sebesar 16,67 % dari siklus I.
Dari analisis data di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa:”Melalui Pembelajaran Model Discovery Learning dapat Meningkatkan Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar IPA Peserta didik SMP Negeri 2 Wonorejo”.
a. Penilaian Sikap
Pada penilaian sikap diperoleh kenaikan sebesar 36,4% dari siklus I ke siklus II. Jika dikaitkan dengan indikator proses pembelajaran dapat dikatakan bahwa peserta didik menunjukkan kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan, keaktifan dalam kerja kelompok, mengatasi perbedaan pendapat pada siklus I termasuk kategori cukup. Sedangkan pada siklus II penilaian sikap mengalami peningkatan menjadi baik.
b. Unjuk Kerja
Aspek-aspek yang dinilai pada kegiatan unjuk kerja meliputi melakukan percobaan, melakukan diskusi kelompok dan mengkomunikasikan hasil diskusi. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 63,58 dan mengalami peningkatan sebesar 38,25% yaitu 87,90 pada siklus II. Hal ini berarti bahwa pada siklus I penilaian unjuk kerja termasuk kategori cukup dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi baik.
c. Tes tertulis
Nilai rata-rata kelas hasil tes tertulis pada siklus I sebesar 82,13 dan siklus II 85,42 terjadi kenaikan sebesar 4% sedangkan peserta didik yang dinyatakan tuntas belajar pada siklus I sebesar 77,4% dan pada siklus II sebesar 90,3%. Jika dihitung jumlah peserta didik yang tuntas pembelajaran pada siklus I sejumlah 24 mengalami kenaikan pada siklus II sejumlah 27. Ini berarti bahwa pembelajaran model Discovery Learning
yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar IPA peserta didik kelas VIIIB SMP Negeri 2 Wonorejo.
Proses pembelajaran dengan Standar Kompetensi Memahami Sistem Dalam Kehidupan Manusia dengan Kompetensi Dasar Sistem Peredaran Darah Pada Manusia dan Memahami Sistem Dalam Kehidupan Tumbuhanini menerapkan pembelajaran model Discovery Learning dimana peserta didik secara aktif terlibat dalam pembelajaran, percobaan serta presentasi. Pembelajaran model Discovery Learning membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif.
Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.Menimbulkan rasa senang pada peserta didik, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
Pembelajaran model Discovery Learning ini memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri, menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri, mendorong peserta didik berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, mendorong peserta didik berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri, memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang, meningkatkan tingkat penghargaan pada peserta didik, kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar, dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
Model ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi peserta didik yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrakatau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep- konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
Hasil Belajar
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah peserta didik itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan megadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Sejalan dengan hasil belajar, maka dapt diartikan bahwa hasil belajar IPA adalah nilai yang diperoleh peserta didik setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar mengajar IPA.
Hasil belajar sendiri dapat ditandai dengan perubahan perilaku belajar, pola pikir dan mental peserta didik. Pada penelitian ini perilaku yang dimaksud adalah aktifitas kooperatif peserta didik. Hasil belajar yang diukur oleh peneliti adalah dari aspek kognitif peserta didik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pembelajaran model Discovery Learning dalam 2 siklus pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
PENUTUP A. Kesimpulan
Dari hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Penerapan pembelajaran model Discovery Learning dapat meningkatkan proses pembelajaran IPA peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 2 Wonorejo kabupaten Pasuruan selama 2 siklus pembelajaran yaitu berdasarkan penilaian sikap (kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan, keaktifan dalam kerja kelompok, mengatasi perbedaan pendapat) dari siklus I ke siklus II sebesar 36,4 % dari siklus I ke siklus II. dan unjuk kerja (melakukan percobaan, melakukan diskusi kelompok dan mengkomunikasikan hasil diskusi) mengalami peningkatan sebesar 38,25 % dari siklus I ke siklus II.
2. Penerapan pembelajaran model Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPA peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 2 Wonorejo kabupaten Pasuruan pada siklus I ke siklus II terjadi kenaikan sebesar 4 %, sedangkan jumlah peserta didik yang tuntas belajar pada siklus II mengalami kenaikan sebesar 16,67 % dari siklus I.
B. Saran
Dari keseluruhan proses dan hasil penelitian yang diperoleh, terdapat saran bagi yang berminat untuk melakukan penelitian serupa atau yang ingin melanjutkan untuk mengembangkan penelitian ini. Saran- sarannya adalah sebagai berikut.
1. Pelaksanaan pola pembelajaran seperti ini yang terus menerus tidak dipungkiri akan menimbulkan kebosanan pada peserta didik, sehingga keterampilan guru untuk mengelola kelas lebih bervariasi sangat diperlukan dengan catatan tidak menyalahi sintaks pembelajaran Discovery Learning .
2. Guru perlu menerapkan pembelajaran model Discovery Learning sebagai salah satu metode alternatif dalam kegiatan pembelajaran.
3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SMP Negeri 2WonorejoTahun Pelajaran 2019-2020.
4. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. BSNP-Standar Isi. Jakarta; Badan Standar Nasional Pendidikan Chotimah dan Dwitasari. 2007. Model-model Pembelajaran untuk PTK. Yayasan Pendidikan Universitas
Negeri Malang. SMA Lab. UM.
Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Lie, A. 2000. Cooperative Learning. Jakarta. Grasindo
Herdian, Metode Pembelajaran Discovery, diakses pada 27 Februari pukul 22.10
Karim, S, dkk. BSE IPA Kelas VIII. 2008. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Pembelajaran Discovery Learning diakses pada 27 Februari pukul 21.03
Pengertian dan Langkah - langkah Model Pembelajaran Discovery Learning diakses pada 27 Februari pukul 21.17
Soeharto, dkk. 2003. Teknologi Pembelajaran. Surabaya: Penerbit Surabaya Intellectual Club.
Susanto, Pudyo. 1992. Strategi Pembelajaran Biologi di Sekolah Menengah. Malang: FPMIPA Universitas Negeri Malang.