• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Persamaan dan Perbedaan Penafsiran

BAB IV PENAFSIRAN AYAT-AYAT MODERASI OLEH

B. Analisis Persamaan dan Perbedaan Penafsiran

Demikianlah penafsiran ayat ini menurut Buya Hamka.

Beliau dengan panjang lebar menyebut ayat ini sebagai larangan memaksa seseorang untuk berislam. Beliau meyakinkan dengan berbagai argument seperti Kisah Nabi saw. yang tidak memaksa Anak seorang sahabatnya yang didik menjadi Yahudi. Riwayat tentang kisah ini beliau sebut sebagai asbab an-Nuzul dari ayat ini. Ayat ini merupakan pembuktian kuat tuduhan orang-orang kafir yang mengatakan Islam disebarkan melalui pedang.

103

sunda. Prof. Dr. Hamka yang menjadi perwakilan mufasir pertengahan lahir dari suku Minang, sedangkan KH. Bisri Mustafa lahir serta dibesarkan dalam lingkungan suku Jawa. Dalam menafsirkan ayat-ayat moderasi, ketiga mufassir ini memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Hal ini yang kemudian menjadikan penelitian ini lebih komprehensif.

1. Umat Nabi Muhamad adalah Umat pertengahan

Pada surat Al-Baqarah ayat 143, Allah swt menyatakan bahwa Umat Nabi Muhammad adalah Ummatan Wasathan atau umat pertengahan. Term ini menjadi keyword moderasi yang paling penting. Dari sini pula lahir istilah moderasi dalam bahasa arab (wasathiyah). Secara bahasa, Buya Hamka dan Kiai Bisyri sama-sama menafsirkan ummatan wasathan dengan umat pertengahan atau umat yang baik.196 Lebih rinci, Ahmad Sanusi menafsirkannya dengan umat yang adil. Umat nabi Muhamad disebut adil karena mengimani semua Nabi dan menjadi saksi bagi umat-umat terdahulu bahkan Nabi saw. akan menjadi saksi bagi mereka.197 Tanpa berpanjang lebar, Ahmad Sanusi seolah hanya mempertegas bahwa umat nabi Muhamad harus menjadi umat yang adil.

Penafsiran ini sedikit banyak bisa jadi menimbulkan multi interpretasi. Karena itu, Hamka memaparkan dengan detail apa yang dimaksud umat pertengahan. Hal ini terkait dengan dengan dua umat sebelum islam yang terkenal dengan sikap fanatik mereka yang bertolak belakang.

196 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 1, hal, 333 dan Bisyri Mustafa, Al-Azhar lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, jilid 1 (Rembang:

Menara Qudus, tt), hal. 46

197 Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfan fi ma‟rifatil Qur`an, (Sukabumi: Pesantren Gunung Puyuh, 1912), jilid 1, hal. 34

Dua kaum tersebut adalah Umat Yahudi yang terkenal dengan kecintaannya kepada dunia dan Umat Nashrani yang sangat mencintai akhirat sehingga meninggalkan kemegahan dunia. Umat Islam melalui Nabi Muhammad saw. diarahkan menjadi penengah kedua umat ini. Hal ini tercerminkan dari kebolehan bekerja keras dengan berniaga di hari jumat. Tetapi setelah datang seruan jum‟at hendaklah segera berangkat menuju tempat shalat. Dan setelah selesai shalat, segeralah kembali bekerja dengan giat.198 Dalam hal ini, Allah swt. berfirman :























































“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77)199

Hal ini juga sesuai dengan hadis Nabi saw :

َكَرَ ت ْنَم ْمُك ِْيَِْبِ َسْيَل ُبْيِصُي ّتَّح ُهاَيْ نُدِل ُوَتَرِخا َلَِو ِوِتَرِخ ِلِ ُهاَيْ نُد

اًعْ يَِجَاَمُهْ نِم َت َلَِو ِةَرِخلِْا َلَِا ٌغ َلََب اَيْ نَّدلا َّنِاَف

ِساَّنلا ىَلَع ًّلَك اْوُ نْوُك

سنا نعرك اسع نبا هاور ( (

198 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 1,

hal, 333

199 Tim Penyusun, Al-Qur`an dan terjemahannya, Hal. 394

105

Bukankah orang yang paling baik diantara kamu orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia sehingga dapat memadukan keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat. Janganlah kamu menjadi beban orang lain” (HR.Ibnu Asakir dari Anas )

Dengan demikian, penafsiran Buya Hamka dan KH. Bisri memiliki kesamaan yaitu sama-sama menyebut umat pertengahan sebagai penafsiran ummatan wasathan. Jika KH. Bisri cukup menyebut umat pertengahan sebagai umat yang baik dari segala aspek, maka Buya Hamka merasa perlu memaparkan definisi umat pertengahan sebagai umat yang mampu menyeimbangkan posisinya di antara kepentingan dunia dan akhirat. Sementara itu, Ahmad Sanusi secara spesifik menafsirkan ummatan wasathan dengan umat yang adil.

Posisi pertengahan menjadikan manusia tidak memihak ke kiri dan ke kanan, suatu hal di mana dapat mengantar manusia berlaku adil. Posisi pertengahan menjadikan seseorang dapat dilihat oleh siapa pun dalam penjuru yang berbeda, dan ketika itu ia dapat menjadi teladan bagi semua pihak. Posisi itu juga menjadikannya dapat menyaksikan siapa pun dan di mana pun.

Allah menjadikan umat Islam pada posisi pertengahan agar kamu, wahai umat Islam, menjadi saksi atas perbuatan manusia yakni umat yang lain, tetapi ini tidak dapat kalian lakukan kecuali jika kalian menjadikan Rasul saw. syahid yakni saksi yang menyaksikan kebenaran sikap dan perbuatan kamu dan beliau pun kalian saksikan, yakni kalian jadikan teladan dalam segala tingkah lalu. Itu lebih kurang yang dimaksud oleh lanjutan ayat

dan agar Rasul Muhammad menjadi saksi atas perbuatan kamu.200

Dengan demikian, dari penafsiran ketiga mufasir terhadap ayat ini dapat disimpulkan bahwa sejak awal, Umat Nabi Muhammad memang telah direncanakan menjadi umat terpilih. Hal ini dapat dilihat dari kepercayaan yang diberikan untuk menjadi saksi bagi umat-umat terdahulu. Untuk menjadi saksi, mereka harus memenuhi beberapa kriteria yaitu baik, adil, dan moderat.

2. Keadilan sebagai Padanan Kata Moderasi

Setelah menafsirkan ayat moderasi dari term kata ummatan wasathan, penulis menganalisa beberapa penafsiran dari term kata lain yaitu al-Qisth, al-„adl, al-Mizan, serta al-Ghuluw.

Hal ini dilakukan untuk menghasilkan penelitian yang lebih komprehensif. Adapun kata Al-Qisth dan al-„adl dipilih karean memiliki makna keadilan dalam arti proporsional. Makna ini sangat terkait dengan makna term moderasi sebelumnya yaitu umat yang adil. Kedua term ini secara serempak terdapat pada QS.

Al-Maidah [5]: 8.

Dalam menafsirkan ayat ini, Ketiga Mufasir sama-sama menegaskan bahwa ayat ini terkait dengan perintah menegakkan keadilan kepada seluruh kalangan. Jangan sampai perbedaan derajat, suku, bangsa, atau kelompok lainnya yang mencipta rasa benci menjadikan seseorang terhalang dari berbuat adil.201 Prinsip ini harus digunakan dalam setiap keadaan terutama dalam hal

200 Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Ciptat: Lentera Hati, 2002), Volume 1, hal.

415

201 Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid 3, hal. 1643, Bisri Mustafa, Al-Ibriz lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, jilid 1, hal. 276, dan Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfan fi ma‟rifatil Qur`an, jilid 1, hal.165-166

107

persaksian. Allah bahkan membubuhkan satu tantangan manusia dalam berbuat adil yaitu rasa benci terhadap satu kaum. Allah maha mengetahui bahwa rasa benci juga sebaliknya rasa sayang seseorang seringkali menjadikan ia berbuat tidak adil. Karena itulah dua hal tersebut harus selalu diperhatikan untuk dijaga.

Pada ayat ini, ketiga Mufasir hampir senada dalam penafsirannya. Hanya saja Buya Hamka lebih lengkap menjelaskan bahwa untuk berbuat adil harus ditopang dengan sikap Qawwamin dari kata Qiyam, yang artinya tegak lurus.

kepala tegak, harga diri penuh! Berjiwa besar karena hati bertauhid. Tidak ada tempat merundukkan diri melainkan Allah.

Kedilan ini juga tentu berlaku pada mereka yang tidak memeluk agama Islam. Kelompok ini dalam suatu negara biasa disebut kafir dzimmi. Kaum ini sejak dulu sudah ada di Madinah dan diperlakukan dengan baik oleh Rasulallah. Hal ini juga membuktikan bahwa perintah menegakkan keadilan paling ditekankan kepada para pemimpin umat. Jangan sampai seorang pemimpin dan kaumnya sepakat untuk berbuat zalim yang akan menyebabkan mereka ditimpa azab seperti kaum terdahulu.

Dari pemaparan tadi dapat disimpulkan bahwa keadilan merupakan salah satu aspek terpenting dalam konsep moderasi.

Tanpa keadilan, orang akan menjadi berat sebelah dan mengurangi kapabilitasnya menjadi umat pertengahan yang akan menjadi saksi manusia seluruhnya. Inilah mengapa berbicara moderasi berarti berbicara jua tentang keadilan. Dua hal ini seolah merupakan dua mata uang yang saling mengait.

3. Keseimbangan sebagai Perangkat Moderasi

Keadilan dan keseimbangan merupakan kata yang saling terhubung. Salah satu indikator penyebutan adil adalah seimbang atau tidak berat sebelah. Pada ayat ini (Al-Hadid : 25), dua kata tersebut disebutkan secara serempak. Dua term tersebut adalah dua term moderasi yaitu al-Qisth dan al-Mizan. Pada kata al-Qisth ketiga mufasir secara serempak memaknainya dengan keadilan.

Namun pada kata al-Mizan, ketiganya berbeda pendapat.

Mbah Bisri dan Ahmad Sanusi mengartikan al-Mizan sebagai timbangan sesuai makna bahasanya.202 Sementara Hamka menerangkan bahwa yang dimaksud mizan (timbangan) bukanlah semacam neraca yang dikirim dari surga atau alam ghaib, melainkan kearifbijaksanaan Nabi-nabi itu sendiri. Dengan kata lain, Hamka menyebut Nabi-nabi yang diutus sebagai tolak ukur kebenaran bagi umat manusia.203

Semua yang diturunkan Allah dalam ayat ini (Rasul, kitab, Timbangan, juga besi dengan segala manfaatnya dimaksudkan untuk tegaknya agama Allah di muka bumi. Besi disini menjadi lambang kekuatan yang dibutuhkan untuk menegakkan hukum Allah demi terciptanya keadilan. Jika moderasi adalah keadilan, maka Allah tentunya menginginkan tegaknya moderasi juga di muka bumi. Hal ini bisa dimaklumi, karena kedua hal ini sama- sama menjadi tombak kemaslahatan umat. Karena itulah manusia harus bersinergi mengusahakannya.

202 Bisri Mustafa, Al-Ibriz lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, juz 3, hal. 2004 Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfan fi ma‟rifatil Qur`an, juz 2, hal 1030-1031

203 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 9,

hal, 7188-7189

109

4. Moderat dalam Beragama

Ayat moderasi selanjutnya diangkat disebabkan banyaknya pemahaman ekstrimis di Indonesia. Pemahaman yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan ini terlukis pada kata al-Ghuluw dalam surat An-Nisa ayat 171. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara ketiga mufassir dalam menafsirkan ayat ini. Ketiganya serempak fokus menyoroti kebiasaan kaum Nashrani yang berlebihan dalam menghormati Nabi Isa.204 Hal ini merupakan salah satu bentuk ghuluw dalam hal agama. Dengan demikian, melalui ayat ini Allah ingin menunjukkan bahwa perilaku terbaik dalam beragama adalah perilaku pertengahan; tidak kurang, juga tidak lebih (moderat).

5. Tidak ada Paksaan dalam Agama Islam

Dalam Al-Qur`an, Allah menyatakan bahwa Tidak ada paksaan dalam agama Islam. Hal ini tercantum jelas dalam QS.

Al-Baqarah [2]: 256. Ayat ini terletak setelah ayat yang sangat terkenal dan memiliki sebutan ayat kursi. Ayat kursiy menjelaskan tentang intisari ajaran Islam yaitu konsep tauhid.

Ayat ini menegaskan bahwa beriman kepada Allah yang satu adalah fitrah bagi seluruh umat manusia. Karena manusia yang baik akan mengikuti fitrah tersebut atas kesadaran dirinya sendiri.

Beragam paksaan untuk memeluk agama Islam tidak diperlukan dan tidak diperintahkan. 205

Seperti ayat sebelumnya, Ahmad Sanusi dan Mbah Bisri senantiasa kompak dalam penafsirannya. Beliau berdua tidak

204 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 3,

hal. 1568

205 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 3,

hal. 1568

berpanjang lebar dalam tafsirnya. Ayat ini menurut keduanya dengan jelas menerangkan bahwa tidak ada paksaan dalam agama Islam. Hal ini disebabkan karena Allah telah menerangkan kebenaran kepada hamba-hambanya. Sehingga orang yang baik akalnya akan dengan mudah mengetahui mana jalan kebenaran dan mana jalan kesesatan. Karena kelogisan inilah seseorang yang mengenal ingin islam tidak butuh dengan tahayul apalagi paksaan.

Penggalan ayat selanjutnya juga menjelaskan bahwa orang yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah akan tetap teguh pada Agama Allah laksana seseorang yang memegang tali yang kokoh erat-erat. Mereka meyakini bahwa Tuhan mereka yang satu adalah Allah swt dan meniadakan tuhan-tuhan selain-Nya.206

Sementara itu, Hamka dengan detail memaparkan tentang sejarah pengusiran Kaum Yahudi di Madinah, penaklukan ka‟bah, juga berbagai peperangan oleh kaum muslimin. Beliau mengutip pernyataan Sarjana Kristen Arabia, Prof. Phillips Hitti yang telah menjadi warga negara Amerika, di dalam bukunya sejarah Arab juga mengakui bahwasanya ayat ini adalah salah satu ayat dalam Islam yang patut menjadi panutan manusia dalam segala agama. Dalam kejadian pengusiran Bani Nadhir itu sudahlah sangat terang perbedaan soal politik dengan soal keyakinan agama. Mereka diusir dari Madinah, karena mereka hendak membunuh Nabi s.a.w. bukan karena tidak berislam. Kenyataanya, mereka tidak dipaksa masuk lslam, anak orang Arab sendiri yang telah memeluk agama yahudi tidak dipaksa supaya memeluk agama ayah-bunda mereka.207 selain itu, Islam tidak pernah melarang umatnya untuk bergaul dengan non muslim selama mereka menjaga pergaulan pula dengan kita. Sebaliknya, jika non muslim

206 Bisri Mustafa, Al-Ibriz lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, juz 3, hal. 264-265,

dan Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfan fi ma‟rifatil Qur`an, juz 1, hal 160-161

207 Hamka, Tafsir Al-Azhar, hal. 623-624

111

tersebut tidak menjaga pergaulan dengan baik seperti mengusir atau bahkan membunuh, barulah Islam melarang umatnya menjadikan mereka sebagai kawan. Dalam hal ini, Allah swt. berfirman :













































Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 9)208

Ada yang unik ketika para mufasir menjelaskan makna thaguth. Ahmad Sanusi dan Bisri dengan kompak menyatakan makna thaguth adalah setan. Mbah bisri juga menambahkan bahwa salah satu perwujudan setan itu adalah berhala-berhala yang disembah kaum musyrik dan kafir. 209 Hamka berbeda dalam hal ini. Beliau menerjemahkan kata thaguth dengan makna yang lebih umum yaitu pelanggaran, seperti orang yang memaksakan suatu faham yang dianutnya juga pemimpin- pemimpin kaum kafir yang tidak mengindahkan perjanjian dengan Nabi. Lengkapnya, Segala pimpinan yang bukan berdasar atas iman kepada Tuhan, baik raja, atau pemimpin, atau dukun, atau syaitan, atau berhala, atau orang-orang yang diberhalakan,

208 Tim Penyusun, Al-Qur`an dan terjemahannya, Hal. 550

209Lihat Bisri Mustafa, Al-Ibriz lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, hal. 102 dan.

Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfan fi ma‟rifatil Qur`an, hal 67

didewadewakan, semuanya itu termasuk dalam kalimat thaghut.210

Dari perbedaan memaknai makna thaguth ini dapat terlihat bahwa Konsentrasi Mbah Bisri dan Ahmad Sanusi lebih kepada hablun minallah (hubungan dengan Allah). Di sisi lain, Hamka ingin menyeimbangkan aspek hablun minallah dengan hubungan sosial masyarakat (hablun minannas). Beliau berusaha mengaitkan fenomena di masa lalu dengan permasalahan di masanya agar umat Islam memiliki konsep ibadah dan muamalah yang baik. Berikut ini adalah tabel penafsiran ayat-ayat moderasi yang telah dipaparkan sebelumnya.

No Ayat Keyword Ahmad

Sanusi Buya Hamka Bisri Mustafa

1

Al- Baqara h : 142

ummatan wasatha

n

umat yang adil

dimaknai sebagai penengah dua umat sebelum islam yang terkenal dengan kecenderunganny a yang bertolak belakang. Mereka

adalah Yahudi dan Nasrani

Umat yang baik dari

segala aspek

2

Al- Maidah

: 8

al- Qisth dan al-

'adl

Keadilan

berlaku adil, teguh pendirian,

tidak mudah tunduk selain

pada Allah

Kedilan

3

Al- Hadid :

25

al-Mizan timbangan keadilan

Bukanlah semacam neraca yang dikirim dari syurga atau alam ghaib, melainkan

Timbangan

210 Hamka, Tafsir Al-Azhar, hal. 628

113 kearifbijaksanaan

Nabi-nabi itu sendiri 4

An- Nisa :

171

al- Ghuluw

berlebih-

lebihan berlebih-lebihan berlebih- lebihan

5

Al- Baqara h : 256

tidak ada paksaan

tidak ada paksaan

dalam Islam karena

Islam adalah agama yang logis,

tidak butuh tahayul

atau paksaan

Memeluk Islam adalah fitrah.

Maka orang yang sehat akalnya

akan masuk dengan sendirinya

tanpa paksaan.

Beliau menentang anggapan bahwa

Islam berjaya karena pedang.

Beliau mengutip banyak sejarah

tentang penyebaran Islam

yang intinya pengusiran dan penaklukan dalam

Islam oleh Rasulallah bukan

dalam rangka memaksa mereka

berislam.

tidak ada paksaan

dalam Islam.

Namun ini bukan berarti Islam mengakui kebenaran

semua agama.

Islam hanya wajib menerangk

an kebenaran.