BAB IV PENAFSIRAN AYAT-AYAT MODERASI OLEH
C. Relevansi dan Kontekstualisasi Penafsiran
113 kearifbijaksanaan
Nabi-nabi itu sendiri 4
An- Nisa :
171
al- Ghuluw
berlebih-
lebihan berlebih-lebihan berlebih- lebihan
5
Al- Baqara h : 256
tidak ada paksaan
tidak ada paksaan
dalam Islam karena
Islam adalah agama yang logis,
tidak butuh tahayul
atau paksaan
Memeluk Islam adalah fitrah.
Maka orang yang sehat akalnya
akan masuk dengan sendirinya
tanpa paksaan.
Beliau menentang anggapan bahwa
Islam berjaya karena pedang.
Beliau mengutip banyak sejarah
tentang penyebaran Islam
yang intinya pengusiran dan penaklukan dalam
Islam oleh Rasulallah bukan
dalam rangka memaksa mereka
berislam.
tidak ada paksaan
dalam Islam.
Namun ini bukan berarti Islam mengakui kebenaran
semua agama.
Islam hanya wajib menerangk
an kebenaran.
perwujudan setan itu adalah berhala-berhala yang disembah kaum musyrik dan kafir. 211 Hamka berbeda dalam hal ini. Beliau menerjemahkan kata thaguth dengan pelanggaran berat. Ini berarti Hamka mengakui bahwa thaguth memang berpotensi memiliki banyak makna. Namun di antara makna-makna thaguth yang disebut Hamka adalah menjelaskan orang yang memaksakan suatu faham yang dianutnya juga pemimpin-pemimpin kaum kafir yang tidak mengindahkan perjanjian dengan Nabi. Lengkapnya, Segala pimpinan yang bukan berdasar atas iman kepada Tuhan, baik raja, atau pemimpin, atau dukun, atau syaitan, atau berhala, atau orang-orang yang diberhalakan, didewa-dewakan, semuanya itu termasuk dalam kalimat thaghut.212
Thaguth dalam bentuk berhala hanya menjadi fenomena lampau.
Seiring berjalannya waktu, ada banyak sekali bentuk penyembahan manusia selain kepada Allah swt. Maka dalam penafsirannya, Hamka menyebut banyak sekali makna thaguth. Beliau seolah tahu bahwa perkembangan zaman bahkan bisa mengikis sebagian makna-makna tersebut. Di masa depan, makna nya bisa juga berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ada dalam kitab tafsir terdahulu.
Penafsiran ayat-ayat Moderasi dalam ketiga tafsir yang dirujuk masih mengandung relevansi dengan kondisi umat dewasa ini. namun beberapa penafsiran itu perlu dikontekstualisasi mengingat permasalahan umat yang semakin kompleks. Semisal pada ayat-ayat berikut ini.
Pada ayat moderasi term al-Qisth dan al-„adl, Bisri Mustafa menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penegasan kepada manusia
211 Lihat Bisri Mustafa, Al-Ibriz lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, juz 1, hal. 102
dan. Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfan fi ma‟rifatil Qur`an, juz 1, hal 67
212 Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid 1, hal. 628
115
untuk senantiasa berbuat adil hanya kepada Allah swt. jangan sampai kebencian seorang pemeluk agama kepada pemeluk agama lain menjadikannya berbuat tidak adil.213 Ahmad Sanusi dalam tafsirnya menegaskan bahwa wajib bagi seorang muslim untuk menegakkan keadilan dan melarang dari penyelewengan ketika memiliki kepentingan atau juga kekhawatiran terhadap suatu kaum.214 Untuk mewujudkan hal ini, setiap manusia dianjurkan untuk menjauhi rasa cinta dan benci yang berlebih kepada sesamanya.
Penafsiran seperti ini menurut hemat penulis masih relevan dengan kondisi umat saat ini terutama di Indonesia. Persenggolan antar umat beragama selalu saja menarik untuk ditarik perbedaannya dan dijadikan permasalahan. Namun, seiring berjalannya waktu, lahir banyak sekali cabang-cabang dari isu keagamaan ini salah satunya perbedaan aliran kalam atau fikih.
Keberagaman pemahaman dalam Islam bukan hanya menjadi warna yang indah dipandang, tetapi juga menjadi bumerang yang menantang untuk menyongsong persatuan. Klaim yang menganggap pemahamannya paling benar dan menyalahkan yang lainnya membuat permasalahan sulit menemukan titik terang. Perasaan ini pula yang sebenarnya menjadi tantangan seorang muslim untuk tetap berlaku adil kepada semua kalangan.
Hamka menjelaskan bahwa seorang Muslim harus Qawwamin dari kata Qiyam, yang artinya tegak lurus. kepala tegak, harga diri penuh! Berjiwa besar karena hati bertauhid. Tidak ada tempat merundukkan diri melainkan Allah. Sikap lemah lembut, tetapi teguh
213 Bisri Mustafa, Al-Ibriz lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, hal. 275-276
214 Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfan fi ma‟rifatil Qur`an, hal.165-166
dalam memegang kebenaran. Kebenaran yang dimaksud tentu saja meliputi seluruh lapisan umat.215
Sementara itu, perlu adanya sebuah rumusan prinsip moderasi berdasarkan ketiga penafsiran di atas. Hal ini dirasa penting untuk menjadikan pemaparan tafsir di atas sesuai dengan konteks zaman ini sehingga dapat dipahami dan digunakan oleh masyarakat. Setidaknya, ada tiga karakter yang menjadi tiang utama moderasi.
1. Mengambil sikap pertengahan dan seimbang dalam segala hal.
Sebagai umat yang wasathan, Umat Nabi Muhammad harus selalu berhati-hati dalam langkahnya. Setiap sikap yang diambil harus berdasarkan pertimbangan dan hujjah yang kuat. Umat Nabi Muhammad saw. mesti menjaga sikapnya agar tidak terjerumus dalam perilaku berlebih (ghuluw) juga kekurangan, baik dalam hal ihwal agama, sosial, dan lain sebagainya. Selain itu, Prinsib menyeimbangkan diri antara kehidupan dunia dan akhirat harus dipegang urat oleh umat wasathan.
2. Bersikap Adil kepada semua kalangan
Berlaku Adil merupakan perintah Allah yang terus terulang dalam al-Qur`an. Berbagai term digunakan hanya untuk mengungkapkan makna keadilan. Al-Adl, al-Qisth, dan al-Mizan sejatinya adalah karakter yang harus terus dibangun untuk menjadi hamba yang baik di mata Allah swt. salah satu cara untuk mampu bersikap adil adalah menjadikan Rasulallah saw. sebagai teladan. Hal ini karena beliau diturunkan sebagai timbangan antara kebenaran dan kebathilan.216
215 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt.), hal. 1643
216 Lihat Penafsiran QS. Al-Hadid ayat 25
117
3. Menjunjung Tinggi Kesantunan dan Toleransi
Untuk mewujudkan Islam yang moderat, kaum muslimin harus terus meng-upgrade diri-nya sendiri dalam hal ilmu pengetahuan dan juga kualitas peribadatan dengan Tuhan (hablun min Allah) maupun dengan sesamanya (Hablun min an-Nas).
Semakin banyak pengetahuan seseorang, semakin kuat jiwanya untuk bertoleransi. Memang tidak mudah, Untuk itu perlu diusahakan untuk memiliki sifat yang teguh pendirian (Qawwam), tidak mudah terpengaruh, dan tidak cepat menilai sesuatu.217