• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROFIL TAFSIR NUSANTARA

D. Tafsir Al-Azhar

49

memiliki ciri khas dalam penggunaan bahasanya. Bahasa jawa hakikatnya tidak hanya memiliki satu macam. Ada semacam hirarki khusus yang digunakan untuk suatu golongan atau keadaan tertentu. Hal ini ternyata dipraktekkan oleh KH. Bisri dalam tafsirnya.dua hirarki yang disinyalir digunakan beliau dalam tafsirnya adalah bahasa kromo (halus) dan sedikit bahasa ngoko (kasar).120

c. Sumber dan Referensi

Dalam memaparkan penafsiran, KH. Bisri Mustafa seringkali mengutip riwayat dari Ibnu „Abbas atau perawi lainnya. Namun tidak semua kutipan itu disebutkan sanad atau bahkan statusnya, sehingga sisi penafsiran akal lebih terlihat dominan. Itulah mengapa dikatakan bahwa sumber tafsir Al- Ibriz adalah tafsir bi al-Ra`yi. Sementara itu referensi yang beliau gunakan kebanyakan dari kitab tafsir-tafsir klasik yang terkenal seperti Jalalain, Tafsir Al-Baidhawi, Tafsir Al- Khazin, dan lain sebagainya.121

D. Tafsir Al-Azhar

haji pada tahun 1927. Beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Tanah Sirahm dalam Nagari Sungai Batang, di tepi danau Minanjau, Sumatera Barat. Pada tahun 17 Februari 1908 M atau 14 Muharram 1326 H. Ayahnya merupakan seorang ulama terkenal Dr. H. Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul pembawa faham-faham Islam di Minangkabau.122

Hamka mengawali pendidikannya di rumah orang tuanya123. Ketika berusia tujuh tahun, ayahnya mendaftarkan Hamka ke Sekolah Desa. Pada tahun 1916, Hamka juga didaftarkan untuk sekolah diniyah petang hari di Pasar Usang Padang Panjang.124 Pagi hari Hamka belajar di Sekolah Desa, sore hari pergi ke Sekolah Diniyah, dan malam hari berkumpul di surau dengan teman-temannya. Begitulah rutinitas sehari-hari Hamka di masa kecilnya. Rutinitas ini dirasakan oleh Hamka sebagai suatu tekanan yang tidak menyenangkan. Belum lagi sikap ayahnya yang terkesan otoriter tak ayal menimbulkan perilaku menyimpang dalam pertumbuhan Hamka. Inilah sebabnya Hamka dikenal sebagai anak yang nakal. Hal ini dibenarkan oleh seseorang yang sangat berpengaruh dalam pertumbuhan pribadi Hamka, A. R. Sutan Mansur.

Pada tahun 1918, Hamka sudah dikhitan di kampung halamannya, di Maninjau. Di waktu yang sama ayahnya Syeikh Abdul Karim Amrullah kembali dari perlawatan pertamanya ke tanah jawa, Surau Jembatan Besi, dimana tempat beliau

122 Hamka, Tasawuf Modern, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2007), hal. XV

123 Saat itu mereka sekeluarga sudah pindah dari Maninjau ke Padang Panjang tahun 1914 M

124 Sekolah ini didirikan oleh Zainuddin Labai El-Yusuni

51

memberikan pelajaran agama dengan sistem lama, lalu diubah menjadi madrasah yang kemudian dikenal dengan Thawalib School. Dimana dengan hasrat agar anak-anaknya kelak menjadi ulama seperti dia pula. Syeikh Abdul Karim Amrullah memasukkan Hamka ke dalam Thawalib School, sedangkan di sekolah Desa diberhentikan. 125

Pada tahun 1942, dalam usia 16 tahun, Hamka berangkat menuju tanah jawa. Ia memulai perjalanannya dari kota Yogyakarta yang merupakan kota awal berdirinya Organisasi keislaman Muhammadiyah. Ia bertemu pamannya Ja‟far Amrullah yang menjadi wasilahnya mengikuti berbagai kursus Muhammadiyah dan Syarikat Islam. Di tanah Jawa ini pula, Hamka bertemu dengan Ki Bagus Kusumo yang mengajari tafsir Al-Qur`an, H.O.S Cokroaminoto yang menjelaskan tentang Islam dan Sosialisme, juga sempat bertukar fikiran dengan beberapa tokoh penting seperti Haji Fachruddin dan Syamsurrijal.126

Setelah menikah dengan Siti Raham binti Endah Sutan pada tahun 29 April 1929, Hamka mulai aktif mengikuti beberapa organisasi. Beberapa pengalaman organisasinya adalah menjadi pengurus Muhammadiyah cabang Padang Panjang, anggota Syu Sangi Kai Dewan Perwakilan Rakyat tahun 1944, anggota misi kebudayaan mewakili Departemen Agama, Anggota Konstituante

125 M. Yunus Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar, (Jakarta:

Penamadani, 2003), cet. Ke-2, hal. 40-41

126 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 172-173

dari Partai Masyumi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 1975, dan lain sebagainya.127

Berbicara mengenai sumbangsih dalam bidang karya, Hamka tentunya turut sangat berperan aktif. Tidak kurang dari 118 tulisannya telah dibukukan. Jumlah ini belum terhitung beberapa tulisan pendek dan sedang yang dimuat di media masa atau disampaikan melalui ceramah dan kuliah. Karya-karya tersebut ada yang berbentuk fiksi, sejarah dan biografi, doktrin islam, etika, tasawuf, politik adat Minangkabau dan Tafsir. Di antara karya-karya tersebut adalah :

a. Khatib al-Ummah, b. Si Sabariah, c. Pembela Islam,

d. Adat Minangkabau dan Agama Islam, e. Ringkasan Tarikh Ummat Islam, f. Kepentingan Tabligh,

g. Hikmat Isra‟ dan Mi‟raj, h. Arkan al-Islam,

i. Laila Majnun,

j. Majalah Tentera tahun 1932, k. Majalah Al-Mahdi tahun 1932, l. Mati mengandung Malu, m. Di bawah lindungan Ka‟bah,

n. Tenggelamnya kapal Van Der Wijck, o. Di dalam lembah Kehidupan,

p. Merantau ke Deli,

127 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 174-176

53

q. Margaretta Gauthier, r. Tuan Direktur, s. Dijemput mamaknya, t. Keadilan Ilahi,128 u. Agama dan Perempuan v. Ayat-ayat Mi‟raj w. Angkatan Baru x. Terusir

y. Ayahku

z. Falsafah Hidup, aa. Demokrasi Kita, bb. Tasawuf Modern

cc. Perkembangan Tasawuf,

dd. Kenang-kenangan hidup jilid I, II, dan III.129 2. Profil Tafsir

a. Latar Belakang Penulisan

Dalam pendahuluan kitabnya, Hamka mengungkapan bahwa motivasi menulis kitab tafsir Al-Azhar adalah untuk menjadi pedoman khususnya bagi para pemuda yang semangat mempelajari Al-Qur`an dan golongan para muballigh (pendakwah) yang semakin tertantang menghadapi perkembangan zaman.130

128Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 177-179

129 Irfan Hamka, Ayah, (Jakarta: Republika Penerbit, 2013), cet. Ke-1, Hal. 243-244

130 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 182-183

b. Metode, Sistematika, dan Corak

Jika dilihat dari urutan suratnya, tafsir al-azhar menggunakan tartib mushafi karena itulah metode tafsir ini disebut dengan tahlili. Dalam menafsirkan Hamka terlebih dahulu mengemukakan muqaddimah terkait ayat di setiap awal juz, selanjutnya beliau juga menyajikan beberapa ayat di awal pembahasan secara tematik. Setelah menerjemahkan ayat, beliau memulai penafsirannya terhadap ayat tersebut dengan luas dan tidak jarang dikaitkan dengan permasalahan yang terjadi di zaman tersebut. Karena itulah dikatakan bahwa corak tafsir ini adalah adabi ijtima‟i.131

c. Sumber dan Referensi

Buya Hamka dalam menulis tafsir Al-Azhar menggunakan sumber bi al-Ra`yi. Sementara sumber literatur tafsir ini diambil dari banyak tafsir terdahulu seperti Tafsir Al-Manar karya Rasyid Ridha, Tafsir al-Maraghi karya Mustafa al- Maraghi, Tafsir al-Qasimi, Tafsir Fi Zhilal al-Qur`an karya Al-Qurthubi, Tafsir Jami‟ al-Bayan fi tafsiri ay al-Qur`an karya At-Thabari, Tafsir Mafatih al-Ghaib karya Imam Ar- Razi, dan lain sebagainya.132

131 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 186-189

132 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 186-187

55 BAB IV

PENAFSIRAN AYAT-AYAT MODERASI OLEH MUFASIR NUSANTARA A. Penafsiran ayat-ayat Moderasi

1. Umat Nabi Muhamad saw adalah Umat Pertengahan

Umat Islam memiliki sejarah panjang di kehidupan dunia ini. sejarah panjang itu ditutup dengan diutusnya Nabi Muhamad saw. sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Karena itu umat Nabi Muhamad memiliki peran dan tugas penting untuk menutup sejarah ini. Mereka diperintah untuk bisa melakukan yang terbaik dalam menegakkan kebaikan dan melawan kemungkaran. Untuk itu, Umat Nabi Muhamad juga diminta untuk bersikap netral dan bijak dalam menghadapi berbagai persoalan. Allah swt. telah memilih Umat Nabi Muhamad saw. sebagai kaum yang seimbang dan lambang bagi keseimbangan itu sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah swt:





























































































“Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan)

manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang berbalik ke belakang.

Sungguh (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah maha pengasih, maha penyayang kepada manusia.” (QS. Al-baqarah [2]: 143)133

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah swt. menjadikan Umat Nabi Muhammad saw. sebagai umat yang wasathan atau pertengahan. Potensi ini dipercayakan agar mereka dapat menjadi saksi atas perbuatan manusia seluruhnya dan agar Rasul mereka (Muhammad saw.) menjadi saksi atas perbuatan mereka. Allah juga menyatakan bahwa peristiwa pemindahan kiblat merupakan ujian untuk mengetahui134 siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan siapa yang malah berbalik (khianat).

Timbul pertanyaan, apa yang dimaksud dengan ummatan wasathan dalam ayat ini. Quraish Shihab dalam tafsirnya menyatakan bahwa seperti halnya ka‟bah yang ada di posisi pertengahan bumi, umat nabi Muhammad dituntut untuk bersikap (pertengahan) moderat dan teladan. Posisi pertengahan menjadikan manusia tidak memihak ke kiri dan ke kanan, suatu hal di mana dapat mengantar manusia berlaku adil. Posisi pertengahan menjadikan seseorang dapat dilihat oleh siapa pun dalam penjuru yang berbeda, dan ketika itu ia dapat menjadi teladan bagi semua pihak. Posisi itu juga menjadikannya dapat

133 Tim Penyusun, Al-Qur`an dan terjemahannya, (Jakarta: PT. Hati Emas, 2013),

Hal. 22

134 Hal ini bukan berarti Allah tidak mengetahui sebelumnya tentang ketaatan dan ketidaktaatan manusia, melainkan karena Allah perlu membuktikan pengetahuan-Nya tersebut sehingga hal ini dapat diketahui oleh dirinya dan rekan-rekannya (Lihat Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah. Ciputat: Lentera Hati, 2002, Volume 1, hal. 416)

57

menyaksikan siapa pun dan di mana pun. Allah menjadikan umat Islam pada posisi pertengahan agar kamu, wahai umat Islam, menjadi saksi atas perbuatan manusia yakni umat yang lain, tetapi ini tidak dapat kalian lakukan kecuali jika kalian menjadikan Rasul saw. syahid yakni saksi yang menyaksikan kebenaran sikap dan perbuatan kamu dan beliau pun kalian saksikan, yakni kalian jadikan teladan dalam segala tingkah lalu.135

Adapun Kata wasathan menurut Ath-Thabari dalam perkataan orang arab diartikan sebagai pilihan dan keadilan.136 Hal ini senada dengan pernyataan Mustafa al-Maraghi dalam tafsirnya.137 Lebih lanjut beliau menerangkan bahwa al-wasath berarti bersikap tengah-tengah. Lawannya adalah al-Ifrath yang berarti berlebih lebihan atau taqshir yang berarti sempit. 138 Selanjutnya akan dipaparkan penafsiran ayat ini menurut mufasir Nusantara.

a. Penafsiran KH. Ahmad Sanusi

Dalam menafsirkan ayat ini, KH. Ahmad Sanusi tidak mengelompokannya dengan ayat yang lain. Hal ini menurut penulis berarti bahwa makna ayat ini dapat berdiri sendiri tanpa disandingkan dengan ayat lain. Beliau juga tidak menyebut munasabah, asbab nuzul, ataupun judul penafsiran.

Akan tetapi beliau langsung menerjemahkannya dalam bahasa Sunda dengan menggunakan bentuk makna gandul (menggantung). Setelah itu, beliau menafsirkan secara singkat ayat ini di tepi kitab. Berikut ini penafsiran lengkapnya :

135 Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah. Ciputat: Lentera Hati, 2002, Volume 1, hal.

415

136 Imam Ali Ash-Shabuni, Terjemah Shafwatut Tafasir, hal. 190

137 Mustafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra, tt), jilid II, hal. 1

138 Mustafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, hal. 2

Ayat ieu nerangkeun (1) yen Umat Muhammad eta umat anu adil kalawan iman ka sakabeh Nabi jeng nyaksikeun ka umat anu baheula jeng dibenerkeun pasaksiana ku kanjeng Nabi. (2)hikmah dipindahkeun kiblat supaya ahlullah uninga kana bedana jalma-jalma anu tumut ka Nabi jeng anu henteu tumut. (3) nyoba kana iman lantaran beurat dipindahkeun kiblat ka jalma anu henteu meunang hidayah. (4) shalat ka baitul maqdis eta henteu lafur.

Ayat ini menerangkan (1) bahwa Umat Nabi Muhammad adalah umat yang adil karena mengimani semua Nabi dan menjadi saksi bagi umat terdahulu serta dibenarkan kesaksiannya oleh Nabi Muhammad saw. (2) Hikmah perpindahan kiblat adalah agar Ahlullah dapat membedakan mana kaum yang taat pada Nabi dan kaum yang kurang taat (3) Perpindahan kiblat akan menjadi ujian iman yang terasa berat bagi mereka yang tidak mendapat hidayah (4) Shalat menghadap Baitul Maqdis itu tidak lemah.139

Menurut Kiai Sanusi, ayat ini berbicara tentang empat bahasan yang kesemuanya terkait dengan perpindahan kiblat Umat Islam dari masjid al-Aqsha ke Masjid al-haram. Yang pertama adalah tentang pemilihan umat Nabi Muhammad sebagai ummmatan wasathan yang dimaknai dengan umat yang adil. Karena sifat „adil‟ inilah Umat Nabi muhammad dipercaya menjadi saksi bagi seluruh umat manusia dan dibenarkan kesaksiannya oleh Nabi saw. Kemudian diterangkan pula dalam ayat ini bahwa perpindahan kiblat menjadi ujian iman yang akan memperlihatkan ketaatan dan ketidaktaatan manusia pada Nabi saw. Namun perpindahan ini tidak berarti menyatakan lemah atau tercelanya shalat

139 Ahmad Sanusi, Raudhatul Irfan fi ma‟rifatil Qur`an, (Sukabumi: Pesantren Gunung Puyuh, 1912), jilid 1, hal. 34

59

menghadap baitul maqdis yang dilakukan sebelum peristiwa pemindahan.

Demikian kandungan makna ayat ini menurut Ahmad Sanusi. Walaupun ayat ini lumayan panjang, beliau menafsirkan hampir setiap ayat secara singkat atau global.

Begitu juga dengan Kata ummatan wasathan yang menjadi titik fokus moderasi pada ayat ini. Secara singkat Kiai Sanusi menafsirkan lafazh tersebut dengan umat yang adil.

b. Penafsiran KH. Bisri Mustafa

Seperti Kiai Ahmad,Sanusi, Mbah Bisri selalu mengawali penafsiran dengan menerjemahkan ayat ke dalam bahasa jawa dengan format gandul (menggantung). Setelah itu, beliau memaparkan penafsiran di bagian tepi kitab. Ayat ini beliau masukkan ke dalam satu kelompok penafsiran yang dimulai dari QS. Al-Baqarah [2]: 142-145. Dalam menafsirkan ayat ini, beliau tidak menyebutkan munasabah, asbab nuzul, juga judul penafsiran. Penjelasan tafsir keempat ayat tadi dimulai dengan menyebutkan kisah tentang permulaan kiblat. Berikut ini penggalan tafsirnya :

Kanjeng Nabi Muhhamad saw. iku nalika isih ana ing mekkah (sadurunge hijrah) yen shalat madep marang kiblat ka‟bah iya iku qiblate iyangi (nabi ibrahim).

Bareng kanjeng nabi pindah hijrah menyang madinah anyar-anyaran, kanjeng nabi nampi dawuh supaya madep kiblat baitul muqoddas. Perlune kanggo ngalulut atine wong-wong yahudi kang panatik maring baitul muqaddas.

140

140 Bisyri Mustafa, Al-Azhar lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, jilid 1 (Rembang:

Menara Qudus, tt), hal. 46

Nabi Muhammad sewaktu masih di Mekkah (sebelum hijrah) melakukan shalat dengan menghadap ka‟bah yang juga kiblatnya Nabi Ibrahim. Namun tak lama setelah hijrah ke Madinah, beliau menerima wahyu untuk menghadap ke kiblat Baitul Muqaddas. Tujuannya adalah untuk meluluhkan hati orang-orang yahudi yang sangat fanatik dengan baitul muqaddas.

Selanjutnya diterangkan bahwa Nabi menghadap ke Baitul Muqoddas itu selama 16-17 bulan. Selama itu, beliau sebenarnya amat menginginkan pengembalian kiblat ke ka‟bah. Selain ka‟bah adalah kiblat nabi Ibrahim, ka‟bah juga menurut beliau lebih potensial untuk menarik orang Arab pada Agama Islam. Salah satu wujud keinginan itu beliau sering menghadapkan wajahnya ke langit berharap turun wahyu yang terkait pengembalian kiblat. Dan akhirnya Allah mengabulkan keinginan Nabi saw. ini. 141

Perpindahan kedua ini tentu saja membuat gaduh masyarakat. Orang-orang Yahudi dan Musyrik mempertanyakan bahkan mengolok-olok perpindahan tersebut. Nabi sebenarnya terganggu dengan kegaduhan ini, tapi tidak banyak. Karena sebelumnya beliau telah menerima wahyu tentang reaksi terhadap perpindahan ini (QS. Al- Baqarah [2]: 142). Pada ayat selanjutnya disebutkan hikmah peristiwa perpindahan kiblat tersebut. (QS. Al-Baqarah [2]:

143). 142

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa menurut Mbah Bisri, dalam memahami ayat ini (QS. Al-

141 Bisyri Mustafa, Al-Azhar lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, jilid 1 (Rembang:

Menara Qudus, tt), hal. 46

142 Bisyri Mustafa, Al-Azhar lima‟rifati tafsir al-Qur`an al-„aziz, jilid 1, (Rembang:

Menara Qudus, tt), hal. 47-48

61

Baqarah:143), haruslah disandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya. Dalam hal ini beliau menyandingkannya dengan ayat sebelumnya (142), juga ayat sesudahnya (144-145).

Keempat ayat ini merupakan rangkaian erat dari tema perpindahan kiblat. Beliau menjelaskan dengan panjang lebar kronologis perpindahan kiblat itu dimulai dari menghadap ka‟bah, baitul maqdis/muqaddas, sampai ke ka‟bah lagi.

Beliau bahkan tidak sempat menafsirkan term moderasi ummatan wasathan pada pemaparannya. Mbah Bisri hanya memaknainya pada bagian terjemah dengan makna golongan yang pertengahan atau bagus.

Tidak dijelaskan dalam tafsirnya bagaimana kriteria umat yang pertengahan itu. Namun jika melihat sebab perpindahan ka‟bah ke Baitul muqaddas karena sikap kaum Yahudi yang fanatik, bisa dikatakan bahwa ayat ini merupakan ayat yang merespon sikap mereka. Umat yang pertengahan bisa jadi berarti umat yang tidak fanatik terhadap suatu jalan atau prinsip. Sayangnya, Mbah Bisri tidak menyebutkan kemungkinan tersebut. Beliau hanya menjelaskan dengan detail tentang sebab juga hikmah pemindahan kiblat.

c. Penafsiran Prof. Dr. Hamka

Di antara ketiga mufasir, Buya Hamka merupakan mufasir yang paling detail dalam menjelaskan suatu ayat. Hal ini dapat terlihat jelas dengan kitab tafsirnya yang mencapai 10 jilid sementara dua mufasir lainnya hanya sampai dua dan tiga jilid saja. Sebelum menafsirkan ayat, beliau menuliskan terjemah Bahasa Indonesia di samping ayat.

Dalam menafsirkan ayat ini, Buya Hamka terlebih dahulu menyebutkan asbab an-nuzul-nya. Ada banyak riwayat asbab an-nuzul yang dikutip oleh Buya Hamka, salah satunya adalah dari Bukhari dan Muslim.143 Selain menyebut Asbab an-Nuzul, Buya Hamka juga mengelompokkan ayat ini dengan ayat sebelumnya (QS. Al-Baqarah [2]: 142) dengan diberi judul “Dari Hal Kiblat.” Kedua ayat ini menurut beliau terkait dengan ayat di juz sebelumnya. Pada ayat QS. Al-Baqarah [2]:

115 Allah telah dengan jelas menyatakan bahwa baik arah Timur ataupun Barat adalah milik Allah swt. maka pada ayat ini membahas kembali perihal kepemilikan Allah terhadap berbagai arah melalui kisah perpindahan kiblat.144

Ayat ini terkait erat dengan pengalihan arah kiblat dari baitul maqdis ke masjidil haram. Pada ayat sebelumnya (142), Allah menyatakan prediksi terhadap reaksi masyarakat mendengar kabar pengalihan kiblat tersebut. Di antara mereka ada yang merespon baik dan kurang baik. Allah juga menyatakan bahwa pemindahan kiblat ini menjadi semacam

143 Bahwa Nabi s.a.w. mula datang ke Madinah, beliau menepat pada akhwalnya (keluarga dari pihak ibu) dari kaum Anshar. Diwaktu mula datang itu beliau shalat menghadap ke Baitul Maqdis, lamanya 16 atau 17 bulan. sedang beliau rindu sekali kiblatnya itu menghadap ke Baitullah (Ka'bah). Setelah permohonan beliau itu dikabulkan Tuhan, maka shalat yang mula dihadapkannya ke Ka'bah itu ialah shalat Ashar. suatu kaum menjadi ma'mum di belakang beliau. Setelah selesai shalat, seorang di antara ma'mum itu pergi ke luar mesjid. Maka bersumpahlah orang itu sambil berkata: "Saya bersaksi di hadapan Allah, bahwa saya baru saja selesai shalat bersama Nabi s.a.w. menghadap ke Ka'bah." Mendengar perkataan orang itu maka sekalian orang yang shalat itu memalingkan mukanya ke Ka'bah dengan tidak memutusi shalatnya. Sampai sekarang mesjid tempat orang mengalih kiblat sedang shalat itu masih tetap dijadikan mesjid peringatan sejarah bernama mesjid dzul- Kiblataini. Yang empunya dua kiblat. (lihat Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 1, hal, 329)

144 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 1, hal, 328)

63

“ujian keimanan” bagi kaum muslimin.145 Kemudian pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa umat Nabi Muhammad dijadikan sebagai umat pertengahan. Buya Hamka menyatakan bahwa penyebutan “umat pertengahan” ini terkait dengan dua umat sebelum islam yang terkenal dengan kecenderungannya yang bertolak belakang.

Dua kaum tersebut adalah Umat Yahudi yang terkenal dengan kecintaannya kepada dunia dan Umat Nashrani yang sangat mencintai akhirat sehingga meninggalkan kemegahan dunia. Umat Islam melalui Nabi Muhammad saw. diarahkan menjadi penengah kedua umat ini. Hal ini tercerminkan dari kebolehan bekerja keras dengan berniaga di hari jumat. Tetapi setelah datang seruan jum‟at hendaklah segera berangkat menuju tempat shalat. Dan setelah selesai shalat, segeralah kembali bekerja dengan giat. 146

Demikian penafsiran ayat ini menurut Buya Hamka.

Sebenarnya Buya Hamka memaparkan cukup panjang watak dari dua kaum yang bertentangan itu yaitu Yahudi dan Nashrani, namun dari pemaparan tersebut dapat diketahui bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang sangat fanatik terhadap kehidupan dunianya. Jika disebut Yahudi maka yang terbayang adalah kemegahan bangunan tempat tinggal dan kemewahan gaya hidupnya. Sebaliknya, kaum Nashrani

145 Ada cukup panjang tafsiran Buya Hamka dalam ayat 142 ini. beliau menerangkan kronologi kejadian pemindahan kiblat juga menyebat beberapa kemungkinan alasan pemindahan kiblat. (lihat Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE- LTD, tt). Jilid 1, hal, 329-332)

146 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 1, hal, 332

adalah kaum yang identik dengan perkara akhirat. Mereka suka mendirikan tempat-tempat untuk bertapa, menganjurkan para pendeta untuk tidak kawin, dan lain sebagainya. Kedua sikap ini harus dipadupadankan dengan baik oleh Umat Nabi Muhammad yang disebut ummatan wasathan. 147

Kata “ummatan wasathan” menurut Buya Hamka dimaknai sebagai umat yang pertengahan. Yaitu umat yang mampu menyeimbangkan dirinya di antara perkara dunia dan akhirat.148 Buya Hamka juga menambahkan bahwa suatu ummat yang menempuh jalan tengah akan menerima hidup di dalam kenyataannya. Percaya kepada akhirat, lalu beramal di dalam dunia ini. Mencari kekayaan untuk membela keadilan, mementingkan kesehatan rohani dan jasmani, karena kesehatan yang satu bertalian dengan yang lain.

Mementingkan kecerdasan fikiran, tetapi dengan menguatkan ibadat untuk menghaluskan perasaan. Mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, karena kekayaan adalah alat untuk berbuat baik. Menjadi Khalifah Allah di atas bumi, untuk bekal menuju akhirat. Karena kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Selama umat ini masih menempuh Shirat al-Mustaqim, ialan yang lurus itu, selama itu pula mereka akan tetap menjadi umat jalan tengah.

Ada banyak hal yang harus dijaga oleh umat pertengahan, karena mereka akan menjadi saksi bagi seluruh manusia serta Nabi Muhammad akan menjadi saksi untuk mereka.149

147 Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1, hal, 332

148 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1983), hal. 21-22

149 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE-LTD, tt). Jilid 1,

hal, 332