• Tidak ada hasil yang ditemukan

moderasi islam dalam perspektif mufasir nusantara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "moderasi islam dalam perspektif mufasir nusantara"

Copied!
151
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Permasalahan

  • Pembatasan Dan Perumusan Masalah
  • Tujuan Dan Manfaat Penelitian
  • Tinjauan Pustaka
  • Metodologi Penelitian
  • Sistematika Penulisan

Mulai dari pengertian wasathiyyah atau moderasi, lalu penjelasan istilah wasathiyyah (moderasi) dalam Al-Quran dan lain sebagainya. Kajian selanjutnya adalah tesis yang ditulis oleh Ulfatul Maghfiroh yang berjudul “Moderasi dalam Perspektif Al-Qur’an”.

MODERASI ISLAM DALAM AL-QUR`AN

Kosakata Terkait Moderasi dalam Al-Qur`an

  • Term Wasath
  • Term al-„adl
  • Term al-Qisth
  • Term al-Al-Mȋzan
  • Term al-Ghuluw
  • Moderasi Islam di Indonesia

Istilah Al-Mȋzan dengan semua asal-usulnya dalam Al-Qur`an diulang sebanyak 28 kali. Di dalam al-Quran, kita dapati ghuluww hanya dalam bentuk kata kerja (taghlȗ), iaitu dalam QS.

PROFIL TAFSIR NUSANTARA

Tafsir Raudlatul Irfan

  • Biografi Mufasir
  • Profil Tafsir

“Tafsir Tafsir Raudatul Irfan Fi Ma'raifati Al-Qur'an karya K.H Ahmad Sanusi,” skripsi, (Semarang: UIN Walisongo, 2017,) hal. Pelajaran tersebut antara lain membaca dan menghafal Al-Qur'an, mengamalkan ibadah, ilmu-ilmu lainnya dan merawat hewan. Sebagai ulama yang produktif, Ahmad Sanusi telah menulis lebih dari 100 karya.102 Di antara karya-karyanya adalah: 1.

Kitab tafsir Raudatul Irfan Fi Ma'rifati al-Qur'an merupakan kitab tafsir yang ditulis secara keseluruhan dan terdiri dari 2 jilid, jilid pertama merupakan tafsir ayat-ayat Al-Qur'an dari Juzi 1 sampai Juzi 15 ., dan jilid kedua adalah tafsir ayat Al-Qur'an dari Juzi 16 sampai Juzi 30, Proses penyusunan kitab Raudatul Irfan Fi Ma'rifati al-Qur'an jilid 1 dan jilid 2 berbeda di sejarah kompilasi dan transmisi miliknya. Dalam kitab tafsir Raudhatul Irfan, Ahmed Sanusi menggunakan metode ijmali, yaitu penafsiran Al-Qur'an secara singkat dan global tanpa uraian yang panjang.107 Mengenai sistematika penulisan, beliau juga menjelaskannya secara sederhana. 106 Muhammad Ruli,

Dilihat dari sumbernya, tafsir ini termasuk dalam kategori bi al-Ra'yi, yaitu penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an berdasarkan ijtihad para mufassir.

Tafsir Al-Ibriz

Sementara itu, belum ada data akurat yang menyebutkan kapan sebenarnya Tafsir Al-Ibriz mulai ditulis. Pada tahun ini juga, tafsir al-Ibriz dicetak pertama kali oleh penerbit Menara Kudus. Bisri Mustafa, Al-Ibriz Li ma'rifati Tafsir al-Quran, (Rembang: Menara Kudus, 1959), hal.

Bagi sobat muslim yang paham lagu daerah jawa, saya sajikan terjemahan Tafsir Al-Qur'an Al-'Aziz dengan konsep yang sederhana, ringan dan mudah dipahami. Metode yang digunakan dalam tafsir Al-Ibriz adalah metode Tahlili yaitu penafsiran dengan menggunakan kalimat-kalimat yang praktis dan mudah dipahami. Seperti halnya Raudlatul Irfan, gaya penafsiran Al-Ibriz agak sulit dibedakan.119 Namun, sebenarnya ini adalah kitab tafsir.

Manakala rujukan yang beliau gunakan kebanyakannya daripada kitab-kitab tafsir klasik yang terkenal seperti Jalalain, Tafsir Al-Baidhawi, Tafsir Al-Khazin, dll. 121.

Tafsir Al-Azhar

Menurut penulis, makna ayat ini dapat berdiri sendiri, tanpa bisa dibandingkan dengan ayat lain. Beliau juga menyebutkan munasabah ayat ini dengan ayat sebelumnya tanpa membahas asbab an-nuzul. Ayat ini menjelaskan (1) Haramnya membesar-besarkan masalah agama seperti berdoa kepada Nabi Allah, (2) Tidak boleh berbohong terhadap Allah SWT.

Tetapi dia tidak menyebut kemunasabahan, asbab an-Nuzul, atau mengelompokkan ayat ini dengan ayat-ayat lain. Bentuk ghuluw yang diterangkan dalam ayat ini ialah mengenai Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Menurut Mbah Bisri, ayat ini jelas menjelaskan bahawa tidak ada paksaan dalam Islam.

Mbah Bisri dalam penjelasannya mengatakan agar pembaca berhati-hati dalam menafsirkan ayat ini.

PENAFSIRAN AYAT-AYAT MODERASI OLEH

Umat Nabi Muhamad saw. adalah umat pertengahan

Dia tidak menyebut asbab an-nuzul, munasabah, gelaran tafsir, dan tidak menghimpunkan ayat ini dengan ayat-ayat lain. Beliau melihat ayat ini sebagai peneguh kepada manusia agar sentiasa berlaku adil hanya kepada Allah swt. Adapun lafaz al-Qisth dan al-„adl yang merupakan istilah kesederhanaan dalam ayat ini hanya bermaksud adil.

Sebelum memulakan persembahan, Buya Hamka menterjemah ayat ini ke dalam bahasa Indonesia yang diletakkan di sebelah pantun. Perkataan al-Qisth dan al-Adl, yang merupakan titik pusat kesederhanaan dalam ayat ini, kedua-duanya ditafsirkan dengan perkataan yang betul. Dia kemudian mentafsirkan ayat ini dengan menghimpunkannya bersama ayat 24 di bawah tajuk Berlumba-lumba untuk mencari keampunan.

Selepas pertama kali menterjemah ke dalam bahasa Jawa, Kiai Sanusi mengemukakan tafsiran ayat ini dalam empat perkara. Secara ringkasnya, perkataan Ghuluw yang merupakan lawan daripada perkataan kesederhanaan dalam ayat ini ditafsirkan secara berlebih-lebihan. Melalui tafsirnya, Mbah Bisri menjelaskan bahawa ayat ini merupakan larangan membuat ghuluw (berlebihan) dalam urusan agama.

Keadilan sebagai Padanan Kata Moderasi

Keseimbangan sebagai Perangkat Moderasi

Malah dalam ayat ini beliau menafsirkannya secara langsung di sisi kitab setelah menterjemahkannya dengan maksud gandul;. Maka ayat ini memfokuskan kepada mengutus Rasul dengan membawa pelbagai alat iaitu mukjizat, kitab dan timbangan keadilan. Selepas menterjemah ke dalam bahasa Jawa, beliau memaparkan tafsiran ayat ini di bahagian bawah ayat dan terjemahannya.

Terlepas dari semua ini, ayat ini menunjukkan bahawa pemberian besi kepada umat Islam adalah untuk mendukung keimanan kepada Allah Ta'ala. Dalam ayat ini, umat Islam mempunyai bukti bahawa Rasul itu bukan satu, tetapi banyak. Semestinya timbangan dalam ayat ini bukanlah bermaksud sejenis timbangan yang diturunkan dari syurga atau alam ghaib, sebaliknya kebijaksanaan para nabi itu sendiri.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa kata kunci moderasi dalam ayat ini adalah al-mȋzȃn, beliau memaknainya sebagai alat penimbangan, namun dalam artian hikmah para rasul.

Moderat dalam Beragama

Salajengipun, bilih Nabi Isa punika abdinipun Allah lan ugi utusanipun ingkang katitahaken tanpa bapa. Satemene Al Masih, Nabi Isa bin Maryam, iku utusane Allah Ta'ala (dudu putrane kaya kang dipracaya). Lan Nabi Isa iku mujudake panguwasane Allah langsung ing bumi Maryam.

Jangan mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang Allah swt. Sesungguhnya Al-Mesih Isa bin Maryam adalah pesuruh Allah. bukan anak Tuhan seperti yang kamu sangka) dan Nabi Isa adalah bukti langsung kekuasaan Tuhan melalui Maryam, yang merupakan kejadian yang luar biasa. Tetapi Isa, tidak.” (Muslim): “Bukankah Nabi Isa itu seperti itu di bumi, di bawah langit?” 180. Dia adalah Anak Allah.” (Muslim): “Di manakah kamu mengatakan bahawa Isa itu adalah anak. Tuhan?". Nashrani): "Dari kitab kamu sendiri Al-Quran menyebut wa rȗhun minhu (roh dari Tuhan)" (Muslim).

Jadi siapa lagi yang bisa menjadi bapak kalau bukan Allah?” (Muslim): “Soal Nabi Isa yang tidak mempunyai bapak, Nabi Adam juga tidak mempunyai bapak bahkan ibu.

Tidak ada Paksaan dalam Agama Islam

Meskipun ayat ini berkaitan dengan penghormatan umat Kristiani terhadap Nabi Isa, namun ayat ini tetap berlaku pada perilaku apapun yang berkaitan dengan beliau. Ayat ini dipilih karena terkesan melengkapi data penelitian sehingga menghasilkan kesimpulan yang lebih komprehensif. Ayat ini memperjelas bahwa Islam adalah jalan yang kredibel dan logis, bukan paksaan dan takhayul.

Setelah menerjemahkan ayat ini ke dalam bahasa Jawa, Mbah Bisri menjelaskan tafsirnya secara singkat tanpa menyebut Munasabah, Asbab an-Nuzul atau mengelompokkannya dengan ayat lain. Usai tafsir, Mbah Bisri rupanya memberikan informasi sekaligus memperingatkan para pembaca agar tidak salah paham terhadap ayat tersebut. Beliau memadukan penafsiran ayat ini dengan ayat berikutnya (QS. Al-Baqarah [2]: 257), yang berjudul “Tidak ada paksaan dalam beragama.” Sebelum masuk ke pembahasan Asbab an-Nuzul, beliau membahas sedikit tentang pulaga ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat kursi).

Ayat ini menjadi bukti kukuh tuduhan orang-orang kafir yang mengatakan Islam disebarkan dengan mata pedang.

Analisis Persamaan dan Perbedaan Penafsiran

Hal ini berkaitan dengan dua komunitas pra-Islam yang terkenal dengan sikap fanatiknya yang saling bertentangan. Dengan demikian, dari penafsiran ayat ini oleh ketiga mufasir dapat disimpulkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW sejak awal memang ditakdirkan untuk menjadi umat pilihan. Hal ini terlihat dari kepercayaan yang diberikan untuk menjadi saksi bagi orang-orang sebelumnya.

Pada saat yang sama, ketiganya fokus menyoroti kebiasaan umat Kristiani yang sangat menghormati Nabi Isa.204 Ini adalah salah satu bentuk ghuluw dalam urusan agama. Maka melalui ayat ini Allah ingin menunjukkan bahwa perilaku yang paling baik dalam agama adalah perilaku yang menengah; tidak kurang dan tidak lebih (sedang). Ayat ini menekankan bahwa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan hal yang wajar bagi seluruh umat manusia.

Phillips Hitti yang telah menjadi warga negara Amerika, dalam bukunya tentang sejarah Arab juga mengakui bahwa ayat ini merupakan salah satu ayat dalam Islam yang patut menjadi teladan bagi umat di semua agama.

Relevansi dan Kontekstualisasi Penafsiran

Namun di antara makna thaguth yang disebutkan Hamka adalah gambaran orang-orang yang memaksakan ideologi yang dianutnya serta pemimpin orang-orang kafir yang mengabaikan perjanjian dengan Nabi. Dalam ayat tentang moderasi istilah al-Qisth dan al-'adl, Bisri Mustafa menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penegasan bagi manusia. 211 Lihat Bisri Mustafa, Al-Ibriz tafsir lima'rifati al-Qur'an al-'aziz, juz 1, hal.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak bermunculan cabang-cabang persoalan agama ini, salah satunya adalah berbagai aliran kalam atau fiqih. Perasaan ini sebenarnya menjadi tantangan bagi seorang muslim untuk tetap bersikap adil terhadap semua kalangan. Al-Adl, al-Qisth dan al-Mizan sebenarnya merupakan karakter yang harus terus dibangun untuk menjadi hamba yang baik di sisi Allah SWT.

Untuk mewujudkan Islam moderat, umat Islam harus terus meningkatkan diri dalam hal ilmu pengetahuan dan juga kualitas ibadah dengan Tuhan (hablun min Allah) dan dengan sesamanya (hablun min an-Nas).

Mewujudkan moderasi Islam di Indonesia

Diantaranya: Pertama, Moderasi Beragama sangat penting sebagai kerangka dalam menata kehidupan beragama dalam masyarakat Indonesia yang majemuk dan multikultural. Bahkan nampaknya ada yang setengah hati menerima konsep moderasi beragama karena khawatir keyakinan agamanya terkikis. Namun hal itu ia maklumi karena Kementerian Agama belum secara resmi menerbitkan buku referensi tersendiri tentang Moderasi Beragama.

Ketiga, para peserta Rakernas diharapkan terlebih dahulu memahami, meyakini dan mengamalkan dengan baik semangat Moderasi Beragama. Ia hanya mengontekstualisasikan penafsiran Moderasi Beragama dalam lingkup tugas Kementerian Agama sebagai pengayom persatuan umat di bidang pendidikan dan keagamaan. Oleh karena itu, kini saatnya menjadikan tahun 2019 Kementerian Agama sebagai Tahun Moderasi Beragama.

Mewujudkan kesederhanaan Islam, atau apa yang disebut oleh Menteri Agama sebagai kesederhanaan agama, adalah tidak mustahil.

PENUTUP

Saran

Mu‟jam Al-Furuq Ad-Dalaliyah fi al-Qur`an al-Karim, Kairo: Dar Gharib, tt. Dan Corak Tafsir Raudatul Irfan Fi Ma‟raifati Al-Qur‟an Karya K.H Ahmad Sanusi,” skripsi, Semarang: UIN Walisongo, 2017, t.d.

Referensi

Dokumen terkait

22 Ibnu Khaldun menentang penggunaan kekerasan dan kekejaman dalam mendidik anak dimana ia berkata: “ barang siapa yang dididik dengan kekejaman dan kekerasan serta pemaksaan

13 Mohammad Daud Ali, 2000, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, Raja Grafindo Persada PT., Jakarta, hlm.281.. Pengertian waris di Indonesia

Dalam proses filosofi rekonsiliasi antara agama dan sains, Nidhal berpegang pada pemikiran Ibnu Rusyd 58 yang mengatakan dalam kitabnya Fashl al-Maqâl bahwa agama dan filsafat

115 Kedua, menurut para Imam dan ini merupakan pendapat Ibnu Abi Hurairah bahwasannya apabila penjual terbukti melakukan persekongkolan bersama na>jisy, maka tidak ada hak

Di antara yang berpendapat demikian, Ibnu ‘Abba>s, ‘Ali Ibn Abi> T}a>lib dalam riwayat yang lain, Qut}rub, al-Farra>’, al-Zajja>j, al-Kalbi>, dan

Penelitian ini bermaskud untuk mengkaji dan menganalisis bagaimana konsep serta pemikiran modernisasi Pendidikan Agama Islam dalam perspektif Ibnu Khaldun, hal tersebut dikarenakan

Sedangkan sugesti yang bisa masuk hanyalah yang bersifat positif yang diras benar oleh hati kecil manusia sebagai insan beragama dan orang yang ingin berubah menjadi lebih baik dan

Adapun konsep metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina sebagaimana yang disimpulkan oleh Abuddin Nata, bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan kepada subjek