BAB III PROFIL TAFSIR NUSANTARA
C. Tafsir Al-Ibriz
karena pemaparannya yang singkat, pemikiran dalam tafsir inipun sangat beragam dan bervariasi. Hal ini menyebabkan cukup sulit mendeteksi corak dalam tafsir sendiri. Sebuah sumber menyatakan corak tafsir ini adalah umum108, hal ini wajar karena hampir semua ayat difahami secara netral tanpa membawa pesan khusus.
c. Sumber dan Referensi
Dilihat dari sumbernya, Tafsir ini tergolong ke dalam kategori bi al-Ra`yi, yaitu tafsir ayat-ayat al-Qur`an yang didasarkan pada ijtihad mufassirnya. Adapun Referensi yang beliau jadikan rujukan kebanyakan berasal dari kitab-kitab ulama terdahulu dan dikutip secara langsung (bodynote) dalam penafsirannya. Dengan kata lain, beliau tidak memaparkan detail sumber rujukannya seperti dalam bentuk daftar pustaka.
C. Tafsir Al-Ibriz
45 Pendidikan intelektual beliau diawali dengan menjadi siswa Sekolah “Ongko Loro”, kemudian nyantri di Pesantren Kajen selama tiga hari, pesantren Kasingan Rembangan dan puncaknya di Mekkah Al-Mukarramah. Di antara guru-gurunya adalah KH.
Khalil (KH. Mustafa), H. Zuhdi, juga Ustadz Suja‟i. Beliau-beliau itulah yang mengajarkan banyak kitab fikih, hadis, Nahwu, Tafsir dan lain sebagainya di Pesantren Kasingan Rembangan. Sewaktu mukim di Mekkah selama dua tahun, beliau mengaji kepada KH.
Bakir, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Ali Maliki, Syeikh Amin, Syeikh Hasan Masyyat, Sayyid „Alawi, dan KH. Abdul Muhaimin.111
Bisri Mustofa menikah pada tahun 1935 dengan Ma‟rufah.
Istrinya adalah puteri KH. Chalil Harun.112 Selama hidupnya, KH.
Bisri Mustafa telah banyak melakukan pengabdian. selain mengajar dan mendidik santri-santrinya, beliau juga ikut terlibat dalam berbagai organisasi. Di antara pengalaman organisasinya adalah menjadi ketua Masyumi (Majlis Syuro Muslimin, Juru Kampanye Partai Nahdhatul Ulama (PNU), Ketua KANDEPAG (Kantor Departemen Agama), Anggota MPRS dari Unsur Nahdhatul Ulama, Anggota DPR dari fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), juga ikut merintis pendirian Bank yang bernama Yamu‟allim (Yayasan Mu‟awanah li al-Muslimin).113
Salah satu bentuk pengabdian KH. Bisri yang lain adalah karya-karyanya yang tidak sedikit. Karya-karya tersebut pada umumnya mengenai masalah keagamaan yang meliputi berbagai
111 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 138
112 Badiatul Rojiqin,dkk. Menelusuri Jejak, Menguak Sejarah, 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia, Yogyakarta: e-Nusantara, 2009. Hlm:Hal. 17
113 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 138-141
bidang seperti Tafsir dan Ilmu Tafsir, Hadis dan Ilmu Hadis, Ilmu Nahwu, Shorof, Aqidah, akhlak, dan lain sebagainya yang kesemuanya berjumlah 114 judul. Adapun bahasa yang digunakan bervariasi. Ada yang berbahasajawa yang bertuliskan arab pegon, ada yang berbahasa Indonesia bertuliskan arab pegon, ada yang berbahasa Indonesia bertuliskan latin, ada juga yang berbahasa arab.114 Di antara karya KH. Bisri Mustafa adalah
a. Al-Iktsir,
b. Tarjamah Bulugh al-Maram, c. Tarjamah Hadis „Arbain Nawawi, d. Islam dan Shalat,
e. Islam dan Tauhid,
f. Akidah Ahlussunnah wal Jama‟ah, g. Al-Baiquniyyah,
h. Tarjamah Syarah Alfiyah Ibnu Malik, i. Tarjamah Syarah al-Jurumiyah, j. Tarjamah „Imrithi,
k. Tarjamah Sullam al-Munawwarah, l. Safinat al-Shalat,
m. Tarjamah al-Faraid al-Bahiyah, n. Muniyat al-Dzam`an,
o. Lathaif al-Irsyad, p. Al-Nabras, q. Manasik Haji, r. Kasykul Al-Nasyr,
s. Ar-Risalah Al-Khashah, dan lain sebagainya.115
114 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 141-142
115 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 142-143
47
Sementara itu, Tidak ada data akurat yang menyebutkan kapan sebenarnya Tafsir Al-Ibriz mulai ditulis. Tetapi tafsir ini diselesaikan pada tanggal 29 Rajab 1379, bertepatan dengan tanggal 28 Januari 1960. Menurut keterangan Ny. Ma‟rufah (istri), tafsir al-Ibriz selesai ditulis setelah kelahiran putrinya yang terakhir (Atikah) sekitar tahun 1964. Pada tahun ini pula, tafsir al-Ibriz untuk pertama kalinya dicetak oleh penerbit Menara Kudus. Penerbitan tafsir ini tidak disertai perjanjian yang jelas, apakah dengan sistem royalti atau borongan.116
2. Profil Tafsir
a. Latar Belakang Penulisan
Motivasi penulisan Tafsir Al-Ibriz tertera jelas mukaddimahnya sebagai berikut :
“Al-Qur`an al-Karim sampun Katah dipun terjemah dineng poro ahli terjemah, wonten ingkang mawi boso walondi, inggris, jerman, Indonesia, lan sanes-sanesipun.
Malah ingkang mawi tembung daerah, jawi, sunda lan sak pinunggalanipun ugi sampun katah. Kanti terjemah- terjemah wahu, umat islam sangking sedoyo bongso lan suku-suku, lajeng katah ingkang saget mangertos ma‟na lan tegesipun. Kangge nambah khidmah lan usaha ingkang sahe lan mulyo meniko, dumateng ngersanipun poro mitro muslimin ingkang sami mangertos tembung daerah Jawi, kawulo segahakeun terjemah tafsir Al- Qur`an Al-„Aziz mawi coro ingkang persojo, enteng, serto gampil pahamanipun.”117
Al-Qur`an telah banyak diterjemahkan oleh para ahli terjemah, mulai dari bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Indonesia, dan lain sebagainya. bahkan penerjemahan ke
116 Abu Rokhmad, Jurnal “Analisa” Volume XVIII, No. 01, Januari - Juni 2011, hal.
32
117 KH. Bisri Mustafa, Al-Ibriz Li ma‟rifati Tafsir al-Qur`an, (Rembang: Menara Kudus, 1959), hal. 1 Mukaddimah Pengarang.
bahasa daerah seperti jawa, Sunda, dan sebagainya pun sudah banyak. Dari terjemah-terjemah tadi, Umat Islam yang terdiri dari berbagai bangsa dan suku diharapkan dapat memahami makna-makna Al-Qur`an, menambah kekhidmatan, dan mencapai kemuliaan dengan usaha yang baik. Untuk kawan-kawan kaum muslimin yang sama- sama memahami tembang daerah Jawa, saya persembahkan Terjemah Tafsir Al-Qur`an Al-„Aziz dengan konsep sederhana, ringan, dan mudah dipahami.
Keterangan di atas menunjukkan bahwa KH. Bisri Mustafa berharap karyanya bisa bermanfaat dalam memberi pemahaman terhadap makna Al-Qur`an khususnya pada masyarakat Jawa seperti telah dilakukan ulama terdahulu yang menafsirkan al-Qur`an ke dalam berbagai bahasa seperti inggris, Jerman, Sunda, dan lain sebagainya.
b. Metode, Sistematika, dan Corak
Metode yang digunakan dalam tafsir Al-Ibriz adalah Metode Tahlili, yaitu menafsirkan dengan menggunakan kalimat yang praktis dan mudah dipahami. Dalam menafsirkan, beliau terlebih dahulu meletakkan ayat al-Qur`an di tengah dan diberi makna gandul. Terjemah tafsir ditulis di bagian pinggir dengan memakai nomor di awalnya.
Keterangan-keterangan lain yang terkait penafsiran akan dimasukkan ke dalam kategori tanbih, faidah, muhimmah, dan lain-lain.118
Seperti Raudlatul Irfan, Corak dalam tafsir Al-Ibriz agak sulit dideteksi.119 Namun sebenarnya kitab tafsir ini
118 Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, hal. 148-149
119 Ada pula yang berpendapat bahwa Al-Ibriz cenderung bercorak kombinasi antara fiqhi, sosial-kemasyarakatan dan shufi. Dalam arti, penafsir akan memberikan tekanan
49
memiliki ciri khas dalam penggunaan bahasanya. Bahasa jawa hakikatnya tidak hanya memiliki satu macam. Ada semacam hirarki khusus yang digunakan untuk suatu golongan atau keadaan tertentu. Hal ini ternyata dipraktekkan oleh KH. Bisri dalam tafsirnya.dua hirarki yang disinyalir digunakan beliau dalam tafsirnya adalah bahasa kromo (halus) dan sedikit bahasa ngoko (kasar).120
c. Sumber dan Referensi
Dalam memaparkan penafsiran, KH. Bisri Mustafa seringkali mengutip riwayat dari Ibnu „Abbas atau perawi lainnya. Namun tidak semua kutipan itu disebutkan sanad atau bahkan statusnya, sehingga sisi penafsiran akal lebih terlihat dominan. Itulah mengapa dikatakan bahwa sumber tafsir Al- Ibriz adalah tafsir bi al-Ra`yi. Sementara itu referensi yang beliau gunakan kebanyakan dari kitab tafsir-tafsir klasik yang terkenal seperti Jalalain, Tafsir Al-Baidhawi, Tafsir Al- Khazin, dan lain sebagainya.121
D. Tafsir Al-Azhar