• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Praktik Perwalian Nikah Pasangan Bangsawan

Dalam dokumen problematika perwalian nikah pasangan antar (Halaman 61-68)

BAB III PEMBAHASAN

A. Analisis Praktik Perwalian Nikah Pasangan Bangsawan

BAB III

berkembang serta ditaati masyarakat pada setiap saat baik kebiasaan itu merupakan suatu ucapan atau perilaku.

Tradisi merupakan produk manusia yang bersifat telah melembaga dalam kehidupan bermasyarakat, berlaku secara turun temurun dari generasi ke generasi yang apabila ada Tindakan penolakan terhadap kebiasaan yang sudah berlaku, maka masyarakat dan ketua adat yang menjadi pelaksana tradisi adat akan bersikap represif untuk menolak hal tersebut. Begitu juga di Suradadi dalam hal pelaksanaan tradisi prosesi pernikahan baik yang dilakukan oleh antar strata atau tidak,tradisi tersebut selalu di kawal secara ketat oleh masyarakat dan petua adat setempat.

Adapun analisis penulis mengenai permasalahan di atas diantaranya:

1. Analisis Problematika yang terjadi pasca pernikahan adat Sasak di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.

Dari hasil wawancara dengan imporman bagaimana saat sebelum pernikahan itu terjadi ada beberapa kejadian yang biasanya terjadi ketika dia menikah dengan laki-laki yang non Bangsawan maka anak perempuan tersebut akan dibuang bahkan tidak mendapatkan warisan. Adapun prosesi yang terjadi ketika pernikahan itu terjadi. Dalam hal ini terkait dengan perwalian dimana proses acara pemberitahuan keluarga mempelai perempuan oleh pihak mempelai laki-laki bawa anaknya merarik (dilarikan).

Maka setelah itu dilanjutkan dengan bait wali, proses penjemputan wali ini kerap kali tidak berjalan dengan yang diharapkan karena pihak mempelai laki-laki belum bisa memenuhi permintaan pihak perempuan misalnya, disini proses tawar menawar pisuke pada saat acara nyelabar, berapa yang harus dibayarkan dan apa yang harus disiapkan oleh pihak mempelai laki-laki dari kalangan Jajar karang. Akan tetapi dalam prakteknya, orang tua wali perempuan tidak di perbolehkan hadir dalam proses akad nikah dengan pertimbangan bahwa sebelum pelaksanaan Aji kerame, atau sorong serah telah selesai maka tidak diperbolehkan hadir dalam prosesi akad nikah dan sejenisnya karena dianggap telah melanggar aturan PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR

STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

adat. Oleh karenanya orang tua Mempelai perempuan dalam hal ini tidak bisa menjadi wali nikah bagi anak perempuannya. Dengan begitu Bagi yang tidak bisa orang tua yang tidak bisa menjadi wali untuk anak perempuannya maka akan di serahkan kepada kyai atau petugas KUA.

Pada umumnya prosesi pernikahan di Suradadi dilakukan berbeda jika pernikahan yang terjadi itu antara perempuan bangsawan dengan laki-laki non bangsawan, dimana dalam proses Nyelabar-nya rombongan nyelabar tidak boleh langsung datang ke rumah perempuan melainkan terlebih dahulu datang ke rumah kadus atau ketua adat setempat untuk meminta izin.

Dalam proses nyelabar tersebut yang menjadi bahan pokok pembicaraannya adalah apakah orang tua si perempuan mau menjadi Wali nikah anaknya atau tidak, berapa Jumlah maharnya karena untuk perempuan yang masih perawan di Lombok, yang menentukan jumlah maharnya adalah orang tuanya, selain itu juga adalah masalah benda apa saja yang harus di siapkan si laki-laki untuk memenuhi permintaan dari pihak perempuan bangsawan.

Prosesi pernikahan tersebut dibuat sedemikian kompleks dan rumit ketika perempuan bangsawan menikah dengan laki-laki non bangsawan.

2. Analisis Proses Perwalian Nikah Antar Strata Sosial di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.

Dalam konteks perwalian nikah secara khusus dalam gelar kebangsawanan, tidak ada penyebutan secara eksplisit dalam nash al qur‟at atau as-Sunnah, baik yang bersifat qodhi maupun yang bersifat zanni. Sebagai konsekuensinya, ijtihat sebagai alternatif terahir untuk menentukan hukum adat ini.

Stratifikasi yang terdapat dalam masyarakat adalah sangat banyak sekali seperti tingkatan dalam masyarakat dalam hal, ekonomi, Pendidikan, kedudukan, akan tetapi penulis akan menjelaskan tentang tingkatan masyarakat dalam lingkup bangsawan saja.75 Tingkatan dalam masyarakat bangsawan adalah sebagai berikut:

75Djazuli, Kaidah-kaidah Fikih, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm.35

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

Akan tetapi secara garis besar tingkatan dalam masyarakat sasak pada umumnya dan desa Suradadi pada khususnya dibagi menjadi dua yaitu: Pertama: tingkatan bangsawan dan Kedua: non bangsawan, dalam kaitannya dengan perwalian nikah, maka perwalian nikah yang ada di sini akan berbeda ketika wanita bangsawan menikah dengan laki-laki non bangsawan. Karena dianggap melanggar aturan adat sehingga bisa menurunkan derajat kebangsawanan bagi si perempuan bangsawan. Hal ini juga dapat menimbulkan terjadinya perpecahan dan pertikaian dalam masyarakat dan keluarganya sendiri karena bagi keluarga perempuan yang bukan bangsawan hal ini merupakan perkara yang dianggap menimbulkan aib.

Kesejajaran status sosial dalam hal keturunan untuk menentukan calon pasangan hidup oleh para ulama mazhab terdahulu di masukan dalam ukuran sejajar apabila seseorang ingin melakukan perkawinan. Seperti pendapat Imam al-Shfi‟i bahwa perempuan Arab tidak sekufu dengan orang Ajam. Begitu juga dengan perempuan Quraish tidak sejajar dengan laki-laki non Quraish.76

Konsepsi kaf’ah dalam hukum Islam yang harus dijadikan dalam melaksanakan perkawinan adalah kecantikan, kekayaan, keturunan dan agamanya. Tapi yang harus dijadikan prioritas adalah kualitas agamanya karena agama akan memberikan implikasi terhadap perilaku dan perbuatan seseorang. Konsep kafa’ah yang bersifat sosial sebenarnya mendapat pertentangan dari beberapa ahli fiqih berdasarkan argumentasi hak asasi manusia.

Sedangkan dalam konsep Islam disebut kafa’ah atau stratifikasi sosial bukan merupakan suatu syarat yang dijadikan alasan untuk mencegah suatu perkawinan. Dalam syari‟at Islam dan Al-Qur‟an telah dijelaskan bahwa yang membedakan antara laki-laki yang akan menikah dengan perempuan yang akan dinikahinya adalah agama dan ketakwaannya.

76Kharudin Nasution, Stane Kafaah Dalam Perkauman, (Yogyakarta: UIN Suka Press, 2014), hlm. 146

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

Sekufu dalam Islam mengenai: agama, nasab, merdeka, harta, keterampilan dan tidak cacat. Akan tetapi Ibnu Hazm berpendapat bahwa kafa‟ah„ tidak penting dalam sebuah perkawinan, menurutnya antara orang Islam yang satu dengan orang Islam yang lainnya adalah sama (sekufu‟). Semua orang Islam asalkan dia tidak pernah berzina, maka ia berhak kawin dengan semua wanita muslimah yang tidak pernah berzina.77

Berdasarkan Surat An-Nahl Ayat 72

مُكِج ََٰو ۡزَأ ۡهِّم مُكَل َلَعَجَو ا ٗج ََٰو ۡزَأ ۡمُكِسُفوَأ ۡهِّم مُكَل َلَعَج ُ هللَّٱَو ِتَم ۡعِىِبَو َنوُىِم ۡؤُي ِلِطََٰبۡلٱِبَفَأ ِِۚتََٰبِّيهطلٱ َهِّم مُكَقَزَرَو ٗةَدَفَحَو َهيِىَب َنوُرُف ۡكَي ۡمٌُ ِ هللَّٱ

Artinya: dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?”78

Dalam ayat ini, bisa dilihat tanda kekuasaan sang Pencipta ketika Allah menjadikan kita semua berpasang-pasangan, suami dan istri agar menggapai ketenangan hidup. Selain itu dilihat dari konteks permasalahan yang di teliti di sini kenapa mesti menjalani aturan yang batil sedangkan yang baik masih bisa dijalani.

Sebagian imam mazhab berpendapat bahwa harta tidak dijadikan syarat sekufu karena harta bisa datang dan pergi, dan yang ditekankan dalam agama mengenai sekufu adalah agama dan akhlaknya sebagaimana yang di jelaskan dalam hadits yang artinya.

ُيْوُحِكْواَف ًَُقُلُخَو ًَُىْيِد َنْوَضْرَت ْهَم ْمُكَءاَج اَذإ ت .

“apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia dan rasulullah mengulanginya sebanyak tiga kali”.

77 Wahbah Al-Zuhailiy, Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu, (Bandung: Gema Insani Press, Beirut, 2007), hlm. 673

78An-Nahl [72]: 16

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

Penulis berpendapat bahwa wali untuk perempuan dalam hal ini bukan stratifikasi sosial yang menjadi alasan pencegahan dalam perkawinan atau hal yang mempersulit perempuan mendapat wali dari orang tuanya langsung karena yang paling penting untuk diperhatikan adalah agama dan akhlak, karena ini merupakan kunci utama sebuah rumah tangga. Karena harta dan stratifikasi sosial dalam masyarakat bukan suatu jaminan dalam kebahagiaan rumah tangga, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang artinya

orang arab sekufu di antara mereka dan orang yang merdeka sekufu di antara mereka”.79

3. Analisis Faktor-faktor Yang Menyebabkan Masyarakat Desa Suradadi Menyerahkan Hak Perwalian Nikah Kepada Tokoh Agama.

Pada dasarnya dalam masyarakat adat yang masih kuat dengan prinsip adatnya, perkawinan yang di kehendaki adalah perkawinan antara orang-orang yang berdasarkan ikatan keturun atau wangsa yang sama. Berdasarkan hal tersebut membenarkan pendapat dari Hilman Hadikusuma, yang menyatakan bahwa di kalangan masyarakat adat yang masih kuat prinsip kekerabatanyan berdasarkan ikatan keturunan (magis) maka perkawinan merupakan nilai untuk meneruskan keturuan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut masyarakat Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur masih memiliki upaya-upaya untuk mempertahankan dan melestarikan adat-istiadatnya terutama dalam hal mempertahankan silsilah dan garis keturunan. Salah satu cara masyarakat desa Suradadi mempertahankan adat mereka dengan menunjukkan ketidak setujuannya ketika anak perempuannya menikah dengan laki-laki yang non bangsawan dengan cara tidak mau mewalikan anak perempuannya ketika menikah dengan laki-laki non bangsawan.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan para imporman di atas seperti tokoh adat, tokoh agama, orang yang melakukan perkawinan beda kasta, orang tua dari pasangan yang

79 Sayid Sabiq, Fikih Sunnah 3, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2015),hlm. 394

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

melakukan pernikahan beda kasta, dan para tokoh masyarakat yang ada di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur dalam pelaksanaan penyerahan hak perwalian nikah kepada tokoh adat atau wali hakim alasannya tidak jauh dengan factor-faktor yang di sebutkan pada pembahasan sebelumnya yakni selalu berkaitan dengan pernikahan beda kasta yang terjadi di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur, maka dalam setiap upacara yaitu terdapat aturan-aturan atau tradisi yang tidak semua orang dapat diperlakukan sama. Misalnya seperti yang sudah di bahas sebelumnya ketika perempuan bangsawan menikah dengan laki-laki non bangsawan maka dari prosesi pernikahannya berbeda karena dianggap nyerompang atau menyalahi aturan adat.

Hal ini bisa dilihat dari kejadian-kejadian yang ada di masyarakat bahwa ketika laki-laki non bangsawan melarikan perempuan bangsawan maka akan di persulit prosesi pernikahannya oleh pihak wanita,

Dari hasil wawancara peneliti kepada imporman, adapun faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat menyerahkan hak perwalian nikahnya kepada pihak lain dengan alasan yang berbeda- beda diantaranya:

1) Orang tua dari pihak mempelai perempuan percaya kalau pernikahan yang diwalikan oleh kyai akan memberikah berkah yang lebih dari pada mewalikan anaknya sendiri.

2) Mereka ingin meneruskan kebiasaan nenek moyang mereka yang sudah berlaku sudah sejak lama.

3) Masyarakat menyerahkan hak perwalian nikah anak perempuannya dikarenakan mereka tidak mau mendengar gunjingan dari masyarakat sekitar atau tetangga mereka, ketika anak perempuannya menikah dengan laki-laki non bangsawan karena masyarakat menganggap itu menyalahi aturan adat.

Melihat alasan yang paling relevan, perkawinan beda kasta akan menimbulkan implikasi bukan hanya bagi yang bersangkutan tetapi juga bagi keluarga yang dapat dilihat dari perspektif hukum, sosial-budaya maupun Agama. Secara hukum memang tidak ada peraturan tertulis yang mengatur mengenai dampak perkawinan PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR

STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

beda kasta. Berpedoman pada Undang-Undang Dasar 1945 dan pancasila mengenai kedudukan orang yang melakukan perkawinan beda kasta tetap mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum baik itu mengenai hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Begitupun dari sudut pandang agama, Secara nyata, Islam menolak segala bentuk stratifikasi dan perbedaan sosial serta ketidak setaraan hak-hak manusia atas dasar perbedaan fisik, kekayaan, profesi, keturunan, kesukuan, ras, dan sebagainya. Hak-hak asasi manusia yang merupakan hak-hak yang di miliki manusia karena kemanusiaannya adalah hak-hak dasar yang diletakkan islam bagi seluruh manusia. Selanjutnya hal ini menimbulkan keniscayaan adanya egalitarian dan hak-hak alamiah dalam hukum perkawinan Islam, terutama hak untuk membangun hubungan perkawinan.

Orang melakukan pernikahan tidak jauh dari tujuan utama pernikahan tersebut antara lain, Pertama: perkawinan bertujuan untuk menyalurkan kebutuhan seksualitas manusia dengan jalan yang dibenarkan oleh Allah. Kedua: mengangkat harkat dan martabat perempuan. Ketiga: memproduksi keturunan, agar manusia tidak punah dan memperbanyak umat manusia.

B. Analisis Alternatif Solusi Terhadap Permasalahan Perwalian Nikah

Dalam dokumen problematika perwalian nikah pasangan antar (Halaman 61-68)

Dokumen terkait