• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Perwalian Nikah Pasangan Bangsawan Dengan

Dalam dokumen problematika perwalian nikah pasangan antar (Halaman 49-57)

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

B. Praktik Perwalian Nikah Pasangan Bangsawan Dengan

B. Praktik Perwalian Nikah Pasangan Bangsawan Dengan Non

buang dari adatnya, sehingga perempuan tersebut dalam waktu yang lama tidak bisa kembali ke rumah orang tuanya, tapi banyak di temukan sekarang ini dalam jangka satu atau dua tahun mereka dengan biasa berkunjung ke rumah mamiqnya”.56 Begitupun keterangan dari narasumber Lalu Abdul Azim sebagai staf di desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lomok Timur menerangkan setelah terjadinya perkawinan perempuan bangsawan dengan laki-laki bangsawan bahwa:

“Setelah terjadinya perkawinan bangsawan dengan laki-laki non bangsawan yang ada di desa Suradadi ini dikarenakan hal tersebut dari proses pernikahan mereka kalau hal itu terjadi maka perlakuan keluarga dari pihak keluarga perempuan tidak ada acara penerimaan atau pesta di rumah pihak perempuan, selain itu tidak ada prosesi nyongkolan seperti ketika perempuan bangsawan menikah dengan laki-laki bangsawan”.57

Sedangkan keterangan dari narasumber Lalu Sahmin sebagai tokoh masyarakat menerangkan bahwa:

“lamun nine bangsawan mrerik kance mame sak ndek bangsawan beun ne ndek te bing warisan olek dngan toak ne, sengak te anggep melanggar adat,leguk biasen calon semame ne nu ye siapan olek sebelum. leguk luek dngan sak ndek keduan ntan marak sak meni malik nane” (kalau perempuan bangsawan menikah dengan laki-laki non bangsawan bias jadi dia tidak di kasih warisan oleh orang tuanya, karena dianggap melanggar adat, tapi biasanya calon suaminya menyiapkan dari sebelumnya. Tapi sekarang ini banyak orang yang tidak menggunakan cara yang seperti ini lagi).58

Akibat dari pemahaman ini jika perempuan bangsawan menikah dengan non bangsawan dari rangkaian acara sudah disusun sedemikian

56 Lalu Muslihin Tokoh Masyarakat), Wawancara, Suradadi 27 Mei 2021.

57 Lalu Abdul Azim, (Staf di Kantor Desa Suradadi) Wawancara, Suradadi 27 Mei 2021.

58 Lalu Sahmin, (Tokoh Masyarakat) Wawancara, Suradadi 24 Mei 2021.

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

rupa dengan hukum adat mengatur masalah tata cara perkawinan sampai saat ini tetap berlaku, selanjutnya jika pernikahan itu tetap terjadi maka si perempuan akan dibuang bahkan tidak mendapat warisan dari orang tuanya, hal ini tentu tidak sesuai dengan perkembangan seperti yang sekarang.

2. Proses Perwalian Nikah Antar Strata Sosial di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.

Kebiasaan dalam hal mewalikan hak perwalian pada saat akad nikah dapat dibuktikan dari semua pernikahan yang telah dilakukan di Desa Suradadi, orang tua memberikan hak perwaliannya kepada orang lain dalam kasus ini kyai atau tokoh agama, meskipun orang tua mereka mampu untuk menikahkan sendiri putrinya. Seperti apa yang di utarakan oleh Lukman Nur Hakim sebagai staf KUA kecamatan Terara, sebagai berikut

Adapun wawancara dengan staf KUA Kecamatan Terara yakni bapak Lukman Nur Hakim mengatakan.,

“Selama saya berada di sini, rata-rata masyarakat desa Suradadi mereka mewalikan hak perwalianya kepada para tokoh-tokoh yang dianggap sebagai orang terpandang misalnya kyai atau pegawai KUA yang di utus oleh keluarga mempelai perempuan.Sangat jarang sekali orang tua dari pihak yang bersangkutan secara langsung menikahkan anak perempuanya.

Apalagi pada saat pra pernikahan ketika perempuan bangsawan menikah dengan non bangsawan laki-laki non bangsawan dituntut harus menyiapkan tanah minimal 2 are dengan bangunan berdiri di atasnya”.59

Kemudian wawancara dengan staf KUA Kecamatan Terara yakni bapak Abdul Hayi selaku Penghulu mengatakan.

“jika mereka tidak sekufu atau tidak sama bangsawan itu biasawanya dia menyerahkan hak kewaliannya, itu pandangan- pandangan masyarakat yang masih awan dengan ajaran agama, kemudian jika orang tuanya menyerahkan hak

59 Lukman Nur Hakim (Staf KUA Kecamatan Terara), Wawancara, Terara 03 Juni 2021.

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

kewaliannya nanti ada surat keterangan penyerahan wali yaitu surat penyerahan wali al Kitabah (ikrar berwakil wali).

Kemudian status pernikahannya akan tercatat di KUA asalkan memenuhi syarat, sekalipun wali berwakil.”60

Hal senada juga dikatakan oleh bapak Lalu Azkari sebagai tokoh masyarakat mengatakan.,

“Masyarakat yang ada di desa Suradadi ini bisa di katakan kalau sebagian besar orang menikah menggunakan mawakil sebagai walinya, wali ditentukan saat nyelabar. Pada saat nyelabr inilah kita merundingkan berapa maskawin yang harus di bayar oleh pihak laki-laki, namun ketika perempuan bangsawan menikah dengan laki-laki non bangsawan prosesnya sangat lama. Orang tua dari si perempuan bangsawanpun tidak di perkenankan hadir pada saat prosesi ini berlangsung. sehingga orang tuanya sendiri tidak bisa menikahkan anaknya melainkan memberikan hak kewaliannya kepada kyai yang pada umumnya ketika perempuan bangsawan menikah dengan jajar karang untuk menikahkan anak perempuannya.”61

Wali yang menjadi wakil dari calon mempelai perempuan tersebut ditentukan pada saat nyelabar, di sini mereka membahas atau merundingkan berapa maskawin yang harus dipenuhi dan siapa yang akan menjadi wali yang menggantikan orang tuanya. Beda halnya ketika pihak laki-laki ini dari kalangan non bangsawan proses ini akan lebih lama bisa sampai dua atau tiga kali bahkan lebih ketika mengunjungi rumah pihak perempuan bangsawan untuk membicarakan perihal maskawin yang harus di penuhi, ada yang sampai berminggu- minggu tidak kunjung di nikahkan karena lamanya membicarakan aji yang harus di penuhi.

Wawancara dengan tokoh masyarakat yakni bapak Lalu Zulkarnain mengatakan.

60 Abdul Hayi (Penghulu KUA Kecamatan Terara), Wawancara, Terara 03 Juni 2021

61 Lalu Azkari (Tokoh Masyarakat), Wawancara, Suradadi 28 Mei 2021.

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

ite lek ten biase nyerahan hak kewalian langsung ndk peri te catet unin te bebase. “Tiyang dengan suke rede anak’ tekawin kance si fulan jelo niki, dait tiyang rede serahan slepuk ne lek kyai jari lenjutan”(kita disini biasanya menyerahkan hak kewalian tidak perlu di catat dengan bunyi “saya mengikhlaskan anak saya di kawinkan dengan si fulan pada hari ini, dan saya serahkan semuanya kepada kyai untuk melanjutkan”).62

Penyerahan hak kekuasaan sebagai wali nikah atau taukil wali sejatinya dapat berlangsung secara lisan akan tetapi untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan di kemudian hari baiknya di lakukan secara tertulis dan di saksikan oleh orang lain. Pada masyarakat Sasak yang ada di Desa Suradadi praktik penyerahan hak kewalian orang tua biasanya disampaikan secara langsung.

Adapun hasil wawancara dengan BE (perempuan bangsawan) mengatakan.,

“Dulu saya nikah sama yang non Lalu, dia tidak punya ibu dan bapak, akan tetapi orang tua saya mau membiayayi pernikahan kami, dan saya meminta orang tua sendiri yang mewalikan pernikahan saya, karena diwalikan oleh orang tua sendiri saya merasa tenang dan di lindungi. Sepatutnya masyarakat yang biasanya mencirbir ketika perempuan bangsawan menikah dengan yang non Lalu bisa memahami dan mengerti, membina rumah tangga bukan hanya dilihat dari mana dia berasal, dia dari kasta apa, karena dalam hukum isalam kita dianjurkan melihat pada kebaikan akhlak dan agamanya sebagai standar utama memilih pasangan, menurut saya itu sudah lebih dari cukup. Sudah saatnya masyarakat membuka pikiran bahwa yang menjadi pembeda kita bukaan persoalan kasta melainkan ketakwaan kepada Allah.”63

62 Lalu Zulkarnain (Tokoh Masyarakat), Wawancara, Suradadi 28 Mei 2021.

63. BE, (perempuan bangsawan), Wawancara, Suradadi 09, Juni 2021.

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

Dari penjelasan narasumber di atas yang memilih menggunakan hukum Islam sebagai jalan pernikahan mereka menutrkan bahwa dinikahkan oleh ayah kandung langsung memberikan rasa nyaman pribadi untuknya, narasumber juga menjelaskan bahwa memilih pasangan bukan hanya dilihat dari statusnya dan dari mana dia berasal melainkan harus melihat akhlak dan agamanya.

Lebih lanjut wawancara langsung dengan Lalu Mustiarep sebagai tokoh masyarakat mengatakan bahwa:

“Proses pernikahan disini biasanya di serahkan kepada tokoh agama dan itu sudah berlangsung sudah cukup lama, praktik ini terjadi hampir setiap adanya pernikahan. Proses ini biasanya dilangsungkan di rumah pengantin laki-laki justru tidak pernah melangsungkan akad pernikahan di KUA langsung, sehingga dengan begitu rangkaian proses acara pernikahan berjalan dengan semestinya”.64

Narasumber menjelaskan penyerahan hak kewalian kepada tokoh agama pada masyarakat desa Suradadi sudah menjadi tradisi yang berlangsung sudah cukup lama. Taukil wali dalam akad nikah yang terjadi hampir di semua proses perkawinan di Desa Suradadi di lakukan di rumah kediaman calon mempelai laki-laki untuk lebih terarahnya semua rangkaian acara. Jarang sekali proses akad nikah dilakukan di kantor KUA.

3. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Masyarakat Desa Suradadi Menyerahkan Hak Perwalian Nikah Kepada Tokoh Agama.

Wawancara dengan bapak Lalu Johri orang tua pasangan pernikahan bangsawan dengan non bangsawan mengataka.,

“tiyang pileq pak kyai jeri wali nikah anak tiyang, tiyang percaye pernikahan ne lemak lebih berkah, olek laeq wah jeri kebiasaan te bing pak kyai jeri wali nikah anak te, ite pade mele terusan kebiasaan dengan toak te laek. Endah menurut tiyang lemun te tikah sik pak kyai lebih solah, dakak tang ndek dateng pas ne akad nikah wah jak rela anak tiyang te tikah sik pak kyai” (Saya memilih tokoh agama sebagai wali nikah anak perempuan saya

64 Lalu Mustiarep (Tokoh Masyarakat), Wawancara, Suradadi 08 Juni 2021.

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

sebab tokoh agama saya percayai memberikan barokah kepada pernikahan dan rumah tangganya kelak, di samping itu karena adat juga. Kebiasaan kami di sini sejak dulu memberikan tokoh agama sebagai wali nikah anak perempuan kami, saya ingin meneruskan kebiasaan orang tua saya dulu. Lagi pula menurut saya pernikahan anak perempuan saya lebih bagus menggunakan tokoh agama.

Meskipun saya tidak datang pada saat akad pernikahannya, saya sudah merelakan kalau dia di nikahkan oleh kyai).65

Berdasarkan penjelasan narasumber di atas dapat diketahui bahwa narasaumber sebenarnya sedikit mengetahui tentang perwalian nikah menurut hukum Islam tetapi narasumber mengesampingkan pengetahuannya dan memilih menggunakan kyai dan mengikuti kebiasaan adat yang sudah lama mendarah daging di desa Suradadi.

Hal serupa juga dikatakan oleh bapak Lalu Misban selaku tokoh adat sekaligus bapak dari pasangan pernikahan bangsawan dengan non bangsawan mengatakan.,

“Saya mewalikan akad nikah putri saya dengan alasan bahwa saya tidak mau mendengar gunjingan masyarakat, ketika anak perempuan saya menikah dengan yang non bangsawan.Karena di sini ketika perempuan bangsawan menikah dengan yang non bangsawan itu di anggap Nyerompang (menyalahi aturan adat) sehingga kalau saya menjadi wali di pernikahan putri saya masyarakat akan mencemooh, mereka menganggap bahwa saya senang kalau anak saya di nikahki oleh yang non bangsawan”.66 Menurut pernyataan narasumber di atas, bahwa menikah dengan laki-laki yang bukan dari kalangan bangsawan berarti itu sudah menyalahi aturan adat, sehingga itu yang biasanya melatar belakangi masyarakat memberikah hak kewaliannya kepada tokoh agama untuk menghindari gunjingan dari masyarakat.

Selanjutnya wawancara dengan bapak Lalu Marzon selaku kepala dusun Desa Direq mengatakan.,

65 Lalu Johri (Orang tua pasangan perkawinan bangsawan ), Wawancara, Suradadi 18 Mei 2021

66Lalu Misban (Tokoh Adat Sekaligus Bapak dari Pasangan Perempuan Bangsawan), Wawancara, Suradadi 20 mei 2021

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

“Masyarakat di desa Suradadi sebenarnya tahu bagaimana wali nikah menurut agama, mereka tahu urutan wali menurut agama, akan tetapi berbagai macam alasan masyarakat menyerahkan hak kewaliannya seperti alasan biasa yang masyarakat gunakan di sini contohnya, karena malu, orang tua sedang merantau, atau alasan yang paling santer di sini meneruskan kebiasaan orang tua-tua dulu, mengindari omongan masyarakat dan macam-macam”.67

Bapak Lalu Marzon berpendapat bahwa masyarakat bukannya tidak tahu urutan wali menurut agama Islam, akan tetapi alasan yang paling sering digunakan masyarakat desa Suradadi yaitu untuk menghindari gunjingan masyarakat yang menyebabkan orang tua lebih memilih menggunakan tokoh agama sebagai wali di pernikahan anak perempuannya.

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa praktik penyerahan hak kewalian kepada tokoh agama pada masyarakat desa Suradadi sudah menjadi tradisi yang berlangsung sudah cukup lama. Taukil wali dalam akad nikah yang terjadi hampir di semua proses perkawinan di Desa Suradadi di lakukan di rumah kediaman calon mempelai laki-laki.

Jarang sekali proses akad nikah dilakukan di kantor KUA.

Faktor yang menyebabkan masyarakat desa Suradadi menyerahkan hak wali nikahnya kepada tokoh agama pada fenomena taukil wali. Praktik penyerahan hak kewalian atau taukil wali sudah berjalan sejak lama sehingga menjadi kebiasaan bagi masyarakat di Desa Suradadi secara umum disebabkan karena tradisi ini sudah turun temurun dari nenek moyang mereka dan alasan kedua yang paling santer yaitu menghindari gunjingan masyarakat bahwa, supaya orang tua tidak kelihatan terlalu gembira ketika anaknya di bawa (kawini) oleh laki-laki yang mempersuntingnya. Oleh karena itu, taukil wali dilakukan sebagai pilihan yang menurut mereka lebih baik sehingga tidak di gunjingkan oleh orang lain. Dari persfektif masyarakat yang seperti inilah kemudian taukil wali menjadi kebiasaan yang telah lama di praktikan dalam masyarakat Desa Suradadi.

67 Lalu Marzoan (Staf di Kantor Desa Suradadi), Wawancara,Suradadi 13 April 2021

PROBLEMATIKA PERWALIAN NIKAH PASANGAN ANTAR STRATA SOSIAL

(Studi Kasus Pernikahan Bangsawan dan Non Bangsawan Di Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur)

Oleh :

MUHAMMAD ANDI KAMAYA NIM : 160202100

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (HKI) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

C. Alternatif Solusi Terhadap Problematika Perwalian Nikah Antar

Dalam dokumen problematika perwalian nikah pasangan antar (Halaman 49-57)

Dokumen terkait